Istanbul, Hari Keempat


Yang paling berkesan ketika mengunjungi Istanbul adalah pemandangan Masjid yang luar biasa banyaknya dan nampak indah dari kejauhan karena letaknya yang diatas bukit atau ditepi laut. Umumnya adalah masjid masjid tua peninggalan jaman Ottoman (Uthmaniyyah). Bentuknya relatif sama dan warnanya kebanyakan abu abu atau warna semen. Memasuki jam sholat, terdengar suara adzan bersahut sahutan dan merdu sekali dari kejauhan. Dan tidak seperti di Indonesia, Kuwait atau bahkan Arab Saudi, penduduk yang datang sholat menuju Masjid cara berpakaiannya sangat ‘western’ sekali, semua memakai jas dan banyak yang membawa Al Qur’an kecil dari rumah. Saya langsung teringat kampung halaman dimana sering kita lihat mereka yang beragama kristen berangkat ke gereja dengan membawa bibel dari rumah di Indonesia.
Lain dengan di Indonesia yang tegas tegas melarang non muslim untuk memasuki Masjid. Di Turki, masjid bebas dimasuki oleh yang non muslim karena dijadikan obyek wisata. Hanya pada saat jam sholat saja masjid ditutup sementara untuk sholat, setelah itu buka kembali. Semua tour guide dengan bebas berdakwah memperkenalkan Islam yang sebenarnya kepada non Muslim dan didalam masjid ada ‘pertunjukan’ yang bisa disaksikan para turis yaitu membaca Al Qur’an.

Pertanyaan pertanyaan mengenai terorisme dan radikalisme yang sudah terlanjur melekat pada para muslim dengan bijak dijelaskan oleh guide dan ustadz masjid dengan sejuk dan bagusnya. Demikian juga dengan aliran Sunni, Shiah dan yang lainnya dijelaskan detil dengan cerdas dan mudah dimengerti oleh yang non muslim. Kisah kisah yang ada pada bibel juga dijelaskan hubungannya dengan apa yang tertulis dalam Al Quran. Sangat luar biasa, dan hasilnya … Islam berkembang pesat di Eropa melalui Turkiye terutama di Perancis (tahun depan saya ceritakan khusus, InsyaAllah saya akan ke Perancis untuk hal ini). Bagaimana dengan Indonesia ? Yah, baru sebatas mempermasalahkan perbedaan. Kalau lihat gambar disamping pasti langsung pasang kuda-kuda, sajadah kok diinjek injek bule.

Rustem Pasha Camii (Rustem Pasha Mosque)
Masjid Uthmaniyyah (Ottoman) ini dibuat pada tahun 1561-1563 oleh Arsitek Mimar Sinan. Letaknya dekat sekali atau malah didalam Pasar Strawmat Weavers di Eminönü atau terletak di Hasircilar Carsisi, jalan besar yang hanya beberapa langkah saja sudah sampai di laut Marmara.
Seluruh dinding penuh dengan keramik warna biru yang indah, sebagian masih asli dan nampak kuno sedangkan sebagian lagi sudah merupakan hasil renovasi dan diganti persis seperti aslinya. Dekorasi kubahnya sangat bagus sekali.
Blue Mosque (Sultan Ahmet Camii)
Ini masjid utama Istanbul yang sangat terkenal. Warnanya abu abu seperti semen dan tidak terkesan ada warna birunya. Bagian dalam juga dipenuhi karpet warna merah tebal dan bagus. Lalu yang biru apanya ? ternyata keramik dinding bagian dalamnya yang berwarna biru, tidak biru biru amat sih, kalah sama warna merah karpet sajadahnya. Nama masjid ini sebenarnya adalah Masjid Sultan Ahmed, terletak di kawasan Sultan Ahmet, kawasan  tertua Istanbul.
Masjid ini dibangun tahun 1609-1616 atas perintah Sultan Ahmet I. Makamnya ada di halaman Masjid. Letaknya berhadapan dengan museum yang dulunya bekas gereja kristen dan pernah berubah jadi masjid sebelum dipermanenkan jadi museum, yaitu Hagia Sophia (Aya Sophia/Sancta Sophia). Daerah ini sebelum 1453 merupakan pusat Konstantinopel, ibukota Byzantin. Arsitek Masjid ini bernama Sedefhar Mehmet Aga. Non muslim juga tidak diharamkan memasuki masjid ini.
Masjid Ortakoy, Masjid Yeni Valide Dan lain lain

Masjid masjid lain yang bersejarah sangat banyak sekali, dan kita cukup melihat dari kejauhan saja. Bentuk arsitekturnya dan penempatan bangunannya yang diatas bukit atau di teluk pinggir laut secara tidak langsung membuat mata langsung melihat ke bangunan masjid yang lain dibandingkan dengan sekitarnya. Seperti sedang berkelana di cerita komik HC Andersen, karena menara menara masjid sangat mirip dengan gambar pada komik tersebut.

Hagia Sophia (Aya Sophia/Sancta Sophia)
Saat ini bangunan ini dijadikan museum dan hanya dipisahkan sekitar 500 meter saja didepan Blue Mosque. Sebuah keputusan yang tepat dari Mustafa Kemal Ataturk pada tahun 1937 daripada dilanda kerusuhan yang berbahu agama berkepanjangan. Pada awalnya bangunan ini adalah sebuah gereja katedral (basilika) yang didirikan oleh Constantine. Tetapi sejak Constantinopel ditaklukkan oleh Sultan Mehmet II pada tahun 1453, gereja ini difungsikan sebagai Masjid Agung dengan nama Aya Sophia. Gambar gambar yang mengkultuskan individu langsung segera dihapus karena tidak diperbolehkan dalam Islam dan altar segera diubah menjadi Mihrab yang langsung menghadap Kaabah tempat Imam Masjid memimpin Sholat.

Renovasi tidak terbatas pada bagian dalam Masjid saja, bagian luar yang berkesan gereja diubah total termasuk tanda salib dipuncak kubah diganti dengan bulan sabit. Pada masa Mehmet II (1444-1446 dan 1451-1481), dibangun menara dibagian selatan bangunan dan pada masa Selim II (1566-1574) dibangun 2 menara lagi. Tempat wudhu yang terlihat pada gambar dibawah juga masih antik, asli sekaligus lestari.
Pada tahun 1937, fungsi bangunan diubah menjadi Museum oleh bapak bangsa Turkiye Mustafa Kemal Ataturk. Gambar gambar bernuansa gereja yang indah yang sebelumnya dicat atau ditutupi mulai diperlihatkan kembali tanpa mengganggu atribut Islam yang sudah ada dan tidak kalah indahnya. Inilah satu satunya bangunan yang unik pernah saya lihat dimana dalam satu tempat ada atribut dua agama Kristen dan Islam berdampingan secara serasi. Diatas Mighrab tempat Imam terpampang gambar Yesus dan ada kaligrafi Islam bertuliskan Allah, Muhammad dan sahabat sahabatnya.
Hippodrome
Yang ini nggak jelas bangunan apa, letaknya juga masih dikawasan Sultan Ahmet, bentuknya hanya berupa tugu dan mirip sekali dengan tugu tugu untuk lempar Jumrah di Saudi Arabia, ada yang besar dan kecil. Karena nggak ada yang bisa njelasin saat itu maka kita anggap saja tempat untuk manasik haji. Banyak juga turis yang berphoto photoan juga, dan kita juga nggak mau kalah ikut berphoto juga meskipun nggak ngerti sejarahnya. Kalau anda pingin tahu sejarahnya, silahkan baca sendiri hippodrome of Constantinople. Setelah itu tolong saya diceritain juga ya.

Baca Juga :

One response to “Istanbul, Hari Keempat

  1. wah….. kapan nih kak Mal bisa jalan-jalan ke Istambul.. semoga dalam waktu dekat.. amin. mohon izin untuk kopi photonya ya… salam sukses untuk semua… sudah pada besar aja ya…. putri-putrinya… waktu kak Mal dongeng dulu si Adik masih TKkan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s