Category Archives: Liburan

Lake Como Italy Sebelum Wabah Corona

Lake Como, Como Province
Region Lombardy
Photo photo di halaman ini saya ambil beberapa tahun lalu jauh sebelum ada pandemic Virus Corona / Covid-19 yang terjadi mulai awal tahun 2020 di Italy.  Jadi, tidak ada hubungannya dengan Lockdown yang sekarang sedang berlangsung diseluruh penjuru Italy. Lokasi tepatnya photo photo ini di sekitar Lake Como, Italy Utara dan masuk dalam wilayah Lombardy, propinsi Como.
Jalan Di Italy Hampir Semuanya Sempit
Jangan Harap Anda Bisa Melihat Lambotghini Atau Ferrari
Mobil Sport Italy Ini Dipasarkan Di Timur Tengah
Lho, kok sepi sekali ?. Ya jelas sepi sekali. total penduduk Italy itu hanya sekitar 60 Juta, nggak ada apa apanya bila dibanding dengan jumlah penduduk pulau Jawa yang 150 Juta (Source Wikipedia). Wilayah Lombardy ini masih dibagi lagi menjadi 12 propinsi, diantaranya Bergamo, Brescia, Como, Cremona dan lain lain. Jadi sebenarnya Italy itu memang sepi nyaris nggak ada penduduknya.
Losmen Dan Mobil Daerah Lain Banyak Di Lake Como
Kurang Jelas, Istri Siapa Yang Dikamarkan Di Losmen

 

Propinsi Como yang saya kunjungi ini luasnya hanya 1288 SqKm dengan jumlah penduduk sekitar 600,000 orang saja (Separuh penduduk Klaten). Jadi, bisa kebayang nggak kalau jabatan Gubernur Propinsi di Italy itu yang diurusi sebenarnya sedikit, hanya setara dengan  tanggung jawab seorang Camat kalau di Indonesia. Itulah sebabnya kenapa Italy dan negara Eropa lain pada kalang kabut ngurusi warganya yang terpapar Corona, sedangkan Indonesia bisa lebih tenang dan santai menghadapi Corona karena sudah terbiasa ngurusi warganya yang luar biasa banyak, bandel dan keras kepala.
Mobil Mobil Yang Tidak Bergerak Dari Kemarin
Banyak Orang Dari Milan Yang Ngamar Di Lake Como

 

Tapi di photo photo yang sering kita lihat sepertinya Italy itu negara besar yang selalu ramai dan padat penduduk. Yah, itu benar di ibukota Roma dan beberapa kota besar. Tapi, mereka itu sebenarnya turis asing. Kota Roma (dan Vatican) memang selalu ramai pendatang dari mancanegara terutama umat Kristiani untuk urusan keagamaan. Sudah nyampai ke Roma, biasanya mereka wisata juga ke berbagai kota yang lain. Kalau anda mau blusukan ke kota lain yang tidak ada turismya, akan terasa sepinya.
Sepi, Di Tempat Peristirahatan Semacam Ini
Orang Kota Masuk Villa Lalu Tidak Keluar Lagi

 

Kota kota disekitar Lake Como ini kira kira sama dengan Danau Toba atau Puncak yang hanya ramai saat akhir pekan atau ada liburan panjang saja. Hotel hotel disekitar Lake Como ini juga penuh oleh kunjungan warga Italy dari kota kota terdekat karena merupakan tempat peristirahatan yang cukup dikenal oleh warga Italy. Turis asing jarang yang blusukan sampai ke Lake Como, biasanya yang dikunjungi turis asing cuma Venesia, Milan, Pisa dll.
Mobil Mobil ‘Orang Kota’
Yang Nginap Di Lake Como

Karena Lake Como merupakan danau dan kota tempat peristirahatan, maka saat saya kelilingi dan photo jam 09:00 pagi, penghuninya masih pada molor tidur semua. Udaranya yang sejuk membuat penghuninya betah tidur didalam villa dan losmen yang cukup banyak disekitar Lake Como ini. Saya tidak tahu, yang menginap di villa dan losmen tersebut suami istri atau bukan karena hampir semuanya berpasang pasangan. Mungkin saja sekretaris di kantor, pacar atau istri/suami orang lain.
Losmen Melati Nggak Punya Tempat Parkir
Barangkali Mereka Pamitnya ‘Sedang Tugas Luar Kota’

 

Sama halnya dengan Puncak, di sekitar Lake Como ini ada juga villa villa yang sangat mewah dengan tempat parkir pribadi, hotel juga ada, losmen dan rumah pribadi yang disewakan juga banyak sekali. Nyaris nggak ada beda sama sekali dengan suasana di tempat peristirahatan orang Jakarta di Puncak.  Didepan villa dan losmen sering saya temukan tulisan besar yang artinya kira kira ‘Masih Ada Kamar Kosong

Hotel Melati Di Lake Como
Entah Sekretaris, Pacar Atau Istri Orang Yang Dibawa
Nginap Di Losmen Losmen Lake Como

 

Villa Yang Agak Bagus Punya Garasi Dan
Pagarnya Tertutup Pepohonan

 

Villa Yang Punya Halaman Parkir Privat Juga Ada

 

Sepi Sekali, Orang Kota Benar Benar
Memanfaatkan Waktu ‘Tugas Luar Kota’nya Hanya Dikamar Saja

 

Masih Ada Kamar Kosong

 

Banyak Terowongan Di Lake Como

 

 

Perjalanan Jauh Birmingham Portsmouth

Pemandangan Pedesaan Antara Birmingham, Bristol,
Bath, Salisbury, Southampton Dan Portsmouth

 

Saya paling senang melakukan perjalanan darat, nyetir sendiri dengan mobil sewa kalau mengunjungi negara manapun di dunia. Selalu saja ada kegaduhan antar ayah, emak dan anak anak kalau sedang perjalanan jauh dengan mobil. Mulai dari yang mengeluh kebelet ngising, nyalahin sopir kalau kesasar, ada yang lapar/haus, ada yang tidur mulu sejak berangkat, ada yang kaget terbangun karena ngerem mendadak hampir nabrak kambing sampai ngomel ngomel ditilang polisi. Semua bagian dari wisata, semakin gaduh, jengkel, marah, sedih dalam perjalanan di negeri orang semakin berkesan.
Mobil Sewaan Yang Saya Pakai Keliling UK
Hyundai Elantra

 

Kali ini saya melakukan perjalanan darat dari Birmingham menuju ke rumah saya di Portsmouth melewati kota Bristol, Bath, Salisburry dan Southhampton. Kira kira menghabiskan waktu sekitar 5 Jam perjalanan. Sepanjang perjalanan yang kita saksikan adalah pemandangan yang natural, tidak terkesan glamour sama sekali seperti yang sering kita saksikan pada photo photo majalah pariwisata atau film hollywood.

 

Ketemu Bule Inggris Lagi Istirahat
Bekal Yang Dibawa Lumayan Banyak Juga

 

Kehidupan penduduk juga terlihat sangat bersahaja disepanjang perjalanan. Petani ada yang berkebun dengan traktornya, peternak juga asyik menggembalakan sapi dan kambingnya. Desa desa yang kita lalui juga khas pedesaan eropa dengan jalan jalan sempit berbatu dan beberapa ada yang beraspal. Sama dengan di Indonesia, penduduk pedesaan sangat ramah dan senang diajak bicara dibanding dengan penduduk London dan  kota kota besar lain.

 

Ada Juga Yang Istirahat Dan Makan Bersama Keluarga
Di Dekat Parkiran Mobil

 

Karena seringnya saya melakukan perjalanan darat dengan mobil dan berinteraksi dengan warga lokal, saya bisa menyimpulkan bahwa semua orang itu sejatinya sama saja apapun suku bangsanya. Tidak tergantung warna kulit, agama atau pilihan politik  sama sekali. Penduduk desa cenderung lugu dan jujur dan senang menolong kalau kita sedang tersesat atau sengaja menyesatkan diri.

 

Ndeso di UK
Jenis Tanaman Di Pedesaan Berbeda Dengan Di Indonesia

 

Yang menarik, orang Inggris kalau melakukan perjalanan jauh juga sama persis dengan orang Indonesia. Cari tempat istirahat, menggelar tikar, dan membuka bekal yang dibawa. Si Bapak sibuk mengangkat semua barang bawaan dari bagasi, anak anak membantu menggelar tikar dan menata barang barang kecil dan si Emak sibuk bagi bagi bekal makanan yang dibawa.

 

Jalan Desa Yang Sudah Diaspal

 

Yang berbeda hanya makanannya saja. Tidak terlihat sama sekali Arem Arem, Magic Jar, Indomie Gelas, Rantang, Thermos Air Panas atau barang bawaan khas orang Indonesia lainnya. Sepertinya bekal dan barang bawaan bule lebih ringkas dan praktis dibanding barang bawaan orang Indonesia.  Semua makanan sudah dikemas dari rumah dan tinggal dibagi saja.
Masuk Desa Kecil

Menurut saya bekal makanan dan barang bawaan bule Inggris saat piknik atau perjalanan jauh kurang bervariasi, kurang seru dan tidak seribet seperti orang Indonesia. Yang terlihat ribet, di bagasi orang Inggris ternyata isinya banyak sekali bola dan skateboard, bukan koper pakaian. Orang Indonesia koper pakaian sampai ditaruh diatas mobil. Artinya, orang Inggris jarang mandi dan ganti pakaian.

 

Rumah Rumah Di Desa
Sebelum Salisbury

 

Jalan Desa Sepi
Sengaja Masuk Ke Desa Desa

 

Akhirnya Tersesat Juga
Untung Penduduk Desa Ramah Dan Baik Hati
Dibantu Aba Aba Saat Putar Balik



Baca Juga :

 

Jalan Jalan Ke Pasar Kere Birmingham

Lewat Pintu Masuk Pasar Sayur Dan Buah
Sebelum Nyampai Ke Los Pakaian Bekas
Kalau anda turis yang hanya berkunjung beberapa hari saja di United Kingdom, nggak bakalan anda mengertahui pasar ‘Kere‘ seperti yang akan saya tulis dibawah ini. Biasanya turis hanya mengunjungi tempat tempat eksotis yang indah dipandang mata saja. Mahasiswa yang kuliah di UK sebenarnya sering keluar masuk ke pasar ‘Kere‘ semacam ini tapi umumnya tidak mau bercerita sedikitpun, lihat saja FB atau tweeternya yang dipajang hanya photo photo ditempat pariwisata yang indah.
Kios Vermak Blue Jean, Jaket
Dan Pakaian Jenis Apapun

 

Salah satu pasar ‘Kere‘ yang saya kunjungi kali ini namanya Rag Market di kota Birmingham. Jangan sedikitpun membayangkan kalau negara negara Eropa itu pasti glamour, penduduknya kaya raya, belanja selalu di Mall dengan belanjaan barang barang mewah buatan designer terkenal. Salah besar kalau anda berpikiran seperti itu, apa yang anda pikirkan itu hanya ada di Film Holywood.

 

Mau Vermak Pakaian Bisa Ditunggu
Ongkosnya Tawar Menawar

 

Pasar ditengah kota Birmingham ini tidak terlalu besar bila dibandingkan dengan pasar pasar tradisional di Indonesia. Yang dijual kebanyakan pakaian bekas. Ada juga sebenarnya pakaian baru jenis ‘Kodian’, beli 10 dapat gratis satu atau Buy One Get One dan semacamnya.
Promosinya ‘Masih Bagus, Baru Dicuci Sekali’
Sepertinya pakaian baru yang murah meriah tersebut didatangkan dari luar negeri, biasanya dari China, India atau Pakistan. Beda sekali ya, Indonesia mengimport barang dari luar negeri lalu dijual mahal di Mall. Sedangkan UK mengimport barang dari luar negeri lalu dijual murah di trotoar buat rakyatnya.

 

Jaket Bekas Harga GBP 5 – GBP 10
Bisa Ditawar Tinggal Pilih Yang Paling Kinclong

 

Sama halnya dengan pasar pasar di Indonesia, barang yang dibeli bisa langsung dipermak ditempat apabila kegedean. Disekitar pasar pakaian bekas ini ada beberapa kios jahit yang siap melakukan permak sesuai dengan ukuran tubuh anda. Terserah pakaian apa yang anda beli, celana blue jean, jaket, atau baju, rok atau gaun model apapun semua bisa dipermak ditempat dan anda tinggal menunggu.

 

Gaun / Rok Baru Dan Bekas Harga
Relatif Sama – Harus Pandai Menawar

 

Mengenai harga jelas tawar menawar. Permak pakaian juga tawar menawar. Rata rata harga pakaian jenis apapun ditawarkan sekitar GBP 5 – GBP 10. Tertulis jelas cukup rapi dengan warna kuning dan tulisan merah disetiap gantungan pakaiannya.
Bule Inggris Belanja Pakaian Bekas
Rupanya mas Ardi tertarik dengan  salah satu jaket tipis yang tertulis GBP 5. Saya tawar harganya sampai 50 % dan sukses. Tidak terlalu lama tawar menawarnya langsung dilepas penjualnya dengan harga GBP 3. Nah lo, pulang kembali ke Kuwait mas Ardi bawa oleh oleh pakaian bekas.

 

Cara Meletakkan Rak Pakaian Sesukanya

 

Semua Pakaian Bekas Dan Murah

 

Serba GBP 5 Tapi Bisa Ditawar
Beli Satu Dapat Dua

 

Soal Pakaian Bule Lebih Sederhana Dibanding
Orang Indonesia

 

Katanya Alasan Lingkungan Yang Membuat
Bule Sadar Diri Tidak Membuang Pakaian Bekasnya
Bule Memang Pelit  Dan Pinter Cari Alasan

 

Kalau Orang Indonesia Lebih Boros
Pakaian Bekasnya Umumnya Dibuang
Atau Dijadikan Lap Mobil

 Baca Juga :

 

Melihat Dari Dekat Stonehenge

Stonehenge, Monumen Pra Sejarah
Yang Dibanggakan Bangsa Inggris

Perhatikan sekitar anda, apapun yang berbau ‘Luar Negeri‘ ditiru dan dijiplak mentah mentah. Contohnya dandanan banyak yang meniru Arab. Nama Cluster perumahan kurang sreg kalau bukan nama Las Vegas, Tokyo, Sommerset dll.  Bikin obyek wisata juga njiplak kota kota di Eropa {The Voyage Bogor), Bikin Masjid meniru St Basil Moscow. Celakanya Stonehenge pun ditiru mentah mentah di Cangkringan, Kaliurang.

 

Kecil, Borobudur Dan Prambanan Jauh
Lebih Bagus Dan Ada Relief, Ukiran Dan Prasasti Kino

 

Mari saya ajak anda jalan jalan melihat Stonehenge asli di Wiltshire, sekitar 3 Km dari Amesbury di UK. Monumen pra sejarah ini kalau kita perhatikan sebenarnya nggak ada apa apanya dibanding Borobudur atau Prambanan.  Karena lokasinya cukup jauh dari gedung penjualan tiket maka perlu naik bus sekitar 15 menit menuju kesana. Jadi beli tiket masuk dulu baru ngantri bus yang lewat setiap 30 menit. Dari tempat pemberhentian bus masih harus jalan kaki sekitar 1 – 2 Km untuk mendekat ke tumpukan batu yang bernama Stonehenge tersebut.
Gedung Utama Tempat Beli Tiket Masuk,
Museum, Restaurant Dan Toko Souvenir

Sama sama terbuat dari batu, tapi Stonehenge asli Inggris itu kecil sekali, tingginya sekitar 4 meter, lebar 2.1 meter dan berat 25 ton setiap tiangnya. Hanya batu ditumpuk tidak ada relief apapun. Tetapi penjelasan dan uraiannya hebat dan banyak tersebar di batu marmer semacam  ‘Prasasti Modern’ di sekitar gedung pintu masuk dan cukup jelas menguraikan sejarahnya.

Ngantri Karcis Masuk
Tidak ada ukir ukiran apapun sama sekali apalagi relief, diorama atau prasasti kuno yang bisa bercerita tentang sejarah pembangunannya. Artinya, orang Inggris jaman dulu itu nggak ada apa apanya dibanding orang Indonesia yang bikin Prambanan dan Borobudur. Orang Inggris nggak bisa mengukir atau memahat bikin relief dan prasasti. Dengan kata lain kemungkinan nggak bisa baca tulis atau belum mengenal abjad dan tulisan.
Prasasti Modern Menjelaskan Kecerdasan Bangsa
Inggris Dalam Hal Menyusun Batu 25 Ton
Tapi, berdasarkan cerita yang saya baca di ‘prasasti modern’ yang bertebaran disekitar gedung penjualan tiket dan museum, saya bisa mengetahui bahwa para archeologist yang meneliti kawasan Stonehenge inilah yang kelewat canggih. Menentukan umur Stonehenge menggunakan tehnik Radiocarbon Dating dan Analisa DNA terhadap temuan apapun. Apa pula ini, ujug ujug menyimpulkan dibangun 3000 – 2000 SM. Bingung saya, ini umur batuannya atau tahun pembangunannya ?. Latar belakang ilmu Geology saya hanya bisa memperkirakan umur batuan, bukan menentukan kapan batu disusun.
Rumah Honai Papua
Saya Ragu Jaman Pra Sejarah Dulu Orang Inggris
Punya Jerami Dan Semen

 

Lebih bingung lagi, pemandangan yang saya lihat adalah rumah rumah Honai dengan atap jerami seperti yang sering kita saksikan di Papua.  Petunjuk yang tertulis di ‘Prasasti Modern’ yang saya baca mengatakan rumah tersebut adalah rumah asli bangsa Inggris. Hhhh, jangan jangan cuma khayalan archeologist Inggris setelah nglencer ke Indonesia dan melihat rumah tradisional Honai di Papua. Mana mungkin bisa merekonstruksi rumah  yang dibangun 3000 –  2000 SM.

 

Rumah Honai Papua Diaku Sebagai
Rumah Asli Bangsa Inggris Di Stonehenge

 

Petunjuk lain yang saya baca dekat dengan rumah Honai isinya beberapa teori cara bangsa Inggris jaman dulu mengangkat dan menyusun batu raksasa saat pembuatan Stonehenge, lengkap dengan teori teori fisika, matematika dll yang intinya nggombal tentang kecerdasan bangsa Inggris dalam hal mengangkat dan menyusun batu 25 ton. Menurut saya kelewat tinggi nggombalnya. Tetapi banyak orang yang percaya, mungkin cuma saya saja yang nggak mudah percaya gombalan semacam itu.
Ini Prasasti Modern Berisi Teori Dan Interpretasi
Archeologist Terhadap Temuan Temuannya
Sebenarnya tidak salah sama sekali apa yang tertulis di ‘Prasasti Modern’ di area Stonehenge. Memang seharusnya siapapun bisa membanggakan sejarah bangsanya seperti yang dilakukan bangsa Inggris ini meskipun dengan cara sedikit nggombal. The Present Is The Key To The Past, jadi hal biasa kalau interpretasi masa lalu archeolog Inggris ini agak meragukan. Mending archeolog Borobudur dan Prambanan, interpretasi masa lalunya lebih akurat karena berdasarkan relief dan temuan prasasti kuno.
Harus Naik Bus Dulu 15 Menit Menuju
Lokasi Stonehenge. Nunggu Busnya Yang Lama
Masih Harus Jalan Kaki Menuju Stonehenge
BLumayan Jalan Kaki 1 – 2 Km

 

Pintu Keluar Dilewatkan Toko Souvenir
Biar Belanja
Lebih Menarik Di Toko Souvenir Daripada Di Stonehenge
Nggak Ada Relief Yang Bisa Bercerita Di Stonehenge
Museum Di Kemas Sangat Bagus Dan Modern
Disinilah Inggris Membangun Citra
Seolah Olah Bangsa Yang Cerdas Sejak Dulu
3D Screen Di Museum
Baca Juga :

 

Lindenhof Kena Gusur

Gang Lindenhof – Potsdam
Mungkin anda sudah terbiasa menyaksikan pedagang, lapak kaki lima atau rumah yang digusur dengan alasan tertentu oleh pemerintah daerah. Sepertinya gusur menggusur itu cuma ada di Indonesia saja. Salah besar kalau anda menganggap penggusuran hanya ada di Indonesia saja. Di Jerman juga ada penggusuran dan saya saksikan sendiri kegelisahan para calon korban penggusuran  saat dapat surat peringatam akan digusur dari pemerintah kota.
Lorong Gang Lindenhof Diantara Toko

Tempat yang akan digusur dan ditertibkan namanya Lindenhof. Lokasinya sangat strategis yaitu di pusat kota Potsdam, Jerman. Lokasi ini selalu ramai dengan turis dari segala penjuru dunia karena dekat dengan Sansoucci Palace. Sebenarnya hanya sebuah gang sempit dengan panjang sekitar 50-75 meter. Isinya lapak lapak PKL dan berbagai macam dagangan seperti layaknya pedagang kaki lima di Indonesia. Ada juga yang agak besar berupa rumah yang diubah menjadi toko cendera mata di ujung jalan.

 

PKL Gang Lindenhof Potsdam
Kebanyakan Jual Barang Murah Dari China
Kira kira hanya ada sekitar 6 – 10 rumah type RSS saja di Gang Lindenhof ini. Ada yang halaman sempit rumahnya disewakan buat pedagang untuk menggelar dagangan. Ada juga yang disewakan untuk warung atau tempat usaha kecil kecilan semacam salon perawatan kuku. Jujur saja, kalau bukan di Jerman saya nggak akan masuk ke gang butut seperti ini. Barang yang dijual hampir semuanya kwalitas murah meriah buatan China semua.

 

Tas Plastik Warna Warni Ala Tanah Abang
Saat saya datang, semua pedagangnya sedang gelisah semua karena baru saja menerima surat peringatan agar mengosongkan gang tersebut dari aktifitas perdagangan. Ada pedagang yang nyerocos ngomong nggak jelas. Untungnya pakai bahasa Jerman jadi saya agak tenang karena tidak tahu artinya meskipun ngoceh didepan saya. Dari ocehannya, yang saya tangkap, mereka resah karena mulai January 2020 tempat ini harus bersih dan tidak ada yang berdagang lagi ditempat ini. Tinggal pilih, mau pindah sendiri sukarela atau diusir paksa.
Aneh, Jaman Serba Internet, Google Dan Email

Masih Ada Yang Jual Postcard

Informasi yang diterima pedagang sepertinya simpang siur. Ada yang mengeluh ‘tidak transparan’ , ‘tanpa perencanaan’, tidak disosialisasikan terlebih dahulu dll. Jadi semua kompak mengatakan tidak ada yang tahu mau dipakai apa tempat ini setelah diusir nantinya, Pemerintah Tata Kota punya catatan sendiri bahwa sosialisasi sudah disampaikan sejak beberapa bulan lalu. Nah Lo….

 

Rumah Diujung Yang Paling Besar Sendiri
Jualan Souvenir Buatan China

Ada pedagang yang memprovokasi juga katanya mau dijadikan hotel, ada juga yang ngompor mau didirikan apartment, Tapi ada juga yang langsung menuding orang orang di City Council pada nggak bener semua.  Pokoknya gaduhnya sama persis dengan kusak kusuk diantara korban penggusuran di Indonesia.

 

Ada Juga PKL Yang Jual Kacamata Murah Meriah
Dari nguping dan tanya jawab dengan pedagang saya jadi tahu juga ternyata para pedagang tersebut menyewa lapaknya bulanan ke landlord pemilik tanah. Sudah beberapa bulan ini si landlord tidak mau menerima uang sewa bulanan tanpa memberi alasan yang bisa diterima oleh pedagang. Tahu tahu muncul surat perintah pengosongan mulai January 2020 dari City Council.

 

Kalau Diphoto Kelihatan Bagus Ya
Sebenarnya Sama Saja Dengan Lapak PKL Di Indonesia
Sekarang sudah bulan February 2020. Saya tidak tahu lagi apakah sudah digusur atau belum para PKL Lindenhof tersebut. Saya coba mencari tahu melalui mbah Google, tampaknya semakin seru karena ada yang protes beberapa kios bertahan tidak mau digusur sama sekali. Alasannya sudah bayar kontrak sewa long term, bukan bayar sewa bulanan seperti PKL yang lain. Jadi minta pengembalian uang sewa yang telah dibayarkan plus uang tolak yang tidak kecil. Tambah runyam.

 

Hotel Backpacker Di Nepal

Tamu Hotel Umumnya Bertujuan Untuk Mendaki Gunung
Jadi Check In/Out Hanya Bawa Ransel Doang
Di Nepal yang namanya Hotel itu beda dengan negara negara lain. Saya baru mengetahui setelah putar putar ke beberapa kota baik di ibukota Kathmandu, Pokhara, Nagarkot maupun Lukla, Ternyata yang namanya Hotel di Nepal itu kalau di Indonesia kira kira setara dengan Losmen. Jarang sekali Hotel sekelas Hotel Bintang 5 saya temukan diseluruh kota di Nepal.

 

Ada 3 Koper Yang Aneh Sendiri Diantara Ransel
Koper Itu Milik Saya
Jadi, saat saya booking online, semua photo tentang fasilitas hotel terlihat begitu bersih dan indah. Nama nama hotel juga banyak yang sangat terkenal bahkan sudah lama saya mengenal nama nama tersebut sebagai Hotel berbintang 5. Sebut saja salah satunya adalah Four Seasons Hotel, ternyata Four Seasons di kota Pokhara Nepal ini adalah Losmen backpacker yang letaknya mblusuk di kampung dan nggak ada hubungannya sama sekali dengan Four Seasons Hotel di negara lain.

 

Hotel Four Seasons Palsu
Di Pokhara
Masih banyak lagi nama nama hotel terkenal bintang 5 yang letaknya mblusuk dikampung, diatas ruko, di gang buntu dll. Kenapa bisa dengan mudahnya njiplak nama hotel terkenal untuk dipakai di losmen losmen butut di seluruh kota di Nepal ? Apa nggak takut dituntut oleh pemilik nama yang sebenarnya ?.

 

Hotel Jampa Ini Di Gang Buntu
Kawasan Thamel Kathmandu
Ternyata. hampir semua turis yang datang ke Nepal itu punya tujuan yang sama yaitu mendaki gunung. Mereka adalah turis yang sering kita sebut sebagai Backpacker. Mereka tidak memerlukan hotel mewah berbintang 5 dengan fasilitas hotel sempurna. Mereka hanya perlu akomodasi apa adanya untuk persiapan mendaki gunung dan bertemu dengan sesama pendaki gunung.

 

Ini Deretan Hotel Diatas Ruko Di Thamel
Hotel Backpacker Semua
Para pendaki dan turis turis backpacker inilah yang sesuka hatinya sendiri memberi nama tempat pondokannya. Mungkin biar bergengsi saat ditilpun istri, keluarga atau media televisi di negaranya saat wawancara live. Biar keren dan bergengsi kalau bisa menyebut nama hotel mewah bintang 5.
‘Ma, saya sudah tiba di kota Nagarkot, baru saja check in di Hotel Hyatt’
 
Rumah Disudut Ini Dijadikan Hotel Backpacker
Namanya Suka Suka Yang Nginap
Haloo Ma, Saya Nginap Di Mercure Hotel

‘Haloo halooo, maaf suara terputus putus. Ini SCTV bisa jelas didengar, Halooo Kathmandu ?’

‘Ya ya, Selamat malam pemirsa di tanah air,  perlu saya sampaikan bahwa Team Merah Putih baru saja selesai check in di Hotel Radisson. Malam ini rombongan pendaki akan istirahat dan baru akan mulai pendakian besok pagi kalau cuaca cerah’
Hotel Terbagus Di Kota Pokhara
Hotel Ini Yang Menginap Umumnya Pengusaha Lokal
Pendaki Gunung Jarang Yang Mau Menginap Di Hotel Ini
Jadi, kira kira seperti itulah berita berita di tanah air kalau sedang acara wawancara live dengan para pendaki gunung di Nepal. Kalau anda datang sendiri ke Nepal, baik di ibukota Kathmandu, atau kota kota lainmya, jangan terkejut kalau bertebaran nama nama hotel bintang 5 tapi lokasinya mblusuk di gang gang sempit diantara ruko di pasar, di kampung kampung atau di gang buntu. Ada yang nama hotel ditulis rapi dan ada juga yang ditulis tangan apa adanya diatas papan. Semua ulah para turis backpacker yang ingin terdengar keren dan bergengsi saat ditilpun dari tanah airnya.

 

Keramaian Kota Pokhara Malam Hari
Kebanyakan Rombongan Pendaki Dari Berbagai Negara

 

Sarapan Pagi Terasa Aneh Sekali
Yang Sarapan Kebanyakan Bajunya Dekil
Nggak Pernah Dicuci Berhari Hari

 

Hotel Di Gang Buntu
Yang Penting Murah Dan Bisa Istirahat

 

Hotel Vaishalli Mblusuk Di Kampung
Ada Tetangga Yang Nyapu Jalan, Jualan Gorengan Dll

 

Hotel Serenity Di Thamel Kathmandu
Lobbynya Jualan Pulsa Telpon Selular Juga

 

Hotel Four Seasons Palsu
Letaknya Mblusuk Di Kampung

 

Bentuknya Seperti Hotel Beneran
Tapi Sebenarnya Apartment Warga Yang Disewakan
Buat Back Packer

 

Banyak Juga Apartment  Penduduk Yang Dijadikan
Hotel Backpacker

 

Hotel Dan Rumah Penduduk
Di Kampung Sempit Dilihat Dari Atap
Hotel White Pearl Pokhara

 

Rumah Yang Disulap Jadi Hotel Di Kathmandu
Namanya Hotel Shimbala

 

Hotel White Pearl Pokhara
Letaknya Di Kampung Menyatu Dengan Warga
Baca Juga :

 

Helicopter Tour Himalaya Nepal

Perjalanan Kebawah Dari Annapurna Base Camp
Dimulai
Mas Ardi dan si kecil Dinda ikut paket tour Trekking 2 Hari 3 Malam ke gunung tertinggi nomor 10 dunia, yaitu Gunung Annapurna (+8091 meter), Himalaya Nepal. Artinya selama dua hari 3 malam tersebut jalan kaki menuju puncak tertinggi. Saya dan Ayu nggak ikut dan lebih baik nunggu di Hotel saja sambil jalan jalan di kota Pokhara.

 

Sherpa Yang Mengawal
Cerita Serem Saat Istirahat
Tapi, hari kedua sekitar jam 8:00 malam, Travel Agent menelpon saya dan memberitahu bahwa mas Ardi dan Dinda terkena Mountain Sick dan saat ini masih di ABC. Mendengar kata ‘Sick‘ tentu saya bingung dan panik. Mountaim dan Sick, bayangan saya artinya Sakit di Gunung. Langsung kacau pikiran saya membayangkan cerita kecelakaan saat pendakian yang sering saya baca dan lihat di koran koran, TV dan film.

 

Harus Mengikuti Aliran Air Untuk Menuju
Base Camp Ke 3 Dibawah
Lebih kacau lagi saya tidak tahu sama sekali dimana itu ABC, Langsung saya datangi Tour Travel yang memberangkatkan suami dan anak saya malam itu juga. Semua pegawai menyambut saya dengan ekspresi cemas dan prihatin. Sesekali menenangkan saya dengan memberi air mineral.
Diberitahu Cara Bertahan Hidup
Seandainya Kemalaman Dan Belum Bisa
Mencapai Base Camp Bawah
Manager Tour Travel dengan wajah serius menawarkan saya untuk menjemput dengan naik helicopter langsung ke ABC. Ternyata, ABC itu singkatan Annapurna Base Camp, sebuah camp terakhir pendakian ke puncak gunung Annapurna. Langsung saya setujui dan saya bayar tanpa harus berpikir panjang. 4 x USD 350 langsung digesek dari kartu kredit saya.
Diminta Selalu Bergerak Supaya Tidak
Kedinginan
Saya harus menunggu sampai pagi hari karena tidak ada penerbangan malam, Meskipun semalaman nggak bisa tidur, akhirnya jam 5 pagi saya dibawa ke Pokhara Airport untuk terbang langsung ke base camp tertinggi ABC. Sama sekali saya tidak bisa menikmati perjalanan, pikiran kacau balau pingin cepat sampai ke Annapurna Base Camp untuk segera bertemu dengan suami dan anak.

 

Saat Saat Paling Menyedihkan Saat
Mendengar Suara Helicopter Tapi Tidak Tampak
Ternyata, suami dan anak saya sehat sehat saja dan malah sedang asyik ngopi dan makan Indomie rebus saat saya datang. ‘Katanya Mountain Sick ?‘. ‘Ya hilang sendiri setelah istirahat dan beradaptasi, kata mas Ardi dengan kalem. Saya baru sadar dikerjain Tour Travel. Manager dan staff yang saya temui kemarin sore berarti sukses jualan Paket Tour Helicopternya hanya dengan sedikit bermain kata dan menunjukkan ekspresi cemas dan prihatin. Mungkin ini yang disebut cara marketing level Harvard.

 

Gila Bener Sherpa Yang Mendampingi
Disuruh Teriak Teriak Sekeras Kerasnya
Nggak Mungkin lah Pilot Helicopter Bisa Dengar
Tidak sampai satu jam di Annapurna Base Camp, gantian saya dan ayu merasa pusing pusing. Helicopter yang mengantar saya ternyata sudah tidak ada, entah terbang kemana lagi. Petugas radio ABC langsung menghubungi emergency dan minta agar diterbangkan helicopter ke ABC segera. ‘ABC may day, ABC.…. 3 Orang mengalami Mountain Sick‘, kata petugas radio. Ternyata yang dimaksud  saya, ayu dan seorang lagi emak emak dari Canada.

 

Paling Sedih Kalau Melihat Helicopter
Tapi Lewat Saja
Satu jam menunggu helicopter nggak datang datang alasannya kabut sudah terlalu tebal, helicopter tidak bisa mendarat lagi untuk menjemput. Satu satunya cara harus turun ke base camp dibawah dan jalan kaki sekitar 2 jam. Tentu saya jadi panik lagi apalagi Ayu sudah mulai muntah muntah.  Mas Ardi dan Dinda langsung saya semprot habis habisan, ngapain ikut Trekking mendaki gunung segala, bikin susah aja,

 

Nah Ini Baru Helicopter Saya Datang
Menjemput
Petugas ABC berusaha menenangkan suasana, katanya 3 orang sherpa akan mendampingi untuk turun ke base camp bawah. Tapi perlengkapan yang dibawa membuat saya semakin tidak tenang. Selain membawa PPPK. juga membawa lampu darurat, tenda, dan entah apa lagi. 2 orang yang membawa barang berat berangkat duluan dan satu orang mendampingi saya sepanjang perjalanan turun.

 

Ternyata Tempat Pendarata Helicopter
Banyak Sekali
Dalam perjalanan turun ini sesekali terdengan suara helicopter, lalu menghilang. Saat terdengar suara helicopter kita disuruh teriak teriak sekuatnya. ‘Pilot Helicopter sedang mencari kita‘ kata si sherpa dengan tenang.  Sedih, lunglai dan ingin menangis rasanya saat suara helicopter terdengar menjauh dan menghilang.

 

Helicopter banyak Yang Melintas Karena
Jumlah Peserta Helicopter Tour Cukup Banyak
Akhirnya terdengar lagi suara helicopter, tapi kali ini helicopternya terlihat. Langsung kita disuruh melambai lambaikan tangan setinggi tingginya agar pilot melihat. Tapi helicopter terlalu tinggi dan melintas begitu saja. Kali ini saya, Ayu, Dinda dan kawan Canada saya benar benar menangis sedih membayangkan bermalam diatas gunung tanpa persiapan apapun.

 

Pilotnya Ugal Ugalan
Meliuk Liuk Diantara Gunung, Menukik Tajam
Bahkan Demo seolah Olah Mau Menabrak Gunung
Doa apapun rasanya sudah saya ucapkan, tapi pertolongan helicopter tidak kunjung datang. Sebentar lagi akan gelap dan dua orang sherpa yang tadi membawa tenda dan perbekalan dan berangkat duluan tidak terlihat sama sekali, entah dimana mereka sekarang. Rasanya, besok pagi saya akan masuk koran dan menjadi berita utama ditanah air karena mati di gunung Annapurna.

 

Ceria Nggak Jadi Jalan Kaki Ke Base Camp 3
Baru saja saya selesai maaf maafan dengan suami dan anak anak, tiba tiba suara helicopter terdengar kembali. Si Pilot langsung tahu posisi kita dan tampak akan mendaratkan helicopternya. Agak curiga saya, kenapa bisa langsung tahu keberadaan kita, kenapa si sherpa langsung mengeluarkan handy talky radio dan memberi aba aba mendarat ?.

 

Rasanya  Mau Nnabrak Gunung
Pilotnya Sengaja Membuat Tegang Penumpang
Ternyata posisi saya berdiri tidak jauh dari landasan mendarat helicopter. Jadi, selama ini saya dikerjain petugas radio, sherpa yang mendampingi saya, sherpa yang bawa perbekalan berat dan tour travel di Pokhara, Jalan kaki turun dari ABC sebenarnya hanya perjalanan menuju ke landasan helicopter dibawah yang didramatisir sedemikian rupa.

 

Inilah Sungai Yang Akan Saya Lewati Menuju Camp
Dibawah Seandainya Helicopter Tidak Datang
Baru kali ini saya ikut tour helicopter yang cukup dramatis, mengaduk aduk perasaan dan emosi sekaligus mendekatkan saya dengan keluarga dan Allah sang pencipta alam dan segala isinya. Saat saya mampir kembali ke Tour Travel di Pokhara, semua staff bertepuk tangan menanyakan kesan kesan ikut Helicopter Tour. Dan saya dijelaskan bahwa semua kejadian yang saya alami memang telah discenariokan untuk membedakan Helicopter Tour dengan rutin penerbangan biasa. Helicopter Tour memang harus dramatis, mendebarkan, mencekam dan membuat peserta tour selalu deg degan dan was was. Semprul tenan, tapi tidak akan pernah saya lupakan.

 

Medan Seperti Ini Helicopternya
Meliuk Liuk Acrobatic Tapi Asyik Juga
Baca Juga :