Category Archives: United Kingdom

Perjalanan Jauh Birmingham Portsmouth

Pemandangan Pedesaan Antara Birmingham, Bristol,
Bath, Salisbury, Southampton Dan Portsmouth

 

Saya paling senang melakukan perjalanan darat, nyetir sendiri dengan mobil sewa kalau mengunjungi negara manapun di dunia. Selalu saja ada kegaduhan antar ayah, emak dan anak anak kalau sedang perjalanan jauh dengan mobil. Mulai dari yang mengeluh kebelet ngising, nyalahin sopir kalau kesasar, ada yang lapar/haus, ada yang tidur mulu sejak berangkat, ada yang kaget terbangun karena ngerem mendadak hampir nabrak kambing sampai ngomel ngomel ditilang polisi. Semua bagian dari wisata, semakin gaduh, jengkel, marah, sedih dalam perjalanan di negeri orang semakin berkesan.
Mobil Sewaan Yang Saya Pakai Keliling UK
Hyundai Elantra

 

Kali ini saya melakukan perjalanan darat dari Birmingham menuju ke rumah saya di Portsmouth melewati kota Bristol, Bath, Salisburry dan Southhampton. Kira kira menghabiskan waktu sekitar 5 Jam perjalanan. Sepanjang perjalanan yang kita saksikan adalah pemandangan yang natural, tidak terkesan glamour sama sekali seperti yang sering kita saksikan pada photo photo majalah pariwisata atau film hollywood.

 

Ketemu Bule Inggris Lagi Istirahat
Bekal Yang Dibawa Lumayan Banyak Juga

 

Kehidupan penduduk juga terlihat sangat bersahaja disepanjang perjalanan. Petani ada yang berkebun dengan traktornya, peternak juga asyik menggembalakan sapi dan kambingnya. Desa desa yang kita lalui juga khas pedesaan eropa dengan jalan jalan sempit berbatu dan beberapa ada yang beraspal. Sama dengan di Indonesia, penduduk pedesaan sangat ramah dan senang diajak bicara dibanding dengan penduduk London dan  kota kota besar lain.

 

Ada Juga Yang Istirahat Dan Makan Bersama Keluarga
Di Dekat Parkiran Mobil

 

Karena seringnya saya melakukan perjalanan darat dengan mobil dan berinteraksi dengan warga lokal, saya bisa menyimpulkan bahwa semua orang itu sejatinya sama saja apapun suku bangsanya. Tidak tergantung warna kulit, agama atau pilihan politik  sama sekali. Penduduk desa cenderung lugu dan jujur dan senang menolong kalau kita sedang tersesat atau sengaja menyesatkan diri.

 

Ndeso di UK
Jenis Tanaman Di Pedesaan Berbeda Dengan Di Indonesia

 

Yang menarik, orang Inggris kalau melakukan perjalanan jauh juga sama persis dengan orang Indonesia. Cari tempat istirahat, menggelar tikar, dan membuka bekal yang dibawa. Si Bapak sibuk mengangkat semua barang bawaan dari bagasi, anak anak membantu menggelar tikar dan menata barang barang kecil dan si Emak sibuk bagi bagi bekal makanan yang dibawa.

 

Jalan Desa Yang Sudah Diaspal

 

Yang berbeda hanya makanannya saja. Tidak terlihat sama sekali Arem Arem, Magic Jar, Indomie Gelas, Rantang, Thermos Air Panas atau barang bawaan khas orang Indonesia lainnya. Sepertinya bekal dan barang bawaan bule lebih ringkas dan praktis dibanding barang bawaan orang Indonesia.  Semua makanan sudah dikemas dari rumah dan tinggal dibagi saja.
Masuk Desa Kecil

Menurut saya bekal makanan dan barang bawaan bule Inggris saat piknik atau perjalanan jauh kurang bervariasi, kurang seru dan tidak seribet seperti orang Indonesia. Yang terlihat ribet, di bagasi orang Inggris ternyata isinya banyak sekali bola dan skateboard, bukan koper pakaian. Orang Indonesia koper pakaian sampai ditaruh diatas mobil. Artinya, orang Inggris jarang mandi dan ganti pakaian.

 

Rumah Rumah Di Desa
Sebelum Salisbury

 

Jalan Desa Sepi
Sengaja Masuk Ke Desa Desa

 

Akhirnya Tersesat Juga
Untung Penduduk Desa Ramah Dan Baik Hati
Dibantu Aba Aba Saat Putar Balik



Baca Juga :

 

Jalan Jalan Ke Pasar Kere Birmingham

Lewat Pintu Masuk Pasar Sayur Dan Buah
Sebelum Nyampai Ke Los Pakaian Bekas
Kalau anda turis yang hanya berkunjung beberapa hari saja di United Kingdom, nggak bakalan anda mengertahui pasar ‘Kere‘ seperti yang akan saya tulis dibawah ini. Biasanya turis hanya mengunjungi tempat tempat eksotis yang indah dipandang mata saja. Mahasiswa yang kuliah di UK sebenarnya sering keluar masuk ke pasar ‘Kere‘ semacam ini tapi umumnya tidak mau bercerita sedikitpun, lihat saja FB atau tweeternya yang dipajang hanya photo photo ditempat pariwisata yang indah.
Kios Vermak Blue Jean, Jaket
Dan Pakaian Jenis Apapun

 

Salah satu pasar ‘Kere‘ yang saya kunjungi kali ini namanya Rag Market di kota Birmingham. Jangan sedikitpun membayangkan kalau negara negara Eropa itu pasti glamour, penduduknya kaya raya, belanja selalu di Mall dengan belanjaan barang barang mewah buatan designer terkenal. Salah besar kalau anda berpikiran seperti itu, apa yang anda pikirkan itu hanya ada di Film Holywood.

 

Mau Vermak Pakaian Bisa Ditunggu
Ongkosnya Tawar Menawar

 

Pasar ditengah kota Birmingham ini tidak terlalu besar bila dibandingkan dengan pasar pasar tradisional di Indonesia. Yang dijual kebanyakan pakaian bekas. Ada juga sebenarnya pakaian baru jenis ‘Kodian’, beli 10 dapat gratis satu atau Buy One Get One dan semacamnya.
Promosinya ‘Masih Bagus, Baru Dicuci Sekali’
Sepertinya pakaian baru yang murah meriah tersebut didatangkan dari luar negeri, biasanya dari China, India atau Pakistan. Beda sekali ya, Indonesia mengimport barang dari luar negeri lalu dijual mahal di Mall. Sedangkan UK mengimport barang dari luar negeri lalu dijual murah di trotoar buat rakyatnya.

 

Jaket Bekas Harga GBP 5 – GBP 10
Bisa Ditawar Tinggal Pilih Yang Paling Kinclong

 

Sama halnya dengan pasar pasar di Indonesia, barang yang dibeli bisa langsung dipermak ditempat apabila kegedean. Disekitar pasar pakaian bekas ini ada beberapa kios jahit yang siap melakukan permak sesuai dengan ukuran tubuh anda. Terserah pakaian apa yang anda beli, celana blue jean, jaket, atau baju, rok atau gaun model apapun semua bisa dipermak ditempat dan anda tinggal menunggu.

 

Gaun / Rok Baru Dan Bekas Harga
Relatif Sama – Harus Pandai Menawar

 

Mengenai harga jelas tawar menawar. Permak pakaian juga tawar menawar. Rata rata harga pakaian jenis apapun ditawarkan sekitar GBP 5 – GBP 10. Tertulis jelas cukup rapi dengan warna kuning dan tulisan merah disetiap gantungan pakaiannya.
Bule Inggris Belanja Pakaian Bekas
Rupanya mas Ardi tertarik dengan  salah satu jaket tipis yang tertulis GBP 5. Saya tawar harganya sampai 50 % dan sukses. Tidak terlalu lama tawar menawarnya langsung dilepas penjualnya dengan harga GBP 3. Nah lo, pulang kembali ke Kuwait mas Ardi bawa oleh oleh pakaian bekas.

 

Cara Meletakkan Rak Pakaian Sesukanya

 

Semua Pakaian Bekas Dan Murah

 

Serba GBP 5 Tapi Bisa Ditawar
Beli Satu Dapat Dua

 

Soal Pakaian Bule Lebih Sederhana Dibanding
Orang Indonesia

 

Katanya Alasan Lingkungan Yang Membuat
Bule Sadar Diri Tidak Membuang Pakaian Bekasnya
Bule Memang Pelit  Dan Pinter Cari Alasan

 

Kalau Orang Indonesia Lebih Boros
Pakaian Bekasnya Umumnya Dibuang
Atau Dijadikan Lap Mobil

 Baca Juga :

 

Melihat Dari Dekat Stonehenge

Stonehenge, Monumen Pra Sejarah
Yang Dibanggakan Bangsa Inggris

Perhatikan sekitar anda, apapun yang berbau ‘Luar Negeri‘ ditiru dan dijiplak mentah mentah. Contohnya dandanan banyak yang meniru Arab. Nama Cluster perumahan kurang sreg kalau bukan nama Las Vegas, Tokyo, Sommerset dll.  Bikin obyek wisata juga njiplak kota kota di Eropa {The Voyage Bogor), Bikin Masjid meniru St Basil Moscow. Celakanya Stonehenge pun ditiru mentah mentah di Cangkringan, Kaliurang.

 

Kecil, Borobudur Dan Prambanan Jauh
Lebih Bagus Dan Ada Relief, Ukiran Dan Prasasti Kino

 

Mari saya ajak anda jalan jalan melihat Stonehenge asli di Wiltshire, sekitar 3 Km dari Amesbury di UK. Monumen pra sejarah ini kalau kita perhatikan sebenarnya nggak ada apa apanya dibanding Borobudur atau Prambanan.  Karena lokasinya cukup jauh dari gedung penjualan tiket maka perlu naik bus sekitar 15 menit menuju kesana. Jadi beli tiket masuk dulu baru ngantri bus yang lewat setiap 30 menit. Dari tempat pemberhentian bus masih harus jalan kaki sekitar 1 – 2 Km untuk mendekat ke tumpukan batu yang bernama Stonehenge tersebut.
Gedung Utama Tempat Beli Tiket Masuk,
Museum, Restaurant Dan Toko Souvenir

Sama sama terbuat dari batu, tapi Stonehenge asli Inggris itu kecil sekali, tingginya sekitar 4 meter, lebar 2.1 meter dan berat 25 ton setiap tiangnya. Hanya batu ditumpuk tidak ada relief apapun. Tetapi penjelasan dan uraiannya hebat dan banyak tersebar di batu marmer semacam  ‘Prasasti Modern’ di sekitar gedung pintu masuk dan cukup jelas menguraikan sejarahnya.

Ngantri Karcis Masuk
Tidak ada ukir ukiran apapun sama sekali apalagi relief, diorama atau prasasti kuno yang bisa bercerita tentang sejarah pembangunannya. Artinya, orang Inggris jaman dulu itu nggak ada apa apanya dibanding orang Indonesia yang bikin Prambanan dan Borobudur. Orang Inggris nggak bisa mengukir atau memahat bikin relief dan prasasti. Dengan kata lain kemungkinan nggak bisa baca tulis atau belum mengenal abjad dan tulisan.
Prasasti Modern Menjelaskan Kecerdasan Bangsa
Inggris Dalam Hal Menyusun Batu 25 Ton
Tapi, berdasarkan cerita yang saya baca di ‘prasasti modern’ yang bertebaran disekitar gedung penjualan tiket dan museum, saya bisa mengetahui bahwa para archeologist yang meneliti kawasan Stonehenge inilah yang kelewat canggih. Menentukan umur Stonehenge menggunakan tehnik Radiocarbon Dating dan Analisa DNA terhadap temuan apapun. Apa pula ini, ujug ujug menyimpulkan dibangun 3000 – 2000 SM. Bingung saya, ini umur batuannya atau tahun pembangunannya ?. Latar belakang ilmu Geology saya hanya bisa memperkirakan umur batuan, bukan menentukan kapan batu disusun.
Rumah Honai Papua
Saya Ragu Jaman Pra Sejarah Dulu Orang Inggris
Punya Jerami Dan Semen

 

Lebih bingung lagi, pemandangan yang saya lihat adalah rumah rumah Honai dengan atap jerami seperti yang sering kita saksikan di Papua.  Petunjuk yang tertulis di ‘Prasasti Modern’ yang saya baca mengatakan rumah tersebut adalah rumah asli bangsa Inggris. Hhhh, jangan jangan cuma khayalan archeologist Inggris setelah nglencer ke Indonesia dan melihat rumah tradisional Honai di Papua. Mana mungkin bisa merekonstruksi rumah  yang dibangun 3000 –  2000 SM.

 

Rumah Honai Papua Diaku Sebagai
Rumah Asli Bangsa Inggris Di Stonehenge

 

Petunjuk lain yang saya baca dekat dengan rumah Honai isinya beberapa teori cara bangsa Inggris jaman dulu mengangkat dan menyusun batu raksasa saat pembuatan Stonehenge, lengkap dengan teori teori fisika, matematika dll yang intinya nggombal tentang kecerdasan bangsa Inggris dalam hal mengangkat dan menyusun batu 25 ton. Menurut saya kelewat tinggi nggombalnya. Tetapi banyak orang yang percaya, mungkin cuma saya saja yang nggak mudah percaya gombalan semacam itu.
Ini Prasasti Modern Berisi Teori Dan Interpretasi
Archeologist Terhadap Temuan Temuannya
Sebenarnya tidak salah sama sekali apa yang tertulis di ‘Prasasti Modern’ di area Stonehenge. Memang seharusnya siapapun bisa membanggakan sejarah bangsanya seperti yang dilakukan bangsa Inggris ini meskipun dengan cara sedikit nggombal. The Present Is The Key To The Past, jadi hal biasa kalau interpretasi masa lalu archeolog Inggris ini agak meragukan. Mending archeolog Borobudur dan Prambanan, interpretasi masa lalunya lebih akurat karena berdasarkan relief dan temuan prasasti kuno.
Harus Naik Bus Dulu 15 Menit Menuju
Lokasi Stonehenge. Nunggu Busnya Yang Lama
Masih Harus Jalan Kaki Menuju Stonehenge
BLumayan Jalan Kaki 1 – 2 Km

 

Pintu Keluar Dilewatkan Toko Souvenir
Biar Belanja
Lebih Menarik Di Toko Souvenir Daripada Di Stonehenge
Nggak Ada Relief Yang Bisa Bercerita Di Stonehenge
Museum Di Kemas Sangat Bagus Dan Modern
Disinilah Inggris Membangun Citra
Seolah Olah Bangsa Yang Cerdas Sejak Dulu
3D Screen Di Museum
Baca Juga :

 

Royal Mile Market Edinburgh

Royal Mile Market
Hanya Kumpulan Pedagang Yang Menempati Bangunan Gereja

 

Yang namanya Pasar, kalau di Indonesia itu ukurannya besar sekali dan sudah pasti ramai banyak penjual dan pembeli. Indonesia memang negara yang sangat besar dengan jumlah penduduk yang sangat besar pula. Itulah sebabnya pasar pasar di Indonesia selalu padat. Pedagang dan pembelinya sampai keluar dari area pasar saking ramainya dan sering bikin macet jalan raya pula.

 

Isinya Hanya Beberapa Lapak Pedagang
Kerajinan Tangan Dan Lukisan

 

Di Scotland, Inggris, tepatnya di kota Edinburgh ada sebuah pasar ditengah kota bernama Royal Mile Market. Jangan membayangkan pasarnya sebesar Pasar Tanah Abang atau Pasar Mangga Dua meskipun sama sama ditengah kota. Royal Mile Market ini lebih mirip Bazaar Kampung saat perayaan 17 Agustusan di tanah air. Jumlah pedagangnya bisa dihitung dengan jari dan pengunjungnya juga tidak terlalu banyak. Hampir semua pengunjung turis asing yang terpapar promosi pariwisata, brosur dan ulasan menarik di website.

 

Meskipun Kecil Pasar Ini Dipromosikan
Dengan Kalimat Kalimat Yang Bagus Di Website
Dan Brosur Pariwisata

 

Royal Mile Market ini menempati gedung bekas bangunan gereja. Dinamakan Royal Mile karena letaknya di jalan utama yang panjangnya 1 Mile (1.6 Km) antara Edinburgh Castle dan Holyrood Palace. Ulasan di brosur pariwisata maupun berbagai macam website memang sangat menarik karena lokasinya dikelilingi oleh berbagai macam bangunan tua bergaya Baroque disekitarnya. Tetapi sebenarnya Royal Mile Market ini terlalu kecil untuk disebut Pasar karena hanya kumpulan beberapa pedagang yang menempati bekas gedung gereja.

 

Kaca Kaca Fresco Masih Ada
Menunjukkan Bahwa Pasar Ini Menempati Bekas
Bangunan Gereja
Lapak lapak dagangan yang ada didalam gedung bekas gereja ini sama saja dengan lapak lapak di Pasar Tanah Abang. Dagangan tidak terlalu banyak, umumnya berupa Kerajinan tangan emak emak seperti yang sering kita lihat saat Bazaar 17 Agustusan dikampung. Lukisan dan kerajinan tangan menjahit, menyulam, bordir juga ada. Yang tidak ada hanya penjual kuliner, los daging dan los buah/sayur saja karena pasar ini memang bukan di Indonesia.
Yang Dijual Kebanyakan Lukisan
Kerajinan Tangan Emak Emak Berupa Kalung, Gelang,
Taplak Meja, Bordir Dll

 

Jadi, kalau anda ingin shopping di pasar yang besar, luas dan sangat komplit, saya sarankan untuk shopping di Indonesia saja. Nggak perlu anda jauh jauh shopping sampai ke Scotland. Di Scotland nggak akan bisa anda menemukan pasar yang sangat lengkap menjual kerajinan tangan, lukisan, daging, sayur, buah, kerupuk, beras dan gula yang campur aduk dalam satu pasar besar seperti pasar Tanah Abang di Jakarta.

 

Kalau Di Indonesia Kemungkinan Pasar Seperti Ini Akan
Gulung Tikar Karena Sewa Lapaknya Pasti Mahal

 

Pintu Keluar Masuknya Kecil
Karena Bekas Bangunan Gereja

 

Semua Pengunjung Kebanyakan Turis

 

Sebenarnya Yang Menarik Adalah
Menyaksikan Kaca Fresco Dan Arsitektur
Bangunan

 

Saya Paling Senang Melihat Kerajinan Tangan

Bisa Saya Tiru Dan Saya Buat Sendiri Nanti

Warna Warni Kain Bordir
Kerajinan Emak Emak Scotland

 

Bagus Bagus Semua Kan
Hasil Karya Emak Emak
Baca Juga :

 

Gear Land dan Amigos Resto Eropa

Gear Land Exceter, UK. Warung Makan Kaki Lima Seperti Ini
Memakai Kursi Umum Untuk Pembelinya
Gearland atau Gear Land Resto itu nama keren warung makan ping’gear‘ ja’land’ di Eropa. Kira kira sama dengan restaurant Amigos (‘A‘gak ‘Mi‘nggir ‘Go‘t ‘S‘edikit) di negara negara Amerika Latin. Pada dasarnya, dinegara manapun pasti ada Warung Makan Kaki Lima dipinggir pinggir jalan, di trotoar atau yang nyuruk nyuruk di gang sempit. Semua orang perlu makan dan semua orang berusaha mendapatkan penghasilan halal dengan berjualan. Nah, dibawah ini saya ulas warung warung makan pinggir jalan yang banyak bertebaran di negara negara Eropa.
Tidak Ada Meja Kursi Untuk Menyantap Makanan
Take Away – Tunjuk, Bayar, Pergi
Kalau anda mendengar cerita cerita dari tetangga, teman atau saudara yang baru pulang dari perjalanan wisata ke Eropa, biasanya ceritanya  terlalu ‘nggedabus‘. Dibawah ini percakapan yang saya dengar saat acara arisan ibu ibu :
Sekali kali mbok jalan jalan ke Eropa to jeng, punya duit banyak buat apa to ?
‘Tempat makan di Eropa bersih, hygienis pokoknya beda banget dengan warung makan di Indonesia,’
‘Romantis lho jeng, tempat makan di Eropa semuanya Open Air, iih pingin deh kesana lagi jeng’
Ngicipin Kentang Goreng Gear Land Resto Amsterdam.
Makannya Sambil Jalan Semua Makanan Tanpa Kuah
Percaya ?. Sebenarnya nggak salah salah amat juga sih.

Open Air

Di Eropa itu hujan tidak sesering di Indonesia, matahari juga tidak menyengat seperti di Indonesia. Jadi, tempat makan tanpa peneduh atap tidak akan jadi masalah. Lagipula, iklim dan udara Eropa sangat dingin. Penduduknya doyan minum wine / alkohol dan berjemur agar badan selalu hangat. Itulah sebabnya warung makan kaki lima maupun restaurant selalu menyediakan kursi di ruang terbuka (Open Air).
*** Di Indonesia sebaliknya, pengusaha resto harus menyediakan ruang Executive ber AC. Bisa  kebayang kan mahalnya bayar listrik untuk AC, padahal di Eropa pelanggan resto  cukup dijemur saja.
Gear Land Resto Ini Hanya Menyediakan Satu Meja Saja
Untuk Nunggu Makanan Selesai Di Microwave

Warung makan di Eropa bersih

Ahaa, benar. Warung pinggir jalan di Eropa sepintas memang terlihat bersih meskipun jarang dibersihkan. Ini sangat benar sekali. Pemilik warung dan pembelinya saja jarang yang mandi setiap hari, tapi mereka tidak terlihat kumel dan berdebu kan ?. Hal ini karena kelembaban udara di Eropa rendah akibatnya orang tidak berkeringat seperti umumnya orang Indonesia. Debu juga susah sekali menempel ke benda apapun karena kelembaban udaranya rendah.

*** Di Indonesia sebaliknya, meja, kursi dan apapun dilap dengan air basah, kalau perlu disiram air. Tapi tetap saja susah bersihnya. Penjual dan pembelinyapun mandi 2 – 3 kali sehari, tetapi tetap saja kumel dan berkeringat.

 

Gear Land Resto Southampton Ini Jualannya Hot Dog, Burger,
Sandwitch, Pizza Pingin Hangat Tinggal Di Microwave

Disamping itu, jarang ada makanan yang dimasak, digoreng, atau direbus ditempat (di tenda warung kaki lima). Paling banter cuma dihangatkan dengan microwave. Yang dijual semuanya serba roti baik itu sandwitch, burger, hotdog atau pizza. Itulah sebabnya lapak lapak tempat makan di Eropa tidak pernah ditemukan panci dan wajan gosong yang digantung.

*** Di Indonesia sebaliknya, makanan yang dijual semuanya berkuah sehingga perlu waktu lama untuk memasak. Akibatnya pantat panci jadi hitam gosong dan digantung berjejer jejer di warung. Penyajian selalu dengan piring atau mangkok akibatnya pengusaha warung makan harus bawa ember dan air untuk cuci piring. Di Eropa mah semua makanan diberikan ke konsumen cukup dengan dibungkus kertas tissue.

 

Lapak Gear Land Resto Ini Tidak Menyediakan
Meja Kursi Untuk Makan Ditempat

Alasan lain kenapa terlihat bersih karena jumlah bule Eropa yang punya mobil pribadi atau sepeda motor sangat sedikit dibanding orang Indonesia. Sehingga debu tidak berterbangan kemana mana karena jarang mobil lewat. Bule Eropa mah ‘kere’, kemana mana jalan kaki, naik MRT, kereta api atau bus kota.

*** Indonesia mah warung makan harus ditutup kain segala saking banyaknya mobil, sepeda motor yang berseliweran menerbangkan debu. Orang Indonesia mah sering merasa kurang bergengsi gitu kalau kemana mana jalan kaki seperti bule Eropa.

 

Ada Satu Set Meja Kursi Tapi
Fungsinya Untuk Menunggu Pesanan Datang

 

Warung makan di Eropa rapi

Kebanyakan warung makan kaki lima pinggir jalan di Eropa tidak menyediakan bangku, meja atau kursi  untuk makan di tempat seperti warung warung makan kaki lima di Indonesia. Sangat minimalis. Kalaupun ada, paling cuma satu meja kursi ala kadarnya saja. Restaurant yang cukup besar saja yang menyediakan banyak meja kursi didepan restaurant. System pemasarannya  ‘Take Away‘,  yaitu tunjuk, bayar dan bawa pergi. Itulah sebabnya warung di Eropa terlihat kecil, cute dan rapi.

*** Di Indonesia,  perlu waktu 2-3 jam sendiri untuk menyiapkan buka warung. Mulai mindahin gerobak, ngangkut bangku dan meja, mendirikan tenda, memasak air dengan kompor gas dsb. Ribet.

Ini Gear Land Resto Resmi – Menghadap Ke Jalan
Romantisnya Dimana Kalau Duduk Langsung Melamun

Warung makan di Eropa Enak

Karena umumnya Take Away, maka si pembeli cara makannya sambil jalan atau dimakan di rumah. Jenis makanan yang dijual hanya sandwich, roti isi keju, ayam atau daging, burger, hotdog dan semacamnya. Bagi umumnya orang Indonesia, makan roti sebanyak apapun tidak akan terasa kenyang sebelum makan nasi.  Jadi, bohong kalau ada yang mengatakan  warung makan di Eropa semua enak. Belum lagi kalau isi rotinya keju dan mustard. Bisa muntah muntah anda.

*** Nggak ada salahnya kalau ke Eropa bawa Indomie , beras dan bumbu jadi.

Gear Land Resto Beneran – Nggak Ada Yang Pesan Makanan
Semua Cuma Duduk Bengong Melihat Orang Jalan

 

Warung makan di Eropa Hygienis

Nggak tahu saya apakah hygienis atau tidak. Semua warung makan bahan dasarnya sama, yaitu roti. Kemungkinan suppliernya sama. Seandainya ada pembeli yang sakit perut atau mencret, pasti mudah membuktikannya. Kalau semua orang sakit perut dan mencret pasti bahan dasar rotinya yang tidak hygienis. Anda bisa langsung komplain ke perusahaan roti yang menyuplai. Kalau yang mencret hanya konsumen warung tertentu berarti warung tersebut yang harus dilaporkan polisi.

 

Duduk Berdua Dengan Pasangan Di Gear Land Resto
Tapi Cuman Ngemil, Minum Alkohol Dan Melihat Orang Jalan

 

Warung makan di Eropa romantis

Romantis apaan. Di Indonesia lebih romantis karena pembeli menghadap meja dan saling berhadap hadapan sambil saling menatap dan pegangan tangan. Di Eropa, kursi tempat duduk dijejer jejer dan dihadapkan ke jalan raya. Sebuah meja kecil memisahkan kursi satu dengan kursi lainnya. Jangankan berhadapan dan bertatapan mata, menyentuh saja tidak bisa karena terhalang meja kecil.

 

Semua Gear Land Resto
Tidak Menjual Makanan Berkuah

Adanya meja kecil ini juga membuat saya bingung. Saya harus pesan makanan apa mengingat mejanya terlalu kecil dan tetangga kiri kanan tidak ada satupun yang mejanya penuh piring. Akhirnya tahu juga, duduk di Open Air diluar itu ternyata untuk berjemur, melamun, melihat orang lalu lalang dan nyemil makanan kecil sambil minum wine atau minuman beralkohol saja.

 

Apapun Makanannya Selalu Ada Saos Tomat
Atau Mayonaise
Makanan Boleh Dari Negara Mana Saja
Tetapi Bentuknya Semua Seperti Sandwitch
Warung Gear Land Banyak Juga Yang Bisa Pindah Tempat
Takut Digusur Juga
Mau Beli Makanan Apapun Makannya Sambil Berdiri

 

Tunawisma Dan Kolong Jembatan Di Eropa

Umumnya Jembatan Di Eropa Tidak Ada

Pondasi Yang Bisa Digunakan Untuk Duduk Atau Tiduran

Barangkali anda pernah mendengar dari teman, tetangga atau saudara yang memuja muji kota di Eropa bersih bersih, tidak ada gelandangan/tunawisma, tidak ada gubuk kumuh/reot yang berdiri di bantaran sungai atau dikolong jembatan. Ya, memang benar, di Eropa tidak memungkinkan gelandangan/tunawisma bisa bertahan hidup dirumah gubuk kardus apa adanya seperti di Indonesia.

Jembatan Besi Seperti Ini Lebih Susah Lagi

Untuk Membuat Gubuk Di Kolong Jembatan

Iklim yang membuat tunawisma Eropa berbeda dengan di Indonesia. Tunawisma di Indonesia paling cuma batuk pilek kalau kehujanan, tetapi tunawisma Eropa bisa mati beku kalau kelamaan di kolong jembatan atau rumah kardus saat musim dingin.

 

Semua Jembatan Dan Sungai Didinding Beton
Kolong jembatan di Eropa juga memiliki design yang berbeda dengan jembatan di Indonesia. Tidak ada sama sekali tempat yang bisa digunakan untuk berpijak apalagi digunakan untuk meletakkan tubuh barang sejenak. Perhatikan gambar gambar kolong jembatan pada photo diatas. Jembatan di Indonesia biasanya jauh lebih lebar dibanding dengan sungai yang mengalir dibawahnya. Sehingga ada ruang dibawah jembatan yang bisa dipakai untuk membuat rumah gubuk kardus.
Tidak Mungkin Ada Tunawisma Bikin Gubuk Di Kolong

Bisa Mati Kedinginan Saat Musim Dingin

Nah, karena tidak mungkin bikin gubuk kardus, maka kota kota di Eropa kelihatan bersih, Tidak terlihat ada gelandangan, tunawisma dan gubuk gubuk kardus kumuh. Apalagi, cara berpakaian tunawisma umumnya tidak berbeda dengan siapapun, yaitu berjaket tebal, memakai topi penghangat kepala dan sering pula memakai jas tebal. Dan ingat, kelembaban udara di Eropa itu tidak setinggi di Indonesia sehingga semua orang tidak berkeringat. Pakaianpun tidak terlihat kumel meskipun tidak pernah dicuci berhari hari,

 

Ini Kolong Jembatan Di Indonesia

Sungainya Lebih Kecil Dibanding Lebar Jembatan

Sebenarnya ada tidak gelandangan dan tunawisma ?. Jawabnya banyak, saya perhatikan ada yang keluar masuk gorong gorong drainage kota melalui tutup manhole di trotoar atau jalanan. Ada juga yang sekitar jam 10 pagi terlihat keluar dari stasiun, mungkin tidur di gorong gorong dekat stasiun atau di gerbong gerbong kereta api.

 

Kolong Jembatan Seperti Ini Lebih Tidak Mungkin

Dijadikan Rumah Tinggal Tunawisma

Enak enak Tidur Jembatan Dibuka Bisa Mati Kejepit

Yang paling sering saya saksikan adalah disekitaran stasiun kereta api. Di kota Edinburgh, UK, tidak jauh dari stasiun Waverlay ada Queen Street yang selalu ramai pejalan kaki. Semacam Malioboronya kota Edinburgh. Di sepanjang jalan ini isinya berjajar jajar tunawisma semua. Stasiun Amsterdam Central juga sama saja.
Perhatikan Kolong Jembatan Butut Ini

Mana Bisa Bikin Gubuk Dibawah Jembatan

 

Nggak Ada Tunawisma

Ternyata Tidurnya Masuk Gorong Gorong

 

Lihat Struktur Jembatan Di Belanda Ini

Seandainya Bisa Dibuat Gubuk Tunawisma, Kemungkinan

Si Tunawisma Bisa Mati Kedinginan

 

Saya Perhatikan Memang Konstruksi Kolong

Jembatan Di Eropa Berbeda Dengan Di Indonesia

Kayaknya Tunawisma Dari Indonesia Perlu

Didatangkan Untuk Study Banding

 

Jembatan Paling Kumuh Di Eropa Seperti Ini

Juga Tidak Ada Tunawisma Yang Bikin Gubuk

Baca Apa Yang Ditulis

Si Tuna Wisma Pingin Tidur Di Hotel Yang Hangat

 

Bawaan Tunawisma Selalu Sleeping Bag

Jaket Tebal Dan Selimut

Baca Juga :

Naik Kereta Korengan Di Isle Of Wight Inggris

Saya Hanya Bisa Tertawa Terkekeh Kekeh
Naik Kereta Karatan Jaman Sherlock Holmes Di UK

 

Baru beberapa bulan lalu saya pulang ke Indonesia dan mencoba transportasi umum, khususnya kereta api di Indonesia. Luar biasa,  Stasiun kereta api Tugu Yogyakarta, Gubeng Surabaya dan Tawang Semarang sudah jauh berbeda dibanding saat saya masih tinggal di Indonesia sepuluh tahunan yang lalu. Bersih, pelayanan profesional, keselamatan penumpang sangat bagus dan tidak ada lagi penjual pecel dan gorengan yang berada di area stasiun. Semua kereta api di Indonesia telah berubah jadi dingin dan berAC dalam waktu kurang dari 10 tahun.
Penumpang Kereta Api Duduknya Membelakangi Jendela
Kusen Jendela Dari Kayu
Calo jelas tidak ada lagi, ngantri berdiri beli tiket sudah tentu tidak ada lagi, beli tiket bisa online. Di Stasiun Tugu Yogya malah saya bisa masuk ke Executive Lounge yang tidak pernah saya jumpai di Stasiun Kereta Api di negara manapun yang pernah saya kunjungi. Mungkin anda tidak percaya apa yang saya katakan, mari kita bandingkan saja dengan kereta luar negeri. Saya ajak anda jalan jalan naik kereta api di Inggris.
Kereta Api Jaman Sherlock Holmes
Penumpangnya Ceria Ingat Agatha Christie
Kereta Api Inggris ini sepertinya peninggalan Sherlock Holmes atau Agatha Christie. Kalau anda pernah menyaksikan film detektif kuno ‘Murder On The Orient Express‘, nah seperti itulah bentuk kereta api di Inggris ini, tepatnya di Isle Of Wight. Tidak ada AC sama sekali di kereta, tapi udara sangat sejuk didalam karena pintu nggak bisa ditutup. Kereta api ini menghubungkan beberapa stasiun  Ryde Pier Head, Ryde Esplanade, Ryde St John, Small Brook, Brading, Sandown, Lake dan terakhir Shanklin.

 

Kondektur Marah Saat Dikritik
Keretanya Butut
Goyangnya sungguh luar biasa aduhai, kalau lokomotifnya goyang kekanan, ekornya goyang kekiri. Assooy……., Kusen jendela terbuat dari kayu mirip kusen di rumah rumah Perumnas di tanah air. Lantainya dilapisi triplek tebal. Atap kereta bagian luar terlihat korengan penuh karat tapi bagian dalam masih terlihat sangat bagus. Mungkin dempulnya sangat tebal sekali sebelum dicat putih.
Atap Kereta Korengan Penuh Karat
Hati Hati Tergores Bisa Tetanus
Kondektur kereta butut di Isle Of Wight ini sangat pemarah sekali, mungkin karena tiap hari kereta bututnya dikritik penumpang terus menerus. Semua penumpang kayaknya sudah paham dengan karakter pak kondektur yang pemarah tersebut. Kebanyakan penumpang hanya senyam senyum dan tertawa saja saat ada penumpang complain lalu dimarahi pak kondektur galak tersebut. Sepertinya semua penumpang takut diturunkan ditengah jalan.

 

Ini Bukan Bangkai Kereta
Masih Beroperasi Di Isle Of Wight

 

Anak saya sempat kena marah juga dan ditertawain penumpang lain :
‘Ada asuransi nggak kalau penumpang tergores dan terkena tetanus ?’.
Ini sebenarnya pertanyaan umum penumpang yang khawatir akan terluka, tergores besi karatan didalam gerbong kereta. Tapi pak kondektur dengan lihai menjawab segala macam keluhan penumpang,
‘Saya naik kereta ini sejak kanak kanak’, 
‘Keretanya seperti sekarang ini karena tertular tetanus dari saya’
Banyak Penumpang Yang Ragu Dan Bertanya
Apa Benar Kereta Ini Safe Dan Bisa Jalan

 

Semakin Korengan Tampaknya
Membuat Turis Semakin Tertarik Untuk Mencoba

 

Selamat Jalan Jaga Kulit Anda
Agar Terhindar Dari Tetanus

 

Suasana Bagian Dalam Gerbong
Keretanya Sherlock Holmes

 

Meskipun Butut Dan Korengan
Tapi Naik Juga Karena Nggak Ada Transportasi Lain

 

Ryde Esplanade Train Station
Ada Kios Kelontong Jual Kebutuhan Sehari Hari Di Stasiun

 

Shanklin Station
Stasiunnya Kecil Dan Sepi
Ini Executive Lounge Stasiun Tugu
Di Yogyakarta

 

Executive Lounge Di Stasiun Kereta Api Itu Hanya
Ada Di Indonesia

 

Executive Lounge Anggrek Di Stasiun Tugu Yogya
Stasiun KA Dimanapun Di Dunia Lewaaaat

 

Kereta Api Di Indonesia Kinclong Kinclong

Baca Juga :