Monthly Archives: April 2019

Pedagang Kaki Lima Ukraina

Pedagang Kaki Lima Di Lviv Ukraina
Piring Bekas Dengan Motif Tradisional Ukraina
Pedagang Kaki Lima di negara manapun sama saja. Di Netherland, United Kingdom, Kuwait dan negara negara lain pernah saya tuliskan di blog ini karena memang saya paling suka mengunjungi pasar, pasar loak dan lapak lapak pedagang kaki lima di pinggir jalan. Semakin mblusuk pasar loak / pedagang kaki lima maka akan semakin tertarik saya untuk mencarinya. Kali ini saya ajak anda untuk melihat PKL di kota Lviv dan Kiev Ukraina.

 

Perhatikan Cara Meletakkan Meja Lapaknya
Hampir Separuh Trotoar Dipakai Buat Lapak
Jangan membayangkan bahwa PKL itu hanya ada di Indonesia. Jangan membayangkan juga kalau ‘Bule’ itu kerjanya selalu kantoran atau berdasi seperti di film film Hollywood. Salah besar kalau anda berpikiran seperti itu.  Buka lapak sembarangan di trotoar dan mengganggu pejalan kaki juga bukan kelakuan buruk PKL Indonesia, di negara manapun kelakuannya juga sama saja. Baca link PKL di negara lain dibagian bawah tulisan ini.

 

Yang Nggelar Dagangan Beralas Plastik Juga Ada
Tidak Ada Bedanya Dengan Di Indonesia

Lapak PKL butut, kusam dan reot bukan hanya milik PKL Indonesia. Gerobak dorong untuk membawa barang dagangan ke lokasi lapak tempat berjualan juga sama bentuknya. Kalau selesai berdagang semua barang diangkut dengan gerobak, ditutupi terpal plastik lalu gerobak tersebut dititipkan disuatu tempat yang tersembunyi. Contohnya gerobak PKL di London pada link ini : Kemana Lapak PKL Covent Garden ?

 

Tempat Favorit Buka Lapak Juga Sama Dengan Di Indonesia
Dibawah Pohon Yang Teduh
Di kota Lviv maupun Kiev Ukraina terlihat jelas bahwa PKL itu cara berdagang dan kelakuannya sama persis dengan di Indonesia. Pagi hari dagangannya diangkut dengan gerobak lalu digelar begitu saja di trotoar. Nggak peduli apakah pejalan kaki pengguna trotoar akan terganggu atau tidak, yang penting dagangan digelar dan bisa berdagang.

 

Becak Keliling Dari Kampung Ke Kampung Juga Ada
Shampoo Sachet, Kopi, Obat Pusing Semua Digantung
Lapak dagangannyapun juga apa adanya. Ada yang kardus ditumpuk tumpuk dijadikan meja, ada yang bikin meja sendiri dari kayu kayu bekas, ada juga yang bawa meja lipat dan ada juga yang hanya menggelar tikar plastik di trotoar atau meletakkan barang dagangannya di tembok pagar gedung perkantoran / sekolah. 

Taruhan Lottere, Ramal Nasib Juga Ada
Di Ukraina
Barang yang dijual bermacam macam. Mulai pakaian baru dan bekas, buku, mainan anak, perlengkapan rumah tangga dan ada juga kartu tukang ramal sampai lapak uji keberuntungan seperti lottere. Hanya lapak lottere saja yang susah ditemukan di Indonesia saat ini. Lapak yang lain semuanya mirip dengan lapak di Indonesia.

 

CD Bajakan, Video Mesum XXX Dan Majalah Porno
Bekas Juga Ada
Jadi, jangan berkecil hati melihat keaneka ragaman Indonesia. Indonesia itu sangat besar dan jauh lebih lengkap dan hebat segalanya dibanding negara lain. Apa yang ada di negara lain, akan ada juga di Indonesia. Jangan menjadi bangsa yang inferior, pesimis dan selalu menganggap bangsa lain lebih hebat, lebih maju dan lebih segalanya. Semua itu omong kosong belaka yang ditanamkan sejak jaman kolonial sampai ke generasi sekarang.  Ditahun politik 2019 ini, para politisi juga menyebar berita bohong agar bangsa Indonesia tetap inferior, pesimis dan ketakutan. Jangan percaya begitu saja.

 

Selesai Berdagang Meja Lapak
Akan Disembunyikan Dimana Saja

 

Lapak Dagangan Terbuat Dari Kayu Bekas Ala Kadarnya
Apabila Kena Tibum Nggak Rugi Besar

 

Kardus Dijadikan Lapak Dagangan Juga Ada

 

Tanda Larangan Berdagang Di Trotoar Juga Banyak
Tapi PKL Tetap Saja Berdagang Di Tempat Terlarang

 

Nggak Punya Lapak Ada Juga Yang
Meletakkan Dagangan Di Tembok

 

Lapaknya Ringkas Dan Portabel
Lokasinya Di Pusat Kota Yang Sering Ada Tibum
Habis Sudah Trotoar Ketutup Pedagang Kaki Lima
Kwalitas Barang Dagangan Sama Saja Dengan
Baeang PKL Indonesia – Murah Meriah

Baca Juga :

 

Blusukan Melihat Rumah Mediterania

Bulan April
Banyak Burung Merpati Terbang Di Mana Mana

 

Bulan April udara sangat sejuk di Timur Tengah karena merupakan peralihan antara musim dingin ke musim panas. Banyak burung burung merpati yang tiba tiba muncul entah darimana datangnya. Saat udara sejuk seperti inilah mari saya ajak anda untuk jalan jalan blusukan melihat bentuk bentuk rumah di negara sekitar Laut Mediterania, Laut Merah dan Teluk Persia.

 

Rumah Mediterania Itu Nggak Ada Atap
Trapesium Dan Genteng

Saya ambil contoh photo photo disini adalah rumah di Manama, Bahrain sebagai ilustrasi saja. Secara umum bentuk rumah di Bahrain sama saja dengan di Algeria, Tunisia, Lybia, Mesir, Lebanon, Syria, Irak, Kuwait, Saudi dan negara lain di sekitarnya. Developer property Indonesia salah kaprah mencontek design rumah rumah Mediterania ini dan membawanya ke Indonesia.

 

Meskipun Jendela Kelihatan Banyak
Umumnya Tidak Pernah Dibuka

 

Jangan membayangkan rumah rumah di sekitar Laut Mediterania, Laut Merah dan Teluk Persia bentuknya sama seperti rumah rumah di Cluster Mediterania Sentul, Cibubur, Batam atau di kota manapun di Indonesia. Developer dan Arsitek Indonesia yang merancang rumah rumah di Cluster Mediterania di tanah air tidak pernah melihat sendiri seperti apa bentuk rumah disekitar Laut Mediterania, Laut Merah sampai Teluk Persia.

 

Fungsi Jendela Untuk Pencahayaan Saja
Tidak Bisa Dibuka Atau Jarang Dibuka

 

Genteng
Perbedaan mencolok antara rumah Cluster Mediterania di Indonesia dengan di Timur Tengah adalah ‘Genteng‘. Nggak ada genteng dipakai di rumah rumah di negara sekitar Laut Mediterania, Laut Merah maupun Teluk Persia. Genteng dengan plafon atap rumah berbentuk trapesium itu ciri khas rumah didaerah tropis yang banyak hujan. Di Arab mah hujan sangat jarang dan nggak selebat di Indonesia. Jadi rumah Arab itu nggak ada gentengnya.

 

Rumah Dengan Atap Genteng
Simbol Banyak Duit Bisa Import Dari Indonesia

Taman Didepan Rumah

Perbedaan lain rumah Cluster Mediterania yang bikin ngakak orang Arab adalah Taman Hijau di halaman depan rumah. Rumah Cluster Mediterania di Indonesia ada tamannya didepan rumah. Di Arab, tanaman apapun bakalan mati dan kering kerontang apabila musim panas. Yang kuat hidup cuma pohon kurma dan pohon pohon perdu khas Arab. Rumput pun akan berubah jadi coklat kekeringan saat musim panas.

 

Masjid Kampung ACnya
Menyala 24 Jam

Jendela

Perbedaan yang juga bikin ngakak orang Arab adalah jendela. Rumah rumah Cluster Mediterania di Indonesia jendelanya sangat besar dan banyak sekali. Hal ini karena orang Indonesia pingin udara didalam rumah selalu sejuk tanpa harus pasang AC dan menyalakan AC sepanjang hari. Ngirit listrik, itulah konsep rancangan arsitek di tanah air untuk rumah rumah di Indonesia. Orang Indonesia senang membuka jendela lebar lebar biar udara masuk kedalam rumah dan sejuk.
Kalau Hujan Deras Air Terjun Bebas
Dari Atap Seperti Air Terjun

 

Di Timur Tengah, jendela cenderung kecil kecil dan tidak pernah bahkan tidak bisa dibuka sama sekali. AC dinyalakan 24 jam per hari dan 7 hari seminggu nonstop. Debu dan pasir gurun akan masuk kedalam rumah kalau jendela dibuka, apalagi sering ada badai pasir saat pergantian musim. Fungsi jendela hanya sebagai pencahayaan saja.
Nggak Ada Taman Didepan Rumah
Tanaman Akan Mati Kering Saat Musim Panas

Garasi Mobil

Yang unik lagi adalah Garasi Mobil. Rumah rumah di Arab hampir semua nggak ada garasinya. Mobil diparkir cukup didepan rumah, ada yang bikin garasi kanopi di luar rumah dan banyak juga yang tanpa kanopi cukup diparkir diatas trotoar depan rumah. Coba perhatikan rumah Cluster Mediterania di Sentul atau Cibubur. Semuanya ada garasi tertutup dan mobil di lap setiap hari di garasi. Orang Arab itu nggak ada yang ngelus ngelus mobil. Mobil semewah apapun parkirnya ya di luar rumah, kepanasan dibiarkan saja.

 

Terminal Bus Juga Kering Kerontang
Nggak Ada Tanaman

Warna Tembok

Yang paling menggelikan adalah warna rumah. Aslinya, warna rumah di negara negara Arab itu semuanya coklat seperti warna gurun disekitarnya. Tapi di Cluster Mediterania di Sentul atau Cibubur warnanya kebanyakan putih, abu abu dan bahkan ada yang warna warni  cukup meriah. Teman saya Arab sambil senyam senyum mengatakan ‘This is Indonesian Imagination Of My House
Ini Rumah Di Indonesia – Cluster Mediterania
Katanya Mengadopsi Gaya Rumah Di Negara Sekitar Laut Mediterania

 

Jadi kesimpulannya, banyak orang Indonesia yang dibodohi arsitek dan developer perumahan. Mereka bikin nama cluster perumahan sesuka sukanya sendiri supaya laku terjual saja. Ada Cluster Mediterania, Cluster Nebraska, Cluster Salzburg, Cluster Tokyo, Cluster Vancouver, Cluster Barcelona dan lain lain. Saya jamin, nggak akan ada satupun yang mirip dengan bentuk rumah aslinya. Nama hanyalah nama, apapun nama cluster perumahannya tetap saja rumah tersebut adalah rumah dengan design dan ciri khas Indonesia.

 

Garasi Cukup Canopy Terbuka
Di Indonesia Mobil Bisa Hilang Kalau Diparkir Diluar

 

Pemulung Di Arab Tidak Mencuri
Di Indonesia Pemulung Dicurigai Mencuri

 

Mobil Parkirnya Diluar Rumah
Cukup Dinaikkan Ke Trotoar

 

Mobil Ditinggal Begitu Saja
Nggak Ada Maling Di Arab

 

Semua Rumah Warnanya Coklat
Di Indonesia Rumah Mediterania Warnanya Putih

 

Semua Rumah Warnanya Coklat
Seperti Warna Pasir Gurun

Baca Juga :