Keamanan, Cerita Tentang Sofa Dan Kereta Belanja


Satu hal lagi yang benar benar sangat berbeda dengan di Indonesia, yaitu soal keamanan. Dari koran lokal Kuwait yang sering kita baca seperti Arab Times dan Kuwait Times, jarang sekali ada pemberitaan tentang kasus pencurian atau pencopetan ditempat umum. Kasus kasus kriminal semacam ini selalu kalah dengan berita kecelakaan mobil yang hampir memenuhi setengah halaman sendiri.
Pemilik bakala (toko kecil kebutuhan sehari hari) dengan tenang bisa meletakkan barang barangnya diluar toko pada saat tokonya tutup tanpa khawatir barang dagangannya diambil orang. Pagi hari saya sering datang ke bakala ini untuk beli koran atau roti tawar, tetapi seringkali pemiliknya belum datang alias masih tutup. Tentu saya pulang lagi tanpa bawa apa apa. Tetapi lama lama saya mengetahui juga caranya setelah melihat dan diberitahu beberapa orang yang sering belanja pada saat bakala tersebut tutup, cukup ambil koran atau roti tawarnya dan tinggalkan uang seharga koran atau roti tawar tersebut di tempat yang telah disediakan. Si pemilik bakala dengan senang hati mempersilahkan kita ninggalkan uang ditempat terbuka yang telah disediakan tanpa khawatir sedikitpun uang tersebut diambil orang yang lewat.
Rumah kita kira kira berjarak 500 meter dari Sultan Center Whole Sale Center, semacam Makro, Hypermart, Giant atau Careffour kalau di Indonesia. Setiap hari disekitar rumah saya selalu saja saya jumpai kereta belanja yang ditinggal begitu saja di jalan. Kadang jumlahnya mencapai puluhan kereta belanja. Lama lama saya tahu juga, ternyata kereta tersebut yang membawa keluar area Sultan Center adalah customer yang jalan kaki tetapi belanjaannya cukup banyak. Naik taksi terlalu dekat dan sering nolak kalau dekat sekali. Petugas Sultan Center juga percaya bener nggak ada gunanya nyolong kereta belanja, sehingga silahkan saja kalau mau didorong sampai kerumah. ‘Tinggal saja dipinggir jalan, nanti kita yang ambil kembali’ katanya mantap.

Lain cerita lagi, rumah saya berada dilingkungan Kuwaitis. Tampaknya mereka cepat sekali bosan dengan barang yang telah dibeli dan segan untuk menjual barang yang menurutnya sudah tidal layak pakai. Beberapa saat lalu, sofa (tempat duduk) yang menurut saya masih cukup empuk dan baik dibuang dan diletakkan disamping tempat sampah didepan rumah kita. Bantalnya dibungkus plastik dan diletakkan disamping kotak sampah. Berhari hari sofa dan bantalnya tersebut nggak ada yang nyentuh atau mengambil, rupanya si pemilik lupa memberitahu bahwa sofa tersebut sebenarnya dibuang bukan dijemur. Setelah si pemilik mempersilahkan ‘si Fulan’ untuk mengambil sofa tersebut, si sofa juga tetap berhari hari teronggok ditempat itu, tetapi semua orang sudah tahu bahwa sofa tersebut sudah menjadi hak ‘si Fulan’. Akhirnya ‘si Fulan’ punya waktu untuk membawa pulang sofa tersebut setelah 2 minggu dibiarkan dipinggir jalan kepanasan.

Langsung deh terbayang negeri tercinta Indonesia, kapaaan saya bisa menjemur/meletakkan barang dipinggir jalan tanpa ada yang ngambil, kapan saya bisa mendorong barang belanjaan kerumah tanpa dicurigai satpam dan kapan Indonesia bisa aman bebas maling, copet dan tukang palak ??.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s