Tag Archives: wisata belanda

Pasar Rombeng Di Enschede Holland

Pasar Loak Enschede
Untuk Masuk Pasar Loak Ini Harus Bayar EUR 5
Kali ini saya ajak anda jalan jalan ke Enschede, Netherland. Namanya kurang begitu dikenal oleh umumnya orang Indonesia di tanah air, karena memang kota ini termasuk ndeso dekat perbatasan Jerman. Sama halnya dengan ndeso perbatasan Nijmegen dan Arnhem, Kota Enschede ini, adem ayem dan cenderung sepi terutama malam hari. Jarak dari Arnhem hanya sekitar 90 – 100 Km saja dan bisa ditempuh dengan kereta api, bus atau mobil. Dengan mobil waktu tempuhnya sekitar 1 jam saja melalui jalan A1. Tapi kalau saya yang nyopir bisa dua jam karena nyopir sambil bengong lihat kiri kanan dan kadang berhenti dulu photo photoan. Kalau lewat jalan N18 bisa lebih lama lagi sekitar 1.5 jam..
Jaket Bekas Biar Kumel Tapi Layak Pakai
Kelihatan Kan Orang Belanda Itu Pelit Pelit
Kota kecil Enschede ini cukup dikenal orang karena ada University Of Twente. Kalau nggak ada university ini ya jelas ‘bablas angine’, nggak ada orang yang mengenal apalagi mau blusukan ke kota ini. Banyak juga orang Indonesia yang tinggal dan kuliah di universitas ini. Yang mau saya ceritakan sebenarnya adalah pasar loaknya saja. Terus terang saya nggak tahu apa hubungan antara mahasiswa dengan pasar loak. Yang jelas dikota ini setiap hari minggu pertama dan minggu terakhir setiap bulannya ada pasar loak yang buka mulai jam 12:00 – 17:00.
Ini Mahasiswa Indonesia
Jidatnya Berkilau Tandanya Pinter
Maksudnya Pinter Milih Barang Loak
Nama kerennya Shopping Sunday. Lokasi keramaiannya di Centrum (City Center). Nggak cuma pasar loak saja yang ada disini, restaurant, bar dll banyak juga. Mulai De Oude Markt (Pasar Tua) sampai Grote Kerk (Gereja Besar) penuh orang duduk duduk njajan di restaurant, cafe dan bar, belanja di toko toko dan pasar atau sekedar mondar mandir melihat keramaian saja.
Semua Pengunjung Warga Lokal
Mahasiswa Malah Jarang Yang Terlihat
Dari berbagai kota yang pernah saya kunjungi di Belanda, saya selalu dengan mudah menemukan pasar loak. Baca : Serba Butut Di Lapak Pemulung Belanda.. Artinya,  orang Belanda itu meskipun kelihatan ngganteng dan cantik, sebenarnya pelit dan ngiritnya luar biasa. Nggak percaya ?, Baca juga : 3 Hal Tentang Orang Belanda. Gimana nggak pelit, di pasar loak Enschede ini terlihat jelas hampir semua pengunjungnya penduduk asli setempat. Kalau tawar menawar gigihnya bukan main. Umumnya kalau datang ke Centrum ini mereka kalau nggak jalan kaki, naik bus, pasti naik sepeda. Beda kan dengan orang kita, kemana mana selalu naik mobil. Ke pasar loak juga naik mobil sendiri dan tentu saja bikin macet jalanan.
Semua Barang Rumah Tangga Dijual
Pelit Pol Tapi Kalau Ditanya Jawabnya Selalu Ngeles
Nggak Boleh Dibuang Untuk Menjaga Lingkungan Hidup

 

Dilarang Ngintip Celana Dalam Di De Adriaan Windmollen

De Adriaan Windmollen – Haarlem

 

Harus Jalan Kaki Melalui
Gang Sempit Menuju De Adriaan

Windmill De Adriaan terletak di kota Haarlem, Belanda kira kira 27 Km dari Amsterdam. Sebuah kota kecil yang lebih adem ayem dibanding Amsterdam. Kanal yang mengalir di kota ini jauh lebih bersih dibanding kota Amsterdam yang berwarna coklat, butek dan bau. Hanya ada satu windmill yang ada di kota Haarlem ini yaitu De Adriaan Windmollen. Saya paling senang mengunjungi windmill ini karena benar benar dikelola secara profesional. Staff atau tour guidenya sabar menjelaskan dan menjawab semua pertanyaan turis dan juga menguasai banyak bahasa. Saat saya uji kemampuan bahasa Indonesianya, ternyata bisa dimengerti juga meskipun “Pating Pecotot” dan membuat kita tersenyum lebar.

Lobby Bawah Sedang Dilukis Oleh Seniman

 

Siapa pencipta atau designer windmollen yang pertama kali di Belanda ?

Jawabnya nggak nyambung sama sekali. Entah sedang lapar atau alasan lain jawabannya ternyata menyimpang jauh sekali.

Saya pernah tinggal di Yogyakarta 2 tahun. Makan Gudeg Lesehan Setiap Hari

 

Nunggu Turis Lain Datang
Ngetem Nunggu Penumpang
Ternyata Dari Penjajahan Belanda

 

Setelah Beli Tiket Staff De Adriaan
Menjelaskan Sejarah De Adriaan

Setelah membeli tiket masuk, saya harus menunggu sebentar dan dipersilahkan untuk duduk di lobby atau melihat lihat sekitar windmollen sambil menunggu turis yang lain datang. Saya jadi tahu, sopir angkot di tanah air yang selalu ngetem nunggu penumpang penuh baru berangkat rupanya budaya Belanda yang diturunkan ke bangsa Indonesia mulai jaman penjajahan dulu. Akhirnya setelah ngetem sekitar 30 menit, terkumpullah sekitar 8 orang Turis dan staff De Adriaan mulai menjelaskan sejarah windmollen De Adriaan dari awal sampai akhir. Menjelaskannya cukup diluar bangunan windmollen dan yang membuat saya senang, gaya bicaranya sangat santai dan bersahabat.

 

Sabar Menjelaskan
Semua Detil Bangunan

 

Di Lantai Dasar Nonton Video
Sejarah Windmollen Di Belanda

Setelah itu semua diminta masuk dan nonton video. Pindah ruang, nonton video lagi. Tour guidenya kabur entah kemana dan turis turisnya banyak yang gelisah dan bosen nonton video. Ada yang serius nonton video dan ada juga yang mondar mandir kesana kemari seperti ayam kehilangan induk. Untung tour guidenya benar benar profesional, begitu video habis dia sudah datang kembali, mematikan TV dan melanjutkan kotbahnya. Isi video tentang sejarah windmollen di Belanda dan sejarah De Adriaan. Windmollen ini ternyata pernah terbakar habis tahun 1932 dan dibangun kembali tahun 2002. Jadi masih baru. Biaya pembangunan kembali dari hasil sumbangan penduduk Haarlem, patungan ala kadarnya.

Di Ruang Yang Lain Nonton Video Kebakaran
Dan Gotong Royong Pembangunan
De Adriaan Windmollen

 

Bagian Dalam Dijadikan Museum
Tidak Ada Penggilingan Gandum Lagi
Selesai nonton video langsung digiring naik ke lantai atas. Karena tangganya vertikal maka diatur laki laki dahulu yang naik baru setelah itu wanita menyusul. Saat turun berlaku aturan sebaliknya. Wanita yang turun lebih dulu dan laki laki belakangan. Kenapa pengaturannya sedemikian rupa, ternyata jawabnya sederhana saja. Kalau wanita yang naik duluan, maka para laki laki akan rame rame ngikut dibawahnya sambil ngintip bokong terutama yang pakai rok. Apapun suku dan bangsanya, kalau ada kesempatan ngintip bokong dan celana dalam dari bawah selalu dimanfaatkan dengan baik oleh para lelaki. Staff De Adriaan sudah hapal betul tingkah laku turis laki laki. Yang naik keatas nenek nenekpun tetap saja diintip, nggak tahu kenapa, untung saya datang saat peraturan sudah diberlakukan.
Untuk Naik Keatas Tangganya Vertikal
Laki Laki Naik Dulu Biar Nggak Ngintip
Celana Dalam Dan Bokong
Timbangan Masih Ada
Baca Juga :

 

Pegel Naik Turun Bisa Istirahat
Pemandangan Kampung Diluar
Dari Dalam Windmill
Bisa Lihat Pemandangan Kota Haarlem
Dari Atas
Kalau Turun Harus Mundur Dan Wanita Dulu
Diatur Demikian Karena Banyak Turis Laki Laki
Yang Iseng  Lihat Bokong Kalau Turun Duluan

 

Pasar Utrecht, Ora Canggih Blass

Pasar Utrecht Centrum
Bedanya Cuma Ada Pedagang Keju Saja
Pasar Utrecht
Sama Dengan Di Indonesia
Melalui blog ini saya pernah ajak anda ke Pasar Albert Cuyp Amsterdam dan juga ke Pasar Arnhem dekat Esebius Church, Arnhem Centrum. Nah sekarang anda saya ajak jalan jalan ke Utrecht, tepatnya di Utrecht Centrum. Kalau anda belum pernah ke Belanda tentu bayangannya sebuah pasar di Eropa adalah modern dan canggih. Eropa gitu lho masak kalah canggih dibanding pasar pasar di Indonesia. Ternyata salah besar, pasar pasar di Belanda relatif sama saja dengan di Indonesia. Belanda pernah 350 tahun di Indonesia sehingga ikut andil memberi bentuk pasar pasar tradisional di Indonesia dan juga meletakkan dasar dasar tata kota dan segala macam hukum dan irigasi kota.
.
Perjalanan Menuju Pasar Utrecht Centrum
Sebenarnya Nggak Ada Bedanya Dengan Suasana Pasar
Di Indonesia Cuma Udara Disini Dingin Saja

.

Kalau anda melihat sungai sungai di kota Tua Jakarta, susah sekali membedakannya dengan di Belanda. Perbedaan yang mencolok adalah yang di Belanda ada airnya sedangkan di Jakarta ada sampahnya. Yang benar benar sama persis adalah Stasiun Kereta Api, baik di Belanda maupun di Indonesia bentuknya nyaris sama dan selalu berdekatan dengan tempat prostitusi. Contohnya kawasan Red Light di jalan Damrak  Amsterdam. Letaknya hanya beberapa langkah dari Central Station Amsterdam. Mengingatkan saya dengan tempat prostitusi Pasar Kembang disamping Stasiun KA Yogya atau Saritem dan kawasan jalan Kebon Jati di Stasiun KA Bandung. Losmen losmen atau hotel kecil juga bertebaran disekitar Central Station Amsterdam. Rel Kereta Api juga sama saja, di Belanda rel KA juga membentang berdampingan dengan jalan raya, mengingatkan saya akan rel rel kereta api yang menghubungkan Surabaya – Sidoarjo atau Tegal – Kendal.

.

.
Kembali ke pasar pasar di Belanda, anda bisa melihat sendiri seperti apa bentuknya melalui photo photo diatas. Silahkan mengomentari, canggih atau tidak pasar Utrecht ini. Bagi wanita terutama saya, rasanya seru sekali berada dipasar dan cukup menyenangkan bisa tawar menawar harga dan berinteraksi dengan pedagang. Tidak sedikitpun saya merasa canggung untuk tawar menawar atau bertegur sapa dengan pedagang dan ibu ibu yang sedang belanja. Kosakata bahasa Belanda banyak yang sudah menjadi bahasa Indonesia dan bukan hambatan berarti kalau  sekedar ngomong di pasar. Apalagi, orang Belanda banyak yang ngerti beberapa  kata bahasa Indonesia. Di Pasar Utrecht ini saya paling sering memaksa pedagang Belanda mengeluarkan semua kosakata bahasa Indonesia yang diketahuinya. Dan keramahan orang Belanda nggak ada bedanya dengan orang Indonesia. Beda sekali dengan orang Jerman yang begitu jaim dan kadang nggak enak diajak ngomong.
.
“Say it in bahasa, no bahasa no pay”

Saya tunggu lamaaaa sekali, akhirnya setelah ngeden sekitar 3 menit muncul juga kata kata bahasa Indonesia.

“Kerupuk, seven Euro”

“Boentjis, enaaak , half kilogram!!!”

“Sambal pedaaas”, tapi yang disodorkan cabe merah.

“Bakmi Jawa”, yang disodorkan mie instant

“Kecap Maniiiiis, Maniiiis”, tapi cuma ngomong doang karena memang pedagang yang saya kunjungi ini nggak jual kecap. Tapi berkali kali pedagang tersebut ngucapin kata Manis… maniiissss, kayaknya hidung saya jadi kembang kempis. Berkali kali hidung saya pegang, rasanya jadi besar sekali. Pedagang tersebut tampaknya ngerti bener bahwa pembeli yang dihadapinya memang benar benar  manis. Ge-Er dikit sih, maklum baru pertama kali ketemu “Tom Cruise” yang berani menggoda dengan kata “Manis” berkali kali.
.
,
.
.
.
.
.
.
.

.

Baca Juga :

Bajaj Bajaj Belanda

Bajaj Utrecht Sedang Ngetem Di Centrum
Nggak Percaya Made In
India, Kepala Bajaj
Nggak Gedek Gedek

Kalau saya cerita tentang Bajaj di Jakarta barangkali anda tidak tertarik sama sekali untuk membacanya. Kendaraan serbaguna pengganti becak warna oranye di Jakarta ini memang sering dimusuhi pengguna jalan yang lain. Suaranya yang berisik dan asap knalpotnya yang bikin polusi memang layak untuk disingkirkan dari jalan raya di Jakarta, apalagi sopir bajaj di Jakarta seringkali ngawur dan nyelonong nyeberang jalan seenaknya. Bajaj butut, berisik dan sopir ngawur berputar nyeberang jalan seperti ini sering saya temui di Jakarta, Srilanka, Thailand dan negara asalnya India. Tetapi di Belanda berbeda sama sekali. Tidak pernah saya saksikan ada Bajaj ugal ugalan di jalan raya dengan suara memekakkan telinga.

Nggak Seru Nggak
Ada Suara Dan Asap

Di Belanda, Bajaj atau becak motor roda tiga ini juga ada, cukup banyak dan tersebar dimana mana. Setahu saya sudah ada di Belanda sejak tahun 2007an. Semula hanya ada di Amsterdam, daerah operasinya di Amersfoort. Setelah itu nyebar ke Den Haag, kawasan pantai di Zandvoort, Bergen op Zoom, kawasan beach resort Renesse, Rotterdam dan terakhir juga saya temukan di Utrech Centrum. Bajaj di Belanda ini diimport langsung dari India, tetapi beberapa orang Belanda yang saya temui menyebut dengan nama Tuk Tuk Thailand, bukan Bajaj meskipun merknya Bajaj. Mungkin ada juga merk lain yang diimport langsung dari Thailand.

Bandingkan Bajaj Belanda Diatas Dengan
Bajaj Yang Sedang Melintas Di Tebet Ini
Yang Ini Bajaj Jakarta
Kepala Dan Ekor Goyangnya
Beda
Yang berbeda kalau dibandingkan dengan Bajaj Jakarta, India atau Thailnd, di Belanda Bajajnya cukup canggih. Tidak berisik, tidak ada asap keluar dari knalpot karena mesinnya berbahan bakar CNG (Compresed Natural Gas). Lebih hebat lagi, lolos uji emisi dan mengantongi sertifikat EURO-4, berarti Bajaj Bajaj ini ramah lingkungan. Rasanya lebih seru naik Bajaj di Jakarta dibanding di Belanda. Di Jakarta, kalau si Bajaj ngebut kita bisa merasakan goyangan kepala dan ekor Bajaj tidak sama. Kepala goyang kekiri dan ekor goyang kekanan. Di Belanda saya tidak bisa menemukan sensasi goyang India seperti di Jakarta.
.
Baca Juga :

Belanja Pagi Di Pasar Arnhem Belanda

Lapak Penjual Keju
Berangkat Ke Pasar
Saya terbiasa bangun pagi, sholat subuh, nyiapin sarapan, ngantar anak ke sekolah lalu belanja ke pasar. Sejak saya tinggal di Arnhem, Belanda, kebiasaan sehari hari saya tersebut berubah total. Saya ikutan kebiasaan orang Belanda terutama yg muslim, bangun pagi, sholat subuh, tidur lagi. Disini pasar bukanya terlalu siang, rata rata antara jam 09:00 – 10:00 dan tutup kembali jam 17:00. Malam hari nyaris seperti kota mati kecuali pub, cafe dan tempat hiburan malam. Pertokoan dan restaurant sama saja, tutup jam 18:00 dan dikota besar seperti Amsterdam dan Rotterdam saja ada yang tutup jam 20:00.
Ada Yang Jual Susu Sapi Segar
Baru Buka
Dari rumah saya keluar sekitar jam 10:00, sudah tentu bawa tas belanja sendiri karena disini kebanyakan penjual tidak akan memberi tas kresek meskipun barang yang kita beli cukup banyak. Disamping itu terlalu mahal juga kalau setiap belanja harus membeli tas plastik untuk barang belanjaan yang kita beli. Pasar yang saya tuju pagi ini (baca :’Siang Ini’) adala Pasar Arnhem, di Market Square, Arnhem Centrum, dekat Esebius Church. Sebuah pasar terbuka kalau di Indonesia sering disebut Pasar Kaget, Pasar Tradisional, Pasar Pedagang Kaki Lima atau entah apa lagi nama nama lain yang rasanya kurang keren. Di Belanda, namanya cukup keren, expats disini sering menyebut “Arnhem Open Air Market”, “Arnhem Flea Market”, “Arnhem Centrum Market” dan nama lain sesukanya buat ngeles karena memang sebenarnya nggak tahu nama aslinya dalam bahasa Belanda.
Lapak Penjual Sayur Sayuran Segar
Menata Lapak Sesukanya
Ada Trantib Harus Mundur
Kalau saya sih nyebutnya Pasar Krempyeng karena memang ruwet dan nggak ada bedanya dengan pasar pasar di Indonesia. Pasar ini buka hanya hari Rabu dan Sabtu saja, ditata secara kilat dan pindah ke kota lain juga secara kilat. Itulah sebabnya cukup seru karena berantakannya bener bener mirip dengan pasar di tanah air. Saya jadi teringat tanah air, rupanya di Jakarta ada Pasar Senen, Pasar Rebo, Pasar Jumat dan Pasar Minggu sebenarnya adalah jejak peninggalan Belanda. Di Belanda sendiri pasar pasar kagetan seperti ini masih cukup lestari meskipun sama amburadulnya dengan di tanah air.
Lapak Penjual CD Bajakan
Penjual Binatang Masih Anak Anak
Sama Amburadulnya Dengan Pasar Tanah Abang
Transaksi Mau Beli Ayam
Bisa Nyembelihin Nggak ?
Kios Makanan Jadi
Mbok, Pecel Dan Nasi Rames Masih Ada Nggak ?
Hampir Tutup
Sudah Jam 15:00

Baca Juga :

Tiga Hal Yang Tak Diketahui Tentang Orang Belanda

Rajin Mandi Saat Masih Kanak Kanak Saja
.
Harus Ke Amsterdam
Untuk Memandikan Cucu
Dimana Kaki Berpijak, Disitu Langit Dijunjung‘. Inilah peribahasa yang benar benar harus saya pegang dimanapun saya berada. Dengan peribahasa inilah saya bisa diterima dan dihargai oleh semua penduduk yang saya kenal di Kuwait terutama tetangga kiri dan kanan saya. Di Belanda, saya juga bisa dengan mudah berinteraksi dengan tetangga kiri kanan saya meskipun saya tidak menguasai bahasa Belanda sedikitpun. Dengan bahasa Tarsan dan sedikit campur aduk dengan bahasa Inggris, Jawa dan Indonesia ternyata komunikasi dengan orang Belanda begitu mudah.
.
Kalau Gede Nanti
Gue Nggak Mau Mandi
Tetangga sebelah rumah saya di Belanda punya anak kecil sekitar 5 tahun. Tiap pagi sering saya suapin makan di rumah karena ibunya agak susah bangun pagi. Hampir tiap hari pula Oma dan Opa si anak kecil tadi mampir kerumah saat jalan jalan pagi. Seperti biasa, si Oma dan Opa akan mampir kerumah anaknya dulu sambil pura pura marah karena anaknya masih tidur, setelah itu baru kerumah saya untuk nengok cucunya yang lepas kerumah saya. Dari hal kecil inilah saya tahu banyak tentang kebiasaan orang Belanda Apalagi, kita sering pergi bersama dengan mereka ke kota kota terdekat. Kira kira orang Belanda seperti dibawah ini :
.
Oma Bayar Sendiri Opa Bayar Sendiri
Tante Nggak Jadi Beli Es Krim
.
Ramah Dan Sangat Bersahabat
Tante Susy Tante Susy
Mandi Sini

Nyaris nggak ada bedanya dengan orang Indonesia. Orang Belanda secara umum selalu menyapa dan tersenyum meskipun secara sambil lalu. Kayaknya nggak niat menyapa karena cepat sekali, tetapi sebenarnya bisa dimaklumi karena kalau jalam memang langkahnya lebar lebar sehingga kalau menyapa terasa cepat sekali dan tahu tahu telah menghilang. Hal ini beda sekali dengan rata rata orang Jerman yang nggak pernah senyum dan terkadang terkesan ketus atau rasialis kalau saya tanya hal hal yang sederhana.

.
Pelit Dan Njlimet Penuh Perhitungan
Oom Piet
Saya Nggak Pelit Lho
Soal Pelit ini rasanya menyeluruh semua orang Belanda luar biasa pelit, itung itungan apapun yang menyangkut uang rasanya yang seharusnya sederhana menjadi sangat rumit dan berkelak kelok ribet. Contohnya beli es krim. Dimanapun kalau menawari beli es krim maka harus bertanggung jawab untuk mbayari. Di Belanda, saya baru tahu ternyata ditawari beli es krim, maka urusan bayar harus masing masing. Nggak itu saja, kalau sampai uang yang kita bayarkan nggak ada duit kembalian, susahnya minta ampun untuk minta ijin dibayari dulu nanti sampai rumah baru diganti. Di toko, rumah makan, hotel dan tempat lain semua sama saja. Njlimet dan ruwet urusan duit.
.
Nggak Pernah Mandi
Minta Dipanggil Kakak

Yang ini No Comment saja, saya nggak tahu kenapa kebanyakan orang Belanda jarang mandi. Kalau anda memperhatikan orang orang yang berlalu lalang baik yang jalan kaki maupun naik sepeda akan tahu dengan sendiri benar atau tidak yang saya katakan. Jarang sekali saya temui orang Belanda yang wajahnya segar dan pakai make up rapi. Rambutpun sering terlihat acak acakan dan tidak disisir rapi. Saya pernah ‘ngrasani’ orang yang duduk dekat saya. ‘Mas, orang sebelah ini prengus mungkin sebulan nggak pernah mandi‘. Eh, langsung berdiri dan pindah tempat, artinya dia tahu apa yang saya katakan.

.
Lapar, Cari Makan Ah …..
.
Tante Beli Sandwitch Satu
.
Duitnya Mana ?
.
Tante Susy..!!! Minta Duit, Bayarin Dong
.
Saya Belum Mandi
.
Baca Juga :

Satu Jam Di Kereta Belanda

Berangkat Menuju Amsterdam, Naik Sprinter Dulu
Baru Pindah Ke Intercity
First Class Tempat Duduk 2 + 1
Kosong Satu Gerbong Dipakai Sendiri

Rumah saya di Arnhem, sekitar 100 Km dari Amsterdam dan dekat dengan perbatasan Jerman. Setiap akhir pekan rasanya bosen sekali tinggal di kota kecil yang lumayan sepi ini. Untuk menghilangkan rasa bosan, saya sering jalan jalan ke kota besar terdekat. Kadang ke Dusseldorf di Jerman dan kadang ke Utrecht atau Amsterdam. Perusahaan kereta api di Belanda, namanya NS. Untuk antar kota dan langsung tanpa berhenti sering disebut NS Intercity dan kereta ini hanya berhenti di Centraal Station saja. KA pengumpannya disebut Sprinter, bertugas untuk membawa penumpang dari stasiun stasiun kecil ke Centraal Station untuk diumpankan ke NS Intercity atau Thalis (antar negara).

Pemandangan Di Luar Sawah, Sapi Dan Kambing
Hans, Pedagang Asongan
Di Kereta First Class
Jual Pop Mie Dan Krupuk

Saya beli tiket Intercity termahal, First Class seharga EUR 26 untuk jarak sekitar 100 Km dengan tujuan Arnhem Centraal ke Centraal Station Amsterdam. Ticket Second Class sebenarnya tidak seberapa jauh berbeda, yaitu EUR 16, tapi “Apa Kata Dunia” kalau tetangga tetangga dan saudara saya dikampung tahu ‘Mbak Susy di Belanda ternyata sama saja dengan di kampung, naiknya kereta Ekonomi‘. Sesekali gaya naik First Class kan nggak apa apa. Tapi ternyata saya merasa tidak nyaman berada di gerbong VIP ini. Pingin tahu sebabnya ? Karena kosong, nggak ada penumpang lain selain saya dan anak anak. Heran juga saya, nggak ada kondektur dan nggak ada satpam yang mengawasi kok nggak ada satupun penumpang yang berani pindah duduk di kelas utama ini.

Kroepoek Londo
Enak Juga

Sedang asyik melamun sambil melihat pemandangan sawah dan kebun dari balik kaca jendela tiba tiba saya dikagetkan dengan teriakan cukup keras ‘KROEPOEKKKKKK…. KROEPOEK !!!!’. Ternyata teriakan pedagang asongan yang sedang menawarkan dagangannya. Cukup ngganteng dan ramah sekali, namanya Hans. Dia tahu penumpang Kelas Utama berkulit sawo matang yang ditemuinya berasal dari Indonesia karena mendengar percakapan saya dengan anak anak. Umumnya orang Belanda banyak yang bisa bahasa Indonesia meskipun pasif. Kosakata Indonesia yang dikuasai Hans lumayan banyak, misal Panas, Dingin, Pakai Es dan Tidak Punya. Pedagang asongan kwalitas ‘Layar Lebar’ ini tahu juga segala macam nama makanan Indonesia. Si Hans tampaknya doyan makan.

Sepeda Dan Anjing Naik Kereta Api
Begitu Duduk Langsung Ngorok
Sampai Amsterdam
Di Gerbong Second Class belakang, suasana cukup meriah. Penumpang serentak masuk tergesa gesa dengan sepeda dan ransel besar dipunggungnya. Ada penumpang yang marah karena celananya kotor kesenggol roda sepeda, ada juga yang nggrundel nggak bisa lewat terhalang sepeda. Dan ada juga yang sibuk dengan anjing bawaannya. Tapi lebih banyak yang cuek bebek. Pintu kereta belum tertutup dan beberapa penumpang masih berusaha naik dan mendorong sepedanya agar bisa terangkut, eh ada penumpang yang langsung duduk dan tidur ngorok nggak bangun bangun sampai Amsterdam. Rasanya uenak sekali nggak punya pikiran macem macem dan langsung bisa tertidur pulas hanya dalam hitungan detik.
Di Gerbong Ini Sepeda Nggak Boleh Masuk
Tapi Anjing Duduk Di Kursi
Tas Jinjing Khusus Untuk Bawa
Anjing Di Kereta Api
Rasa penasaran dan ingin tahu menyebabkan saya keliling keseluruh gerbong dan ikut berdesak desakan di gerbong belakang. Kadang harus meloncati anjing dan kadang harus menyibak sepeda. Ternyata, lebih menarik di gerbong ekonomi ini. Selain penuh sesak dan bisa melihat tingkah polah penumpang juga bisa senyam senyum mendengar teriakan Hans. ‘Coffeeeeee Kroepoek, Kroepoek Coffeeeeeee Bagus !!!’. Nggak ada beda sama sekali dengan Kereta Api di Indonesia. Saya masih ingat saat naik kereta api ekonomi dan berhenti di Gambringan beberapa tahun lalu. Pedagang asongan juga sering berteriak yang bisa membuat penumpang tersenyum.  ‘Pecruk… Pecel Wedang jeruk ……!.  Ternyata, sama saja.
Corat Coret Juga Ada
Jangan Dikira Belanda Bersih Dan Rapi
Aroma WC Sama Saja
Jangan Dikira WC Bule Lebih Harum
Bedanya Nggak Bau Pete Dan Jengkol Saja
Ada Yang Cepat Marah Saat
Kakinya Tersenggol Roda Sepeda
Berhenti Di Stasiun
Baca Juga :