Monthly Archives: August 2017

Self Catering Apartment Edinburgh

Castle Suite 3 Old Town
Interior Tidak Kalah Dengan Hotel Bintang 5
Pernah dengar istilah ‘Self Catering Accomodation ?‘. Saya sempat terkejut saat pertama kali tinggal di penginapan jenis ini di Edinburgh, UK. NamanyaCastle Suite 3 Old Town’. Alamatnya 17/3 Grassmarket, Old Town, Edinburgh.  Saya pilih penginapan ini karena tarif per malamnya jauh lebih murah dibanding hotel atau apartment. Lokasinya sangat bagus sekali dan dekat dengan pusat keramaian turis. Dari dalam kamar bisa memandang keindahan Edinburgh Castle. Angkutan umum seperti Taxi, Bus Kota dan Hop On Hop Off semuanya lewat didepan penginapan ini.

 

Tidak Ada Resepsionist
Harus Janjian Dulu Saat Serah Terima Kunci

 

Self Catering Accomodation ini benar benar beda dibanding dengan Hotel, Resort, Apartment, Hostel, Motel, Bed And Breakfast, Homestay, Losmen (Inn) atau Guest House. Fasilitas kamarnya mirip Apartment, ada yang satu dan ada yang dua kamar tidur. Ada dapur lengkap dengan meja makan, microwave, kompor listrik dan pecah belah. Ada juga mesin cuci dengan sabun dan jemuran. Ruang keluarga dilengkapi dengan sofa, TV  dan wifi. Kamar mandi dan  kamar tidurnya tidak kalah dengan Five Star Hotel.
Edinburgh Castle Dilihat Dari
Jendela Ruang Keluarga

 

Perbedaan utamanya adalah ‘Tidak Memiliki Receptionist dan Room Boy‘, semua harus dikerjakan sendiri. Kalau mau check in, traveller/penyewa harus janjian dulu sehari sebelum datang. Harus jelas jam berapa dan ketemunya dimana untuk serah terima kunci. Begitu sudah dekat dengan lokasi hotel, misal di Airport, Stasiun Kereta Api, Bus Kota atau didalam Taxi, traveller/penyewa harus nelpon secepatnya, tidak boleh ngabari pakai whatsaps atau SMS. Kalau ngabari pakai whatsapp atau SMS sering tidak dibaca.
Kamar Bersih Dengan Design Modern Minimalis

 

Keunikan yang lain, depositnya cukup besar, sekitar GBP 200 dan harus dibayar paling lambat sehari sebelum check in secara online.. Kenapa depositnya besar sekali ?. Ternyata buat bayar denda. Ada peraturan yang cukup unik dan menarik. Traveller/penyewa bertanggung jawab untuk :

Ada Dapur Dengan Fasilitas Pecah Belah
Seperti Apartment
  • Membuang sampah ketempat sampah didepan gedung.
  • Mencuci semua piring, sendok dan gelas yang digunakan. dan membersihkan dapur
  • Ngepel lantai dan menyedot dengan vacuum cleaner semua lantai dan karpet.
  • Menggaanti Sprei dan sarung bantal dengan yang baru didalam lemari.
  • Mencuci handuk, sprei dan sarung bantal sebelum meninggalkan kamar.
Ada Meja Makan Kecil
Kelihatannya ribet tetapi sebenarnya tidak sama sekali. Tinggal masukkan handuk, sprei dan sarung bantal kedalam mesin cuci dan tinggalkan mesin cuci dalam keadaan menyala sebelum meninggalkan gedung.  Kunci pintu letakkan ditempatnya diatas meja. Periksa semua ruangan dan pastikan keadaan perabotan sama persis dan sama bersihnya seperti ketika masuk. Dijamin deposit akan kembali utuh dalam waktu 2×24 jam ke card yang sama saat anda membayar deposit sebelumnya.

 

Tempat Kunci Harus Diletakkan Ditempatnya
Kalau Check Out
Piring Harus Dicuci Sendiri Dan Diletakkan Ditempatnya
Kalau Check Out
Handuk Harus Dicuci Sendiri Dan Tinggalkan
Didalam Mesin Cuci Saat Check Out
Karpet Dan Lantai Harus Dipel Dan Disedot
Vacuum Cleaner Sendiri Sebelum Check Out
Tetangganya Rumah Tangga Biasa
Bau Masakan Kalau Lewat Didepan Tetangga
Pintu Masuk Diantara Toko
Buang Sampah Sendiri Setiap Hari
Sebelum Check Out

 

Gereja Buntung Royal Garrison Portsmouth

Papan Keterangan Didepan Pintu Gerbang
Penjelasannya Lengkap
Namanya Royal Garrison Church, lokasinya dekat sekali dengan tempat saya tinggal di Gunwharf Quay. Setiap saat saya bisa mengamati ada atau tidaknya aktifitas di gereja ini karena lokasinya diseberang pantai tidak jauh dari jogging track tempat saya biasa jalan jalan berolah raga.
Pintunya Selalu Terkunci
Kalau Ada Rombongan Turis Boleh Numpang Masuk
Lokasi tepatnya di Penny Street, Grand Parade, Portsmouth, Hampshire. Hampir tidak ada aktifitas sama sekali di gereja ini setiap harinya. Sepertinya hanya difungsikan sebagai cagar  budaya saja dan tidak digunakan untuk ibadah lagi. Sesekali dibuka untuk umum, terutama hanya dibuka untuk rombongan turis yang sudah ada appointment saja.
Halaman Depannya Penuh Kuburan
Pernah Jadi Rumah Sakit, Dan Gudang Senjata

 

Gereja buntung Royal Garrison ini sangat tua sekali. Didirikan tahun 1212 oleh Bishop Of Winchester dan saat itu digunakan juga sebagai rumah sakit dan hostel. Pernah juga digunakan sebagai gudang amunisi dan senjata. Tanggal 10 january 1941, atapnya kena sambar bom saat Perang Dunia II dan dibiarkan terbuka sampai saat ini.
Kuburan
Di Bom Tahun 1941 Saat Perang Dunia II
Kaca kaca ‘stained glass‘ di semua jendela dan pintunyapun sangat unik. Gambarnya kebanyakan tentara yang sedang berperang lengkap dengan senjata, tank, kapal perang dan pesawat temput. Tidak hanya gambar tentara saja, tetapi gambar urutan sejarah mulai saat masih sebagai rumah sakit (dokter, perawat dan pasien) sampai Perang Dunia II. Arsiteknya sepertinya lupa kalau gereja itu setidaknya harus ada gambar Yesus, Bunda Maria atau yang lainnya.
Kuburannya Paling Keren Sendiri
Saya paling ngeri kalau jalan jalan di kota Portsmouth terutama sepanjang jogging track Clarence Pier tengah malam. Saat melintasi gereja buntung Royal Garrison ini, suasananya terasa ‘Singup’ (bahasa Jawa). Sepanjang pantai sekitar gereja ini banyak sekali monumen peringatan korban perang dunia II, terutama angkatan laut Inggris. Kota Portsmouth memang pangkalan angkatan laut dan kapal perang Inggris.
Bentuknya Sekarang Dibiarkan Buntung Tanpa Atap
Sejak Dibom Tahun 1941
Saat melintasi Gereja Buntung Royal Garrison ini, dari jauh terlihat banyak sekali kuburan dihalaman gereja. Ada satu kuburan paling besar tepat didepan pintu gereja yang cukup menyeramkan. Kuburan besar ini diatasnya ada patung jenasah dengan posisi tidur. Entah patung jenasah siapa itu, mungkin patung jenasah pak Garrison sendiri. Kalau Patung tersebut mendengar suara cewek, katanya langsung terbangun dan berdiri. Tapi untungnya patung tidak bisa mendengar, jadi nggak akan pernah bisa berdiri sendiri.

 

Jogging Track Sepanjang Pantai Tempat Saya
Jalan Jalan Setiap Hari
Portsmout Kota Angkatan Laut Inggris
Dimana Mana Banyak Tugu Peringatan/Kuburan
Korban Perang Dunia II
Halamannya Luas, Bersih Dan Indah
Tapi Banyak Orang Mati Disini Saat Perang Dunia II
Mozaik Kacanya Unik
Mungkin Satu Satunya Gereja Dengan Mozaik Tentara

 

Hanya Di gereja Buntung Royal Garison
Anda Bisa Melihat Jendela Dengan Mozaik Perang
Nggak Ada Gambar Yesus, Bunda Maria Atau
Gambar Gambar Lain Seperti Umumnya Gereja
Atapnya Dibiarkan terbuka Sejak Terkena Bom

 

Baca Juga :

Moi International Airport Mombasa Selayang Pandang

Gelap Gulita – 15 Menit  Baru Ada Satu
Petugas Bandara Yang Datang Menyalakan Lampu
Jam 11 siang pesawat Ethiopian Airlines yang membawa saya sekeluarga terbang dari Addis Ababa bersiap siap untuk mendarat di Moi International Airport, sebuah bandara Internasional kota Mombasa, Kenya. Dari atas saya perhatikan bandara ini cukup besar, jauh lebih besar dibanding bandara Adi Sucipto Yogyakarta atau Ahmad Yani Semarang. Cocok sekali, Mombasa sebagai kota terbesar nomor dua di Kenya memeliki bandara internasional yang begitu besar.
Penumpang Mulai Gelisah
Nunggu 15 Menit Dalam Kegelapan
Ada dua buah runway, runway utama panjangnya sekitar 3 – 3.5 kilometer, sedangkan runway kedua lebih pendek. Perkiraan saya hanya 1 – 1.5 kilometer saja. Runway 1 dilengkapi dengan ILS (Instrument Landing System). Artinya bandara ini memang bandara internasional yang mampu didaratin pesawat besar dan kecil, bukan bandara icak icak sekedar buat gaya gayaan bisa bikin proyek bandara.
Mombasa Kota Pantai Dan Pelabuhan
Patung Di Bandara Cukup Lumba Lumba
Turun dari pesawat, semua penumpang jalan kaki menuju counter pemeriksaan passport didalam gedung yang cukup besar dan megah. Tapi saya agak terkejut dan was was. Di counter imigrasi ternyata tidak ada petugas imigrasi sama sekali, kosong melompong dan bahkan gelap gulita. Wah, gawat nih, 15 menit menunggu di kegelapan membuat pikiran saya mulai ngacau. Membayangkan ada sesuatu kejadian luar biasa di Kenya. Mungkin diluar sana ada bom meledak, teroris Al Shabab, Boko Haram, Kudeta menggulingkan pemerintah, wabah penyakit atau cerita cerita seram lain tentang Afrika yang sering berseliweran di TV, medsos, film dan koran.
Horeee, Lampu Menyala
15 Menit Nunggu, 30 Menit Berdiri Ngantri
Ternyata saya salah, nggak ada apa apa  di Kenya. Petugas imigrasinya telat datang, klewas klewes minta maaf kepada semua penumpang alasannya rumahnya jauh dan jalanan macet ada pekerjaan pembangunan jalan menuju bandara. Hanya seorang diri, petugas ini tugasnya multi fungsi mulai membuka pintu, menyalakan lampu, menyalakan komputer, mengatur antrian, menyingkirkan tanda tanda larangan masuk dan stempel pasport. Lumayan, 15 menit nunggu, 30 menit ngantri. Begitu semua penumpang sudah distempel passportnya, langsung komputer dan lampu dimatikan kembali. Si Petugas langsung ngloyor entah pergi kemana
Hanya Satu Petugas Imigrasi
melayani 100an Penumpang Ethiopian Airlines
Hanya Turkish Airlines, Ethiopian Airlines, RwandAir dan Meridiana yang terbang dari luar negeri menuju bandara ini langsung. Tidak semuanya punya jadwal terbang tetap setiap hari. Pesawat lain kebanyakan pesawat charter, tidak setiap hari mendarat di bandara ini contohnya Bravo Airways, Condor, Enter Air dan Neos. Pesawat lokal juga ada, umumnya pesawatnya kecil kecil dengan mesin baling baling. Contohnya Kenya Airways (pesawatnya Embraer),  Mombasa Air Safari, Jambo Jet, Fly540 dan Fly SAX.
Gerbang Masuk Moi International Airport
Mombasa, Kenya
Di halaman luar bandara, terdapat tempat parkir yang sangat luas dengan taxi bandara berwarna kuning terparkir rapi menunggu penumpang. Ada dua terminal saja di Moi International Airport ini yaitu terminal Kedatangan dan terminal Keberangkatan. Di Terminal Keberangkatan hanya ada satu buah cafe (Rafiki Cafe) dan satu buah Duty Free Shop, namanya Candy Shop. Tempat duduk buat nunggu keberangkatan sangat banyak tapi saya tungguin hampir dua jam tetap saja kosong melompong.
Taxi Kuning Moi International Airport
Rapi Parkir Sabar Nunggu Penumpang
Iseng iseng saya ajak ngobrol pelayan Rafiki Cafe. Saya tanyakan kenapa bandara internasional sebagus dan sebesar ini bisa kosong melompong. Jawabnya, cukup mengejutkan. ‘No Mc Donald in Kenya, never….‘. Bingung saya mengartikan jawabannya. Ternyata pelayan yang satu ini benci sampai ke ubun ubun apapun yang berbau Amerika. Terutama pemberitaan TV ala Amerika dan juga medsos yang dianggapnya semua produk Amerika. Satu jam saya ajak ngomong, keluar semua unek uneknya.
Mirip Bandara Adi Sucipto Yogya
Tapi Moi Airport Jauh Lebih Besar
Katanya penderita AID yang terbanyak di Amerika, yang dituduh Afrika. Monyet dan binatang Afrikapun tidak luput dari tuduhan sebagai sumber penyakit yang mewabah didunia.  ‘Coba lihat seluruh Kenya, siapa yang AID, Bird Flu, Ebola, Yelow fever ?, Africa is continent friend, hundred countries are in Africa‘. Rupanya, orang ini jengkel dengan masifnya pemberitaan negatif tentang Afrika di TV dan medsos. Medsos buatan Amerika inilah sumber utama yang bikin turis ogah datang ke Kenya.

Mirip Halim Perdana Kusuma Airport Jakarta

Akhir kata, kalau anda ke Mombasa, jangan lupa mampir ke Rafiki Cafe dan temui Elewa. Sambil ngopi dengarkan cerita ceritanya. Pasti seru.

Counter Check In Sepi
Check In Penumpangnya Sedikit
Karena Pesawat Lokal Kecil Dan Masih Baling Baling
Rafiki Cafe
Lumayan Ada Yang Jual Minuman
Ruang Tunggu Keberangkatan
2 – 3 Jam Saya Tungguin Tetap Saja Kosong
Candy Shop Jual Permen, Buku Travel
Cendera Mata Dan Minuman Kaleng
Banyak Burung Beterbangan Didalam Airport
Ada Wabah Flu Burung Di Amerika Yang Dituduh
Burung Di Afrika.

 

Nonton Kampanye Di Kenya

Semua Papan Iklan Komersial Ditutupi
Wajah Kontestan Pemilu
Masih ingat kan beberapa tahun lalu alm. Gus Dur pernah mengatakan bahwa demokrasi di Indonesia itu masih sekelas Taman Kanak Kanak ?. Ternyata apa yang dikatakan Alm. Gus Dur tersebut sangat benar sekali. Baru baru ini saya menyaksikan sendiri kampanye, pesta demokrasi di Kenya. Ya benar Kenya, negara di Afrika Timur yang menurut sebagian besar orang termasuk negara unyu unyu, baru berkembang, negara kere atau negara sangat terbelakang. Sebuah pendapat yang jelas salah. Kenya itu demokrasinya bukan Taman Kanak Kanak lagi, tapi sudah SMA.
Calon Gubernur
Iklan Besar Seperti Ini Banyak Dipasang
Di Sepanjangg Jalan Mombasa – Nairobi
Minggu depan, Tanggal 8 Agustus 2017 Kenya akan mengadakan Pemilihan Umum Serentak untuk memilih Presiden, Anggota legislatif/Parlemen dan kepala daerah (Gubernur dan Bupati). Indonesia, Pemilihan Umum Serentak secara nasional untuk pertama kalinya baru akan diadakan tanggal 17 April 2019 nanti. Jadi, jelas kan, dibanding negara unyu unyu Kenya saja Indonesia masih tertinggal. Baru mikir beberapa tahun terakhir ini untuk mengadakan Pemilihan Umum Serentak. Kenya sudah melakukan Pemilihan Umum Serentak tahun 2007 (Pilpres dan Pilkada Serentak), 2013 (Pilpres, Pilkada dan Pileg Serentak) dan 8 Agustus 2017 (Pilpres, Pilkada dan Pileg Serentak).
Penduduk Kenya Banyak Yang Cuek Saja
Nggak Percaya Janji Janji Politisi

 

Aturan mainnya relatif sama dengan di Indonesia. Contohnya adalah Pilpres, aturan main Pilpres di Kenya menggunakan Modified Two Round System. Maksudnya, seorang capres bisa terpilih jadi presiden apabila berhasil memperoleh suara 50% plus satu. Pemilihan akan lanjut ke ronde kedua bagi dua pasangan capres dengan perolehan suara tertinggi kalau tidak ada satupun kandidat yang bisa mencapai 50% plus satu di ronde pertama. Yang dimaksud ‘modified‘ adalah ketentuan tambahan bahwa capres juga harus memenangkan 25 % suara di 24 dari 47 counties.
Kontestan 2017
Sama Saja, Politisi Dimanapun Suka Ngumbar
Janji Janji Kampanye
Tahun 2017 ini ada 8 calon presiden yang diajukan partai atau koalisi partai. Kandidat terkuat untuk bisa terpilih jadi presiden adalah Uhuru Kenyatta (Pertahana – Partai Jubilee) dan Raila Odinga Partai ODM dan NASA. Suasana desa, kota dan penduduk dimasa masa kampanye seperti saat ini biasa biasa saja. Cuek bebek, sepertinya masyarakat sudah bosan dengan janji janji kampanye.
Politisi Kampanye Selalu Cari Tempat Yang Terkumuh
Secara umum, kelakuan politisi Kenya sama saja dibanding dengan politisi Indonesia saat kampanye. Gayanya seolah olah merakyat dan berusaha dekat dengan rakyat. Tempat kampanye dipilih di lokasi lokasi yang paling miskin dan mengenaskan. Kampanye umumnya dilakukan di tanah kosong tempat masyarakat terpinggirkan berkumpul dan si politisi koar koar ngumbar janji akan meningkatkan pendapatan rakyat miskin, buruh dll.
Suasana Kampanye Di Tanah Kosong
Dekat Perkampungan Buruh Pabrik Semen Di Mombasa
Ada juga politisi yang blusukan ke pasar pasar tradisional, pabrik semen dan kalau menuju ke lokasi kampanye selalu berombongan naik Boda Boda (kalau di Indonesia namanya Ojek), Matatu (Angkot) atau Tuktuk (Bajaj). Bagi bagi kaos juga ada dan paling ditunggu tunggu masyarakat. Yang sedikit berbeda, orang Kenya sepertinya tidak begitu suka ribut atau nyebar hoax lewat medsos. Level demokrasinya sudah lebih tinggi dibanding masyarakat di Indonesia saat ini. Orang Kenya cuek dan santai aja ada politisi koar koar di lapangan.
Janji Kampanye Politisi
Sama Saja Dimanapun
Rombongan Politisi Memasuki Lapangan
Naik Angkot, Boda Boda (Ojek), Matatu (Angkot)
Dan Tuktuk (Bajaj) Biar Kelihatan Merakyat
Golput
Baca :