Monthly Archives: March 2008

Salon Pokymon, Khusus Untuk Laki Laki Saja

Berat sekali mencari salon kecantikan wanita di Kuwait Sudah puter puter hampir setengah hari mencari salon kecantikan wanita di seluruh Mangaf dan Fahaheel, nggak ada yang bonafide. Umumnya salon kecantikan di Kuwait hanya untuk ‘laki laki’, ada beberapa yang untuk wanita tetapi umumnya letaknya tersembunyi, misal di apartement atau rumah rumah Kuwaiti. Sering pula tidak ada papan namanya karena tidak memiliki ijin usaha. Promosi salon kecantikan wanita selain dari mulut ke mulut juga dari brosur dan selebaran selebaran yang dikirim ke apartement. Lihat brosurnya saya agak ragu ragu, karena yang terpampang gambar wanita arab dengan pakaian pengantin. Tetapi setelah saya tanyakan ternyata itu bukan pakaian pengantin, tetapi gaun malam yang biasa dipakai wanita arab dibalik abaya hitamnya.

Saya sendiri heran, kenapa laki laki disini begitu ‘ganjen’ ke salon segala. Hampir semua salon laki laki disini mempunyai tempat yang strategis dan dekorasi salon tidak kalah mewah dibanding salon salon wanita di Indonesia. Jasa perawatan rambut, wajah sampai massage tersedia lengkap di salon salon yang banyak bertebaran di seluruh tempat strategis di Mangaf dan Fahaheel ini. Salah satu yang selalu ramai ada di perempatan jalan besar Mangaf – Fahaheel. Namanya cukup mengundang perhatian dan senyum, ‘Salon Pokymon’. Entah apa yang menarik dari saloon ini, yang jelas karena letaknya dekat sekali dengan apartement saya, saya bisa melihat dengan jelas orang orang yang mondar mandir keluar masuk ke salon tersebut. Lihat saja gambar laki laki yang berbondong bondong ke salon tersebut setiap harinya pada photo diatas. (by Susy)

Ada Sambal ‘Olek’ Di Al Bahah

Fahaheel Kuwait, 29 Mar 2008. Sebagai Ibu rumah tangga di Kuwait, aktifitas tentu tidak terlepas dari belanja kebutuhan sehari hari. Benar sekali baru satu bulan saja di Kuwait rasa kangen makanan Indonesia kuat sekali mengganggu saya dan anak anak. Dari informasi beberapa kawan, saya mengetahui ada bakala (kedai tempat jualan kebutuhan sehari hari) yang menjual bahan bahan makanan Indonesia di Fahaheel, namanya Al Bahah. Pagi pagi saya datang ke bakala ini dan penjualnya cukup ramah. ‘Hallo Bu, ada kangkung, ada terong, ada tahu, ada tempe ada semua’ si penjual berusaha promosi pakai bahasa Indonesia logat planet Mars, sangat robotics. ‘I have something special for Indonesian, Madame’, nyerocos lagi sambil mengajak ke suatu tempat. ‘Sambal Olek’ sambil menunjukkan botol kecil berwarna merah. ‘What ? Sambal Olek ?’, saya kurang jelas apa maksudnya. ‘Yes, Sambal Olek Pedaaaas dan Uenak Tenan’. Ternyata yang dimaksud adalah Sambal Ulek dalam kemasan botol dan memang dalam kemasannya tertulis ‘Oelek’, sangat special karena di Indonesia tidak pernah saya jumpai, dan ternyata ‘Made In Singapore’. Siapa pula yang ngajari bahasa Indonesia pegawai bakala tersebut, kok ngerti ‘Ueenak Tenan’ segala. (by: Susy)

Badai Gurun Jilid 2

Kalau di Ahmadi, Mangaf, Fahaheel dan seluruh wilayah di Kuwait City, badai pasir nampaknya biasa biasa saja, paling banter gelap dan suara gemuruh saja yang terdengar. Tetapi kalau di lapangan minyak, dimana umumnya ditengah tengah gurun, badai pasir terasa begitu mencekam dan dramatis. Bayangkan kecepatan anginnya saja bisa bikin suara bergemuruh, belum lagi suara atap atap seng yang bergoyang goyang. Dan yang diterbangkan angin tidak cuma debu, butiran pasir halus dan kasar, sampah kertas, plastic dan sandal jepitpun bisa terbang menerjang apa saja yang dilalui. Tentang jarak pandang, ya jelas tidak terlihat sama sekali, lebih baik merem daripada kelilipen dan sedikit sedikit melek agar nggak nabrak. Angin yang bertiup kencang ini biasa saja buat orang Arab, tapi bagi orang Indonesia bisa bikin kulit merah kepanasan, sangat kering sekali.

BADAI pasir ini dipicu oleh angin Shamal, yang dalam bahasa Arab berarti utara. Angin Shamal sebenarnya telah absen selama setahun terakhir, dan seharusnya baru muncul pada akhir musim semi dan kemudian bertahan selama musim panas. Di Jazirah Arab, setiap angin memang punya nama. Menurut The Natural Emirates yang merupakan situs resmi Uni Emirat Arab, kebiasaan ini berasal dari suku-suku pengembara terutama Bedouin, karena kemampuan mengantisipasi perubahan cuaca amat mempengaruhi mati dan hidup kelompoknya.

Bagi suku-suku tersebut, setiap angin punya karakteristik yang berbeda. Periode badai utama disebut Al-Barih al-owd, sementara badai minornya dinamai Al-Barih al-sagheer.
Periode badai utama angin Shamal sebenarnya adalah sekitar 25 Mei yang dijuluki Al-Haffar alias “pengebor”. Soalnya, angin ini benar-benar menciptakan lubang besar di puncak bukit pasir.
Badai kedua yang datang awal Juni, dinamai Barih Thorayya, karena datangnya bersamaan dengan bintang fajar Thorayya (Pleiades). Pada periode ini-yang kadang lebih buruk dampaknya dibanding angin lainnya-para nelayan tidak akan berani melaut. Tidak hanya karena angin begitu kuat, tetapi juga mitos kuno yang menyebutkan angin ini selalu menenggelamkan kapal.

Mendekati akhir Juni, angin Shamal yang terakhir tiba. Angin yang disebut Al-Dabaran, ini adalah angin yang sangat “kejam” dan berlangsung selama beberapa hari. Penduduk lokal akan menutup pintu dan jendela rapat-rapat, menghindari serbuan debu dan pasir yang siap memasuki setiap lubang dan retakan sekecil apa pun di dinding.
Angin lain yang dikenal bangsa Arab adalah Sharqi. Angin Sharqi-yang berarti angin timur- bertiup dari arah Teluk Persia menuju ke daratan.

Angin Sharqi biasanya bertiup bulan April sampai Juni, kemudian datang lagi September sampai November. Di antara angin Sharqi inilah Angin Shamal datang dan kadang tumpang tindih.
Sharqi rata-rata bertiup dengan kecepatan delapan km per jam, kering, dan juga berdebu. Badai pasir yang diakibatkan oleh kombinasi Sharqi dan Sharmal bisa mengangkat benda-benda kecil hingga ribuan meter ke udara, yang berpotensi mengganggu lalu lintas udara. Bandar udara pun biasanya ditutup selama kedua angin ini menguasai udara demi keselamatan penerbangan.
(by: Ardi)