Monthly Archives: July 2019

Bus Kota Kathmandu

Penumpang Bus Kota Di Kathmandu
Kaca Dibuka Karena Tanpa AC

Jakarta pernah punya bus butut tapi sangat legendaris PPD, Kopaja dan Metromini yang beroperasi sekitar tahun 1971 sampai 2015. Saking bututnya, kalau jalanpun seringkali mereng mereng karena penumpang bergelantungan dipintu. Tidak ada ACnya tapi sangat dibutuhkan oleh masyarakat Jakarta karena tidak ada pilihan lain yang lebih bagus. Beruntung saat ini sudah tidak terlihat lagi bus kota yang butut dan reot di Jakarta.

 

Lalu Lintas Kota Kathmandu Semrawut
Tidak Ada Pembatas Jalur Sepeda, Jalur Bus Dan Kendaraan Pribadi

 

Suasana seperti di Jakarta jaman bus PPD, Kopaja dan Metromini jadi raja jalanan ini bisa kita saksikan di Kathmandu, Nepal saat ini. Rasanya, pingin sekali saya sujud syukur sampai ndelosor ketanah kalau membayangkan kemajuan Jakarta dan kota kota lain di Indonesia saat ini. Pemandangan transportasi umum yang saya saksikan saat ini di Kathmandu tidak jauh berbeda dengan apa yang saya saksikan di New Delhi, Agra, Jaipur, Udaipur di India.

 

Tidak Ada Halte Resmi Buat Menaikkan/Menurunkan Penumpang
Semua Bus Bebas Berhenti Dan Ngetem Dimana Saja

 

Semua bus kota yang berkeliaran di Nepal memang buatan India. Merk busnya diantaranya Mahindra, Tata, Eicher, Ashok dan lain lain. Kalau di Indonesia barangkali merk bus produksi bengkel ‘Las Bubut Dan Kenteng‘ atau bengkel ‘Ahli¬†Bikin Pagar Dan Teralis‘. Tidak bisa saya sejajarkan sama sekali dengan perusahaan Karoseri di Indonesia karena produk Karoseri Bus di Indonesia terlalu bagus apabila dibandingkan dengan bus buatan India.

 

Tidak Ada Seragam Warna Bus
Semua Pengusaha Bus Bebas Mewarnai Busnya

Mesin bus di Kathmandu Nepal sangat berisik dan berasap. Kira kira suaranya tidak jauh berbeda dengan suara Bajaj buatan India yang juga pernah berjaya di Jakarta. Sekali lagi pingin sekali saya ndelosor ndelosor ditanah untuk sujud syukur karena bus di Indonesia yang sering saya naiki mesinnya Mercedez Bens.

 

Kelakuan Sopir Bus Kathmandu Sama Persis
Dengan Sopir Metromini Jakarta
Kejar Kejaran Berebut Penumpang
Saya bisa rasakan, naik bus kota di Kathmandu hari ini jauh lebih sengsara dibanding dengan naik Metromini, Kopaja maupun PPD tahun 1980an. Kalau ngetem nunggu penumpang penuh lamanya bukan main dan berkeringat. Kalau kejar kejaran cari penumpang bisa tiba tiba ngerem mendadak menghindari tabrakan dengan sepeda motor yang tiba tiba nyelonong didepan bus.
Ngetem Didepan Pasar
Lamanya Bukan Main Untuk Jarak Beberapa Km Saja

 

Saya nggak tahu sama sekali bahasa setempat, tapi umpatan semacam Jancuk’, ‘Matamu Picek’, ‘Nggak Punya Otak’, ‘Pingin Mati Ya’ dll seringkali terdengar baik diucapkan oleh sopir bus, kenek, kondektur atau pengendara sepeda motor yang mau ketabrak bus.

 

Di Kathmandu Juga Ada Yang Jual Es Jeruk Dan
Es Teh Asongan Disodorkan Ke Penumpang Dari Jendela
Yang paling sial kalau kalau bus melakukan pelanggaran lalu lintas. Saya dengar sopir dan polisi debatnya lama sekali dan penumpang dibiarkan kepanasan diatas bus yang tanpa AC. Dari pembicaraan yang saya dengar, sepertinya si sopir tidak merasa melanggar lalu lintas dan si polisi ngotot terjadi pelanggaran lalu lintas. Saya yang nguping disebelahnya sebenarnya bingung juga, yang dilanggar sebenarnya apa.
Angkutan Kota Made In India
Bengkel Las Pagar Bikin Usaha Sambilan Membuat Bus
Merknya Macam Macam

Di Kathmandu secara umum bisa saya katakan tidak ada Traffic Light (hanya ada satu saja itupun mati).¬† Tidak ada juga marka jalan atau pembatas antara jalur sepeda motor, jalur pejalan kaki, jalur bus dan jalur kendaraan pribadi. Tanda ‘STOP’ dan larangan parkir juga tidak terlihat sama sekali.

Bus Merk Mahindra
Karoseri India Tehnologinya Sangat Kadaluarsa

Jadi, seandainya saya yang jadi sopirnya, sudah tentu saya akan bingung juga. Kalau tiba tiba dihentikan polisi dan harus bayar ‘cepek’ kan lama lama bisa bangkrut juga. Saya perhatikan banyak juga polisi yang terima ‘cepek’ saat mengatur angkot dan bus umum.

 

Bus India Merk Eicher
Sama Saja Dengan Karoseri Bengkel Las

 

Ruwet, Sepeda Motor Dan Bus Berjubel
Setiap Hari Di Jalanan Kathmandu

 

Bus Merk Tata Dari India
Jauh Bedanya Dengan Buatan Karoseri Di Indonesia

 

Tidak Ada Lampu Pengatur Lalu Lintas Di
Kota Kathmandu

 

Polisi Kathmandu Pening Mengatur Lalu Lintas
Karena Tidak Ada Traffic Light Dan Pembatas Jalan

 

Polisi Di Kathmandu Nunggu Kendaraan
Melakukan Pelanggaran

 

Berhenti, Artinya Harus Kasih Duit Ke Polisi

Baca Juga :

 

Keliling Kathmandu Naik Angkot

Angkot Kathmandu Warnanya Biru
Sama Persis Dengan Angkot Di Kampung Melayu Jakarta

 

Wajah orang Nepal itu nggak ada bedanya dengan orang Indonesia. Warna kulitnya sawo matang, raut wajahnya dan tinggi badannya sama persis dengan orang Indonesia. Konon katanya Orang Indonesia itu berasal dari ras yang sama dengan orang Nepal yaitu Mongoloid. Pasport orang Nepal juga sama dengan orang Indonesia yaitu berwarna Hijau. Lalu kelakuannya bagaimana ? Apakah sama juga dengan orang Indonesia ? Betul sekali, kelakuannya benar benar sama dengan orang Indonesia. Terlihat jelas saat di jalan raya.

 

Kelakuan Sopir Angkot Kathmandu Sama Saja
Putar Balik Sembarangan

 

Akan saya tuliskan secara berseri dalam blog ini semua kemiripannya dengan orang Indonesia. Kita mulai dengan kelakuan dan tingkah polah Sopir Angkot Kathmandu saja dulu. Angkutan Kota (Angkot) kota Kathmandu warnanya biru muda seperti yang sering kita jumpai mondar mandir di Jakarta. Kalau saya perhatikan, angkot Nepal kelakuannya amburadul juga. Suka seenaknya berhenti sembarangan untuk menaikkan atau menurunkan penumpang.
Polisi Sibuk Menertibkan Angkot Yang
Berhenti Sembarangan Dan Ngetem Cari Penumpang

 

Putar Balik sesukanya. Ngetem cari penumpang juga seenaknya dan tidak peduli angkotnya mengganggu pemakai jalan lain. Seringkali kejar kejaran berebut penumpang. Kalau penumpangnya terlalu sedikit dengan gampangnya dioper ke angkot lain. Untuk berhenti, caranya juga sama persis dengan di Jakarta yaitu cukup dengan cara mengetuk atap angkot tiga kali. Tok tok tok, angkot langsung menepi. Bayar ongkosnya sama persis dengan di Indonesia, cukup sodorkan uang ke pak sopir dari belakang saat kita mau turun.

 

Meskipun Jalan Padat Sepeda Motor
Angkot Berhenti Seenaknya Ditengah Jalan

 

Karena sopir dan penumpang angkot sama persis wajah dan postur tubuhnya dengan orang Indonesia, maka saya mencoba menghentikan angkot dengan cara berteriak ‘KIRI, KIRI…..KIRI!!!‘. Ternyata teriakan saya membuat semua penumpang terkejut dan melongo heran. Mereka sepertinya dari tadi tidak menyadari bahwa ada penumpang orang asing dari Indonesia di angkotnya.
Angkot Ini Bikin Macet Karena Berhenti Ditengah
Jalan Untuk Menaikkan Penumpang
Tapi mereka rupanya tahu maksud saya teriak ‘KIRI, KIRI…..KIRI‘. Langsung atap angkot diketok tiga kali, tok, tok…..tok dan angkot berhenti ditengah jalan.
Minggir sedikit kenapa sih pak sopir ?
Pak sopirnya diam saja, ternyata pak sopir nggak bisa Bahasa Indonesia sama sekali.
Kalau Bayar Cukup Disodorkan Ke
Pak Sopir Dari Belakang

 

Kiri, Kiri, Kiri
Pak Sopir Nggak Ngerti Artinya

 

Tok Tok Tok Atap Angkot Diketok
Ternyata Kodenya Sama Dengan Angkot Jakarta

Baca Juga :