Category Archives: Belgia

Parkir Kuwait Vs Parkir Netherland, Belgia dan Perancis

Ke Eropa naik mobil sewaan benar benar menyadarkan saya. Ternyata saya baru ngerti kalau hidup dan tinggal di Kuwait lebih nikmat dibanding dengan di Eropa, khususnya Belanda, Belgia dan Perancis. Bagaimana tidak nikmat, di Kuwait parkir bisa bebas semaunya tanpa harus bayar. Ada tempat sedikit saja, tinggal surukkan bagian depan mobil nggak usah pikirkan bagian belakang yang masih ditengah jalan. Ilmu burung onta sudah biasa dan jadi pemandangan sehari hari dimana mana. Parkir ditengah jalan juga bisa, berhenti ditengah jalan dan ngobrol dengan mobil lain juga banyak yang melakukan.

Baca : Cara Cerdas Parkir Di Kuwait, Masalah Parkir Di Kuwait, Parkir Mobil Ala Kuwait. Photo photo disamping ini adalah suasana parkir di Belanda, Belgia dan Perancis agar anda bisa membayangkan dan membandingkan dengan di Indonesia, photo suasana parkir di Kuwait bisa anda lihat pada link diatas. Suasana jalan yang sempit di Belanda dan Perancis juga sebagai ilustrasi betapa berbedanya dengan jalan raya di Kuwait yang lebar sekali.

Dibandingkan dengan Indonesia, jelas Indonesia lebih tertib dan teraratur karena punya petugas parkir. Tetapi harus bayar tentunya. Disamping itu hampir semua gedung di Indonesia memiliki tempat parkir sendiri. Lha kalau Kuwait, semua gedung terutama apartment tidak memiliki tempat parkir. Kalaupun ada tempat parkir hanya cukup untuk beberapa mobil saja dan tidak sesuai dengan jumlah penghuni apartment yang memiliki mobil. Untungnya, banyak tanah yang masih kosong disekitar apartment sehingga bisa surukkan mobil dengan posisi malang melintang sesukanya di tanah kosong tersebut. Gratis….., hampir tidak ada pengeluaran untuk parkir di Kuwait, kecuali di Airport.

Di Belanda dan Perancis, boleh dikatakan penduduknya lebih tertib untuk memarkirkan mobilnya. Tetapi untuk parkir di dua negara ini kita harus merogoh kantong lebih dalam lagi. Saya harus bayar EUR 21 atau sekitar Rp 240.000 untuk menginap malam hari di basement sebuah gedung sekitar jam 21:00 PM – 08:00 AM. Parkir dipinggir jalan akan lebih mahal lagi, sekitar EUR 4 per jam dan kalau nasib lagi apes bisa didenda polisi lebih mahal lagi seandainya kita parkir lebih lama dari tiket parkir yang telah kita bayar.

Sebagai penduduk Kuwait yang diberi kenikmatan jalan besar dan bisa parkir bebas semaunya, terasa sekali begitu susah dan sengsaranya di Belanda dan Perancis. Sengsara yang pertama adalah mencari tempat parkir yang cukup untuk mobil sewaan dipinggir jalan. Mobil yang saya sewa berukuran besar segede Kijang, tetapi tempat parkir dipinggir jalan hanya untuk mobil seukuran Suzuki Karimun, Visto atau Mini Cooper. Kalaupun bisa parkir, biasanya nggak bisa keluar karena  jarak dengan mobil depannya sangat mepet sekali. Capek deh ndorong dulu paling sedikit 4 mobil baru bisa keluar.

Sengsara yang kedua adalah bingung luar biasa mengenai cara bayar parkir. Masalahnya, mesin untuk bayar parkir tidak semuanya bagus dan berfungsi. Banyak yang saya jumpai rusak dan bekas dicongkel maling. Dan yang lebih kacau lagi, di Belanda hanya tertulis bahasa Belanda dan di Perancis hanya bahasa Perancis, tampaknya bangga akan bahasa sendiri benar benar diterapkan dikedua negara ini.
Di Kuwait hampir semua jalan besar besar baik jalan utama maupun kampung. Tetapi di Belanda jalan jalan cuma satu jalur saja, mobil harus berbagi jalan dengan tram dan sepeda. Dan mobil adalah pihak yang kalah menempati hanya sekitar 20 % dari lebar jalan. Untuk hal ini jelas berlawanan dengan jalur Busway di Jakarta. Mobil 80 %, Bussway 20 %, Sepeda dan pejalan kaki 0 % di Jakarta, artinya Indonesia sangat tidak peduli dengan sepeda dan pejalan kaki.

Di Belgia dan Perancis juga sama saja, tidak saya jumpai jalan yang selebar Tol Jakarta – Cikampek apalagi Fahaheel Expressway di Kuwait. Semua jalan sempit, jalan utama yang menghubungkan Belanda, Belgia, Perancispun tidak ada apa apanya bila dibanding Fahaheel Expressway dan Expressway yang lainnya di Kuwait. Jadi kesimpulannya, nikmati saja hidup di Kuwait. Bukankah pepatah mengatakan “Dimana Bumi Diinjak, Disitu Langit Dijunjung” ?

Advertisements

Bul Kibal Kibul Belgia

Soal ngibul, udah sering saya mendengar dan melihat. Apalagi kalau browsing gambar gambar atau photo di google dan facebook. Sarana untuk ngibul ini ada di Belgia, namanya Mini Europe. Tukang photo yang jagopun juga ada ditempat wisata tersebut dan akan memandu kita untuk mengambilkan photo ditempat tempat tertentu dengan latar belakang miniatur bangunan terkenal diseluruh Eropa. Instruksinya jelas, mulai dari perintah duduk sampai perintah teknis untuk ukuran zoom, fokus dan ukuran diapraghma camera kita.

Saya sempat tertipu juga beberapa tahun lalu, waktu itu seorang teman dengan bangganya menunjukkan photo photo dengan latar belakang bangunan terkenal diseluruh Eropa padahal kawan saya tersebut cuma transit 3 hari saja di Heathrow London. Promosinya saat itu negara negara Eropa kecil kecil dan bisa habis dalam 3 hari saja. Ternyata apa yang dikatakan tidak 100 % salah, dia cuma perjalanan dari UK ke Mini Europe di Brussel – Belgia.

Sebenarnya Mini Europe adalam sebuah Taman Mini saja yang berisi seluruh bangunan bangunan terkenal, bersejarah atau simbol kota di negara negara Eropa. Letaknya di Bruparck, berdekatan dengan Atomium, simbol kota Brussel. Total ada 350 bangunan dari 80 kota dari seluruh negara negara Uni Eropa. Beberapa sangat menarik perhatian pengunjung misalnya gunung Vesuvius yang bisa menyemburkan asap dan mengeluarkan suara gemuruh karena meletus. Luas taman ini sekitar 24.000 m persegi dan diresmikan pada tahun 1989.

Tahu atau tidak sebuah photo hasil ngibul cukup melihat kakinya saja. Kalau photonya tanpa kaki alias setengah badan atau hanya kelihatan kepala saja bisa jadi photo tersebut adalah boong boongan. Lihat saja photo disamping ada yang di Eiffel – Paris, Plaza Del Toro – Sevila, Spain, ada juga bangunan di Serbia dan lain lain. Semuanya diambil di Mini Europe. Mana mungkin bisa ngambil photo dari Eropa paling selatan sampai paling utara hanya dalam waktu 3 hari.

Dan biasanya, sering terlihat ada benda dilatar belakang yang tidak sinkron dengan ukuran bangunan di latar belakang, misalnya pada saat dipotho tiba tiba ada pengunjung yang nyelonong dilatar belakang dan tampak jelas seperti raksasa seperti photo menara Pisa – Italy pada gambar dibawah.

Jadi, kesimpulannya adalah jangan sekali kali cari jodoh atau menantu lewat facebook apalagi nyari di google. Photo yang anda lihat bisa jadi di taman mini seperti Mini Europe atau bahkan di photo studio. Saya dulu kepincut photo cowok didepan menara pisa Italy disamping ini…

Madame Gagap Baca GPS

Sebagai orang asing yang tinggal dinegara orang dan serumah mempunyai hobby yang sama yaitu ‘ngluyur’ kesegala penjuru sudut dunia tentu andalan utamanya cuma satu, GPS. Sejak GPS segede buku dan mahal sampai sekarang bisa dikantongi dan sudah berharga lebih murah mbokde selalu melihatnya . Cuma untuk mengoperasikan sampai saat ini belum ngerti ngerti juga meskipun anak anak sudah ngajari berkali kali. Mbokde lebih luwes pegang ‘uleg uleg’ daripada alat alat semacam itu.
Tanggal 1 – 10 April 2010 yang lalu, kita sekeluarga sewa mobil untuk keliling Eropa. Sewa mobil melalui http://www.hertz.com/ dan pembayaran dilakukan di perwakilan Hertz di Shuwaikh Kuwait. Karena mobil mulai saya pakai di terminal kedatangn Schiphol Airport, Amsterdam dan saya kembalikan di Charles De Gaule Airport, Paris maka di Amsterdam harus bayar lagi Drop Fee karena saya tidak ingin balik lagi ke Amsterdam hanya untuk mengembalikan mobil. City Tax sebesar 19 % juga dibayar di Amsterdam. Disamping itu saya juga tidak mau ambil resiko mengganti kalau terjadi kecelakaan, maka saya harus nambah asuransi Full Risk sebesar EUR 16 per hari (kalau nggak ikut Full Risk sebenarnya tidak apa apa, cuma yang dicover asuransi hanya kalau kerusakan tidak lebih dari EUR 800 saja).
GPS bisa sewa melalui Hertz juga, tetapi kalau sudah punya sendiri jangan lupa download peta bajakannya yang paling terakhir melalui http://www.gpsunderground.com/ (peta Indonesia bisa didownload melalui http://www.navigasi.net/ ). Yang penting untuk diupdate adalah lokasi lokasi speed camera, red light camera dan pompa bensin. Silahkan download melalui http://poi.gps-data-team.com/ . Semua rental mobil menyediakan jasa sewa GPS.

Perjalanan dimulai dari Schippol Airport lalu mengacak acak seluruh penjuru Netherland tanpa halangan berarti. Setelah itu dilanjutkan blusak blusuk Brussel juga tanpa ada hambatan berarti. Dan terakhir menuju Paris bisa keluar masuk kota Paris sampai ke kampung kampungnya segala. Boleh dikatakan apa yang saya lihat dan saksikan berbeda sekali dengan yang anda bayangkan tentang kota kota di Eropa. Bisa bebas sampai ke kampung kampung berkat GPS yang diset dan dibacakan anak anak. Mbokde nggak ngerti sama sekali.

Seperti apa Amsterdam, Rotterdam, Antwerpen, Brussel dan Paris ? Tentu jawaban anda adalah sebuah kota yang indah dengan penduduk yang makmur. Saya kira jawaban anda akan mengacu ke photo photo atau gambar gambar di film atau televisi yang hampir tiap hari anda saksikan. Karena saya menggunakan mobil sendiri dengan GPS dan juga disertai jalan kaki blusak blusuk kesegala penjuru kota maka jawaban saya akan lain dengan anda. Kota kota diatas adalah kota besar dengan permasalahan yang relatif sama dengan kota Jakarta, macet, copet, maling, sampah, gelandangan. Kawasan tertentu memang sangat indah penuh dengan bangunan tua dan menjadi andalan wisata dan sering dijadikan tempat shooting film. Memang bagus sekali tetapi yang lalu lalang kebanyakan turis kaya dari luar negeri dengan tentengan belanjaan keren. Coba anda kedaerah pinggiran tempat sebagian besar penduduk bermukim.

Sebagai contoh, di darah pinggiran yang padat dan tidak pernah di shooting TV di Paris saya melihat Pasar Tumpah dengan tumpukan sampah disekitarnya dan membuat macet kendaraan, saya juga melihat preman mabuk sedang memalak orang lewat disebuah jalan kampung saat perjalanan menuju ke Euro Disney.

Di Amsterdam – Central Station, air sungai / canal yang sering nampak bersih sekali kalau di shooting TV atau difilm film, ternyata sama saja warnanya coklat dan banyak sampah yang mengapung. Bedanya dengan di Indonesia cuma tidak ada yang jongkok buang hajat saja dan di Amsterdam ada petugas kebersihan yang selalu membersihkan sampah yang mengapung. Beberapa kolong jembatan yang saya lewati relatif sama dengan kolong jembatan di Jakarta, bau apek dan gelap. Sepeda sepeda dirantai segede rantai kapal, artinya banyak maling. Telepon umum sudah tidak ada gagang teleponnya dan banyak juga yang dirusak tangan jahil.

Gelandangan atau tuna wisma juga banyak terlihat, bedanya mereka pakai jaket tebal atau jas karena dingin dan kemana mana membawa selimut tebal. Seandainya saja mereka dibawa ke Jakarta, saya yakin sekali kehidupannya akan jadi lebih baik karena akan diopeni dan jadi rebutan para artis ibukota. Biasa, banyak bule ‘dipakai’ artis untuk sensasi acara TV, kan nggak ada yang tahu di negara asalnya seperti apa……..

Baca Juga :

Kalau Nama Anak ‘Blonthang Blontheng’

Umumnya orang Indonesia tidak memiliki nama keluarga (Family Name), kecuali beberapa daerah saja yang sudah mencantumkan nama keluarga (Marga / Family Name). Mungkin, dulunya orang Indonesia (baca : Jawa) tidak pernah berpikiran akan pergi keluar negeri sehingga kalau bikin anak cukup diberi nama sederhana tanpa mencantumkan siapa nama orang tuanya. Hanya orang Batak, Manado dan Maluku saja yang memiliki visi jauh kedepan sehingga namanya selalu diikuti nama keluarga seperti Sembiring,  Siregar, Lubis, Manuputty, Manuhutu dan lain lain. Lebih celaka lagi nama nama orang Sumbar (Sumatera Barat), biasanya cuma satu kata saja Fahrizal, Afrizal, Rini dan lain lain.

Nah, kalau anda punya anak yang bernama satu suku kata atau lebih dari satu suku kata tetapi tidak ada nama keluarga sama sekali, siap siap saja untuk mendapat masalah pada saat pemeriksaan imigrasi di airport manapun di luar negeri. Kebanyakan semua staff imigrasi akan membandingkan nama anak anak dengan nama ayahnya. Kalau ayahnya Perdamaian Sihombing maka anaknya sudah pasti Tigor Sihombing dan Renita Sihombing. Aman …. Bisa langsung lenggang kangkung masuk ke Negara tujuan. Itulah sebabnya kenapa orang yang mau Umroh atau berangkat haji ke Saudi Arabia selalu ada tambahan nama Bin atau Binti diakhir nama yang tertulis di passtportnya.

Passport anak saya berakhiran Pertiwi dan satu lagi Kartikasari sedangkan ayahnya jelas nama Jawa pakai akhiran ‘O’. Semua berbeda dan membingungkan petugas. Who is Mr Pertiwi ? Who is Mr Kartikasari ?, selalu diulang ulang pertanyaan ini sambil menatap saya dengan tajam dan terkadang cengar cengir. Kemungkinan si petugas imigrasi mengira saya sindikat jual beli manusia dan kemungkinan juga kagum dengan diri saya yang dianggap ‘wanita perkasa’ punya suami tiga orang sekaligus, Mr Ardianto, Mr Pertiwi dan Mr Kartikasari. Siapa tahu kan …. abis cengar cengir sih.

Untungnya saya selalu membawa akta kelahiran anak anak dan surat nikah kemanapun saya bepergian. Tinggal tunjukkan ke petugas imigrasi sebentar semua langsung beres. Beberapa hari sebelumnya kawan saya yang tidak pernah membawa akta kelahiran sempat  tertahan hampir 3 jam di Schiphol Airport. Ada juga kawan yang nyaris dideportasi oleh petugas Imigrasi Frankfurt Airport karena tidak bisa membuktikan anak anak yang dibawanya adalah anak kandung sendiri, bukan anak hasil menculik yang akan diperjual belikan.

“Dik ….nama dua anak kita selalu bikin masalah di airport karena nggak ada family namenya, Mulai sekarang jangan membuat kesalahan lagi ya… , nanti sesampai di Hotel kita bikin satu lagi lengkap dengan family name”. Langsung saya jawab : “Iya …. Iya….. iya ……”

Baca Juga :