Monthly Archives: July 2016

Ikan Bu Susy Masuk Kuwait

Seafood Fest
Ikan Dan Seafood Hasil Jerih Payah Bu Menteri Susy
Menenggelamkan Kapal Di Indonesia

Antara percaya dan nggak percaya, kaget, heran sekaligus bangga saya alami hari ini. Sekitar 10 tahun saya tinggal di Kuwait baru kali ini saya menyaksikan ada ikan dan hasil laut segar asal Indonesia dijual di Kuwait. Mulai Ikan Tuna sampai cumi cumi segar ditata rapih berderet deret dan bersanding dengan ikan Salmon dari Norway dan ikan ikan lokal dari Saudi Arabia dan Kuwait.

 

Best Offer Ikan Tuna Dari Indonesia
Patut diacungi jempol memang Indonesia saat ini. Berkat usaha keras Bu Menteri Perikanan Susy Pudjiastuti menenggelamkan kapal kapal pencuri ikan di perairan tanah air, saat ini pelan tapi pasti mulai terlihat produk produk perikanan Indonesia di Kuwait. Semuanya masih ikan dan seafood segar, belum nampak sama sekali hasil ikan olahan. Sampai saat tulisan ini saya buat, semua produk ikan olahan yang saya jumpai di Kuwait masih tertulis jelas Product Of Philipine. Terutama ikan asin dan ikan Sardine dalam kaleng.
Semua Ikan Dan Hasil Laut Masih Segar

Yang menarik, ikan ikan asli Indonesia tersebut begitu masuk Kuwait namanya berganti jadi nama Arab. Nggak ada bancakan atau kenduri soal ganti nama ikan ikan Indonesia tadi, Bawal, Dorang, Kerapu dan lain lain semua kompak ganti nama menjadi nama nama Arab, Hamour, Tilapia, Bijah dll. Exportirnya yang biasanya dengan mudah saya baca dari China, Thailand, Vietnam, Philipine dan Singapore saat ini berangsur angsur berganti dengan awalan PT, artinya perusahaan Indonesia sudah mulai bisa masuk ke pasar Timur Tengah.

Semoga seterusnya nelayan dan perikanan di tanah air semakin maju.

Cumi Cumi Indonesia
Besar Besar
Ikan Dan Seafood Indonesia Memang Tampak
Berbeda Dan Berkelas Dibanding Ikan Dari Negara Lain
Hiasan Gantung Seafood Fest
Nama Ikan berubah Jadi Nama Nama Ikan Arab
Ada Timbangan Lion Star Juga
Masih Tertulis Bahasa Indonesia

Baca Juga :

Bus ‘Menghargai Wanita’ Di India

Busnya Kecil, Imut, Pendek, Tua, Kumuh Dan Lucu
Semua Tanpa AC
Jakarta pernah punya bus butut Metro Mini dan Kopaja yang legendaris. Bus reyot ini sayangnya sudah berangsur angsur tinggal sejarah saja sejak disikat habis oleh Gubernur DKI Jaya, Ahok. Di Ibukota Negara India, New Delhi sampai kota terdekatnya Noida dan Agra semua bus kota dan bus antar kota sama bututnya dengan Metro Mini. Apalagi di Rajasthan seperti Jaipur, Jodpur, Udaipur, jelas butut, reyot dan tanpa AC. Penumpangnya nggak semuanya duduk, ada yang berdiri, ada juga yang bergelantungan di pintu. Bus AC jarang sekali melintas, kayaknya AC masih merupakan barang mewah bagi penduduk India.
Bus Jompo Antar Kota Tanpa AC Seperti Ini Di
Indonesia Sudah Nggak Beroperasi Lagi
Dibandingkan Indonesia, transportasi bus India jelas jauh ketinggalan jaman kira kira 30 tahun dibelakang. Bus bus antar kota di Indonesia sudah puluhan tahun yang lalu menggunakan AC. Di India, bus berAC sangat langka. Saat ini bus AC baru beberapa gelintir saja yang melintas, tetapi mulai menjamur di wilayah India Selatan seperti Bangalore dan Chenai. Dari teman teman India saya di Kuwait, mereka juga mengakui kalau India bagian selatan memang jauh lebih makmur penduduknya dibanding India Utara. New Delhi itu hanya pusat pemerintahan sedangkan industri, pengetahuan dan IT semua berada di selatan.

 

Ada Bau Khas Naik Bus Di New Delhi
Mirip Mirip Bau Bawang

 

Yang menarik dari transportasi umum di New Delhi, Agra, Jaipur, Udaipur dan kota kota lain disekitar Rajasthan adalah tanda peringatan buat wanita. Ada yang menulis ‘Taxi Ini Menghargai Wanita‘, ‘Hormati Wanita‘ dan lain lain. Semakin banyak tulisan peringatan semacam itu, saya langsung bisa menebak : ‘Betapa bahaya atau tidak amannya wanita kalau bepergian menggunakan angkutan umum di India‘.  Ingat, kalau anda membaca tulisan  ‘Bus Ini Menghargai Wanita‘, itu maksudnya yang menghargai wanita adalah busnya bukan sopir atau penumpang lainnya.
Ngetem Nunggu Penumpang Penuh
Puanas Dan Berkeringat – Penumpangnya Diluar Semua

 

Jadi, kalau anda wanita lebih baik jangan sekali kali bepergian sendiri menggunakan angkutan umum. Saya tidak pernah merasa takut jalan jalan seorang diri di negara manapun, baik jalan kaki, nyetir mobil sendiri maupun menggunakan angkutan umum. Tapi di India terasa lain, setiap langkah ada rasa khawatir yang berlebihan.  Rasanya semua mata mengawasi apalagi pedagang asongan banyaknya bukan main dan selalu mengikuti kemanapun kita pergi bahkan menghalangi langkah saya. Belum lagi sopir bajaj, ricksaw dan orang orang dipinggir jalan yang menawarkan jasa untuk shopping ke toko tertentu. Penduduk India memang luar biasa banyak dan untuk bisa kerja di India memang terlihat kasat mata sangat sangat berat.

 

Bus Reyot Berhenti Naik Turunkan Penumpang
Seenaknya Sendiri
Lupakan keinginan anda untuk backpackeran atau solo travelling di India. Sudah sering saya mendengar berita berita yang kurang bagus terjadi di India terhadap turis asing. Mulai Sexual Harrasment sampai pemerkosaan sering jadi berita utama. Kecuali kalau memang anda punya keinginan untuk jadi ‘bancakan’ orang India.




Ini Bus Kota – Butut Tanpa AC
Ini Baru Bus Kota AC
20 Bus Non AC Lewat Baru Ketemu Satu Bus AC

 

Cieee Warnanya
Masih Bagusan Metromini Dan Kopaja

 

Ini Bus Kayaknya Merakit / Buat Sendiri Di Bengkel

 

Semua Angkutan Umum Oplet Atau Bus
Ada Tulisan ‘Menghargai Wanita’
Semua Bus Ada Hotline Number
Women Hotline – Artinya India Memang Tidak
Aman Bagi Wanita

Baca Juga :

Bayar Toll Preman Di New Delhi

Masuk Kota New Delhi Sector 14A
Seluruh Kota Iklannya Semrawut Tidak Tertata Rapi

 

Perjalanan saya dari Delhi menuju Agra lancar lancar saja. Saya lewat jalan Toll bernama Yamuna Expressway atau Taj Expressway. Katanya baru mulai dipakai 4 tahun lalu, dan toll ini menghubungkan New Delhi – Noida – Agra. Jarak sekitar 165 Km bisa saya tempuh dalam waktu sekitar 2 – 3 jam ke Agra. Total biaya toll yang saya keluarkan sekitar 665 Rupee pulang pergi. Kalau dirupiahkan sekitar Rp 130.000 untuk total jarak 2 x 165 Km atau 330 Km pp. Relatif murah sebenarnya dibanding Indonesia. Tetapi bagi orang India harga tersebut akan terasa sangat mahal. Sangat logis karena Pendapatan Per Capita India hanya separuh Pendapatan Per Capita rakyat Indonesia. Indonesia sekitar $ 3,362 dan India hanya $ 1,162 (Sumber dari IMF dan World Bank data tahun 2015 – Wikipedia).

 

Sepi – Padahal Hari Libur
Di Internet Sangat Padat Saat Peresmian
Orang India Kalau Ada Tol Baru Rame Rame Mencoba

 

Karena mahal tersebut jalan Toll Delhi – Noida – Agra ini bisa saya katakan sangat sepi sekali. Tidak sepadan dengan jumlah penduduk India yang 5 kali lipat dibanding jumlah penduduk Indonesia. Sampai saat ini India masih nomor dua dunia dalam hal ‘beranak‘. Jumlah penduduk India 1.3 Milyar dan Indonesia hanya 260 Juta penduduk saja. Silahkan kalau mau nambah anak.

 

Toll Gate Ini Kalau Di India Namanya Toll Plaza
Ada Sopir Yang Tawar Menawar Tarif Toll

 

Saat pulang kembali ke New Delhi, ada kejadian mengagetkan yang saya alami. Kira kira satu Km setelah gate toll terakhir, mobil saya tiba tiba dicegat ditengah jalan dan diminta minggir oleh seseorang. Saya tahu pasti orang tersebut bukan polisi karena penampilannya klomprot, tanpa seragam dan dekil. Polisi lalu lintas di India bajunya putih dengan penampilan rapi seperti Satpam di Indonesia. Katanya saya harus bayar MCD Toll Tax. Apa pula ini, saya tunjukin karcis toll yang baru saya bayar lunas beberapa menit lalu langsung ditolak.
“MCD Toll Tax please” 
 
Nggak mau ribut, langsung saya beri 100 Rupee. Langsung pergi, ngabur tanpa terima kasih dan tanpa memberi uang kembalian. Ya, udah, ikhlasin saja. Jalan saja lagi menuju kota.

 

Plat Nomor Putih Dan Plat Nomor Kuning
Plat Nomor Kuning Ternyata Memang Harus Bayar

 

Nyampai di Hotel saya penasaran. Saya tanyakan panjang lebar ke Resepsionis Hotel tentang pungutan liar yang barusan saya alami tadi. Saya penasaran, kenapa mobil saya dicegat dan dipalak Preman. Ternyata jawabannya cukup mengejutkan. Orang yang menghentikan dan minta bayaran tersebut resmi dari pemerintah kota New Delhi. MCD Toll Tax itu maksudnya Pajak bagi kendaraan umum dari luar kota yang mau memasuki kota New Delhi. Kalau plat nomor mobil berwarna kuning, berarti kendaraan umum (komersial), harus bayar MCD Toll Tax. Plat nomor berwarna putih berarti kendaraan pribadi, bisa langsung lewat tanpa harus bayar sama sekali.

 

Plat Nomor Kuning Harus Bayar MCD Toll Tax
Kalau Mau Masuk Kota New Delhi
Lha mobil yang saya pakai ini adalah mobil sewaan, tentu plat nomornya warna kuning. Jadi wajib bayar kalau mau masuk kota New Delhi. Bayarnya memang 100 Rupee untuk Taxi dan mobil SUV/MPV. Yaaa ampyunnnn,  Saya kira preman ternyata petugas negara. Saya kira uang kembalian dikantongi untuk diri sendiri, ternyata bayarnya memang 100 Rupee.

 

Coba Lihat Petugas Yang Menghentikan Mobil
Plat Kuning Diatas, Mereka Preman Atau
Pegawai Pemerintah Daerah

 

Kalau pungutan resmi dari pemerintah kota New Delhi, kenapa petugasnya klomprot, tidak berseragam dan dekil. Kenapa pula Pos pungutannya seperti Warung Rokok dan bahkan mirip WC Umum dipinggir jalan ?. Si mbak resepsionis yang senyumnya mirip artis Bollywood Priyanka Chopra tersebut pura pura nggak dengar. Sambil geleng geleng kepala malah menjelaskan bahwa MCD itu singkatan dari Municipal Corporation Of Delhi. Aturan membayar MCD Toll Tax atau pajak masuk kota bagi kendaraan umum ternyata baru diberlakukan 1 February 2016 yang lalu.
 
Oooo gicu to ???
Pantas saja petugasnya masih klomprot, belum punya seragam dan pakai sandal jepit.

 

Truk Dan Bus Cukup Melempar Duit
Nggak Perlu Turun
Siapa Sangka Pos Pungutan Seperti Ini
Milik Pemerintah
Akhirnya Masuk Juga Kota New Delhi

Baca Juga :