Monthly Archives: July 2011

Tawa Kecil Tengah Malam

Souk Mubarakeeyah
Jam 23:00 Malam

Kalau anda sedang jalan jalan tengah malam dan mendengar suara lengkingan anak kecil sedang tertawa, kira kira apa yang anda rasakan saat itu. Mungkin anda merasa heran, janggal atau bahkan merasa takut karena tidak umum ada anak anak masih melek tengah malam. Di Indonesia, memang hampir semua anak kecil sudah tertidur lelap dipelukan ibunya saat tengah malam. Di Timur Tengah, khususnya Kuwait jauh sangat berbeda dengan di Indonesia.

Jam 22:00 Malam, Mandi
Di Air Mancur

Bulan June sampai September adalah musim panas di Kuwait, temperatur tertinggi biasanya sekitar akhir July sampai awal Agustus dimana udara sangat kering dengan temperatur bisa mencapai 50 C pada siang hari. Dengan temperatur setinggi itu, otomatis aktifitas penduduk beralih ke malam hari. Aktifitas olah raga, jalan jalan, perdagangan, rekreasi ditempat terbuka yang biasanya cukup ramai saat siang hari langsung sepi.

Jam 21:00, Anak Anak Mulai
Berdatangan Ke Air Mancur

Bukan sesuatu yang aneh di Kuwait saat tengah malam seorang anak kecil tampak mandi dan bercanda dengan teman temannya di taman kota seperti yang sering terlihat disebuah air mancur di pasar Mubarakeeyah. Terkadang, orang tuanya juga ikut bergembira dengan memandikannya meskipun harus ikut berbasah basah. Rupanya, musim panas bukan merupakan sesuatu yang menakutkan dan mereka bisa mensyukuri dan mengakali keadaan alamnya yang kurang bersahabat dengan mengubah aktifitasnya ke malam hari.



Rasanya Ingin Nyemplung
Dan Berenang Di Kolam
Al Kout – Fahaheel

Lalu bagaimana dengan expatriate atau orang asing terutama dari Indonesia yang sama sekali tidak pernah mengalami udara panas sampai 50 C dinegara asalnya ? Gampang saja, bulan Juni, Juli dan Agustus kebanyakan rame rame mudik ke Indonesia. Yang tidak ikutan mudik biasanya nglencer ke negara lain terdekat yang lebih sejuk, contohnya Turki. Yang tidak bisa pergi sama sekali karena sesuatu hal biasanya cukup ngumpul di airport untuk mengantar yang pulang mudik. Hebatnya, yang berangkat satu, yang ngantar bisa sekampung. Guyub, rukun dan merasa senasib seperjuangan di perantauan. Meskipun cuma di bandara, rasanya Indonesia sudah dekeeeet sekali.

Baca Juga :

Pasar Krempyeng Di Pont Neuf

Hanya Beberapa Puluh

Meter Saja Dari Jembatan Pont Neuf
Jadi turis yang suka jalan seenaknya tanpa bantuan tour guide memang mengasyikkan meskipun lebih banyak bingungnya daripada menikmati pemandangan. Waktu saya di Paris, saya menemukan brosur pariwisata di lobby hotel tempat saya menginap. Tour guide yang stand by di hotel juga merayu terus agar kita ikut paket tournya. Tertulis jelas route perjalanan wisata yang ditawarkan melalui Pont Neuf setelah terlebih dahulu diajak mengunjungi Louvre Museum.  Sama sekali saya tidak tahu apa itu Pont Neuf, bayangan saya saat itu lokasinya cukup jauh dari hotel tempat saya menginap dan berada diluar route Hop On Hop Off Bus yang saya naiki beberapa hari ini. Karena kurang suka diikuti tour guide (Baca : mau ngirit) maka saya putuskan jalan sesukanya naik Les Car Rouges.
Sebut Saja Pasar

Pont Neuf
Ternyata, setelah saya tiba kembali di Kuwait dan browsing mbah google beberapa kali, yang namanya Pont Neuf adalah sebuah jembatan yang saya lalui setiap hari baik saat jalan kaki maupun keliling kota naik Hop On Hop Off Bus. Sama sekali saya tidak memperhatikan bahwa Pont Neuf adalah jembatan bersejarah bagi Perancis. Bentuknya relative tidak ada bedanya dengan jembatan lain yang melintasi sungai Seine. Warnanya juga sama saja dengan warna bangunan, jembatan atau apapun dilingkungan sekitarnya, coklat. Tetapi, jembatan ini konon dibuat pada pertengahan abad 16. Konon pada tahun 1578 hanya ada dua jembatan saja untuk menyeberang sungai Seine. Karena hal itu lalu raja Henry III memerintahkan untuk membuat jembatan baru dan baru selesai tahun 1607 dan diresmikan oleh raja Henry IV. Jembatan ini memeiliki panjang 232 meter dan lebar 22 meter dengan 12 busur gorong gorong yang menopangnya.
Ada Komidi Putar Ditengah

Pasar
Saya benar benar tidak memperhatikan jembatan terkenal di Paris ini karena didekat jembatan ini terdapat tempat keramaian yang sangat menarik, pertokoan kecil menjual berbagai macam barang dan juga ada pasar, hiburan anak anak sampai stasiun kereta api. Terus terang, sebagai seorang wanita jangan salahkan saya kalau saya lebih tertarik melihat pasar daripada melihat jembatan. Lokasi pasar Pont Neuf (nama sebenarnya saya tidak thu) ini juga tidak seberapa jauh dari Louvre Museum. Saat saya jalan semaunya di lorong lorong ditengah pasar ini tahu tahu nongolnya di Louvre Musseum. Barang barang yang dijual dipasar ini juga cukup bervariasi, mulai barang sekwalitas pasar tanah abang sampai barang kelas mnengah dengan kwalitas cukup bagus. Tas, gelas, piring, busana sampai makanan semua ada.
Pont Neuf Di Belakang
Soal harga dipasar ini menurut saya tidak bisa dikatakan murah bahkan cenderung sangat mahal karena umumnya pengujung yang masuk kesini adalah turis kesasar seperti saya. Tetapi, bagaimanapun juga cukup menarik untuk dikunjungi daripada cuma melihat air sungai Seine, museum atau cuma melihat jembatan Pont Neuf yang menurut saya tidak ada yang spesial dngan jembatan ini. Tapi, terserah anda menilai seandainya anda lebih tertarik melihat jembatan batu. Gambar dibawah ini adalah jembatan Pont Neuf yang terkenal tersebut, maukah anda berlama lama memandang jembatan ini ?
Jembatan Pont Neuf

Siapa yang tahu kalau jembatan ini bersejarah
Baca Juga :

Berburu Bakpao Di Kuwait

Hmm… Bakpao Arab
Putih, mulus dan terkesan tembem kalau kita pandang. Itulah bakpao, makanan ringan yang banyak dijual di Indonesia, baik di kampung, pasar atau disepanjang jalan di Jakarta. Mudah memang mencari makanan gemuk tembem ini di Jakarta, dan saya paling suka menikmati saat hujan rintik rintik di kemacetan jalan Sudirman atau jalan protokol lainnya di Jakarta. Kadang kadang saya beli di sekitar Bintaro. Tinggal teriak dari dalam mobil ‘Bang… dua biji yang isi kacang ijo…!’. Beres sudah…, tetapi, perkara sederhana dan sama sekali tidak penting seperti ini layak untuk diulas habis kalau mencarinya di Kuwait.
Al Bahah Bakala – Fahaheel
Bertahun tahun tinggal di Kuwait memang sering membuat kita kangen dengan apapun yang berbau Indonesia. Saya coba kunjungi Warung Bakso Anita di Farwaniya, ternyata sudah tutup. Pindah lagi ke Mama Lala terlalu jauh kalau harus kembali ke Mangaf. Rumah makan China, Philipine dan Thailand hampir diseluruh Kuwait City sempat saya lirik, barangkali ada sesuatu yang menarik untuk kita coba, sampai akhirnya kita putuskan pulang saja dan nggak jadi makan enak. Cukup masak sendiri dirumah, tekad bulat sudah saya putuskan, kalau keinginan kuat makan ini karena sedang ‘ngidam’, biarlah bayi yang lahir nanti ngiler karena nggak keturutan.
Bakpaoku Di
Belakang Kasir
Dalam perjalanan pulang, saya putuskan untuk mampir di Al Bahah – Al Dabbous Street – Fahaheel. Warung atau Bakala ini memang menjadi tempat tujuan kebanyakan orang orang Indonesia dan Philipino karena sebagian besar yang dijual adalah produk produk dari Asia Tenggara. Tahu, Tempe, bumbu jadi dari Philipine dan makanan apapun yang mudah diterima lidah Indonesia. Dan akhirnya…. Saya begitu sumringah menemukan sesuatu yang lain daripada yang lain, yaitu Bakpao. Setumpuk bakpao isi ayam dan kacang hijau hangat terlihat disamping kasir. Rupanya, orang Arabpun ada yang doyan bakpao. Langsung 20 buah bakpao hangat  saya beli. ‘Banyak sekali madame …..’. Bingung juga njawabnya, akhirnya saya jawab sekenanya saja ‘Big Family …. All like me….Eat everything …..’.