Jalan Damrak Amsterdam


Tujuan saya jelas, hanya ingin ke Madame Tussaud untuk melihat museum patung lilin yang terkenal. Tetapi perjalanan ke museum tersebut cukup seru untuk diceritakan. Paling tidak cerita dibawah ini bisa mengilhami masyarakat Indonesia ditanah air yang suka mengobrak abrik tempa semacam ini. Siapa tahu pula Indonesia akan memberangkatkan team kerusuhan ke Belanda untuk mengobrak abrik tempat tempat yang akan saya ceritakan dibawah ini..

Kita sudah paham bahwa dulunya Indonesia dijajah Belanda, itulah sebabnya tata kotanya sangat mirip dengan di Belanda. Maksud saya, kalau anda ke Yogyakarta, ke Bandung atau ke kota lain, selalu saja menemukan tempat prostitusi didekat stasiun kereta api. Pasar Kembang Yogya, Saritem dan daerah Kebun Jukut, Jati dll di Bandung semuanya selalu dekat dengan stasiun kereta api. Di Belanda sendiri juga sama persis, kawasan Red Lightnya hanya beberapa puluh meter dari Central Station Amsterdam.

Jalan Damrak hanya beberapa ratus meter saja panjangnya menghubungkan Central Station dan Dam Square ditengah tengah kota Amsterdam. Sangat ramai sekali dan kebanyakan turis yang cuma ingin melihat lihat kawasan Red Light sambil cengar cengir cekikikan. Benar benar nggak tahu lagi, apakah harus mengucap astaghfirullah atau alhamdullilah perjalanan saya menuju ke Madame Tussaud Museum mau tidak mau harus melewati Damrak yang selalu ramai tua, muda, laki dan perempuan.

Di Damrak ini, terdapat Sex Museum yang berisi patung, photo dan segala macam hal yang berbau pornografi. Segala macam gaya dari yang tradisional sampai yang bisa bikin sakit pinggang semua ada. Cukup bayar EUR 3 untuk masuk ke museum ini dan anda bisa tertawa cekikikan didalam, bukan tertawa karena patung patung dan photo yang dipajang tetapi karena melihat dan mendengar ulah dan celetukan para turis pengunjung museum yang berphoto ria dengan latar belakang onderdil bagian dalam pria dan wanita dengan ukuran raksasa. Saya sendiri heran, ‘barang’ yang bentuknya relatif sama bisa menyedot pengunjung demikian banyak.

Turis yang lebih serius dan ekstrim biasanya akan masuk ke gang gang sempit disekitar Damrak. Jelas tujuannya ingin melihat Live Show. Kaget juga cara menarik pengunjung, sesekali menampakkan diri di jendela – semacam etalase dengan gaya dan dandanan ‘Serba Kekurangan’, miskin sekali di udara yang sedemikian dinginnya kok sampai tidak mampu beli baju layak, cukup selembar kain segitiga ukuran 10 x 10 cm menutupi bagian bawah pusar dan dua buah kain seukuran tutup botol coca cola dengan bentuk bintang, daun atau bentuk lain dan hanya menutupi ujung bagian dadanya yang besar saja. Tertulis didepan bayarnya cuma EUR 4 saja untuk nonton Live Show.

Bagi orang Belanda tontonan semacam ini mungkin sudah biasa, tetapi bagi turis asing jadi luar biasa. Sesekali terdengar ucapan Pro dan Kontra tetapi tetap saja baik yang Pro maupun yang kontra keduanya memperlambat jalan dan sesekali melihat pemandangan yang tidak pernah dilihat dinegaranya. Orang Belanda sendiri saya yakin sudah benar benar kebal, bagaimana tidak kebal lha wong channel TV yang disiarkan banyak sekali channel pornonya, padahal kita tinggal di hotel besar sekelas bintang 4. Judul filmnya bikin jantung berdetak kencang, yaitu “Oma Sex”. Baca sendiri Sex Museum Amsterdam kalau pingin tahu lebih jauh isinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s