Kalau Mudik di Musim Dingin


Pulang Mudik…, tampaknya hal sederhana yang tidak perlu dijadikan ‘Headline News’ dalam blog Ardi’s Family. Tetapi ternyata tidak sesederhana yang kita bayangkan kalau mudiknya pas Musim Dingin Di Kuwait. Akhir Desember sampai  January 2010 yang lalu, kita serumah pulang mudik ke Jakarta, sudah tentu persiapan pulang mudik sangat matang dan canggih dan dipersiapkan benar benar jauh hari sebelum berangkat.

Karena pesawat Emirates yang akan membawa kami terbang berangkat jam 11 tengah malam tentu udara di Kuwait saat itu sedang dingin dinginnya, kalau nggak salah sudah dekat dengan 5 Deg C. Seperti penduduk Kuwait yang lain, kita berangkat ke bandara dengan jaket tebal, topi penghangat kepala dan sepatu boot tinggi. Celana panjang yang kita pakai dimasukkan dalam sepatu boot biar kaki terasa hangat selama menunggu pesawat berangkat di bandara Kuwait. Dandanan menor seperti ini sangat lumrah di Kuwait kalau sedang musim dingin.

Perjalanan 10 jam yang seharusnya melelahkan terasa sangat nyaman dan menyenangkan karena sepanjang perjalanan sudah terbayang tahu campur Pak Min didekat rumah, Rawon Menteng Pulo di pasar belakang rumah. Tetapi, begitu mendarat di Cengkareng semua bayangan tahu campur dan rawon hangat menjadi bubar berantakan. Pasalnya, begitu turun dari pesawat Emirates semua mata memandang kita. Rombongan penumpang Emirates dari Kuwait terasa seperti orang aneh yang baru turun dari planet Mars, tepatnya seperti rombongan penyanyi dangdut yang baru saja dapat tanggapan di luar negeri.
Jaket tebal dan topi penghangat kepala memang dengan cepat bisa segera dilipat dan masuk koper, tetapi sepatu boot tinggi benar benar nggak mungkin dilepas karena nggak bawa sepatu pengganti. Semua mata memandang karena hampir semua penumpang memakai sepatu boot ala rocker dangdut, dan mungkin ada juga yang mengira saya Uut Permatasari. Seorang lelaki malah ada yang mendekati saya dan saya kira minta tanda tangan saya ternyata kuli angkut yang mau membawakan koper.
Lebih celaka lagi Jakarta sedang musim hujan pada saat saya turun pesawat, jalan Jalan becek dan berair dan taxi di cengkareng terjebak kemacetan dan tidak bisa mendekat untuk menaikkan penumpang. Hanya ada dua pilihan yang bisa diambil, melepas sepatu boot menuju taxi atau Jaim (Jaga Image) tetap memakai sepatu boot meskipun harus menerjang jalan yang becek dan berair. Akhirnya terpaksa yang terakhir yang saya pilih, saya harus ikut mondar mandir menaikkan koper ke taxi dengan mengorbankan sepatu boot tersayang terendam air. Cerita perjalanan sepatu tersayang belum berakhir, taxi yang membawa saya ternyata terjebak kemacetan  karena beberapa tempat di jalan Casablanca banjir. Daripada harus berjam jam nunggu muter dalam kemacetan, akhirnya karena sudah dekat sekali dengan rumah lebih baik turun dan nyeberang jalan menuju rumah meskipun sepatu boot kesayanganku harus menyelam kembali kedalam air untuk menuju ke rumah.

Perlu 3 hari untuk mengeringkan sepatu boot tersayangku di Jakarta. Sesampai kembali di Kuwait sepatu boot kesayanganku ternyata sakit, mungkin kedinginan dan masuk angin sampai mangap mangap. Sehingga saya harus membawanya ke dokter sepatu di Fahaheel. ‘Madame, kenapa sepatu bagus seperti ini bisa kotor dan mangap seperti ini ?’. Tukang sepatu yang tanya adalah expatriate dari India, dan sebagai orang yang pernah ditatar Wawasan Nusantara tentu tidak mungkin saya njawab kebanjiran di Jakarta. Jaim (Jaga Image) harus diterapkan di luar negeri, sehingga saya cukup menjawab ‘Oh.. Made In China brother …’. Setelah itu si tukang sepatu nyerocos njelek njelekkan produk China.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s