Monthly Archives: January 2008

Gosong Lagi

Seperti biasa pulang kantor jam 3 perut terasa lapar sekali. Dikantor makan siang hanya berupa roti, biskuit dan buah saja. Rotipun tidak pernah termakan habis, rasanya kecut, asam pokoknya nggak enak sama sekali bagi lidah Indonesia. Rutinitas masakpun dimulai, hari ini saya pingin sekali bikin rawon, kebetulan bumbu rawon masih ada. Sambil menunggu daging masak saya baca koran sambil tiduran didepan TV. Celakanya, saya baru terbangun jam 7 malam, tentu saja daging yang saya godok mulai sore tadi jadi arang. Jadi menu sore ini cukup nasi putih dan kecap saja. Nikmat …… (by : Ardi )

Advertisements

KOC Spring Camp

Udara begitu sejuk pada minggu kedua setelah kedatangan kami di Kuwait. Pada saat saat seperti inilah Kuwaiti dan penduduk expatriate lainnya berwisata. Tidak seperti di Indonesia yang punya banyak tempat kunjungan wisata, di Kuwait tidak punya banyak pilihan, yaitu ke Pantai. Kuwait mempunyai garis pantai yang membentang panjang bersih dan indah, Arabian Gulf memberi berkah tersendiri bagi warga Kuwait, banyak ikannya. Kami 6 orang pegawai baru KOC rombongan pertama mendapat kehormatan untuk bersilaturahmi dan berkenalan dengan senior yang telah setahun lebih dulu tiba di Kuwait. Akhirnya, dipilihlah KOC Spring Camp sebagai tempat pertemuan antara Old Indonesian KOC dan New Indonesian KOC. Tempat ini cukup jauh terletak di Mina Al Zour dan bersebelahan dengan Mina Al Zour Power Plant, pembangkit listrik yang menerangi seluruh Kuwait. Sesuai dengan namanya, tempat ini hanya dibuka untuk pegawai KOC saja dan hanya pada saat musim ‘spring’ seperti ini. Ratusan tenda tersedia ditempat ini dan permainan sepeda atau mobil mobilan untuk anak anak juga tersedia. Jangan membayangkan seperti tempat bermain anak anak di Indonesia, Dufan misalnya, disini bukan tempat seperti itu, hanya berupa tenda atau perkemahan. Anda bisa memancing sepuasnya karena ditempat ini banyak sekali ikan dan sangat mudah untuk dipancing. (by: susy)

Kursi Arab

Salah satu barang menarik yang tidak ada di Indonesia adalah Kursi Arab. Kalau anda pernah melihat rumah tendanya Moammar Khadafi, perhatikan tempat duduknya, lesehan di karpet tetapi ada sandarannya. Kira kira seperti itulah bentuknya, warnanya norak merah, biru atau hijau dengan sedikit bordir berwarna keemasan. Barang ini banyak dijual di Pasar Jumat, oleh karena itu berangkatlah kami bertiga saya, pak Nailul dan pak Deni ke Pasar Jumat menggunakan bus 102. Turun di terminal masih harus ganti lagi dengan bus 21 dan turun di Lulu Center (Pasar Jumat). Temperatur udara lumayan dingin saat itu.
Ternyata belanjaan hari itu cukup banyak, ada yang belanja karpet dan ada pula yang belanja barang barang kecil lainnya. Masalah baru timbul pada saat mau pulang ke Fahaheel, ternyata barang yang kita beli tidak muat diangkut taksi. Akhirnya disepakati untuk nyewa truk saja dan dapat KD 7 sampai ke apartement baru di Mangaf dan drop karpet di Fahaheel. Masalah lain muncul, ternyata hanya dua orang saja yang diijinkan duduk di cabin depan. Setelah melalui perundingan sengit dan sesekali hom pim pa akhirnya pak Deni yang terpaksa harus duduk di bak belakang truk. Tetapi untuk menghindari kedinginan yang lebih parah lagi, akhirnya kami turunkan di Halte bus terdekat. (by: Ardi)

Seperti Penjara

Hari pertama tiba di Kuwait tanggal 17 November 2007, kami rombongan 6 orang dari Indonesia dijemput staff KOC di bandara. Proses immigrasi lancar, tidak ada satupun yang bermasalah. Pemandangan gersang yang kami lihat dari udara tidak lagi tampak, yang nampak adalah pepohonan disepanjang jalan, cukup hijau dibandingkan Saudi Arabia. Kami menikmati pemandangan dan suasana baru sepanjang perjalanan.
Akhirnya kami tiba di komplek KOC di Ahmadi, setelah melaporkan kedatangan kami ke staff KOC kami mendapat tempat istirahat di Guest House C. Bayangan kami yang namanya guest house tentu seperti hotel bintang 5. Tetapi ternyata kamar kamarnya lebih mirip penjara Kalisosok daripada Hotel bintang 5. Jendela dan pintunya berlapis lapis mirip bekas terali besi. Yang membedakan, penjara ini dilengkapi AC segede gajah dan celakanya hanya ada tombol on dan off saja, artinya saya harus milih kedinginan atau kepanasan. (by : Ardi )

Masak Masakan

Masalah makan di Kuwait menjadi menu diskusi yang tak ada habisnya setiap hari. Maklum bapak bapak semua, jangankan masak, nama bumbu dapur saja sering keliru. Lagipula, lidah kita masih asli Indonesia belum terbiasa dengan masakan Arab atau India. Jujur saja, sebenarnya yang paling praktis adalah makan di luar tetapi karena alasan ekonomi (terlalu mahal njajan terus) kami lalu berusaha masak sendiri, kebetulan pak Arif bisa diandalkan untuk masak memasak ini. Apapun bumbu yang ada, dicemplungin semua. Bumbu atau bahan masak disini jelas tidak selengkap di Indonesia, untuk mencarinya perlu perjuangan tersendiri. Sayur sayuranpun juga tidak sama dengan di Indonesia, sayuran disini didatangkan dari luar, entah berapa lama perjalanan sebelum sampai ke bakala (toko kelontong) tempat kami biasa beli.
Biasanya pak Arif yang sibuk masak di dapur, yang lain pada nonton TV atau baca koran. Begitu masakan dihidangkan langsung diserbu habis dan tukang masaknya masih saja di dapur nggak selesai selesai nggoreng kerupuk. Untung selalu ada saja yang baik hati menyisakan makanan untuk pak Arif. (by : Ardi )

Turis Mbambung

Hari Jumat dan Sabtu adalah hari libur di Kuwait, kesempatan bagi kami untuk melihat kota dan menghapalkan route bus. Paling tidak kalau keluarga sudah bergabung ke Kuwait kita bisa sebagai petunjuk jalan. Biarlah anak dan istri kita nanti tahu enaknya saja. Jam 8 pagi saya, pak Arif dan pak Eki berangkat dari Mangaf dengan tujuan ke KBRI di Kuwait City untuk mengurus Family Visa. Temperatur udara saat itu 4 derajat celsius, celakanya nunggu bus nomor 102 tidak datang datang juga akibatnya kami semua kedinginan di halte bus. Akhirnya bus yang saya tunggu datang juga dan kami bertiga sudah tidak bisa lagi menikmati keindahan pemandangan, telinga, jari hampir beku sepanjang perjalanan.

Turun di terminal Miqgrab, peta langsung dibuka dan dimulailah petualangan jadi turis. Kami bertiga sepakat untuk jalan kaki saja ke KBRI karena di peta tampaknya dekat sekali. Hampir tiga jam lebih kami berputar putar di Kaifan untuk menemukan KBRI, keluar masuk jalan, loncat pagar, turun nyeberang selokan, tetap saja nggak ketemu. Peta dibuka kembali, tanya India ternyata nggak tahu bahasa Inggris tetapi si India nunjuk ke arah tertentu dan kami mengikuti saja, ya jelas jadi tambah jauh nyasarnya. Sudah lelah dan hampir putus asa, kami bertiga duduk di Trotoar dan nyari kendaraan yang bisa ditumpangi untuk ke jalan besar. Eh, malah terlihat bendera Indonesia berkibar diatas gedung kira kira 100 meter dari tempat kami klesetan di jalan raya. Lalu kenapa tadi berputar putar nggak karuan. Sialnya, begitu kami sampai di KBRI, ternyata KBRI tutup juga pada hari Jumat dan Sabtu. Ya Nasib…… (by: Ardi)

Sambal Pecel Terbang

Belum ada satu bulan Mas Ardi tinggal di Kuwait perintah jarak jauh sudah dimulai. ”Bun, belikan sambal pecel, krupuk udang, abon dan bumbu instant” pintanya via telpon. Ha, untuk apa, jawabku. Disini enggak ada sayur pecel, setelah dibeli kirim ke Kuwait,”’ jawab mas Ardi. Ok…Ok..,’ jawabku di telpon. Nah..setelah satu hari belum ada tindak lanjutnya. Doi menanyakan kembali status bumbu pecel.

Nah, akhirnya tiga cewek jagoan (saya, ayu dan dinda ) belanja ke Carefour. Semua permintaan Mas Ardi ada, kecuali Abon. Saya jadinya beli Abon di Pasar Tebet Barat. Karena letaknya dekat dengan Apartement Casablanca dimana kami tinggal. Belanja kurang lebih habis Rp. 300.000,- Setelah belanja dan dibungkus, berat kurang lebih 9 kg. Kita diamkan barang itu, eh datang SMS, E-mail bahkan telpon menanyakan kembali status sambal pecel.

Bingunglah saya, wah, kirim pakai apa ya. Selama ini belum pernah kirim barang sampai ke Kuwait. Saya coba tanya ke DHL, ternyata mahal sekali tidak sebanding dengan harga barangnya. Pantang menyerah, lihat di Yellow pages alamat cargo international. Tanya sana tanya sini. Tapi jawabnya malah dia tertawa, ”kenapa sambal pecel sedikit kok dikirim sampai jauh bu, khan sayang ongkos kirimnya,” jawab salah satu cargo yang ada di Jakarta.

Tanggal 6 Desember, setelah menjemput anak-anak pulang sekolah langsung berangkat ke kantor Pos Pusat Jakarta di Jl. Gedung Kesenian dekat lapangan banteng. Setelah tanya sana-sini , saya menemukan EMS International. Pak Heri, karyawan EMS, menghitung ongkos kirim Rp. 950.000,- Oit…3 kali harga barang yang mau dikirim. Akhirnya saya putuskan untuk mengurangi isi paket dengan harapan ongkos juga bisa berkurang. Akhirnya saya kembali lagi ke EMS dengan barang tinggal 3 kgdan sambal pecal terbang ke Kuwait dengan biaya Rp.300.000,-. ( by : Susy )