Monthly Archives: October 2008

Persiapan Ke Istanbul

Yang menyenangkan di Kuwait adalah banyaknya hari libur, disamping itu selalu saja ada hari kejepit yang diresmikan menjadi hari libur nasional. Sebagai contoh adalah hari raya Idul Adha bulan Desember nanti, kalau di Indonesia paling cuma libur sehari saja, tetapi kalau di Kuwait sangat luar biasa, libur resmi mulai tanggal 4 – 13 Dec 08 (10 hari – termasuk hari libur weekend Jumat dan Sabtu dan hari kejepit). Nganggur di Kuwait jelas bosan karena setahun di Kuwait sudah bisa dikatakan cukup khatam dengan seluruh sudut Kuwait, gimana tidak khatam lha wong negeri ini kecil sekali dan lebih banyak gurunnya daripada tempat menarik yang enak ditonton.
Untuk mengisi hari libur diatas jauh hari sebelum tanggal tersebut harus sudah pegang tiket pesawat, minimum 2 bulan sebelumnya. Kalau nggak begitu, nggak bakalan deh dapat tiket pesawat dengan harga murah. Semua orang di Kuwait punya pemikiran yang sama, ngabur keluar Kuwait daripada termenung menung ditengah gurun, apalagi bulan Desember nanti dinginnya luar biasa di Kuwait, bisa 0 derajat celcius.

Baik tiket pesawat dan Hotel semuanya booking online, disamping bisa memilih harga yang paling baik prosesnya juga sederhana dan nggak perlu keluar rumah kedinginan segala. Masuk musim Dingin memang segalanya perlu perencanaan matang.

Tiket pesawat Jazeera Airways dapat KD 35/orang diluar pajak. Hotel dapat Atakoy Marina Hotel, milih yang Suite Room semalam EURO 240 – agak mahal dikit tetapi sekamar bisa diisi 4 orang daripada harus book 2 kamar malah lebih mahal. Hotel ini sengaja dipilih karena iklannya di website menyediakan shuttle bus ke airport, tetapi kenyataannya ternyata shuttle bus hanya dari Ataturk Airport ke Hotel sedangkan pesawat Jazera yang akan kita tumpangi mendaratnya di Sabiha Gokcen Airport.

Meeting darurat serumah segera diadakan, kami sibuk nyari peta di pasar Fahaheel dan juga melihat ke google map. Ternyata kami baru tahu, Ataturk Airport terletak di Eropa dan Sabiha Gokcen Airport di Asia, cukup jauh dari Atakoy Marina Hotel. Pantas Hotelnya nggak mau njemput, tapi pelayanan Hotel ini cukup bagus, kami disarankan naik taksi atau sewa mobil di Sabiha Gokcen Airport. Kami disarankan ke counter HARVAA Car Rent di Sabiha Airport, tetapi ternyata sewa mobil sangat mahal EURO 50 ke Hotel, rasanya percuma dapat tiket pesawat murah tetapi transportasi airport – hotel mahal sekali. Setelah email emailan dengan hotel, pihak hotel tampaknya mulai ngerti kalau customernya ternyata sangat hemat dan pelit, langsung saja pihak hotel nyerah, OK deh kamu bisa naik bus umum dari airport ke Taksim – Istanbul, hanya EURO 5 per kepala. Setelah itu jalan kaki saja ke Hotel sekitar 500 meter. Bener juga sarannya, hemat tetapi nggak kebayang deh jalan kaki sambil mbawa koper dan barang bawaan banyak.

Masalah belum selesai begitu saja, setelah tiket pesawat, hotel dan transportasi dari airport ke Hotel terselesaikan, ternyata ada gangguan lain pada saat mengurus visa masuk Turki di kedutaan. Residency Permit mas Ardi habis masa berlakunya dan harus diperpanjang dulu. Civil ID juga sama saja tinggal beberapa hari saja masa berlakunya. Lebih kaget lagi tiba tiba ada SMS masuk dari polisi bunyinya ‘Your Residency Permit will be expired, process or you will be depart – Police MOI’. Tambah deg degan deh jadinya bisa beres semua dan jadi berangkat ke Turki nggak ya tanggal 7 December 2008 nanti atau malah dideportasi ke Indonesia. Doain deh ya semuanya terselesaikan, agar blog ini selalu dapat cerita baru.

Syarat Syarat Ngurus Visa Turki (Lihat Catatan Update Dibawah – 26 Jun 2010)
1.  Isi formulir permohonan Visa (tersedia di Kedutaan Turki atau download di Turkye Embassy Kuwait
2. Photo satu buah
3. Surat Keterangan Dari perusahaan kita bekerja
4. Passport asli
5. Copy Tiket pesawat pulang pergi ke Turki
6. Copy bukti booking Hotel di Turki
Biaya pengurusan Visa KD 11 per passport dan bisa selesai dalam dua hari kerja saja. Letak kedutaan Turki ini bersebelahan dengan kedutaan Malaysia di komplek kedutaan di Kuwait City. Hati hati kalau melintas didepan kedutaan India, disamping padat dan ramai juga bayak sekali orang yang nyeberang jalan atau memarkirkan kendaraannya sembarangan.

26 Jun 2010
Catatan : Mulai Bulan Juni 2010, pemegang Passport Indonesia bisa ke Turki Dengan Visa On Arrival.

Baca :

(Susy).

Advertisements

Ada Juga Hujan Di Kuwait

Hujan di Indonesia merupakan hal biasa, tapi lain halnya dengan Kuwait, hujan adalah berkah yang tak terhingga. Dimana mana sering saya mendengar orang bersyukur atas berkah yang datang dari langit ini. Kalau di Indonesia hujan tiba tiba turun maka semua pada lari berebut berteduh, tetapi disini jalan pelan pelan dan sesekali mengusap wajah dengan air hujan. Malahan, di pasar Fahaheel saya melihat orang belanja kasur lipat dan dengan tenangnya memanggul kasur tersebut dibawah hujan rintik rintik, saya perhatikan kasurnya sudah basah kuyup dan tentu bertambah berat.

Yang sangat menarik bagi kami adalah melihat tingkah laku orang tua atau anak anak atas berkah hujan ini, anak anak dengan suka cita keluar dari jendela mobil sambil berhujan hujan ria, nggak peduli air hujan masuk kedalam mobil. Yang orang tua juga nggak ketulungan sembrononya, ada genangan air dijalan langsung saja diterjang nggak peduli orang yang sedang berdiri di trotoar kecipratan air. Rasanya mereka pada bangga sekali mobilnya bisa menyibak air dengan menyipratkan air kekiri dan kanan setinggi mungkin.

Selokan mampet bukan masalah Indonesia saja, di Kuwait selokannya juga mampet dan mengubah jalan raya menjadi sungai. Mobil mobil yang umumnya dikendarai oleh expat lebih rasional, daripada terjebak kemacetan lebih baik nangkring ditempat tempat yang lebih tinggi. Sebenarnya hujan di Kuwait sering terjadi juga terutama pada saat peralihan musim panas dan musim dingin seperti saat ini, cuma biasanya hujan tidak lebat. Entah kenapa, tanggal 29 October 2008 ini hujan begitu derasnya dan disertai dengan petir dan gemuruh halilintar. Temperatur udara juga langsung turun sampai 20 derajat celcius. Kata mas Ardi sih firasat gaji akan naik dalam waktu dekat……., apa hubungannya ?

Perjalanan Hari Ke 3 (Jordan)

Al-Karak Castle dan Petra

Nah, perjalanan yang satu ini cukup melelahkan. Jarak tempuh kita untuk menuju Petra dari Amman kurang lebih 280 km. Desa desa yang kita lalui tidaklah ramai. Sepanjang jalan kanan kiri yang kita lihat hanya Ruko ruko, gurun, batu, bukit bukit kering dan beberapa pohon zaitun. Jalan cukup lancar. Hanya sering kita lihat polisi di pinggir jalan sedang menghentikan mobil mobil yang melebihi batas kecepatan.

Highway di Jordan menurut saya cukup aneh, kecepatan maksimum 120 Km per jam tetapi dengan tiba tiba saja berubah langsung ke 60 Km per jam menjelang masuk ke desa atau kota kecil. Dan polisi sudah siap menunggu dengan radar speed check dipinggir jalan dan tilang dilakukan di mobil polisi ditempat itu juga. Hampir setiap 2 atau 3 km ada mobil polisi dipinggir jalan dengan radar speed check, artinya kita harus siap ditangkap polisi beberapa kali kalau ketangkap radar speedchecknya. Sekali ketangkap kita harus bayar minimum JD 30 dan uang tersebut langsung masuk kantong polisi, pokoknya sama persis kelakuan polisi Jordan dan polisi Indonesia, bener atau salah harus mbayar ditempat sambil pura pura ‘jaim’.

Tips untuk yang mau nyetir sendiri di Jordan :
  1. Pandang jauh kedepan kalau sudah nampak rumah atau desa kecil atau perkampungan , segera kurangi kecepatan sampai dibawah 60 Km/jam meskipun desa tersbut tidak ada penghuninya, polisi biasanya ngumpet dengan radar speed check, hampir setiap 10 km ada polisi ngumpet.
  2. Highway di Jordan naik turun bukit dan kiri kanan tebing batu kering dan sangat menjemukan. Istirahat ditepi jalan kalau mengantuk, dan kalau sewa mobil pastikan mesin dan rem mobil dalam keadaan sehat.
Al-Karak
Kota Karak terletak sekitar 129 Km sebelah selatan Amman atau sekitar 88 Km sebelah selatan Madaba dengan ketinggian sekitar 1000 meter dari permukaan air dead sea. Ada hotel hotel kecil di kota ini dan untuk menuju kota ini bisa melalui Desert Highway lalu belok kanan di Qatrana. Tetapi saya anjurkan untuk melalui Kings Highway saja karena pemandangannya sangat menakjubkan, yaitu Wadi Mujib dengan kedalaman lembah sekitar 1000 meter.

Dikota ini ada bangunan batu tua peninggalan Sholahuddin Al Ayubi (beberapa literatur menyebut Salah Eddin atau Saladdin), orang pertama dari Dinasty Ayubi. (Bersambung)

Perjalanan Hari Ke 2 (Jordan)

Jerash, Madaba, Mount Nebo dan Dead Sea
Perjalanan Hari Kedua di Jordan lumayan melelahkan, keluar dari Al Danah Hotel setelah makan pagi jam 07:00. Sopir yang mengantar kami sudah lama menunggu dengan mobil sedan ‘Samsung’, kalau di Indonesia merk tersebut lebih populer sebagai merk telpon seluler dan kamipun juga baru tahu di Jordan ada obil dengan merk telpon seluler.

Tentang Mohammed :
Mohammed, sopir yang mengantar kami adalah asli orang Palestine. Seperti yang telah diketahui banyak orang, beliau terusir ke Jordan karena perselisihan antara warga Palestine dengan Israel 20 tahun lalu. Pada saat itu ybs keluar dari tanah leluhurnya untuk mengunjungi keluarganya di Jordan, tetapi ternyata tidak bisa pulang kembali ke Palestine karena Pemerintah Israel melarang warga Palestine masuk kembali ke tanah tumpah darahnya. Tragis memang, dan sekarang ybs bersama istri dan 5 orang anaknya bertahan di Jordan dan masih ingin kembali ke Palestine kalau perdamaian telah abadi di tanah kelahirannya tercinta. Untuk bertahan hidup di Jordan, dia belajar bahasa Inggris, Jerman dan Perancis, hasilnya sekarang sebagai guide yang sekaligus bisa mengajari bahasa Arab tourist yang dibawanya. Sepanjang perjalanan selalu bicara dan menjelaskan apapun yang dilalui termasuk pohon Zaitun dan alasan kenapa dijadikan simbol perdamaian. Lihat gaya dia menjelaskan pohon Zaitun pada saat berhenti ditengah jalan antara Amman – Jerash disamping.

Jerash
Jerash hanya terletak sekitar 50 km saja sebelah utara Amman di perbukitan Gillead. Yang kita lihat disini adalah sisa sisa bangunan Romawi seperti Hippodrome, Temple Of Zeus, Cardo Maximus dan lain lain. Jalan menuju tempat diatas masih asli bebatuan seperti dalam film film romawi dan masih nampak jelas bekas dilalui roda roda pedati. Kalau nggak salah seminggu dua kali ada pertunjukan Romawi, semacam gladiator, pertandingan charriot, dll. Tiket masuk bisa dibeli online melalui http://www.jerashchariots.com/.

Sejarahnya Jerash dibangun pada abad 3 SM. Jerash pada saat itu bagian dari Decapolis dan pada saat itu namanya Gerasa dan merupakan provinsi otonomi dari Romawi Syria. Jerash kehilangan otonominya dibawah kekuasaan Kaisar Trajan. Setalah itu menjadi kota Kristen dibawah Byzantium dan diambil alih oleh Persia pada tahun 614 dan menjadi Muslim pada tahun 635. Terakhir hancur lebur terkena gempa bumi pada abad ke 8.

Sayang di Jerash tidak bisa lama lama, Ayu dan Dinda mengeluh terus, dari kemarin yang dilihat batu melulu…..Bapaknya lebih parah lagi sejak turun dari mobil langsung menghilang, tidak bertanggung jawab dengan barang bawaan. Setelah nongol sambil senyam..senyum ..baru ketahuan ternyata ngumpet jauh sekali cari tempat pipis dibawah pohon pohon.

Madaba

Madaba terkenal dengan sebutan ‘The City Of Mozaics’ dan merupakan kota kecil dengan penduduk sangat majemuk dari berbagai macam agama dan aliran agama, Yahudipun ada. Kota ini mayoritas Kristen, tetapi kalau dilihat populasinya ternyata 3% dari total 5 % yang beragama kristen di Jordan bertempat tinggal di Madaba. Agak susah membedakan masjid dan gereja karena dikota ini gerejapun banyak yang memakai kubah. Kota ini sangat dekat dengan Israel dan sejarahnya memang tempat pelarian dari Israel bagi warga yang muak dengan perselisihan disana dan memilih hidup rukun penuh kedamaian.

Dikota ini terdapat gereja kristen orthodox tua St Goerge yang penuh dengan hiasan Mozaics indah dan lantainya berhiaskan peta Mosaics daerah sekitar seperti Palestine dan Jordan di utara, Egypt di selatan. Ada juga rencana pembangunan kota Jerusalem. Ada juga Jordan Archeological Museum dan dari museum ini kita baru tahu ditengah gurun yang kering ini ternyata banyak sekali ditemukan puing puing sisa bangunan gereja tua dan semuanya penuh dengan hiasan mosaics.

Yang membuat saya terkejut adalah semua orang mengucapkan ‘assalamualaikum’ kalau saling bertemu. Artinya kata tersebut bukan milik muslim seperti yang kita kenal di Indonesia, tetapi milik Arab apapun agamanya. Baik Muslim maupun Yahudi dikota ini semua membuat souvenir untuk pelancong kristen, tidak ada batas yang jelas antar agama, bahasa mereka satu saja ‘kami makhluk Allah yang hidup dan mati karenaNya, buat apa kami bertikai tentang perbedaan kita kalau lebih banyak persamaannya’. Yahudi pelarian yang saya jumpai disinipun baik sekali dan rukun dengan yang lainnya. Lalu siapa sebenarnya yang sedang bertikai di Israel-Palestine sana ?
Jarak tempuh perjalanan dari Jerash ke Madaba kurang lebih 90 km. Kalau dari Amman menuju Madaba hanya 50 km. Memang begitulah route yang kita lalui untuk mlancong hari ke 2 ya harus muter2 agar dapat 4 tujuan.
Mount Nebo
Gunung ini dipercaya sebagai tempat meninggal dan dimakamkannya nabi Musa AS. Tetapi tempat makamnya tidak ada yang mengetahui. Lokasi tidak begitu jauh dari Madaba menuju Mount Nebo kurang lebih hanya 20 km, dan boleh dikatakan culturenya sama saja, bercampur aduk antara pengikut Judaism dan Kristen, Islam juga tentunya.

Dari atas bukit ini, dan kalau udara cerah kita bisa melihat kota Jerusalem dan Jericho di Israel-Palestine dengan jelas dan hanya dibatasi oleh sungai Jordan yang menurut saya bukan sungai tetapi selokan. Jaraknya hanya beberapa km saja dan malah ada beberapa tempat yang sangat dekat sekali.
Perbatasan Israel dilingkari oleh pagar tinggi berkabel listrik tegangan tinggi, jangan coba coba masuk menyusup ke Israel karena di pagar tersebut katanya juga ada senjata otomatis yang siap memuntahkan peluru kalau ada orang nekat masuk. Ada dua pos penjagaan polisi yang harus kita lalui kalau masuk ke jalan menuju daerah ini, semuanya diperiksa dan digeledah termasuk passport juga kalau kalau membawa senjata pelontar bom. Pos penjagaan perbatasan itu hanya memastikan kita wisatawan atau bukan. Jadi kalau ke Mount Nebo jangan lupa bawa passport dan jangan sekali kali bawa rudal atau senjata pelontar bom. Karena untuk menuju Israel hanya dibatasi oleh Dead Sea.

Dead Sea
Hanya sekitar 15 menit saja dari Mount Nebo kita sudah sampai di Dead Sea. Dari segi ukuran, Danau Toba di Medan jauh lebih besar dibanding Dead Sea. Ada dua hotel di sekitar itu, Dead Sea Spa Hotel dan yang sedang dibangun Amman Beach Hotel. Laut itu airnya benar benar luar biasa Asin dan dibeberapa tempat dijumpai banyak bongkahan garam. Lumpurnya halus sekali dan konon baik untuk kulit bisa menyembuhkan berbagai penyakit dan air asin ini terasa licin sekali di kulit. Hati hati kalau ada kulit yang terluka, bekas garukan saja rasanya perih sekali, kena mata juga pedihnya bukan main. Tidaklah heran kalau di Jakarta sudah mulai dipasarkan perawatan tubuh dengan bahan dari laut mati tersebut. Terutama di Salon salon kecantikan yang menyediakan fasilitas khusus perawatan tubuh.

Dead sea ini separuh merupakan wilayah Jordan dan separuh lagi merupakan wilayah Israel. Sebenarnya gampang sekali kalau mau menyeberang ke Israel, disamping kita bisa mengapung dan tidak bakalan tenggelam karena berat jenis air garam lebih tinggi dari tubuh kita, jaraknya juga dekat sekali dan kita bisa melihat jelas negara Israel/Palestine diseberang sana. (Susy)

Ciluk Ba, Wonder Woman Ala Jordan

Pakaian pakaian yang dijual di Jordan menurut saya sangat mahal sekali, sangat tidak setara dengan bahan yang digunakan. Kalau mahal tetapi bahannya tebal, bulu wool dan penuh rimpel rimpel mungkin wajar saja kalau mahal. Di Jordan sangat mahal tetapi bahannya dari beberapa helai benang saja seperti gambar disamping. Ada juga yang mahal sekali, yaitu bra wanita. Bahannya terbuat dari rajutan benang emas atau perak dan dipadukan dengan rok warna warni dengan pernak pernik mengkilat keemasan dan warna warna meriah seperti hijau, orange, merah jambu dan sebagainya. Cara memakainya terbalik, rok dipakai dulu setelah itu baru bra dipakai diluar, mirip cara berpakaian tokoh komik ‘wonder woman’. Sangat mahal sekali untuk sekedar bra wanita, belum lagi ditambah ongkos ditangkap polisi seandainya dipakai di Kuwait atau mejeng di Kuwait bergaya ‘Wonder Woman’.

Masalah baru muncul setelah mas Ardi datang dan mau memborong pakaian aneh dan lebih cocok dipakai di luar angkasa tersebut. Buat oleh oleh ke Indonesia, nanti Eyang Putri, bude Titik, mamanya Tian, bude Tutik dan semua keluarga diberi satu satu bisa dipakai untuk jalan jalan sore, biar kayak karnaval. Si Do’i juga memilihkan untuk saya dan saya disuruh memakainya di Kuwait nanti. Ciluk Baa ala Jordan katanya. Wuah….. untung saja cepet saya tarik keluar dari toko. Kalau nggak segera saya tarik, bisa jadi tujuh hari tujuh malam saya masuk angin memakai pakaian ‘wonder woman’ tersebut di Kuwait. (Susy/Foto : Ard)

Belanja Pernak Pernik Jordan

Tiada hari tanpa belanja. Mulai hari pertama sampai hari terakhir di Jordan kalau tidak diselingi dengan acara ‘shopping’ pasti kurang seru, maklum serumah perempuan semua. Lagipula di Jordan yang dilihat cuma batu dan gurun doang. Hari pertama setelah mengunjungi Citadel dan Ampitheater Roman, sopir kami dari Palestine sangat mengerti sekali apa yang disukai wanita. Kita diajak mengunjungi toko-toko souvenir khas Jordan, dan tidak kalah seru dibanding belanja di Tanah Abang Jakarta.

” Lets go, we’ll go to company” nah bingunglah kita mau diajak ke ‘company’, bayangan kita mau diajak ke perusahaan rental mobil atau tour travelnya untuk menyelesaikan pembayaran yang memang pada saat itu belum kita bayar. Belum selesai deg degan karena duit di dompet pas pasan dan belum nemu ATM sama sekali, Ee….ternyata mobil berhenti didepan toko besar dan yang namanya ‘company’ adalah toko toko yang menjual souvenir untuk turis. Disebut ‘company’ karena toko tersebut juga sekaligus sebagai pembuat souvenir.

Ada dua tempat yang kita kunjungi di Hari Pertama di Jordan.yang pertama adalah Holy Land Ceramic & Glass. dan yang Kedua toko Black Irish. Ternyata setelah dibandingkan antara kedua toko tersebut, masih lebih murah toko Holy Land. Semua barang barang yang akan dibeli bisa ditawar sesuka kita. Jangan sampai tertipu,label harga yang tertulis sengaja dibuat mahal sekali dan membuat kita kaget, tetapi kalau kita pandai menawar bisa jadi dapat murah juga. Nggak diberikan ya cuek saja, malah kalau diberikan kita yang jadi pusing jangan jangan nanti overload bagasi pesawat kalau pulang ke Kuwait.

Tidak lupa juga, berkunjung ke suatu negara yang masih asing bagi kita jangan lupa mencicipi makanan tradisionalnya juga. Nah yang ini sangat luar biasa, sopir kami manggut manggut mengatakan enak makanan Jordan, kami berempat dengan susah payah menelan sambil sesekali mendorong makanan di mulut dengan air putih agar cepat tertelan. Setelah turun dan menjauh dari si sopir, baru kami berempat bercerita tentang susah payahnya menelan makanan Jordan. (Susy/ Foto:Ard )

Obyek Wisata Di Jordan (Hari Ke 1)

Iklim di Jordan jauh lebih bersahabat dibanding Kuwait, temperaturnya pada saat musim panas kira kira sama dengan di Indonesia sekitar 30 derajad celcius, tetapi kalau musim dingin sekita bulan december, seluruh kota Amman berwarna putih tertutup salju. Tanahnya gersang tetapi berbukit tinggi dan terjal. Beberapa tempat saja agak hijau. Keadaan kota sangat mirip dengan di Indonesia yaitu dimana mana penuh dengan Ruko, pedagang kaki lima dan tukang tambal ban dipinggir jalan juga banyak. Saat pertama kali datang, kami merasa sedang di daerah Puncak atau Bukit Tinggi dan tidak merasa sedang di Jordan, karena suhu 17 derajas celcius, cuma bedanya di Jordan kering kerontang. Keramahan penduduk relatif sama dengan Indonesia, bedanya mereka pakai bahasa Arab saja.

 

Hari Pertama

City Tour Amman
Jam 2 siang, matahari sangat menyilaukan mata tetapi udara terasa dingin dan sejuk. Tujuan kami kedaerah Downtown atau Old City. Disini kami bisa mengunjungi peninggalan sejarah yang sangat terkenal di dunia, Citadel, orang setempat menamakan Jabal Al Qal’aa karena letaknya diatas bukit (jabal). Tiket masuk JD 2 / orang. Citadel ini adalah komplek situs yang terdiri dari :
  • Temple Of Hercules.
    Bangunan ini sudah runtuh dan tinggal puing puingnya saja. Dari bentukarsitekturnya terlihat jelas dibangun pada saat dikuasai oleh Romawi (162 – 166 AD), jauh lebih besar dari yang ada di Roma. Dari struktur bangunan yang tersisa, nampaknya bangunan ini belum sempurna jadi sudah keburu runtuh dan ditinggalkan. Model lengkap arsitektur bangunan terdapat di museum ACOR dan sangat jelas ditampilkan di buku buku tourist guide yang banyak dijual didepan pintu masuk Citadel.
  • Gereja Byzanthium.
    Kalau nggak diberitahu guide, kita nggak bakalan tahu kalau sedang duduk di bekas gereja/basilica Byzantyne. Gereja ini didirikan sekitar abad ke 5 atau ke 6 AD. Tinggal pilar pilar besar bergaya Romawi, tetapi kalau kita perhatikan benar benar nampak jelas memang puing puing ini bekas bangunan gereja. Cukup luas dan terletak ditengah tengah komplek Citadel.

  • Masjid Umayyad.
    Kubah masjid ini mirip sekali dengan Pac Man dengan kedua matanya yang lucu. Kubah masjid sudah tidak asli lagi dan baru saja direnovasi. Disana sini masih berserakan alat alat pertukangan. Dinding masjid bagian dalam banyak terdapat relif relief bagus seperti yang sering kita lihat di candi candi di Indonesia. Terus terang kami cukup terperangah melihat ornamen bagian dalam masjid yang megah ini.

Sejarah mencatat kota ini pernah dikuasai oleh bangsa Babylonia (Abad 6 SM), Ptelemius (Abad 3 SM), Roma (Abad 1 SM) dan dinasti Umayyad (Abad 7)

 

Setelah menghabiskan waktu kurang lebih satu sengah jam lamanya mengelilingi komplek Citadel, kami melihat Roman theater & Odeon Folklore Museum dan Jordan Museum of Popular Traditions .


Terletak tidak jauh dari komplek Citadel, masih di kawasan Old City. Theater Romawi besar dan tidak kalah besar dengan yang didekat Colloseum Roma. Di tempat itu masih selalu ditampilkan pertunjukan tari kolosal setiap minggunya. Bentuknya relatif sama dan khas bangunan Romawi. Masih utuh dan terawat cukup baik dan didalamnya difungsikan sebagai Musium Of Jordan. Ngerti banyak bangunan romawi di Jordan, rasanya nggak perlu lagi deh ke Italia hanya untuk melihat bangunan Romawi saja. (Susy)

Baca Juga