Monthly Archives: September 2011

Indahnya Kuwait

Ingin tahu keindahan negara mini nan kaya raya Kuwait ? Dibawah ini adalah link youtube yang bisa anda saksikan.

Ingin tahu mainan anak muda atau ‘Big Boy Toys di Kuwait ?, lihat video dibawah ini :

Ingin tahu alam Kuwait ?, lihat video dibawah ini :

Dicekal Di Kuwait

Let’s Go Madame
Hati Hati Banyak Speed Camera

Pertengahan tahun 2011 ini Indonesia sedang melangkahkan kaki kedepan yaitu memulai E-KTP. Sebuah kartu tanda penduduk elektronik dimana nantinya seseorang hanya bisa memiliki satu buah nomor saja seumur hidup secara nasional. Celakanya, belum lengkap peralatan didistribusikan ke kelurahan atau kecamatan, gelombang orang yang menentang luar biasa kencang baik dari masyarakat umum maupun calon petugas yang akan mengoperasikan. Seribu satu alasan dikumandangkan mulai dari tehnologi yang belum dikuasai sampai masalah serius tentang dugaan korupsi pengadaan E-KTP.

Daripada Tertangkap Speed
Camera, Lebih Baik
Jalan Kaki Saja

Di Kuwait, Civil ID sudah dari dulu elektronik dan semua data penduduk tersimpan dalam database yang terintegrasi, baik nasional maupun orang asing. Satu orang hanya memiliki satu nomor Civil ID saja sehingga fungsi Civil ID ini sangat powerful sekali. Urusan apapun tinggal tunjukkan Civil ID seperti membuat SIM (Driving License), Asuransi, Rumah Sakit, Kredit Bank dan lain lain. Dari satu nomor Civil ID ini, semua history kita akan tercatat di database pusat. Jangan main main, kalau sekali saja kita melakukan pelanggaran maka akan tercatat. Siapapun bisa melaporkan ke polisi dan otomatis langsung Civil ID kita di’Cekal’ dan akibatnya tidak bisa keluar dari Kuwait sebelum masalahnya diselesaikan. Wewenang memblokir sementara sampai masalah selesai ini tidak memerlukan proses yang rumit dan bisa diakses online siapapun yang punya masalah dengan seseorang dengan nama Travel Ban Inquiry. Pokoknya ‘ban’ saja sementara agar bisa diproses secara hukum kalau perlu. Itulah sebabnya, di Kuwait tidak pernah terdengar ada ‘Gayus’, ‘Nazaruddin’ atau buronan lain yang dengan santainya lenggang kangkung keluar negeri saat kasusnya terungkap ke publik.

Akhirnya Bisa Terbang
Juga

Tanggal 28 Jun 2011,  adalah hari bersejarah buat saya dan keluarga. Masalahnya adalah tertangkap camera di Coastal Road Salmiya saat mobil yang saya kendarai ternyata mencapai 103 Km/jam. Padahal batas kecepatan maksimum yang diijinkan cuma 80 Km/jam. Saya tidak tahu sama sekali telah tertangkap camera meskipun sebenarnya tahu bahwa didaerah tersebut banyak terpasang speed camera. Biasanya lampu blitz akan menyala kalau sedang njepret, tetapi mungkin karena kejadian saat terang benderang jam 3 sore maka cahaya blitz tidak terlihat sama sekali.

Langsung Menuju Tahu
Campur Ojolali Langganan
– Tombo Kangen –

Alkisah, tanggal 21 Jul 2011 kita liburan Summer pulang ke Indonesia. Ternyata, dengan mudah petugas imigrasi melihat catatan Traffic Violation yang pernah saya lakukan di Coastal Road Salmiya sebulan sebelumnya. Hanya ada dua pilihan yang dengan berat hati harus saya pilih (karena tidak merasa ngebut di Coastal Road), yaitu bayar denda Traffic Violation atau tidak jadi terbang. Daripada rugi banyak maka terpaksa pilihan pertama yang harus saya pilih. Cerita masih belum selesai, saat saya kembali ke Kuwait bulan September 2011, ternyata bukti pelnggaran juga telah dkirim ke kantor suami saat saya masih liburan di Indonesia.

Seminggu lalu, saat saya datang ke kantor imigrasi untuk perpanjangan Residency Permit, saya ingin tahu dan sempat melirik komputer petugas imigrasi. Ah kira kira apa saja ya history yang tercatat dalam database ?. Ternyata semua ada dan lengkap. Pantas saja banyak orang yang di’ban’ tidak bisa keluar dari Kuwait, kasusnya macam macam. Ada orang yang punya tunggakan telpon, tunggakan kredit bank, melarikan diri sebelum kontrak kerja berakhir, pelanggaran ijin tinggal dan masalah lain mulai dari yang kecil sampai besar.

Yuk..,Kenalan Dengan Crepes Dan Saudaranya

Crepes, Brittany Perancis
Bisa  Bikin Ngiler
Jalan jalan ke negara lain rasanya hambar kalau tidak mencoba makanan tradisional setempat. Kali ini saya kenalkan makanan dari Brittany Perancis. Namnya Crepes, Kalau di Indonesia termasuk makanan Elite dan banyak dijual di mall mall besar atau rumah makan franchise. Bahannya terbuat dari tepung terigu, kalau tanpa isi sebenarnya rasanya sama saja dengan saudara saudaranya yang lebih dulu populer di Indonesia yaitu Kue Terang Bulan atau Martabak Kubang. Bedanya, Crepes dibuat lebih tipis dibanding Terang Bulan atau Martabak Kubang dan karena tipisnya maka cara menyajikannya cukup dilipat segitiga. Umumnya rasa Crepes manis dan dimakan sebagai makanan ringan sambil jalan jalan.
 
Pannenkoeken
Si Meneer Belanda
Sebenarnya Crepes adalah makanan asli Brittany, sebuah daerah disebelah utara Perancis. Isinya bermacam macam mulai dari olesan cokelat Nutella, Pineaple Jam, irisan buah strawberry, keju dan banyak lagi sampai yang paling sederhana cuma gula pasir. Karena makanan ini asalnya dari Perancis maka dinegara asalnya cukup didagangkan di kaki lima saja. Artinya, di Indonesia telah naik pangkat tinggi sekali sampai masuk ke Mall dan juga restaurant franchise. Harganya, jelas di Indonesia menjadi berlipat lipat ganda meskipun rasa relatif sama. Yang hebat, kalau di Indonesia makan Crepes di mall atau restaurant rasanya bergengsi sekali dan banyak orang yang bangga makan sambil jalan jalan, apalagi kalau dilihat orang yang nggak mampu beli atau kembang kempis hanya untuk membeli makanan rakyat Perancis ini.
 
Pedagang Crepes Di Paris
Kalau Saya Ajak Ke Indonesia
Pasti Jadi Rebutan Artis
Di Belanda,  si Crepes ini juga punya saudara namanya Pannenkoekken (Pannekoek). Bentuknya lebih mirip Kue Terang Bulan atau Martabak Kubang. Bedanya kue si meneer Belanda ini tidak dilipat dua menjadi setengah lingkaran seperti Terang Bulan tetapi dibiarkan berbentuk bulat dan sering disajikan dengan loyangnya. Kue Meneer Belanda ini bukan lagi makanan ringan seperti Crepes, tetapi termasuk makanan utama (Main Course) untuk mengenyangkan perut dan isinya daging, tuna, keju atau bahan bahan kelas berat lain yang mengenyangkan.
 
Restoran Pannenkoeken
Si Meneer Belanda Di
Den Haag
Saudara si Crepes yang tinggal di America namanya Pancake, nggak ada isinya dan ukurannya paling kecil sendiri dibanding si Crepes, Terang Bulan atau Pannenkoeken. Si Pancake Amerika ini umumnya disantap pagi hari untuk breakfast dengan hanya disiram sedikit sirup madu saja. Masih banyak sebenarnya saudara si Crepes ini seperti Pannkaka (Swedia), Okonomiyaki (Jepang). Clafaoutis (daerah Limousine, Perancis), Flaugnarde (daerah Limousine, Perigord dan Auvergne, Perancis), Crespella (Italia), Krep (Albania & Turki) dll
 
Crepes Isi Coklat Nuttella
Ehm… yummy !
Pizza Italia bukan keluarga Crepes meskipun bentuknya sama, karena Crepes dan keluarganya terkenal lembut dimulut dan tidak sekeras pizza Italia. Ingin coba Crepes yang asli, datang saja ke Perancis, hampir disemua tempat keramaian terdapat penjual Crepes kaki lima, contohnya disekitar menara Eiffel, didepan Museum Louvre atau disekitar Gereja Notre Dame. Saya cari cari di Lafayette Mall di Paris rasanya susah sekali dan sampai saya pulang ke Kuwait belum saya temukan counter Crepes mewah dan bergengsi seperti di Indonesia. Mungkin karena termasuk makanan rakyat jelata maka pengusaha perancis lebih senang menjual ‘Franchise’nya di Indonesia dangan harga yang berlipat ganda. Moga moga suatu saat nanti ada pengusaha Indonesia yang mem’franchise’kan tempe gembus, tahu bacem dan Terang Bulan ke Perancis. Siapa tahu kan ?
 
Baca Juga :