Tag Archives: jalan jalan belanda

Pasar Rombeng Di Enschede Holland

Pasar Loak Enschede
Untuk Masuk Pasar Loak Ini Harus Bayar EUR 5
Kali ini saya ajak anda jalan jalan ke Enschede, Netherland. Namanya kurang begitu dikenal oleh umumnya orang Indonesia di tanah air, karena memang kota ini termasuk ndeso dekat perbatasan Jerman. Sama halnya dengan ndeso perbatasan Nijmegen dan Arnhem, Kota Enschede ini, adem ayem dan cenderung sepi terutama malam hari. Jarak dari Arnhem hanya sekitar 90 – 100 Km saja dan bisa ditempuh dengan kereta api, bus atau mobil. Dengan mobil waktu tempuhnya sekitar 1 jam saja melalui jalan A1. Tapi kalau saya yang nyopir bisa dua jam karena nyopir sambil bengong lihat kiri kanan dan kadang berhenti dulu photo photoan. Kalau lewat jalan N18 bisa lebih lama lagi sekitar 1.5 jam..
Jaket Bekas Biar Kumel Tapi Layak Pakai
Kelihatan Kan Orang Belanda Itu Pelit Pelit
Kota kecil Enschede ini cukup dikenal orang karena ada University Of Twente. Kalau nggak ada university ini ya jelas ‘bablas angine’, nggak ada orang yang mengenal apalagi mau blusukan ke kota ini. Banyak juga orang Indonesia yang tinggal dan kuliah di universitas ini. Yang mau saya ceritakan sebenarnya adalah pasar loaknya saja. Terus terang saya nggak tahu apa hubungan antara mahasiswa dengan pasar loak. Yang jelas dikota ini setiap hari minggu pertama dan minggu terakhir setiap bulannya ada pasar loak yang buka mulai jam 12:00 – 17:00.
Ini Mahasiswa Indonesia
Jidatnya Berkilau Tandanya Pinter
Maksudnya Pinter Milih Barang Loak
Nama kerennya Shopping Sunday. Lokasi keramaiannya di Centrum (City Center). Nggak cuma pasar loak saja yang ada disini, restaurant, bar dll banyak juga. Mulai De Oude Markt (Pasar Tua) sampai Grote Kerk (Gereja Besar) penuh orang duduk duduk njajan di restaurant, cafe dan bar, belanja di toko toko dan pasar atau sekedar mondar mandir melihat keramaian saja.
Semua Pengunjung Warga Lokal
Mahasiswa Malah Jarang Yang Terlihat
Dari berbagai kota yang pernah saya kunjungi di Belanda, saya selalu dengan mudah menemukan pasar loak. Baca : Serba Butut Di Lapak Pemulung Belanda.. Artinya,  orang Belanda itu meskipun kelihatan ngganteng dan cantik, sebenarnya pelit dan ngiritnya luar biasa. Nggak percaya ?, Baca juga : 3 Hal Tentang Orang Belanda. Gimana nggak pelit, di pasar loak Enschede ini terlihat jelas hampir semua pengunjungnya penduduk asli setempat. Kalau tawar menawar gigihnya bukan main. Umumnya kalau datang ke Centrum ini mereka kalau nggak jalan kaki, naik bus, pasti naik sepeda. Beda kan dengan orang kita, kemana mana selalu naik mobil. Ke pasar loak juga naik mobil sendiri dan tentu saja bikin macet jalanan.
Semua Barang Rumah Tangga Dijual
Pelit Pol Tapi Kalau Ditanya Jawabnya Selalu Ngeles
Nggak Boleh Dibuang Untuk Menjaga Lingkungan Hidup

 

Advertisements

Duplikat Kunci Rumah Belanda

Lebar Rumah Belanda Kira Kira
Sama Dengan Panjang Mobil Kecil Sekelas Honda Jazz
Saya punya rumah di Belanda, bukan rumah sendiri tapi nyewa. Seperti rumah rumah Belanda yang lainnya, tembok luarnya berwarna merah bata tanpa di’plaster’ semen. Batu bata merah sengaja diperlihatkan dan kesannya memang jadi terlihat asri. Hampir semua rumah di Belanda tidak punya halaman sama sekali. Masih mending rumah rumah di Indonesia yang punya halaman atau taman meskipun hanya selebar 1 – 2 meter saja. Rumah Belanda rata rata kecil dan luas tanahnya setara dengan RSS ukuran 21 atau 36. Bedanya dengan RSS di Indonesia, rumah Belanda umumnya bertingkat 2. Yang saya bicarakan adalah Rumah, bukan Apartment. Baca Imut Imut Rumah Belanda
.
Atapnya Jadi Satu Dan Kelihatan Besar
Tapi Ternyata Penghuninya Puluhan Keluarga
Rumah Belanda yang kelihatannya besar sekali, ternyata dihuni banyak keluarga. Hal ini terlihat dari jumlah bel dan kotak surat didepan pintu utamanya. Kalau jumlah bel dan kotak surat ada 10, berarti ada 10 keluarga di rumah besar tersebut. Berbeda dengan rumah rumah di Indonesia yang isinya lengkap sekali mulai kakek, nenek, anak, cucu, sopir dan pembantu. Di Belanda, rumah rumah tetangga saya isinya cuma oma dan opa saja. Nggak ada tetangga saya yang berjubel di satu rumah. Paling banter satu rumah isinya dua atau 3 orang saja.
.
Orang Belanda Suka Menghias Jendela Dan Balkon
Yang menarik, jendela jendela rumah Belanda dan balkon digunakan sebagai etalase untuk memajang berbagai macam pernak pernik hiasan rumah. Ada yang memajang vas bunga, pot bunga, botol warna warni dan berbagai macam hiasan berbagai macam ukuran dan bentuk. Kita bisa menengok isi rumah Belanda melalui jendela karena trotoar umumnya menyatu dengan rumah tanpa ada pembatas pagar atau taman.

.

Bisa Melongok Rumah Tetangga Sambil Lewat
Sejak pertama kali saya menyewa rumah, kunci rumah yang diserah terimakan cuma sebuah saja untuk setiap pintu. Satu buah anak kunci dipegang oleh pemilik rumah, satu buah lagi dipegang biro jasa / agent yang menyewakan dan satu buah untuk penyewa. Konon, kalau ada apa apa dengan rumah misal penyewanya kabur nggak bayar uang sewa, maka pihak agent penyewaan yang bertanggung jawab bisa mengambil tindakan seperlunya seperti mengeluarkan semua barang penyewa bandel tersebut.
.
Sepeda Selalu Ditaruh Diluar
Terlalu Sempit Kalau Dimasukkan Rumah
Saya pernah mencoba untuk menggandakan anak kunci rumah saya karena cukup repot kalau anak kunci cuma satu sedangkan penghuni 4 orang. Saya pilih sebuah toko di Utrecht Centrum yang didepannya terpampang besar tulisan dengan bahasa Belanda. Artinya kira kira “Dokter Kunci” atau “Ahli Kunci“. Ketika saya sodorkan kunci rumah saya untuk diduplikat, ternyata Bule Londo yang saya temui nyerocos minta berbagai macam persyaratan yang tidak bisa saya ingat sama sekali saking banyaknya yang disebutkan. Kalau nggak salah Surat Ijin Dari Pemilik Rumah, Surat Keterangan Dari Polisi, Surat Pernyataan Dari Saksi, Surat Sewa Rumah dan lain lain. Bah, hanya buat duplikat kunci saja minta macam macam surat.
.
Semua Jendela Penuh Pernak Pernik
Memang bener alasan yang diberikan, bahwa kunci duplikat bisa dipakai untuk mencuri seluruh isi rumah dua atau tiga tahun lagi kalau rumah yang saya tempati sudah dipakai orang lain. Bisa juga kunci yang mau saya duplikat bukan kunci rumah saya tapi kunci bank atau toko. Artinya saya dianggap sedang merencanakan atau mau merampok bank beberapa hari kemudian. Daripada pusing, saya langsung pergi. Mangkel rasanya mau bikin duplikat kunci saja dikira mau merampok Bank dan diminta syarat syarat yang musykilla.

.

Apa yang saya lakukan sebagai ‘tombo mangkel’ saat itu sangat sederhana sekali. Cukup saya belikan ‘cylinder key‘ baru seharga EUR 3 maka saya bisa punya 3 anak kunci baru sekaligus. Ngganti ‘cylinder key’ hanya perlu waktu 3 menit saja. Kalau mau yang lebih mahal sebenarnya bisa saja saya belikan komplit, lengkap dengan handelnya juga. Saya heran sampai sekarang, kenapa orang Belanda bodoh dan tolol seperti itu bisa menjajah bangsa Indonesia 350 tahun. Apa Londo tersebut nggak mikir beli Cylinder Key lebih gampang dan murah dibanding mengurus surat surat seperti yang diminta.
.
Rumah Kosong
Cukup Ditutup Kertas Koran
Dimana Ada Jendela Disitu
Diletakkan Hiasan


Saya Kira Satu Rumah 4 Lantai
Ternyata Satu Rumah Dua Lantai Saja
Pintu Utama Rumah Besar
Banyak Bel Dan Kotak Surat
Sewanya Agak Mahal Karena
Punya Taman


Baca Juga :

Pasar Utrecht, Ora Canggih Blass

Pasar Utrecht Centrum
Bedanya Cuma Ada Pedagang Keju Saja
Pasar Utrecht
Sama Dengan Di Indonesia
Melalui blog ini saya pernah ajak anda ke Pasar Albert Cuyp Amsterdam dan juga ke Pasar Arnhem dekat Esebius Church, Arnhem Centrum. Nah sekarang anda saya ajak jalan jalan ke Utrecht, tepatnya di Utrecht Centrum. Kalau anda belum pernah ke Belanda tentu bayangannya sebuah pasar di Eropa adalah modern dan canggih. Eropa gitu lho masak kalah canggih dibanding pasar pasar di Indonesia. Ternyata salah besar, pasar pasar di Belanda relatif sama saja dengan di Indonesia. Belanda pernah 350 tahun di Indonesia sehingga ikut andil memberi bentuk pasar pasar tradisional di Indonesia dan juga meletakkan dasar dasar tata kota dan segala macam hukum dan irigasi kota.
.
Perjalanan Menuju Pasar Utrecht Centrum
Sebenarnya Nggak Ada Bedanya Dengan Suasana Pasar
Di Indonesia Cuma Udara Disini Dingin Saja

.

Kalau anda melihat sungai sungai di kota Tua Jakarta, susah sekali membedakannya dengan di Belanda. Perbedaan yang mencolok adalah yang di Belanda ada airnya sedangkan di Jakarta ada sampahnya. Yang benar benar sama persis adalah Stasiun Kereta Api, baik di Belanda maupun di Indonesia bentuknya nyaris sama dan selalu berdekatan dengan tempat prostitusi. Contohnya kawasan Red Light di jalan Damrak  Amsterdam. Letaknya hanya beberapa langkah dari Central Station Amsterdam. Mengingatkan saya dengan tempat prostitusi Pasar Kembang disamping Stasiun KA Yogya atau Saritem dan kawasan jalan Kebon Jati di Stasiun KA Bandung. Losmen losmen atau hotel kecil juga bertebaran disekitar Central Station Amsterdam. Rel Kereta Api juga sama saja, di Belanda rel KA juga membentang berdampingan dengan jalan raya, mengingatkan saya akan rel rel kereta api yang menghubungkan Surabaya – Sidoarjo atau Tegal – Kendal.

.

.
Kembali ke pasar pasar di Belanda, anda bisa melihat sendiri seperti apa bentuknya melalui photo photo diatas. Silahkan mengomentari, canggih atau tidak pasar Utrecht ini. Bagi wanita terutama saya, rasanya seru sekali berada dipasar dan cukup menyenangkan bisa tawar menawar harga dan berinteraksi dengan pedagang. Tidak sedikitpun saya merasa canggung untuk tawar menawar atau bertegur sapa dengan pedagang dan ibu ibu yang sedang belanja. Kosakata bahasa Belanda banyak yang sudah menjadi bahasa Indonesia dan bukan hambatan berarti kalau  sekedar ngomong di pasar. Apalagi, orang Belanda banyak yang ngerti beberapa  kata bahasa Indonesia. Di Pasar Utrecht ini saya paling sering memaksa pedagang Belanda mengeluarkan semua kosakata bahasa Indonesia yang diketahuinya. Dan keramahan orang Belanda nggak ada bedanya dengan orang Indonesia. Beda sekali dengan orang Jerman yang begitu jaim dan kadang nggak enak diajak ngomong.
.
“Say it in bahasa, no bahasa no pay”

Saya tunggu lamaaaa sekali, akhirnya setelah ngeden sekitar 3 menit muncul juga kata kata bahasa Indonesia.

“Kerupuk, seven Euro”

“Boentjis, enaaak , half kilogram!!!”

“Sambal pedaaas”, tapi yang disodorkan cabe merah.

“Bakmi Jawa”, yang disodorkan mie instant

“Kecap Maniiiiis, Maniiiis”, tapi cuma ngomong doang karena memang pedagang yang saya kunjungi ini nggak jual kecap. Tapi berkali kali pedagang tersebut ngucapin kata Manis… maniiissss, kayaknya hidung saya jadi kembang kempis. Berkali kali hidung saya pegang, rasanya jadi besar sekali. Pedagang tersebut tampaknya ngerti bener bahwa pembeli yang dihadapinya memang benar benar  manis. Ge-Er dikit sih, maklum baru pertama kali ketemu “Tom Cruise” yang berani menggoda dengan kata “Manis” berkali kali.
.
,
.
.
.
.
.
.
.

.

Baca Juga :

Belanja Pagi Di Pasar Arnhem Belanda

Lapak Penjual Keju
Berangkat Ke Pasar
Saya terbiasa bangun pagi, sholat subuh, nyiapin sarapan, ngantar anak ke sekolah lalu belanja ke pasar. Sejak saya tinggal di Arnhem, Belanda, kebiasaan sehari hari saya tersebut berubah total. Saya ikutan kebiasaan orang Belanda terutama yg muslim, bangun pagi, sholat subuh, tidur lagi. Disini pasar bukanya terlalu siang, rata rata antara jam 09:00 – 10:00 dan tutup kembali jam 17:00. Malam hari nyaris seperti kota mati kecuali pub, cafe dan tempat hiburan malam. Pertokoan dan restaurant sama saja, tutup jam 18:00 dan dikota besar seperti Amsterdam dan Rotterdam saja ada yang tutup jam 20:00.
Ada Yang Jual Susu Sapi Segar
Baru Buka
Dari rumah saya keluar sekitar jam 10:00, sudah tentu bawa tas belanja sendiri karena disini kebanyakan penjual tidak akan memberi tas kresek meskipun barang yang kita beli cukup banyak. Disamping itu terlalu mahal juga kalau setiap belanja harus membeli tas plastik untuk barang belanjaan yang kita beli. Pasar yang saya tuju pagi ini (baca :’Siang Ini’) adala Pasar Arnhem, di Market Square, Arnhem Centrum, dekat Esebius Church. Sebuah pasar terbuka kalau di Indonesia sering disebut Pasar Kaget, Pasar Tradisional, Pasar Pedagang Kaki Lima atau entah apa lagi nama nama lain yang rasanya kurang keren. Di Belanda, namanya cukup keren, expats disini sering menyebut “Arnhem Open Air Market”, “Arnhem Flea Market”, “Arnhem Centrum Market” dan nama lain sesukanya buat ngeles karena memang sebenarnya nggak tahu nama aslinya dalam bahasa Belanda.
Lapak Penjual Sayur Sayuran Segar
Menata Lapak Sesukanya
Ada Trantib Harus Mundur
Kalau saya sih nyebutnya Pasar Krempyeng karena memang ruwet dan nggak ada bedanya dengan pasar pasar di Indonesia. Pasar ini buka hanya hari Rabu dan Sabtu saja, ditata secara kilat dan pindah ke kota lain juga secara kilat. Itulah sebabnya cukup seru karena berantakannya bener bener mirip dengan pasar di tanah air. Saya jadi teringat tanah air, rupanya di Jakarta ada Pasar Senen, Pasar Rebo, Pasar Jumat dan Pasar Minggu sebenarnya adalah jejak peninggalan Belanda. Di Belanda sendiri pasar pasar kagetan seperti ini masih cukup lestari meskipun sama amburadulnya dengan di tanah air.
Lapak Penjual CD Bajakan
Penjual Binatang Masih Anak Anak
Sama Amburadulnya Dengan Pasar Tanah Abang
Transaksi Mau Beli Ayam
Bisa Nyembelihin Nggak ?
Kios Makanan Jadi
Mbok, Pecel Dan Nasi Rames Masih Ada Nggak ?
Hampir Tutup
Sudah Jam 15:00

Baca Juga :

Satu Jam Di Kereta Belanda

Berangkat Menuju Amsterdam, Naik Sprinter Dulu
Baru Pindah Ke Intercity
First Class Tempat Duduk 2 + 1
Kosong Satu Gerbong Dipakai Sendiri

Rumah saya di Arnhem, sekitar 100 Km dari Amsterdam dan dekat dengan perbatasan Jerman. Setiap akhir pekan rasanya bosen sekali tinggal di kota kecil yang lumayan sepi ini. Untuk menghilangkan rasa bosan, saya sering jalan jalan ke kota besar terdekat. Kadang ke Dusseldorf di Jerman dan kadang ke Utrecht atau Amsterdam. Perusahaan kereta api di Belanda, namanya NS. Untuk antar kota dan langsung tanpa berhenti sering disebut NS Intercity dan kereta ini hanya berhenti di Centraal Station saja. KA pengumpannya disebut Sprinter, bertugas untuk membawa penumpang dari stasiun stasiun kecil ke Centraal Station untuk diumpankan ke NS Intercity atau Thalis (antar negara).

Pemandangan Di Luar Sawah, Sapi Dan Kambing
Hans, Pedagang Asongan
Di Kereta First Class
Jual Pop Mie Dan Krupuk

Saya beli tiket Intercity termahal, First Class seharga EUR 26 untuk jarak sekitar 100 Km dengan tujuan Arnhem Centraal ke Centraal Station Amsterdam. Ticket Second Class sebenarnya tidak seberapa jauh berbeda, yaitu EUR 16, tapi “Apa Kata Dunia” kalau tetangga tetangga dan saudara saya dikampung tahu ‘Mbak Susy di Belanda ternyata sama saja dengan di kampung, naiknya kereta Ekonomi‘. Sesekali gaya naik First Class kan nggak apa apa. Tapi ternyata saya merasa tidak nyaman berada di gerbong VIP ini. Pingin tahu sebabnya ? Karena kosong, nggak ada penumpang lain selain saya dan anak anak. Heran juga saya, nggak ada kondektur dan nggak ada satpam yang mengawasi kok nggak ada satupun penumpang yang berani pindah duduk di kelas utama ini.

Kroepoek Londo
Enak Juga

Sedang asyik melamun sambil melihat pemandangan sawah dan kebun dari balik kaca jendela tiba tiba saya dikagetkan dengan teriakan cukup keras ‘KROEPOEKKKKKK…. KROEPOEK !!!!’. Ternyata teriakan pedagang asongan yang sedang menawarkan dagangannya. Cukup ngganteng dan ramah sekali, namanya Hans. Dia tahu penumpang Kelas Utama berkulit sawo matang yang ditemuinya berasal dari Indonesia karena mendengar percakapan saya dengan anak anak. Umumnya orang Belanda banyak yang bisa bahasa Indonesia meskipun pasif. Kosakata Indonesia yang dikuasai Hans lumayan banyak, misal Panas, Dingin, Pakai Es dan Tidak Punya. Pedagang asongan kwalitas ‘Layar Lebar’ ini tahu juga segala macam nama makanan Indonesia. Si Hans tampaknya doyan makan.

Sepeda Dan Anjing Naik Kereta Api
Begitu Duduk Langsung Ngorok
Sampai Amsterdam
Di Gerbong Second Class belakang, suasana cukup meriah. Penumpang serentak masuk tergesa gesa dengan sepeda dan ransel besar dipunggungnya. Ada penumpang yang marah karena celananya kotor kesenggol roda sepeda, ada juga yang nggrundel nggak bisa lewat terhalang sepeda. Dan ada juga yang sibuk dengan anjing bawaannya. Tapi lebih banyak yang cuek bebek. Pintu kereta belum tertutup dan beberapa penumpang masih berusaha naik dan mendorong sepedanya agar bisa terangkut, eh ada penumpang yang langsung duduk dan tidur ngorok nggak bangun bangun sampai Amsterdam. Rasanya uenak sekali nggak punya pikiran macem macem dan langsung bisa tertidur pulas hanya dalam hitungan detik.
Di Gerbong Ini Sepeda Nggak Boleh Masuk
Tapi Anjing Duduk Di Kursi
Tas Jinjing Khusus Untuk Bawa
Anjing Di Kereta Api
Rasa penasaran dan ingin tahu menyebabkan saya keliling keseluruh gerbong dan ikut berdesak desakan di gerbong belakang. Kadang harus meloncati anjing dan kadang harus menyibak sepeda. Ternyata, lebih menarik di gerbong ekonomi ini. Selain penuh sesak dan bisa melihat tingkah polah penumpang juga bisa senyam senyum mendengar teriakan Hans. ‘Coffeeeeee Kroepoek, Kroepoek Coffeeeeeee Bagus !!!’. Nggak ada beda sama sekali dengan Kereta Api di Indonesia. Saya masih ingat saat naik kereta api ekonomi dan berhenti di Gambringan beberapa tahun lalu. Pedagang asongan juga sering berteriak yang bisa membuat penumpang tersenyum.  ‘Pecruk… Pecel Wedang jeruk ……!.  Ternyata, sama saja.
Corat Coret Juga Ada
Jangan Dikira Belanda Bersih Dan Rapi
Aroma WC Sama Saja
Jangan Dikira WC Bule Lebih Harum
Bedanya Nggak Bau Pete Dan Jengkol Saja
Ada Yang Cepat Marah Saat
Kakinya Tersenggol Roda Sepeda
Berhenti Di Stasiun
Baca Juga :

Kuliner Indonesia Ala Londo Celup

Jembatan Indonesie
Melintas Sungai Rhine Di Gelderland
Aziatische Supermarkt, Ada
Masakan Indonesia Ala Londo Celup
Orang Belanda saya akui sangat menghargai bangsa Indonesia. Sangat berlawanan dengan cerita Ludruk yang sering saya tonton waktu kecil dimana sering digambarkan negatif dan terkadang sangat berlebihan.  Kayaknya ada dendam kesumat karena dijajah 350 tahun. Kalau anda jalan disegala penjuru kota di Belanda, maka akan mudah sekali ketemu nama jalan yang sangat tidak asing bagi kita seperti Kartini Straat (ada di Utrech, Haarlem dan Amsterdam), Batavia Straat (Highway di Arnhem-Nijmegen), Mohammad Hatta Straat, Sutan Sjahrir Straat (Harlem) atau nama nama Indonesia lain yang populer sebagai nama sarana umum. Jembatanpun ada tulisannya besar Indonesie seperti gambar diatas. Senang saya rasanya melihat hal sederhana seperti itu.
.
Bumbu Jadi Masakan Indonesia
Asli Made In Belanda
Lalu kalau makanan dan kuliner gimana, apakah ada nama nama khas Indonesia. Oh jelas ada, anda tahu kan anak kecil negro hitam jelek yang 4 tahun diberi makan tahu dan tempe tetapi setelah dewasa bisa jadi Presiden Amerika Serikat ? Ya benar sekali, Obama. Di Belanda, ternyata tahu dan tempe sudah jadi menu sehari hari juga. Tetapi, mungkin kwalitasnya beda sehingga belum pernah ada satupun anak Belanda yang bisa jadi presiden Amerika Serikat setelah dewasa. Itulah juga sebabnya kenapa orang Belanda begitu semangatnya mengkonsumsi tahu tempe sampai saat ini. Berkali kali saya kehabisan stock kalau belanja agak kesiangan.
.
Rak Khusus Barang Import
Ada Kecap Bango, Sambal ABC
Di kota manapun anda berada, akan mudah sekali anda menemukan restaurant Indonesia. Jauh lebih mudah dibanding mencari Pizza Italia atau Kebab Turki. Nama restaurant juga sangat Indonesia sekali seperti Citra Lestari Restaurant, Parahyangan Restaurant, Ramayana dan lain lain. Saya kira pemilik atau paling tidak tukang masak dan pelayannya orang Indonesia, ternyata tidak juga. Malah lebih banyak ‘Londo Celup‘nya, maksud saya orang Indonesia berhidung pesek kulit sawo matang tetapi rambutnya disemir pirang dengan tehnik teh celup dan kalau diajak ngomong, bahasa Indonesianya juga terkesan megap megap. Londo Celup Butchery (Rambut Ngechet Sendiry) ini memang oyee dalam hal Kuliner Nusantara. Saya pernah coba beli Rendang dan gulai Padang, enak tapi kalau saya perhatikan piring yang tersaji didepan saya, rasanya agak aneh karena penyajian rendangnya pakai french fries (kentang goreng) dan bisa juga milih mash potatoes. Gulai padangnya disajikan dalam mangkuk kecil terpisah. Ada irisan keju kecil juga disamping rendang menambah bingung mana dulu yang harus saya makan.
.
Bumbu Indonesia
Asli Buatan Belanda

Bumbu jadi juga banyak dan hampir ada disemua supermarket besar seperti Sajoer Boentjis, Boemboe Soto, Boemboe Sate, Sajoer Asem, dan lain lain. Saya kira made in Indonesia ternyata asli made in Belanda.  Kalau mau yang import dan asli made in Indonesia juga ada, dan banyak dijual dioko toko Asia (Aziatische Superarkt). Ditoko ini tidak menjual produk dari Indonesia saja, tetapi juga dari Philipine, India dan  lain lain negara di Asia. Yang menarik, dibagian masakan jadi siap makan, yang ramai selalu masakan Indonesia., sampai ngantri. Ketika saya tengok, masakan apa sih yang ngantinya sampai panjang, ternyata cuma Mie Goreng Jawa. Dimasak langsung oleh bule Londo, dan kecap yang dipakai ternyata Cap Bangau. Saya coba melihat sekitarnya, siapa tahu ada Teh Botol ternyata minumnya tetap Coca Cola.

.