Monthly Archives: August 2013

Toilet Ajaib Di The Avenue Mall Kuwait

Coffee Shop Untuk Penginderaan Jarak Jauh
Di The Avenue Mall Kuwait
.
Bim Salabim – Masuk Toilet
5 Yang Keluar Cuma Dua
Di Kuwait toko buku yang benar benar toko buku seperti layaknya TB Gramedia hanya satu, yaitu Jareer Bookstore. Perpustakaan umum maupun perpustakaan universitas juga ada tapi tidak seramai perpustakaan di Indonesia. Tetapi, para mahasiswa Kuwait lebih senang belajar bersama atau diskusi di Airport dan Mall. Mereka biasanya berkumpul sekitar 5 orang di Coffee Shop atau restaurant dan terlihat sekali bahwa mereka seorang mahasiswa dari buku dan lembaran tugas yang dibawanya. Salah satu tempat yang sering saya kunjungi adalah The Avenue Mall karena kebetulan suami saya juga membimbing mahasiswa mahasiswa Kuwait tugas akhir disamping mengajar mempersiapkan mereka untuk menjadi engineer terbaik di negeri ini.
.
Rombongan Saudi Baru Datang
Keluar Dari Toilet Tinggal Dua Yang Hitam, Pulang Ke Saudi 5 Kembali
.
Selalu Ramai Saat Akhir Pekan
Perlu Keahlian Khusus Untuk
Mengetahui Orang Saudi
Karena hampir sekali atau dua kali seminggu saya menemani suami membimbing mahasiswa tugas akhir di coffee shop The Avenue Mall, maka saya bisa mengetahui dengan pasti pengunjung Mall terbesar di Kuwait ini berasal dari Saudi Arabia atau bukan. Kebetulan coffee shop tempat para mahasiswa konsultasi  dan diskusi dengan suami berhadap hadapan dengan Toilet. Cara mengidentifikasi seseorang dari Saudi Arabia atau bukan versi mahasiswa Kuwait sangat mudah sekali, yaitu dengan cara memperhatikan wanita yang keluar masuk toilet. Toilet biasa, tetapi para mahasiswa/i sering menyebut sebagai Magic Toilet.
.
Khusus Barang Fashion Branded
Ada Louise Vuitton Lebih Murah Dari Indonesia
Tanpa Pajak
.
The Souq
Pasar Tradisional Didalam
Avenue Mall
Setiap hari Kamis sampai Jumat atau Sabtu, banyak sekali penduduk Saudi Arabia yang tinggal dikota kota perbatasan seperti Khafji, Dammam atau Dhahran berkunjung ke Kuwait karena di kota mereka tidak ada hiburan, Gedung Bioskop apalagi Mall besar seperti The Avenue Mall. Mereka datang ke Kuwait karena lebih dekat dibanding kota besar lain di Saudi. Hanya sekedar untuk shopping, mencari hiburan, makan enak atau jalan jalan akhir pekan saja. Umumnya para wanita Saudi kalau jalan mudah dikenali, yaitu berombongan sekitar 4 atau 5 orang. Saat baru datang, semuanya masuk ke Toilet dan Bim Salabim begitu keluar dari Toilet, yang masih tetap memakai abaya hitam tinggal dua orang saja. Yang lainnya sudah berganti dengan dandanan modis dan membuat terperangah mahasiswa karena memang cantik cantik semua.
.
Food Court The Avenue Mall
.
Design Copy Paste Kota
Paris
Terima kasih mahasiswa mahasiswi Kuwait, ilmu penginderaan jarak jauh yang kamu ajarkan hari ini sangat berguna bagi saya. Saya akan lebih hati hati di tempat parkir kalau bertemu mereka karena seringkali Madame Saudi belajar mengemudi mobil di Kuwait. Salah jalan dan melawan arus kendaraan ditempat parkir sudah merupakan hal biasa. Ngeyel minta kita yang mundur meskipun kita yang berada dijalur benar juga hal biasa. Ampuuunnnn…..lagi lagi Plat Nomor Saudi …!
.
Ada Peta Dunia Di Lantai
Sangat Detail Dan Bagus Tapi Diinjak Injak
.
Baca Juga :

Susu Belanda

Belanda – Negeri Penuh Sapi
.
Sapi Belanda Pakai Anting
Namanya Dolly
Terus terang susah sekali saya membuat judul tulisan ini dalam bahasa Indonesia. Saya hanya ingin menulis tentang Dutch Milk saja. Tetapi banyak sekali pembaca blog ini yang punya pikiran ‘ngeres’. Jangan jangan ada yang berinterpretasi dan berharap saya menampilkan tulisan dan photo photo tentang Scheveningen Beach di Den Haag (The Hague). Memang benar sekali, setiap musim panas banyak sekali ‘Dutch Milk‘ yang dibiarkan terbuka tanpa ‘Bra‘ di pantai Scheveningen Den Haag. Dari melihat ‘Kemasan‘ Dutch Milk di Scheveningen ini saja siapapun akan bisa langsung menyimpulkan betapa unggul Belanda dalam hal produk susu dan olahannya. Tapi sumprit bukan ‘Kemasan‘ Dutch Milk atau payudara tanpa BH dan terbuka di pantai Scheveningen yang akan saya tulis dibawah ini.
.
Sapi Sapiku Di Indonesia
Namanya Gogon
.
Scheveningen Beach
Sengaja Berphoto Menghadap Pantai
Pemandangan Dutch Milk Di Pantai Lebih Bagus
Rumput Hijau Didepan Rumah
Bisa Melihat Sapi Dari Rumah
Rumah saya di Belanda hanya berjarak sekitar 100 meter dari peternakan sapi. Sengaja saya pilih yang dekat peternakan sapi karena kebetulan saya juga punya banyak sapi di Indonesia. Tak perlu harus jadi kader PKS kalau hanya ingin memelihara sapi. Tak perlu jadi anggota DPR kalau hanya ingin ‘studi banding’ tentang persapian. Saya bisa melakukan sendiri apa yang saya inginkan karena rumah saya didepan kandang sapi. Saya bisa belajar sendiri bagaimana cara merawat sapi yang benar dan juga bagaimana membuat produk produk olahannya. Tidak perlu harus belajar bahasa Belanda karena sapi juga tidak tahu bahasa Belanda.
.
Kandang Sapi Didepan Rumah
Di Belanda, negara kecil dengan luas sekitar 41,543 Km Persegi dan jumlah penduduk hanya 16 Juta jiwa ini konon memiliki 30000 peternakan yang tersebar disegala penjuru negara. Saya bisa mempercayai karena memang Belanda sangat hijau sekali terutama kalau anda bisa menjelajahi negara mungil ini dari utara ke selatan dan barat ke timur. Menurut saya lebih cocok disebut negara agraris dibanding negara industri. Baca juga : Ke Belanda Apa Saja Yang Bisa Dilihat. Industri besarnya semua berada di Indonesia dan Asia Tenggara, contohnya pabrik pabrik Frissian Flag, Dutch Lady, Campina, Unilever,  dan lain lain.
.
Toko Keju Hasil Olahan Susu
Sapi Di Amsterdam Centrum
Beruntung kita pernah dijajah Belanda sehingga sampai saat ini tahu manfaat minum susu. Orang Indonesia sendiri diajari minum susu sapi dan makan keju oleh orang Belanda sekitar tahun 1938an. Awal mulanya dibentuklah paguyuban pengumpul susu pertama  di Indonesia yang bernama BMC (Bandoengsche Melk Centrale). Pendirinya adalah Louis Hirchsland dan Van Zijl seorang juragan susu saat pemerintahan kolonial. Produk utama BMC saat itu selain susu segar juga keju, yoghurt, mentega dan bahan lain dari susu. Itulah sebabnya di Bandung sampai sekarang ada restaurant yang bernama BMC, tempat penelitian yang sekarang dikenang sebagai Jalan Pasteur dan lain lain. Jejak sejarah ini semua ada di museum museum Belanda, terutama museum kolonialisme.
.
Ndeso Alkmaar
Pasar Keju Terkenal Ada Disini
Kalau anda berkunjung ke Alkmaar, kota kecil sekitar 45 Km dari Amsterdam yang terkenal dengan ‘Pasar Keju’nya dan menyaksikan cara pembuatan keju maka anda bisa merasakan kota Bandung pada jaman kolonial. Tata cara pengolahan susu menjadi keju  nyaris tidak ada bedanya dari jaman dulu hingga saat ini. Cara penjualan keju di kota Alkmaar juga nyaris sama saja dengan di Bandung di masa itu. Lihat saja photo photo jadul kota Bandung di Museum Kolonial Amsterdam. Beruntung Indonesia segera merdeka dari penjajahan Belanda. Kalau tidak segera merdeka, bisa jadi akan ada ‘Kemasan’ Bandoeng Milk yang terbuka di pantai Situ Ciburuy, Situ Palenggan, Situ Cileunca, Situ Lembang dan Situ lain disekitar kota Bandung dan bersaing ketat dengan ‘Kemasan’ Dutch Milk  seperti yang terlihat di pantai Scheveningen saat musim panas.
.
Di Tengah Pasar Alkmaar
Jalan Di Alkmaar
Sepi Tanpa Turis, Yang Memenuhi Kota Ini
Hanya Turis – Penduduknya Sedikit
Demo Jual Keju Di Alkmaar Untuk Turis
Ramai Turis – Sepi Penduduk
.
Baca Juga :

KVK – Kumpulan Vedagang Kakilima Belanda

Dagangan PKL Di Albert Cuyp Markt
Amsterdam
Restaurant Indonesia
Sukses Di Belanda

Bulan Ramadhan ini saya pulang ke tanah air tercinta Indonesia. Seperti biasa pemandangan dimana mana adalah aktifitas ekonomi di tanah air yang luar biasa besar potensinya kalau dikelola dengan baik, yaitu pedagang kaki lima. Dari siaran radio yang saya dengar melalui mobil yang saya kendarai, saya bisa mengetahui Gubernur/Wagub DKI Jokowi/Ahok sedang sibuk mengurus para PKL di Tanah Abang yang susah sekali diatur. Preman preman di tanah abang ngamuk karena penghasilannya dari memalak PKL bakalan habis kalau semua PKL dipindahkan ke Block G dari tempat biasanya membuka lapak di jalan raya.

.
Aku Dan Suami Istri Pemilik
Restaurant Lestari Arnhem

Kenapa dari jaman dulu kala di Indonesia selalu ribut antara pemerintah dan PKL ? Indonesia punya Kementerian Perdagangan Dan Perindustrian, Kementerian Ekonomi Kreatif, Kamar Dagang Indonesia, Perusahaan Daerah Pasar dan lain lain. Tapi urusan Pedagang Kaki Lima tidak pernah beres dan terintegrasi dengan baik. Masing masing kementrian tidak pernah mencari solusi bersama membantu wiraswastawan kecil untuk lebih baik. Setiap tahun pemda selalu ‘Fire Fighting’ padahal Indonesia punya banyak sekali lulusan perguruan tinggi jurusan informatika. Bisa jadi PNS atau staff kementerian diatas terlalu ‘Jadul’ dan masih ‘Gaptek’ dan tidak tahu sama sekali pentingnya database yang terintegrasi. Atau mereka sangat cerdas sekali dan tahu kalau system informasinya bagus maka tidak punya peluang lagi untuk ‘korupsi’. Siapa tahu kan ?

.

PKL Di Albert Cuyp Markt

Di Belanda, urusan PKL bisa beres dan cukup ditangani oleh KVK (Kamer Van Koophandel). Semacam Chamber Of Commerce kalau dinegara lain atau KADIN kalau di tanah air. Siapapun bisa jadi wiraswastawan atau PKL termasuk orang asing. Syaratnya cuma KTP saja dan syarat ini sangat mudah sekali didapat, misal jadi mahasiswa dulu lalu residency permitnya digunakan untuk nyambi jadi PKL. Itulah sebabnya di Belanda banyak sekali Rumah Makan Indonesia, Turki, Suriname dan lain lain. Pedagang Kaki Limanya pun punya spesialisasi dagangan berdasarkan asal negaranya seperti yang pernah saya tulis di Simbok Di Pasar Albert Cuyp Amsterdam

.

PKL Di Semarang

Pemerintah Belanda tidak perlu sibuk menarik iuran harian atau pajak dari PKL karena melalui website KVK (Kamer Van Koophandel) semua wiraswastawan diberi hak untuk melaporkan semua cash flow harian dan dengan mudah sekali pemerintah dan PKL mengontrol berapa pajak yang harus dibayar. Satpol PP Belanda tinggal keliling bawa laptop untuk mengontrol nomor registrasi para PKL, kalau belum input laporan keuangan dan belum bayar pajak sesuai cash flownya tinggal diberi peringatan dan malah dibantu untuk mengisi laporan keuangan. Soal bayar pajak, semua PKL tidak perlu harus datang ke kantor pajak, semuanya otomatis didebet dari rekening bank si PKL sesuai dengan cash flow yang dilaporkan. Pajak dari PKL diberikan kembali dalam bentuk fasalitas berdagang, jaminan sosial saat tidak bisa berdagang dan lain lain.

.

PKL Di Rumahku Bogor

Lokasi PKL juga sudah ditentukan dan diatur harus memenuhi syarat tertentu. Tetapi kalau mobile (Pedagang Keliling) diberi persyaratan lain yang lebih ketat supaya tidak seenaknya ngetem ditempat strategis ditempat yang dilarang untuk berdagang. Bagaimana, mumpung sekarang masih suasana hari kemerdekaan 17 Agustus, enak mana Belanda atau Indonesia ?. Seandainya saja Indonesia masih berada diwilayah administratif Belanda, sudah pasti caranya akan sama. Pemda, PD Pasar, Preman dan entah institusi pemerintah apa lagi tidak akan ada yang mengutip iuran harian secara manual untuk dimasukkan ke kantong pribadi. Apa sih susahnya membuat system informatika yang terintegrasi untuk seluruh negara Indonesia ? Mau dijajah Belanda kembali supaya negara ini bagus ? Atau biarkan saja merdeka seperti sekarang ini dan siapapun bisa bebas mengutip uang dari para pedagang kaki lima ?. Langkah bagus apapun yang dilakukan Gubernur/Wagub DKI terhadap pasar Tanah Abang akan tetap sia sia kalau tidak disediakan system terintegrasi yang memudahkan pedagang seperti KVK.

.
Baca Juga :