Monthly Archives: September 2009

Dubai Selayang Pandang

Sering salah kaprah menganggap Dubai adalah sebuah kota. Salah besar, Dubai adalah salah satu dari 7 (tujuh) wilayah ke-emiran  Uni Emirates Arab (Abu Dhabi, Ajman, Fujairah, Sharjah, Dubai, Ras Al Khaimah dan Umm Al Quwain). Wilayah ini tumbuh dengan sangat cepat sekali dan dalam hitungan beberapa tahun saja sudah berubah dari gurun gersang menjadi kota megapolitan yang penuh dengan gedung tinggi perkantoran, mall, hotel dan apartment. Saking cepatnya pembangunan di kota ini maka Dubai adalah satu satunya pembangunan tercepat yang bisa mengalahkan pembangunan candi Prambanan (konon candi ini dibangun dalam semalam saja). Letak kota ini hanya 1 1/4 jam saja perjalanan dari Kuwait dengan pesawat terbang atau setara Jakarta – Yogyakarta. Sama dengan Kuwait, negara ini terletak di pinggiran teluk Arab (Arabian Gulf Sea).
Sebenarnya Dubai sudah dipimpin oleh Al Maktoum dynasty sejak 1833, tetapi benar benar tumbuh dari sebuah kota kecil perdagangan sejak ditemukan minyak bumi pada tahun 1960. Dan mulai tahun 1970 Sheikh Rashid bin Saeed Al-Maktoum  memimpin pembangunan Dubai menuju Modern Uni Arab Emirates (1958-1990). Setelah itu kepemimpinan dilanjutkan oleh Sheikh Maktoum III bin Rashid Al Maktoum (1990-2006) dan Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum (2006 – Sekarang). Dan Dubai benar benar dibuka selebar lebarnya untuk segalanya (Free Trade Zone). Hasilnya sungguh luar biasa, saat ini pendapatan dari minyak bumi hanya 6 % saja dari pendapatan negara, pendapatan yang lain didapat dari Tourism, Real Estate & Construction (22.6 %) dan Financial Services. Sampai saat inipun pembangunan kota masih berlangsung terus, dan yang saya sangat kagum adalah kebersihannya. Meskipun banyak pembangunan gedung dan pekerjaan konstruksi, kebersihan Dubai tetap apik dan resik.
Nginap Di Apartment Topaz Living Court
Karena tahun 2009 ini Dubai terkena imbas Resesi Global (Krisis Ekonomi) maka hampir semua hotel dan apartment dipangkas 50 % untuk tetap mempertahankan jumlah pengunjung ke Dubai. Tiga bulan lalu harga sewa hotel atau apartment per malam di Dubai sangat luar biasa mahal dan membuat kita tercengang kagum. Tapi saat ini sudah relatif sama dengan harga sewa di kota lain seperti di Jakarta, Kuwait atau negara lain. Kita melakukan booking hotel secara online melalui Booking.com. Sengaja kita pilih Topaz Living Court karena berdasarkan info dari surfing mbah google katanya hotel ini sangat strategis sekali dalam arti dekat dengan Emirates Mall, mall terbesar kedua di Dubai. Ternyata benar sekali, cukup nyeberang jalan saja sudah nyampai di pelataran parkir Emirates Mall.
Dibanding apartment lain disekitarnya seperti The Dunes, Grand Tulip, Rose Garden dan lain lain, Topaz Living Court adalah yang paling dekat dan mudah aksesnya ke pintu masuk Emirates Mall. Apartment yang lain dibatasi oleh jalan raya besar Sheikh Zayed Road atau cukup jauh muternya menuju gate masuk. Harga sewa Topaz Living Court 2 Bed Room per malam adalah AED 499. Sangat bagus mengingat bahwa apartment ini masih baru. Fasilitas dapur juga sangat lengkap, mulai dari pecah belah, mesin cuci, kompor listrik, microwave tersedia. Ruang keluarga juga cukup luas dan kamar mandi dengan bath tub ada dua buah masing masing didalam kamar plus satu kamar mandi kecil diluar kamar tidur.

The Big Bus Tour

Salah satu alasan lagi kenapa kita memilih apartment dekat dengan Emirates Mall adalah karena di Mall ini tedapat tempat penjualan tiket Dubai Big Bus. Dengan menggunakan Big Bus, paling tidak kita sudah bisa mengelilingi seluruh kota Dubai dan hapal tempat tempat bagus dimana kita harus berhenti dan turun keesokan harinya. Harga tiket Big Bus untuk Family (2 Dewasa dan 2 Anak) selama 2 hari adalah AED 700. Plus ada tambahan AED 200 kalau mau ikut Night Tour. Ticket 2 hari seharga AED 700 tersebut sudah lengkap untuk Red Route dan Blue Route dan gratis Dhow Tour (naik perahu tradisional Arab) dan voucher discount di beberapa toko dan restaurant di mall tertentu.
Selama perjalanan menggunakan Dubai Big Bus ini, kita bisa mendengarkan penjelasan mengenai tempat tempat menarik yang kita lewati melalui rekaman kaset yang bisa kita dengar menggunakan earphone yang disediakan gratis dalam bungkus plastik kecil. Air minum mineral disediakan gratis dan kita bisa mengambil setiap saat. Tempat pemberhentian kebanyakan di Mall Mall besar dan mahal seperti Emirates Mall, Dubai Mall, Festival City Mall, Deira City Center Mall, Wafi Mall, Mercato Mall dan lain lain.
Yang kita dengarkan melalui earphone bisa membuat kita tersenyum senyum. Bagaimana tidak tersenyum, di Dubai sangat miskin sekali tempat historic dan tidak ada sama sekali bangunan bersejarah, semuanya gedung baru dan modern dan nadanya sangat menonjolkan konsumerism (konsumtif). Misal : ‘Disebelah kiri kita adalah Planet Hollywood yang pertama dibuka di Dubai pada tahun …..’, ‘Tampak gedung besar didepan kita adalah Dubai Mall, tempat anda bisa belanja produk produk dengan brand internasional seperti Cartier, Louis Vuitton …..’, setelah itu ada pesan sponsor ‘Kalau anda menginginkan buka puasa lezat dengan cita rasa Arab yang khas, anda bisa mencoba Pars Iranian Restaurant di lantai 2 ….bla bla bla’.

Menyebalkan memang ikut tour konsumtif dari mall ke mall dan penuh iklan.

Baca Juga :

Libur Lagi, Uenak Tenan …

Soal Harpitnas (Hari Kejepit Nasional), Indonesia nggak ada apa apanya bila dibanding dengan Kuwait. Di Indonesia paling banter sehari saja kejepit baru dianggap Harpitnas. Kalau di Kuwait, 2 atau 3 hari kerja kemungkinan besar dijadikan Hari Kejepit Nasional sehingga total hari libur termasuk liburan akhir pekan bisa mencapai 9 hari. Contohnya lebaran tahun 2009 ini, total 9 hari dijadikan hari libur nasional. Apa nggak sedap ……
Ada atau tidak harpitnas keputusannya ditentukan oleh pemerintah Kuwait melalui sidang yang cukup alot, tetapi bagaimanapun juga sampai saat ini belum pernah saya mendengar usulan harpitnas ditolak. Celakanya lagi, baru baru ini kabinet memutuskan untuk mengundur tanggal masuk sekolah dengan alasan ada wabah swine flu. Analisa saya, karena masuk sekolah awal September 09 dan setelah itu ada liburan lebaran ditengah bulan maka muncullah inisiatif agar libur dibablaskan saja sampai setelah lebaran daripada masuk 2 minggu lalu libur lagi lebaran.

Ide cemerlang memang meskipun alasan dibuat buat tapi bisa dibayangkan, liburan musim panas bulan Juli sampai September saja sudah 2 1/2 bulan ditambah penundaan tanggal masuk sekitar sebulan lagi, apa bisa pinter anak anak kita kalau sekolah kebanyakan libur seperti di Kuwait. Untungnya, tidak semua sekolah mengikuti petunjuk tersebut, Cambridge School dan American International School (AIS) tetap masuk sekolah sesuai jadwal (Awal September 09). Indian School Ahmadi hanya mengimplementasikan untuk Kindergarten dan Grade 1 dan 2 saja.

Lebih menggembirakan lagi adalah staff dan karyawan Perusahaan Minyak Cap Manuk. Dalam setahun jatah cuti sebenarnya 42 hari (calender days), tetapi mulai tahun 2009 ini diubah menjadi 48 hari. Alasannya, hari jum’at adalah hari libur resmi sehingga tidak diperhitungkan dalam penghitungan hari cuti. Apa nggak enak ….
Kalau kita lihat kalender 2009, berarti nanti pada saat Idul Adha November depan akan ada hari kejepit nasional lagi artinya dalam setahun akan ada hari libut kejepit lebih dari 2 kali. Kenyang deh …..
Yang bikin pusing adalah pengumuman harpitnas selalu disampaikan 2 atau 3 hari sebelum  hari libur. Artinya, kita akan kesulitan untuk booking pesawat, biasanya harga tiket pesawat ke segala jurusan kalau bookingnya mendadak akan mahal sekali. Disamping itu ngurus visa ke negara manapun tidak bisa mendadak dan perlu waktu. Akibatnya, kita hanya bisa ke negara GCC terdekat saja karena kalau kita resident Kuwait maka kita tidak perlu ngurus visa kalau masuk ke negara GCC. Visa cukup diurus di negara tujuan (On Arrival Visa).

Cara Ngurus Visa Dubai (UAE) :

  • Begitu tiba di airport Dubai, segera menuju ke counter pelayanan visa.
  • Isi formulir yang disediakan petugas custom
  • Beli stiker Visa di Bank yang ada di airport (National Bank/Emirates Bank) seharga KD 15.25
  • Bawa passport, formulir visa yang telah anda isi dan stiker ke petugas kontrol (custom)

Baca Juga :

TKW Oh TKW …..

Jumlah warga Indonesia di Kuwait sekitar 50.000 sampai 60.000 saja. Yang berpendidikan tinggi tidak lebih dari 10 % saja, yang lainnya kebanyakan adalah saudari kita yang bekerja di rumah tangga. Banyak yang telah sukses dan telah berpuluh puluh tahun tinggal di Kuwait tetapi ada juga yang belum berhasil dan saat ini menghuni tempat penampungan sementara di KBRI Kuwait. Dan ada juga yang berkeliaran umpet umpetan dengan polisi. Yang terakhir ini harus umpet umpetan karena tidak memiliki identitas apapun seperti civil id bahkan passportpun tidak ada tetapi ybs tidak mau ke penampungan di KBRI. Setiap hari ngobyek kerja serabutan dan cari duit sebisanya.
Jumlah TKW bermasalah yang ditampung di KBRI Kuwait ada sekitar 500 orang. Angka 500 orang tersebut adalah angka rata rata setiap harinya, dan mereka semua perlu makan, minum dan memenuhi kebutuhan hidupnya selama berada di penampungan. Yang keliaran tanpa identitas tidak diketahui berapa jumlahnya. Dalam bulan Ramadhan ini dan ditempat penampungan yang sempit dan berdesak desakan tentu sangat jauh berbeda dengan suasana lebaran di kampung halaman.

Semua serba kekurangan, bayangkan untuk memenuhi kebutuhan sehari hari saja sangatlah memberatkan. Mengandalkan dana dari pemerintah (KBRI) saja jelas sangat kurang mengingat jumlah TKW di penampungan tersebut setiap hari bertambah terus. Meskipun banyak Kuwaitis yang menjadi donatur, tetapi  tetap saja menyedihkan. Kalau bulan ramadhan boleh dikatakan donator membludak, tetapi diluar bulan ramadhan, siapa yang mau memperhatikan nasib mereka ?
Ada banyak alasan kenapa para TKW tersebut lari ke KBRI (10 sampai 15 orang per hari), diantaranya yang saya ketahui adalah :
  1. Belum pernah bekerja, baru saja ditempatkan sudah pingin pulang ke Indonesia
  2. Tiba tiba ingin pulang karena rindu keluarga/anak di Indonesia
  3. Tidak cocok dengan keluarga dimana dia ditempatkan
  4. Terlibat affair dengan anggota keluarga dimana dia ditempatkan dan diusir.
  5. Di iming imingi ‘seseorang’ agar melarikan diri karena ditempat lain bisa dapat gaji lebih tinggi. Lari ke KBRI setelah dapat masalah.
  6. Aslinya dari Indonesia sudah ‘nakal’ begitu datang ke Kuwait dan ditempatkan agen langsung melarikan diri untuk ‘ngondel’ (istilah disini sebagai pengganti kata ‘pelacuran’) dan akan ke KBRI setelah lelah atau ditangkap polisi.
  7. Dianiaya (Ringan – Berat). Yang ini sih kasusnya sangat sedikit dibanding yang lain tetapi paling hot kalau diekspose media.  
Mereka sama sekali tidak tahu bahwa mereka datang ke Kuwait terikat dalam kontrak kerja (2 tahun). Sehingga apabila mereka melarikan diri maka berarti telah mengingkari kontrak kerja / melanggar hukum. Untuk hal ini harus diselesaikan masalah hukumnya dulu (clearance) sebelum bisa pulang ke Indonesia. Pada dasarnya boleh saja melarikan diri ke KBRI kalau mendapatkan masalah, kalau tidak betah dengan majikan lama bisa minta pindah ke majikan lain melalui agen resmi sehingga tidak melanggar kontrak kerja. Kalau tidak bersedia pindah ke majikan lain berarti TKW tersebut telah melanggar perjanjian kontrak dan akan menjadi beban para ahli Hukum/Pengacara KBRI.
Nomor 5 dan nomor 6 adalah yang paling runyam, yang bikin runyam adalah oknum ‘orang Indonesia’ sendiri. Awalnya niatnya menolong mencarikan pendapatan yang lebih tinggi dengan cara gampang dan illegal (membajak) tetapi sebenarnya mereka calo juga yang mengambil keuntungan dari transaksi manusia ini. Oknum ini seolah olah dewa penyelamat dan malah ada yang memiliki slogan atau jargon jargon perlindungan TKW yang hebat, tetapi sebenarnya adalah ‘pebisnis’ juga yang tidak akan mau bertindak kalau tidak menguntungkan. Jangan kaget melihat kartu nama oknum seperti ini, penuh dengan slogan dan jargon perlindungan TKW dan istilah manis seperti ‘Man Power ….’, ‘Human …….’ dan lain lain. Menampung ‘pelarian’ saja adalah pelanggaran hukum apalagi menyalurkan ‘pelarian’ yang masih terikat kontrak dengan agen resmi dan majikan.
Mereka tidak tahu bahwa culture Indonesia berbeda dengan Arab. Apa yang boleh dilakukan dan apa yang tabu dilakukan tidak diketahui dengan jelas. Sebagai contoh wanita sebaiknya tidak keluyuran sendirian, tetapi bagi orang Indonesia larangan ini dianggap mengada ada. ‘Masak nggak boleh kemana mana, kayak dipenjara saja …’, begitu keluhan yang sering kita dengar.
Yang sangat menyedihkan, banyak oknum di Indonesia yang ber’bisnis’ dan menggampangkan segala masalah. Misal menyulap umur anak menjadi umur layak kerja. Saya wawancara sendiri beberapa orang TKW di KBRI yang dari postur tubuhnya jelas sekali kelihatan masih kanak kanak. Setelah kita desak untuk mengakui umur sebenarnya, ternyata benar mereka masih bau kencur, dibawah 16 tahun. Pantesan saja minta pulang karena kangen dengan emaknya di Indonesia.
 Jadi, benar sekali bahwa TKW adalah sumber devisa besar, tempat banyak orang mencari uang halal maupun tidak halal tanpa harus serius mempedulikan nasib mereka di perantauan.
Note :
Gambar gambar diatas adalah suasana persiapan dan Pelaksanaan Sumbangan Untuk TKW Di Penampungan Sementara KBRI dari rekan rekan Indonesia KOC yang dilaksanakan tanggal 12 September 2009 di KBRI. Terima kasih atas simpati dan dukungan moril dan materiil atas terlaksananya acara bakti sosial untuk saudari saudari TKW kita.