Monggo Pak De, Numpang Lewat Mbah


Puncak Gunung Penanggungan Dilihat Dari Puncak Bayangan
Kira Kira 1 Jam Lagi Untuk Menuju Puncak Gunung Penanggungan

Di Kuwait tidak ada gunung sama sekali dan karena sejak kecil anak anakku tumbuh dan besar di Kuwait, maka hal ini membuat mereka lupa akan kekayaan alam Indonesia yang begitu indah, yaitu Gunung. Liburan tahun ini kebetulan saya bertemu dengan beberapa ‘rekan’ Mountaineer atau pendaki gunung yang bisa dikatakan tidak muda lagi. Orang bilang, “Seorang Veteran Tak Kan Pernah Merasa Tua” dan hal ini benar adanya. Tantangan untuk mendaki gunung secara marathon langsung saya sanggupi dengan rencana pendakian pertama Gunung Penanggungan, Gunung Arjuna, Gunung Welirang dan Gunung Semeru. Anak bungsuku Dinda juga sanggup untuk belajar Mendaki Gunung sekaligus mendampingi sang Ayah yang secara fisik meragukan karena sudah tidak muda lagi. Semua pengalaman akan saya tuliskan secara berseri dalam blog ini (kalau nggak males nulis) :

Pendaki Gunung Menikmati Matahari Terbit Dari Ketinggian  5423 Feet

Gunung Penanggungan (1653 Meter / 5423 Feet)

Ada 4 jalan untuk menuju puncak, yaitu lewat jalur Trawas, Jolotundo, Ngoro atau Pandaan. Saya memilih lewat Jalur Trawas karena paling dekat dari Surabaya, hanya sekitar 50 Km saja. Dari Trawas langsung menuju desa Rondokuning (6 Km) dan lapor ke pos pendakian yang berupa warung setelah itu langsung naik lewat jalan setapak yang dikelilingi oleh lebatnya hutan lindung yang dipenuhi pepohonan jempurit, kluwak, ingas, kemiri, dawung, bendo,wlingo dan jabon. Ada juga pohon pohon kecil seperti laos, kunir dan jahe dengan tanah yang cukup lembab. Pendakian masih terasa ringan karena kemiringan cuma 15 – 25 derajat dan sekitar 2 – 3 Km saja.

 

Pendakian Mulai Jam 21:00
Mobil Cukup Di Parkir Di desa Rondokuning – Trawas
Selanjutnya kemiringan naik menjadi 30 – 40 derajat dengan hutan pohon kaliandra dikiri dan kanan. Semakin keatas kemiringan lebih ekstrim lagi yaitu 40 – 50 derajat sepanjang 1 Km lebih. Sampai di dada gunung kemiringan sudah mencapai 50 – 60 derajat dengan jurang dan tebing disebelah kiri dan kanan. Setelah itu sampailah ke suatu tempat yang disebut Puncak Bayangan, tempat yang relatif datar untuk membuka tenda dan beristirahat sejenak. Dari Puncak Bayangan menuju Puncak kemiringan sangat ekstrim sekali yaitu antara 60 – 80 derajat dan sudah tidak ada tumbuhan lagi. Puncak gunung Penanggungan ini gundul penuh batu padas yang licin dan seringkali bebatuan terlepas dan menggelundung kebawah.

 

Suasana Malam Desa Rondokuning
Penuh Pendaki Yang Ingin Merayakan 17 Agustusan
Di Puncak
Total waktu diperlukan untuk mencapai puncak melalui jalur Trawas sekitar 5 – 6 Jam. Tidak ada sumber air disepanjang jalur ini sehingga bekal air harus benar benar cukup. Jalan setapak juga tidak banyak bercabang sehingga kemungkinan kesasar kecil kecuali kalau anda disesatkan oleh makhluk gaib penghuni gunung yang tidak menghendaki kedatangan anda. Oleh karena itu selalu berdoa sebelum naik keatas, jangan bertindak yang aneh aneh saat diatas, berdoa minta ijin kalau mau buang hajat dan lain lain.

 

Start Awal, Jalanan Masih Landai
Jalur Jolotundo. Jalur ini lebih wingit karena disepanjang jalan melewati candi candi peninggalan Mojopahit. Disamping itu disepanjang jalan juga melalui berbagai macam gua pertapaan yang konon banyak dihuni makhluk halus. Tetapi logika saya mengatakan kenapa jalur ini wingit dan banyak sekali pendaki hilang atau kesasar karena sangat banyak sekali jalan setapak yang menyesatkan. Pos pendakian berada di desa Jolotundo, sekitar 9 Km dari Trawas. Sekitar 1 jam pendakian anda akan melewati Watu Talang, sebuah batu padas dengan panjang sekitar 7 Km tanpa terputus yang memanjang seperti talang air dari leher gunung sampai mendekati desa Jolotundo. Dari bawah sampai ke atas candi candi yang dilewati diantaranya adalah Candi Putri, Candi Pure, Candi Gentong, Candi Shinto, Candi Carik, Candi Lurah dan sampailah ke Puncak. Sebagian besar candi dalam keadaan rusak. Hati hati, konon jalur ini sarangnya demit, jangan sembarangan buang air kecil disini. Persimpangan jalan setapak juga sangat banyak dan bisa menyesatkan.

 

Hanya Senter Atau Head Lamp Yang
Bisa Meyakinkan Di Belakang Ada Pendaki Lain
Jalur Ngoro. Anda harus menuju Pandaan dulu untuk mencapai desa Ngoro. Tetapi bisa juga dicapai dari Mojokerto, tepatnya di tikungan jalan antara Japanan – Mojosari. Dari desa Ngoro, kita masih harus menuju desa Jedong (6 Km) lalu menuju dusun Genting (3 Km). Yang menarik, di jalur ini terutama dusun Genting penduduknya berbahasa Madura. Jalur ini sangat ekstrim sekali karena sebagian besar kemiringan 70 – 80 derajat dan jauh lebih sulit dibanding jalur Jolotundo atau jalur Trawas.

 

Dinda, Untuk Pertama Kali Bisa Mencapai Puncak
Gunung Penanggungan
Ada rasa bangga saat mendaki Gunung Penanggungan kali ini, yaitu anakku Dinda, telah memiliki keberanian dan mengerti apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat pendakian, tahu tehnik pendakian yang benar dan tetap semangat untuk mengikuti pendakian gunung gunung berikutnya.

 

Mesin Tua – Masih Sanggup
Mencapai Puncak
“Pucuk…Pucuk…Pucuk“, inilah yel yel penyemangat yang selalu diingatnya untuk menuju puncak.
“Ayaaaah…….”, Inilah teriakan yang selalu saya dengar saat Dinda memastikan Ayahnya masih didepan atau tertinggal jauh di belakang. Selalu saling memanggil adalah tehnik dasar untuk memastikan bahwa kita masih berdekatan.

 

Di Atas Gunung Semua Saudara
Tua Muda Semua Sama

“Monggo Pak De”

“Numpang Lewat Mbah..” 

Inilah dua salam dari pendaki lain saat mendahului aku. Terasa pahit dan nggak enak di telinga tetapi tetap harus saya terima apa adanya karena kenyataannya memang saya sudah tidak muda lagi seperti dulu dan berkali kali didahului pendaki yang lebih muda dan kuat. Apalagi saat perjalanan turun, saya harus meraih sebatang kayu sebagai tongkat untuk menjaga agar tetap berdiri tegak sampai di garis finish.




Selesai Upacara 17 Agustusan
Siap Siap Turun Ke Trawas Kembali

Salam,

Sampai jumpa pada pendakian gunung Arjuno, Welirang, Semeru atau gunung lain dalam blog ini juga.

ARDI DAN DINDA

Kemiringan 80 Derajat
Kalau Naik Harus Merangkak
Turun Harus Antri
Penuh Sesak Karena 17 Agustusan

 

Sampai Kembali Di Desa Rondokuning Trawas
Disambut Anak Istri Dan Kawan

 

Mesin Tua Kelelahan Di Garis Finish
Harus Pakai Tongkat Dan Dipapah
Biar Tidak Terjatuh

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s