Sepeda Sepeda ‘Londo’


Umumnya pembaca blog ini sudah ngerti semua bahwa Negara yang mayoritas penduduknya memiliki budaya bersepeda adalah Belanda dan China. Tetapi sebenarnya budaya bersepeda yang sampai saat ini tetap lestari adalah di Denmark, Belanda, Jerman, Bangladesh, China dan Jepang. Di Copenhagen dan Amsterdam tercatat 37 % sampai 40 % penduduknya menggunakan sepeda untuk aktifitas sehari harinya, baik ke kantor, sekolah, belanja atau sekedar bertandang ke rumah kawan.
Di Negara lain tentu juga banyak sepeda, tetapi cenderung pemakaiannya untuk tujuan ‘emosional’ sesaat saja, bukan dipakai sehari hari, misal ingin sehat secara nasional lalu diadakan acara bersepeda bersama setiap hari tertentu, bising dengan suara kendaraan bermotor dan terlalu banyak polusi maka jalan jalan utama tertentu ditutup dan hanya boleh digunakan untuk bersepeda saja, atau sekedar keliling kota bersepeda komunitas penggemar sepeda kuno. Sama sekali bukan dipakai sehari hari seperti halnya budaya bersepeda dinegara negara diatas.

Yang saya perhatikan dari beberapa ‘Negara Sepeda’ diatas, semuanya memiliki infrastruktur yang sangat bagus sekali untuk para pe’sepeda’. Jalan khusus untuk sepeda dibuat senyaman mungkin, kalau perlu jalan mobil dikurangi sampai benar benar nyaris habis. Paling tidak, pengguna mobil disiksa sedemikian rupa agar berputar jauh sekali dan diberi sangsi berat kalau seandainya memotong jalan sepeda. Hal ini sangat jauh sekali berbeda dengan di Indonesia dimana jalan mobil dilebarkan selebar lebarnya dan becak atau sepeda dilarang masuk kota.
Selain itu yang saya perhatikan dinegara sepeda tadi, jalan jalan raya tidak dilebarkan selebar lebarnya seperti di Indonesia dengan alasan melindungi bangunan bangunan kuno yang antik dan artistik. Itulah sebabnya, bangunan kuno di negara negara sepeda diatas masih terjaga kelestariannya meskipun jalan didepannya terasa sempit sekali dan terlalu padat sepeda pada saat saat jam berangkat kantor atau sekolah dan juga jam pulang kantor dan sekolah. Tua muda semua bersepeda dan tampak sudah benar benar membudaya sekali.

Tetapi bagaimanapun juga, saya tetap tidak setuju kalau Jakarta dijadikan kota sepeda. Alasannya, bersepeda di Jakarta sudah pasti berkeringat. Iklim dan cuaca di Indonesia terutama humidity atau kelembaban udaranya tidak sama dengan Negara Negara sepeda diatas. Di Indonesia humidity udara sangat tinggi sekali yang menyebabkan makan nasi padang saja bisa berkeringat, apalagi naik sepeda.
Jadi salah besar kalau anda bermimpi mengubah Indonesia menjadi Negeri Sepeda, pasti banyak yang tidak setuju. Tahu sendiri kan, bagaimana reaksi penduduk Jakarta ketika harus berbagi jalan dengan busway, di Belanda mobil harus berbagi jalan dengan sarana umum seperti trem atau kereta api, sepeda dan public transport yang diutamakan. Jadi berbahagialah pemilik mobil di Indonesia karena jalan untuk mobil pribadi di Indonesia lebih lebar dan panjang dibanding sarana umum seperti bussway.
Saking banyaknya sepeda, masalah tentu juga semakin rumit karena tidak mudah bagi pemilik sepeda untuk menandai atau mencari sepedanya di tempat parkir. Kalau kita naik sepeda motor atau mobil tidak mungkin parkirnya ditumpuk tumpuk sehingga mudah mencarinya kembali. Tetapi kalau sepeda jelas sangat susah sekali mencarinya kalau diparkir ditempat umum karena secara umum bentuk dan warna hampir sama semuanya dan cara parkirnya ditumpuk tumpuk atau disandarkan ke sepeda disebelahnya. Sehingga banyak sekali pemilik sepeda yang berdarah tinggi melemparkan sepeda sepeda yang menghalangi sepedanya kedalam sungai. Sangat bisa dimengerti kenapa banyak sekali pemilik sepeda di Belanda yang suka marah dan melemparkan sepeda sepeda lain kedalam sungai hanya untuk mengambil sepedanya yang kejepit.
Maling sepeda saya tidak pernah melihat di Belanda, tetapi sepeda sepeda semuanya dikunci dan bahkan ada yang pakai rantai kapal yang besar sekali. Sepeda sepeda ini dirantai ke tiang listrik atau pagar dengan rantai dan kunci gembok yang besar. Saya kira untuk mencegah dicuri maling, eh ternyata alasannya sepele saja, kalau tidak dikunci sepeda akan dilempar pemilik sepeda lain ke sungai atau ke jalan raya dan tempat parkir strategis yang ditempati sepeda tadi akan ditempati oleh pemilik sepeda lain yang berani melempar ke sungai/jalan raya tadi.
Hukum rimba memperebutkan tempat parkir atau lebih tepatnya memperebutkan tiang atau pagar untuk nggembok sepeda berlaku di semua negeri sepeda diatas, itulah sebabnya saya tidak setuju promosi promosi “B2W (Bike2Work)”, “Komunitas Sepeda Onthel” atau klub sepeda lain di Indonesia yang ingin menjadikan sepeda sebagai solusi kemacetan jalan di Jakarta. Kemringet…..karena beda iklim dengan negeri
 sepeda diatas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s