Category Archives: IndoKuwait

Mbokde Kesengsem Gaya Executive India

Tanggal 1 April 2010 yang lalu, mbokde menuju ke Kuwait Airport untuk memulai perjalanan ke Frankfurt. Pesawat Lufthansa yang akan membawa mbokde dan keluarga baru akan berangkat jam 00:05 tengah malam, tetapi mbokde dan keluarga sudah berada di Airport Kuwait sejak jam 21:00. Daripada termenung menung menunggu, mbokde akhirnya memilih untuk melakukan pengamatan tentang keadaan Airport Kuwait, khususnya untuk pembaca setia blog ini.

Di Kuwait, jumlah pendatang dari India banyaknya bukan main. Boleh dikatakan hampir semua sektor bisnis selalu dikuasai expatriate dari India. Mulai dari sopir Taxi, Tukang Batu dan Bangunan, Penjaga Bakala, Pelayan Restaurant India, Bell Boy Hotel sampai yang high educated seperti engineer dan Manager. Tetapi yang membuat mbokde tertarik adalah mode yang sedang ngetrend dikalangan pria India, nggak peduli tukang batu atau manager semuanya seragam.

Pingin tahu mode yang sedang ngetrend di kalangan pria India di Kuwait ? Perhatikan dengan benar penumpang yang baru turun atau akan naik ke pesawat jurusan Mumbai, Kochi, New Delhi atau kota lain di India. Kesimpulan anda pasti sama dengan saya, semuanya memakai tas koper model ‘Samsonite’ atau ‘Echolac’. Mode yang pernah ngetop di Indonesia sekitar tahun 1970 dimana saat itu hampir semua anak sekolah di Indonesia lagi demen demennya memakai tas koper ‘Echolac’ untuk kesekolah.

Bisa kebayang kan ?, wanita mana yang tidak akan menggelepar kejang kejang bertatap muka dengan pria asing ber’tas’ executive gaya Direktur Utama sebuah perusahaan. Sempat saya lirik isi tas tersebut, ternyata bukan gepokan KD, dollar atau dokumen proyek, tetapi cuma oleh oleh dua bungkus korma dan bekal makanan kecil India untuk perjalanan. Mbokde langsung memberi nasehat kepada anak anak mbokde Ayu dan Dinda ‘Nak, nanti kalau cari jodoh yang bener ya, jangan cuma melihat tasnya doang ….’.

Baca Juga :

Libur Lagi, Uenak Tenan …

Soal Harpitnas (Hari Kejepit Nasional), Indonesia nggak ada apa apanya bila dibanding dengan Kuwait. Di Indonesia paling banter sehari saja kejepit baru dianggap Harpitnas. Kalau di Kuwait, 2 atau 3 hari kerja kemungkinan besar dijadikan Hari Kejepit Nasional sehingga total hari libur termasuk liburan akhir pekan bisa mencapai 9 hari. Contohnya lebaran tahun 2009 ini, total 9 hari dijadikan hari libur nasional. Apa nggak sedap ……
Ada atau tidak harpitnas keputusannya ditentukan oleh pemerintah Kuwait melalui sidang yang cukup alot, tetapi bagaimanapun juga sampai saat ini belum pernah saya mendengar usulan harpitnas ditolak. Celakanya lagi, baru baru ini kabinet memutuskan untuk mengundur tanggal masuk sekolah dengan alasan ada wabah swine flu. Analisa saya, karena masuk sekolah awal September 09 dan setelah itu ada liburan lebaran ditengah bulan maka muncullah inisiatif agar libur dibablaskan saja sampai setelah lebaran daripada masuk 2 minggu lalu libur lagi lebaran.

Ide cemerlang memang meskipun alasan dibuat buat tapi bisa dibayangkan, liburan musim panas bulan Juli sampai September saja sudah 2 1/2 bulan ditambah penundaan tanggal masuk sekitar sebulan lagi, apa bisa pinter anak anak kita kalau sekolah kebanyakan libur seperti di Kuwait. Untungnya, tidak semua sekolah mengikuti petunjuk tersebut, Cambridge School dan American International School (AIS) tetap masuk sekolah sesuai jadwal (Awal September 09). Indian School Ahmadi hanya mengimplementasikan untuk Kindergarten dan Grade 1 dan 2 saja.

Lebih menggembirakan lagi adalah staff dan karyawan Perusahaan Minyak Cap Manuk. Dalam setahun jatah cuti sebenarnya 42 hari (calender days), tetapi mulai tahun 2009 ini diubah menjadi 48 hari. Alasannya, hari jum’at adalah hari libur resmi sehingga tidak diperhitungkan dalam penghitungan hari cuti. Apa nggak enak ….
Kalau kita lihat kalender 2009, berarti nanti pada saat Idul Adha November depan akan ada hari kejepit nasional lagi artinya dalam setahun akan ada hari libut kejepit lebih dari 2 kali. Kenyang deh …..
Yang bikin pusing adalah pengumuman harpitnas selalu disampaikan 2 atau 3 hari sebelum  hari libur. Artinya, kita akan kesulitan untuk booking pesawat, biasanya harga tiket pesawat ke segala jurusan kalau bookingnya mendadak akan mahal sekali. Disamping itu ngurus visa ke negara manapun tidak bisa mendadak dan perlu waktu. Akibatnya, kita hanya bisa ke negara GCC terdekat saja karena kalau kita resident Kuwait maka kita tidak perlu ngurus visa kalau masuk ke negara GCC. Visa cukup diurus di negara tujuan (On Arrival Visa).

Cara Ngurus Visa Dubai (UAE) :

  • Begitu tiba di airport Dubai, segera menuju ke counter pelayanan visa.
  • Isi formulir yang disediakan petugas custom
  • Beli stiker Visa di Bank yang ada di airport (National Bank/Emirates Bank) seharga KD 15.25
  • Bawa passport, formulir visa yang telah anda isi dan stiker ke petugas kontrol (custom)

Baca Juga :

Mudik Ke Kampung Dulu Ah ……

Musim panas sudah mendekati puncaknya bulan July 09 ini, temperatur udara juga sudah mencapai 46 Derajat Celcius. Disamping itu badai gurun sudah semakin sering terjadi menyebabkan debu beterbangan kemana mana. Kuwait yang biasanya indah sudah tidak terlihat lagi keindahannya, debu dimana mana dan pandangan mata hanya beberapa ratus meter saja. Tidak banyak pilihan lagi kalau sudah begini, harus secepatnya mudik ke Indonesia atau tetap bertahan di Kuwait dengan kemungkinan jadi ‘telor setengah mateng’.

Kalau hujan debu sudah mulai sering seperti sekarang ini, maka aktifitas ngepel bisa tiap dua jam sekali. Debu sedemikian halusnya hingga bisa nyelusup dari celah celah jendela, pintu atau lubang blower. Saking kuatnya angin yang bertiup diluar rumah maka suara angin tidak lagi lembut mendayu dayu seperti biasanya, tetapi sudah gedubrak gedubruk karena begitu kuatnya menggoyang atap garasi dan menerbangkan seng atau kaleng kaleng yang terdapat di bangunan belum jadi didepan rumah kami. Untuk proteksi diri, masker sudah mulai saya bawa kemana mana. Malu kalau ngaku terus terang masker tersebut untuk menghindari debu karena kebanyakan orang lokal sini tidak pernah memakai masker meskipun debunya tebal bukan main. Biar agak canggih dan ngikuti trend masa kini, kalau ada yang heran melihat masker saya, maka saya tinggal jawab ‘Swine Flu’.

Arus mudik bukan lewat udara saja, yang lewat darat juga banyaknya bukan main terutama para expatriate dari negara tetangga. Berita di harian Arab Times tanggal  5 July 09 yang lalu menyebutkan jumlah pelintas batas di Al Salmi Border sudah mencapai 10.500 pada hari Kamis dan meningkat kembali menjadi 13.147 pada hari Jumat. Jumlah yang tidak bisa dianggap kecil untuk negeri sekecil Kuwait. Nah kita yang berasal dari Indonesia sudah tentu tidak bisa jalan darat, karena perjalanan sangat jauh dan hanya beberapa kali saja dalam setahun bisa pulang maka barang barang yang dibawa pulang juga banyaknya luar biasa. Mau tahu barang bawaan kita ?

  • Air Zam Zam Satu Jerigen untuk bukti bahwa kita sudah nyampai ke Makkah
  • Kurma setengah koper untuk bukti bahwa kita memang expatriate middle east
  • Parfum Arab seharga 1 KD per botol kecil untuk nunjukin ‘ini lho bau Kaabah’ dan yang ini bau Emir.
  • Dan berbagai macam mainan onta untuk keponakan dan tetangga.

Tas dan koper sengaja bawa yang besar dan nanti kalau kembali ke Kuwait akan kita isi penuh segala macam barang yang tidak ada di Kuwait, seperti sambel pecel, bumbu rawon (kluwek) dan tentu saja buah nasional Indonesia Pete dan Jengkol.