Monthly Archives: June 2012

Naik Kereta Api Tut Tut Tuuut….

Jogging Ditepi Danau yang mengapit kota Interlaken
Danau Thun Di Kanan Dan Danau Brien Di Kiri
Eyang Kakung
Serasa Muda Kembali
Tut Tut Tuuut

Naik Kereta Api Tut Tut Tuuut…..
Siapa Hendak Turut …
Ke Bandung – Surabaya…
Bolehlah Naik Dengan Percuma
Ayo Kawanku Lekas Naik …
Keretaku Tak B’renti Lamaaaaaa …

Judul Lagu : Naik Kereta Api

Ciptaan : Ibu Soed

Dinyanyikan Di RRI Pertama Kali : 1960an

Eyang Putri
Di Switzerland Tidak Bisa
Naik Dengan Percuma

Lagu diatas sering dinyanyikan anak anak mulai dari jaman dulu sampai saat ini. Syair yang benar adalah ‘Bolehkah Naik Dengan Percuma’, tetapi karena dinggap tidak relevan dengan keadaan perkereta apian di Indonesia, maka syair lagu diplesetkan menjadi ‘Bolehlah Naik Dengan Percuma’. Akibatnya, anak anak yang saat ini sudah dewasa semua,  sekarang banyak yang nebeng Kereta Api dan nggak mau bayar. Perusahaan Kereta Api selalu merugi, kalaupun bayar maka cukup bayar diatas KA ala kadarnya dengan kondektur langsung. Yang tetap ingin ‘bayar percuma’ harus susah payah naik diatas atap.

Rel Bergigi
Ambarawa Juga Punya

Di Switzerland, naik kereta api tentu tidak bisa gratis. Yang akan saya ceritakan adalah kereta api gunung, kereta api khusus yang dibuat untuk naik gunung dengan kemiringan terjal sampai 60 derajat. Sebuah perjalanan kereta api yang sangat mengesankan dari Interlaken sebuah kota kecil yang diapit dua danau Thunersee dan Brienzersee.. Kereta api ini bisa naik keatas gunung karena memiliki gigi gigi diantara roda rodanya. Ditengah rel kereta api ini terdapat gigi gigi mirip seperti rel kereta api di Ambarawa. Sayang sekali kereta api semacam ini di Ambarawa sudah tidak jalan lagi sekarang.

Ndeso Interlaken

Untuk menuju puncak Jungfrau, sering disebut juga Top Of Europe harus melalui beberapa terowongan dan berhenti beberapa kali distasiun tertentu yang tidak perlu saya sebutkan namanya karena saya tidak tahu. Kalau kemiringan sangat terjal sekali, maka harus pindah ke kereta khusus yang bentuknya cukup unik, yaitu mereng.sesuai kemiringan gunung. Dan terakhir untuk menuju puncak Jungfrau harus turun dulu dan ganti naik lift. Inilah lift tertinggi yang terletak diatas gunung yang pernah saya lihat. Di puncak tertinggi ini dengan mudah kita bisa menyaksikan orang pingsan. Benar sekali, oksigen sangat tipis sekali, siapapun yang badannya lemah bisa pingsan kekurangan oksigen. Apalagi saat memasuki terowongan terowongan gunung maupun terowongan es.

Kambing Dan Rumah Petani
Pemandangan Dari Atas KA

Selain gunung dan salju dipuncak gunung, maka pemandangan yang bisa saya lihat dari atas kereta api adalah sawah, kebun, rumah petani, kambing dan sapi. Bah, jauh jauh ke Switzerland hanya untuk melihat kambing dan sapi. Nggak ada bedanya sama sekali dengan kambing dan sapi di Indonesia. Di Leher sapi juga dipasangi kalung lonceng yang bisa berbunyi kluntung kluntung kalau si sapi bergerak. Kambing dan sapi di Switzerland juga sama saja, kalau buang hajat juga sembarangan. Peternak/Petani bule juga sama dengan petani di Indonesia. Bangun pagi mbersihkan kandang, memandikan sapi dan kambingnya. Kalau jalan juga menghindari kotoran sapi ditengah jalan. Kalau nasib jelek dan kebetulan satu bangku di kereta api dengan peternak tersebut, rasanya juga sama saja, badannya bau kambing dan sapi.

Baca Juga :

Masjid Agung Paris

Pot Besar – Gunanya Apa Ya ?
Kubah Utama Hijau

Masjid Agung Paris (Grande Mosquee de Paris) terletak di pertigaan Rue Dauberton dan Rue Geffrey-Saint Hilaire Paris Ile de France, kira kira 7-10 Km dari menara Eiffel. Jumlah menara cuma satu dengan ketinggian kurang lebih 30 meter dengan kubah utama yang lain daripada yang lain, yaitu berbentuk limas pentagon, bukan bulat seperti kebanyakan masjid yang kita kenal. Kubah bulat sebenarnya juga ada dan berwarna putih, sebuah berukuran besar dan dikelilingi dengan kubah yang lebih kecil. Benar benar bulat tidak seperti umumnya kubah masjid yang kita kenal di tanah air.

Taman Masjid – Ijo Royo Royo

Interior bagian dalam juga didominasi warna hijau, terutama karpet / sajadah untuk sholat. Biar terkesan ijo royo royo, maka tak lupa disediakan taman juga  yang cukup sedap dipandang mata. Saya tak tahu juga, apakah taman di masjid ini juga digunakan untuk dzikir atau sekedar hiasan penyedap mata. Kaligrafi di tembok yang biasanya sering kita jumpai di masjid masjid di Indonesia ternyata nyaris tidak ada di masjid ini. Yang bisa meyakinkan saya bahwa gedung ini benar benar masjid sebenarnya hanya menara masjid dan keramik keramik yang terpasang ditembok saja. Keramiknya sangat khas sekali ornamen Islamnya.

Karpet / Sajadah
Juga Hijau

Konon masjid agung ini dibangun setelah perang dunia I tahun 1926 sebagai penghargaan dari pemerintah kolonial Perancis saat itu, karena sekitar 100.000 muslim  meninggal dalam perang melawan Jerman. Tercatat masjid ini diresmikan oleh presiden Perancis Gaston Doumergue pada tanggal 15 July 1926 dengan Ahmad Al Alawi seorang Algeria yang ditunjunjuk sebagai Imam Masjid ini yang pertama. Pada Perang Dunia II, masjid ini digunakan sebagai tempat pengungsian rahasia dan perlindungan bagi warga Yahudi yang saat itu dikejar kejar Jerman. Dari masjid ini pulalah dikeluarkan puluhan bahkan ratusan surat tanda lahir muslim palsu untuk melindungi anak anak Yahudi dari kematian akibat ditangkap Jerman untuk dibawa ke kamp konsentrasi. Sejarah kemanusiaan ini tidak bisa dilupakan begitu saja.

Puncak Menara
Tidak Terdengar Adzan

Dua kali saya datang ke masjid ini saat sholat Ashar, tetapi saya tunggu sekian lama tidak ada satupun orang yang datang, padahal kalau saat sholat Jumat ramainya bukan main. Saking sepinya saya bisa tidur tiduran didalam masjid. Saat saya pulang, juga tidak ketemu satu orangpun didalam masjid. Mungkin umat Islam di Paris tinggalnya cukup jauh dari masjid ini sehingga malas datang. Tetapi mungkin juga saya tadi tertidur cukup lama sehingga terbangun saat sholat ashar telah selesai. Mungkin saja kan….

Lain kali kalau saya ke Perancis kembali akan saya ceritakan tentang :

  • Masjid Agung Lyon
  • Masjid Khalid Ibn El Walid – Paris
  • Masjid Agung Evry
  • Masjid Agung Poitiers
  • Masjid Agung Strasbourg
  • Masjid Bilal – Mulhouse
  • Sunna Mosque Besancon
  • Masjid Usman Villeurbanne

Baca Juga :

Salmiya, Arabian Gulf Road 1

Jogging Track Disepanjang Jalan
Arabian Gulf Road
Al Seef Hospital
Makki Japanese Restaurant
Scientific Center – 3D Imax Cinema
Apartment
 
D&D Sarapan Pagi, Ngopi, Burger Tinggal
Teriak Dari Mobil

Baca Juga :