Dusseldorf, Bisa Tidak Bertahan Hidup Di Kota Ini


Hari Kerja Jam 11:00 Sepi
Bisa Tiduran Di Jalan Raya
.
Jam 09:30 Pagi
Baru Berangkat Kerja
Bagi yang belum pernah mengunjungi kota Dusseldorf, Jerman tentu bayangannya adalah sebuah kota industri yang super sibuk dengan penduduk yang juga tak kalah sibuknya menjalankan roda ekonomi kota. Berita berita ditanah air biasanya seperti itu. Saya yang sehari hari sering keluar masuk melewati kota ini ternyata mengatakan bahwa kota ini ‘tidak sesibuk kota Bandung‘. Baik hari kerja maupun akhir pekan aktifitas penduduknya terlalu monoton. Pagi hari berangkat kerja, sore pulang kerumah langsung nonton TV, weekend makan diluar bersama keluarga atau yang doyan minuman keras ngumpul di pub/cafe saat akhir pekan.
.
Ditengah Kota Saat Hari Kerja
Weekend Lebih Sepi Lagi
Kota Dusseldorf luasnya sekitar 75 % Kota Bandung. Luas tepatnya sekitar 217 Km2 dengan jumlah penduduk sekitar 593.000 dengan tingkat kepadatan penduduk sekitar 2730 per Km2. Kalau susah membayangkan, anggap saja sekitar 20 – 25 % jumlah penduduk Bandung. Jadi, siapapun yang datang ke kota ini bisa merasakan layak tidak melakukan investasi di kota ini. Aktifitas ekonomi penduduknya perkiraan saya setara dengan kabupaten Majalengka. Jumlah peredaran uang dari aktifitas perdagangan penduduk nyaris tidak terlihat dan sangat berbeda sekali dengan kota kota ditanah air dimana mulai pagi hari terlihat jelas aktifitas ekonominya dimana mana, seperti buka lapak menggelar dagangan di trotoar, warung padang mulai buka, tukang tambal ban melayani konsumen dan lain lain aktifitas ekonomi yang bisa mendatangkan uang.
.
Sama Dengan Orang Indonesia
Nonton Kalau Ada Bangunan Digusur
Seandainya saya diminta survive dikota ini kira kira bisa hidup tidak ?. Dengan tegas saya katakan ‘bisa mati hanya dalam waktu seminggu‘. Kota ini terlalu sepi untuk bisa survive dengan berbisnis pribadi. Mau buka warung padang, siapa yang mau datang. Buka tambal ban di trotoar juga jarang mobil lewat. Jadi Pak Ogah menyeberangkan mobil atau orang juga nggak ada yang lewat. Lalu kemana saja penduduknya ? Ternyata sama saja dengan kita, lebih asyik nonton penggusuran rumah dibanding berdagang. Kreatifitas dan jiwa enterpreunershipnya tidak ada, kalaupun ada tidak secanggih orang Indonesia. Di tanah air, kalau ada bangunan dirobohkan maka dalam hitungan detik saja daun pintu, kusen, toilet, ubin keramik dan wastafel sudah diambil dan diperdagangkan disekitar bangunan. Disini cuma jadi tontonan doang. Mana bisa saya bertahan hidup dikota seperti ini.
.
Kereta Api, Cukup Padat
Saat Berangkat Dan Pulang Kerja Saja
Jalan Sepi Kayak Gini Saja Saya Diwanti Wanti
“Hati Hati Kalau Nyeberang Jalan Banyak Kendaraan”
Mobil Parkir Dan Tidak Bergerak Berhari Hari
Penumpangnya Pindah Naik Kereta Api
Kereta Api Atau Trem Dalam Kota
Jalan Sempit Gantian Dengan Kereta Api
Sama Dengan Orang Indonesia
Kalau Rumahnya Digusur Memprovokasi Tetangganya
Sama Dengan Orang Indonesia
Kalau Rumahnya Digusur Marah Marah Dan Menyalahkan
Baca Juga :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s