Monthly Archives: August 2012

Visa Schengen : Verboden Voor Makelaar

Ruang Tunggu Khusus
Kedutaan Belanda Di Jln Besakih Jakarta
Pagar Tinggi Dengan
Kawat Berduri

Sudah puluhan Kedutaan Besar berbagai negara saya kunjungi terutama di Kuwait. Tetapi saat saya mengunjungi Kedutaan kedutaan di Jakarta, kesan yang saya rasakan demikian lain sama sekali. Rasanya seperti di negara yang sedang dalam keadaan perang. Pemeriksaan sangat luar biasa ketat dan setara dengan di daerah konflik seperti Irak, Afghanistan atau negara tidak aman di Afrika. Di beberapa kedutaan di Jakarta, sering yang kita jumpai pertama kali adalah barikade beton, pagar keliling kedutaan yang sangat tinggi dan kuat sekali plus kawat berduri yang mungkin saja bisa nyetrum kalau disentuh. Tentu saja kamera CCTV dimana mana. Satpam di’recruit’ dari mantan militer dengan jumlah luar biasa banyak dan cukup membuat gentar siapapun yang akan mendekat. Hanya anjing herder saja yang tidak saya lihat saat saya lewat di daerah kedutaan di HR Rasuna Said sampai Mega Kuningan beberapa hari lalu.

Staff Frelance Kedutaan
Belanda = Makelar Visa

Saat saya berkunjung ke Kedutaan Belanda di pojok Jln HR Rasuna Said – Jln Besakih Jakarta untuk mengurus Visa buat anak saya Ayu yang diundang untuk melanjutkan sekolahnya di Belanda, ternyata antrian sudah sangat panjang di trotoar jalan meskipun waktu baru menunjuk jam 08:00 pagi. Pak Satpam yang menjaga pintu gerbang sangat disiplin memeriksa satu persatu sesuai Standard Operating Prosedur kedutaan. Begitu sampai didepan pintu masuk, dengan tegas pak Satpam hanya mengijinkan Ayu saja yang boleh masuk dan saya diminta menunggu di ‘Ruang Tunggu Khusus‘ yang berjarak sekitar 50 meter dari pintu gerbang masuk, yaitu berupa warung kaki lima di trotoar jln Besakih. Untung tidak turun hujan saat itu. Rupanya, “Makelaars verboden betreden van het gebouw” atau kira kira artinya Makelar Tidak Boleh Masuk Kedalam Gedung !!!!! dan hanya yang berkepentingan saja diperbolehkan masuk.

Pencari Visa Dan Makelar

Saat saya duduk menunggu di ‘Ruang Tunggu Khusus’ inilah saya baru tahu bahwa di Indonesia untuk mengurus Visa bisa pakai jasa calo atau makelar. Di kedutaan lain di Jakarta bahkan tidak perlu datang ke Kedutaan, cukup serahkan semua syarat ke makelar maka semuanya akan beres. Untuk pengurusan Schengen Visa melalui kedutaan Belanda biayanya adalah sebagai berikut :

  • Biaya Calo/Makelar : Rp 500.000 per passport
  • Biaya Visa : EURO 60 atau sekitar Rp 650.000 per passport.
Staff Khusus Bag Visa
Makelar, Sabar Menunggu

Syarat syarat yang diminta si calo sangat lengkap sekali dan jauh lebih lengkap dibanding saat saya mengurus Schengen Visa di Kedutaan Belanda di Kuwait, yaitu :

  • Travel Insurance
  • Ticket Pesawat
  • Booking Hotel
  • Print Out Tabungan
  • Surat Keterangan Kerja Dari Perusahaan pemberi kerja.
  • Invitation Leter (bagi pelajar yang akan sekolah di Belanda)
  • Surat Pernyataan Sanggup Membiayai Anak Untuk Sekolah Di Belanda Dengan Meterai
  • Surat Pernyataan Sanggup Membiayai Keluarga Untuk Berkunjung Dengan Meterai
  • Kartu Keluarga
  • KTP
  • Dan lain lain sesukanya si Makelar.
Rasanya enak sekali jadi makelar, tugasnya gampang cuma duduk didepan Kedutaan, cari nasabah yang lewat didepan Kedutaan atau lewat telpon, memeriksa kelengkapan dokumen dan mempersilahkan masuk ke kedutaan saja. Masalah didalam kedutaan diinterview macam macam jelas urusan sendiri dan bukan tanggung jawab calo. Soal wajah dan penampilan saya, tentu tidak perlu diragukan lagi. Sudah sangat mirip Makelar dan terbukti pak Satpam tadi melarang saya masuk. Tinggal niat saja, kapan saya bisa memulai kerja gampang sebagai Makelar seperti ini. Kapan ya …..
.
.
Baca Juga :

St Basil Cathedral Dan Masjid KW-1

Yang KW-1
Masjid An Nurumi
Yang ‘Ori’
St Basil Cathedral

Yang ‘Ori‘ terletak jauh di belahan bumi bagian utara, yaitu di Moscow, Rusia. Siapa yang tidak tahu St Basil Cathedral di Moscow, Rusia. Cathedral mungil di Red Square ini adalah simbol kota Moscow yang selalu muncul di brosur brosur pariwisata dan juga televisi. Rasanya tidak ada satupun wisatawan yang datang ke Moscow tanpa mengunjungi cathedral unik warna warni kebanggaan Rusia ini, termasuk saya sendiri. Tetapi, saya cukup terkejut saat jalan jalan ke Yogya beberapa waktu lalu. Harap maklum, sejak saya tinggal di Kuwait saya jarang sekali ke Yogya dan sekitarnya. Rupanya orang Indonesia cukup kreatif dengan membuat bangunan sejenis dengan kwalitas ‘KW-1‘ dan dijiplak bulat bulat sejak tahun 2005.

RM Mbok Berek
Di Depan Masjid An Nurumi

Di Kalasan, Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya di desa Candisari,  dipinggir jalan Yogya – Solo juga terdapat bangunan sejenis dengan kwalitas ‘KW-1‘ yang juga sama uniknya dan juga membuat turis berhenti dan berphoto photoan. Bangunan mirip St Basil Cathedral ini sama mungilnya, bedanya yang di Yogya ini ternyata sebuah Masjid dan bernama An Nurumi. Turis turis asing yang sebenarnya dalam perjalanan dari Yogya menuju Prambanan semuanya tersenyum lebar saat berphoto ria didepan masjid. Saya sempat nguping penjelasan tour guide yang mendampingi para turis tersebut. “Di Indonesia semuanya ada, mulai St Basil sampai Eiffel Tower ada“, sambil tangannya menunjuk tiang listrik tegangan tinggi di kejauhan.

100 % ORI
Dingin Sekali Moscow, Beda Dengan Di Yogya
Masjid KW-1Dari Belakang

Para turis asing tersebut juga gaduhnya bukan main dan tertawa lebar saat berphoto dengan latar belakang masjid An Nurumi. Tersenyum tambah lebar saat seorang penduduk menyebut nama masjid tersebut dengan istilah ‘Candy Mosque‘ atau ‘Masjid Permen‘, mengingatkan mereka dengan nama yang hampir sama diucapkan oleh penduduk Moscow yaitu ‘Lollypop Cathedral‘. Tertawa lebih lebar lagi saat seorang penduduk menyebut masjid An Nurumi dengan nama ‘Masjid Kremlin‘ padahal letaknya di Red Square, sekitar 300 meter dari Kremlin. Hiburan dan canda segar para turis langsung senyap saat mereka menikmati ‘Ayam Goreng Mbok Berek‘ yang persis berada disamping Masjid. Inilah salah satu bentuk Islamisasi versi Indonesia yang bisa menghibur dan membuat tawa siapapun yang melewati desa Candisari Yogyakarta.
Baca Juga :

Denmark, Negeri Dongeng HC Andersen

ABG Denmark
Tokoh Komik HC Andersen
Putri Putri Dalam
Cerita HC Andersen

Saya tidak akan pernah lupa cerita anak anak HC Andersen. Saat masih kecil dulu, komik dan cerita Hans Christian Andersen memang selalu memenuhi rak buku dan tas sekolahku. Setelah saya dewasa dan saya kunjungi negara tempat kelahiran penulis dongeng terkenal tersebut saya baru tersadar bahwa Denmark memang benar benar mirip dengan cerita yang pernah saya baca puluhan tahun lalu. Busana tradisional untuk menyambut tamu dan wisatawan serasa mengembalikan angan angan ke masa kanak kanak saya,

Menyambut Tamu Dengan
Kostum Negeri Dongeng

Hans Christian Andersen atau sering disebut juga HC Andersen dilahirkan di kawasan kumuh Odense, Denmark bagian Selatan pada tahun 1805. Kehidupan masa kecilnya bagaikan dongeng yang sering diceritakan, yaitu orang tua yang miskin (tukang sepatu) dan ibu seorang buruh cuci yang saat akhir hayatnya meninggal sebagai pemabuk. Tetapi, dari ibunya inilah si kecil HC Andersen diperkenalkan cerita cerita rakyat. Ditunjang oleh ayahnya yang pecinta sastra dan berhasil memberi warna dalam karya karya HC Andersen seperti ditulis dalam biografinya “The True Story Of My Life”. Saat ayahnya meninggal, HC Andersen memasuki masa masa sulitnya dengan berpindah ke ibukota Denmark, Kopenhagen dan berharap memulai karir sebagai aktor, penari atau penyanyi.

Cincin Untuk Sang
Pangeran

Pada saat saat sulitnya, HC Andersen mencoba sebagai penulis cerita sandiwara, tetapi ditolak dimana mana. Cerita berakhir dengan happy ending saat Hans muda bertemu dengan raja Denmark, Frederik VI dan sang raja bersedia menyekolahkan ke sekolah bahasa di Slagelse dan Elsinore. Sebelum sekolah, Hans muda menerbitkan karya pertamanya “The Ghost At Palnatoka’s Grave” (1822).  Dan kemudian, jalan hidup Hans muda berubah setelah itu. Itulah sebabnya cerita cerita karya HC Andersen selalu diakhiri dengan Happy Ending. Siapapun yang berkunjung ke Denmark, akan merasa seperti dituntun ke masa kanak kanak kembali. Cerita rakyatnya sudah kita kenal semua dan nostalgia masa kecil kita seperti mengalir begitu saja saat menyaksikan penduduk menyambut wisatawan dengan cerita cerita HC Andersen dengan kostum seperti dalam komik yang pernah kita baca saat masih kanak kanak dulu.

Tokoh Komik HC Andersen
Apa Ini Ya