Category Archives: Liburan

Nairobi Selayang Pandang

Kota Nairobi Sore Hari
Nggak Ada Bedanya Dengan Jakarta
Dalam bayangan saya, negara negara di Afrika itu miskin, kere dan menakutkan. Tiap hari yang saya baca dan lihat di koran maupun TV di Indonesia selalu saja hal hal yang buruk tentang kelaparan dan kejadian kejadian kriminal. Perkosaan, penyakit menular Ebola, AID, Flu Burung, ledakan bom oleh teroris jaringan Al Qaeda – Al Shabab dan semacamnya. Tapi, bayangan saya tersebut lenyap seketika saat saya menjejakkan kaki pertama kali di Nairobi, Kenya.  Kota ini ternyata kota Metropolitan yang sangat besar seperti Jakarta dengan permasalahan yang hampir sama.
Mobil Mobil Yang Lewat Bagus Bagus
Jadi Yang Bilang Negara Miskin Itu Siapa
Hiburan malam casino, night club, discotheque juga banyak. Tata kotanya mirip London, Edinburg, Portsmouth dan kota kota lain di Inggris. Nama nama wilayah / district juga sangat Inggris sekali. Sangat wajar karena memang sebenarnya Kenya adalah bekas jajahan Inggris. Contohnya adalah Westland, Parkland, Lavington, High Ridge dll. Nama penduduknya juga perpaduan nama Inggris dan lokal. Contohnya Raymond Kibera, Johny Langata, Daniel Arap Moi dll.

Macetnya Jauh Lebih Parah Dari Jakarta
Tapi Sopirnya Nggak Ada Yang Berani Lewat Jalur Pedestrian

Soal kemacetan di jalan raya bisa saya katakan Nairobi jauh lebih parah dibanding Jakarta. Sangat macet sekali karena saat ini Nairobi belum memiliki jalan layang, bus way dan jalur KRL. Jam jam sibuk dan macet juga sama dengan Jakarta, yaitu pagi dan sore. Mobil pribadi dan bus angkutan umum semua berjubel di jalanan kota. Naik mobil pribadi dengan jarak beberapa km saja bisa ditempuh dalam waktu 3 jam atau lebih saat jam sibuk. Tapi jangan dilihat macetnya saja, perhatikan juga mobil mobil yang terjebak kemacetan. Semua mobil bagus bagus keluaran tahun terakhir.  Jadi siapa yang bilang Kenya negeri Kere ???

Pemandangan Kota Nairobi

Namanya saja kota besar Metropolitan dan ibukota negara, penduduk dari daerah juga banyak yang datang mengadu nasib ke ibukota negara Nairobi. Akibatnya, benar benar mirip dengan Jakarta. Ada pendatang yang kurang beruntung dan tinggal di bedeng bedeng kumuh dipinggiran kota dan ada juga yang bikin bedeng di bantaran sungai (Athi River). Tetapi ada juga yang sukses tinggalnya di perumahan mewah, Apartment mewah dll. Hotel hotel bintang 5 juga banyak di Nairobi termasuk Hotel Kempinski, Bank international semacam Citibank juga ada dan ini menandakan aktifitas ekonomi dan bisnis di Nairobi sangat positif.

Ojek Motor Di Kenya Namanya Boda Boda

 

Pedagang asongan yang menjual air mineral di perempatan jalan juga ada. Apalagi kalau jalanan sedang macet. banyak pedagang asongan terlihat berjajar jajar ditengah kemacetan menjajakan berbagai macam dagangan, mulai jual mainan anak, sampai makanan. Tidak ada bedanya dengan pedagang asongan di jalan jalan kota Jakarta. Bedanya, pedagang asongan di Kenya kulitnya berwarna hitam sejak lahir sedangkan di Jakarta karena tiap hari kepanasan.
Kota Nairobi Cukup Hijau Dan Bersih
Kalau anda membuka wikipedia, secara umum nggak ada bedanya antara Nairobi dan Jakarta. Baik dari luas areanya, kepadatan penduduknya maupun tingkat kriminalitasnya. Cuma, entah kenapa kalau kita membaca berita dan melihat TV di Indonesia sepertinya Kenya dan negara Afrika lain itu lebih menyeramkan. Padahal tidak sama sekali, semua sama saja dengan kota Jakarta.
Pusat Kotanya Macet Parah
Pagi Hari Dan Sore Hari Macetnya Jauh Lebih Parah Dari Jakarta
Sore Hari Pulang Kerja Macet Semua Jalan Menuju
Perumahan Di Pinggiran Kota
Sepeda Motor Tidak Sebanyak Jakarta
Jalan Menuju Pusat Perbelanjaan

 

Advertisements

Jamo Kenyata Airport Selayang Pandang

Gerbang Masuk Jamo Kenyatta Airport
Percayalah, Semua Kota Ada Bedanya‘. Nah, kali ini tentang kota Nairobi Kenya, khususnya Bandara International Jamo Kenyatta. Jangan sekali kali punya pikiran bahwa Kenya adalah negara miskin. Pemikiran seperti itu salah besar kalau anda menyaksikan bandara kota Nairobi.  Bandaranya besar sekali, setara dengan Bandara Soetta Cengkareng. Nama bandara juga diambil dari nama presiden pertama Kenya. Penamaan terminalnya juga sama misal Terminal 1A, 1B, 1C, 1D dan seterusnya. Suasana memasuki area terminal, bentuk terminal, pemandangannya juga mirip dengan Bandara Soetta Cengkareng.
Semua Penumpang Harus Turun Dulu Pemeriksaan
Yang menarik, pemeriksaan keamanannya sangat ketat sekali. Bukan pemeriksaan didalam bandara saat check in, tetapi pemeriksaan di pintu gerbang memasuki area bandara. Bayangkan, pintu gerbang pemeriksaanya kira kira jaraknya masih 5 – 10 Km dari gedung terminal. Kalau di bandara Soekarno Hatta Cengkareng, kira kira lokasi pintu gerbang tempat pemeriksaan di sekitar Hotel Sheraton Bandara atau malah lebih jauh lagi. Teroris pasti akan berpikir 1000 Kali kalau ingin meledakkan bandara International Jamo Kenyatta ini. Harus bawa bom nuklir, karena hanya bom nuklir segeda ‘Gaban’ saja yang radius ledakannya bisa lebih dari 5 Km.
Contoh Radius Bom Nuklir Cuma 5.6 Km
Teroris Pasti Kesulitan Bawa Bom Ke Terminal

 

Awalnya saya sangat terkejut ketika disuruh turun oleh sopir Taxi dari Hotel yang mengantar saya ke airport. Ngapain harus turun, terminal bandara saja belum kelihatan ?. Untungnya si sopir ngerti bahwa kita orang asing yang baru pertama kali masuk ke bandara internasional Jamo Kenyatta ini. Di jelasin cukup detail, nanti jangan photo photoan di gate, banyak tentara bersenjata yang akan memeriksa penumpang satu persatu. Masuk saja ke dalam gedung untuk diperiksa.
Tertawa Ngakak, Baru Kali Ini Pemeriksaan Bandara
Dilakukan Di Luar Kota

 

Susah sekali saya merubah ekspresi wajah seketika saat itu. Ngakak tiada henti saat baru turun dari Taxi tetapi seketika harus pura pura serius didepan tentara bersenjata yang mengawasi pemeriksaan dengan wajah sangar. Lumayan pegel tapi cukup menggembirakan dan menghibur. Saya harus berjalan kaki kira kira 100 meter dari tempat diturunkan menuju gedung pemeriksaan. Dan masih harus jalan kaki lagi sekitar 100 meter menuju tempat parkir dimana Taxi menunggu. Baru kali ini saya menyaksikan bandara internasional dengan pemeriksaan ketat jauh di luar kota.
Tentara Masih Belum Kelihatan
Jadi Masih Bisa Tertawa
Masuk Gedung Pemeriksaan Satu Per Satu
Wajah Harus Serius Didepan Tentara

 

Masih 5 Km Menuju Terminal Keberangkatan

 

Pemandangan Selepas Gerbang Pemeriksaan
Gedung Tempat Parkir Dan Perkantoran
Perkantoran Cargo Menjelang Terminal
Keberangkatan Dan Kedatangan
Pemandangan Perkantoran Menjelang Terminal
Nah, Akhirnya Masuk Ke Terminal Keberangkatan
Suasananya Mirip Dengan Bandara Soetta Cengkareng
Terminalnya Melingkar Seperti Bandara Soetta

Ya Ampun, Urban Garden

Urban Garden Itu Taman Di Belakang Mobil Parkir
Luasnya Kira Kira 7.5 x 15 Meter
Saya akui, bule Europe canggihnya bukan main dalam hal marketing, terutama mempromosikan pariwisata di daerahnya. Kayaknya, setiap warga sudah muncul jiwa marketingnya sejak lahir. Nggak perlu RT, RW, Lurah, Camat, atau Walikota untuk promosi, tapi siapapun punya kesadaran untuk mempromosikan daerahnya. Kesadarannya terhadap pariwisata daerahnya luar biasa tinggi. Beda sekali dengan saudara saudara saya di tanah air, kebanyakan tidak ada yang tahu bahwa wilayahnya itu sangat unik dan bisa mengundang kekaguman orang asing.
Isinya Ternyata Cuma Pot Bunga Doang
Dan Beberapa Tanaman Gantung Yang Ditempel Di Tembok
Di Kota Truro, Cornwall United Kingdom ada sebuah taman di dekat Lemon Street atau ditengah pusat kota Truro. Namanya Urban Garden. keren kan namanya ???. Rambu rambu petunjuk arah menuju ke taman ini sudah nampak beberapa ratus meter sebelum memasuki pusat kota. Saya penasaran…, langsung saya cari lokasi Urban Garden di Google Maps, hah … bisa langsung ketemu. Saya cari juga di GPS, juga ketemu. Waktu saya mencari lokasi sebuah toko terkenal, ketemunya ‘25 yards from Urban Garden. Artinya, Urban Garden ini dijadikan acuan untuk lokasi lokasi toko disekitarnya. Apapun aktifitas di sekitar Urban Garden ditulis di blog dan website apapun milik warga sehingga mudah dicari di Google.
Susah Sekali Saya Mau Cerita Tentang Urban Garden Ini
Nggak Ada Yang Layak Diceritakan
Sambil jalan jalan sore, saya coba untuk mencari lokasi sebenarnya Urban Garden ini. Akhirnya bisa ketemu juga, kira kira 10 menit untuk bisa menemukannya. Meskipun namanya keren dan gagah, ternyata lokasinya ngumpet dibelakang tempat parkir mobil. Luasnya tidak lebih dari 7.5 x 15 meter saja. Isinya cuma beberapa pot bunga dan beberapa tanaman yang digantung di tembok. Tidak ada tanaman yang khusus dan langka, semuanya tanaman umum yang banyak dijumpai dimana saja. Ini mah lebih tepat kalau disebut taman tamanan milik warga yang dibikin terkenal lewat brosur, internet dan medsos.
Ada Pohon Palem
Ada Juga Bunga Warna Warni
Di Kota Portsmouth juga sama saja. Semua titik lokasi atau tempat diberi nama yang canggih canggih dan keren padahal jaraknya hanya beda beberapa langkah saja tapi punya nama yang berbeda.  Baca : Old Portsmouth Walking Tour 1 dan Old Portsmouth Walking Tour 2. Ada banyak sekali taman di kota Portsmouth ini, salah satunya adalah Wimbledon Park. Keren kan namanya, sama persis dengan nama lapangan tenis tempat Boris Becker, Martina Navratilova, Roger Federer dan atlit atlit tennis lain biasa berkiprah. Tapi ternyata taman ini juga taman tamanan yang sebenarnya nggak ada apa apanya bila dibanding dengan taman taman di Indonesia. Contohnya Taman Safari, Taman Mini Indonesia atau yang lain.
Petunjuk Menuju Urban Garden
Petunjuknya Keren Bro, Dari Allumunium
Nama Wimbledon Park ini terasa cukup heboh karena terpampang disetiap bus kota. Contohnya ‘The Hard Via Wimbledon Park’. Bayangan saya Wimbledon Park itu sebuah taman yang luar biasa besar dan indah, eh ternyata cuma taman tamanan ‘kampung’ dengan luas tidak lebih dari dua lapangan basket dengan bangku taman sekitar 5 – 6 buah saja.
Namanya Wimbledon Park
Portsmouth, UK
Jadi, jangan malu malu untuk meniru cara marketing model Eropa. Indonesia punya banyak sekali taman, jembatan, kolam, selokan dengan ukuran yang jauh lebih besar dari Eropa. Di kampung kampung di kota besar dan pelosok desa juga banyak sekali tempat tempat bagus dan menarik, tapi tidak pernah diberi nama. Beri saja nama semuanya dengan nama yang canggih canggih.Lalu tuliskan di blog atau website. InsyaAllah akan banyak sekali turis yang datang dan terkecoh seperti yang saya alami saat saya jalan jalan di kota kota manapun di Eropa..
Wimbledon Park Portsmouth, Isinya Cuma Bangku
Luasnya Cuma Separuh Lapangan Bola


Baca Juga :

 

Safari Nairobi – Amboseli National Park PP

Jalan Raya Mulus Nairobi – Amboseli National Park
Pemandangan Bukit Dan Gunung Kilimanjaro Di Kejauhan
Namanya Amboseli National Park (dulu namanya Maasai Amboseli Game Reserve), jaraknya sekitar 450 Km atau 3.5 jam dari Nairobi naik Land Rover tua. Sudah tentu untuk menuju kesana harus ikut tour dan bawa Tour Guide kalau nggak pingin kesasar didalam Taman Nasional yang luasnya sekitar 392 SqKm tersebut. Dengan ikut paket Tour dari hotel, anda akan didampingi seorang sopir Land Rover yang benar benar tahu medan off road di Amboseli dan seorang tour guide yang ‘ngoceh‘ sepanjang jalan. Karena ‘ngoceh‘ terus ini perjalanan 3.5 jam jadi tidak terasa.

Tempat Peristirahatan Pertengahan Nairobi – Amboseli
Isinya Mobil Land Rover Semua

Sebenarnya ada banyak pilihan lokasi wisata Safari di Kenya. Kalau nggak salah ada 25an National Park dan 20an National Reserve di Kenya. Yang paling bagus dan terkenal adalah Maasai Mara National Park. Taman nasional ini sama saja dengan Serengeti National Park, cuma beda nama saja karena Serengeti masuk wilayah Tanzania dan Maasai Mara di Kenya. Binatang binatangnya sama, hanya mondar mandir migrasi dari Serengeti ke Maasai Mara atau sebaliknya pada bulan bulan tertentu.

Pintu Gerbang Masuk Ke Amboseli National Park

Taman National yang paling besar di Kenya namanya Tsavo National Park, terdiri dari Tsavo East National Park luasnya 13,747 SqKm  dan Tsavo West National Park luasnya 9,065 SqKm. Tapi Amboseli adalah Taman Nasional yang terbanyak dikunjungi turis nomor 2 setelah Maasai Mara dengan jumlah pengunjung 120.000 berdasarkan catatan tahun 2006. Jumlah species binatangnya juga banyak, ada sekitar 400an.

Pedagang Asongan Didepan Pintu Gerbang Amboseli
National Park – Welcome To Kenya. Welcome To Amboseli

Saya memilih Amboseli National Park karena lokasinya bagus untuk photo photoan. Latar belakang pemandangannya cukup spektakuler yaitu gunung tertinggi di Afrika Kilimanjaro. Sayang saat saya datang puncaknya tertutup awan, jadi keindahan salju abadi di puncak gunung tidak bisa terlihat sama sekali.

Eh, Meskipun Lokasinya Terpencil, Bayar Tiket Masuk
Bisa Pakai Credit Card – Internet Juga Kencang

Sempat saya bingung saat membaca brosur brosur pariwisata di hotel. Safari Tour yang sedang saya cari ternyata tertulis di brosur dengan nama Game Drive Tour atau Reserve Game Tour. Bingung, apa pula ini, mana Safari Tour Kenya yang terkenal di segala penjuru dunia ?. Dalam bayangan saya, Game Drive Tour itu cuma main game atau paling banter wisata virtual nonton gambar binatang lewat TV atau layar lebar semacam main game Play Station atau XBox.

Peraturan Dan Tata Tertib  Di Area Taman Nasional Amboseli
Nggak Boleh Turun Dari Mobil Dan Main Main Drone

Eh ternyata salah, Game Drive Tour itu maksudnya wisata petualangan menyaksikan binatang liar di habitat aslinya dengan menggunakan Land Rover 4×4 dengan atap yang bisa dibuka dengan medan off road. Kadang lewat jalan tanah yang kering berdebu, tapi sering juga lewat jalanan becek, licin, berbatu, mendaki atau menuruni bukit. Sering kali juga sopirnya unjuk gigi, sengaja dilewatkan ke kubangan kerbau atau nyeberang ke parit parit berlumpur. Tapi semua tergantung dari sopirnya karena sebenarnya sudah disediakan jalan khusus buat mobil dan tidak boleh mengambil jalan pintas karena bisa mengganggu binatang. 

Horeee, Petualangan Off Road Di Mulai

Karena jenis tournya petualangan semacam ini, maka didalam mobil Land Rover disediakan plastik buat membungkus kamera dan handphone agar tidak basah. Disediakan juga lotion anti nyamuk, air bersih satu galon buat cuci kaki atau tangan kalau terpercik lumpur saat jalanan basah setelah hujan. Teropong Binocular untuk melihat binatang dari jarak jauh juga disediakan didalam mobil. Radio komunikasi juga wajib ada di mobil Land Rover ini. Sepertinya, radio komunikasinya menggunakan frekwensi khusus yang baru diaktifkan dan bunyi setelah membayar tiket masuk. 

Untung Nggak Hujan Jadi Jalanan Banyak Yang Kering

Dari jalan raya mulus Nairobi – Mombasa Road, untuk menuju ke pintu gerbang Amboseli National Park harus belok kanan melalui jalan tidak beraspal sekitar 20 menit. Off road seru dimulai di jalan ini. Sopirnya unjuk kebolehan nyopir di medan offroad. Begitu ada mobil lain sesama Land Rover bawa turis, aksinya nggak ketulungan dan bikin penumpang berdebar debar sepanjang jalan. Takut mobil terguling lalu satu persatu penumpangnya dijadikan santapan makan siang Singa, Cheetah, Hyena dan Macan Kumbang.

Zebra, Dan Wildebeest
Santapan Singa Dan Macan Tutul

Begitu tiba didepan gerbang Amboseli National Park, semua turis harus turun beli tiket dan disambut oleh pedagang asongan berpakaian tradisional suku Maasai. Meskipun lokasinya terpencil jauh dari mana mana, ternyata proses pembayarannya bisa pakai credit card. Artinya jaringan komunikasi di Kenya sudah maju dan terhubung sampai ke pelosok daerah. 

Rombongan Zebra

Radio komunikasi di mobil langsung aktif begitu tiket masuk dibayar. Sepanjang perjalanan di Taman Nasional semua mobil di pantau dengan cara memanggil call sign mobil setiap saat. Informasi dari mobil lain juga terdengar dengan jelas. ‘Roger…roger…..Ada Singa sedang ngantuk kekenyangan di patok no B49, silahkan mendekat gantiiiii‘. Dan semua mobil Land Rover rame rame mendekat dari berbagai arah. Singanya langsung kabur nggak tahan suara berisik.

Selesai sudah, tepat waktu maghrib kita sudah tiba kembali di Concorde Hotel & Suites, Nairobi.

Gajah Afrika Gemuk Gemuk

Menuju Dan Mendekati Gajah Liar

Nonton Singa Sedang Istirahat Kekenyangan
Setelah Menyantap Wildebeest

Nyampai Di Jalan Utama Setelah Menerobos
Jalan Pintas Naik Turun Tidak Rata

Belanja Pernak Pernik Kalung Khas Suku Maasai
Dari Pedagang Asongan Buat Oleh Oleh

Self Catering Apartment Edinburgh

Castle Suite 3 Old Town
Interior Tidak Kalah Dengan Hotel Bintang 5
Pernah dengar istilah ‘Self Catering Accomodation ?‘. Saya sempat terkejut saat pertama kali tinggal di penginapan jenis ini di Edinburgh, UK. NamanyaCastle Suite 3 Old Town’. Alamatnya 17/3 Grassmarket, Old Town, Edinburgh.  Saya pilih penginapan ini karena tarif per malamnya jauh lebih murah dibanding hotel atau apartment. Lokasinya sangat bagus sekali dan dekat dengan pusat keramaian turis. Dari dalam kamar bisa memandang keindahan Edinburgh Castle. Angkutan umum seperti Taxi, Bus Kota dan Hop On Hop Off semuanya lewat didepan penginapan ini.

 

Tidak Ada Resepsionist
Harus Janjian Dulu Saat Serah Terima Kunci

 

Self Catering Accomodation ini benar benar beda dibanding dengan Hotel, Resort, Apartment, Hostel, Motel, Bed And Breakfast, Homestay, Losmen (Inn) atau Guest House. Fasilitas kamarnya mirip Apartment, ada yang satu dan ada yang dua kamar tidur. Ada dapur lengkap dengan meja makan, microwave, kompor listrik dan pecah belah. Ada juga mesin cuci dengan sabun dan jemuran. Ruang keluarga dilengkapi dengan sofa, TV  dan wifi. Kamar mandi dan  kamar tidurnya tidak kalah dengan Five Star Hotel.
Edinburgh Castle Dilihat Dari
Jendela Ruang Keluarga

 

Perbedaan utamanya adalah ‘Tidak Memiliki Receptionist dan Room Boy‘, semua harus dikerjakan sendiri. Kalau mau check in, traveller/penyewa harus janjian dulu sehari sebelum datang. Harus jelas jam berapa dan ketemunya dimana untuk serah terima kunci. Begitu sudah dekat dengan lokasi hotel, misal di Airport, Stasiun Kereta Api, Bus Kota atau didalam Taxi, traveller/penyewa harus nelpon secepatnya, tidak boleh ngabari pakai whatsaps atau SMS. Kalau ngabari pakai whatsapp atau SMS sering tidak dibaca.
Kamar Bersih Dengan Design Modern Minimalis

 

Keunikan yang lain, depositnya cukup besar, sekitar GBP 200 dan harus dibayar paling lambat sehari sebelum check in secara online.. Kenapa depositnya besar sekali ?. Ternyata buat bayar denda. Ada peraturan yang cukup unik dan menarik. Traveller/penyewa bertanggung jawab untuk :

Ada Dapur Dengan Fasilitas Pecah Belah
Seperti Apartment
  • Membuang sampah ketempat sampah didepan gedung.
  • Mencuci semua piring, sendok dan gelas yang digunakan. dan membersihkan dapur
  • Ngepel lantai dan menyedot dengan vacuum cleaner semua lantai dan karpet.
  • Menggaanti Sprei dan sarung bantal dengan yang baru didalam lemari.
  • Mencuci handuk, sprei dan sarung bantal sebelum meninggalkan kamar.
Ada Meja Makan Kecil
Kelihatannya ribet tetapi sebenarnya tidak sama sekali. Tinggal masukkan handuk, sprei dan sarung bantal kedalam mesin cuci dan tinggalkan mesin cuci dalam keadaan menyala sebelum meninggalkan gedung.  Kunci pintu letakkan ditempatnya diatas meja. Periksa semua ruangan dan pastikan keadaan perabotan sama persis dan sama bersihnya seperti ketika masuk. Dijamin deposit akan kembali utuh dalam waktu 2×24 jam ke card yang sama saat anda membayar deposit sebelumnya.

 

Tempat Kunci Harus Diletakkan Ditempatnya
Kalau Check Out
Piring Harus Dicuci Sendiri Dan Diletakkan Ditempatnya
Kalau Check Out
Handuk Harus Dicuci Sendiri Dan Tinggalkan
Didalam Mesin Cuci Saat Check Out
Karpet Dan Lantai Harus Dipel Dan Disedot
Vacuum Cleaner Sendiri Sebelum Check Out
Tetangganya Rumah Tangga Biasa
Bau Masakan Kalau Lewat Didepan Tetangga
Pintu Masuk Diantara Toko
Buang Sampah Sendiri Setiap Hari
Sebelum Check Out

 

Gereja Buntung Royal Garrison Portsmouth

Papan Keterangan Didepan Pintu Gerbang
Penjelasannya Lengkap
Namanya Royal Garrison Church, lokasinya dekat sekali dengan tempat saya tinggal di Gunwharf Quay. Setiap saat saya bisa mengamati ada atau tidaknya aktifitas di gereja ini karena lokasinya diseberang pantai tidak jauh dari jogging track tempat saya biasa jalan jalan berolah raga.
Pintunya Selalu Terkunci
Kalau Ada Rombongan Turis Boleh Numpang Masuk
Lokasi tepatnya di Penny Street, Grand Parade, Portsmouth, Hampshire. Hampir tidak ada aktifitas sama sekali di gereja ini setiap harinya. Sepertinya hanya difungsikan sebagai cagar  budaya saja dan tidak digunakan untuk ibadah lagi. Sesekali dibuka untuk umum, terutama hanya dibuka untuk rombongan turis yang sudah ada appointment saja.
Halaman Depannya Penuh Kuburan
Pernah Jadi Rumah Sakit, Dan Gudang Senjata

 

Gereja buntung Royal Garrison ini sangat tua sekali. Didirikan tahun 1212 oleh Bishop Of Winchester dan saat itu digunakan juga sebagai rumah sakit dan hostel. Pernah juga digunakan sebagai gudang amunisi dan senjata. Tanggal 10 january 1941, atapnya kena sambar bom saat Perang Dunia II dan dibiarkan terbuka sampai saat ini.
Kuburan
Di Bom Tahun 1941 Saat Perang Dunia II
Kaca kaca ‘stained glass‘ di semua jendela dan pintunyapun sangat unik. Gambarnya kebanyakan tentara yang sedang berperang lengkap dengan senjata, tank, kapal perang dan pesawat temput. Tidak hanya gambar tentara saja, tetapi gambar urutan sejarah mulai saat masih sebagai rumah sakit (dokter, perawat dan pasien) sampai Perang Dunia II. Arsiteknya sepertinya lupa kalau gereja itu setidaknya harus ada gambar Yesus, Bunda Maria atau yang lainnya.
Kuburannya Paling Keren Sendiri
Saya paling ngeri kalau jalan jalan di kota Portsmouth terutama sepanjang jogging track Clarence Pier tengah malam. Saat melintasi gereja buntung Royal Garrison ini, suasananya terasa ‘Singup’ (bahasa Jawa). Sepanjang pantai sekitar gereja ini banyak sekali monumen peringatan korban perang dunia II, terutama angkatan laut Inggris. Kota Portsmouth memang pangkalan angkatan laut dan kapal perang Inggris.
Bentuknya Sekarang Dibiarkan Buntung Tanpa Atap
Sejak Dibom Tahun 1941
Saat melintasi Gereja Buntung Royal Garrison ini, dari jauh terlihat banyak sekali kuburan dihalaman gereja. Ada satu kuburan paling besar tepat didepan pintu gereja yang cukup menyeramkan. Kuburan besar ini diatasnya ada patung jenasah dengan posisi tidur. Entah patung jenasah siapa itu, mungkin patung jenasah pak Garrison sendiri. Kalau Patung tersebut mendengar suara cewek, katanya langsung terbangun dan berdiri. Tapi untungnya patung tidak bisa mendengar, jadi nggak akan pernah bisa berdiri sendiri.

 

Jogging Track Sepanjang Pantai Tempat Saya
Jalan Jalan Setiap Hari
Portsmout Kota Angkatan Laut Inggris
Dimana Mana Banyak Tugu Peringatan/Kuburan
Korban Perang Dunia II
Halamannya Luas, Bersih Dan Indah
Tapi Banyak Orang Mati Disini Saat Perang Dunia II
Mozaik Kacanya Unik
Mungkin Satu Satunya Gereja Dengan Mozaik Tentara

 

Hanya Di gereja Buntung Royal Garison
Anda Bisa Melihat Jendela Dengan Mozaik Perang
Nggak Ada Gambar Yesus, Bunda Maria Atau
Gambar Gambar Lain Seperti Umumnya Gereja
Atapnya Dibiarkan terbuka Sejak Terkena Bom

 

Baca Juga :

Moi International Airport Mombasa Selayang Pandang

Gelap Gulita – 15 Menit  Baru Ada Satu
Petugas Bandara Yang Datang Menyalakan Lampu
Jam 11 siang pesawat Ethiopian Airlines yang membawa saya sekeluarga terbang dari Addis Ababa bersiap siap untuk mendarat di Moi International Airport, sebuah bandara Internasional kota Mombasa, Kenya. Dari atas saya perhatikan bandara ini cukup besar, jauh lebih besar dibanding bandara Adi Sucipto Yogyakarta atau Ahmad Yani Semarang. Cocok sekali, Mombasa sebagai kota terbesar nomor dua di Kenya memeliki bandara internasional yang begitu besar.
Penumpang Mulai Gelisah
Nunggu 15 Menit Dalam Kegelapan
Ada dua buah runway, runway utama panjangnya sekitar 3 – 3.5 kilometer, sedangkan runway kedua lebih pendek. Perkiraan saya hanya 1 – 1.5 kilometer saja. Runway 1 dilengkapi dengan ILS (Instrument Landing System). Artinya bandara ini memang bandara internasional yang mampu didaratin pesawat besar dan kecil, bukan bandara icak icak sekedar buat gaya gayaan bisa bikin proyek bandara.
Mombasa Kota Pantai Dan Pelabuhan
Patung Di Bandara Cukup Lumba Lumba
Turun dari pesawat, semua penumpang jalan kaki menuju counter pemeriksaan passport didalam gedung yang cukup besar dan megah. Tapi saya agak terkejut dan was was. Di counter imigrasi ternyata tidak ada petugas imigrasi sama sekali, kosong melompong dan bahkan gelap gulita. Wah, gawat nih, 15 menit menunggu di kegelapan membuat pikiran saya mulai ngacau. Membayangkan ada sesuatu kejadian luar biasa di Kenya. Mungkin diluar sana ada bom meledak, teroris Al Shabab, Boko Haram, Kudeta menggulingkan pemerintah, wabah penyakit atau cerita cerita seram lain tentang Afrika yang sering berseliweran di TV, medsos, film dan koran.
Horeee, Lampu Menyala
15 Menit Nunggu, 30 Menit Berdiri Ngantri
Ternyata saya salah, nggak ada apa apa  di Kenya. Petugas imigrasinya telat datang, klewas klewes minta maaf kepada semua penumpang alasannya rumahnya jauh dan jalanan macet ada pekerjaan pembangunan jalan menuju bandara. Hanya seorang diri, petugas ini tugasnya multi fungsi mulai membuka pintu, menyalakan lampu, menyalakan komputer, mengatur antrian, menyingkirkan tanda tanda larangan masuk dan stempel pasport. Lumayan, 15 menit nunggu, 30 menit ngantri. Begitu semua penumpang sudah distempel passportnya, langsung komputer dan lampu dimatikan kembali. Si Petugas langsung ngloyor entah pergi kemana
Hanya Satu Petugas Imigrasi
melayani 100an Penumpang Ethiopian Airlines
Hanya Turkish Airlines, Ethiopian Airlines, RwandAir dan Meridiana yang terbang dari luar negeri menuju bandara ini langsung. Tidak semuanya punya jadwal terbang tetap setiap hari. Pesawat lain kebanyakan pesawat charter, tidak setiap hari mendarat di bandara ini contohnya Bravo Airways, Condor, Enter Air dan Neos. Pesawat lokal juga ada, umumnya pesawatnya kecil kecil dengan mesin baling baling. Contohnya Kenya Airways (pesawatnya Embraer),  Mombasa Air Safari, Jambo Jet, Fly540 dan Fly SAX.
Gerbang Masuk Moi International Airport
Mombasa, Kenya
Di halaman luar bandara, terdapat tempat parkir yang sangat luas dengan taxi bandara berwarna kuning terparkir rapi menunggu penumpang. Ada dua terminal saja di Moi International Airport ini yaitu terminal Kedatangan dan terminal Keberangkatan. Di Terminal Keberangkatan hanya ada satu buah cafe (Rafiki Cafe) dan satu buah Duty Free Shop, namanya Candy Shop. Tempat duduk buat nunggu keberangkatan sangat banyak tapi saya tungguin hampir dua jam tetap saja kosong melompong.
Taxi Kuning Moi International Airport
Rapi Parkir Sabar Nunggu Penumpang
Iseng iseng saya ajak ngobrol pelayan Rafiki Cafe. Saya tanyakan kenapa bandara internasional sebagus dan sebesar ini bisa kosong melompong. Jawabnya, cukup mengejutkan. ‘No Mc Donald in Kenya, never….‘. Bingung saya mengartikan jawabannya. Ternyata pelayan yang satu ini benci sampai ke ubun ubun apapun yang berbau Amerika. Terutama pemberitaan TV ala Amerika dan juga medsos yang dianggapnya semua produk Amerika. Satu jam saya ajak ngomong, keluar semua unek uneknya.
Mirip Bandara Adi Sucipto Yogya
Tapi Moi Airport Jauh Lebih Besar
Katanya penderita AID yang terbanyak di Amerika, yang dituduh Afrika. Monyet dan binatang Afrikapun tidak luput dari tuduhan sebagai sumber penyakit yang mewabah didunia.  ‘Coba lihat seluruh Kenya, siapa yang AID, Bird Flu, Ebola, Yelow fever ?, Africa is continent friend, hundred countries are in Africa‘. Rupanya, orang ini jengkel dengan masifnya pemberitaan negatif tentang Afrika di TV dan medsos. Medsos buatan Amerika inilah sumber utama yang bikin turis ogah datang ke Kenya.

Mirip Halim Perdana Kusuma Airport Jakarta

Akhir kata, kalau anda ke Mombasa, jangan lupa mampir ke Rafiki Cafe dan temui Elewa. Sambil ngopi dengarkan cerita ceritanya. Pasti seru.

Counter Check In Sepi
Check In Penumpangnya Sedikit
Karena Pesawat Lokal Kecil Dan Masih Baling Baling
Rafiki Cafe
Lumayan Ada Yang Jual Minuman
Ruang Tunggu Keberangkatan
2 – 3 Jam Saya Tungguin Tetap Saja Kosong
Candy Shop Jual Permen, Buku Travel
Cendera Mata Dan Minuman Kaleng
Banyak Burung Beterbangan Didalam Airport
Ada Wabah Flu Burung Di Amerika Yang Dituduh
Burung Di Afrika.