Darius Dan Donna Agnesia Sepeda Motoran Di Himalaya

Bersepeda Motor Di Kathmandu
Pembonceng Bebas Tanpa Helm Dan Jalan Tidak Beraspal.

Saya sering pusing melihat cara berlalu lintas para pengendara sepeda motor di Jakarta. Tapi saya langsung bersyukur ketika saya membandingkan dengan cara bersepeda motor orang India di New Delhi dan kota lain sekitar Jaipur. Pengendara sepeda motor di Indonesia ternyata lebih baik, sopan dan beradab saat berlalu lintas di jalan raya dibanding pengendara sepeda motor di India.

Kira Kira Seperti Inilah Darius Sinathrya Kalau
Bersepeda Motor Di Himalaya

Lebih bersyukur lagi saat saya menyaksikan cara berlalu lintas pengendara sepeda motor di Kathmandu, Nepal dan kota kota lain disekitar Himalaya. Di Kota Kathmandu, cara orang Nepal bersepeda motor ternyata sangat amburadul, nyaris tanpa peraturan berlalu lintas sama sekali. Dari jalan jalan raya yang saya saksikan di Kathmandu dan sekitar Himalaya ini saya jadi terheran heran ketika mendengar berita ada orang Indonesia yang mau bersepeda motor ke  Himalaya.

Jarang Sekali Terlihat Tanda Larangan Berbelok,
Berhenti Atau Tanda Lalu Lintas Lain

Lampu pengatur lalu lintas nyaris tidak ada, hanya satu buah saja yang saya temukan diseluruh kota Kathmandu. Itupun rusak saat saya melintas di perempatan tersebut. Tetapi Polisi pengatur lalu lintas banyak saya temui berdiri di setiap perempatan jalan untuk mengatur lalu lintas dengan isyarat tangan seperti Jakarta jaman baheula sekitar tahun 1970an. Luar biasa kuno dan ndeso seperti kehidupan di jaman purbakala.

Berhenti Ditengah Jalan Ngobrol Dulu
Sambil Menunggu Teman Yang Ketinggalan Dibelakang.
Pengendara sepeda motor semuanya tidak ada yang tertib berlalu lintas. Banyak sekali yang terus melaju mengabaikan isyarat tangan tanda STOP dari polisi. Celakanya, hampir semua polisi tidak dilengkapi sepeda motor dinas untuk mengejar pelanggar lalu lintas. Jadi paling banter pak Polisi hanya bisa teriak teriak saja kalau ada pelanggaran. Kalau saya terjemahkan kedalam bahasa Indonesia, kemungkinan kosakata yang keluar dari mulut polisi adalah ‘Jancuk’, ‘Asu’, ‘Anjing Loe’, ‘Maling’, ‘Jambret; ‘Bajingan’, ‘PKI’  dsb. Coba tanyakan sendiri artinya ke orang Nepal.

 

Sepeda Motor Ini Berdesak Desakan Mau Belok
Kanan, Tidak Ada Rambu Lalu Lintas Sama Sekali

 

Marka jalan juga susah ditemukan di jalanan kota Kathmandu dan jalan jalan lain sekitar pegunungan Himalaya. Gimana bisa ngecat marka jalan kalau jalan rayanya saja tidak beraspal ?. Beda sekali dengan Jakarta, kota Kathmandu meskipun ibukota negara tapi masih banyak jalan yang tidak beraspal. Jadi sangat wajar kalau sepeda motor sangat semrawut di kota ini. Kota kota lain di Himalaya semuanya sama saja juga.

 

Sepeda Motor Di Nepal Semua Buatan India
Kalau Darius/Donna Agnesia Pakai Honda, Yamaha
Bisa Saya Pastikan Dishooting Di Studio Indonesia

 

Masih ingat kan, bulan mei lalu Liputan6, Otomotif dan TV ditanah air gaduhnya bukan main karena ada aktor/aktris Darius Sinathrya dan Donna Agnessia mau bersepeda motor ke Himalaya bulan July/Agustus tahun ini.  Katanya mau difilmkan juga dengan judul Himalayan Ridge ?.  Mulai persiapannya, sepeda motornya sampai hal hal sekecil apapun diulas tuntas oleh Media Infotainment apapun di tanah air. Ini contoh link beritanya : Darius Sinathrya dan Donna Agnessia Bersepeda Motor Di Himalaya.
Nggak Ada Motor Besar Di Himalaya
Kalau Darius/Donna Pakai Motor Besar
Saya Pastikan Shootingnya Di Indonesia

Jangan sekali kali terkagum kagum dengan omongan si Darius/Donna Agnessia dan ulasan media di Indonesia. Si Darius/Donna Agnessia nanti nggak akan bisa ngebut dengan sepeda motornya di Himalaya. Jalan raya di Indonesia jauh lebih baik, beraspal semua, ada marka jalan dan tanda lalu lintas yang jauh lebih lengkap. Nggak ada apa apanya jalan dan lalu lintas di Himalaya apabila dibandingkan dengan jalan kampung di Klaten atau Boyolali. Kalau di filmnya nanti terlihat jalanan bagus dan mulus, itu dibuat di studio atau di jalan raya yang kebetulan baru saja selesai diaspal.

 

Pemandangan Di Kota Kota Sekitar Himalaya
Kumuh Seandainya  Film Darius/Donna Agnesia
Terlihat Mewah Berarti Shooting Di Indonesia

Biarkan saja si Darius dan  Donna Agnessia ngoceh pengalamannya bersepeda motor disekitar Himalaya. Saya yakin sekali si aktor dan aktris ini akan ber’acting’  juga seperti layaknya saat dia bermain sinetron. Jalan raya bergelombang dan tidak beraspal akan dikatakan halus mulus. Perjalanan hanya kuat satu jam bersepeda motor akan dikatakan nonstop 8 jam tanpa istirahat di jalanan yang lebar dan mulus. Aktor memang perlu sensasi untuk tetap terkenal, tapi pemirsa jangan sampai tertipu dengan gombalan aktor dan aktris.

Ini Kota Kathmandu, Sama Saja Dengan Kota Lain Di Himalaya
Kalau Pemandangab Kota Di Sinetron Himalayan Ridge Beda
Berarti Shootingnya Bukan Di Himalaya

 

Jalanan Di Himalaya Macet Seperti Ini
Kalau Sinetron Darius/Donna Agnesia Jalanan Lancar
Berarti Shootingnya Bukan Di Himalaya

 

Perempatan Jalan Di Kathmandu Dan Kota Kota Sekitar Himalaya
Selalu Ruwet, Kalau Sinetron Darius/Donna Agnesia Ada Lampu Pengatur
Lalu Lintas Berarti Shootingnya Bukan Di Himalaya

 

Film Himalayan Ridge Dengan Bintang Utama
Darius dan Donna Agnessia Nanti Perkiraan Seperti Ini

 

Sinetron Himalayan Ridge Nanti Ada Darius Dan
Donna Agnessia Di Photo Diatas

 

Saya Heran Dengan Darius Dan Donna Agnesia
Negara Sendiri Lebih Bagus Kenapa Shooting Di Himalaya

 

Pemandangan Kayak Gini Kan Ada Juga Di Jakarta
Kenapa Susah Payah Bikin Film Di Himalaya

Baca Juga :

 

Bus Kota Kathmandu

Penumpang Bus Kota Di Kathmandu
Kaca Dibuka Karena Tanpa AC

Jakarta pernah punya bus butut tapi sangat legendaris PPD, Kopaja dan Metromini yang beroperasi sekitar tahun 1971 sampai 2015. Saking bututnya, kalau jalanpun seringkali mereng mereng karena penumpang bergelantungan dipintu. Tidak ada ACnya tapi sangat dibutuhkan oleh masyarakat Jakarta karena tidak ada pilihan lain yang lebih bagus. Beruntung saat ini sudah tidak terlihat lagi bus kota yang butut dan reot di Jakarta.

 

Lalu Lintas Kota Kathmandu Semrawut
Tidak Ada Pembatas Jalur Sepeda, Jalur Bus Dan Kendaraan Pribadi

 

Suasana seperti di Jakarta jaman bus PPD, Kopaja dan Metromini jadi raja jalanan ini bisa kita saksikan di Kathmandu, Nepal saat ini. Rasanya, pingin sekali saya sujud syukur sampai ndelosor ketanah kalau membayangkan kemajuan Jakarta dan kota kota lain di Indonesia saat ini. Pemandangan transportasi umum yang saya saksikan saat ini di Kathmandu tidak jauh berbeda dengan apa yang saya saksikan di New Delhi, Agra, Jaipur, Udaipur di India.

 

Tidak Ada Halte Resmi Buat Menaikkan/Menurunkan Penumpang
Semua Bus Bebas Berhenti Dan Ngetem Dimana Saja

 

Semua bus kota yang berkeliaran di Nepal memang buatan India. Merk busnya diantaranya Mahindra, Tata, Eicher, Ashok dan lain lain. Kalau di Indonesia barangkali merk bus produksi bengkel ‘Las Bubut Dan Kenteng‘ atau bengkel ‘Ahli Bikin Pagar Dan Teralis‘. Tidak bisa saya sejajarkan sama sekali dengan perusahaan Karoseri di Indonesia karena produk Karoseri Bus di Indonesia terlalu bagus apabila dibandingkan dengan bus buatan India.

 

Tidak Ada Seragam Warna Bus
Semua Pengusaha Bus Bebas Mewarnai Busnya

Mesin bus di Kathmandu Nepal sangat berisik dan berasap. Kira kira suaranya tidak jauh berbeda dengan suara Bajaj buatan India yang juga pernah berjaya di Jakarta. Sekali lagi pingin sekali saya ndelosor ndelosor ditanah untuk sujud syukur karena bus di Indonesia yang sering saya naiki mesinnya Mercedez Bens.

 

Kelakuan Sopir Bus Kathmandu Sama Persis
Dengan Sopir Metromini Jakarta
Kejar Kejaran Berebut Penumpang
Saya bisa rasakan, naik bus kota di Kathmandu hari ini jauh lebih sengsara dibanding dengan naik Metromini, Kopaja maupun PPD tahun 1980an. Kalau ngetem nunggu penumpang penuh lamanya bukan main dan berkeringat. Kalau kejar kejaran cari penumpang bisa tiba tiba ngerem mendadak menghindari tabrakan dengan sepeda motor yang tiba tiba nyelonong didepan bus.
Ngetem Didepan Pasar
Lamanya Bukan Main Untuk Jarak Beberapa Km Saja

 

Saya nggak tahu sama sekali bahasa setempat, tapi umpatan semacam Jancuk’, ‘Matamu Picek’, ‘Nggak Punya Otak’, ‘Pingin Mati Ya’ dll seringkali terdengar baik diucapkan oleh sopir bus, kenek, kondektur atau pengendara sepeda motor yang mau ketabrak bus.

 

Di Kathmandu Juga Ada Yang Jual Es Jeruk Dan
Es Teh Asongan Disodorkan Ke Penumpang Dari Jendela
Yang paling sial kalau kalau bus melakukan pelanggaran lalu lintas. Saya dengar sopir dan polisi debatnya lama sekali dan penumpang dibiarkan kepanasan diatas bus yang tanpa AC. Dari pembicaraan yang saya dengar, sepertinya si sopir tidak merasa melanggar lalu lintas dan si polisi ngotot terjadi pelanggaran lalu lintas. Saya yang nguping disebelahnya sebenarnya bingung juga, yang dilanggar sebenarnya apa.
Angkutan Kota Made In India
Bengkel Las Pagar Bikin Usaha Sambilan Membuat Bus
Merknya Macam Macam

Di Kathmandu secara umum bisa saya katakan tidak ada Traffic Light (hanya ada satu saja itupun mati).  Tidak ada juga marka jalan atau pembatas antara jalur sepeda motor, jalur pejalan kaki, jalur bus dan jalur kendaraan pribadi. Tanda ‘STOP’ dan larangan parkir juga tidak terlihat sama sekali.

Bus Merk Mahindra
Karoseri India Tehnologinya Sangat Kadaluarsa

Jadi, seandainya saya yang jadi sopirnya, sudah tentu saya akan bingung juga. Kalau tiba tiba dihentikan polisi dan harus bayar ‘cepek’ kan lama lama bisa bangkrut juga. Saya perhatikan banyak juga polisi yang terima ‘cepek’ saat mengatur angkot dan bus umum.

 

Bus India Merk Eicher
Sama Saja Dengan Karoseri Bengkel Las

 

Ruwet, Sepeda Motor Dan Bus Berjubel
Setiap Hari Di Jalanan Kathmandu

 

Bus Merk Tata Dari India
Jauh Bedanya Dengan Buatan Karoseri Di Indonesia

 

Tidak Ada Lampu Pengatur Lalu Lintas Di
Kota Kathmandu

 

Polisi Kathmandu Pening Mengatur Lalu Lintas
Karena Tidak Ada Traffic Light Dan Pembatas Jalan

 

Polisi Di Kathmandu Nunggu Kendaraan
Melakukan Pelanggaran

 

Berhenti, Artinya Harus Kasih Duit Ke Polisi

Baca Juga :

 

Keliling Kathmandu Naik Angkot

Angkot Kathmandu Warnanya Biru
Sama Persis Dengan Angkot Di Kampung Melayu Jakarta

 

Wajah orang Nepal itu nggak ada bedanya dengan orang Indonesia. Warna kulitnya sawo matang, raut wajahnya dan tinggi badannya sama persis dengan orang Indonesia. Konon katanya Orang Indonesia itu berasal dari ras yang sama dengan orang Nepal yaitu Mongoloid. Pasport orang Nepal juga sama dengan orang Indonesia yaitu berwarna Hijau. Lalu kelakuannya bagaimana ? Apakah sama juga dengan orang Indonesia ? Betul sekali, kelakuannya benar benar sama dengan orang Indonesia. Terlihat jelas saat di jalan raya.

 

Kelakuan Sopir Angkot Kathmandu Sama Saja
Putar Balik Sembarangan

 

Akan saya tuliskan secara berseri dalam blog ini semua kemiripannya dengan orang Indonesia. Kita mulai dengan kelakuan dan tingkah polah Sopir Angkot Kathmandu saja dulu. Angkutan Kota (Angkot) kota Kathmandu warnanya biru muda seperti yang sering kita jumpai mondar mandir di Jakarta. Kalau saya perhatikan, angkot Nepal kelakuannya amburadul juga. Suka seenaknya berhenti sembarangan untuk menaikkan atau menurunkan penumpang.
Polisi Sibuk Menertibkan Angkot Yang
Berhenti Sembarangan Dan Ngetem Cari Penumpang

 

Putar Balik sesukanya. Ngetem cari penumpang juga seenaknya dan tidak peduli angkotnya mengganggu pemakai jalan lain. Seringkali kejar kejaran berebut penumpang. Kalau penumpangnya terlalu sedikit dengan gampangnya dioper ke angkot lain. Untuk berhenti, caranya juga sama persis dengan di Jakarta yaitu cukup dengan cara mengetuk atap angkot tiga kali. Tok tok tok, angkot langsung menepi. Bayar ongkosnya sama persis dengan di Indonesia, cukup sodorkan uang ke pak sopir dari belakang saat kita mau turun.

 

Meskipun Jalan Padat Sepeda Motor
Angkot Berhenti Seenaknya Ditengah Jalan

 

Karena sopir dan penumpang angkot sama persis wajah dan postur tubuhnya dengan orang Indonesia, maka saya mencoba menghentikan angkot dengan cara berteriak ‘KIRI, KIRI…..KIRI!!!‘. Ternyata teriakan saya membuat semua penumpang terkejut dan melongo heran. Mereka sepertinya dari tadi tidak menyadari bahwa ada penumpang orang asing dari Indonesia di angkotnya.
Angkot Ini Bikin Macet Karena Berhenti Ditengah
Jalan Untuk Menaikkan Penumpang
Tapi mereka rupanya tahu maksud saya teriak ‘KIRI, KIRI…..KIRI‘. Langsung atap angkot diketok tiga kali, tok, tok…..tok dan angkot berhenti ditengah jalan.
Minggir sedikit kenapa sih pak sopir ?
Pak sopirnya diam saja, ternyata pak sopir nggak bisa Bahasa Indonesia sama sekali.
Kalau Bayar Cukup Disodorkan Ke
Pak Sopir Dari Belakang

 

Kiri, Kiri, Kiri
Pak Sopir Nggak Ngerti Artinya

 

Tok Tok Tok Atap Angkot Diketok
Ternyata Kodenya Sama Dengan Angkot Jakarta

Baca Juga :

 

Pengalaman Above The Summit Of Mt Everest

Ini Pemandangan Dari Atas Puncak Tertinggi
Dunia Di Himalaya

 

Saya sudah menceritakan pengalaman saya saat mendaki gunung Annapurna 1, tertinggi nomor 10 di dunia. Baca : Mendaki Gunung Jaman Now Di Everest Dan Himalaya. Kali ini saya ajak anda untuk mengikuti pengalaman saya yang lain saat melakukan ‘Hattrickdiatas‘ lebih dari 10 puncak gunung tertinggi dunia dalam waktu tidak lebih dari 1.5 jam. Semua bisa saya atasi dengan mudah dan cepat.
Ini Antrian Menuju Puncak Tertinggi Dunia
Saya Diatasnya Puncak Tertinggi Dunia

Sepi tanpa gembar gembor pemberitaan media. Emak emak dari Indonesia berhasil ‘diatas‘ Mt Everest (no 1: 8848 m),  Kangchenjunga (no 3: 8586 m), Lhotse (no 4: 8516 m), Makalu (no 5: 8485 m), Cho Oyu (no 6: 8188 m), Dhaulagiri 1 (no 7: 8167 m), Manaslu (no 8: 8163 m), Nanga Parbat (no 9: 8126 m), Annapurna 1 (no 10: 8091 m) dan masih banyak lagi hanya dalam waktu 1.5 jam.

 

Ini Juga Antrian Menuju Puncak Tertinggi Dunia Yang
Didramatisir Media Di Indonesia Kompas

 

Berawal saat saya jalan jalan sore, saya tertarik untuk mampir ke salah satu Tour And Travel Agent di Kathmandu dekat hotel tempat saya menginap. Banyak sekali brosur dan promosi pariwisata dengan slogan slogan yang menarik. Contohnya Experience Everest. Ada juga yang cukup menggelitik misalnya dengan embel embel Above The Peak, Above The Height dan Above The Summit yang artinya sama saja yaitu Diatas Puncak Tertinggi.
Nah Ini Turis Yang Berbondong Bondong Mendaki Naik
Keatas Gunung. Semua Gembira Ceria Bersama Pemandu

 

Ternyata slogan slogan iklan tersebut adalah promosi Mountain Flight, yaitu terbang ‘diatas‘ puncak tertinggi dunia. Banyak sekali pesawat domestic yang punya jadwal rutin setiap hari melayani turis pemalas tidak mau mendaki tapi pingin merasakan berada dipuncak tertinggi dunia. Sebut saja misalnya Boudha Airlines, Yeti Airlines, Shree Airlines dan lain lain.

 

Semua Pendaki Mountain Flight Diberi Kesempatan
Melihat Pemandangan Dari Cockpit

 

Saya pilih Shree Airlines karena harga tiketnya agak miring dibanding yang lain. Ternyata, semakin kecil pesawat harga tiket semakin mahal karena pesawat lebih lincah bisa meliuk liuk di lembah diantara gunung dan bisa terbang lebih rendah. Shree Airline yang saya pilih pesawatnya cukup besar dengan tempat duduk dua disebelah kiri dan dua disebelah kanan. Tetapi penumpangnya hanya separuh karena tempat duduk yang dijual hanya yang disebelah jendela (Window Seat) saja. Aisle Seat dibiarkan kosong karena nggak bisa melihat pemandangan diluar dari jendela.

 

Semua Penumpang Duduk Dekat Jendela
Aisle Seat Dibiarkan Kosong

 

Berbeda dengan naik pesawat pada umumnya, naik Mountain Flight ini aturannya tidak begitu ketat. Selain bisa menikmati pemandangan diatas gunung dari jendela, ‘pendaki‘ yang menggunakan Mountain Flight ini juga diberi kesempatan untuk melihat pemandangan dari cockpit pesawat. Cuma waktunya diatur dan dibatasi supaya semua penumpang punya kesempatan yang sama bisa masuk ke cockpit satu persatu untuk melihat pemandangan atau sekedar bertanya dan photo photoan dengan pilot/co pilot.

 

Penumpang Bebas Mondar Mandir Sesukanya

 

Sebagai bukti bahwa kita sudah berhasil berada ‘diatas‘ puncak tertinggi dunia maka masing masing penumpang mendapat Certificate Of Completion dengan tanda tangan Pilot dan Co Pilot. Tulisan dalam sertifikat bisa milih ‘Above The Summit Of Everest‘, ‘Above The Height Of 10 Highest Mountain In The Earth‘, ‘Above The Peak Of The Deadly Mountain‘, ‘Experience Everest‘ dan lain lain. Rasanya puas sekali kita dapat pengakuan berupa sertifikat pernah berada 1000 meter diatas puncaknya Everest dan puluhan gunung tertinggi lainnya dalam waktu 1.5 Jam saja.

 

Suasana ‘Pendaki’ Pemalas Tidak Mau Susah
Tapi Pingin Melihat Puncak Gunung Tertinggi Dunia

 

Sertifikat Bukti Authentic Pernah
1000 Meter Diatas Puncak Everest

 

Emak Emak Indonesia Pernah ‘Diatas’ Puncak Everest
Tanpa Gembar Gembor Pemberitaan Di Tanah Air

 

Sertifikat ‘Above The Height’, ‘Above The Peak’ Dan
‘Above The Summit’. Memang Kita Berhasil Berada
Jauh Tinggi Diatas Puncak Tertinggi Dunia Everest

 

Ini Contoh Sertifikat Yang Ditanda Tangani Pilot
Namanya Kosong Silahkan Isi Sendiri

Baca Juga :

 

Nonton Bakar Jenasah Di Kathmandu

Jenasah Ditandu Setelah Disholatkan
Didalam Temple

 

Saya diajak melayat orang meninggal, tetangga didekat hotel tempat saya menginap di Kathmandu yang sebenarnya tidak saya kenal sama sekali. Sebenarnya iseng saja meng’iya’kan karena pingin tahu seperti apa prosesi/upacara di rumah duka. Tapi, berada diantara keluarga dan pelayat yang sedang berduka membuat saya terus mengikuti rombongan sampai seluruh prosesi pemakaman selesai. Saya terjebak oleh ulah sendiri, tidak bisa pamit untuk meninggalkan prosesi pemakaman begitu saja.

 

Pasuphatinath Temple Sangat Besar Dan Luas
Untuk Ibadah Dan Untuk Kremasi Jenasah

 

Langkah saya terhenti ketika jenasah mulai diturunkan disebuah bangunan tempat ibadah, lokasinya tidak begitu jauh dari hotel tempat saya menginap. Nama tempat ini baru saya ketahui belakangan setelah saya kembali ke hotel, yaitu Pasuphatinath Temple dan sungai yang mengalir dibelakangnya adalah sungai suci umat Hindu di Nepal namanya Bagmati River.

 

Hanya Keluarga Yang Memandikan Jenasah

 

Rasanya Plong ditempat ini, saya bisa mengeluarkan camera dan mulai jeprat jepret dari seberang sungai Bagmati. Sepertinya hanya keluarga dan saudara dekat saja yang boleh mengikuti prosesi didalam temple, memandikan jenasah dan mulai prosesi kremasi. Jenasah nampak ditandu oleh beberapa orang dan diletakkan dipapan dengan posisi kaki hampir menyentuh permukaan air sungai. Mungkin sebelumnya disholatkan terlebih dahulu didalam temple.

 

Jenasah akan Diletakkan Di Papan Untuk
Dimandikan

 

Setelah itu jenasah nampak mulai disucikan / dimandikan dengan air sungai yang menurut saya airnya terlihat dekil, coklat dan banyak sampah disepanjang sungai. Acara memandikan selesai selanjutnya jenasah ditandu kembali untuk dibawa ke tempat pembakaran jenasah. Ada sekitar 10 tempat pembakaran jenasah terbuka berupa bangunan beton berukuran sekitar 3 x 4 meter yang berdiri ditepi sungai.

 

Jenasah Siap Dimandikan

 

Jenasah diletakkan diatas tumpukan kayu yang dihiasi oleh bunga bunga berwarna orange. Entah berapa jam jenasah bisa terbakar seluruhnya dan berubah menjadi abu. Yang jelas saat pembakaran jenasah seluruh keluarga menyaksikan dari jarak sekitar 10 meter dan disediakan tempat duduk khusus untuk keluarga yang sedang berduka,

 

Sungai Suci Tetapi Sampah Sampai Abu Jenasah
Semua Dibuang Di Sungai

 

Selesai prosesi pembakaran jenasah, terlihat abu jenasah ditaburkan ke sungai oleh seluruh keluarga yang ditinggalkan. Setelah itu terlihat masing masing anggota keluarga membasuh tangannya dengan air suci sungai Bagmati dan mencuci muka. Saya tidak tahu sama sekali maksud dari ritual ini. Yang jelas baru pertama kali ini saya menyaksikan upacara pembakaran jenasah secara terbuka dan terlihat jelas jenasah yang sedang terbakar. Jangan tanya aromanya, sampai hari inipun saya masih kesulitan untuk melupakan.

 

Ada 10 Atau Lebih Tempat Pembakaran Jenasah
Tempat Pembakaran Jenasah Berupa
Beton Dipinggir Sungai

 

Keluarga Duduk Dibelakang Saat Pembakaran Jenasah

 

 

Air Sungai Bagmati Berwarna Coklat
Tidak Mengalir Dan Kotor

 

Tempat Jenasah Diletakkan Saat Pembakaran
Kayunya Tidak Banyak

 

Jenasah Datang Dan Siap
Diletakkan Diatas Kayu Pembakaran

 

Mobil Jenasah

 

Pedagang Jual Bunga

 

Seluruh Area Pasupatinath Temple Masuk
UNESCO World Heritage

Baca Juga :

 

Mbulet Ruwet Kabel Listrik Kathmandu

Kabel Tilpun / Listrik Di Kathmandu
Betul Betul Ajaib

 

Seumur umur saya saat ini, belum pernah saya menyaksikan kabel yang begitu ruwet, mbulet dan menggumpal seperti rumah tawon. Saya baru menyaksikannya di Kathmandu, ibukota negara Nepal. Menyaksikan kabel mbulet dan ruwet di Kathmandu ini membuat saya tercengang kaget, heran dan sekaligus kagum dengan tehnisi Nepal yang bisa mengurai dan mengurut kabel ruwet tersebut kalau ada masalah. Hampir tiap hari tehnisi hebat Nepal masuk koran karena kepiawaiannya mengatasi masalah perkabelan.
Tehnisi Hebat Itu Orang Nepal
Kabel Mbulet Ruwet Seperti Apapun Dia Bisa Mengurai
Yang saya katakan diatas ini kabel masih aktif. Mungkin kabel telpon dan mungkin juga kabel listrik. Kalau kabel komunikasi antar kampung Intercom sih rasanya sudah tidak ada lagi jaman sekarang. Kabel telpon rasanya kok aneh juga. Masak masih ada jaman sekarang telpon telponan pakai kabel, setahu saya jaman sekarang semua orang punya HP dan telpon pakai whatsapp.

 

Coba Bayangkan Kalau Kabel Mbulet Ruwet
Seperti Diatas Lalu Bagaimana Memperbaiki Kalau Ada Masalah

 

Saya menduga kabel kabel ruwet tersebut adalah kabel listrik karena saat saya menginap di hotel di kawasan Thamel, hampir setiap jam sekali terjadi ‘blackout’. Listrik hotel tiba tiba mati sekitar 5 menit saja setelah itu hidup kembali. Kemungkinan karena hotel punya genset sendiri yang otomatis menyala apabila ada pemadaman listrik.
Kabel Melintas Di Tengah Jalan Seperti Ini
Pemandangan Biasa Di Kota Kathmandu
Ketika saya jalan kaki keliling kawasan Thamel dan juga saat keliling kota dengan mobil, seringkali saya menyaksikan turis yang juga terheran heran melihat kabel mbulet ruwet tersebut. Terkadang berkali kali diphoto dan terkadang senyam senyum dengan kawan kawannya membicarakan kabel mbulet nan unik dan menarik tersebut.

 

Coba Perhatikan, Ini Kabel Mbulet
Atau Rumah Tawon ?
Jadi, karena hampir semua turis yang datang ke Kathmandi selalu photo photoan didepan kabel mbulet dan ruwet tersebut maka saya bisa menyimpulkan bahwa Kabel Mbulet inilah sebenarnya destinasi wisata yang paling menarik dan jangan sampai terlewatkan begitu saja. Kathmandu memang amazing. Silahkan melihat photo photo dibawah ini dan nilai sendiri apakah betul betul Amazing atau hanya sekedar War Biasah.
Ya Ampun
Cara Memperbaiki Kerusakan Bagaimana Ya

 

 

Luar Biasa Mbulet Dan Ruwet
Kalau Listrik Korsleting Berapa Lama Mengatasinya ?

 

Setiap Seratus Meter Ada Tiang
Dengan Kabel Mbulet Ruwet

 

Banyak Juga Kabel Yang Rendah Hampir
Menyentuh Tanah

 

MasyaAllah, Dimana Mana Kabel Ruwet Dan Mbulet

 

Ada Hikmah Yang Bagus Kalau Kabel Sangat Rendah
Bus Dan Truk Nggak Ada Yang Berani Lewat

 

Kalau Kabel Malang Melintang Ditengah Kota
Dan Sangat Rendah Maka Truk Nggak Bakalan Bisa Lewat

 

Terkadang Bus Harus Hati Hati Bahkan Nggak Bisa Lewat
Takut Nyangkut Kabel

 

Ya Ampun, Rendah Sekali Kabel Ini

Baca Juga :

 

Tea House Trekking Himalaya

Sampai Di Chandragiri Hill + 2520 Meter
Langsung Ada Gambar Everest Yang Ternyata Masih Jauh
Dan Bisa Pegel Linu Kalau Jalan Kaki
Orang Indonesia itu banyak sekali yang lucu. Contohnya saat masa kampanye Pilpres 2019 yang lalu. Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional Capres no urut 2 Mardani Ali Sera menyebutkan beberapa prestasi capres Prabowo Subianto. Salah satunya pernah mencapai puncak tertinggi dunia Mount Everest. Seketika langsung heboh dan dibully, ditertawakan bahkan dicemooh habis habisan oleh lawan politiknya. Orang orang yang membully itu sebenarnya tidak tahu keadaan Mount Everest dan gunung gunung Himalaya saat ini.
Pemandangan Pegunungan Himalaya Dilihat
Dari Chandragiri Hill + 2520 Meter
Saya bisa mengatakan bahwa apa yang diucapkan Wakil Ketua BPN tersebut adalah benar setelah datang sendiri dan berhasil mengibarkan merah putih di Ananpura Mountain. Di Nepal, puncak gunung setinggi apapun bisa dicapai dengan mudah dan tanpa persiapan apapun seperti yang pernah saya tulis sebelumnya dalam link ‘Mendaki Gunung Jaman Now Di Everest Dan Himalaya’. Prabowo bisa jadi memang benar mencapai puncak Everest naik helicopter, pesawat ultra ringan, paragliding atau yang lainnya seperti yang saya lakukan minggu lalu. Paket tour Mountain Flight banyak sekali ditawarkan di Kathmandu.

 

Nah Ini Jalurnya Orang Yang Milih Cara Susah Dan Pegel Linu
Untuk Mendaki Sampai Chandragiri Hill

 

Sekarang saya tunjukkan betapa mudahnya naik gunung di Himalaya. Puluhan gunung tertinggi dunia berderet deret terletak di Himalaya. Saya ajak anda ke Chandragiri Hill, ketinggianya + 2520 meter diatas permukaan laut (Puncak Jaya +4884 meter). Berada di Chandragiri Hill ini anda akan disuguhi oleh panorama yang indah Kathmandu Valley dibawah dan deretan pegunungan Himalaya dari Gunung Annapurna sampai Gunung Everest.
Deretan Pegunungan Himalaya
Hampir 10 Gunung Tertinggi Dunia Ada Di Himalaya

Cukup saya datangi salah satu Travel Agent di kota Kathmadu. Karena waktu yang terbatas maka saya pilih paket yang paling singkat yaitu Tea House Trekking. Maksud Tea House Trekking itu adalah paket hiking / trekking menuju ketinggian tertentu dimana kita bisa istirahat di kedai teh/kopi diatas gunung untuk melihat keindahan kota Kathmandu dan gunung gunung tinggi di Himalaya. Promosinya, Chandragiri Hill ini adalah ‘The Highest Tea House In Town + 2520 Meter’.

Peta Jalur Trekking Cara Susah Dan Pegel
Linu Untuk Menuju Tempat Yang Lebih Tinggi Lagi

 

Cakep juga iklannya, apalagi ada embel embel ‘Experience Everest’. Siapa yang tidak tertarik, paling tidak saya bisa ketemu dengan para trekker dan pendaki gunung di tempat ngopi diatas. Untuk trekking ke Chandragiri perlu waktu 2 hari jalan kaki dan langsung saya tolak mentah mentah kalau saya harus buang buang waktu hanya untuk pegel linu jalan kaki naik ke ketinggian 2520 meter.
Namanya Bar @ 2520, The Highest Bar In Town

Masalahnya, berat badan saya sudah tidak ideal lagi untuk olahraga naik gunung, terlalu gemuk dan umur sudah tidak memungkinkan lagi untuk olahraga berat.

‘No Problem Madam, No Need for you to walk’
‘I will provide you with Cable Car to reach the Tea House’

Nah ini yang kucari.

Pintu Masuk Bar @ 2520
Pendaki Bisa Mampir Untuk Ngopi, Pesen Pizza, Burger
Spaghetti Dan Berbagai Macam Makanan Buat Bekal

 

Pagi hari saya dijemput dengan mobil van menuju stasiun cable car. Ngantri sebentar dan langsung menuju ke Chandragiri Hill. Dari tour guide yang mendampingi, saya baru tahu bahwa Tea House di ketinggian tidak hanya ada di Chandragiri Hill saja tetapi ada disemua jalur trekking gunung apapun. Sangat bermanfaat bagi para trekker, bisa order burger, pizza, fried chicken atau makanan cepat saji apapun untuk dibawa mendaki ke tempat yang lebih tinggi lagi.

 

Lumayan Tingginya, Kalau Trekking Beneran
Bisa Mengap Mengap Dan Pegel Linu 3 Hari Jalan Kaki
Dan dari tour guide ini pula saya baru tahu bahwa ke base camp paling atas disemua gunung bisa dicapai dengan helicopter, pesawat ultra ringan dan paragliding. Trekking jalan kaki hanya untuk mengenang para pendaki gunung saat jaman susah dahulu ketika mereka merintis jalan menuju puncak. Bawa penduduk lokal Sherpa dengan barang bawaan yang luar biasa banyak dan berat juga untuk  ‘mengenang masa lalu’ agar turis terlihat heroik betapa susahnya mendaki gunung tertinggi dunia. Apalagi sekarang jaman instagram dan facebook, photo bareng bawa ransel dengan sherpa saja bisa jadi viral di medsos.
Pemandangan Dari Bar @ 2520
Ada Hotel Buat Istirahat Pendaki Di Ketinggian
Semua paket wisata Himalaya saat ini telah dikemas sangat apik dan profesional. Paket olah raga trekking berhari hari dan bahkan bisa sebulan atau dua bulan tetap diminati banyak wisatawan dari berbagai penjuru dunia. Trekking tanpa harus pegel linu naik cable car, pesawat ultra ringan, paragliding atau helicopter juga punya peminat tersendiri. Silahkan ke Nepal dan buktikan sendiri kalau tidak percaya. Politikus memang sering ngomong tidak benar, tapi saya yakin Mardani berkata benar. Prabowo memang benar pernah ke Everest. Naik Helicopter seperti saya minggu lalu.

 

Tempat Makan Para Peserta Trekking
Banyak Yang Napasnya Mengap Mengap Dan Makannya
Banyak Setelah Jalan Kaki 3 hari

 

Ini Yang Aku Suka
Diatas Gunung Bisa Pesen Steak, Chicken Grill Dan
Makanan Enak Apapun

 

Pesen Makanan ala Drive Thru / Take Away Juga Ada
Tinggal Pesan Burger Lalu Lanjutkan Jalan Kaki Ke Puncak

 

Nah Ini Base Camp Chandragiri Buat Ngisi Perut Dan
Beli Bekal Untuk Melanjutkan Trekking Ke Puncak

 

Ada Juga Sarana Hiburan Di Chandragiri Hill
Pegel Jalan Kaki Bisa Joget Joget, Karaoke Dll

 

Peserta Trekking Yang Malas Jalan Kaki Bisa Naik
Cable Car Ke Chandragiri Hill +2520 Meter

 

Kota Kathmandu Dilihat Dari Cable Car

 

Kalau Lihat Paket Trekkingnya Ngeri Bro
Ada Yang Sebulan Jalan Kaki

Baca Juga :