Pasar Utrecht, Ora Canggih Blass


Pasar Utrecht Centrum
Bedanya Cuma Ada Pedagang Keju Saja
Pasar Utrecht
Sama Dengan Di Indonesia
Melalui blog ini saya pernah ajak anda ke Pasar Albert Cuyp Amsterdam dan juga ke Pasar Arnhem dekat Esebius Church, Arnhem Centrum. Nah sekarang anda saya ajak jalan jalan ke Utrecht, tepatnya di Utrecht Centrum. Kalau anda belum pernah ke Belanda tentu bayangannya sebuah pasar di Eropa adalah modern dan canggih. Eropa gitu lho masak kalah canggih dibanding pasar pasar di Indonesia. Ternyata salah besar, pasar pasar di Belanda relatif sama saja dengan di Indonesia. Belanda pernah 350 tahun di Indonesia sehingga ikut andil memberi bentuk pasar pasar tradisional di Indonesia dan juga meletakkan dasar dasar tata kota dan segala macam hukum dan irigasi kota.
.
Perjalanan Menuju Pasar Utrecht Centrum
Sebenarnya Nggak Ada Bedanya Dengan Suasana Pasar
Di Indonesia Cuma Udara Disini Dingin Saja

.

Kalau anda melihat sungai sungai di kota Tua Jakarta, susah sekali membedakannya dengan di Belanda. Perbedaan yang mencolok adalah yang di Belanda ada airnya sedangkan di Jakarta ada sampahnya. Yang benar benar sama persis adalah Stasiun Kereta Api, baik di Belanda maupun di Indonesia bentuknya nyaris sama dan selalu berdekatan dengan tempat prostitusi. Contohnya kawasan Red Light di jalan Damrak  Amsterdam. Letaknya hanya beberapa langkah dari Central Station Amsterdam. Mengingatkan saya dengan tempat prostitusi Pasar Kembang disamping Stasiun KA Yogya atau Saritem dan kawasan jalan Kebon Jati di Stasiun KA Bandung. Losmen losmen atau hotel kecil juga bertebaran disekitar Central Station Amsterdam. Rel Kereta Api juga sama saja, di Belanda rel KA juga membentang berdampingan dengan jalan raya, mengingatkan saya akan rel rel kereta api yang menghubungkan Surabaya – Sidoarjo atau Tegal – Kendal.

.

.
Kembali ke pasar pasar di Belanda, anda bisa melihat sendiri seperti apa bentuknya melalui photo photo diatas. Silahkan mengomentari, canggih atau tidak pasar Utrecht ini. Bagi wanita terutama saya, rasanya seru sekali berada dipasar dan cukup menyenangkan bisa tawar menawar harga dan berinteraksi dengan pedagang. Tidak sedikitpun saya merasa canggung untuk tawar menawar atau bertegur sapa dengan pedagang dan ibu ibu yang sedang belanja. Kosakata bahasa Belanda banyak yang sudah menjadi bahasa Indonesia dan bukan hambatan berarti kalau  sekedar ngomong di pasar. Apalagi, orang Belanda banyak yang ngerti beberapa  kata bahasa Indonesia. Di Pasar Utrecht ini saya paling sering memaksa pedagang Belanda mengeluarkan semua kosakata bahasa Indonesia yang diketahuinya. Dan keramahan orang Belanda nggak ada bedanya dengan orang Indonesia. Beda sekali dengan orang Jerman yang begitu jaim dan kadang nggak enak diajak ngomong.
.
“Say it in bahasa, no bahasa no pay”

Saya tunggu lamaaaa sekali, akhirnya setelah ngeden sekitar 3 menit muncul juga kata kata bahasa Indonesia.

“Kerupuk, seven Euro”

“Boentjis, enaaak , half kilogram!!!”

“Sambal pedaaas”, tapi yang disodorkan cabe merah.

“Bakmi Jawa”, yang disodorkan mie instant

“Kecap Maniiiiis, Maniiiis”, tapi cuma ngomong doang karena memang pedagang yang saya kunjungi ini nggak jual kecap. Tapi berkali kali pedagang tersebut ngucapin kata Manis… maniiissss, kayaknya hidung saya jadi kembang kempis. Berkali kali hidung saya pegang, rasanya jadi besar sekali. Pedagang tersebut tampaknya ngerti bener bahwa pembeli yang dihadapinya memang benar benar  manis. Ge-Er dikit sih, maklum baru pertama kali ketemu “Tom Cruise” yang berani menggoda dengan kata “Manis” berkali kali.
.
,
.
.
.
.
.
.
.

.

Baca Juga :

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s