Pasar Loak Otomotif


Sabtu ini adalah gantian saya yang harus mengantar mas Ardi untuk blusak blusuk ke pasar loak. Memang hobinya melihat lihat onderdil mobil dan terkadang membeli kalau memang nemu barang langka terutama untuk mobil kesayangannya di Indonesia, ‘si embah ‘ VW Kodok merah putih yang baru saja memenangkan lomba di Wonosobo. Saya harus selallu bertoleransi karena mas Ardi paling sebel kalau diajak ke pasar, mall atau pertokoan dan sebaliknya saya juga bosan kalau harus nungguin berjam jam keluar masuk pasar loak.

Kali ini, entah dapat informasi dari mana tahu tahu saya diajak putar putar ke Shuwaikh Industrial Area dan Al Rai. Tidak membeli apa apa, tetapi saya lihat jam tangan, ternyata 3 jam naik turun mobil hanya untuk iseng tanya barang loak yang kelihatan aneh. Secara umum, pasar loak onderdil dan besi tua di Kuwait sama saja dengan di Indonesia. Tempatnya kumuh dan tidak teratur dengan baik, mobil, kapal dan alat berat rongsokan banyak tersebar dimana mana dan sudah diprotoli dan dijual kethengan bagian per bagiannya. Suasananya juga ramai meskipun udara pada saat itu hampir 40 derajat, bahkan puasa lagi. Sebagian kios juga menjual barang ‘baru’, entah baru beneran, hasil curian atau diprotoli dari mobil mobil yang kecelakaan saya kurang berani menanyakan. Jasa pemasangan juga tersedia dan ongkosnya tidak begitu mahal. Jasa pemasangan karpet bekas dan ganti jok cover rasanya paling ramai dan sibuk.

Alat navigasi kapal hampir saja dibeli mas Ardi kalau tidak cepat cepat saya ajak pindah. Ribet memang mendampingi mas Ardi, kalau sudah tertarik barang loak selalu lupa menawar harga. Mesin mobil Porsche juga ditawar, dan kalau nawar hanya turun sedikit saja. Coba bayangkan kalau penjualnya langsung setuju, apa nggak jadi masalah nanti kalau harus dibawa ke Indonesia. ‘Bisa dipasang di VW’ katanya kalem tanpa mikir berapa biaya kirim ke Indonesia.
Disitu selain onderdil kapal dan mobil yang diprotoli, ada juga mobil rongsok yang dijual utuh dan umumnya alat berat. Secara sepintas alat berat tersebut masih bagus, tetapi katanya sudah nggak bisa dipakai lagi, karena disini dengan alasan safety maka alat berat akan dicabut ijin operasinya kalau sudah beroperasi sekian tahun. Nonton alat berat kayak gini saja, mas Ardi berani beraninya nawar harga. Kalau diberikan, lalu siapa yang akan naik nanti, apa saya yang diharapkan naik buldozer atau tronton ngantar anak anak ke sekolah. Repot memang punya suami hobinya ke pasar onderdil loak. Dia teringat di Pasar Senin Jakarta yang banyak menjual onderdil VW loak. ( Susy/foto:Ard).
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s