Monthly Archives: January 2014

Gendarmenmarkt Ternyata Bukan Pasar

German Cathedral
French Cathedral
Udara dingin di kota Berlin dan sudah beberapa hari ini jalan jalan basah karena seringkali hujan rintik rintik turun. Seperti biasa, saya dan anak anak lebih senang tidur di hotel daripada jalan jalan cuma melihat gedung gedung tua atau masuk museum. ‘Sleeping Beauty‘ memang kerjaannya tidur melulu. Tapi, pagi ini saya dan anak anak langsung tersentak bangun karena suami mau mengajak jalan jalan ke Pasar. Dengar kata ‘Pasar’ langsung cling mata ngantuk bisa terbuka lebar. Memang, tidak ada tempat terindah dimanapun didunia ini selain masuk Pasar.
“Bangun.. bangun… Sleeping Beaty tidur mulu aja, sekarang jalan jalan ke Gendarmenmarkt”
“Apa itu ?”
“Markt … Pasar…Gendarmenmarkt artinya Pasar Gendarmen”
.
Jalan Gendarmenmarkt
Konzerthaus
Denger nama Markt, langsung tuing…bayangan saya seperti Albert Cuyp Markt di Amsterdam. Ternyata salah besar. Gendarmenmarkt di Berlin Jerman ini cuma alun alun dengan 3 buah bangunan kuno berdampingan. Yang ditengah namanya Konzerthaus, mudah ditebak gedung tersebut adalah gedung pertunjukan musik atau konser, opera, drama atau yang lain karena di sekitarnya banyak sekali poster poster iklannya. Sebelah kirinya German Cathedral (Deutscher Dom) dan sebelah kanan French Cathedral (Franzosischer Dom). French Cathedral ini dibangun tahun 1701 – 1705 oleh Huguenot Community. Designnya dibuat oleh Carl Von Gontard. Sedangkan German Cathedral dibangun tahun 1708, designernya Martin Grunberg dan tukang bangunannya Giovanni Simmonetti.
.
Ini German Atau French
Cathedral – Sama Kan Bentuknya
.
Sama Saja Bentuknya
French Atau German Cathedral ?
Kenapa dua bangunan Cathedral tersebut bentuknya nyaris sama ?. Apa jaman dulu juga ada jiplak menjiplak design arsitektur ?. Ternyata, pada tahun 1785 German Cathedral mendapat sentuhan Carl Von Gonthard, designer French Cathedral sehingga bentuk kubahnya nyaris sama dengan French Cathedral. Pada saat perang dunia II tahun 1945an, German Cathedral ini hancur lebur dan dibangun kembali setelah Jerman Barat dan Timur bergabung. Selesai tahun 1993 dan dibuka kembali tahun 1996, sehingga bentuk terakhir yang bisa saya lihat hari ini nyaris tidak ada beda sama sekali dengan French Cathedral didepannya.
.
Dilihat Dari Jalan Gendarmenmarkt
Toko Pernak Pernik
Kerajinan Wanita
Lalu kenapa nama alun alun tempat ketiga bangunan tersebut pakai embel embel Markt ?. Saya juga nggak tahu, saya kelilingi jalan jalan disekitarnya nggak ketemu sama sekali sisa sisa pasar sama sekali. Yang ada cuma pertokoan, rumah makan dan segala macam toko souvenir kebutuhan turis. Mungkin saja awal abad 17 saat ketiga bangunan tersebut dibangun pertama kali, daerah ini berupa pasar tradisional. Saat ini sudah tidak terlihat lagi sisa sisanya. Sebagai tanda kecewa, saya berhasil juga menemukan toko penjual bahan bahan kerajinan wanita seperti kruistik, menjahit, cuilting dll. Toko inilah yang membuat saya betah di Gendarmenmarkt sampai berjam jam. Karena toko inilah anak anak dan suami cemberut dan pulang duluan ke Hotel.
.
Sepanjang Jalan Gendarmenmarkt Ini
Mungkin Dulunya Pasar

.

Baca Juga :

Restaurant Modern
Pasarnya Sebelah Mana Ya ?
Di Ujung Jalan Gendarmenmarkt

Arab Nglencer Ke Bali Indonesia

Pemandangan Dari Hotel
Villa Bintang 5 Dengan Private Swimming Pool
Sauna Dan Jacussi – Kapan Lagi
Arab Sedang Ngantri
Flying Fish Di Tanjung Benoa
Dua minggu saya menemani anak anak remaja Arab, UK dan US ke Jakarta dan Bali. Tentu sebisa mungkin saya arahkan untuk berkunjung ke obyek obyek wisata yang menarik dan paling aman.  Apalagi, rombongan Arab yang saya bawa ini bukan termasuk golongan ‘Turis Kere’, Turis Pas Pasan’ atau ‘Backpackers’. Bayangan saya, pasti semua turis Arab ini punya selera tinggi, kalaupun masuk tempat shopping pasti mintanya Mall Mewah. Oleh karena itu selama di Bali saya pilihkan hotel dan obyek wisata yang paling exclusive dan high class. Kalau bisa semuanya sudah tersedia di Hotel karena sesuai dengan kemampuan ekonomi mereka. Ternyata meleset semua, selama di Indonesia seleranya Kere.
Diving Di Tanjung Benoa
Kode Artinya  Nggak Mau Mentas
PHOTO MODEL
Mam… Acting Please..
Arabpun Senang Kuliner Kaki Lima
Baik di Jakarta maupun di Bali, rombongan Arab ini maunya selalu jalan kaki, naik angkot, bajaj atau transjakarta. Mereka saya ikuti terus karena saya tidak menginginkan mereka dapat musibah dipalak atau dijambret orang selama di Indonesia. Tetapi, jalan kaki dengan jarak 100 meter saja bisa ditempuh dalam waktu lebih dari satu jam. Mulai dari Bajaj, Kios Ponsel, Warung Makan kakilima, gerobak sampah dan apapun yang disaksikan sepanjang jalan semuanya diphoto. Berhenti 3 menit, photo lagi. Apesnya, saya yang dijadikan model photonya. ‘Mam… acting please…’. Dan sekarang wajah saya bertebaran dan terpampang di Instagram, Tweeter dan Facebook anak anak remaja Kuwait. Lihat saja gambar selebritis atau photo model ‘Khusus Gerobak Sampah, Kios dan Warung PKL‘  hasil jepretan mereka disamping.
Saya Ajak Ke Pasar Dibelakang Rumah
See The Camera Mam !!!
Tukang Ojekpun Diphoto
Pingin Coba Naik Ojek Tapi Saya Larang
SARIMIN DANCE
Kursi Sofa Ini Disingkirkan
Untuk Sarimin Dance
Rombongan Arab ini saya ajak ke Uluwatu untuk menyaksikan Tari Kecak sambil melihat Sunset yang sangat terkenal diseluruh dunia. Bayangan saya, kalau nggak lihat Tari Kecak atau Barong Dance tentu bukan ke Bali namanya. Tetapi ternyata nggak ada yang suka dan semuanya rewel minta segera balik ke hotel. Ternyata, di hotel mereka bikin acara sendiri malam itu juga, yaitu Joget Arab. Karena sehari sebelumnya mereka melihat atraksi Topeng Monyet didepan Mall Ambassador Jakarta, maka gerakan tari mereka lebih banyak menirukan gerakan Sarimin. Kira kira perpaduan antara gerakan tari Sarimin dan Hanoman seperti yang mereka lihat di Kecak Dance sore harinya. Sebagai bangsa Indonesia yang punya banyak sekali budaya dan tari tarian, saya ajarkan juga cara Salto dan Koprol biar lebih ancur Joget Arabnya.
Sarimin Dance Kayak Gini
Yang Ditiru Arab
Menunggu Sunset Di Uluwatu
 
ISTIGHOSAH
Di Kolam Renang Ini
Arab Ngumpul Istighosah
Di Tanjung Benoa, dua hari nonstop rombongan Arab ini mengikuti semua paket Water Sport, mulai dari Banana Boat, Diving, Sea Walk dan Fly Fish semua tidak dilewatkan. Kembali ke hotel, masih nyemplung lagi ke kolam renang. Tentu anda bertanya seperti apa suasana kolam renang kalau isinya Arab semua, iya kan ? Ternyata cukup seru sekali dan diluar dugaan saya. Pada saat mulai nyemplung, keluarlah bahasa aslinya atau bahasa ibu, yaitu bahasa Arab. Suasana kolam renang yang semula sepi tiba tiba berubah seperti sedang ada acara Istighosah, Tahlilan atau Pembacaan Sholawat Tidak bisa dibedakan apakah mereka sedang bicara, bersenda gurau atau sedang baca doa. Inilah untuk pertama kali saya mendengar dan melihat dengan mata dan kepala sendiri suasana Istighosah / Sholawat atau Tahlilan di kolam renang.
Mau Istighosah Di Dalam Air ?
Baca Juga :

Semua Gara Gara Hidung Pesek

Tour Guide Exclusive
.
Baru Lihat Lihat Cara Buat Batik
Saya Masih Dicuekin
Hidung saya pesek, semua orang juga tahu. Memang rata rata orang Indonesia hidungnya pesek semua. Saya sadar punya hidung pesek sejak tinggal di Kuwait 6 tahun lalu. Dibanding hidung tetangga tetangga saya memang terasa sekali hidung ane nggak ada apa apanya. Tapi di Kuwait saya nggak pernah dapat masalah apapun dengan hidung saya ini, malah seringkali hidung ‘hemat oksigen‘ ini menjadi kebanggaan saya satu satunya. Bagaimana nggak bangga, baru ketemu tetangga Arab Kuwait saja langsung disapa dengan ramah “Indonesie…. Are You Indonesie ?“. “Come…come…“.
 
.
 
Tahu Cara Buatnya
Langsung Mborong Tenun
Di Indonesia lain lagi ceritanya. Beberapa minggu lalu saya membawa rombongan remaja Kuwait, UK dan US ke Indonesia. Jelas hidung ane terlalu ambles kalau dibanding mereka. Saat ngantri passport di Soekarno Hatta, hidung saya yang dilihat petugas imigrasi pertama kali. Rombongan Arab yang saya bawa dipersilahkan ngantri di jalur khusus ‘Other Nationalities‘ dan selesai dalam waktu 3 menit saja. Sedangkan saya diusir ke jalur antrian ‘Indonesia’ yang panjangnya bukan main.
.
 
Di Ruang Sopir
Nggak Boleh Nambah
Berbagai cara pernah saya lakukan untuk memperbaiki penampilan dan nasib kalau saya pulang ke tanah air. Pakai perhiasan warna emas, kiri kanan nenteng tas Louis Vuitton, kaca mata hitam dinaikin ke jidat, rambut disemir pirang biar dikira bule, sewa mobil Toyota Alphard mewah biar dibukain pintu saat turun di Mall/Hotel dan lain lain. Tapi tetap saja selalu gagal meyakinkan bangsa sendiri dan tetap saja hidung saya dulu yang diperhatikan. Apalagi seperti saat ini saat saya mengajak Arab yang hidungnya lebih mancung dari saya. Ada saja kejadian kejadian aneh yang bersumber dari hidung. Celakanya, suami saya sendiri mengatakan “Dik, kamu lama lama kok kayak Londo Celup ?” saat saya tunjukin warna pirang rambut baru saya. Artinya, suami sendiri memperhatikan korelasi warna rambut pirang dengan hidung saya.
.
 
Sebelum Diusir Ke Ruang Makan
Khusus Sopir Dan Tour Guide
.
Arab Sukanya Grill
Kali Ini Biar Ngrasain Kecap
Di Bali, saya mengajak makan rombongan Arab, UK dan US ini untuk makan siang di sebuah restaurant di Kintamani. Karena tamu tamu saya ini tidak tahu sama sekali menu makanan Indonesia maka saya bantu untuk mondar mandir memesan makanan dan minuman. Begitu semua makanan dihidangkan diatas meja, si pelayan restaurant melihat hidung saya sekilas, mencolek dan berbisik ke saya :
.
“Mbak, makanan untuk mbak sudah siap juga diruang bawah”
 .
Karena tidak tahu maka saya ikuti saja pelayan tersebut. Ternyata saya harus makan di ruang makan khusus untuk Sopir dan Tour Guide.
 
.
Gue Paksa Arab Makan
Durian Ternyata Mau Juga
.
Pegel Saya Nungguin Arab
Belanja Di Toko Ini
Nggak Ada Yang Ngasih Tip Pula
Di sebuah toko kerajinan di Ubud, rombongan Arab yang saya bawa memborong batik dan berbagai souvenir khas Bali. Tentu saya juga ikut menjelaskan semua pernak pernik Bali yang ditanyakan. Setelah rombongan Arab membayar di Kasir dan satu persatu masuk kedalam mobil, tiba tiba saya dipanggil oleh seorang wanita berseragam yang ternyata karyawan toko tersebut. Dia mengucapkan terima kasih telah mengunjungi tokonya, terima kasih juga tourist yang saya bawa telah berbelanja cukup banyak dan sebuah amplop diselipkan ke tangan saya. Ketika saya buka di mobil ternyata isinya uang Rp 50.000. Lumayan, kali ini hidung pesek saya membawa berkah.
.
 
Baca Juga :