Monthly Archives: June 2010

Souk Al Juma’a – Arloji Asli Bekas Kuwaiti

Pingin punya arloji mewah harga kelas bawah ? Mudah kalau carinya di Kuwait. Tapi harus ngerti benar mana arloji asli dan mana yang replika (bahasa halus untuk arloji tiruan). Kalau anda beruntung, anda bisa dapat jam jam mewah seperti Tag Heuer, Omega, Rado, Bvlgari, Cartier, Breitling, Movado, Girard Perregaux, Hublot, Chopard dan lain lain. Untuk jam replika yang kualitas A, harga tidak lebih dari KD 5 saja, tetapi untuk jam asli tergantung pengetahuan penjual, terkadang kalau penjualnya tidak mengerti sama sekali, jam asli cuma dihargai KD 10 sampai KD 30 saja. Kalau arlojinya masih bagus sekali dan penjualnya ngerti harga barunya, bisa jadi harganya melambung tinggi sampai KD 150 atau bahkan lebih. Saya pernah ditawari Piaget Gold Plate dengan harga KD 300 dan tidak bisa turun lagi.

Sering mengantar tamu atau kawan ke Souk Al Juma’a (Friday Market / Pasar Jum’at) membuat pengetahuan saya bertambah luas. Baik pengetahuan tentang cara tawar menawar dengan pedagang Arab maupun pengetahuan tentang cara mengidentifikasi arloji asli dan arloji replika. Kebanyakan tamu atau kawan yang saya ajak mencari arloji di pasar ini mengatakan puas dan bisa tertawa lebar. Berikut komentar tamu tamu saya yang puas total setelah saya perkenalkan Friday Market – The Bigest ‘Pasar Loak’ in The World. 
  • No visit to Kuwait wuld be complete without a trip to Friday Market.
  • Here you can find the best prices on anything native to the middle east.
  • Very rich country I’ve ever seen where luxury watch can be seen anywhere.
  • It is the Arab equivalent to the American Flea Market
  • Located just off the Fourth Ring Road, not too far from my hotel.
  • As the name implies, it is held once a wek starting early Friday morning.

Seperti yang sering saya tulis dalam blog ini tentang Pasar Jumat, di pasar loak ini kita bisa mendapatkan semua barang apapun, mulai dari koin mata uang langka, radio transistor kuno, perhiasan jaman baheula sampai barang barang baru dan modern seperti TV, kulkas, sepeda motor roda 4 ATV dan lain lain. Semuanya bekas pakai, tetapi ingat ‘Barang Bekas’ beda artinya dengan ‘Bekas Barang’. Yang di Pasar Jumat Kuwait ini adalah ‘Barang Bekas’, masih sangat layak untuk kita beli. Saking seringnya mengantar tamu mencari arloji, saya jad tahu cara memilih arloji asli. Berikut ini tips dari saya kalau mau cari arloji asli :

  1. Survey harga arloji dengan merek terkenal yang akan kita cari di dealer resmi di mall mall. Tanyakan ke dealer ini ciri ciri arloji yang asli dan palsu dengan alasan diluar banyak barang palsu sehingga kita harus yakin dulu sebelum beli. Ucapkan terima kasih kalau mendapat penjelasan detail dan tinggalkan nomor telpon Harris penjaga apartment anda atau nomor telpon Free Delivery Restaurant langganan anda kalau si pegawai minta ditinggali nomor telpon.
  2. Mantap dengan penjelasan diatas, langsung berangkat ke Pasar Jum’at untuk mencari Arloji asli idaman. Kalau anda disodori Arloji baru dan masih kinclong, langsung tolak saja. Sudah bisa dipastikan bahwa arloji baru di pasar Jumat adalah arloji imitasi, bahasa kerennya ‘Replica Watch’. Arloji asli biasanya diumpetin didalam tas oleh penjualnya tetapi banyak juga yang digelar bersama sama dengan jam replika buatan China, terutama kalau penjualnya tidak tahu mana arloji asli dan mana yang replika..
  3. Kalau yang ditunjukkan jam bekas, kemungkinan besar anda menemukan jam idaman meskipun mati, kacanya pecah atau gelangnya butut, paling tidak kita sudah yakin 60 % jam tersebut bekas milik Kuwaitis. Seringkali saya memilih jam mati karena biasanya cuma batterynya saja habis. Saking banyaknya duit, jam habis battery diberikan ke sopir atau tukang kebunnya. Dan si sopir atau tukang kebun ini karena nggak tahu nilainya sering menjualnya di Pasar Jumat.
Pada saat memilih milih arloji, satu hal yang wajib saya lakukan adalah :

  1. Lihat nomor seri di balik jam. Tidak ada nomor seri langsung letakkan kembali, berarti palsu. Kalau ada nomor seri, belum tentu asli, teliti lagi lebih detil, nomor seri jam asli selalu digrafir  kecil dan halus di tutup bagian belakang jam dan kalau mesin bisa dilihat, nomor seri juga ada di mesin. Jangan percaya kalau penjual mengatakan nomor seri dan logo jam asli ada di gelang.
  2. Jam mahal selalu ada phosphor yang bisa menyala di kegelapan, kalau jam murahan biasanya cuma cat putih atau kehijauan disetiap angkanya. Tetapi jam Replika yang kualitas A sering juga ada phospornya. Perhatikan benar benar, phosphor atau cat yang ada disetiap angka dan jarum.
  3. Jam mahal kacanya selalu Saphire. Lihat di posisi jam 6 akan terlihat logo atau huruf tertentu.
  4. Terakhir, Jam mahal selalu presisi dan akurat. Mintalah ijin untuk mencocokkan dengan jam tangan yang sedang anda pakai. Putar jarum jam pelan pelan, jarum pendek, jarum panjang dan jarum detik akan 100 % berimpit pada posisi jam 12.  Putarlah jarum panjang pelan pelan, jarum panjang benar benar tepat pada garis menit kalau anda putar dari menit ke menit.
  5. Bawa ke dealer resmi jam mewah di mall mall dan katakan minta servis dan ganti battery. Kalau ditolak berarti anda masih belum lulus, tetapi kalau langsung diservis dan diganti batterynya, saya ucapkan selamat berarti arloji pilihan anda asli. Dealer resmi tidak akan mau menservis jam palsu. Katakan saja sertifikat asli arloji Pasar Jumat sedang ketlingsut.
Nah, selamat berburu arloji mewah. Kalau anda bisa mendapatkannya, saya jamin anda bisa tertawa lebar tiga hari tiga malam. Hanya di Kuwait anda bisa menemukan jam mewah dilego di pasar loak, tentu kalau anda jeli dan sabar setiap minggu mengunjungi pasar ini.

Pecel Bu Susy – Peluang Bisnis Di Kuwait

Tidak mudah berbisnis atau punya bisnis pribadi bagi expatriate di Kuwait. Tetapi jalan untuk memulai bisnis selalu ada, caranya adalah menggandeng orang Kuwait untuk bekerja sama dengan cara bagi hasil. Usaha akan 100 % dijalankan oleh expatriate dan Kuwaitis akan kebagian tugas untuk perijinan karena untuk membuka usaha sendiri bagi expatriate jelas tidak mungkin atau tidak diijinkan pemerintah. Beberapa orang Indonesia banyak yang diam diam berbisnis, misal salon dan catering tetapi usaha ini bisa dikategorikan ilegal karena tidak punya ijin.

Sebelum benar benar terjun untuk berbisnis di Kuwait, saya menjajaki berbagai kemungkinan bisnis yang bisa saya lakukan, bahasa sononya Marketing Research. Kesimpulannya, seluruh penduduk Kuwait berjumlah sekitar 4 Juta orang dan makanan sehari hari roti dan keju. Seandainya 1 % saja bisa beralih ke makanan Indonesia, berarti keuntungan yang bisa saya peroleh bisa ratusan bahkan ribuan KD. Wah mantap nih, langsung saja saya pilih makanan kesukaan orang Indonesia yang kemungkinan juga akan disukai orang orang di Kuwait yaitu Jual Pecel dan Lemper.

Setelah saya lakukan survey secara lebih teliti di Al Bahah Fahaheel, sebuah bakala atau toko kebutuhan sehari hari yang populer dikalangan orang Indonesia yang tinggal di Mangaf – Fahaheel dan sekitarnya, ternyata impian saya langsung buyar. Pecel dan Lemper yang di Indonesia murahnya bukan main, di Kuwait harganya bisa sangat mahal sekali. Yang membuat mahal adalah pincuk atau piring daun pisang untuk pecel dan bungkus lemper yang harus terbuat dari daun pisang. Di Kuwait, daun pisang harus diimport dari luar negeri, ada yang dari Philipine dan ada yang diimport dari Srilanka dan Kerala – India. Karena merupakan barang import, daun pisang ini dibungkus dalam kardus tebal dan ada juga yang dimasukkan dalam stereofoam dulu seperti layaknya barang elektronik yang harus dijaga agar tidak lecet atau cacat pada saat pengiriman. Satu kardus, isinya 5 buah daun pisang dan berharga KD 15, jadi satu helai daun pisang sekitar KD 3 atau kurang lebih Rp 100.000. Kalau satu helai daun bisa untuk 10 pincuk pecel, berarti biaya pincuknya saja sudah Rp 10.000 per buah, belum harga pecelnya sendiri. Lemper juga sama saja, mahal dibungkusnya dibanding lempernya. Kangkung juga diimport dari luar, lalu siapa nanti yang mau beli Pecel dan Lemper Bu Susy ?

Madame Ke Den Haag City Center

Kalau ke Belanda, saya sarankan menginap di Den Haag (The Hague), dan tentu saja akan lebih baik kalau nginapnya di City Center. Den Haag tidak terlalu jauh dari Amsterdam, hanya sekitar 49 Km saja dan dari Schiphol airport bisa dicapai dengan angkutan umum seperti taxi atau tram/kereta api. Transportasi umum di Belanda sangat lancar dan tidak perlu terlalu khawatir nggak kebagian tempat duduk. Hampir semua tempat dilalui tram/kereta api. Sewa mobil dan mengemudi sendiri lebih baik lagi karena Belanda yang kecil sekali bisa kita jelajahi semua lebih bebas. Den Haag tidak sebising Amsterdam dan hotelnyapun relatif lebih murah. Alasan lain, obyek wisata banyak ngumpul disini, misal Madurodam dan tempat wisata lain sangat mudah dicapai dari Den Haag.

Saya menginap di Novotel Den Haag, dan sebelumnya booking melalui http://www.booking.com/. Ternyata begitu check in langsung diminta bayar City Tax 19 %, lumayan tidak terpikirkan sebelumnya. Hotel ini benar benar terletak ditempat yang sangat strategis di daerah City Center atau downtown. Cukup jalan kaki saja anda bisa berphoto, melihat lihat pemandangan gedung gedung tua yang cantik dan bersejarah dan juga masuk ke museum atau obyek wisata lainnya. Dibawah ini adalah beberapa contoh gedung yang bisa kita capai dengan jalan kaki beberapa puluh atau ratus langkah dari hotel.

Holvijver
Ini adalah kolam kecil yang dikelilingi oleh jalan Korte Vijverberg disebelah timur, gedung parlemen Binnenhof dan museum Mauritshuis disebelah selatan, Buitenhof disebelah Barat dan jalan Lange Vijverberg disebelah utara. Menurut saya sih kubangan air tetapi orang Belanda menyebutnya dengan ‘Pond’.

Binnenhof
Ini adalah komplek gedung parlemen tua dan telah dipakai sejak 1446 dan sangat terkenal di tanah air karena proses kemerdekaan bangsa Indonesia dibicarakan digedung ini dalam Konferensi Meja Bundar. Letaknya persis didepan hotel Novotel Den Haag, tinggal nyeberang jalan sudah bisa langsung bergabung dengan turis lain yang menggunakan bus.

Museum Mauritshuis
Ini adalah Art Museum yang artinya Rumahnya Maurice, karena dulunya memang milik John Maurice Of Nassau, katanya sih seorang militer dan gubernur didaerah jajahan Belanda di Brazil. Dibangun tahun 1636-1641 dan pernah terbakar tahun 1704.  Tahun 1820 baru diakuisisi pemerintah Belanda untuk dijadikan museum dan dibuka untuk umum tahun 1822. Isinya koleksi lukisan dari pelukis pelukis terkenal Belanda seperti Rembrandt, Johannes Vermeer, Jan Steen, Paulus Potter dan Frans Hals.

Hotel Des Indes
Hotel tua tempat pejuang kemerdekaan Indonesia dulu menginap saat memperjuangkan keerdekaan Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar. Hotel ini dari luar masih tampak bagus dan antik dan bentuknya tidak berubah. Sekarang dikelola oleh Le Meredien group. Didepan hotel ini terletak semcam alun alun besar dan banyak sekali lapak lapak pedagang kaki lima yang ditutupi plastik karena belum buka saat saya jalan jalan pagi ke hotel ini. Dibelakang hotel ini adalah pertokoan barang barang fashion mewah, salah satu yang terbesar gedungnya adalah The Sting.

The Sting
Ini adalah fashion boutique atau pertokoan segala macam pakaian pakaian dengan merk terkenal yang terletak dibelakang hotel Des Indes atau sekitar 300 – 500 meter dari hotel Novotel. Gedungnya terletak dipersimpangan jalan dan sangat mencolok mata karena berwarna warni seperti mosaik besar. Beberapa kali saya datang ketempat ini dengan tujuan mau membandingkan harga dengan Kuwait, tetapi selalu saja gagal karena terlalu pagi atau terlalu malam. Maklum punya waktu terbatas dan siang hari sudah dipakai keliling ke obyek wisata lain diluar Den Haag.

Melihat Restaurant Dan Toko Tutup
Nah, Den Haag ini lebih cocok kalau kita sebut kota pensiunan. Toko toko jam 10 pagi baru buka dan jam 4 – 5 sore sudah tutup. Jadi malam hari jalan jalan sudah sepi. Kita bisa beristirahat total di hotel setelah seharian keliling seluruh penjuru Belanda. Cafe, Pubs dan Restaurant memang banyak yang buka, tetapi tampaknya bukanya tidak terlalu lama juga. Saya sempat melihat Warung Parahiyangan, karena belum terlalu lapar saya tinggal putar putar kota sebentar, eh setelah kembali lagi ternyata restaurant tersebut sudah tutup.

Putar putar kota mencari restaurant yang baik dan halal sekitar jam 9 malam juga susah pada saat itu. Mungkin saya saja yang tidak tahu, tetapi katanya memang tenaga kerja di Belanda sangat mahal sehingga toko toko dibuat seefektif mungkin. Buka hanya beberapa jam saja dan setelah itu tutup kembali. Inilah akhir cerita tragis tentang turis kelaparan di Den Haag.