Monthly Archives: March 2009

Alexandria – Hari Keempat di Egypt

Pagi hari sekitar jam 6 pagi langsung kita menuju ke Alexandria ditemani oleh dua orang guide mahasiswa Al Azhar. Sengaja berangkat jam 6 pagi karena perjalanan dari Cairo ke Alexandria memakan waktu hampir 3 jam sendiri. Sarapan pagi kita bungkus dan kita bawa lengkap dengan piring dan gelas segala layaknya mau pulang mudik di Indonesia. Jalan menuju Alexandria lumayan besar dan lurus dan pada saat kita berangkat cuaca sangat berkabut karena sedang musim dingin. Jarak pandang sangat pendek sekali sehingga Avanza merah yang kita sewa US$ 35 per hari harus berjalan extra hati hati.
Ditengah perjalanan tepatnya di tempat istirahat seperti halnya tempat istirahat jalan Tol di Indonesia, kita berhenti untuk sarapan pagi. Karena ada kursi dan meja ngganggur, maka semua bekal sarapan pagi kita buka semua. Kita nggak tahu atau pura pura nggak tahu bahwa meja dan kursi tersebut adalah milik restoran karena pada saat itu restorannya juga sepi nggak ada petugas dan juga pengunjung. Sarapan pagi ini rasanya nikmat sekali meskipun hanya berupa oseng oseng kacang panjang, sambal, kerupuk dan sepotong daging empal.
Benar saja baru setengah makan, rumah makannya buka dan muncullah pegawainya dari dalam dang langsung saja kita diusir untuk segera meninggalkan meja dan kursi. Pura pura nggak ngerti bahasa Arab kita nyerocos dan ngedumel pakai bahasa Indonesia, tetapi proses pindah tetap jalan terus. Dan akhirnya kita makan sambil berdiri di mobil. Kap mesin kita jadikan meja makan dan panasnya mesin cukup untuk menghangatkan makanan yang kita bawa. Inilah pengalaman internasional diusir karena makan sembarangan dan nggak pakai kulonuwun nempati meja dan kursi rumah makan.
Kota Alexandria ini jauh lebih bagus dibanding Cairo apalagi Luxor. Pantainya sangat bersih dan orangnya lebih sopan dan beradab. Tampaknya negara Mesir ini semakin keutara penduduknya semakin sopan, terpelajar dan beradab. Mungkin karena semakin dekat dengan Eropa, dan pantas saja kota ini dijadikan cerita dalam film Ayat Ayat Cinta yang sukses berat di tanah air. Gambar disamping adalah pintu gerbang Alexandria yang berkali kali di’shoot’ dalam filem Ayat Ayat Cinta.

Obyek menarik yang bisa dikunjungi di Alexandria diantaranya adalah :

  • Istana Raja Farouk
  • Castle Of Qatbay
  • Catacomb (Kom El Shouqafa)
  • Pompeii’s Pillar
  • Roman Amphiteater
  • Alexandria Library
Istana Raja Farouk
Istana ini terletak di pinggir pantai dan saat ini hanya digunakan untuk menyambut tamu tamu negara saja. Taman Montaza yang mengelilingi istana ini sangat luas dan indah. Sayang kita nggak bisa masuk kedalam istana untuk melihat peninggalan raja terakhir Mesir sebelum berubah menjadi Republik yang katanya masih tersimpan rapih didalam istananya tersebut. Bagusnya datang ke taman ini siang hari setelah makan siang karena pasti bisa tertidur dibawah pohon yang rindang apalagi kalau bawa tikar. Angin dari laut bisa bikin mata ngantuk. Kalau di Indonesia mungkin setara dengan istana Bogor, cuma disini nggak ada yang jualan peuyeum atau pedagang kaki lima yang berkeliaran disekitar istana.

Raja Farouk I digulingkan pada tanggal 23 Juli 1952 oleh tentara yang dipimpin Gemal Abdel Nasser dan setelah itu kabur ke Monaco sampai meninggal tahun 1965. Raja Farouk I terkenal suka hidup mewah dan pada saat akhir kekuasaannya sangat dibenci oleh rakyatnya yang kebanyakan jauh dibawah garis kemiskinan apalagi setelah kekalahan mesir dari Israel pada tahun 1948.

Castel Of Qaitbay

Didalam benteng Qaitbay ini terdapat bekas masjid, tampaknya disamping digunakan sebagai bangunan pertahanan juga digunakan sebagai tempat sholat juga. Benteng ini menghadap ke laut dan dalam sejarahnya penuh dengan pertumpahan darah tapi rasanya kok nggak angker sama sekali seperti bangunan tua di Indonesia. Pernah terkena gempa bumi pada abad 11 dan pernah juga dibombardir tentara Inggris pada tahun 1883 dan setelah itu sempat terlupakan berpuluh puluh tahun karena hancur lebur. Renovasi kecil baru dimulai setelah tahun 1904 dan benar benar dironovasi total mulai tahun 1984. Nama Qaitbay diambil dari nama penemunya yaitu Sultan Al-Ashraf Abou Anasr Saif El-Din Qaitbay El-Jerkasy Al-Zahiry (1468-1496).

Perpustakaan Alexandria

Ini perpustakaan paling besar yang pernah saya temui selama ini, koleksi bukunya susah untuk membayangkan banyaknya. Buku kuno berisi catatan gaji karyawan, dan ada juga buku kuno tentang nama nama penghuni penjara dan hukumannya. Mesin cetak kuno juga dimasukkan dalam perpustakaan ini untuk mengingatkan bahwa buku dan ilmu pengetahuan sudah ada di mesir sejak jaman dahulu kala. Jam matahari terletak dipelataran perpustakaan termasuk observatorium.
Bangunan gedung sangat modern dilengkapi dengan komputer disana sini untuk memudahkan mencari buku. Ruang baca juga nyaman dan sangat banyak dan luas, kira kira luas dan besar bangunan setara dengan balai sidang senayan. Pada saat kita berkunjung, tidak banyak yang terlihat membaca buku di ruang baca mungkin karena semua yang datang adalah turis yang cuma longak longok melihat buku kuno layaknya datang ke sebuah museum.

Baca Juga :
Advertisements

Cairo – Hari Ketiga Di Egypt

Pada hari ketiga ini, kita berangkat dari Luxor menuju ke Cairo dengan menggunakan Egypt Air. Tidak ada penerbangan lain selain Egypt Air dan tampaknya Luxor – Cairo termasuk jalur gemuk karena setiap jam ada penerbangan. Perjalanan hanya satu jam seperempat saja. Sebenarnya banyak alternatif transportasi dari Luxor ke Cairo seperti Kereta Api dan Cruise (kapal turis menyusuri sungai Nil), tetapi kita mau yang cepat saja karena waktu yang terbatas. Rasanya pingin sekali segera melihat kota Cairo setelah puas 2 hari melihat Luxor yang penuh dengan keledai.
Di bandara Cairo kita sudah ditunggu dua orang mahasiswa Al Azhar yang sengaja menjemput kita untuk dibawa ke penginapan kita di Wisma Nusantara. Ternyata ada juga mobil Avanza di Mesir, kita dijemput pakai mobil Avanza. Acara pertama adalah City Tour keliling Cairo, misal photo photoan di stadion tempat Anwar Sadat ditembak mati oleh tentaranya sendiri pada saat defile peringatan hari kemenagan perang dengan Israel dan photo bersama tentara tradisional Mesir yang menjaga kuburan Anwar Sadat didepan stadion.
Check in di Wisma Nusantara cukup mengejutkan juga karena ternyata hotel yang dikelola mahasiswa Al Azhar ini cukup bersih dan memiliki fasilitas yang lengkap termasuk TV kabel dan jaringan internet 24 jam. Makan siang juga sudah disiapkan dan menunya tidak asing lagi, sayur lodeh, kerupuk udang dan lauk tempe goreng yang terasa luar biasa sedapnya setelah lama tidak pernah merasakan karena tinggal di Kuwait.

Banyak yang bisa kita kunjungi di Cairo, diantaranya adalah :

  • Pyramids Giza & Sphinx.
  • Pyramid Sakkara.
  • Open Air Museum Memphis .
  • Pyramids Dashur.
  • Pyramid Meidum.
  • Egyptian Museum
  • Castle of Saladin
  • Pasar “Khan El-Khalili”
  • Gereja Gantung 
  • Gereja Santa Barbara
  • Gereja St. Sergious
  • Ben Ezra Synagogue.
  • Sultan Hassan Mosque.
  • Ahmed Ben Tulun Mosque.
Setelah makan siang, ternyata waktu yang tersisa hanya bisa digunakan untuk mengunjungi Museum Nasional Mesir dan Pasar Khan El Khalili.
Egyptian Museum
Musium Nasional Mesir ini sangat besar dan luas sekali. Seluruh isi kuburan raja raja mesir di Luxor dipindahkan ke museum ini, isinya mulai dari peti mati, atribut atribut raja dan harta yang ditemukan didalam kubur dan juga mayat raja itu sendiri yang terawetkan dengan sempurna. Ternyata mummy yang kita lihat di museum ini tidak seseram seperti dalam film film horror. Mummy di musium ini benar benar seperti kayu berwarna hitam legam dan kering. Kain kafan yang menutupi juga wajar wajar saja seperti layaknya kain kafan tidak seperti kertas tissue yang dibalutkan ke sekujur tubuh seperti di film horror. Sayang tidak boleh mengambil photo didalam museum.
Pasar Khan El Kalili
Ini baru pasar tradisional yang benar benar layak dikunjungi turis. Disamping ukurannya yang besar sekali, isinya berbagai macam kerajinan tradisional mesir dan juga negara sekitarnya. Betul betul surga bagi turis karena ternyata di pasar ini harganya juga tidak begitu mahal. Jauh sangat berbeda dengan ‘orang orang Luxor’, di pasar ini penjualnya tidak memasang harga yang terlalu tinggi dan tawar menawarpun masih bisa kita dapat dengan harga yang wajar. Bandingkan dengan ‘orang orang Luxor’, barang seharga EGP 50 bisa ditawarkan dengan harga EGP 500. Lalu berapa kitaharus menawar ?
Beruntung punya guide mahasiswa mahasiswa Al Azhar, tertarik barang apapun selalu dibantu untuk menawar dalam bahasa Arab. Akibatnya dibanding dengan barang yang telah kita beli di Luxor, barang barang disini jadi sangat murah sekali, dan tidak bakalan tertipu. Semua barang yang kita beli di pasar ini berkualitas bagus dan nggak rugi deh punya guide mahasiswa dan juga pengurus penginapan Wisma Nusantara Mesir.

Baca Juga :