Tag Archives: wisata inggris

Naik Kereta Korengan Di Isle Of Wight Inggris

Saya Hanya Bisa Tertawa Terkekeh Kekeh
Naik Kereta Karatan Jaman Sherlock Holmes Di UK

 

Baru beberapa bulan lalu saya pulang ke Indonesia dan mencoba transportasi umum, khususnya kereta api di Indonesia. Luar biasa,  Stasiun kereta api Tugu Yogyakarta, Gubeng Surabaya dan Tawang Semarang sudah jauh berbeda dibanding saat saya masih tinggal di Indonesia sepuluh tahunan yang lalu. Bersih, pelayanan profesional, keselamatan penumpang sangat bagus dan tidak ada lagi penjual pecel dan gorengan yang berada di area stasiun. Semua kereta api di Indonesia telah berubah jadi dingin dan berAC dalam waktu kurang dari 10 tahun.
Penumpang Kereta Api Duduknya Membelakangi Jendela
Kusen Jendela Dari Kayu
Calo jelas tidak ada lagi, ngantri berdiri beli tiket sudah tentu tidak ada lagi, beli tiket bisa online. Di Stasiun Tugu Yogya malah saya bisa masuk ke Executive Lounge yang tidak pernah saya jumpai di Stasiun Kereta Api di negara manapun yang pernah saya kunjungi. Mungkin anda tidak percaya apa yang saya katakan, mari kita bandingkan saja dengan kereta luar negeri. Saya ajak anda jalan jalan naik kereta api di Inggris.
Kereta Api Jaman Sherlock Holmes
Penumpangnya Ceria Ingat Agatha Christie
Kereta Api Inggris ini sepertinya peninggalan Sherlock Holmes atau Agatha Christie. Kalau anda pernah menyaksikan film detektif kuno ‘Murder On The Orient Express‘, nah seperti itulah bentuk kereta api di Inggris ini, tepatnya di Isle Of Wight. Tidak ada AC sama sekali di kereta, tapi udara sangat sejuk didalam karena pintu nggak bisa ditutup. Kereta api ini menghubungkan beberapa stasiun  Ryde Pier Head, Ryde Esplanade, Ryde St John, Small Brook, Brading, Sandown, Lake dan terakhir Shanklin.

 

Kondektur Marah Saat Dikritik
Keretanya Butut
Goyangnya sungguh luar biasa aduhai, kalau lokomotifnya goyang kekanan, ekornya goyang kekiri. Assooy……., Kusen jendela terbuat dari kayu mirip kusen di rumah rumah Perumnas di tanah air. Lantainya dilapisi triplek tebal. Atap kereta bagian luar terlihat korengan penuh karat tapi bagian dalam masih terlihat sangat bagus. Mungkin dempulnya sangat tebal sekali sebelum dicat putih.
Atap Kereta Korengan Penuh Karat
Hati Hati Tergores Bisa Tetanus
Kondektur kereta butut di Isle Of Wight ini sangat pemarah sekali, mungkin karena tiap hari kereta bututnya dikritik penumpang terus menerus. Semua penumpang kayaknya sudah paham dengan karakter pak kondektur yang pemarah tersebut. Kebanyakan penumpang hanya senyam senyum dan tertawa saja saat ada penumpang complain lalu dimarahi pak kondektur galak tersebut. Sepertinya semua penumpang takut diturunkan ditengah jalan.

 

Ini Bukan Bangkai Kereta
Masih Beroperasi Di Isle Of Wight

 

Anak saya sempat kena marah juga dan ditertawain penumpang lain :
‘Ada asuransi nggak kalau penumpang tergores dan terkena tetanus ?’.
Ini sebenarnya pertanyaan umum penumpang yang khawatir akan terluka, tergores besi karatan didalam gerbong kereta. Tapi pak kondektur dengan lihai menjawab segala macam keluhan penumpang,
‘Saya naik kereta ini sejak kanak kanak’, 
‘Keretanya seperti sekarang ini karena tertular tetanus dari saya’
Banyak Penumpang Yang Ragu Dan Bertanya
Apa Benar Kereta Ini Safe Dan Bisa Jalan

 

Semakin Korengan Tampaknya
Membuat Turis Semakin Tertarik Untuk Mencoba

 

Selamat Jalan Jaga Kulit Anda
Agar Terhindar Dari Tetanus

 

Suasana Bagian Dalam Gerbong
Keretanya Sherlock Holmes

 

Meskipun Butut Dan Korengan
Tapi Naik Juga Karena Nggak Ada Transportasi Lain

 

Ryde Esplanade Train Station
Ada Kios Kelontong Jual Kebutuhan Sehari Hari Di Stasiun

 

Shanklin Station
Stasiunnya Kecil Dan Sepi
Ini Executive Lounge Stasiun Tugu
Di Yogyakarta

 

Executive Lounge Di Stasiun Kereta Api Itu Hanya
Ada Di Indonesia

 

Executive Lounge Anggrek Di Stasiun Tugu Yogya
Stasiun KA Dimanapun Di Dunia Lewaaaat

 

Kereta Api Di Indonesia Kinclong Kinclong

Baca Juga :

Advertisements

Ngebis Keliling Inggris

Terminal Bus The Hard Portsmouth
Semua Bus Datang Dan Pergi Tepat Waktu

 

Naik kendaraan apa yang termurah untuk bisa keliling keseluruh penjuru kota di Inggris ?. Jawabnya adalah  numpang teman atau bisa juga numpang truk, gratis. Tapi kalau mau bayar cobalah naik Coach Bus. Naik Kereta Api juga bisa tetapi lebih mahal dan umumnya harus ganti kereta api di stasiun tertentu. Kalau barang bawaan banyak, rasakan sendiri bagaimana susahnya menaik turunkan koper dan pindah ke jalur rel yang lain. Mending naik Coach Bus saja, semuanya langsung ke kota tujuan anda. Sewa mobil sebenarnya yang paling menarik, bisa berhenti dimana mana. Tetapi kalau penumpang cuma satu atau berdua saja, jadinya ya jelas sangat mahal sekali.
Perhatikan Tempat Duduknya – Hanya Besi Sekedar
Untuk Meletakkan Bokong Saja

 

Langganan bus antar kota yang sering saya pakai adalah National Express. Bus antar kota biasa seperti yang sering anda pakai atau lihat di Indonesia. Kalau di Inggris namanya sedikit keren yaitu Coach Bus. Beli tiketnya gampang, cukup beli online melalui link ini National Express. Kelebihan kalau anda beli online adalah seringnya ada discount pada hari hari atau jam tertentu. Bisa juga beli di terminal menggunakan mesin tiket yang tersedia. Jangan kuatir grotal gratul saat beli tiket bus pakai mesin ini. Sayapun dulu waktu pertama kali beli tiket pakai mesin juga ngisin isini‘. Pokoknya ‘ndeso pol‘. Hari gini masih gaptek, nggak bisa beli pakai mesin tiket.
Beli Tiket Bisa Pakai Mesin Dan Bisa Juga
Online Internet
Mau tiket yang lebih murah lagi, silahkan beli Kartu Berlangganan (Coach Card). Ada banyak pilihan seperti Family Coach Card, Student Coach Card, Jompo Coach Card dll. Dengan menggunakan card ini bebas naik berapa kalipun per hari, per minggu atau per bulan. Terserah anda, kartu ini bukan debit card, sekali naik langsung dipotong biayanya. Kalau anda punya tiket berlanggana, silahkan langsung menunggu bus di terminal atau di halte halte yang disinggahi bus. Tunjukkan Coach Card ke sopir langsung beres. Ingat, bus akan tiba lima menit sebelum berangkat dan akan berangkat segera tepat waktu. Anda telat datang, langsung wassallam. Nggak ada cerita sopir harus menunggu anda.
Beli Pakai Mesin Tinggal Cemplungin Duit Saja
Awas, Bayar Dengan Uang Pas Atau Gunakan Card

 

Semua bus di Inggris nggak punya Kondektur atau Kenek. Hanya sopir saja, tapi jangan kuatir, sopir ini bertugas menaikkan koper ke bagasi juga. Setelah semua koper masuk ke bagasi, si sopir langsung ngecek tiket dan mempersilahkan penumpang naik satu persatu. Awas, jangan nylonong naik ke bus saat si sopir sedang memasukkan barang ke bagasi. Yang marah atau mengingatkan anda adalah penumpang lain bukan sopirnya.
Mau Murah, Berlangganan Saja
Ada Discount Untuk Mahasiswa, Orang Tua Dll
Saya menggunakan National Express ini untuk sekedar jalan jalan refreshing ke Southampton, Birmingham, Manchester, Leed atau London. Dari Portsmouth, saya bisa berangkat kapan saja karena setiap jam ada bus yang berangkat ke segala kota tujuan.  Dari Portsmouth ke London paling cuma 2 jam saja. Pernah saya berangkat subuh, masih gelap dan nyampai di Coach Station Victoria, London juga masih gelap. Saya kira sepi, ternyata Coach Station dan Train Station Victoria London nggak pernah sepi sama sekali.
Terminal Coach Bus Di Victoria London
Terhubung Langsung Dengan Stasiun Kereta Api

 

Meskipun busnya relatif sama saja dengan bus bus di Indonesia, tetapi bus Inggris ini bisa dilacak keberadaannya. Ada aplikasi yang bisa didownload dan diinstall di Iphone atau Android. Kalau mau menjemput seseorang, tinggal lacak saja busnya udah nyampai mana sehingga nggak perlu terlalu lama nungguin di terminal.  Sepanjang jalan busnya nggak bisa ngebut atau ugal ugalan. Pak sopir takut ngebut karena ada alat untuk merekam kecepatan.
Nyampai Di Victoria Train Station London
Ada juga bus yang dilengkapi CCTV untuk melihat tingkah polah penumpang di belakang. Monitornya kecil di dashboard depan pak sopir. Jangan macam macam, misal mabuk miras, nyopet atau meraba raba paha penumpang sebelah. CCTVnya sanggup merekam seluruh tingkah polah penumpang sepanjang perjalanan. Gimana, enakan mana naik bus Inggris atau bus Indonesia ?
Semua Bus Parkir Rapi Menunggu Jadwal Berangkat
Mesin Hanya Dinyalakan Saat Mau Berangkat Saja
Ruang Tunggu Penumpang Di Coach Station
Victoria London
Saat penumpang Ngantri Masuk Kedalam Bus
Tertib Dan Tidak Tercium Bau Asap Knalpot
Bisa Tenang Ngantri Karena Udara Sejuk
Kalau Di Indonesia Bakalan Kepanasan Kalau
AC Bus Tidak Segera Dinyalakan
Busnya Parkir Didalam Gedung Dan Udara London
Cukup Dingin. Kalau Di Indonesia Bisa Kepanasan
Penumpang Didalam Bus Dan Yang Sedang Ngantri Masuk
Didalam Terminal Juga Dingin Meskipun Tanpa AC
Di Indonesia Bisa Berkeringat Kalau Nggak Ada AC
Halte Coach Bus National Express
Berhenti Sebentar Di Kota Kecil
Terminal Coach Busnya Juga Kecil

Paella, Nasi Goreng Spanyol Di Camden Lock

Nggak Ada Beda Dengan Di Indonesia
PKL Inggris Buka Lapak Juga Dibawah Jembatan Layang

 

Ada yang berbeda antara lapak PKL di Camden Lock, London-UK dengan di Indonesia. Kalau di Indonesia rombong atau gerobak PKL hampir semuanya punya roda sehingga memudahkan untuk berpindah tempat. Bahkan bangkupun semua bisa dinaikkan keatas gerobak. Urusan menata lapak dan dagangan paling cuma beberapa menit saja.
Ada Lapak Semi Permanen Diatas Trotoar Nempel
Jembatan Layang Juga. Kelamaan Nggak Digusur

 

Di Camden, London, urusan menata lapak cukup lama dan gaduh. Setiap pagi gaduhnya bukan main saat para pedagang ngangkat ngangkat gerobak dan meja. Hampir semua PKL Makanan tidak menyediakan bangku untuk duduk menyantap makanan yang dijualnya. Kalau kita beli makanan, berarti harus ‘Take Away’. Ribet karena untuk makan saja harus berdiri ditengah keramaian pasar atau cari tempat duduk sendiri di emperan yang agak sepi.

 

Ada PKL Makanan Arab
Bisa Pesan Kebab, Shawarma, Tikka

 

Tapi ada juga persamaan antara PKL Inggris VS PKL Indonesia.. Keduanya bandel bandel dan susah diajak tertib dan menata lapak sesuai dengan area yang diperbolehkan.. Selalu saja ada PKL yang meletakkan lapaknya asal asalan, kadang maju, mundur, menghadap kiri, kanan, menutupi lapak PKL yang lain, diatas trotoar, meletakkan lapak diluar area pasar dan nempel kolong jembatan dan lain lain. Pokoknya sama sama semrawut dan heboh.

 

Mexican Food Juga Ada
Bisa Pesan Buritos, Quasadillas Dan Nachos

 

Di London, pasar PKL saja dijadikan obyek wisata. Saya akui, orang Inggris memang canggih dalam hal ngakalin turis untuk datang ke negaranya. Brosur brosur paket wisata kayaknya canggih sekali. Ada yang promosi ‘One Day Shopping Tour Camden Town‘. Bagi yang nggak tahu, pasti bayangannya akan mengunjungi sebuah kota yang luas sekali.  Bayangkan, itinerary yang tertulis dalam brosur akan mengunjungi : Camden Village, Camden Market, Camden Lock, Regent Canal, Camden Lock Place, Inverness Street Market dan lain lain.

 

Berbagai Macam Kare India Tapi Penjualnya Bule Inggris
Ini Baru Mantap Karena Disajikan Dengan Nasi

 

Harus pakai sepatu olah raga nih seharian jalan kaki jauh. Mengunjungi desa (Camden Village), lalu naik perahu di Regent Canal dan shopping ke pasar (Camden Market). Tapi kenyataannya, jarak antara nama nama tersebut hanya beberapa langkah saja. Ditanggung tidak pegel sama sekali karena semua nama diatas hanya dalam radius sekitar 1 Km persegi. Canal menurut orang Inggris itu beda dengan definisi orang Indonesia. Di Indonesia namanya Selokan karena lebarnya hanya 3 – 4 meter saja.




Masakan Peru
Baunya Uenak, Boleh Nyicip Satu Sendok Saja

 

Untungnya, makanan yang dijual para pedagang kaki lima di Camden Lock ini enak enak. Makanan dari segala penjuru dunia ada. Favorit saya adalah Paella, semacam nasi goreng sea food dengan cita rasa Spanyol. Mirip Biryani India, Majabus Kuwait atau Mandi Saudi. Sayangnya makannya sambil berdiri, jalan atau nglesot di trotoar.

 

Masakan Thailand Juga Ada
Belalang Goreng Mau Coba ?

 

Malaysian Food Tapi Yang Dijual
Masakan Padang, Ada Rendang Juga

 

Paella – Nasi Goreng Spanyol
Rasanya Seperti Biryani India Atau Nasi Mandi Arab

 

Pagi Hari Masih Sepi Semua Pedagang
Sedang Menghangatkan Dagangannya

 

Ngeri, Gurita Mentah
Makannya Cukup Dengan Kecap Asin Dan Mayonaise

 

Semrawut Dan Amburadul
PKL Dimana Mana Semau Gue Meletakkan Lapak

 

Di Indonesia, Kebanyakan Lapak PKL Pakai Roda
Di Camden Nggak Ada Rodanya, Kalau Pagi
Gaduhnya Bukan Main Menata Lapak

 

Sama Seperti Tanah Abang
Lapaknya Ditengah Jalan Dan Nutupi Lapak
Pedagang Baju Dibelakangnya

 

Baca Juga :

Bule Inggris Pingin Ke Raja Ampat

Jembatan Kayu Saja Diberi Nama
Namanya Keren ‘Spur Redoubt’
Saya punya tetangga di Portsmouth, keluarga muda dan teman ngobrol yang cukup enak karena suami istri kayaknya doyan ngomong sejak lahir. Nggak ada hujan dan nggak ada petir, tiba tiba mereka menanyakan perkiraan biaya kalau wisata ke Raja Ampat, Papua. Hebat, saya saja belum pernah ke Raja Ampat. Kedua suami istri ini tampaknya belum kompak memutuskan kota mana saja yang mau dikunjungi. Pokoknya mau ke Bali dulu, setelah itu baru ke Raja Ampat, balik lagi ke Yogyakarta   dua hari saja dan langsung ke Bunaken. Loncat kesana kemari dan mintanya hanya dalam waktu 10 hari saja semua bisa dikunjungi. Komplit…plitt…plit.
Kuli Yang Membangun Jembatan Diabadikan Dan Dikenang
Di Indonesia Jembatan Kayu Sangat Banyak
Sayang Nggak Punya Nama Dan Nggak Ada Yang Tahu
Nama Nama Kuli Yang Membangun
Nggak perlu ngitung terlalu rumit, langsung saya jawab sekenanya saja.
One Hundred Million Rupiahs for all’
Reaksinya luar biasa, seketika kompak berteriak keras keras :
‘WHATTTTT ????’
Gileee, gue dikira koruptor seperti ketua DPR Setya Novanto, mau malak seperti kasus ‘Papa Minta Saham’
Beberapa Langkah Dari Jembatan
Ada Portsmouth Naval Memorial – Cuma Tugu Dan Lapangan
Di Indonesia Banyak Tanah Kosong
Bikin Saja Tugu Dan Diberi Nama Lalu Promosikan
Ada beberapa kemungkinan kenapa kedua bule tersebut kaget luar biasa. Kemungkinan Pertama : Kaget mendengar kata ‘One Hundred Million’ yang saya ucapkan. Orang Inggris memang tidak terbiasa mendengar kata Million karena mata uangnya nggak ada yang punya nol sebanyak mata uang Rupiah. Kemungkinan Kedua : Mungkin saja sebenarnya kedua bule tersebut cuma iseng bertanya, bokek atau termasuk kategori Bule Kere Yang Punya Cita Cita Tinggi. Tetapi, yang paling masuk akal kayaknya ‘Tidak Tahu Indonesia Sama Sekali‘. Dianggapnya jarak Bali ke Raja Ampat sangat dekat. Ke Bunaken juga tidak terlalu jauh. Lalu ke Yogyakarta juga dianggap hanya beberapa langkah saja.
 
Namanya Keren Sallyport
Cuma Gerbang Tempat Nelayan Berangkat Melaut


Sangat wajar sekali kedua orang ini punya jalan pikiran seperti ini. Di kota tempat tinggalnya Portsmouth, semua titik diberi nama dan dijadikan obyek wisata. Sehingga berpindah dari obyek wisata satu ke obyek wisata yang lain hanya perlu bergeser beberapa langkah saja. Dalam radius sekitar 5 Km saja ada puluhan papan nama obyek wisata. Dia berpikiran obyek wisata di negara lain juga berdekatan dan sama seperti negaranya dan negara lain di Eropa. Lagipula, dia tidak membayangkan sama sekali betapa luas Indonesia. Yang dia rasakan, negaranya UK sangat besar dan luas. Padahal luas seluruh United Kingdom (242,495 Km2) hanya separuh pulau Sumatra (473,481 Km2).

 

Namanya Round Tower – Hanya 10 Meter
Dari Sallyport. Namanya Sangat Menjual Pakai Embel
Embel ‘Tower’ Padahal Gedung Bundar Biasa
Mari saya ajak anda jalan jalan di sepanjang pantai di Portsmouth mulai dari Clarence Pier. Anda bisa menemukan ‘obyek wisata‘ menarik, lengkap dengan papan nama biru yang cantik. Tidak lebih dari 3 Km sepanjang pantai, anda bisa ketemu Southsea Castle, King James Gate, Sallyport, Square Tower, Round Tower dan lain lain. Kalau setiap titik diberi nama, tentu sangat menguntungkan operator pariwisata. Tinggal membuat paket wisata dan mengelompokkan saja. Bayangkan, seandainya Pasar Tanah Abang Blok A, Blok B, Blok C, Blok D dst diberi nama yang bagus bagus dan dijual untuk pariwisata, bisa berapa keuntungan para operator pariwisata di tanah air. ‘Jakarta Shop Till You Drop Tour’ (bacanya Paket Wisata Pasar Tanah Abang Blok G). ‘Jakarta Wonderful Shopping’ (bacanya Wisata Belanja Di Tanah Abang Blok A). Baca Juga Penamaan Di  : Pasar Gombal Birmingham

 

Pintu Masuknya Saja Diberi Nama Dan Dipromosikan
King James Gate Ini Masih Satu Bangunan Dengan
Sallyport, Round Tower, Square Tower Dll
Promosi Pariwisatanya Hebat, ‘3 Hours Walking Tour
To Visit Historic Square Tower, Round Tower, Sallyport, etc

 

Patung Didepan Square Tower Ini Juga Diberi Nama
Bayankan, Kalau Setiap Patung Di Borobudur Diberi
Nama, Berapa Keuntungan Tour Operator
Berbagai Jenis Perahu Nelayan Sampai Kapal
Yang Sering Melintas Dipromosikan
Tinggal Keahlian Tour Guide Saja Untuk Bercerita
Kapalnya Sendiri Yang Lewat Cuma Satu
Kapal Induk Juga Cukup Dituliskan Di Lapangan
Kapalnya Sedang Berlayar Ke Timur Tengah
Bikin Papan Keterangan Begini Apa Sih Susahnya
Rumah Mbah Maridjan Di Gunung Merapi
Sebenarnya Bisa Juga Dijadikan Obyek Wisata
Bangku Dan Patung Di Taman Kecil Yang Kering Dan Tidak
Ada Tamannya Ini Juga Punya Nama. Sambil Duduk
Si Tour Guide Menjelaskan Siapa Patung Tersebut
Dan Kenapa Menghadap Ke Gereja

Baca Juga :

Gang Tikus, Gang Tembus Dan Gang Buntu Inggris

Mobil Nggak Bisa Lewat
Ada Bangunan Baru Diatas Gang
Kayaknya Sih Rumah Gembel Homeless
Di Indonesia banyak sekali gang gang kecil yang menghubungkan jalan kampung satu dengan jalan kampung lainnya. Ada yang menyebut dengan istilah Gang Tikus, Gang Tembus, Gang Butulan, Gang Buntu atau Gang Kuburan. Seringkali pula kita berasumsi bahwa jalan jalan kecil seperti itu hanya ada di Indonesia saja karena kita sering menganggap sistem penataan kota di indonesia kurang bagus. Ternyata, di Inggris jalan semacam itu buanyaknya bukan main. Yang bersih dan bagus ada, yang lecek dan becek juga ada. Jauh lebih komplit dibanding dengan di Indonesia.

 

Nah Lo, Tiba Tiba Harus
Putar Balik
Kalau anda datang ke Inggris hanya sebagai turis yang menikmati pemandangan hanya beberapa hari saja, maka gang gang kecil tersebut akan terlewati begitu saja. Tapi akan beda kalau anda tinggal cukup lama di kota manapun di Inggris atau negara negara lain yang anda anggap sangat maju. Apa yang anda saksikan akan sama saja dengan di tanah air. Nggak ada satupun negara yang lebih bagus dari negara lain, semua punya keunikan dan ciri khas yang lain daripada yang lain. Itulah sebabnya kenapa motto blog ini adalah “Percayalah, Semua Kota Ada Bedanya“.

 

Namanya Keren Chivers Close
Sebenarnya Cuma Gang Buntu

 

Sampai saat ini setelah lebih dari 30an negara saya kunjungi dan ribuan kota saya jelajahi, saya masih tetap bangga dengan Indonesia. Semuanya ada di Indonesia, negaranya besar dan tidak akan habis dijelajahi dalam waktu setahun saja. Seni dan budayanya komplit yang tidak pernah saya saksikan di negara lain kecuali di India dan Jepang. Alamnya bagus dan Indah yang membuat semua kawan kawan Arab saya di Kuwait terkagum kagum saat berkunjung ke Bali. Dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya uraikan satu persatu disini. Baca : Kalau Arab Piknik Ke Indonesia dan Gara Gara Hidung Pesek.
Selamat menikmati photo photo gang sempit di Inggris dibawah ini.

 

Tata Kotanya Nggak Bener
Jadi Banyak Sekali Gang Buntu
Ini Gang Tembus Lumayan Lebar
Untuk Apa Dibuat, Nggak Ada yang Mau Lewat

 

Dipasang Besi Ditengah Gang
Sepeda Motor Dan Sepeda Saja Yang Bisa Lewat
Ini Gang Sampah
Perencanaan Bangunan Nggak Bagus Akhirnya
Dijadikan Tempat Buang Sampah
Ini Nggak Jelas Apa Fungsinya
Diatas Trotoar Buat Pejalan Kaki
Kenapa Dibawah Juga Ada
Cukup Ditutupi Kursi Saja
Agar Kendaraan Tidak Bisa Lewat
Untuk Apa Gang Ini
Hanya Beberapa meter Saja Dari Gang Ini
Juga Ada Jalan Yang Lebih Besar
Gang Tikus
Dilarang Kencing Disini, Pesing Pol
Gang Tembus Ini Ada Pintunya
Lokasi Di Daerah Pecinan London
Gang Tikus Jorok Dan Bau
Di China Town London
Gang Tikus Super kecil
Kalau Gemuk Masuknya Harus Miring
Satu Persatu
Dimana Mana Setiap Papan Petunjuk Arah
Selalu Ada Gang Buntu
Gang Tembus Dibawah Kolong Jembatan
Juga Ada, Enak Untuk Buang Air Kecil

 

Gang Buntu Lagi
Sebel Deh Dimana Mana Gang Buntu
Gang Buntu Lagi
Gimana Sih Tata Kotanya Dulu
Kayaknya Kok Tambal Sulam

Baca Juga :

 

 

Kemana Lapak PKL Covent Garden

Covent Garden
PKLnya Ada Ada Yang Jual Lukisan
Covent Garden adalah sebuah district di kota London, UK yang berjarak sekitar 6 menit jalan kaki dari Soho District (Baca : Soho – Pasar Gini Di Kampung Ane Juga Ada). Meskipun namanya Covent Garden, tetapi sebenarnya sekarang di lokasi ini nggak ada tamannya sama sekali. Yang ada cuma pasar, toko toko segala macam barang dan jasa dan juga rumah makan. Saat ini wilayah ini menjadi obyek wisata utama kota London, terutama pasarnya. Kalau anda menyebut Covent Garden pasti penduduk setempat akan membawa anda ke pasar, bukan ke tempat lain.
,
Block Ini Namanya Apple Market, Dulu Covent Garden
Adalah Pasar Buah Dan Tempat Prostitusi
Tapi Sekarang Tempat Segala Macam Pedagang Kaki Lima
Sebelum jadi tempat kunjungan turis terkenal seperti sekarang ini, sebenarnya jaman dulu sekitar awal abad 16 merupakan tempat perdagangan orang Inggris Jadul dan pasar buah buahan. Setelah itu dengan berjalannya waktu maka berangsur angsur berubah menjadi Kawasan Lampu Merah atau Red Light District dengan berbagai macam tempat hiburan yang sangat tersohor dan bersaing kuat dengan kawasan lampu merah tetangganya terdekat, Soho. Sama halnya dengan Soho, mulai tahun 1980an kawasan ini disulap menjadi pasar retail kembali dan bisa mendatangkan jutaan turis untuk berkunjung sampai saat ini. Agak mirip ceritanya dengan Gang Dolly Surabaya yang ditutup oleh walikota, ibu Risma menjadi kawasan yang lebih baik dan bermartabat.

 

Restaurant Terbuka Ini Kalau Pasar Tutup
Meja Dan Kursinya Menghilang
Seperti apa pasar Covent Garden ini kok sekarang bisa mendatangkan banyak sekali turis ?. Nah, ini dia anehnya dan membuat saya terheran heran. Nggak pakai dukun dan juga nggak pakai magic semua turis  berduyun duyun datang ke pasar ini. Saya sangat heran sekali karena harganya biasa biasa saja dan isinya relatif sama dengan pasar pasar kaki lima di tanah air. Ada lapak PKL yang jualan kerajinan tangan dan lukisan, ada lapak penjual baju, ada lapak jual makanan, lapak jual casing handphone dan segala macam pernak pernik dagangan yang sebenarnya sama saja dengan apa yang dijual PKL di Indonesia.

 

Meja Lapak Pedagang Kaki Lima Ini
Tampak Manis Dengan Taplak Meja Warna Warni
Berhari hari saya mengamati pasar para pedagang kaki lima Bule ini, terutama lapak lapak kecil yang digelar disegala penjuru pasar. Kalau pasarnya tutup, dalam waktu singkat semua lapak menghilang dan bersih tak terlihat sama sekali. Pagi hari tiba tiba muncul kembali dan dalam hitungan menit semua dagangan sudah terpajang dengan rapi. Sempat saya kira semua barang dagangan dibawa pulang kerumah, ternyata tidak. Saya kira rumah para pedagang kaki lima tersebut didalam pasar atau tidak jauh dari pasar. Ternyata saya salah juga.

 

Lapak Penjual Pigura Ini Juga Bersih
Kalau Malam Hari – Disimpan Dimana Lapak Ini ?
PKL Inggris ternyata sama saja dengan PKL Indonesia. Kalau pasar tutup, gerobak dorongnya ternyata disuruk surukkan di tempat tempat tertentu yang tersembunyi tidak jauh dari pasar. PKL Inggris ternyata juga sama saja dengan PKL manapun. Mereka berteman baik dengan pemilik toko terdekat yang mau dititipin gerobak, meja dan kursi. Entah bayar atau enggak saya kurang tahu. Kalau bayar berapa ongkos sewanya per hari, tapi kalau gratis kok rasanya nggak mungkin.
.
Dagangan Dan Lapak Ini Juga Menghilang
Ditipkan Dimana ?

 

Ada juga orang Inggris yang kreatif, tanah kosong miliknya ditempatkan beberapa container yang berfungsi sebagai tempat untuk menitipkan barang dagangan. Tidak ada penjaga keamanan khusus. Saya perhatikan satu container dipakai bareng bareng beberapa pedagang untuk tempat dagangannya dan akan dikeluarkan kembali keesokan harinya. Boleh juga caranya, seandainya saja disekitar pasar pasar di Indonesia diletakkan container untuk disewakan ke PKL, tentu pasar akan lebih mudah dibersihkan dan akan kelihatan bersih dan rapi. Lihat saja photo photo dibawah ini.

 

Pagi Hari Sekitar Jam 09:00
Semua Lapak Dan Dagangan Dengan Cepat Muncul
Berarti Tempat Penitipan Tidak Jauh
Meskipun Pasar Sudah Mau Tutup
Tapi Kalau Pengunjung Sedang Banyak Ternyata
Pedagang Inggris Ngeyel Juga Nggak Mau Tutup

 

Lapak Kaki Lima Sudah Agak Menghilang
Meja, Kursi Sampai Gerobak Dorong Kemana Ya ?
Ternyata PKL Inggris Sama Saja Dengan Indonesia
Gerobak Dorongnya Disuruk Surukkan
Di Pekarangan Orang

 

Meja Lapak Juga Dionggokkan Di Gang Gang
Yang Tidak Terlihat Umum
Yang Punya Duit Gerobak Dorongnya
Di Titipkan Ke Dalam Toko, Bayar Sewa Tempat Dong
Ugh…. Gerobaknya Nyangkut Pintu
Entah Berapa Biaya Sewa Nitip Gerobak

.

Baca Juga :

Pintar – Old Portsmouth Walking Tour 1

The Still & West Country House
Tembok Kanan Adalah Pagar Bath Park
Sebelah kiri The Spice Island Inn (Tidak Terlihat)
Sudah lebih dari 30 negara pernah saya kunjungi dan saya bisa menilai betapa besar, kaya dan hebat negeri kita Indonesia, obyek wisatanya buanyak. Negara negara kecil seperti Singapore dan negara negara Europe saya akui memang lebih cerdik dan pintar dalam hal menjual pariwisatanya. Semua titik, semua tempat, semua lokasi, got, parit dan apapun diberi nama yang bagus bagus, dituliskan sejarahnya dan dijual. Di Indonesia, kayaknya kurang PD kalau memberi nama suatu tempat tapi lokasinya berdekatan. Contohnya : Tugu Monas, Lapangan Monas, Air Mancur Monas. Semua memakai nama ‘Monas’ yang sama sehingga turis asing langsung bisa menebak lokasinya sama.

 

The Spice Island Inn
Semua Bangunan, Rumah, Taman Di Daerah Ini
Berada di Spice Island Padahal Bukan Pulau Sama Sekali
Di negara negara Europe cukup populer istilah Walking Tour. Ada yang 2 jam, 3 jam atau 4 jam dan sudah tentu semakin lama semakin mahal ongkosnya. Brosur brosur pariwisata dan juga applikasi smartphone mudah didapat atau download juga. Bagi turis yang belum pernah ke tempat wisata tersebut biasanya membayangkan lokasinya sangat berjauhan dan melelahkan karena nama nama lokasi tidak sedikitpun ada kesamaan sama sekali seperti nama nama di Tugu Monas diatas.

 

Ada Dua Papan Keterangan
Portsmouth Point Dan Spinnaker Tower
Lokasi :  Bath Park – The Spice Island
Nah, sebagai contoh photo photo disamping ini saya ambil di Portsmouth. Biar lebih menjual, maka namanya dibuat menarik menjadi Old Portsmouth. Sebenarnya nggak perlu walking juga bisa, cukup merangkak karena semua obyek radiusnya cuma sekitar 30-40 meter saja. Untuk Walking Tour di Old Portsmouth ini turis akan dibawa ke :

The Spice Island

Tour guide akan menjelaskan pada jaman dulu perdagangan rempah rempah masuk melalui tempat ini. Sangat ramai sekali dan prostitusi marak di pelabuhan ini. Rumah rumah disekitar sini dulu adalah ‘brothel’, rumah bordil yang terkenal sebagai tempat menghambur hamburkan uang para saudagar rempah. Sekarang yang masih tersisa dan masih sama seperti jaman dulu hanya The Spice Island Inn. Setelah itu seluruh turis diminta photo dengan latar belakang The Spice Island Inn. Kalau ada yang kritis dan tanya dimana ‘Island’nya maka cukup dijawab No, No island. It’s only the name. The island of paradise where the rich men meet with the hooker

 

Point
Sejarah Digambarkan Secara Visual Mulai Tahun
1700an Sampai Sekarang



The Bath Park

Sebagai orang Indonesia yang negaranya sangat besar dan luas, bayangan saya Park itu seluas Taman Monas. Ternyata cuma sebesar rumah RSS type 36 saja. Untuk menuju tempat ini cukup jalan 10 meter saja. Mau lebih cepat loncat saja pagar tembok. Konon katanya rempah rempah dari Maluku diturunkan ditempat ini. Sekarang isinya cuma tempat duduk batu mengelilingi meja batu besar. Kayaknya sih cocok untuk ngelamun memandang laut kalau lagi patah hati.

 

Spinnaker Tower
Sejarah Mulai Dibangun, Alasan Dan Dana Pembangunan
Turis Kere Nggak Perlu Bayar Tour Guide



Spinnaker Tower

Lokasi nggak pindah masih di Bath Park, hanya bergeser sekitar 5 meter saja. Kalau sebelumnya duduk di kursi batu sambil mendengarkan tour guide ngoceh, sekarang berdiri didepan papan keterangan berwarna biru sambil baca sendiri sejarah berdirinya Spinnaker Tower. Sudah tentu si tour guide nggak perlu cerita terlalu banyak karena semua turis sibuk jeprat jepret photo dengan latar belakang Spinnaker Tower, nggak usah saya tulis disini sejarahnya, menara ini anggap saja ‘Monas’nya Portsmouth. Lokasi menara jauh dibelakang tapi untuk photo photoan memang bagus sekali dari The Bath Park ini. Mau mendekat, bayar lagi paket 4 jam.

 

Bath Park
Nggak Ada Tanaman, Batu Doang Untuk Duduk Duduk



The Point

Kereeen namanya. Untuk menuju tempat ini cukup geser kekanan dua langkah saja. Baca saja sejarahnya melalui papan keterangan biru didepan anda. Perhatikan juga photo kuno tahun 1700an, 1800an, 1900an dan saat ini. Kalau nggak tahu tanya saja tour guidenya. Ternyata, ini adalah titik dimana kita bisa memandang Spinnaker Tower. Pada jaman dulu digunakan juga sebagai titik pandang bagi para WTS kalau ada kapal saudagar rempah mau berlabuh. Ceileeee ….abang datang.

 

Semua Titik Diberi Nama Dan Punya Sejarah
Cukup Dengan Photo Photo Kuno
Orang Bisa Melihat Perjalanan Sejarah Toilet Juga

The Still & West Country House

Nah, terakhir setelah perjelanan yang ‘melelahkan’ (baca : tidak lelah sama sekali), semua turis digiring ke The Still & West Country House. Saya kira tempat apa, ternyata rumah makan kuno sudah ada sejak tahun 1700an. Semua mencoba ‘makan’ makanan yang terhidang ala kadarnya. Konon menu dan resep makanan tidak berubah  sejak jaman baheula dan diturunkan turun temurun. Kalau mau makannan yang lain bayar sendiri. Susah nolaknya lagipula, malu maluin bangsa Indonesia kalau sampai nggak ikutan makan. Jarak dari The Bath hanya 5 meter saja nyeberang jalan.
Gimana pendapat anda, pinter sekali kan cara pemasarannya ?.  Benar nggak istilah ‘Walking Tour’ tsb ?. bagi saya ‘walking di radius 30 meter itu bukan ‘walking’ namanya. Saya sudah terbiasa ‘walking’ di area Borobudur yang luas sekali. Bisa bayangkan tidak berapa uang masuk kalau wisata dibuat kecil kecil seperti ini. Tunggu cerita berikutnya tentang paket Walking Tour yang lebih lama, 3 jam. Di Indonesia mah kalau cuma 3 jam baru nyampai tujuan sudah habis waktunya.

Baca Juga :