Istanbul, Hari Kedua


Si bapak pusing tujuh keliling, anggota ‘trio kwek kwek’nya tidak ada yang suka melihat museum atau peninggalan sejarah di Istanbul. Alasannya jelas, kemarin sore sudah berphoto bersama didepan Blue Mosque dan Aya Sophia jadi buat apa harus masuk kedalam, mending jalan jalan di toko toko didepannya. Si bapak juga nggak mau kalah, kalau cuma toko di Kuwait juga banyak, kalau mau cari souvenir bisa hari terakhir. Ribut satu lawan tiga, dan pemenangnya adalah ‘TRIO KWEK KWEK’.
Bakirkoy District
Pagi hari setelah makan pagi di hotel, kita sepakat mau shopping dulu bukan ke Sultan Ahmet karena ditempat ini kebanyakan adalah toko souvenir, carpet dan toko oleh oleh saja, tetapi kami ingin mencari baju hangat disekitar hotel saja. Baju hangat yang kami bawa dari Kuwait ternyata kurang tebal dan tidak mempan dengan udara dingin Istanbul. Jari jari tangan dan kaki rasanya juga sudah beku dan susah diajak kompromi karena dari Kuwait yang kita pakai adalah sepatu terbuka yang hanya cocok dipakai di padang pasir. Sepatu anti dingin juga menjadi target darurat pagi ini.
Temperatur diluar pagi hari sudah mencapai 4 Derajat Celcius. Laporan cuaca TV pagi ini mengatakan di Ankara sudah mencapai 0 Derajat Celcius. ‘Trio Kwek Kwek akhirnya sukses membeli sepatu boot hangat anti beku untuk musim dingin. Si bapak merengut dari pagi, ‘sepatu orang sakit polio kok dibeli’. Tralala Trilili dapat sepatu baru …..
Di sekitar hotel Atakoy Marina (namanya Bakirkoy district) ternyata tempat jalan jalan juga. Tiga mall besar yang ada disini adalah Galleria, Capacity dan Caroussel. Tetapi yang menarik adalah toko toko kecil sepanjang gang dan lorong diantara ketiga mall tersebut.
Suasananya sangat western sekali, meskipun 95 % penduduknya beragama Islam tetapi tidak terlihat ciri ciri negara Islam kecuali banyak masjid saja, wanitanya tidak berkerudung, di kiri kanan banyak yang jual minuman keras dan ada juga pedagang kecil yang jual kupon lotere. Kalau di Indonesia barangkali sudah di’bom’.
Pengamen jalanan juga ada, cara ngamennya tidak asing sekali dan sering kita lihat di film film. Sambil memainkan alat musiknya, topi atau koper alat musiknya digelar didepannya. Kita tinggal melemparkan uang kedalamnya. Lagu yang dibawakan semuanya lagu Turkish yang tidak kita mengerti. Tetapi ada bagusnya juga, kalau yang dibawakan lagu Indonesia pasti mas Ardi ikut gabung disitu dan nggak mau diajak pergi. Sayang kita nggak bisa ‘request’ lagu.
Kesan saya, Istanbul sangat bersih dan rapi meskipun jalan dan gangnya kecil dan sempit tetapi tidak ada mobil yang parkir sembarangan seperti di Kuwait. Penduduknya taat sekali dengan peraturan lalu lintas. Semua orang yang jalan jalan di Bakarkoy District ini sangat modis sekali, mungkin karena kedinginan. Pemandangan lautnya sangat indah sekali, daerah ini benar benar menghadap selat Bosphorus, banyak sekali kapal kapal besar, nelayan dan kapal wisata yang berseliweran di selat ini.
City Tour Istanbul
Hari kedua ini kita sebut City Tour, Own Arrangement kemana mana naik bus angkutan umum dan metro pokoknya pindah dari terminal ke terminal dari pinggiran kota paling selatan sampai paling utara dan paling barat sampai timur. Tujuannya nggak jelas dan nyampai dimana juga nggak tahu. Jadi susah sekali ceritanya. Pokoknya ada tempat menarik langsung kita ingat ingat dan mulai besok baru akan kita kunjungi. Nampak station metro langsung turun dan ganti naik metro, nampak tram listrik juga turun dan mencoba naik tram. Kalau ongkos bus, metro atau tram YTL 1.4 dan kita naik turun 10 kali, maka total biaya city tour ini hanya kurang lebih YTL 50 sampai 60 atau sekitar KD 10 saja berempat. Habis sudah seluruh Istanbul kita jelajahi.
Hujan juga mulai turun, mengingatkan kita pada Indonesia dimana mana jalanan basah. Sepatu baru segera diganti kembali dengan sepatu lama. Untung kardusnya nggak dibuang. Rasanya seperti hujan hujan di Puncak, Bukittinggi atau Berastagi, Brrr dingin sekali … tetapi nggak apa apa, kesempatan hujan hujan seperti ini sulit kita temui di Kuwait.
Yang menarik adalah belanja makanan kecil yang kita temui sepanjang jalan. Ada jual jagung bakar langsung kita coba, nggak enak. Ada juga yang jual makanan seperti donat raksasa, entah apa namanya juga kita coba ternyata nggak enak juga, asin. Yang kita suka adalah semacam biji nangka tetapi agak besar dan cara masaknya dibakar di alat pembakar bulat kecil. Kita bisa makan sambil jalan jalan di udara dingin. Uenak tenan ….. pedagang kaki limanya mengingatkan kita suasana didepan rumah apartment kita di Casablanca – Tebet.

Baca Juga :
Advertisements

One response to “Istanbul, Hari Kedua

  1. >jadi pengen neh ke istanbul, tapi gak punya duit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s