Monthly Archives: December 2013

Ngonthel CoBi Di Berlin Jerman

Becak Unik Berlin
Semua Penumpang Ikut Nggenjot
Nggak Seru Kalau Nggenjot Sendiri
Pernah dengar sepeda unik yang bernama CoBi ? Saya menemukannya di Berlin, Jerman. CoBi singkatan dari Conference Bike, sebuah sepeda yang memungkinkan orang buta untuk mengayuh sepeda keliling kota tanpa harus was was ketabrak kendaraan lain. CoBi ini bisa dikendarai oleh 7 orang sekaligus dengan posisi saling berhadap hadapan dan melingkar seperti layaknya orang yang sedang meeting. Satu orang bertindak sebagai pengemudi. Penciptanya Eric Staller seorang seniman kelahiran New York dan karena sangat effektif untuk mengurai kebekuan dalam suatu meeting, maka banyak perusahaan yang memakai sepeda unik tersebut untuk sekedar diskusi masalah masalah krusial di perusahaan.
Asyik, Bisa Ngonthel Sambil Ngobrol

 

Gotong Royong Ngonthel Di Berlin
Saat ini sudah lebih dari 300 unit CoBi terjual di 18 negara dan umumnya digunakan oleh perusahaan untuk Corporate Team Building. Contohnya adalah Google Campus di California. Di Berlin, CoBi disewakan untuk umum, terutama turis. Tempat ngetemnya di taman sekitar Brandenburg Gate. Kalau ada dua  atau tiga orang sedang berdiri didekat sepeda tersebut, dekati saja, biasanya mereka cari teman agar seluruh sadel bisa terisi penuh. Nggak rame kalau yang nggenjot cuma dua atau tiga orang saja. Tapi jangan lupa, kalau gabung mereka patungannya bayarnya sama rata atau nggak ?. Orang Eropa terkenal pelit, apalagi Belanda. Jangan jangan anda disuruh bayar, dan si bule tadi cuma nggenjot doang.
Designnya Cukup Unik
Bisa Sambil Ngopi
Ayo Genjot Terus
Nunggu Orang Lewat Yang Mau Diajak
Patungan Naik CoBi

Baca Juga :

Advertisements

Sungai Dan Bendungan Gaza Yang Bikin Heboh

Nahal Betzet Israel
Source : Nahal Betzet – Wikipedia
Betzet River Bahasa Indonesianya Got Betzet
Nahal Poleg Israel
Source : Nahal Poleg – Wikipedia
Kering Saat Musim Panas

Tahun ini, genap 7 tahun saya ‘blusukan’ di negara negara Arab atau Timur Tengah. Negara Arab ada sekitar 40 negara besar dan kecil, tetapi memang belum semua negara pernah saya kunjungi. Meskipun begitu, sudah cukup bagi saya untuk memahami keadaan alam, budaya dan paling tidak mengenal kota kota besar dan kecil di negara negara Arab. Latar belakang saya sebagai wartawan cukup membantu saya dalam berinteraksi dengan penduduk lokal. Secara garis besar bisa saya simpulkan bahwa ada ketidaksamaan persepsi atau istilah antara orang Arab dan Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari berita berita tentang Timur Tengah yang bertebaran di tanah air;

Nahal Kziv Israel
Source : Nahal Kziv – Wikipedia
Kata Orang Arab Ini Kziv River
Nahal Sorek Israel
Source : Nahal Sorek – Wikipedia
River Ala Arab Ya kayak Ini

Contoh nyata adalah pemahaman wartawan dan penulis Indonesia tentang River dan Dam yang sering ditulis di media Arab. Berbagai koran berbahasa Arab dan Inggris di Timur Tengah memang gencar memberitakan tentang Banjir di Gaza. Media berbasis Islam mendramatisir berita seolah olah Dam jebol karena terkena rudal Israel. Media lain yang juga cukup ekstrim mengatakan Dam dibuka Israel dengan sengaja untuk membanjiri Gaza. Wartawan / penulis sangat yakin hakkul yakin karena berita diambil dari Al Arabiya, Arabnews atau media lain dengan nama media ARABxxxxx. Pokoknya kalau ada nama Arab didepannya pasti benar. Yang menyangkal kebenarannya dianggap tidak seiman, Antek Yahudi. Kafir. Dajjal, Setan atau yang lainnya. Saya pernah mengomentari salah satu tulisan tentang banjir di Gaza di Islampost dan VOA Islam, akibatnya fatal, saya dituduh Setan Yahudi. Padahal benar yang saya katakan, Di Gaza yang namanya Dam bisa roboh hanya ditendang dengan kaki karena cuma gundukan tanah. Nggak perlu rudal, cukup cangkul bisa jebol. Banyak disana :).

Gaaton River Israel
Source : Gaaton River – Wikipedia
Ini River Atau Selokan
Ayalon River
Source : Ayalon – Wikipedia
Selokan Kota = River

Sebenarnya, inti masalah kenapa tiba tiba comment saya dibalas dengan ‘Setan Yahudi’ adalah pemahaman mengenai definisi ‘River‘ dan ‘Dam‘ yang tertulis di media media Arab. River diterjemahkan sebagai Sungai dan Dam diartikan sebagai Bendungan. Padahal, bagi orang arab kalau ada air mengalir sedikit saja langsung disebut River dan kalau ada tanah atau bangunan yang menghalangi aliran air maka sering menyebut dengan istilah Dam, nggak peduli besar atau kecilnya.
Di semua negara Arab, hujan lebat selalu terjadi menjelang musim dingin saat udara dingin dari kutub bertemu dengan udara panas dari gurun, maka terjadilah Kondensasi, selanjutnya terjadi hujan lebat. Sama halnya dengan Pintu Air Manggarai, kalau permukaan air semakin tinggi, maka pintu air akan dibuka dan akibatnya akan membanjiri istana negara dan pusat kota Jakarta. Kejadian seperti inilah yang terjadi di Gaza dan dilakukan oleh pegawai pintu Air yang jelas jelas orang Yahudi Israel. Jelas air akan membanjiri kota kalau pintu air dibuka karena kota kota di Timur Tengah sangat minim sekali saluran air, selokan atau got. Beda dengan di Indonesia, semua kampung didepannya selalu ada got dan saluran air limbah rumah tangga. Buat apa harus banyak dibuat got, hujan saja paling cuma 2 hari dalam setahun.

Nahal Tanimin Israel
Source : Nahal Tanimin – Wikipedia
Kubangan Air, Kalau Musim Panas Airnya Hilang
Lakhish River Israel
Source : Lakhish – Wikipedia
Selokan Kayak Gini = River

Mengenai River dan Dam yang ditulis di media Arab memang benar adanya. Tetapi kalau diterjemahkan letterlux kedalam bahasa Indonesia menjadi ‘Sungai’ dan ”Bendungan’, menurut saya jadi salah dan fatal karena bagi orang Indonesia Sungai itu sebesar Sungai Kapuas dan Bendungan itu sebesar Jatiluhur, apalagi ada bumbu bumbu politik dan agama. Yang tepat, River itu setara dengan got kalau di Arab dan Dam setara dengan pintu air bahkan lebih kecil lagi. Di Arab sini jarang sekali hujan, sehingga Got atau Selokan kecil saja orang Arab menyebut sebagai River. Akibatnya apa, kalau media Arab membuat judul “Israel Opens Dams Flooding Gaza Strip Near Deir Al Balah” diterjemahkan bulat bulat dan sama persis menjadi ‘Israel Membuka Dam Dan Membanjiri Gaza Strip Dekat Deir Al Balah‘ maka tentu akan menimbulkan kemarahan banyak orang. Di Timur Tengah sini yang layak disebut Dam hanya Aswan di Mesir dan Dam yang membendung sungai Euphrats dan Tigris di Turkey dan Irak. Yang lainnya cuma Got, Selokan dan Pintu Air saja. Kalau ada penulis atau wartawan Indonesia menterjemahkan bulat bulat, artinya dia tidak tahu apa yang ditulis benar atau salah. Silahkan melihat sungai sungai pada photo diatas. Sengaja tidak saya tampilkan photo photo saya karena photo saya nggak ada airnya sama sekali. Kering saat diambil musim panas tahun lalu.

Jadi, kalau pintu air manggarai dibuka oleh penjaga pintunya yang asli Betawi, perlukah seorang wartawan mencantumkan negara dalam beritanya dengan membuat judul “Indonesia Membuka Dam Umtuk Membanjiri Kota Jakarta Di Manggarai“. Tentu tidak, itulah yang terjadi dengan berita berita tentang dunia Arab terutama Palestina/Israel. Dam di Arab hanya seperempat pintu air Manggarai, rasanya terlalu berlebihan sekali kalau kejadian wajar disangkut pautkan dengan politik dan agama. Si tukang pintu air hanya menjalankan tugas.

River Alexander Israel
Source : Alexander Stream – Wikipedia
River Kayak Gini Diterjemahkan Sebagai Sungai

Ngetest TOA Di Masjid Kuwait

Test… Test…Satu Dua Tiga Test…Test
Sound Check..One Two Three Sound Check
AllaaaahhuAkbar, AllahuAkbaaaaar !!!!!
 
 
Masjid Lagi
Dimana Mana Masjid
“Satu Dua Tiga Test… Test..Satu Dua Tiga..”. Ini kata kata yang biasa dan sering kita dengar di Indonesia saat tehnisi organ tunggal sedang ngetest sound system saat ada acara kondangan di kampung kampung. “Sound check.. One Two Three…Sound check”. Yang ini juga sering kita dengar kalau kita nonton Live Music Metalica atau band bule apapun dimanapun diseluruh dunia. Kalau di Kuwait, kalimat apa yang diucapkan saat ngetest sound system ? Ternyata lain negara lain juga cara ngetest dan kalimat yang diucapkannya.
Masjid Kabeer
Masjid Agung Kuwait
Bubaran Jumatan
Seperti biasa setiap hari Senin dan Kamis saya puasa Sunnah. Karena sudah rutin dan ada keinginan agar badan bisa langsing kembali seperti saat masih gadis remaja dulu, maka saya selalu nggak pernah sahur. Tapi sial, hari ini aktifitas luar rumah saya kebanyakan. Dari pagi mondar mandir antar jemput anak, ke embassy dan nglayap kemana mana. Akibatnya, rasa haus sangat luar biasa menyerang tenggorokan meskipun hari ini sedang musim dingin di Kuwait.
Bubaran Sholat Jumat
Seperti biasa menjelang maghrib segala macam makanan dan minuman segar yang ‘terbayang bayang’ siang tadi saya kumpulkan semua diatas meja. Saya siapkan juga menu spesial berbuka puasa berupa Kurma. Puasa sendiri, nyiapin sendiri dan makan sendiri.
“AllahuAkbar… AllaaaahuAkbar……”. Terdengar suara Adzan keras sekali karena memang di sekitar rumah saya banyak sekali masjid. Hampir setiap 200 meter ada Masjid baik itu masjid Syiah atau Sunni. Rumah saya dikelilingi 3 masjid Sunni dan 1 masjid Syiah. Karena rasa haus yang luar biasa, langsung saya sikat satu gelas air putih untuk membasahi tenggorokan. Legaaaa, sebutir korma juga saya ambil. Tapi ada yang aneh, suara adzan tiba tiba berhenti dan  nggak ada kelanjutannya.
“Lho mas, adzannya kok mandeg ?”
Suasana Didalam Masjid
Saat Sholat Jumat
Tak seberapa lama terdengar kembali suara adzan “AllahuAkbar… AllaaaahuAkbar……”, tapi kali ini suaranya menggema pakai echo, dan setelah itu berhenti kembali dan terdengar suara percakapan dua orang pria pakai bahasa Arab. Saya tidak tahu sama sekali apa yang diucapkan, rasanya semua orang Arab kalau ngomong, marah, berdoa atau dzikir nada dan tekanan suaranya sama saja.
“Lho mas, adzannya kok disisipi dzikir ?”
 
“Biarkan saja dik, barangkali masjid belakang rumah kita hari ini dipakai ‘Aliran  Lain‘”.
Pakai Echo Dan Delay
Biar Lebih Merdu
Beberapa menit setelah Preview Adzan diulang ulang, terdengarlah Adzan versi lengkap, anggap aja Full Package dengan effect echo dan delay, komplit..plit..plit dan enak ditelinga. Artinya, inilah saat buka puasa yang sebenarnya. Yang ‘Preview’ tadi  cuma ngetest TOA dan sound system ala Arab.
Baca Juga :

Pasar Utrecht, Ora Canggih Blass

Pasar Utrecht Centrum
Bedanya Cuma Ada Pedagang Keju Saja
Pasar Utrecht
Sama Dengan Di Indonesia
Melalui blog ini saya pernah ajak anda ke Pasar Albert Cuyp Amsterdam dan juga ke Pasar Arnhem dekat Esebius Church, Arnhem Centrum. Nah sekarang anda saya ajak jalan jalan ke Utrecht, tepatnya di Utrecht Centrum. Kalau anda belum pernah ke Belanda tentu bayangannya sebuah pasar di Eropa adalah modern dan canggih. Eropa gitu lho masak kalah canggih dibanding pasar pasar di Indonesia. Ternyata salah besar, pasar pasar di Belanda relatif sama saja dengan di Indonesia. Belanda pernah 350 tahun di Indonesia sehingga ikut andil memberi bentuk pasar pasar tradisional di Indonesia dan juga meletakkan dasar dasar tata kota dan segala macam hukum dan irigasi kota.
.
Perjalanan Menuju Pasar Utrecht Centrum
Sebenarnya Nggak Ada Bedanya Dengan Suasana Pasar
Di Indonesia Cuma Udara Disini Dingin Saja

.

Kalau anda melihat sungai sungai di kota Tua Jakarta, susah sekali membedakannya dengan di Belanda. Perbedaan yang mencolok adalah yang di Belanda ada airnya sedangkan di Jakarta ada sampahnya. Yang benar benar sama persis adalah Stasiun Kereta Api, baik di Belanda maupun di Indonesia bentuknya nyaris sama dan selalu berdekatan dengan tempat prostitusi. Contohnya kawasan Red Light di jalan Damrak  Amsterdam. Letaknya hanya beberapa langkah dari Central Station Amsterdam. Mengingatkan saya dengan tempat prostitusi Pasar Kembang disamping Stasiun KA Yogya atau Saritem dan kawasan jalan Kebon Jati di Stasiun KA Bandung. Losmen losmen atau hotel kecil juga bertebaran disekitar Central Station Amsterdam. Rel Kereta Api juga sama saja, di Belanda rel KA juga membentang berdampingan dengan jalan raya, mengingatkan saya akan rel rel kereta api yang menghubungkan Surabaya – Sidoarjo atau Tegal – Kendal.

.

.
Kembali ke pasar pasar di Belanda, anda bisa melihat sendiri seperti apa bentuknya melalui photo photo diatas. Silahkan mengomentari, canggih atau tidak pasar Utrecht ini. Bagi wanita terutama saya, rasanya seru sekali berada dipasar dan cukup menyenangkan bisa tawar menawar harga dan berinteraksi dengan pedagang. Tidak sedikitpun saya merasa canggung untuk tawar menawar atau bertegur sapa dengan pedagang dan ibu ibu yang sedang belanja. Kosakata bahasa Belanda banyak yang sudah menjadi bahasa Indonesia dan bukan hambatan berarti kalau  sekedar ngomong di pasar. Apalagi, orang Belanda banyak yang ngerti beberapa  kata bahasa Indonesia. Di Pasar Utrecht ini saya paling sering memaksa pedagang Belanda mengeluarkan semua kosakata bahasa Indonesia yang diketahuinya. Dan keramahan orang Belanda nggak ada bedanya dengan orang Indonesia. Beda sekali dengan orang Jerman yang begitu jaim dan kadang nggak enak diajak ngomong.
.
“Say it in bahasa, no bahasa no pay”

Saya tunggu lamaaaa sekali, akhirnya setelah ngeden sekitar 3 menit muncul juga kata kata bahasa Indonesia.

“Kerupuk, seven Euro”

“Boentjis, enaaak , half kilogram!!!”

“Sambal pedaaas”, tapi yang disodorkan cabe merah.

“Bakmi Jawa”, yang disodorkan mie instant

“Kecap Maniiiiis, Maniiiis”, tapi cuma ngomong doang karena memang pedagang yang saya kunjungi ini nggak jual kecap. Tapi berkali kali pedagang tersebut ngucapin kata Manis… maniiissss, kayaknya hidung saya jadi kembang kempis. Berkali kali hidung saya pegang, rasanya jadi besar sekali. Pedagang tersebut tampaknya ngerti bener bahwa pembeli yang dihadapinya memang benar benar  manis. Ge-Er dikit sih, maklum baru pertama kali ketemu “Tom Cruise” yang berani menggoda dengan kata “Manis” berkali kali.
.
,
.
.
.
.
.
.
.

.

Baca Juga :

Kere Jerman

Salah Satu Sudut Kota Berlin
Kalau Sampai Nggak Ketemu Pengamen Kebangeten
.
Berlin adalah kota besar dengan segala permasalahan yang relatif sama dengan kota Jakarta. Copet ada, maling sepeda dan mobil juga ada, gembel jelas ada, pengamen juga ada. Yang kaya raya banyak, kere juga banyak. Pokoknya komplit….plit….plit. Apa yang saya saksikan sehari hari di kota besar ini seringkali dibantah dan yang membantah semuanya orang Indonesia. Kayaknya nggak rela gitu lho. Saya tidak tahu apakah mereka membantah habis habisan karena suaminya orang Jerman, merasa paling tahu Jerman karena pernah tinggal/sekolah di Jerman atau ‘keracunan’ berita berita di tanah air yang selalu memuja muji segala sesuatu yang berbau ‘Luar Negeri selalu lebih bagus dari Indonesia‘ Yang jelas ada rasa tidak terima kalau saya tunjukkan bukti autentik photo photo Berlin. Rasanya mereka lebih bisa menerima kalau ‘kere’ hanya ada di Indonesia saja dibanding kota kota Jerman.
.
Ngamen Sambil Pegang Bendera Komunis Dan Kapitalis
Photo Harus Bayar Dihitung Per Jepretan
Jenis Kamera DSLR Atau Handphone Tarifnya Beda
.
Contohnya adalah pengemis, kalau ngemis sampai ‘ndelosor’ di trotoar dan menghalangi pejalan kaki. Pengamen, bentuk dan cara ngamennya macam macam yang pernah saya temui di kota Berlin saja. Apakah pengamen ini termasuk kere ?. Ya jelas, buktinya kalau ada patroli polisi lewat mereka lari terbirit birit. Pengamen khusus turis saja yang cukup tenang kalau ada polisi lewat. Sangat tenang sekali karena pengamen tersebut memakai seragam militer tempo dulu dengan pangkat dan tanda jasa menempel di dada dan pundak. Mungkin pak Polisi kalah wibawa dengan Jenderal yang bawa bendera US dan Russia seperti gambar diatas. Kalau Jenderal saja ngemis, siapa yang berani menangkapnya.Semua photo gembel gembel Eropa selengkapnya bisa dilihat pada link dibawah. Awas, jangan dibawa ke Indonesia, bisa jadi bintang film dan rebutan artis !!!
.
Sirkus Jalanan Di Berlin
Hati Hati Ketabrak Mobil Mas ….
.
Pengamen jalanan sering terlihat di perempatan jalan. Pengamen ini ‘sangat presisi’ sekali, dia tahu kapan lampu merah menyala, kapan mulai ketengah jalan melakukan atraksi lempar bola atau botol dan kapan mulai jalan kemobil mobil yang berhenti sambil menadahkan topinya untuk menampung uang. Berhari hari saya mengamati pengamen di perempatan perempatan jalan di Berlin dan saya langsung bisa menyimpulkan bahwa orang Jerman pelit dan jarang yang mau memberi uang. Mobil mobil yang melintaspun tidak sebanyak mobil di Jakarta, jadi saya langsung bisa memperkirakan penghasilan sehari ngamen di Jerman nggak ada apa apanya dibanding di Jakarta. Untuk makan sehari saja rasanya nggak akan cukup. Jelas enakan di Jakarta, mobil yang melintas banyak, penduduknya sangat sosial dan mudah memberi sedekah dan pantas sekali kalau di Jakarta seorang pengemis bisa punya penghasilan Rp 25 juta.
.
Lihat Betapa Sosialnya Orang Indonesia
Yang Memberi Sedekah Di Berlin Ini

Serba Butut Di Lapak Pemulung Belanda

Kringloopwinkel – Plattenburg
Gaya Dulu Ah… Gini Gini Belanda Bro..
Pot Bunga Bekas
Masih Mahal Asli Dari Indonesia
Bosan dengan photo photo pemandangan bagus Europe di majalah majalah pariwisata ?. Lihat saja photo photo butut dibawah ini, tanpa ada rekayasa dan memang bener bener butut. Photo pariwisata memang harus bagus dan punya nilai artistik tinggi, tapi seringkali ‘nggedabus’ dan belum tentu sesuai dengan kenyataannya. Nah tulisan dan photo photo ini juga di Europe, tepatnya di Belanda. Nggak ada turis yang mau ‘blusukan’ ketempat seperti ini karena memang letaknya jauh dari obyek obyek wisata terkenal di Belanda. Hanya turis ‘gendeng’ saja yang mau datang ke tempat seperti ini karena memang tempat ini hanyalah sebuah tempat pengepul dan penjualan barang bekas. Tidak ada dalam brosur brosur pariwisata. Tour guide asli ‘Londo’pun kemungkinan besar juga tidak tahu lokasi toko ‘rombeng’ semacam ini.
Pecah Belah Bekas Juga Ada
Tinggal Pilih, Murah Meriah Beli 3 Gratis 1
Asal Tumpuk
Pemulung Bule Ternyata Sama Saja
Toko barang loak ini bernama Kringloopwinkel, Platenburg di Arnhem. Buka setiap hari antara jam 10:00 sampai jam 17:00. Kalau di Indonesia barangkali setara dengan lapak penampungan barang bekas dari pemulung. Bedanya, bagian dalam lapak pengepul barang bekas Belanda ini lebih bagus dan rapi karena dipakai untuk memajang barang barang bekas yang kira kira masih 80 % – 90 %. Tetapi bagian luarnya sangat semrawut. Barang barang bekas ditumpuk sesukanya dan tercium bau ‘prengus’ khas barang bekas pakai. Anda bisa datang untuk menjual barang apapun dan juga membeli kalau ada yang tertarik.
Jam Jadul Jaman Kakek Nenek Masih Remaja
Ada Juga Piala Bekas
Mulai kotak sabun, CD, elektronik sampai furniture semua ada. Barang barang yang dijual tidak ada yang dibersihkan terlebih dulu, dipoles atau didandani agar menarik. Pokoknya asli seperti apa adanya saat barang tersebut diterima dari pemiliknya. Cita rasa seni untuk menata barang tidak ada sama sekali, maklum pengepul barang loak ini sudah cukup tua dan saat saya datang tidak ada sama sekali yang membantu menjaga lapaknya. Katanya sih dibantu anaknya, tapi beberapa kali saya datang ke tempat ini belum pernah melihat ada orang lain yang ikut membantu si bapak tua.
Radio Jadul Diatas Masih Bunyi
Orang Belanda Memang Pelit
CD Kok  Di Jual
Meskipun si bapak pemilik toko rombeng ini seumuran bapak saya, tapi pengamatannya tajam sekali. Baru beberapa menit saja saya datang dan melihat lihat, dia sudah tahu selera saya. Langsung saya ditunjukkan tempat tempat perlengkapan wanita. Mulai dari sepatu, tas sampai perhiasan wanita semua ditunjukkan. Barangkali karena jengkel saya cuma lihat lihat dan tanya melulu, si bapak akhirnya menyerah meninggalkan saya sendirian. Terakhir sebelum saya pulang, si bapak tua malah menawar semua barang yang sedang saya pakai. Tas, gelang, jam dan sepatu yang saya pakai semua ditawar murah. Sembarangan saja, emangnya saya pulang ‘nyokor’ nggak pakai sepatu ?
 
Pot Keramik Dan Tanah
Berbagai Ukuran, Tinggal Pilih
Pecah Belah Dan Botol Bekas
Asal Tumpuk Saja
Furniture Masih Bagus Bagus
Buku Bekas Peminatnya Banyak Juga
Buku Buku Rata Rata Masih Bagus
Londo Depan Saya Ini Lagi BU
Sedang Jual Printer Dan Laptop
Baju Bekas Dan Telpon Jadul
Baju Bekas Ukuran Bule
Mana Ada Yang Cukup, Badan Ane Kecil Sekali