Tawa Kecil Tengah Malam


Souk Mubarakeeyah
Jam 23:00 Malam

Kalau anda sedang jalan jalan tengah malam dan mendengar suara lengkingan anak kecil sedang tertawa, kira kira apa yang anda rasakan saat itu. Mungkin anda merasa heran, janggal atau bahkan merasa takut karena tidak umum ada anak anak masih melek tengah malam. Di Indonesia, memang hampir semua anak kecil sudah tertidur lelap dipelukan ibunya saat tengah malam. Di Timur Tengah, khususnya Kuwait jauh sangat berbeda dengan di Indonesia.

Jam 22:00 Malam, Mandi
Di Air Mancur

Bulan June sampai September adalah musim panas di Kuwait, temperatur tertinggi biasanya sekitar akhir July sampai awal Agustus dimana udara sangat kering dengan temperatur bisa mencapai 50 C pada siang hari. Dengan temperatur setinggi itu, otomatis aktifitas penduduk beralih ke malam hari. Aktifitas olah raga, jalan jalan, perdagangan, rekreasi ditempat terbuka yang biasanya cukup ramai saat siang hari langsung sepi.

Jam 21:00, Anak Anak Mulai
Berdatangan Ke Air Mancur

Bukan sesuatu yang aneh di Kuwait saat tengah malam seorang anak kecil tampak mandi dan bercanda dengan teman temannya di taman kota seperti yang sering terlihat disebuah air mancur di pasar Mubarakeeyah. Terkadang, orang tuanya juga ikut bergembira dengan memandikannya meskipun harus ikut berbasah basah. Rupanya, musim panas bukan merupakan sesuatu yang menakutkan dan mereka bisa mensyukuri dan mengakali keadaan alamnya yang kurang bersahabat dengan mengubah aktifitasnya ke malam hari.



Rasanya Ingin Nyemplung
Dan Berenang Di Kolam
Al Kout – Fahaheel

Lalu bagaimana dengan expatriate atau orang asing terutama dari Indonesia yang sama sekali tidak pernah mengalami udara panas sampai 50 C dinegara asalnya ? Gampang saja, bulan Juni, Juli dan Agustus kebanyakan rame rame mudik ke Indonesia. Yang tidak ikutan mudik biasanya nglencer ke negara lain terdekat yang lebih sejuk, contohnya Turki. Yang tidak bisa pergi sama sekali karena sesuatu hal biasanya cukup ngumpul di airport untuk mengantar yang pulang mudik. Hebatnya, yang berangkat satu, yang ngantar bisa sekampung. Guyub, rukun dan merasa senasib seperjuangan di perantauan. Meskipun cuma di bandara, rasanya Indonesia sudah dekeeeet sekali.

Baca Juga :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s