Mudik Ke Kampung Dulu Ah ……


Musim panas sudah mendekati puncaknya bulan July 09 ini, temperatur udara juga sudah mencapai 46 Derajat Celcius. Disamping itu badai gurun sudah semakin sering terjadi menyebabkan debu beterbangan kemana mana. Kuwait yang biasanya indah sudah tidak terlihat lagi keindahannya, debu dimana mana dan pandangan mata hanya beberapa ratus meter saja. Tidak banyak pilihan lagi kalau sudah begini, harus secepatnya mudik ke Indonesia atau tetap bertahan di Kuwait dengan kemungkinan jadi ‘telor setengah mateng’.

Kalau hujan debu sudah mulai sering seperti sekarang ini, maka aktifitas ngepel bisa tiap dua jam sekali. Debu sedemikian halusnya hingga bisa nyelusup dari celah celah jendela, pintu atau lubang blower. Saking kuatnya angin yang bertiup diluar rumah maka suara angin tidak lagi lembut mendayu dayu seperti biasanya, tetapi sudah gedubrak gedubruk karena begitu kuatnya menggoyang atap garasi dan menerbangkan seng atau kaleng kaleng yang terdapat di bangunan belum jadi didepan rumah kami. Untuk proteksi diri, masker sudah mulai saya bawa kemana mana. Malu kalau ngaku terus terang masker tersebut untuk menghindari debu karena kebanyakan orang lokal sini tidak pernah memakai masker meskipun debunya tebal bukan main. Biar agak canggih dan ngikuti trend masa kini, kalau ada yang heran melihat masker saya, maka saya tinggal jawab ‘Swine Flu’.

Arus mudik bukan lewat udara saja, yang lewat darat juga banyaknya bukan main terutama para expatriate dari negara tetangga. Berita di harian Arab Times tanggal  5 July 09 yang lalu menyebutkan jumlah pelintas batas di Al Salmi Border sudah mencapai 10.500 pada hari Kamis dan meningkat kembali menjadi 13.147 pada hari Jumat. Jumlah yang tidak bisa dianggap kecil untuk negeri sekecil Kuwait. Nah kita yang berasal dari Indonesia sudah tentu tidak bisa jalan darat, karena perjalanan sangat jauh dan hanya beberapa kali saja dalam setahun bisa pulang maka barang barang yang dibawa pulang juga banyaknya luar biasa. Mau tahu barang bawaan kita ?

  • Air Zam Zam Satu Jerigen untuk bukti bahwa kita sudah nyampai ke Makkah
  • Kurma setengah koper untuk bukti bahwa kita memang expatriate middle east
  • Parfum Arab seharga 1 KD per botol kecil untuk nunjukin ‘ini lho bau Kaabah’ dan yang ini bau Emir.
  • Dan berbagai macam mainan onta untuk keponakan dan tetangga.

Tas dan koper sengaja bawa yang besar dan nanti kalau kembali ke Kuwait akan kita isi penuh segala macam barang yang tidak ada di Kuwait, seperti sambel pecel, bumbu rawon (kluwek) dan tentu saja buah nasional Indonesia Pete dan Jengkol.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s