Tag Archives: PKL belanda

Belanja Pagi Di Pasar Arnhem Belanda

Lapak Penjual Keju
Berangkat Ke Pasar
Saya terbiasa bangun pagi, sholat subuh, nyiapin sarapan, ngantar anak ke sekolah lalu belanja ke pasar. Sejak saya tinggal di Arnhem, Belanda, kebiasaan sehari hari saya tersebut berubah total. Saya ikutan kebiasaan orang Belanda terutama yg muslim, bangun pagi, sholat subuh, tidur lagi. Disini pasar bukanya terlalu siang, rata rata antara jam 09:00 – 10:00 dan tutup kembali jam 17:00. Malam hari nyaris seperti kota mati kecuali pub, cafe dan tempat hiburan malam. Pertokoan dan restaurant sama saja, tutup jam 18:00 dan dikota besar seperti Amsterdam dan Rotterdam saja ada yang tutup jam 20:00.
Ada Yang Jual Susu Sapi Segar
Baru Buka
Dari rumah saya keluar sekitar jam 10:00, sudah tentu bawa tas belanja sendiri karena disini kebanyakan penjual tidak akan memberi tas kresek meskipun barang yang kita beli cukup banyak. Disamping itu terlalu mahal juga kalau setiap belanja harus membeli tas plastik untuk barang belanjaan yang kita beli. Pasar yang saya tuju pagi ini (baca :’Siang Ini’) adala Pasar Arnhem, di Market Square, Arnhem Centrum, dekat Esebius Church. Sebuah pasar terbuka kalau di Indonesia sering disebut Pasar Kaget, Pasar Tradisional, Pasar Pedagang Kaki Lima atau entah apa lagi nama nama lain yang rasanya kurang keren. Di Belanda, namanya cukup keren, expats disini sering menyebut “Arnhem Open Air Market”, “Arnhem Flea Market”, “Arnhem Centrum Market” dan nama lain sesukanya buat ngeles karena memang sebenarnya nggak tahu nama aslinya dalam bahasa Belanda.
Lapak Penjual Sayur Sayuran Segar
Menata Lapak Sesukanya
Ada Trantib Harus Mundur
Kalau saya sih nyebutnya Pasar Krempyeng karena memang ruwet dan nggak ada bedanya dengan pasar pasar di Indonesia. Pasar ini buka hanya hari Rabu dan Sabtu saja, ditata secara kilat dan pindah ke kota lain juga secara kilat. Itulah sebabnya cukup seru karena berantakannya bener bener mirip dengan pasar di tanah air. Saya jadi teringat tanah air, rupanya di Jakarta ada Pasar Senen, Pasar Rebo, Pasar Jumat dan Pasar Minggu sebenarnya adalah jejak peninggalan Belanda. Di Belanda sendiri pasar pasar kagetan seperti ini masih cukup lestari meskipun sama amburadulnya dengan di tanah air.
Lapak Penjual CD Bajakan
Penjual Binatang Masih Anak Anak
Sama Amburadulnya Dengan Pasar Tanah Abang
Transaksi Mau Beli Ayam
Bisa Nyembelihin Nggak ?
Kios Makanan Jadi
Mbok, Pecel Dan Nasi Rames Masih Ada Nggak ?
Hampir Tutup
Sudah Jam 15:00

Baca Juga :

Advertisements

KVK – Kumpulan Vedagang Kakilima Belanda

Dagangan PKL Di Albert Cuyp Markt
Amsterdam
Restaurant Indonesia
Sukses Di Belanda

Bulan Ramadhan ini saya pulang ke tanah air tercinta Indonesia. Seperti biasa pemandangan dimana mana adalah aktifitas ekonomi di tanah air yang luar biasa besar potensinya kalau dikelola dengan baik, yaitu pedagang kaki lima. Dari siaran radio yang saya dengar melalui mobil yang saya kendarai, saya bisa mengetahui Gubernur/Wagub DKI Jokowi/Ahok sedang sibuk mengurus para PKL di Tanah Abang yang susah sekali diatur. Preman preman di tanah abang ngamuk karena penghasilannya dari memalak PKL bakalan habis kalau semua PKL dipindahkan ke Block G dari tempat biasanya membuka lapak di jalan raya.

.
Aku Dan Suami Istri Pemilik
Restaurant Lestari Arnhem

Kenapa dari jaman dulu kala di Indonesia selalu ribut antara pemerintah dan PKL ? Indonesia punya Kementerian Perdagangan Dan Perindustrian, Kementerian Ekonomi Kreatif, Kamar Dagang Indonesia, Perusahaan Daerah Pasar dan lain lain. Tapi urusan Pedagang Kaki Lima tidak pernah beres dan terintegrasi dengan baik. Masing masing kementrian tidak pernah mencari solusi bersama membantu wiraswastawan kecil untuk lebih baik. Setiap tahun pemda selalu ‘Fire Fighting’ padahal Indonesia punya banyak sekali lulusan perguruan tinggi jurusan informatika. Bisa jadi PNS atau staff kementerian diatas terlalu ‘Jadul’ dan masih ‘Gaptek’ dan tidak tahu sama sekali pentingnya database yang terintegrasi. Atau mereka sangat cerdas sekali dan tahu kalau system informasinya bagus maka tidak punya peluang lagi untuk ‘korupsi’. Siapa tahu kan ?

.

PKL Di Albert Cuyp Markt

Di Belanda, urusan PKL bisa beres dan cukup ditangani oleh KVK (Kamer Van Koophandel). Semacam Chamber Of Commerce kalau dinegara lain atau KADIN kalau di tanah air. Siapapun bisa jadi wiraswastawan atau PKL termasuk orang asing. Syaratnya cuma KTP saja dan syarat ini sangat mudah sekali didapat, misal jadi mahasiswa dulu lalu residency permitnya digunakan untuk nyambi jadi PKL. Itulah sebabnya di Belanda banyak sekali Rumah Makan Indonesia, Turki, Suriname dan lain lain. Pedagang Kaki Limanya pun punya spesialisasi dagangan berdasarkan asal negaranya seperti yang pernah saya tulis di Simbok Di Pasar Albert Cuyp Amsterdam

.

PKL Di Semarang

Pemerintah Belanda tidak perlu sibuk menarik iuran harian atau pajak dari PKL karena melalui website KVK (Kamer Van Koophandel) semua wiraswastawan diberi hak untuk melaporkan semua cash flow harian dan dengan mudah sekali pemerintah dan PKL mengontrol berapa pajak yang harus dibayar. Satpol PP Belanda tinggal keliling bawa laptop untuk mengontrol nomor registrasi para PKL, kalau belum input laporan keuangan dan belum bayar pajak sesuai cash flownya tinggal diberi peringatan dan malah dibantu untuk mengisi laporan keuangan. Soal bayar pajak, semua PKL tidak perlu harus datang ke kantor pajak, semuanya otomatis didebet dari rekening bank si PKL sesuai dengan cash flow yang dilaporkan. Pajak dari PKL diberikan kembali dalam bentuk fasalitas berdagang, jaminan sosial saat tidak bisa berdagang dan lain lain.

.

PKL Di Rumahku Bogor

Lokasi PKL juga sudah ditentukan dan diatur harus memenuhi syarat tertentu. Tetapi kalau mobile (Pedagang Keliling) diberi persyaratan lain yang lebih ketat supaya tidak seenaknya ngetem ditempat strategis ditempat yang dilarang untuk berdagang. Bagaimana, mumpung sekarang masih suasana hari kemerdekaan 17 Agustus, enak mana Belanda atau Indonesia ?. Seandainya saja Indonesia masih berada diwilayah administratif Belanda, sudah pasti caranya akan sama. Pemda, PD Pasar, Preman dan entah institusi pemerintah apa lagi tidak akan ada yang mengutip iuran harian secara manual untuk dimasukkan ke kantong pribadi. Apa sih susahnya membuat system informatika yang terintegrasi untuk seluruh negara Indonesia ? Mau dijajah Belanda kembali supaya negara ini bagus ? Atau biarkan saja merdeka seperti sekarang ini dan siapapun bisa bebas mengutip uang dari para pedagang kaki lima ?. Langkah bagus apapun yang dilakukan Gubernur/Wagub DKI terhadap pasar Tanah Abang akan tetap sia sia kalau tidak disediakan system terintegrasi yang memudahkan pedagang seperti KVK.

.
Baca Juga :