Kalau Expatriate Panen Kurma Di Kuwait


Ini cerita tentang expatriate yang tinggal di Kuwait, khususnya expatriate dari Bangladesh, India, Philipine dan tentu saja Indonesia. Kali ini tentang Kurma, buah buahan terkenal yang banyak tumbuh di padang pasir dan menjadi oleh oleh utama jamaah haji Indonesia meskipun di Indonesia sendiri banyak dijual di pasar pasar dan supermarket. Sedikit gambaran saja bahwa buah kurma yang manis, coklat tua kehitaman dan selalu kita santap di bulan ramadhan ternyata tidak sama dengan yang sering kita lihat sehari hari di pohonnya.

Kurma yang kita kenal  umumnya adalah yang sudah matang berwarna coklat tua sampai kehitaman dan  berasa manis sampai manis sekali. Ternyata tidak semua kurma manis, ada juga yang tidak bisa dimakan sama sekali karena tidak bisa matang meskipun sudah rontok dan jatuh ketanah. Yang masih segar dipohonpun rasanya juga macam macam, mulai asam, sepet, kecut, hambar dan tentu saja manis. Ada juga kurma yang kalau matang mengeluarkan cairan atau berair seperti madu dan kurma jenis ini pasti tidak sampai ke Indonesia karena tidak awet, hanya beberapa hari saja cairan seperti madu yang keluar akan terfermentasi dan rasanya jadi seperti tape. Yang masih dipohon, warnanya juga bermacam macam, ada yang hijau, merah, kuning dan ukurannya juga ada yang besar sekali sampai kecil sbesar kelereng.

Saya tidak tahu nama nama ilmiah kurma kurma ini, yang saya ketahui cuma enak dan manis dan kalau malas untuk beli bisa memetik sendiri dimanapun ada pohon kurma berbuah karena memang pohon kurma di Kuwait banyak bertebaran disepanjang jalan dan umumnya digunakan sebagai penghias jalan dan taman di Kuwait. Pemilik pohon jelas dinas pertamanan Kuwait karena tiap hari mereka yang menyiram air, tetapi pemilik buahnya boleh dikatakan siapa saja yang lewat dan bisa meraih adalah pemiliknya. Bulan ramadhan tahun 2010 sekarang ini bertepatan dengan musim panas di Kuwait, saat saat dimana pohon kurma berbuah lebat dan siap dipanen.
Ada yang percaya kurma jenis tertentu bisa dijadikan sebagai obat. Entah obat apa saya kurang tahu, yang jelas kurma ajaib ini konon hanya tumbuh disekitar masjid. Entah omong kosong atau tidak, yang jelas kalau pulang ke Indonesia saya sering dititipi ‘kurma obat’ ini. ‘Kurma Obat’ ini banyak dipanen para expatriate baik dari Mesir, Bangladesh, India, Philipine dan juga Indonesia. Karena musim panen selalu bertepatan dengan musim panas dimana kebanyakan expatriate yang tinggal di Kuwait pulang mudik untuk ngadem di negara asalnya, maka orang Indonesia juga tidak mau ketinggalan.. Yang pulang mudikpun kebanyakan bawa oleh oleh kurma dan yang tidak mudik banjir titipan kurma kurma ajaib ini untuk keluarganya di Indonesia.
Yang menarik, panen biasanya dilakukan setelah sholat Jum’at secara berombongan 4 – 6 orang.  Satu orang memarkir mobil didekat pohon kurma sasaran, satu orang naik keatap mobil, satu orang sebagai pemulung yang bertugas memasukkan kurma kurma yang dijatuhkan kedalam tas kresek dan satu orang lagi sebagai ‘tenaga keamanan’.  Sengaja diambil saat panen setelah sholat Jumat dengan tujuan untuk mem’balance’ atau paling tidak mengurangi dosa seandainya ada yang men’claim’ sebagai pemilik pohon. Beberapa expatriate dari Mesir, Bangladesh, India dan Philipine malah ada yang kelewat rajin, kurma yang sudah mulai besar di’brongsong’ atau dibungkus dengan jaring plastik. Kalau sudah ada jaring atau ‘brongsong’annya berarti sudah ada yang memiliki, kita tidak berani ambil. 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s