Monthly Archives: July 2013

Beda Pengurusan KTKLN Di KBRI Kuwait Dan Jakarta

Photo KTKLN Di KBRI Kuwait
Cepat Dan Gratis Untuk Tenaga Kerja Formal Saja
.
Camera Dan Alat Khusus KTKLN
Di KBRI Kuwait
Sebagai warga negara Indonesia yang baik, apapun aturan dari pemerintah harus kita ikuti. Kali ini saya ingin mengikuti anjuran BNP2TKI dalam hal proses pembuatan KTKLN, dan kebetulan saat ini bisa dilakukan di KBRI Kuwait. Memang sejak sebulan yang lalu, tepatnya awal bulan Juni 2013  kartu KTKLN sudah bisa dibuat di Kuwait. Sepengetahuan saya, KBRI Kuwait adalah yang pertama kali bisa membuatkan Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri bagi warga negara Indonesia yang bekerja disektor Formal. Tenaga kerja non formal untuk sementara masih belum bisa dilayani di KBRI Kuwait, moga moga dalam waktu dekat tidak ada lagi diskriminasi antara tenaga kerja formal dan non formal.
.
KBRI Kuwait
Sangat Bersahabat Dan Akrab
Dengan Warga – Nggak Ada Yang
Ngantri Berdiri
Persyaratan untuk pembuatan kartu KTKLN baik di Indonesia maupun di KBRI Kuwait sebenarnya relatif sama saja, yaitu :
  1. Copy Civil ID Kuwait * (Kalau ngurusnya di Indonesia cukup KTP)
  2. Passport Asli Pemohon
  3. Copy Kartu Asuransi **
  4. Kontrak Kerja ***
Catatan :
** Semua expat yang memiliki Residency Permit dan Civil ID telah dicover asuransi kesehatan oleh pemerintah Kuwait
.
Siap Gesek Di KBRI Kuwait
Ternyata KTKLN Gratis
*** Pengertian Kontrak Kerja agak sedikit rancu, karena banyak sekali expat yang bekerja di Kuwait sebagai tenaga kerja tetap atau permanent staff. Jadi yang dimiliki adalah surat pengangkatan sebagai tenaga kerja tetap (Indefinite Staff). Contohnya tenaga kerja formal yang bekerja di pemerintahan, pelayanan publik dan perminyakan.
Proses pembuatan KTKLN di KBRI Kuwait hanya beberapa menit saja langsung jadi dan tidak dipungut biaya apapun. Tinggal isi form permohonan dan langsung diphoto saat itu juga. Beres dan kartu KTKLN dengan masa berlaku 5 tahun sudah berada ditangan.
.
Di Jakarta Harus Ngantri
Yang Bayar Calo Bisa Langsung Masuk
.
Mesin Antrian Di Cengkareng
Ini Mati. Sengaja Dimatikan Calo ?
Iseng iseng saya mencoba membandingkan dengan proses pembuatan kartu KTKLN di tanah air. Terus terang, saya merasa ‘sakit gigi’ mengikuti proses pembuatan KTKLN di tanah air. ‘Sakit Gigi’ karena ngantri cukup panjang dan kemungkinan bisa ‘dikerjain’ calo. Bukan ngantrinya yang jadi masalah, tetapi banyak sekali orang yang mendekati dan berusaha memberi jasa pelayanan pengisian form dan pengurusan biaya asuransi.
.
Coba Tebak, Ada Berapa Orang Calo
Pada Photo Ini
Ketika saya tolak dan katakan ‘Saya nggak mau bayar asuransi, sudah dibayari pemerintah Kuwait‘, tetap saja ngeyel pokoknya harus bayar asuransi Rp 400.000. Bayar jasa pengisian formulir juga Rp 100.000. Saya jawab ‘Nggak Mau Bayar‘. Beberapa orang yang menggunakan jasa mereka mendapat perlakuan khusus, yaitu duduk ditempat khusus sambil diwawancara saat pengisian form dan setelah itu dikawal khusus, bebas ngantri dan langsung masuk.
.
Petugas BNP2TKI
Serius Melayani Meskipun Diluar
Banyak Calo
Mas Ardi termasuk yang paling istimewa, nggak mau bayar tetapi disuruh cepat cepat masuk. Si Calo atau pegawai asuransi yang bediri mencari konsumen didepan kantor pengurusan KTKLN tadi rupanya khawatir. Kalau debat terlalu lama dan didengar banyak orang, dikhawatirkan akan mempengaruhi calon konsumen yang lain.  Bisa jadi semua pengantri rame rame ikut nggak mau bayar. Untuk lebih amannya, maka si calo cepat cepat menyuruh mas Ardi segera masuk. Lagipula, jiwa jurnalisme saya muncul dengan sendirinya saat itu. Dengan PD dan style seorang jurnalis saya photo semua aktifitas diluar dan didalam kantor Pelayanan Khusus Penerbitan Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri di bandara Soekarno Hatta Cengkareng. Beberapa orang calo ngumpet dan kabur meskipun badannya besar dan sangar.

Dusseldorf, Bisa Tidak Bertahan Hidup Di Kota Ini

Hari Kerja Jam 11:00 Sepi
Bisa Tiduran Di Jalan Raya
.
Jam 09:30 Pagi
Baru Berangkat Kerja
Bagi yang belum pernah mengunjungi kota Dusseldorf, Jerman tentu bayangannya adalah sebuah kota industri yang super sibuk dengan penduduk yang juga tak kalah sibuknya menjalankan roda ekonomi kota. Berita berita ditanah air biasanya seperti itu. Saya yang sehari hari sering keluar masuk melewati kota ini ternyata mengatakan bahwa kota ini ‘tidak sesibuk kota Bandung‘. Baik hari kerja maupun akhir pekan aktifitas penduduknya terlalu monoton. Pagi hari berangkat kerja, sore pulang kerumah langsung nonton TV, weekend makan diluar bersama keluarga atau yang doyan minuman keras ngumpul di pub/cafe saat akhir pekan.
.
Ditengah Kota Saat Hari Kerja
Weekend Lebih Sepi Lagi
Kota Dusseldorf luasnya sekitar 75 % Kota Bandung. Luas tepatnya sekitar 217 Km2 dengan jumlah penduduk sekitar 593.000 dengan tingkat kepadatan penduduk sekitar 2730 per Km2. Kalau susah membayangkan, anggap saja sekitar 20 – 25 % jumlah penduduk Bandung. Jadi, siapapun yang datang ke kota ini bisa merasakan layak tidak melakukan investasi di kota ini. Aktifitas ekonomi penduduknya perkiraan saya setara dengan kabupaten Majalengka. Jumlah peredaran uang dari aktifitas perdagangan penduduk nyaris tidak terlihat dan sangat berbeda sekali dengan kota kota ditanah air dimana mulai pagi hari terlihat jelas aktifitas ekonominya dimana mana, seperti buka lapak menggelar dagangan di trotoar, warung padang mulai buka, tukang tambal ban melayani konsumen dan lain lain aktifitas ekonomi yang bisa mendatangkan uang.
.
Sama Dengan Orang Indonesia
Nonton Kalau Ada Bangunan Digusur
Seandainya saya diminta survive dikota ini kira kira bisa hidup tidak ?. Dengan tegas saya katakan ‘bisa mati hanya dalam waktu seminggu‘. Kota ini terlalu sepi untuk bisa survive dengan berbisnis pribadi. Mau buka warung padang, siapa yang mau datang. Buka tambal ban di trotoar juga jarang mobil lewat. Jadi Pak Ogah menyeberangkan mobil atau orang juga nggak ada yang lewat. Lalu kemana saja penduduknya ? Ternyata sama saja dengan kita, lebih asyik nonton penggusuran rumah dibanding berdagang. Kreatifitas dan jiwa enterpreunershipnya tidak ada, kalaupun ada tidak secanggih orang Indonesia. Di tanah air, kalau ada bangunan dirobohkan maka dalam hitungan detik saja daun pintu, kusen, toilet, ubin keramik dan wastafel sudah diambil dan diperdagangkan disekitar bangunan. Disini cuma jadi tontonan doang. Mana bisa saya bertahan hidup dikota seperti ini.
.
Kereta Api, Cukup Padat
Saat Berangkat Dan Pulang Kerja Saja
Jalan Sepi Kayak Gini Saja Saya Diwanti Wanti
“Hati Hati Kalau Nyeberang Jalan Banyak Kendaraan”
Mobil Parkir Dan Tidak Bergerak Berhari Hari
Penumpangnya Pindah Naik Kereta Api
Kereta Api Atau Trem Dalam Kota
Jalan Sempit Gantian Dengan Kereta Api
Sama Dengan Orang Indonesia
Kalau Rumahnya Digusur Memprovokasi Tetangganya
Sama Dengan Orang Indonesia
Kalau Rumahnya Digusur Marah Marah Dan Menyalahkan
Baca Juga :

Masjid Pompa Air Di Potsdam, Jerman

Coba Tebak, Masjid Atau Bukan ?
Masjid Apa Kira Kira ? Sunni, Syiah, Ahmadiyah ?
Masjid Pompa Air
Potsdam

Cerita tentang keindahan arsitektur Masjid memang sangat menarik dan banyak orang yang sudah mengulas tuntas dan anda dengan mudah bisa menemukannya di berbagai macam website. Tetapi tulisan dibawah ini agak lain daripada yang lain. Seperti biasa, setiap saya melakukan perjalanan kemanapun maka yang utama adalah mencari Masjid terutama saat memasuki jam sholat. Di Eropa, untuk shalat saja saya harus ekstra hati hati dalam memilih masjid karena berkali kali saya “Diluruskan” orang saat berada didalam Masjid. Harap maklum, hampir semua masjid di Eropa milik Komunitas Ahmadiyah. Tetapi, sepengetahuan saya kalau di Eropa, yang namanya Masjid ya Masjid, tempat untuk sholat umat Islam dan tidak membedakan aliran apapun. Cuma, selalu saja ada orang yang mendekati saya untuk ‘berkenalan‘, itu saja yang membuat saya nggak enak sholat di Masjid masjid Eropa karena saya seperti orang Indonesia lainnya, yaitu Sunni. Baca : Daftar Masjid Ahmadiyah Di Eropa, Mana Masjid Sunni ?.

Kubah Dan Menara
Bagus Sekali

Dalam perjalanan saya mencari Masjid di Jerman, saya menemukan dua buah Masjid yang sangat unik. Yang pertama di kota Potsdam kira kira 40 Km dari Berlin. “Masjid” ini terletak ditengah kota, kalau di Indonesia bisa menjadi Masjid Agung karena lokasinya yang sangat strategis. Saat saya datang semua pintu masjid tertutup rapat. Ah biasa, berkali kali saya masuk Masjid di Eropa memang selalu tertutup rapat kecuali saat sholat Jumat saja yang terbuka dan ramai. Saya benar benar terkejut saat saya diberitahu seorang bule Jerman, ternyata bangunan “Masjid” tersebut adalah Rumah Pompa Air !!!! Wah…. ‘Kalau mau shalat disana saja‘, si bule menunjuk suatu gedung perkantoran/pertokoan tidak jauh dari bangunan pompa air unik ini.

Ternyata Menara Masjid
Gunanya Untuk Cerobong
Uap

Bangunan seperti Masjid ini sudah berdiri sejak tahun 1841 dan dibuat oleh arsitek bernama Persius atas permintaan Frederick William IV yang terinspirasi dari bangunan Masjid di Cordoba. Pada saat dibangun, bangunan ini merupakan satu satunya gedung tertinggi di Potsdam dan bisa dilihat dari Sanssouci Palace yang berjarak sekitar 1 – 2 Km. Saat itu mesin pemompa air digerakkan oleh tenaga uap (Steam) dan berkekuatan sekitar 80 HP dan pekerjaan konstruksi dikerjakan oleh August Borsig. Air dari sungai Havel dipompakan ke Ruinenberg Hill untuk mengairi kolam dan Air Mancur didepan istana Sanssouci, dan juga untuk menyiram semua pepohonan di taman istana. Ketinggian air mancur bisa mencapai 38 meter !!!. Sekarang, mesin uap sudah diganti dengan mesin listrik dan tidak terlihat lagi uap mengepul dari menara “Masjid”.

Air Mancur Sanssouci Palace – Potsdam Jerman
Airnya Dari Pompa Didalam “Masjid” Potsdam

Mevlana Moschee Berlin

Kotak Sampah
Yang Bisa Pindah Pindah

Ini adalah Masjid milik Komunitas Muslim Turki. Namanya Mevlana, mengingatkan saya dengan Masjid terbesar di Rotterdam, Belanda yang bernama sama. Masjid ini tidak kalah uniknya dibanding Masjid Potsdam. Sangat unik karena kotak sampah di pintu masuk konon bisa berpindah pindah sendiri. Kadang kadang menutupi jalan masuk Masjid dan kadang kadang berpindah kepinggir. Kenapa bisa begitu ? Karena pengelola Masjid dan pemilik tanah bersengketa sejak tahun 2000an dan tidak terselesaikan sampai saat ini. Berkali kali keluar masuk pengadilan tetap saja tidak beres, Saat perang dunia II, banyak orang Turki yang masuk ke Jerman dan saat itu diijinkan mendirikan Masjid Mevlana hanya berupa bangunan sementara terbuat dari kayu saja.

Dorong Yuk Kotak Sampahnya

Tetapi saat ekonomi Jerman sangat baik tahun 1990an, jumlah pendatang Turki semakin banyak dan bangunan Masjid menjadi bangunan permanen, tanah disekitar ‘dibeli’ dan dijadikan tempat tinggal orang orang Turki. Maka jadilah sengketa sampai saat ini. Simpatisan Pro Pemilik tanah akan mendorong gerobak sampah menutupi pintu dan simpatisan Masjid Mevlana Turki akan mendorong kembali gerobak sampah agar tidak menghalangi pintu. Akibatnya, pernah masjid ini dilempari batu oleh simpatisan pemilik tanah seperti photo pada link ini Man Attack Mosque In Berlin Kruzberg. Susah amat cari Masjid Sunni di Jerman dan seluruh negara di Eropa.



Baca : The Mevlana Mosque In Berlin – Kreuzberg : An Unsolved Conflict

Baca Juga :