Tag Archives: Liburan belanda

Pasar Rombeng Di Enschede Holland

Pasar Loak Enschede
Untuk Masuk Pasar Loak Ini Harus Bayar EUR 5
Kali ini saya ajak anda jalan jalan ke Enschede, Netherland. Namanya kurang begitu dikenal oleh umumnya orang Indonesia di tanah air, karena memang kota ini termasuk ndeso dekat perbatasan Jerman. Sama halnya dengan ndeso perbatasan Nijmegen dan Arnhem, Kota Enschede ini, adem ayem dan cenderung sepi terutama malam hari. Jarak dari Arnhem hanya sekitar 90 – 100 Km saja dan bisa ditempuh dengan kereta api, bus atau mobil. Dengan mobil waktu tempuhnya sekitar 1 jam saja melalui jalan A1. Tapi kalau saya yang nyopir bisa dua jam karena nyopir sambil bengong lihat kiri kanan dan kadang berhenti dulu photo photoan. Kalau lewat jalan N18 bisa lebih lama lagi sekitar 1.5 jam..
Jaket Bekas Biar Kumel Tapi Layak Pakai
Kelihatan Kan Orang Belanda Itu Pelit Pelit
Kota kecil Enschede ini cukup dikenal orang karena ada University Of Twente. Kalau nggak ada university ini ya jelas ‘bablas angine’, nggak ada orang yang mengenal apalagi mau blusukan ke kota ini. Banyak juga orang Indonesia yang tinggal dan kuliah di universitas ini. Yang mau saya ceritakan sebenarnya adalah pasar loaknya saja. Terus terang saya nggak tahu apa hubungan antara mahasiswa dengan pasar loak. Yang jelas dikota ini setiap hari minggu pertama dan minggu terakhir setiap bulannya ada pasar loak yang buka mulai jam 12:00 – 17:00.
Ini Mahasiswa Indonesia
Jidatnya Berkilau Tandanya Pinter
Maksudnya Pinter Milih Barang Loak
Nama kerennya Shopping Sunday. Lokasi keramaiannya di Centrum (City Center). Nggak cuma pasar loak saja yang ada disini, restaurant, bar dll banyak juga. Mulai De Oude Markt (Pasar Tua) sampai Grote Kerk (Gereja Besar) penuh orang duduk duduk njajan di restaurant, cafe dan bar, belanja di toko toko dan pasar atau sekedar mondar mandir melihat keramaian saja.
Semua Pengunjung Warga Lokal
Mahasiswa Malah Jarang Yang Terlihat
Dari berbagai kota yang pernah saya kunjungi di Belanda, saya selalu dengan mudah menemukan pasar loak. Baca : Serba Butut Di Lapak Pemulung Belanda.. Artinya,  orang Belanda itu meskipun kelihatan ngganteng dan cantik, sebenarnya pelit dan ngiritnya luar biasa. Nggak percaya ?, Baca juga : 3 Hal Tentang Orang Belanda. Gimana nggak pelit, di pasar loak Enschede ini terlihat jelas hampir semua pengunjungnya penduduk asli setempat. Kalau tawar menawar gigihnya bukan main. Umumnya kalau datang ke Centrum ini mereka kalau nggak jalan kaki, naik bus, pasti naik sepeda. Beda kan dengan orang kita, kemana mana selalu naik mobil. Ke pasar loak juga naik mobil sendiri dan tentu saja bikin macet jalanan.
Semua Barang Rumah Tangga Dijual
Pelit Pol Tapi Kalau Ditanya Jawabnya Selalu Ngeles
Nggak Boleh Dibuang Untuk Menjaga Lingkungan Hidup

 

Advertisements

Rumah Belanda Di Indonesia Dan Belanda

Rumah Belanda Di Indonesia
Warna Putih Beratap Limas
Kalau ada ngibul tapi diturunkan terus menerus sampai ke anak cucu, itu hanya terjadi di Indonesia. Nggak percaya, cobalah buka majalah majalah tentang rumah atau koran koran apapun yang pernah mengulas tentang rumah rumah peninggalan Belanda di Indonesia. Baik rumah Belanda di Bandung, Semarang,, Jakarta, Surabaya, Bukittinggi dan lain lain selalu diulas dengan sebutan Rumah Belanda. Nah istilah Rumah Belanda ini salah kaprah dan diturunkan ke anak cucu sampai sekarang.

 

Omah Londo Di Indonesia
Atapnya Khas Daerah Banyak Hujan
Rumah rumah Belanda tersebut sebenarnya adalah rumah asli Indonesia. Bentuk, design atau modelnya khas daerah tropis dan banyak hujan. Rumah tersebut bukan Rumah Belanda karena di Belanda sendiri tidak ada yang mirip dengan rumah rumah di tanah air. Arsiteknya memang benar orang Belanda, dibuatnya juga benar pada jaman penjajahan Belanda. Tapi rumah rumah tersebut bukan Rumah Belanda, tapi lebih cocok kalau disebut Rumah Buatan Arsitek Belanda, Rumah Jaman Penjajahan Belanda atau Rumah Yang Dihuni Orang Belanda . Di Belanda sendiri, hampir semua rumah berwarna merah bata. Di tanah air, semuanya berwarna putih. Atap rumah Belanda di Indonesia berbentuk Limas atau Trapesium karena sangat banyak hujan. Di Belanda, lihat sendiri pada photo photo dibawah.

 

Rumah Di Amsterdam
Warna Selalu Merah Bata
Karena negeri Belanda sangat kecil sekali, maka rumah rumah di Belanda juga dibuat kecil kecil semua tanpa halaman dan dibuat berdempet dempet 3 – 5 lantai. Beda dengan rumah Belanda di Indonesia yang memiliki halaman sangat luas, temboknya sangat tebal dan sangat besar. Saya kira sangat wajar, sebagai manusia yang tertekan sehari harinya gerah di rumah rumah kecil, begitu punya kesempatan datang menjajah Indonesia maka segera dibangunlah rumah rumah yang jauh lebih besar dibanding rumah di negaranya sendiri. Sangat wajar pula kalau orang di negaranya sendiri tidak punya kebun dan halaman luas maka saat membangun rumah di Indonesia dibuatlah halaman yang sangat luas sekali mengelilingi rumahnya.
Rumah  Di Nijmegen
Atapnya Beda Dengan Rumah Di Indonesia
Kalau anda melihat photo photo kuno jaman penjajahan, maka bisa terlihat juga bahwa setiap keluarga Belanda selalu ada pembantu yang nglesot duduk di lantai saat diphoto. Nah, di Belanda sendiri sebenarnya nggak ada keluarga yang punya pembantu rumah tangga karena rumahnya kecil kecil. Mumpung sedang menjajah Indonesia, dan kebetulan rumah yang dibuatnya besar besar dan berhalaman sangat luas maka lahirlah saat jaman penjajahan Belanda tersebut apa yang dinamakan Bedinde. Inilah cerita awal mula lahirnya Bedinde di Indonesia dan tetap bisa bertahan sampai saat ini meskipun namanya berubah menjadi babu, kacung, pembantu rumah tangga dan terakhir ini lebih canggih lagi yaitu pramuwisma.

 

Rumah Di Arnhem
Nggak Ada Yang Warna Tembok Putih
Rumah Di Arnhem Centrum
Apanya Yang Sama Dengan Rumah Belanda Di Indonesia
Rumah Asli Belanda Di Haarlem
Beda Sama Sekali Dengan Rumah Belanda Di Bandung
Rumah Belanda Di Alkmaar
Nggak Ada Halaman Sama Sekali
Rumah Belanda Di Amsterdam
Kecil Dempet Dempetan
Di Indonesia Besar Dan Punya Halaman Luas
Semua Berwarna Merah Bata
Di Indonesia Semua Putih Dan Beratap Limas
Rumah Belanda Di Indonesia Temboknya Tebal Dan Kuat
Di Nijmegen Temboknya Ngirit Batu Bata Alias Tipis
Di Belanda Banyak Rumah Kopel
Rumah Belanda Di Indonesia Besar Besar
Dan Berhalaman Luas
Nggak Ada Satupun Rumah Belanda Di
Indonesia Yang Mirip Di Negara Aslinya

Baca Juga :

Bajaj Bajaj Belanda

Bajaj Utrecht Sedang Ngetem Di Centrum
Nggak Percaya Made In
India, Kepala Bajaj
Nggak Gedek Gedek

Kalau saya cerita tentang Bajaj di Jakarta barangkali anda tidak tertarik sama sekali untuk membacanya. Kendaraan serbaguna pengganti becak warna oranye di Jakarta ini memang sering dimusuhi pengguna jalan yang lain. Suaranya yang berisik dan asap knalpotnya yang bikin polusi memang layak untuk disingkirkan dari jalan raya di Jakarta, apalagi sopir bajaj di Jakarta seringkali ngawur dan nyelonong nyeberang jalan seenaknya. Bajaj butut, berisik dan sopir ngawur berputar nyeberang jalan seperti ini sering saya temui di Jakarta, Srilanka, Thailand dan negara asalnya India. Tetapi di Belanda berbeda sama sekali. Tidak pernah saya saksikan ada Bajaj ugal ugalan di jalan raya dengan suara memekakkan telinga.

Nggak Seru Nggak
Ada Suara Dan Asap

Di Belanda, Bajaj atau becak motor roda tiga ini juga ada, cukup banyak dan tersebar dimana mana. Setahu saya sudah ada di Belanda sejak tahun 2007an. Semula hanya ada di Amsterdam, daerah operasinya di Amersfoort. Setelah itu nyebar ke Den Haag, kawasan pantai di Zandvoort, Bergen op Zoom, kawasan beach resort Renesse, Rotterdam dan terakhir juga saya temukan di Utrech Centrum. Bajaj di Belanda ini diimport langsung dari India, tetapi beberapa orang Belanda yang saya temui menyebut dengan nama Tuk Tuk Thailand, bukan Bajaj meskipun merknya Bajaj. Mungkin ada juga merk lain yang diimport langsung dari Thailand.

Bandingkan Bajaj Belanda Diatas Dengan
Bajaj Yang Sedang Melintas Di Tebet Ini
Yang Ini Bajaj Jakarta
Kepala Dan Ekor Goyangnya
Beda
Yang berbeda kalau dibandingkan dengan Bajaj Jakarta, India atau Thailnd, di Belanda Bajajnya cukup canggih. Tidak berisik, tidak ada asap keluar dari knalpot karena mesinnya berbahan bakar CNG (Compresed Natural Gas). Lebih hebat lagi, lolos uji emisi dan mengantongi sertifikat EURO-4, berarti Bajaj Bajaj ini ramah lingkungan. Rasanya lebih seru naik Bajaj di Jakarta dibanding di Belanda. Di Jakarta, kalau si Bajaj ngebut kita bisa merasakan goyangan kepala dan ekor Bajaj tidak sama. Kepala goyang kekiri dan ekor goyang kekanan. Di Belanda saya tidak bisa menemukan sensasi goyang India seperti di Jakarta.
.
Baca Juga :

Belanja Pagi Di Pasar Arnhem Belanda

Lapak Penjual Keju
Berangkat Ke Pasar
Saya terbiasa bangun pagi, sholat subuh, nyiapin sarapan, ngantar anak ke sekolah lalu belanja ke pasar. Sejak saya tinggal di Arnhem, Belanda, kebiasaan sehari hari saya tersebut berubah total. Saya ikutan kebiasaan orang Belanda terutama yg muslim, bangun pagi, sholat subuh, tidur lagi. Disini pasar bukanya terlalu siang, rata rata antara jam 09:00 – 10:00 dan tutup kembali jam 17:00. Malam hari nyaris seperti kota mati kecuali pub, cafe dan tempat hiburan malam. Pertokoan dan restaurant sama saja, tutup jam 18:00 dan dikota besar seperti Amsterdam dan Rotterdam saja ada yang tutup jam 20:00.
Ada Yang Jual Susu Sapi Segar
Baru Buka
Dari rumah saya keluar sekitar jam 10:00, sudah tentu bawa tas belanja sendiri karena disini kebanyakan penjual tidak akan memberi tas kresek meskipun barang yang kita beli cukup banyak. Disamping itu terlalu mahal juga kalau setiap belanja harus membeli tas plastik untuk barang belanjaan yang kita beli. Pasar yang saya tuju pagi ini (baca :’Siang Ini’) adala Pasar Arnhem, di Market Square, Arnhem Centrum, dekat Esebius Church. Sebuah pasar terbuka kalau di Indonesia sering disebut Pasar Kaget, Pasar Tradisional, Pasar Pedagang Kaki Lima atau entah apa lagi nama nama lain yang rasanya kurang keren. Di Belanda, namanya cukup keren, expats disini sering menyebut “Arnhem Open Air Market”, “Arnhem Flea Market”, “Arnhem Centrum Market” dan nama lain sesukanya buat ngeles karena memang sebenarnya nggak tahu nama aslinya dalam bahasa Belanda.
Lapak Penjual Sayur Sayuran Segar
Menata Lapak Sesukanya
Ada Trantib Harus Mundur
Kalau saya sih nyebutnya Pasar Krempyeng karena memang ruwet dan nggak ada bedanya dengan pasar pasar di Indonesia. Pasar ini buka hanya hari Rabu dan Sabtu saja, ditata secara kilat dan pindah ke kota lain juga secara kilat. Itulah sebabnya cukup seru karena berantakannya bener bener mirip dengan pasar di tanah air. Saya jadi teringat tanah air, rupanya di Jakarta ada Pasar Senen, Pasar Rebo, Pasar Jumat dan Pasar Minggu sebenarnya adalah jejak peninggalan Belanda. Di Belanda sendiri pasar pasar kagetan seperti ini masih cukup lestari meskipun sama amburadulnya dengan di tanah air.
Lapak Penjual CD Bajakan
Penjual Binatang Masih Anak Anak
Sama Amburadulnya Dengan Pasar Tanah Abang
Transaksi Mau Beli Ayam
Bisa Nyembelihin Nggak ?
Kios Makanan Jadi
Mbok, Pecel Dan Nasi Rames Masih Ada Nggak ?
Hampir Tutup
Sudah Jam 15:00

Baca Juga :

Tiga Hal Yang Tak Diketahui Tentang Orang Belanda

Rajin Mandi Saat Masih Kanak Kanak Saja
.
Harus Ke Amsterdam
Untuk Memandikan Cucu
Dimana Kaki Berpijak, Disitu Langit Dijunjung‘. Inilah peribahasa yang benar benar harus saya pegang dimanapun saya berada. Dengan peribahasa inilah saya bisa diterima dan dihargai oleh semua penduduk yang saya kenal di Kuwait terutama tetangga kiri dan kanan saya. Di Belanda, saya juga bisa dengan mudah berinteraksi dengan tetangga kiri kanan saya meskipun saya tidak menguasai bahasa Belanda sedikitpun. Dengan bahasa Tarsan dan sedikit campur aduk dengan bahasa Inggris, Jawa dan Indonesia ternyata komunikasi dengan orang Belanda begitu mudah.
.
Kalau Gede Nanti
Gue Nggak Mau Mandi
Tetangga sebelah rumah saya di Belanda punya anak kecil sekitar 5 tahun. Tiap pagi sering saya suapin makan di rumah karena ibunya agak susah bangun pagi. Hampir tiap hari pula Oma dan Opa si anak kecil tadi mampir kerumah saat jalan jalan pagi. Seperti biasa, si Oma dan Opa akan mampir kerumah anaknya dulu sambil pura pura marah karena anaknya masih tidur, setelah itu baru kerumah saya untuk nengok cucunya yang lepas kerumah saya. Dari hal kecil inilah saya tahu banyak tentang kebiasaan orang Belanda Apalagi, kita sering pergi bersama dengan mereka ke kota kota terdekat. Kira kira orang Belanda seperti dibawah ini :
.
Oma Bayar Sendiri Opa Bayar Sendiri
Tante Nggak Jadi Beli Es Krim
.
Ramah Dan Sangat Bersahabat
Tante Susy Tante Susy
Mandi Sini

Nyaris nggak ada bedanya dengan orang Indonesia. Orang Belanda secara umum selalu menyapa dan tersenyum meskipun secara sambil lalu. Kayaknya nggak niat menyapa karena cepat sekali, tetapi sebenarnya bisa dimaklumi karena kalau jalam memang langkahnya lebar lebar sehingga kalau menyapa terasa cepat sekali dan tahu tahu telah menghilang. Hal ini beda sekali dengan rata rata orang Jerman yang nggak pernah senyum dan terkadang terkesan ketus atau rasialis kalau saya tanya hal hal yang sederhana.

.
Pelit Dan Njlimet Penuh Perhitungan
Oom Piet
Saya Nggak Pelit Lho
Soal Pelit ini rasanya menyeluruh semua orang Belanda luar biasa pelit, itung itungan apapun yang menyangkut uang rasanya yang seharusnya sederhana menjadi sangat rumit dan berkelak kelok ribet. Contohnya beli es krim. Dimanapun kalau menawari beli es krim maka harus bertanggung jawab untuk mbayari. Di Belanda, saya baru tahu ternyata ditawari beli es krim, maka urusan bayar harus masing masing. Nggak itu saja, kalau sampai uang yang kita bayarkan nggak ada duit kembalian, susahnya minta ampun untuk minta ijin dibayari dulu nanti sampai rumah baru diganti. Di toko, rumah makan, hotel dan tempat lain semua sama saja. Njlimet dan ruwet urusan duit.
.
Nggak Pernah Mandi
Minta Dipanggil Kakak

Yang ini No Comment saja, saya nggak tahu kenapa kebanyakan orang Belanda jarang mandi. Kalau anda memperhatikan orang orang yang berlalu lalang baik yang jalan kaki maupun naik sepeda akan tahu dengan sendiri benar atau tidak yang saya katakan. Jarang sekali saya temui orang Belanda yang wajahnya segar dan pakai make up rapi. Rambutpun sering terlihat acak acakan dan tidak disisir rapi. Saya pernah ‘ngrasani’ orang yang duduk dekat saya. ‘Mas, orang sebelah ini prengus mungkin sebulan nggak pernah mandi‘. Eh, langsung berdiri dan pindah tempat, artinya dia tahu apa yang saya katakan.

.
Lapar, Cari Makan Ah …..
.
Tante Beli Sandwitch Satu
.
Duitnya Mana ?
.
Tante Susy..!!! Minta Duit, Bayarin Dong
.
Saya Belum Mandi
.
Baca Juga :

Imut Imut Rumah Belanda

Rumah Di Jalan Utama – Sewanya Paling Mahal
Kecil Kecil Dan Sesuai Dengan Jumlah Keluarga
.
Didepan Rumah RSS Kecilku
Di Kuwait, semua rumah berukuran besar besar dan umumnya bertingkat 3  karena Pemerintah Kuwait memberi bantuan pembangunan rumah bagi warga yang telah berkeluarga. Apartment di Kuwait kebanyakan untuk sewa dan banyak ditinggali oleh expats. Tidak terlihat perbedaan strata sosial mencolok antara yang tinggal di rumah tanah maupun apartment. Di Indonesia sebaliknya, umumnya orang Indonesia ingin ‘Terlihat Beda‘ dengan yang lainnya. Punya rumah besar disebuah komplek dengan pagar keliling tinggi dan dijaga Satpam 24 jam merupakan sebuah prestige tersendiri dan bisa menunjukkan kelas sosial tertentu. Tetapi uniknya, orang Indonesia merasa cukup bergengsi dan berkelas apabila tinggal di Apartment. Padahal, dinegara manapun yang tinggalnya di apartment termasuk strata sosial “Kere“.
.
RSS Kecilku  Di Belanda
Sama Dengan RSS Type 21
Di Belanda lain lagi, hampir semua rumah tanah ukurannya kecil kecil. Apartment ada yang kecil dan ada juga yang cukup besar. Saya bandingkan harga sewa rumah tanah dan apartment ternyata relatif sama kalau ukurannya sama. Jadi nggak ada bedanya mau tinggal di rumah tanah atau apartment di Belanda karena nggak bisa ‘gaya gayaan’ seperti di tanah air untuk menunjukkan ‘aku si kaya‘ dan ‘engkau si miskin‘. Apalagi, semua orang Belanda naik sepeda dan banyak yang nggak punya mobil. Kalaupun ada yang punya mobil, rata rata mobil kecil Bandingkan dengan orang Indonesia, satu keluarga  bisa punya dua atau tiga mobil, beberapa sepeda motor dan juga masing masing sebuah sepeda hanya untuk dipakai olahraga hari minggu saja.
.
Rumah Tetanggaku
Semua Kopel Dan Setara Type 36

Tapi biarlah, memang orang Indonesia seperti itu. Tetapi kenapa rumah rumah peninggalan Belanda di Indonesia besar besar ?. Dugaan saya, orang Belanda yang menjajah bangsa Indonesia dulu sudah ketularan dengan gaya hidup orang Indonesia. Ingin kelihatan exclusive dan terlihat mapan dengan cara membangun rumah sebesar mungkin di Indonesia. Kenyataannya, rumah orang Belanda di kampung halamannya hampir semuanya sekelas RSS Type 21, 36 atau 45 saja. Negara Belanda sangat kecil sekali sehingga pemerintahannya mengatur pembangunan rumah bagi warganya sedemikian rupa dan menyediakan transportasi umum yang sangat nyaman.

.

Tempat Parkir Sepeda Seperti Kandang
Singa Di Kebun Binatang
 Ada Yang Malas, Parkir
Sembarangan Di Sarana Umum

Lalu apa yang menarik Di Belanda ?. Yang menarik adalah sepeda. Karena rumahnya kecil kecil, maka sepeda diparkir bareng bareng dengan tetangga tetangga. Tempat parkirnya dikerangkeng seperti kandang singa di kebun binatang. Sudah dikerangkeng, harus dirantai juga dengan tiang/pagar besi apapun terdekat karena di Belanda banyak maling sepeda. Dari tempat parkir sepeda ini saya bisa menilai, oh keluarga Van Doort cukup kaya, sepedanya merk terkenal semua Puch, Gazelle dan Batavus keluaran terbaru dengan asesories sepeda nomor satu, yaitu Keranjang Belanja Rotan import dari Indonesia. Jadi, mana sebenarnya yang lebih kaya raya ? Indonesia atau Belanda ?

.

Sepeda Harus Dikerangkeng Dan Digembok
Banyak Maling Sepeda Di Belanda
Jalan Sepeda Di Dekat Rumah – Sepi Saat Pagi Hari
Orang Belanda Bangunnya Siang Dan Jarang Mandi
.
Baca Juga :
Ada Kotak Surat Di Jaman E-Mail
Selalu Kosong
Pintu Utama Apartment/Flat Yang
Lebih Mewah Dan Mahal
Satu Block Hanya 4 Rumah

Ke Belanda Apa Yang Bisa Kita Lihat

Belanda, Negeri Penuh Sapi
Dari Dulu Terkenal Ilmu Peternakan Dan Research Pengembangannya
Coba tanyakan ke saudara, teman atau tetangga anda yang pernah pergi ke Belanda. Apa yang bisa dilihat di Belanda ?. Biasanya jawabannya ‘nggedabus’ seolah olah Belanda adalah sebuah negara yang buesar, negara industri yang sangat maju dan berbagai macam cerita yang membuat anda ngiler untuk pergi ke Belanda. Padahal, penduduknya cuma 16 Juta (Perkiraan 2012) dan luas cuma 41,543 Km Persegi. Percayalah, Indonesia lebih dalam hal segalanya.

Jawaban umum yang sering saya dengar kalau seseorang baru pulang dari Belanda diantaranya sebagai berikut :

1. Huebat, Belanda Negara Industri Yang Sangat Maju.

Negara Penuh Kambing Gini
Kok Dikatakan Negara Industri
Ini benar benar mbelgedes, kalau anda berjalan dari utara ke selatan dan barat ke timur yang anda jumpai sepanjang jalan lebih banyak kambing dan sapi. Sawah dengan padi yang menghijau dan juga kebun lebih dominan dibanding bangunan pabrik atau industri. Disekitar  Rotterdam saja terlihat banyak industri, itupun terlalu kecil kalau mau disebut kota industri. Sebuah pabrik ukurannya terlalu mungil apabila dibandingkan dengan pabrik di Bekasi, Tangerang atau tempat lain di tanah air.  Tapi, harap tahu jugalah, kalau pabrik pabrik di Indonesia, China, Vietnam dll banyak yang kepemilikan sahamnya dipegang oleh pabrik kecil di Belanda tadi. Sepengetahuan saya, Belanda terkenal dengan ilmu peternakan dan research tentang pengembangan ternak. Banyak doktor doktor IPB jebolan Belanda. Dari dulu Belanda terkenal Susu dan Keju.
.
2. Saya Kalau Ke Belanda Selalu Melihat Bunga Tulip.
Kembang Plastik, Makanya
Kalau Ke Belanda Bulan Mei Saja
Ini juga nggombal pol. Tulip plastik memang ada setiap saat dimana mana. Tetapi kalau bunga Tulip yang beneran hanya mekar sekitar bulan Mei saja. Anda bisa melihat bunga tulip asli di Keukenhoff. Toko toko bunga (Bloomen Market) juga banyak menjual bunga tulip, cuma kalau bukan musim bunga agak lumayan sulit untuk mendapat bunga tulip asli Belanda. Kalaupun ada biasanya didatangkan dari luar Belanda. Tetapi bunga warna warni yang lain cukup banyak. Orang Belanda memang senang dengan bunga, terlihat di jendela jendela rumahnya selalu ada bunga hias warna warni.
.
3. Di Belanda Dimana Mana Ada Kincir Angin.
Kinderdijk, Orang
Belanda Menyebut Got Atau
Selokan Dibelakang Sebagai River
Bohong besar kalau teman anda nggombal seperti ini. Kincir angin yang dibuka untuk umum hanya ada di Saanze Schaan, Kinderdijk, Leuwerden, Emmen dan beberapa tempat lain yang cukup tersebar jauh. Dari Amsterdam ke Saanze Schaan perlu perjalanan sekitar 1 jam, ke Kinderdijk juga sama saja. Kalaupun anda melihat ada kincir angin disepanjang jalan, belum tentu dibuka untuk umum. Anda bisa melihat tandanya, kalau ada bendera biru artinya terbuka untuk umum dan anda boleh masuk untuk menyaksikan bagian dalamnya atau mendekat untuk berphoto ria. Saya anjurkan anda ke Saanze Schaan untuk menyaksikan kincir angin. Jauh lebih menarik dibanding Kinderdijk karena ada museum, toko souvenir, toko keju belanda dan jarak antar kincir angin cukup berdekatan.
.
4. Di Belanda Danau Dan Sungainya Bersih.
Yang Ini Namanya Canal
Yah Lebih Besar Dikitlah Dari
Selokan – Airnya Butek Juga
Nah celaka kalau teman anda nggombal seperti ini. Di Belanda, comberan atau genangan air berdiameter 10 – 15 meter saja dinamakan Danau atau Pond. Bandingkan dengan istilah danau di Indonesia yang luasnya bisa ber kilo kilometer persegi seperti danau Toba, danau Maninjau dll. Selokan kecil dengan lebar tidak sampai 5 meter saja dinamakan Kanaal atau bahkan River. Belakang rumah saya di Bogor ada got yang jauh lebih lebar dibanding kanaal di Belanda. Sampai saya pindah ke Kuwaitpun got tersebut tidak punya nama. Beda sekali dengan di Belanda dimana semua genangan air, got dan selokan diberi nama yang bagus bagus. Jadi nggak ada tuh Danau dan Sungai yang bener bener sesuai dengan definisi orang Indonesia kecuali Sungai Rhine saja yang memang cukup lebar. Cabangnya juga cukup lebar dan bernama Maas River (Nieuwe dan Oude Maas).
.
5. Saya Senang Jalan Jalan Di Mall Belanda.
De Bijenkorf Mall
Mallnya Tidak Ada Yang Besar
Ada Tukang Becak Juga Kan ?
Bah, apa pula ini. Kita orang Indonesia terbiasa menyebut pertokoan raksasa seperti Senayan City dan Artha Gading dengan sebutan Mall. Kita juga terbiasa bangun pagi dan pulang malam karena ikut berdesak desakan didalam Mall yang selalu ramai. Kalau anda di Belanda, anda akan merasakan yang namanya Mall kok kecil sekali, pengunjungnya  kok beberapa gelintir orang saja. Dan waktu rasanya begitu malas bergerak. Toko toko buka sekitar jam 11 siang dan tutup kembali  jam 5 sore. Kalaupun ada yang mau bertahan, biasanya terpaksa nyerah harus tutup jam 6 sore. Di kota besar seperti Amsterdam dan Rotterdam saja ada yang tutup jam 8 sore, itupun tidak semuanya. Mungkin karena tenaga kerja di Belanda sangat mahal sehingga harus tutup sangat awal. Secara umum bisa saya katakan tidak ada yang layak disebut Mall di Belanda. Yang banyak adalah toko toko kecil. Konsep tata kota di Belanda memang mengutamakan
Street Shopping.
.
6. Wah Belanda Sangat Kaya Dan Semua Penduduknya Makmur
Lihat Yang Dibelakang
Ada Juga Yang Ngemis Kan ?
Tokonya Berderet Sepanjang Jalan
Mbelgedes…. Kaya atau miskin tergantung siapa yang menilai. Kalau saya sehari hari naik angkot maka saya akan menilai siapapun yang naik mobil sebagai orang kaya. Kalau saya nyetir mobil sendiri maka saya akan menilai yang kemana mana diantar sopir pribadi sebagai orang kaya. Di Belanda ternyata sama saja dengan di Indonesia, dimana mana banyak juga gembel, pengamen, preman mabuk, tukang palak jalanan, pengemis, prostitusi (legal di Belanda), tukang becak, maling sepeda dan sebagainya. Kita saja yang  tidak pernah mensyukuri kekayaan bangsa dan negara sendiri dan selalu mengagung agungkan negara lain dan produk asing.
.
7. Di Belanda Banyak Museum
John Frost Bridge
Di Sleman Juga Ada, Banyak Lagi
Belakang  Benar Benar Sungai Rhine
Yah benar, di Belanda memang banyak sekali Museum. Tetapi waktu bukanya terasa sekali ogah ogahan. Tertulis jam 10 siang buka tetapi jam 11 siang baru nampak petugas loketnya. Dan seharusnya jam 5 sore tutup tetapi sering saya jumpai sudah nggak ada penjaganya lagi sebelum jam tutup. Dan, saya akui promosi pariwisatanya memang handal. Jembatanpun masuk dalam promosi pariwisata. John Frost Bridge di Arnhem pada gambar disamping ini memang sangat bersejarah saat diperebutkan pada Perang Dunia II dan telah difilmkan dengan judul A Bridge Too Far. Inilah War Museum yang tidak ada penjaganya dan buka 24 jam penuh dan bisa anda kunjungi setiap saat. Jembatan kayak gini mah di Sleman banyak.
.
Lalu Apa Dong Yang Bisa Saya Lihat Di Belanda ?
Oma Dan Anjing
Nah ini dia, begitu anda turun dari pesawat di Schiphol sampai perjalanan dikota manapun tujuan anda, yang selalu dan mudah anda temukan adalah Anjing, Jompo dan Sepeda. Anjing Polisi ada di Schiphol cukup banyak dan kadang kadang ikut memeriksa bagasi penumpang. Keluar dari airport, anda akan ketemu sepeda. Pokoknya dimanapun anda berada pasti dengan mudah ketemu orang yang sedang menuntun anjing. Di Lobby Hotel, didalam Lift, Di Restaurant, di jalanan dan didalam pertokoan selalu saja ketemu jompo nuntun anjing. Sampai sekarang saya sering heran, kenapa di Belanda lebih mudah ketemu anjing dan jompo dibanding anak anak dan remaja. Mungkin anak muda Belanda banyak yang kerja dan ditempatkan di perusahaan Belanda di Indonesia, Vietnam, Thailand atau negara lain diseluruh penjuru dunia. Siapa tahu kan ….,
.
Jalan Pagi
Anjing Digandeng Tetapi Anak Dilepas
.
Oma Nuntun Anjing
.