Category Archives: Perancis

Yuk..,Kenalan Dengan Crepes Dan Saudaranya

Crepes, Brittany Perancis
Bisa  Bikin Ngiler
Jalan jalan ke negara lain rasanya hambar kalau tidak mencoba makanan tradisional setempat. Kali ini saya kenalkan makanan dari Brittany Perancis. Namnya Crepes, Kalau di Indonesia termasuk makanan Elite dan banyak dijual di mall mall besar atau rumah makan franchise. Bahannya terbuat dari tepung terigu, kalau tanpa isi sebenarnya rasanya sama saja dengan saudara saudaranya yang lebih dulu populer di Indonesia yaitu Kue Terang Bulan atau Martabak Kubang. Bedanya, Crepes dibuat lebih tipis dibanding Terang Bulan atau Martabak Kubang dan karena tipisnya maka cara menyajikannya cukup dilipat segitiga. Umumnya rasa Crepes manis dan dimakan sebagai makanan ringan sambil jalan jalan.
 
Pannenkoeken
Si Meneer Belanda
Sebenarnya Crepes adalah makanan asli Brittany, sebuah daerah disebelah utara Perancis. Isinya bermacam macam mulai dari olesan cokelat Nutella, Pineaple Jam, irisan buah strawberry, keju dan banyak lagi sampai yang paling sederhana cuma gula pasir. Karena makanan ini asalnya dari Perancis maka dinegara asalnya cukup didagangkan di kaki lima saja. Artinya, di Indonesia telah naik pangkat tinggi sekali sampai masuk ke Mall dan juga restaurant franchise. Harganya, jelas di Indonesia menjadi berlipat lipat ganda meskipun rasa relatif sama. Yang hebat, kalau di Indonesia makan Crepes di mall atau restaurant rasanya bergengsi sekali dan banyak orang yang bangga makan sambil jalan jalan, apalagi kalau dilihat orang yang nggak mampu beli atau kembang kempis hanya untuk membeli makanan rakyat Perancis ini.
 
Pedagang Crepes Di Paris
Kalau Saya Ajak Ke Indonesia
Pasti Jadi Rebutan Artis
Di Belanda,  si Crepes ini juga punya saudara namanya Pannenkoekken (Pannekoek). Bentuknya lebih mirip Kue Terang Bulan atau Martabak Kubang. Bedanya kue si meneer Belanda ini tidak dilipat dua menjadi setengah lingkaran seperti Terang Bulan tetapi dibiarkan berbentuk bulat dan sering disajikan dengan loyangnya. Kue Meneer Belanda ini bukan lagi makanan ringan seperti Crepes, tetapi termasuk makanan utama (Main Course) untuk mengenyangkan perut dan isinya daging, tuna, keju atau bahan bahan kelas berat lain yang mengenyangkan.
 
Restoran Pannenkoeken
Si Meneer Belanda Di
Den Haag
Saudara si Crepes yang tinggal di America namanya Pancake, nggak ada isinya dan ukurannya paling kecil sendiri dibanding si Crepes, Terang Bulan atau Pannenkoeken. Si Pancake Amerika ini umumnya disantap pagi hari untuk breakfast dengan hanya disiram sedikit sirup madu saja. Masih banyak sebenarnya saudara si Crepes ini seperti Pannkaka (Swedia), Okonomiyaki (Jepang). Clafaoutis (daerah Limousine, Perancis), Flaugnarde (daerah Limousine, Perigord dan Auvergne, Perancis), Crespella (Italia), Krep (Albania & Turki) dll
 
Crepes Isi Coklat Nuttella
Ehm… yummy !
Pizza Italia bukan keluarga Crepes meskipun bentuknya sama, karena Crepes dan keluarganya terkenal lembut dimulut dan tidak sekeras pizza Italia. Ingin coba Crepes yang asli, datang saja ke Perancis, hampir disemua tempat keramaian terdapat penjual Crepes kaki lima, contohnya disekitar menara Eiffel, didepan Museum Louvre atau disekitar Gereja Notre Dame. Saya cari cari di Lafayette Mall di Paris rasanya susah sekali dan sampai saya pulang ke Kuwait belum saya temukan counter Crepes mewah dan bergengsi seperti di Indonesia. Mungkin karena termasuk makanan rakyat jelata maka pengusaha perancis lebih senang menjual ‘Franchise’nya di Indonesia dangan harga yang berlipat ganda. Moga moga suatu saat nanti ada pengusaha Indonesia yang mem’franchise’kan tempe gembus, tahu bacem dan Terang Bulan ke Perancis. Siapa tahu kan ?
 
Baca Juga :

Pasar Krempyeng Di Pont Neuf

Hanya Beberapa Puluh

Meter Saja Dari Jembatan Pont Neuf
Jadi turis yang suka jalan seenaknya tanpa bantuan tour guide memang mengasyikkan meskipun lebih banyak bingungnya daripada menikmati pemandangan. Waktu saya di Paris, saya menemukan brosur pariwisata di lobby hotel tempat saya menginap. Tour guide yang stand by di hotel juga merayu terus agar kita ikut paket tournya. Tertulis jelas route perjalanan wisata yang ditawarkan melalui Pont Neuf setelah terlebih dahulu diajak mengunjungi Louvre Museum.  Sama sekali saya tidak tahu apa itu Pont Neuf, bayangan saya saat itu lokasinya cukup jauh dari hotel tempat saya menginap dan berada diluar route Hop On Hop Off Bus yang saya naiki beberapa hari ini. Karena kurang suka diikuti tour guide (Baca : mau ngirit) maka saya putuskan jalan sesukanya naik Les Car Rouges.
Sebut Saja Pasar

Pont Neuf
Ternyata, setelah saya tiba kembali di Kuwait dan browsing mbah google beberapa kali, yang namanya Pont Neuf adalah sebuah jembatan yang saya lalui setiap hari baik saat jalan kaki maupun keliling kota naik Hop On Hop Off Bus. Sama sekali saya tidak memperhatikan bahwa Pont Neuf adalah jembatan bersejarah bagi Perancis. Bentuknya relative tidak ada bedanya dengan jembatan lain yang melintasi sungai Seine. Warnanya juga sama saja dengan warna bangunan, jembatan atau apapun dilingkungan sekitarnya, coklat. Tetapi, jembatan ini konon dibuat pada pertengahan abad 16. Konon pada tahun 1578 hanya ada dua jembatan saja untuk menyeberang sungai Seine. Karena hal itu lalu raja Henry III memerintahkan untuk membuat jembatan baru dan baru selesai tahun 1607 dan diresmikan oleh raja Henry IV. Jembatan ini memeiliki panjang 232 meter dan lebar 22 meter dengan 12 busur gorong gorong yang menopangnya.
Ada Komidi Putar Ditengah

Pasar
Saya benar benar tidak memperhatikan jembatan terkenal di Paris ini karena didekat jembatan ini terdapat tempat keramaian yang sangat menarik, pertokoan kecil menjual berbagai macam barang dan juga ada pasar, hiburan anak anak sampai stasiun kereta api. Terus terang, sebagai seorang wanita jangan salahkan saya kalau saya lebih tertarik melihat pasar daripada melihat jembatan. Lokasi pasar Pont Neuf (nama sebenarnya saya tidak thu) ini juga tidak seberapa jauh dari Louvre Museum. Saat saya jalan semaunya di lorong lorong ditengah pasar ini tahu tahu nongolnya di Louvre Musseum. Barang barang yang dijual dipasar ini juga cukup bervariasi, mulai barang sekwalitas pasar tanah abang sampai barang kelas mnengah dengan kwalitas cukup bagus. Tas, gelas, piring, busana sampai makanan semua ada.
Pont Neuf Di Belakang
Soal harga dipasar ini menurut saya tidak bisa dikatakan murah bahkan cenderung sangat mahal karena umumnya pengujung yang masuk kesini adalah turis kesasar seperti saya. Tetapi, bagaimanapun juga cukup menarik untuk dikunjungi daripada cuma melihat air sungai Seine, museum atau cuma melihat jembatan Pont Neuf yang menurut saya tidak ada yang spesial dngan jembatan ini. Tapi, terserah anda menilai seandainya anda lebih tertarik melihat jembatan batu. Gambar dibawah ini adalah jembatan Pont Neuf yang terkenal tersebut, maukah anda berlama lama memandang jembatan ini ?
Jembatan Pont Neuf

Siapa yang tahu kalau jembatan ini bersejarah
Baca Juga :

Baca Peta ke Disneyland Paris

Ini cerita tentang turis sok ngerti dari Indonesia, siapa lagi kalau bukan Ardi’s Family. Kali ini kita jalan jalan ke Disneyland Paris, sebuah tempat hiburan dan resort Disney kedua yang terletak diluar United States. Yang pertama adalah Tokyo Disney Resort (dibuka tahun 1983), Disneyland Paris (dibuka tahun 1992), Hongkong Disneyland Resort (dibuka tahun 2005) dan yang sedang dalam pembangunan adalah  Shanghai Disneland Resort (akan dibuka tahun 2014).

Semula namanya Euro Disney Paris, tetapi karena pembangunan jalan terus maka Euro Disney saat ini hanya menjadi salah satu wahana didalam komplek Disneyland Paris dan namanya menjadi Disneyland Park. Tepatnya mulai tahun 1994 sudah tidak ada lagi nama Euro Disney tetapi telah berganti menjadi Disneyland Paris yang sangat besar dengan tempat parkir yang sangat luas, dan jalan menuju gerbang pintu masuk yang cukup jauh tetapi disediakan moving walkway (escalator horizontal) yang cukup panjang dan dijamin tidak pegel pegel menuju pintu masuk yang jauh.

Setahu saya saat tulisan ini saya buat sudah ada 3 buah taman bermain, yaitu Disneyland Park (dulu Euro Disney), Walt Disney Studio Park dan Golf Disneyland. Tempat shoppingnya ada satu yaitu Disney Village dan resort hotel ada tujuh, yaitu Disnyland Hotel, Disney’s Hotel New York, Disney’s New Port Bay Club, Disney’s Sequoia Lodge, Disney’s Hotel Cheyenne, Disney’s Hotel Santa Fe dan Disney’s Davy Crockett Ranch.

Lokasi Disneyland Paris sebenarnya tidak terlalu jauh dari pusat kota Paris, cuma 32 Km saja dan terletak di daerah Marne La Valee. Sebagai seorang turis otodidak, kita sekeluarga main ‘percaya diri’ saja, tanpa bantuan tour guide dan hanya mengandalkan GPS (Global Positioning System) dan mobil sewaan langsung menuju ke lokasi dari hotel Adagio yang terletak ditengah kota Paris. Jam 8 pagi setelah sarapan pagi di hotel, mobil langsung berangkat dengan asumsi wisata Disneyland ini bisa selesai hanya dalam waktu beberapa jam saja dan setelah itu bisa wisata ditempat lain di sekitar Paris. Yang benar benar membuat kita terkjut saat tiba di tujuan adalah temperatur udara. Saat berangkat pagi hari di tengah kota Paris udara cukup hangat tetapi ternyata di Disneyland udara berkabut tebal dan sangat dingin sekali dan basah. Kekacauan terjadi karena kita benar benar tidak siap dengan jaket dan mantel tahan air.

Kekacauan kedua terjadi karena untuk bisa masuk Disneyland saja antriannya panjang sekali dan benar benar membuang waktu. Anggota ‘Trio Kwek Kwek’ protes minta pulang saja karena kedinginan dan jaket yang dipakai ternyata menyerap air dari kabut tebal membuat badan semakin menggigil kedinginan. Akhirnya, mas Ardi sebagai kepala regu mengambil keputusan kilat, yaitu minum kopi didalam stasiun kereta api sambil menunggu kabut hilang dan siapa tahu antrian berkurang. Ternyata salah besar, semakin siang antrian semakin banyak dan kabut dingin tidak berkurang sama sekali.

Meskipun tidak bisa full menikmati Disneyland, ada hikmah dan pelajaran yang bisa saya ambil. Kita tidak bisa menikmati wisata Disneyland seluruhnya hanya dalam beberapa jam saja. Kalau waktu kita terbatas lebih baik tidak usah mengunjungi tempat ini.  Akan lebih baik kalau menginap dihotel hotel yang tersedia didalam komplek Disneyland meskipun hanya semalam karena atraksi malam hari di Disneyland katanya bagus bagus. Memang tarip hotel ditempat hiburan ini jauh lebih mahal dibanding hotel ditengah kota Paris, tetapi paling tidak kalau kita menginap didalam maka kita bisa menikmati Disneyland yang sebenarnya dan tidak buang buang waktu untuk ngantri tiket dan kedinginan.

Hikmah dan pelajaran yang lain adalah ‘Jangan Terlalu Percaya Dengan Peta’. Kita memilih hotel dan menginap di tengah kota Paris hanya berdasarkan petunjuk peta, baik terbitan Lonely Planet maupun searching internet dan melihat Google Map. Alasan utama kenapa kita tidak memilih hotel didalam Disneyland saat itu adalah karena mau mendekati pusat keramaian kota, bukan nyepi. Disamping itu kalau dilihat di peta jarak hotel pilihan kita hanya berjarak 0.5 cm dari Eiffel Tower, 1 cm ke Notre Dame dan jarak ke Euro Disney tidak lebih dari 15 cm saja. Alasan lain kenapa memilih hotel ditengah kota Paris adalah supaya bisa jalan jalan dan cari makan di kota dengan mudah. Ternyata, kita semua tidak baca skala peta dan kita lupa sama sekali bahwa peta tidak bisa menjelaskan tentang cuaca. Jadi wajar kalau basah dan kedinginan dan wajar pula ternyata Disneyland dan kota Paris cukup jauh dan berbeda suhu udaranya.

Mesin Bingung

Soal bingung, mungkin Ardi’s Family termasuk yang paling komplit pengalamannya. Kadang kadang cukup menggelikan kadang kadang sangat menjengkelkan dan yang lebih sering adalah jadi bahan tertawaan sampai berhari hari seluruh keluarga. Tergantung siapa yang sedang mengalami musibah ‘bingung’ ini. Biasanya ketua rombongan, mas Ardi yang paling jahil mencoba berbagai macam ‘mesin bingung’ yang kita jumpai dimanapun saja kita menjumpai.

Namanya saja ‘wong ndeso’, jadi kalau ketemu ‘mesin bingung’ selalu saja ingin mencoba. Dibawah ini adalah ringkasan pengalaman bingung international atau bolej juga disebut bingung global yang kadang terasa aneh, menggelikan dan sekaligus menjengkelkan :

  • Ataturk Airport – Turkey    Pertama kali masuk ke airport international ini, saya sempat terbingung bingung mencari petunjuk pintu keberangkatan. Di airport manapun petunjuk selalu digantung diatas tetapi di airport ini petunjuk pintu keberangkatan dilantai. Karena ada yang tulisannya terlalu kecil, beberapa calon penumpang termasuk mas Ardi membaca sambil duduk klesetan dilantai.
  • Pulkovo Airport (St Petersburg) – Russia    Pengamatan saya, orang Russia gemar sekali membersihkan sepatu. Hanya untuk membersihkan sepatu saja mereka mau ngantri dank arena ingin tahu saya sempatkan mencoba. Karena tombolnya banyak dan petunjuk bahasa Russia, maka semua tombol saya coba satu persatu, akibatnya antrian dibelakang pada nggrundel dan pindah ke mesin yang lain.
  • Bruckparck – Belgia    Entah ini salah tempat atau kebiasaan orang Belgia kalau buang hajat sambil makan cemilan kacang saya kurang tahu. Saya sempat heran, kenapa di toilet umum di Bruckparck terdapat mesin jualan makanan kecil seperti kacang dan minuman hangat. Enak sekali, sambil ngeden mulut makan kacang. Untung pintu nggak digedor gedor orang.
  • Frankfurt Airport – Germany    Check in pesawat harus dilakukan dengan mesin dan petugas cuma nunjuk ke mesin saja tidak membantu sama sekali. Mesinnya bahasa Jerman, pilihan bahasa Inggris tidak berfungsi sama sekali, mungkin rusak. Clingak clinguk kiri dan kanan, mau minta tolong penumpang lain jelas tidak mau. ‘Jaim’ atau Jaga Image sangat perlu sekali kalau berada diluar negeri. Akhirnya bisa juga meskipun setelah itu harus lari lari karena gate hampir ditutup karena pesawat segera akan berangkat.
  • Louvre Musseum – Perancis    Putar puter berkali kali tidak tahu juga dimana harus beli tiket. Saya perhatikan pengunjung sudah bawa tiket masing masing dan untuk masuk ke gedung cukup menggesek tiketnya, tetapi dimana beli tiketnya. Akhirnya tahu juga ternyata penjualnya sebuah mesin yang agak ngumpet letaknya. Sok ngerti, semua tombol dipencet setelah duit dimasukkan, ternyata mesinnya bisa berbunyi keras sekali ‘Tambahkan EURO 20 untuk tiket 4 orang atau tekan cancel !!!!!’. Wah, mana ya tombol cancel, nggak punya EURO 20 nih, harus tukar dulu…..
  • Moscow Subway – Russia    Baca Koran Russia jelas tidak bisa, tetapi mesin Koran distasiun bawah tanah Russia sangat menarik untuk dicoba. Paling tidak untuk kipas kipas atau untuk membungkus sepatu seandainya tiba tiba kelelahan dan ingin ganti sandal. Koin sudah dimasukkan, tetapi Koran yang kita pilih tidak mau keluar, coba lagi masukkan koin seperti harga yang tertulis juga tidak mau keluar. Akhirnya minta bantuan orang lewat dan cara mengeluarkannya ternyata mesin dipukul keras keras berkali kali, gedubrak…brak…brak… dan langsung keluar dua sekaligus.
  • Havaz Bus – Istanbul, Turki     Di Turki tidak ada kondektur, naik bus harus punya chip magnet, semacam kartu berlangganan. Chip magnet ini tinggal cucukkan saja ke mesin dibelakang sopir, maka pintu akan terbuka. Nah kita yang bukan penduduk Turki tentu bingung mencari chip magnet berlangganan ini kemana, ternyata cukup bayar ke sopir bus dan si sopir akan meminjamkan chip magnetnya. Untuk mengembalikan ke sopir kembali tinggal lemparkan saja. Pak Sopir, tangkap ya……
  • Pompa Bensin – Netherland, Belgia, Luxemburg, Perancis     Benar benar terasa nikmat tinggal di Indonesia dan Kuwait karena ngisi bensin saja ada yang melayani. Di Netherland, Belgia, Luxemburg dan Perancis tidak ada yang melayani, semua harus self service. Taktik ‘Jaim’ atau Jaga Image segera diterapkan, turun dari mobil pura pura stretching dulu, olah raga kecil kecilan ditempat tetapi sebenarnya mengamati bagaimana cara ngenolkan meteran dan bagaimana cara bayarnya. Masih kurang jelas, mendekat ke mobil lain dan pura pura tanya kamar kecil dimana. Sukses, bisa ngisi bensin sendiri dan tahu cara bayarnya.

Baca Juga Pengalaman Bingung yang lain :

Napak Tilas Si Bongkok Dari Notre Dame

Waktu kecil dulu saya sering melihat film bisu Si Bongkok Dari Notre Dame. Filmnya masih hitam putih dan gerakannya sangat cepat seperti film film Charlie Chaplin. Begitu sudah agak gedean, saya juga baca novelnya yang ternyata berjudul The Hunchback Of Notre Dame dan dibuat oleh Victor Hugo pada tahun 1831. Dan sekarang saya baru bisa melihat dengan mata kepala sendiri tempat dimana film itu dibuat dan tempat dimana Victor Hugo terinspirasi membuat cerita yang begitu terkenal diseluruh dunia.

Bangunan Cathedral Notre Dame masih seperti yang digambarkan dalam film dan novel diatas bedanya saat ini banyak dipenuhi turis dari segala penjuru dunia karena memang digunakan sebagai obyek wisata. Benar benar terletak di tengah tengah kota Paris yaitu didaerah Ile De France atau tepatnya di 6 Parvis Notre-Dame, Place Jean-Paul II, 75004, Paris, France. Terletak di tepi sungai Seine yang membelh kota Paris. Untuk menuju ke tempat ini cukup naik Les Cars Rouges Hop On Hop Off Bus saja, tarif relatif tidak terlalu mahal.

Seperti obyek wisata lain di Paris, disekitar cathedral ini juga banyak kios kios souvenir, sesuatu yang tidak digambarkan atau ditulis oleh Victor Hugo dalam bukunya, karena memang saat buku ditulis dulu belum ada kios souvenir. Orang berciuman didepan umum seperti digambarkan difilm juga tidak ada, rasanya film film yang sering kita saksikan terlalu berlebihan sehingga seolah olah semua orang Paris suka ceprat ceprut berciuman ditempat umum. Memang ada sih, tetapi langka dan tidak sedramatis di film.

Orang ngemis, copet, mabuk bawa botol dan ngamen juga ada di sekitar Cathedral. Saya kira ini khas kota besar dimanapun juga. Jadi tetap hati hati dengan barang bawaan anda dimanapun kita berada. Saya tidak melihat langsung ada kejahatan sih ditempat ini, tetapi ada orang yang mengingatkan kita untuk hati hati dengan tas bawaan kita. Antrian untuk masuk kedalam gedung panjangnya bukan main, jadi nggak ada gunanya buang buang waktu ditempat ini. Cukup jeprat jepret photo dari luar saja dan sudah tentu ikut desak desakan mencari souvenir di kios kios terdekat.

Lonceng yang menurut cerita selalu dibunyikan oleh si bongkok ternyata sampai saat ini masih berdentang, bedanya kalau dulu untuk membunyikan dengan cara manual atau ditarik, sekarang sudah menggunakan motor mesin dan berbunyi setiap jam. Jumlahnya lonceng ada lima buah, yang terbesar bernama Emanuelle dengan berat 13 Ton terletak di menara sebelah selatan dan yang 4 buah terletak di menara utara.

Yang saya heran sekaligus kagum ditempat ini bukan Cathedralnya yang berarsitektur Gothic, tetapi sungai Seine disebelahnya dan toilet umum disekitar bangunan Cathedral. Dalam hati saya mengatakan kenapa sungai selebar ini kok tidak ada satupun orang yang mandi atau sedang jongkok buang hajat. Terus terang saya benar benar masih gagap tehnologi, toilet umum ditempat ini begitu canggih dan membingungkan, apalagi petunjuknya bahasa Perancis yang tidak kita ketahui sama sekali bagaimana cara buka dan tutup pintunya. Seandainya ada satu saja yang jongkok disungai Seine, pasti saya akan mengikutinya daripada kebingungan grothal grathul didepan toilet umum ini. Si Bongkok dulu pasti jongkok di sungai Seine ini ….

Tips Wisata Hemat Ala Madame Susy

Tips wisata hemat dari saya cukup satu saja dan mudah dilakukan. Jangan sekali kali mengikuti saran Keliling Dunia Dengan Naik Sepeda atau Keliling Dunia Dengan Berenang. Disamping pegel pegel, anda juga akan rugi waktu dan total biaya semua juga tidak akan menghemat terlalu banyak, apalagi kalau kita start dari Indonesia. Tips dari saya cukup : Peluk Dan Cium Suami Tercinta Kita Dan Katakan Dengan Lembut Agar Melamar Pekerjaan Di Middle East – Lakukan paling sedikit 3 x Sehari.

Sangat mudah bukan ? Ya kita rayu terus agar mau pindah kerja ke Timur Tengah, khususnya Kuwait karena negara ini terletak ditengah tengah dunia. Merayu suami suami tercinta kita agar mau bekerja global bukan hal yang sepele, tugas kita disamping merayu juga berdoa dan perlu waktu lama untuk meluluhkan hati suami suami tercinta kita yang sudah terlanjur seperti batu. Ditanggung biaya wisata ke Europe, Middle East, North Africa akan terpotong habis 60 – 90 % dibandingkan kalau kita masih tinggal di Indonesia.

Musee Du Louvre (Museum Louvre)

Ini adalah museum dengan jumlah pengunjung terbesar di planet bumi yang terletak di Palais Royal, ditengah kota Paris, France. Tahun 2009 lalu saja tercatat jumlah pengunjung 8.500.000 orang dari segala penjuru dunia. Kalau anda pernh berdesak desakan di Pasar Tanah Abang Jakarta, nah seperti itulah suasananya. Terus terang saya merasa tidak nyaman di Museum Louvre ini dan lebih banyak di luar dan ditempat tempat yang tidak berdesak desakan.

Gedung museum sangat tua sekali dan konon bekas istana yang bernama Palais Du Louvre yang didirikan pada abad 12 oleh Philip II. Diubah menjadi museum pada tahun 1793 dan pernah ditutup cukup lama pada tahun 1796 – 1801 karena adanya kerusakan pada konstruksi bangunan. Pada tahun 1983, presiden Francois Mitterand mulai merencanakan untuk renovasi total bangunan museum dan I.M Pei, seorang Chinese American arsitek berhasil memenangkan design renovasi sebagian gedung museum yang saat ini kita kenal dengan Louvre Pyramid. Renovasi selesai pada tahun 1993 dan setelah itu jumlah pengunjung meningkat tajam hampir 3 kali lipat dan menjadikan Louvre sebagai museum nomor satu dari sisi jumlah pengunjung terbanyak.
Pyramid kaca ini sebenarnya adalah pintu masuk ke underground lobby tempat kita membeli tiket masuk museum. Untuk membeli tiket di lobby ini semuanya self service dari mesin mesin yang tersedia cukup banyak. Desk Informasi juga melayani puluhan bahasa, brosur brosur dan peta museum tersedia dalam jumlah banyak dalam berbagai bahasa. Saya cari yang bahasa Melayu ternyata tidak ketemu, si petugas informasi dengan ramah mengatakan belum dicetak karena pengunjung dari Indonesia/Malaysia/Brunei tidak terlalu banyak.

Koleksi museum tidak kalah apabila dibandingkan dengan museum besar The Hermitage Museum di St Petersburg, Russia. Ada beberapa bagian dalam museum ini, di bagian tengah adalah Lobby yang tepat berada dibawah Pyramid kaca dan 3 buah koridor (sayap/wings) yaitu Sully Wings, Richeliu Wings dan Denon Wing. Koleksinya sendiri dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu Painting tempat lukisan Monalisa berada, Egyptian Antiquities, Near Eastern Antiquities, Greek-Etruscan & Roman, Islamic Art, Sculpture, Decorative Art dan Print & Drawings. Tahun 2012 nanti sebagian dari koleksi museum ini akan dibawa ke Abu Dhabi. Pemerintah Perancis dan UAE telah menanda tangani kesepakatan bersama tahun 2007 lalu untuk membuka Louvre Museum Of Abu Dhabi. Apa saja isinya, tunggu saja pada tulisan berikut di blog ini nanti kalau sudah grand opening tahun 2012.

Karena saat saya berkunjung bertepatan dengan musim dingin, saya bisa dengan mudah berkesimpulan bahwa semua pengunjung yang berdesak desakan di museum tidak mandi sama sekali beberapa hari atau minggu. Jadi daripada pingsan berdesak desakan dengan pengunjung dengan aroma bermacam macam, lebih baik saya akhiri saja kunjungan saya di museum ini.

Baca Juga :

Jentat Jentit Naik Velib

Velib singkatan dari Velo yang berarti sepeda dan Liberte yang kira kira berarti bebas merdeka. Maksudnya adalah sepeda yang bisa kita pinjam dan pakai sesukanya kemana saja disegala penjuru Paris terutama kalau mau sehat dengan sedikit kaki pegel linu karena nggenjot sepanjang hari. Sepeda sewaan ini tersedia disetiap ujung jalan hampir disemua jalan di Paris terutama didaerah daerah keramaian dan daerah perbelanjaan. Parisian, demikian  orang Paris menyebut dirinya sendiri mengatakan bahwa tempat parkir sepeda ini namanya Station. Bisa dipakai oleh semua orang, baik penduduk Paris sendiri maupun turis yang ingin menikmati kota Paris dengan lebih bebas dan santai.

Ada ratusan Station dan ribuan sepeda yang bisa kita pakai jalan jalan di kota Paris ini. Dan perkiraan saya setiap 300 meter terdapat Station. Jika ingin sewa Velib ini, cukup datang ke station terdekat dan siapkan Credit Card anda karena semua station tidak ada yang jaga, yang ada cuma mesin untuk bayar deposit dengan credit card anda saja. Untuk pertama kali agak susah karena beberapa mesin yang saya kunjungi petunjuknya bahasa Perancis saja, orang Perancis rupanya alergi dengan bahasa tetangganya Inggris. Ada 3 pilihan berlangganan, 1 Day Ticket seharga EUR 1, 7 Days Ticket seharga EUR 5 atau annual Ticket seharga EUR 29. Pilih salah satu dan anda langsung bisa naik sepeda keliling kota.

Tiket yang keluar harap anda perhatikan nomornya karena nomor ini akan dipakai terus pada saat mengambil atau melepas kunci magnet sepeda dari station manapun. 30 menit pertama gratis, tetapi setelah itu perpanjangan 30 menit kedua akan dicharge EUR 1, dan 30 menit ketiga akan dicharge EUR 2 dan selanjutnya EUR 4 setiap 30 menit berikutnya. Anda bisa check balance atau sisa deposit kartu anda disetiap terminal dan kalau perlu isi ulang lagi. Kalau selesai tinggal kembalikan ke station dimanapun, pastikan kunci magnet sepeda benar benar menempel sebelum anda meninggalkan station karena kalau sampai tidak menempel dianggap sepeda tidak dikembalikan dan credit card anda akan didebet EUR 150.

Velib ini adalah salah satu cara untuk mengurangi kepadatan kota Paris yang baru diperkenalkan pada 15 July 2007. Semula cuma 10000 buah sepeda saja, tetapi karena benar benar sukses mengurangi kepadatan kota, maka walikota paris menambah jumlah sepeda menjadi 20000 buah dengan total station saat ini sekitar 1450 tempat. Setiap station bisa menampung sekitar 20-30 buah sepeda, susahnya pada saat mengembalikan sepeda kalau kebetulan tempat parkir menyandarkan sepeda sudah penuh, maka harus cari tempat lain yang kosong. Celakanya, tempat tempat yang strategis selalu penuh, akibatnya cari station yang agak jauh dan akhirnya kembali ke jalan kaki juga. Jadi, pegel nggenjot sepeda dan pegel jalan kaki karena station yang kosong terlalu jauh.