Monthly Archives: February 2015

Kemana Lapak PKL Covent Garden

Covent Garden
PKLnya Ada Ada Yang Jual Lukisan
Covent Garden adalah sebuah district di kota London, UK yang berjarak sekitar 6 menit jalan kaki dari Soho District (Baca : Soho – Pasar Gini Di Kampung Ane Juga Ada). Meskipun namanya Covent Garden, tetapi sebenarnya sekarang di lokasi ini nggak ada tamannya sama sekali. Yang ada cuma pasar, toko toko segala macam barang dan jasa dan juga rumah makan. Saat ini wilayah ini menjadi obyek wisata utama kota London, terutama pasarnya. Kalau anda menyebut Covent Garden pasti penduduk setempat akan membawa anda ke pasar, bukan ke tempat lain.
,
Block Ini Namanya Apple Market, Dulu Covent Garden
Adalah Pasar Buah Dan Tempat Prostitusi
Tapi Sekarang Tempat Segala Macam Pedagang Kaki Lima
Sebelum jadi tempat kunjungan turis terkenal seperti sekarang ini, sebenarnya jaman dulu sekitar awal abad 16 merupakan tempat perdagangan orang Inggris Jadul dan pasar buah buahan. Setelah itu dengan berjalannya waktu maka berangsur angsur berubah menjadi Kawasan Lampu Merah atau Red Light District dengan berbagai macam tempat hiburan yang sangat tersohor dan bersaing kuat dengan kawasan lampu merah tetangganya terdekat, Soho. Sama halnya dengan Soho, mulai tahun 1980an kawasan ini disulap menjadi pasar retail kembali dan bisa mendatangkan jutaan turis untuk berkunjung sampai saat ini. Agak mirip ceritanya dengan Gang Dolly Surabaya yang ditutup oleh walikota, ibu Risma menjadi kawasan yang lebih baik dan bermartabat.

 

Restaurant Terbuka Ini Kalau Pasar Tutup
Meja Dan Kursinya Menghilang
Seperti apa pasar Covent Garden ini kok sekarang bisa mendatangkan banyak sekali turis ?. Nah, ini dia anehnya dan membuat saya terheran heran. Nggak pakai dukun dan juga nggak pakai magic semua turis  berduyun duyun datang ke pasar ini. Saya sangat heran sekali karena harganya biasa biasa saja dan isinya relatif sama dengan pasar pasar kaki lima di tanah air. Ada lapak PKL yang jualan kerajinan tangan dan lukisan, ada lapak penjual baju, ada lapak jual makanan, lapak jual casing handphone dan segala macam pernak pernik dagangan yang sebenarnya sama saja dengan apa yang dijual PKL di Indonesia.

 

Meja Lapak Pedagang Kaki Lima Ini
Tampak Manis Dengan Taplak Meja Warna Warni
Berhari hari saya mengamati pasar para pedagang kaki lima Bule ini, terutama lapak lapak kecil yang digelar disegala penjuru pasar. Kalau pasarnya tutup, dalam waktu singkat semua lapak menghilang dan bersih tak terlihat sama sekali. Pagi hari tiba tiba muncul kembali dan dalam hitungan menit semua dagangan sudah terpajang dengan rapi. Sempat saya kira semua barang dagangan dibawa pulang kerumah, ternyata tidak. Saya kira rumah para pedagang kaki lima tersebut didalam pasar atau tidak jauh dari pasar. Ternyata saya salah juga.

 

Lapak Penjual Pigura Ini Juga Bersih
Kalau Malam Hari – Disimpan Dimana Lapak Ini ?
PKL Inggris ternyata sama saja dengan PKL Indonesia. Kalau pasar tutup, gerobak dorongnya ternyata disuruk surukkan di tempat tempat tertentu yang tersembunyi tidak jauh dari pasar. PKL Inggris ternyata juga sama saja dengan PKL manapun. Mereka berteman baik dengan pemilik toko terdekat yang mau dititipin gerobak, meja dan kursi. Entah bayar atau enggak saya kurang tahu. Kalau bayar berapa ongkos sewanya per hari, tapi kalau gratis kok rasanya nggak mungkin.
.
Dagangan Dan Lapak Ini Juga Menghilang
Ditipkan Dimana ?

 

Ada juga orang Inggris yang kreatif, tanah kosong miliknya ditempatkan beberapa container yang berfungsi sebagai tempat untuk menitipkan barang dagangan. Tidak ada penjaga keamanan khusus. Saya perhatikan satu container dipakai bareng bareng beberapa pedagang untuk tempat dagangannya dan akan dikeluarkan kembali keesokan harinya. Boleh juga caranya, seandainya saja disekitar pasar pasar di Indonesia diletakkan container untuk disewakan ke PKL, tentu pasar akan lebih mudah dibersihkan dan akan kelihatan bersih dan rapi. Lihat saja photo photo dibawah ini.

 

Pagi Hari Sekitar Jam 09:00
Semua Lapak Dan Dagangan Dengan Cepat Muncul
Berarti Tempat Penitipan Tidak Jauh
Meskipun Pasar Sudah Mau Tutup
Tapi Kalau Pengunjung Sedang Banyak Ternyata
Pedagang Inggris Ngeyel Juga Nggak Mau Tutup

 

Lapak Kaki Lima Sudah Agak Menghilang
Meja, Kursi Sampai Gerobak Dorong Kemana Ya ?
Ternyata PKL Inggris Sama Saja Dengan Indonesia
Gerobak Dorongnya Disuruk Surukkan
Di Pekarangan Orang

 

Meja Lapak Juga Dionggokkan Di Gang Gang
Yang Tidak Terlihat Umum
Yang Punya Duit Gerobak Dorongnya
Di Titipkan Ke Dalam Toko, Bayar Sewa Tempat Dong
Ugh…. Gerobaknya Nyangkut Pintu
Entah Berapa Biaya Sewa Nitip Gerobak

.

Baca Juga :

Advertisements

Church Street – Pasar Tanah Abang Mini Kota London

Church Street Market
Banyak Tas Dengan Merk Terkenal Tapi KW 3
Murah Meriah
Lama tinggal di negara orang membuat saya kangen dengan suasana dan kehidupan sehari hari di tanah air. Rasanya pingin sekali saya mengunjungi kembali Pasar Menteng Pulo, Pasar Tebet atau Pasar Tanah Abang tempat saya dulu biasa berbelanja kebutuhan sehari hari. Harap maklum saja, saya ini wong ndeso yang sehari hari selalu lewat dan belanja di pasar pasar tradisional tersebut. Yang bikin saya rindu pasar di sekitar rumah saya di Jakarta tersebut apalagi kalau bukan karena kumel, becek, semrawut, amburadul, macet dan baunya itu lho yang ngangeni. Perpaduan antara bau anyir daging segar, buah buahan busuk dan sedikit semilir bau pesing. Untungnya di London buanyak sekali pasar kumel dan butut seperti di tanah air.
 .
Makin Siang Makin Ramai
Jam 5 Sore Sudah Tutup
Salah satu pasar kumel dan butut yang cukup ramai di kota London berada di Church Street. NW-8 City Of Westminster. Kalau anda naik Big Bus Tour, turun saja di Marble Arch. Ikuti saja Edgware Road (A5) kira kira 1,5 Km ke arah Maida Vale Road. Atau bisa juga naik Undeground Tube dan turun di Bakerloo Subway Station. Hanya sekitar 250 meter saja jalan kaki dari Bakerloo Station, pokoknya kalau tiba tiba anda merasa berada ditengah tengah pasar Tanah Abang berarti sudah nyampai ke pasar Church Street.

 

Tinggal Pilih
Jangan Lupa Nawar Biar Dapat Harga Murah
Jangan naik mobil, jalannya penuh lapak pedagang kaki lima. Kalau sampai mobil anda nyenggol lapak, saya bisa pastikan anda akan dikeroyok preman pasar. Jangankan naik mobil, jalan kaki saja saya sering dicegat preman dan dimintain duit hanya karena penampilan seperti pengusaha  sukses. Saat itu saya bawa camera dan cuek jeprat jepret kesana kemari. Kalau anda ke Pasar Church Street ini saya sarankan pakai sandal jepit, jaket kumel dan wajah sebisa mungkin terlihat memelas atau bahkan sebisa mungkin terlihat sangar. InsyaAllah nggak ada preman yang berani mendekati anda.

 

Mau Beli Sabuk Merk Pierre Cardin, Hugo Boss
Semua Ada – Tapi Jelas KW3

 

Pasar ini tidak ada di brosur brosur pariwisata, jadi jarang turis yang kesasar di pasar Church Street ini. Ada perasaan emosional yang sama dengan di tanah air saat memasuki pasar ini. Saat belanja atau jalan melihat lihat dagangan, saya bisa mendekap tas dan dompet erat erat takut kecopetan. Saya juga bisa sedikit takut melebihi sensasi saat nonton film horror kalau ada preman yang ngikuti dan memaksa minta duit. Cara preman Inggris minta duit sama saja dengan di Jakarta, kadang ngikuti dibelakang dan kadang tiba tiba mendahului dan berhenti didepan saya dan berusaha menghalangi langkah saya. Pokoknya asyik, mirip suasana di Tanah Abang.
 .
Lebih Parah Dari Jalanan Di Pasar Tanah Abang

 

Tapi preman Inggris kayaknya kalah nekat dibanding preman preman di Indonesia. Mereka semua tangan kosong tidak ada yang berani mengancam apalagi bawa senjata tajam. Mereka kayaknya takut terlihat orang banyak saat beraksi. Kalau sampai ketahuan polisi sedang malak pengunjung/pedagang atau ketahuan nodong pakai senjata tajam, pasti habis dan langsung bubar masa depannya.  Gimana ? Lain kan dengan preman kita yang gagah berani kemana mana bawa pisau, clurit dan badik ?. Saking nekatnya terkadang Polisipun kalau perlu dimintain rokok atau uang rokok.

 

Berantakan Dan Bau Pasar Yang Khas
Bikin Rindu Kampung Halaman
Koper Koper Murah Berdampingan
Dengan Penjual Buah
Gaun Model Ashanti, Luna Maya
Juga Ada
Barang Kulakkan Baru Diturunkan
Barang Dionggokkan Begitu Saja Dipinggir Jalan
Kalau Hujan Turun Tinggal Ditutupi Plastik
Berantakan
Ada Kardus Kosong, Botol Plastik Dan Kulit Buah
Baju Anak Anak Model Cinderella
Awas, Anak Anak Bisa Merengek Nggak Mau Pergi
Kalau Nggak Dibelikan
Ada Yang Jual Baju, Kaos Dan Rok
Beli Tiga Gratis Satu
Gerobak Dorongnya Asal
Disurukkan Dipinggir Jalan





Baca Juga :

 

Soho, City Of Westminster London Dari Dekat

Berwick Street – Soho District
City Of Westminster – London
 .
Bertahun tahun kepala saya sehari hari dijejali dengan istilah istilah keren, Contohnya SohoSmall Office Home Office. Tentu saja bayangan saya tentang Soho di London tidak jauh dari itu. Sebuah komplek perkantoran kecil, bersih, pelayanan kekeluargaan dan malam hari bisa dipakai juga sebagai tempat tinggal rumah tangga. Terpikir juga dalam pikiran saya, buat apa saya harus susah payah datang ke perkantoran tersebut dari rumah saya di Portsmouth yang jauh. Tapi pikiran saya segera berubah setelah baca brosur brosur pariwisata di London. Ternyata Soho di London bukan Small Office Home Office, tapi obyek wisata utama kota London yang bisa dicapai menggunakan Big Bus Tour, Taxi atau Underground Tube (Kereta Api Bawah Tanah). Soho di London ternyata cuma pasar butut semacam pasar liar yang dikelilingi oleh gedung dan bangunan bangunan kumo bersejarah.
 .
Meskipun Butut Majalah Pariwisata
Harus Menulis Dengan Bahasa Yang Indah Dan Bagus

.

Setelah saya kunjungi dan saksikan sendiri, saya benar benar terkejut karena apa yang tertulis dalam brosur dan majalah pariwisata sangat berbeda dengan kenyataan. Tidak sedikitpun tertulis kata kata ‘lecek’, ‘butut’, ‘becek’ atau semacamnya. Semua tertulis sangat indah dan menarik, dan inilah bedanya cara penulisan media Europe dibanding dengan media di tanah air. Di Indonesia, semua media tidak ada satupun yang menulis dengan cara ‘menyulap’ tempat butut menjadi sesuatu yang indah dan punya daya tarik bagi wisatawan. Orang Indonesia memang sejak lahir terbiasa menulis atau memberi comment dengan cara menjelek jelekkan diri sendiri atau bangsanya sendiri. Serba spontan, apa yang dilihat dan dirasa maka itu pula yang keluar dan di ‘blow up’ kemana mana.
 .
Haram Bagi Majalah Hotel Dan Pariwisata Untuk
Membuat Photo Secara Close Up Seperti Ini
 .
“Soho terletak di City of Westminster dan merupakan bagian dari West End Of London. Lokasinya dikelilingi oleh tempat wisata terkenal lain seperti Strand, Covent Garden, Bloomsbury, Mayfair, St James Park dan lain lain. Konon pada awal abad 20 wilayah ini terkenal reputasinya sebagai tempat industri Sex dan kawasan remang remang. Tapi sejak tahun 1980an telah banyak berubah menjadi toko toko fashion, media office dan berbagai macam restaurant. Hanya tersisa beberapa sex shop dan tempat hiburan malam saja saat ini yang masih bertahan. Contohnya Chinawhite Nightclub dan Public House Bar dengan beberapa Sex Shop tersebar disekitarnya.
 .
Kayak Kramat Tunggak dan Jl KS Tubun
Petamburan Jakarta Tahun 1990an

.

Berbagai macam etnis,  baik kaya atau miskin semua ada di area ini termasuk Paul Mc Cartney yang juga punya kantor di sekitar Soho Square. Philip Morris yang terkenal dengan rokok Marlboro juga membuat pabrik rokoknya pertama kali di Great Marlborough Street. Masih banyak lagi tokoh dan juga artis artis terkenal yang meniti karir dari lokasi ini karena memang jalan jalan didaerah ini banyak sekali Theatre, music room, cinema club dan berbagai macam gedung entertainment. Jangan lupa untuk singgah di Street Market Berwick Street, tempat anda untuk merasakan kepadatan dunia”
 .
Ini Gerobak Siapa Seenaknya Ditinggal
Di Trotoar Nutupi Pejalan Kaki
 .
Nah, cerita yang saya sampaikan dalam tanda kutip diatas adalah contoh cara penyampaian versi Majalah dan Brosur Pariwisata. Nggak salah sih, apa yang disampaikan majalah pariwisata memang harus menarik bagi wisatawan, sesuai sejarah dengan photo photo yang artistik dan mengundang rasa ingin tahu wisatawan. Kalau ditulis apa adanya, siapa yang mau datang ke tempat kumuh dan kumel tersebut ?. Jadi, kesimpulannya…. jangan sekali kali mengeluh atau menjelek jelekkan tempat tempat eksotis di tanah air baik melalui fb, tweter, blog atau apapun. Apalagi menjelek jelekkan presiden terus menerus hanya karena kecewa jagoannya kalah saat pilpres.

 

 .
Ngupas Kelapa Airnya Jangan Dibuang
Dijalan Dong, Jadi Licin Jalannya
 .
Karena saya nggak bisa membuat photo artistik, maka yang saya sajikan disini hanya photo photo asal jepret saja. Saya agak kesulitan mengambil photo gedung gedung yang dimaksud majalah dan brosur pariwisata tersebut karena banyak yang ketutupan lapak lapak pedagang kaki lima. Lain kali akan saya tampilkan photo ‘Bird View’ dalam tulisan tulisan saya biar kelihatan seperti majalah pariwisata. Tapi, mohon maaf, berhubung saya jalan kaki, maka hasil photo kurang menarik dan bener bener ‘Street View’. Yang penting, apa yang saya sampaikan bisa anda terima dengan baik. London, ternyata sama saja dengan kampung ane di Jakarta.
 .
Ya Ampun, Mirip Banget Orang Inggris
Kalau Jualan Dengan Saudara Saudara Gue Di Kampung

 

 .
Ada Karaoke Didalam
Pintu Depannya Ngumpet Dan Kecil
Tapi Bagian Dalamnya Besar

 

 .
Orang Inggris Sedang Tidur
Ssst Jangan Berisik Ya
 .
Baca Juga :

Kumuh – Old Portsmouth Walking Tour 2

The Camber
Bisa Melihat Aktifitas Reparasi Kapal
Turispun Senang Di Tempat Butut Seperti Ini
Setelah selesai ‘Walking Tour’ yang sebenarnya bukan walking tapi ‘Standing And Sitting Tour’ di Spice Island, Bath Park, Point dll semua turis digiring ke obyek wisata lain yang bernama The Camber. Jarak dari Bath Park hanya sekitar 50 meter saja. Saya benar benar terkejut menyaksikan pemandangan disini. Karena yang saya saksikan hanya tumpukan jala ikan, besi besi rongsok, kapal rusak, tong sampah berisi berbagai macam sparepart kapal dan hal hal lain yang menurut kita seharusnya disembunyikan dari pandangan mata orang asing.

 

Kapal Kapal Nelayan Rusak
Meskipun Terlihat Kumuh Tapi Banyak Turis Yang
Senang Melihat Aktifitas The Camber

Pokoknya nggak ada bedanya dengan Tempat Pembuangan Sampah Akhir di Bantar Gebang atau Pasar Loak Besi/Logam di Indonesia. Yang membuat saya heran, semua turis terkesan kagum melihat barang rongsok di The Camber ini setelah mendengar penjelasan dari Tour Guide. Dari penjelasan tour guide dan photo photo di papan keterangan biru didepan saya, saya bisa dengan mudah mengetahui sejarah tempat ini. Ternyata The Camber adalah Dock Yard, tempat untuk service dan perbaikan kapal kapal nelayan dan kapal pribadi. Pantas kumuh,,,,,, pantas juga sebelum menuju tempat ini tour guidenya bercanda ‘Now. we will go to the other side of Portsmouth, don’t breath and close your nose‘.

 

Kalau Di Indonesia Tempat Kumuh
Seperti Ini Digusur Atau Disembunyikan Dan Malu
Kalau Dilihat Orang Asing

Berdasarkan info yang saya baca di papan keterangan biru, saya bisa tahu bahwa tempat ini akan digusur, direnovasi dan dijadikan gedung gedung baru yang punya nilai ekonomis tinggi. Sudah tentu ada penolakan dari nelayan setempat karena tempat ini punya nilai historis yang tinggi. Sejarah protes, demo dan ngamuknya para nelayan ini kalau disampaikan ke turis dengan tutur kata yang baik oleh tour guide maka semua turis akan manggut manggut dan mengerti. Tumpukan sampah kalau ditunjukkan photo photonya dan dijelaskan tidak berubah dari tahun ke tahun lengkap dengan alasannya maka turispun tidak akan menganggap The Camber sebagai tempat kumuh dan jelek,

 

 

Gudang Nelayan Di Manapun Terlihat Kumuh
Berserakan Dan Bau Amis, Sayang Di Indonesia
Tidak Dijadikan Obyek Wisata Seperti Di Portsmouth

Saya jadi terpikir, seandainya saja Bundaran HI dipasangi papan keterangan biru buat turis dengan gambar gambar heroik para demonstran dari tahun ke tahun, gedung DPR dipasangi juga papan biru dengan photo anggotanya yang tidur dari tahun ke tahun, wisata banjir – di kawasan langganan banjir di Jakarta dipasangi juga papan keterangan biru buat turis, TPA Bantar Gebang dijadikan wisata lingkungan dengan papan biru menjelaskan permasalahan sampah kota Jakarta dan lain lain tentu akan memberi nilai tambah buat pariwisata di tanah air. Sayangnya, kita malu menjual sesuatu yang kita anggap butut dan jorok. Padahal, banyak orang asing yang sebenarnya tertarik dengan keseharian kita dan ingin tahu usaha usaha apa untuk membuat negeri kita bersih.

 

Ditempat Ini Akan Dibangun Gedung Modern
Turis Senang Mendengar Cerita Cerita Perlawanan
Heroik Kalau Ada Rencana Penggusuran
Butut Dan Berantakan
Di Indonesia Banyak, Kenapa Nggak Dijual Untuk
Obyek Wisata Buat Turis
Mobil Nelayan Jadul
Indonesia Punya Banyak Mobil Jadul Seperti Ini
Tinggal Dikemas Saja Dalam Paket Wisata

 

Comberan Mampet Dan Bau
Sejak Tahun 1700an Selalu Mampet Dan Jorok
Tour Guide Menjelaskan Permasalahannya Dan Enak Didengar

 

Pasar Ikan
Ada Photo Photo Kuno Yang Dengan Mudah
Dilihat Turis Untuk Mengetahui Sejarah Pasar Ikan Ini

Baca Juga :

Pintar – Old Portsmouth Walking Tour 1

The Still & West Country House
Tembok Kanan Adalah Pagar Bath Park
Sebelah kiri The Spice Island Inn (Tidak Terlihat)
Sudah lebih dari 30 negara pernah saya kunjungi dan saya bisa menilai betapa besar, kaya dan hebat negeri kita Indonesia, obyek wisatanya buanyak. Negara negara kecil seperti Singapore dan negara negara Europe saya akui memang lebih cerdik dan pintar dalam hal menjual pariwisatanya. Semua titik, semua tempat, semua lokasi, got, parit dan apapun diberi nama yang bagus bagus, dituliskan sejarahnya dan dijual. Di Indonesia, kayaknya kurang PD kalau memberi nama suatu tempat tapi lokasinya berdekatan. Contohnya : Tugu Monas, Lapangan Monas, Air Mancur Monas. Semua memakai nama ‘Monas’ yang sama sehingga turis asing langsung bisa menebak lokasinya sama.

 

The Spice Island Inn
Semua Bangunan, Rumah, Taman Di Daerah Ini
Berada di Spice Island Padahal Bukan Pulau Sama Sekali
Di negara negara Europe cukup populer istilah Walking Tour. Ada yang 2 jam, 3 jam atau 4 jam dan sudah tentu semakin lama semakin mahal ongkosnya. Brosur brosur pariwisata dan juga applikasi smartphone mudah didapat atau download juga. Bagi turis yang belum pernah ke tempat wisata tersebut biasanya membayangkan lokasinya sangat berjauhan dan melelahkan karena nama nama lokasi tidak sedikitpun ada kesamaan sama sekali seperti nama nama di Tugu Monas diatas.

 

Ada Dua Papan Keterangan
Portsmouth Point Dan Spinnaker Tower
Lokasi :  Bath Park – The Spice Island
Nah, sebagai contoh photo photo disamping ini saya ambil di Portsmouth. Biar lebih menjual, maka namanya dibuat menarik menjadi Old Portsmouth. Sebenarnya nggak perlu walking juga bisa, cukup merangkak karena semua obyek radiusnya cuma sekitar 30-40 meter saja. Untuk Walking Tour di Old Portsmouth ini turis akan dibawa ke :

The Spice Island

Tour guide akan menjelaskan pada jaman dulu perdagangan rempah rempah masuk melalui tempat ini. Sangat ramai sekali dan prostitusi marak di pelabuhan ini. Rumah rumah disekitar sini dulu adalah ‘brothel’, rumah bordil yang terkenal sebagai tempat menghambur hamburkan uang para saudagar rempah. Sekarang yang masih tersisa dan masih sama seperti jaman dulu hanya The Spice Island Inn. Setelah itu seluruh turis diminta photo dengan latar belakang The Spice Island Inn. Kalau ada yang kritis dan tanya dimana ‘Island’nya maka cukup dijawab No, No island. It’s only the name. The island of paradise where the rich men meet with the hooker

 

Point
Sejarah Digambarkan Secara Visual Mulai Tahun
1700an Sampai Sekarang



The Bath Park

Sebagai orang Indonesia yang negaranya sangat besar dan luas, bayangan saya Park itu seluas Taman Monas. Ternyata cuma sebesar rumah RSS type 36 saja. Untuk menuju tempat ini cukup jalan 10 meter saja. Mau lebih cepat loncat saja pagar tembok. Konon katanya rempah rempah dari Maluku diturunkan ditempat ini. Sekarang isinya cuma tempat duduk batu mengelilingi meja batu besar. Kayaknya sih cocok untuk ngelamun memandang laut kalau lagi patah hati.

 

Spinnaker Tower
Sejarah Mulai Dibangun, Alasan Dan Dana Pembangunan
Turis Kere Nggak Perlu Bayar Tour Guide



Spinnaker Tower

Lokasi nggak pindah masih di Bath Park, hanya bergeser sekitar 5 meter saja. Kalau sebelumnya duduk di kursi batu sambil mendengarkan tour guide ngoceh, sekarang berdiri didepan papan keterangan berwarna biru sambil baca sendiri sejarah berdirinya Spinnaker Tower. Sudah tentu si tour guide nggak perlu cerita terlalu banyak karena semua turis sibuk jeprat jepret photo dengan latar belakang Spinnaker Tower, nggak usah saya tulis disini sejarahnya, menara ini anggap saja ‘Monas’nya Portsmouth. Lokasi menara jauh dibelakang tapi untuk photo photoan memang bagus sekali dari The Bath Park ini. Mau mendekat, bayar lagi paket 4 jam.

 

Bath Park
Nggak Ada Tanaman, Batu Doang Untuk Duduk Duduk



The Point

Kereeen namanya. Untuk menuju tempat ini cukup geser kekanan dua langkah saja. Baca saja sejarahnya melalui papan keterangan biru didepan anda. Perhatikan juga photo kuno tahun 1700an, 1800an, 1900an dan saat ini. Kalau nggak tahu tanya saja tour guidenya. Ternyata, ini adalah titik dimana kita bisa memandang Spinnaker Tower. Pada jaman dulu digunakan juga sebagai titik pandang bagi para WTS kalau ada kapal saudagar rempah mau berlabuh. Ceileeee ….abang datang.

 

Semua Titik Diberi Nama Dan Punya Sejarah
Cukup Dengan Photo Photo Kuno
Orang Bisa Melihat Perjalanan Sejarah Toilet Juga

The Still & West Country House

Nah, terakhir setelah perjelanan yang ‘melelahkan’ (baca : tidak lelah sama sekali), semua turis digiring ke The Still & West Country House. Saya kira tempat apa, ternyata rumah makan kuno sudah ada sejak tahun 1700an. Semua mencoba ‘makan’ makanan yang terhidang ala kadarnya. Konon menu dan resep makanan tidak berubah  sejak jaman baheula dan diturunkan turun temurun. Kalau mau makannan yang lain bayar sendiri. Susah nolaknya lagipula, malu maluin bangsa Indonesia kalau sampai nggak ikutan makan. Jarak dari The Bath hanya 5 meter saja nyeberang jalan.
Gimana pendapat anda, pinter sekali kan cara pemasarannya ?.  Benar nggak istilah ‘Walking Tour’ tsb ?. bagi saya ‘walking di radius 30 meter itu bukan ‘walking’ namanya. Saya sudah terbiasa ‘walking’ di area Borobudur yang luas sekali. Bisa bayangkan tidak berapa uang masuk kalau wisata dibuat kecil kecil seperti ini. Tunggu cerita berikutnya tentang paket Walking Tour yang lebih lama, 3 jam. Di Indonesia mah kalau cuma 3 jam baru nyampai tujuan sudah habis waktunya.

Baca Juga :

Lagoan Isles, Negara Kecil Ditengah Kolam

Kerajaan Lagoan Isles
Negara Kepulauan Terkecil Di Dunia
Anda tentu sudah mengenal Vatican, sebuah negara kecil yang terletak didalam kota Roma, Italia. Negara ini namanya Microstates, resmi diakui PBB dan dunia. Tapi banyak juga negara negara micro yang muncul karena joke, tidak puas dengan pemerintah lokal atau alasan lain. Negara negara seperti ini namanya Micronations dan jumlahnya cukup banyak, ada beberapa yang sah secara hukum dan diakui secara lokal saja (mungkin mirip Keraton Yogyakarta dengan skala yang lebih kecil). Anda bisa baca daftar lengkapnya melalui link :  List Of Micronations atau Micronations : The Lonely Planet Guide To Home Made Nations. Dari sekian banyak negara micro tersebut yang pernah saya kunjungi cuma Republic Of Kugelmugel di Vienna, Austria dan terakhir ini Grand Duchy Of The Lagoan Isles di Portsmouth, England.

 

Penduduk Lagoan Isles
Mengamati Negara Dari Wilayah Inggris
The Grand Duchy Of Lagoan Isles ini luasnya hanya 0.043 Km Persegi dan terdiri dari 3 pulau (Island) utama dan beberapa pulau kecil lain yang terkadang bisa muncul dan terkadang bisa tenggelam tergantung pasang surut permukaan air kolam. Jumlah warga ngakunya 30 orang (tahun 2006) tapi kenyataannya cuma bebek , angsa dan tupai. Jumlah 30 orang warga yang di claim ternyata jumlah anggota/warga lokal Portsmouth yang mendukung pembentukan negara merdeka, bebas dari pembayaran pajak dan segala macam tetek bengek dengan aturan pemerintah kota Portsmouth..
Baffin Pond Atau Kolam Baffin Di Taman Kota Portsmouth
Yang Bernama Baffin Park
Grand Duchy Of Lagoan Isles
  • Bentuk Negara       : Monarchy Constitutional
  • Grand Duke           : Louis Robert Harold Stephens
  • Prince Regent         : Michael Bates
  • Prime Minister        : Johannes Siegel Claimant
  • Merdeka                : 16 Agustus 2005
  • Luas Negara          : 0.043 Km Persegi
  • Semboyan Negara  : The Water Of Love Surrounds Us (As Ondas Do Amor Cercam Nos)
  • Lagu Kebangsaan   : God Save Our Islands Tree

Baca sendiri keluarga kerajaan melalui website resmi Grand Duchy Of Lagoan Isles ini.

Bendera Negara Berkibar Gagah Ditengah Pulau
Dengan Latar Belakang Ruko Penduduk
Di Wilayah Inggris

 

Keren kan 30 orang saja bisa mendirikan negara merdeka ?. Definisi Island di kerajaan ini sangat berbeda dengan definisi orang Indonesia. Kalau orang Indonesia mendefinisikan Island atau pulau sebagai daratan ditengah laut, tapi Kerajaan Lagoan Isles ini mengartikan island sebagai daratan ditengah kolam kota Baffin Pond. Ya benar, nama kolam ditengah taman kota ini Baffin Pond, luasnya kira kira sebesar lapangan sepak bola atau paling banter seperempat lapangan Monas. Pulau terbesarnya kira kira berdiameter 10 meter dan dua pulau kecil disampingnya sekitar 4 – 6 meter.
Tempat Duduk Di Wilayah Inggris
Untuk Mengamati Kerajaan Lagoan Isles

Sejarahnya cukup panjang dan bisa anda baca di website resmi milik kerajaan ini : Grand Duchy Lagoan Isles Official Website. Secara garis besar, wilayah kerajaan sudah ada sejak 1738 dan kepemilikan tanah sudah berpindah tangan berkali kali sebelum dikelola oleh pemerintah kota Portsmouth. Mulai awal abad 19 diubah menjadi taman kota oleh pemerintah dan tahun tahun berikutnya wilayah sekitar berubah menjadi perumahan. Karena kegigihan ahli waris, kecintaan penduduk lokal terhadap margasatwa di wilayah tersebut dan kekhawatiran akan rusaknya habitat tanaman dan satwa, maka sekitar tahun 2005 mereka melihat ‘celah hukum’ dan claim bahwa pulau di tengah kolam Baffin tidak ada yang memiliki karena tidak ada satu catatanpun yang secara tegas mengatakan milik pemerintah Inggris maupun pemerintah kota Portsmouth. Sedangkan ahli waris punya bukti authentic dan catatan sejarah bahwa seluruh wilayah Portsmouth pernah jadi milik leluhurnya.

Princes Of Lagoan Isles
Baru Kali Ini Ada Royal Family Bertugas Sebagai
Tour Guide

Ya iyalah, pasti menang dalam persidangan, Dimanapun juga yang tertulis sebagai milik pemerintah kota pasti taman, kolam, air mancur, pagar dan fasilitas lainnya didalam taman. Tidak akan tertulis detail ‘gundukan tanah ditengah kolam’ dan ‘satwa’ sebagai milik pemerintah kota. Susah membuktikan bahwa gundukan tanah ditengah air kolam sebagai tanah yang dimiliki pemkot. Penggugat punya bukti kuat seluruh kota Portsmouth adalah milik leluhurnya dan tidak ada catatan sama sekali bahwa gundukan tanah ditengah kolam tersebut termasuk yang diserahkan ke pemkot.

Penduduk Lokal Kerajaan Lagoan Isles
Sedan Pacaran

Dan akhirnya tanggal 16 Agustus 2005, bertepatan dengan hari kemenangan sidang, maka dengan resmi diproklamasikan hari kemerdekaan Kerajaan Lagoan Isles. Dengan catatan Kerajaan Baru ini harus bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan pulau dan margasatwanya. Lumayan, sekarang bisa benar benar merdeka, pemerintah kota Portsmouth tidak bisa lagi seenaknya menebang pohon atau membersihkan semak semak di daratan ditengah taman kota tersebut.

Pulau Terbesar Kerajaan Kepulauan Lagoan Isles
Dilihat Dari United Kingdom
Bebek
Penduduk Asli Warga Negara Kerajaan Lagoan Isles

Baca Juga :

Portsmouth, Kota Atau Kuburan

Albert Road Portsmouth
Mirip Ruko Ruko Di Tegal, Pematang Siantar Atau Klaten
Sudah beberapa minggu ini saya terdampar di Portsmouth dan sebisa mungkin harus betah dan bisa beradaptasi dengan lingkungan baru. Barangkali anda akan berdecak kagum, ‘Portsmouth boo, kereen, hebaaaat‘. Tunggu, jangan komentar apa apa dulu. Sebelum berangkat dan tiba di kota ini, bayangan saya seperti anda. Portsmouth adalah sebuah kota yang ramai, maju dan penuh dengan gedung gedung tinggi yang modern. Ternyata saya keliru, Portsmouth adalah kota kecil semacam kota bahari. Jangan membayangkan seperti Surabaya yang penuh dengan gedung pencakar langit. Di Portsmouth gedung tinggi bisa dihitung dengan jari tangan kiri, nggak perlu anda mengacungkan tangan kanan apalagi jari kaki anda, terlalu banyak kalau dihitung dengan semua jari tangan dan kaki. Katakan saja kota ini setara dengan kota bahari Tegal.
Albert Road
Bisa Nyeberang Sambil Koprol Di Jalan
Kalau anda buka wikipedia, anda akan tahu juga bahwa penduduk Portsmouth cuma 205.400 orang (Source : Portsmouth – Wikipedia) atau hanya seperempat penduduk Klaten yang jumlahnya sekitar 1.129.862 orang (Source : Klaten Regency – Wikipedia). Artinya, untuk mengatur kota dengan penduduk sekecil itu dan membuat kota bersih dan maju, cukup datangkan saja Lurah dari Indonesia. Nggak perlu orang sekualitas Walikota atau Gubernur. Indonesia punya jutaan Lurah yang berpengalaman ngurusi penduduk dengan jumlah segitu.
Waverley Road
Mau Salto Dan Jungkir Balik Di Jalan Juga Bisa

 

Jadi bisa kebayang kan perbandingan kesibukan antara Lurah di Indonesia Vs City Major di Inggris. Saya katakan semua kota di Inggris, bukan Portsmouth saja. Hampir semuanya nggak ada penduduknya kecuali London dan Manchester saja. Kebayang nggak betapa enaknya jadi Walikota di kota kota di Inggris. Ngatur kota bisa tenang nggak banyak di demo warganya. Lalu lintas sangat sepi kalau dibanding kota kota di Indonesia. Nggak perlu mengerahkan ribuan polisi untuk jaga diperempatan jalan. Nggak perlu terlalu repot ngurusi kemauan berbagai macam ormas atau suku seperti Betawi, Batak, Madura, Jawa, Sunda, Ambon dll. Coba kalau sebaliknya, City Major Portsmouth disuruh ngurus Klaten misalnya, bisa klenger dia menghadapi permasalahan warga yang begitu kompleks.
Toko Dan Restaurant Di Albert Road
Umumnya Restaurant  Delivery Atau Take Away
Jarang Yang Bisa Makan Di Tempat

 

Silahkan melihat photo photo pada gambar diatas dan simpulkan sendiri. Ini kota atau kuburan ?, kalau kota kemana penduduknya. Kalau kuburan kenapa besar sekali ?. Saya bukan lurah dan tidak punya pengalaman jadi Lurah sama sekali. Meskipun saat ini hanya seorang ibu rumah tangga, saya merasa ‘cincai’ ngurus kota sepi seperti ini. Jangan meremehkan saya, meskipun pengalaman saya cuma Arisan dan Shopping, saya merasa sanggup ngatur kota dengan penduduk hantu seperti ini.

Sepanjang Hari Jam Berapapun
Pemandangan Ya Seperti Ini.

Tapi, bagaimanapun juga …. meskipun sepi saya harus betah tinggal di kota ini. Kemana mana transportasi bus banyak dan tidak susah sama sekali. Mau pulang jam sepuluh malampun masih ada bus lewat dan nggak perlu khawatir sama sekali meskipun penumpang bus hanya beberapa gelintir orang. Tunggu saja cerita cerita lain tentang kota Portsmouth dan kota kota lain di Inggris. Saya masih akan lama tinggal di Portsmouth dan keluar masuk negara Inggris ini. Salam.

Photo Ini Diambil Jam 2 Siang
Toko Buka Jam 10 Dan Tutup Jam 5 Sore
Coba Tebak, Ini Kota Mana ?
Klaten, Pematang Siantar Atau Padang Sidempuan
Albert Road Adalah Malioboronya
Kota Portsmouth
Ruko Ruko Kuno Semua
Apa Bisa Untung Ya Dagang Di Portsmouth
Seperti Kota Mati
Tapi Sebenarnya Semua Toko Buka
Karyawannya Paling Cuma Dua Orang
Saya Mau Pamer Photo Di Pertokoan Albert Road
Tapi Kok Seperti Di Glodok Ya
Mobil Yang Parkir Banyak
Jangan Jangan Sopirnya Hantu Nggak Pernah Kelihatan

Baca Juga :