Sekilas Kapal Al-Hashemi II

Al-Hashemi Dhow
Radisson Blu Hotel
Indonesia pernah claim bahwa ‘Nenek Moyangku Seorang Pelaut‘. Bahkan punya lagu dengan judul yang sama. Tapi yang saya perhatikan, masyarakatnya saat ini kurang menghargai sejarah bangsanya. Nelayan masih miskin dan kota kotanya jarang yang bisa menunjukkan kejayaan para pelaut jaman dulu. Hanya monumen Jalesveva Jayamahe dan monumen Kapal Selam saja yang terlihat begitu gagah di Surabaya. Yang lain cuma jargon jargon seperti Tegal Kota Bahari dan semacamnya. Tapi jarang ditemukan monumen kapal kapal kuno yang dilestarikan.
Al-Hashemi Dhow Dilihat Dari Lantai Atas
Hotel Radisson Blu
Di Kuwait beda sekali dengan Indonesia. Sama sama ngaku ‘Nenek Moyangku Seorang Pelaut‘ tapi di Kuwait banyak dijumpai gambar / monumen berbentuk kapal kuno. Contohnya pada lambang lambang kenegaraan, lambang department / ministry, monumen ditengah kota dan berbagai macam cendera mata. Semua orang di Kuwait termasuk expats pasti tahu, setiap ada acara perpisaham, souvenir yang diberikan pasti maket kapal kuno (Dhow).
Mirip Sekali Dengan Kapal Kuno Beneran
Tapi Tidak Pernah Melaut
Di Souq Sharq kapal kapal kuno terbuat dari kayu tersebut dilestarikan dan diparkir berjejer jejer dengan kapal nelayan modern dan juga yacht pribadi milik warga. Kapal kapal kuno tersebut terbuat dari kayu, lalu kayunya dari mana ?. Saya yakin sekali dari hutan hutan Indonesia.
Idenya Diambil Dari Kapal Beneran
Tapi Karena Buat Ballroom Maka
Dibangun Lebih Besar Dan Mewah
Salah satu monumen kapal kuno di Kuwait namanya Al-Hashemi II. Dibuat atas dasar kebanggaan sebagai cucu cicit keturunan pelaut. Bukan kapal beneran karena seumur hidup tidak pernah berlayar di laut. Rencana pembangunan dimulai tahun 1985 tapi baru benar benar terrealisasi dan mulai dibangun tahun 1997. Total biaya lebih dari 30 Juta USD murni dari kantong pribadi pengusaha besar Kuwait Husain Marafie.
Jendela Jendela Yang Artistik Dan Mahal
Lha Ya Iya Wong Ballroom Hotel
Kapal kayu ini diclaim sebagai kapal kayu yang terbesar dan masuk dalam Guiness Book Of World Records 2002. Judulnya tertulis jelas  ‘DHOW AMAZING‘ bukan ‘The World Largest’ karena tidak terbukti kapal tersebut pernah melaut. Tetapi tetap dapat certificate Guiness juga dengan category “ Ships, largest Arabic dhow“. Tercatat dalam certificatenya bahwa kapal ini mempunyai panjang 80.4 meter dan lebarnya 18.7 meter.

Mewah Dengan Ukiran Bagus
Dhow Asli Mana Ada Yang Semewah Ini
Pembangunannya 100 % di daratan meskipun sebenarnya tidak jauh dari pantai Arabian Gulf yang landai. Kapal Al Hashemi II ini memang dibangun untuk Ballroom Hotel Radisson Blu. Dibangun bersamaan saat pembangunan hotel. Jadi, kegunaannya untuk acara pernikahan, meeting, pameran dan semacamnya. Kalau anda bertanya ke staff hotel, jawabannya sangat heroik tentang sejarah pertempuran laut karena disekitar kapal juga diletakkan puluhan meriam.
Dan saya nggak percaya sama sekali.
Keren Dengan Karpet Dan Lampu Kristal Mahal
Tangga Menghubungkan Geladak Bawah
Percaya Anda Ada Kapal Kuno Secanggih Ini
Mirip Interior Titanic
Di Film Holywood
Klasik, Modern Dan Megah
Ya Jelas Dong Wong Ballroom Hotel Bintang 5
Lebih Mewah Dari Kapal Mewah Titanic
Atau Queen Mary 2, The Riviera Oceania atau Symphony Of The Seas
Dek Atas Memandang Ke Pantai Arabian Gulf
Ada Meriam Seolah Olah Kapal Al-Hashemi
Dulunya Perang ..Ah Mosok
Setir Kapal Besar Sekali
Emang Bener Bisa Berlayar
Semua Dibuat Seperti Kuno

Baca Juga :

 

Lindenhof Kena Gusur

Gang Lindenhof – Potsdam
Mungkin anda sudah terbiasa menyaksikan pedagang, lapak kaki lima atau rumah yang digusur dengan alasan tertentu oleh pemerintah daerah. Sepertinya gusur menggusur itu cuma ada di Indonesia saja. Salah besar kalau anda menganggap penggusuran hanya ada di Indonesia saja. Di Jerman juga ada penggusuran dan saya saksikan sendiri kegelisahan para calon korban penggusuran  saat dapat surat peringatam akan digusur dari pemerintah kota.
Lorong Gang Lindenhof Diantara Toko

Tempat yang akan digusur dan ditertibkan namanya Lindenhof. Lokasinya sangat strategis yaitu di pusat kota Potsdam, Jerman. Lokasi ini selalu ramai dengan turis dari segala penjuru dunia karena dekat dengan Sansoucci Palace. Sebenarnya hanya sebuah gang sempit dengan panjang sekitar 50-75 meter. Isinya lapak lapak PKL dan berbagai macam dagangan seperti layaknya pedagang kaki lima di Indonesia. Ada juga yang agak besar berupa rumah yang diubah menjadi toko cendera mata di ujung jalan.

 

PKL Gang Lindenhof Potsdam
Kebanyakan Jual Barang Murah Dari China
Kira kira hanya ada sekitar 6 – 10 rumah type RSS saja di Gang Lindenhof ini. Ada yang halaman sempit rumahnya disewakan buat pedagang untuk menggelar dagangan. Ada juga yang disewakan untuk warung atau tempat usaha kecil kecilan semacam salon perawatan kuku. Jujur saja, kalau bukan di Jerman saya nggak akan masuk ke gang butut seperti ini. Barang yang dijual hampir semuanya kwalitas murah meriah buatan China semua.

 

Tas Plastik Warna Warni Ala Tanah Abang
Saat saya datang, semua pedagangnya sedang gelisah semua karena baru saja menerima surat peringatan agar mengosongkan gang tersebut dari aktifitas perdagangan. Ada pedagang yang nyerocos ngomong nggak jelas. Untungnya pakai bahasa Jerman jadi saya agak tenang karena tidak tahu artinya meskipun ngoceh didepan saya. Dari ocehannya, yang saya tangkap, mereka resah karena mulai January 2020 tempat ini harus bersih dan tidak ada yang berdagang lagi ditempat ini. Tinggal pilih, mau pindah sendiri sukarela atau diusir paksa.
Aneh, Jaman Serba Internet, Google Dan Email

Masih Ada Yang Jual Postcard

Informasi yang diterima pedagang sepertinya simpang siur. Ada yang mengeluh ‘tidak transparan’ , ‘tanpa perencanaan’, tidak disosialisasikan terlebih dahulu dll. Jadi semua kompak mengatakan tidak ada yang tahu mau dipakai apa tempat ini setelah diusir nantinya, Pemerintah Tata Kota punya catatan sendiri bahwa sosialisasi sudah disampaikan sejak beberapa bulan lalu. Nah Lo….

 

Rumah Diujung Yang Paling Besar Sendiri
Jualan Souvenir Buatan China

Ada pedagang yang memprovokasi juga katanya mau dijadikan hotel, ada juga yang ngompor mau didirikan apartment, Tapi ada juga yang langsung menuding orang orang di City Council pada nggak bener semua.  Pokoknya gaduhnya sama persis dengan kusak kusuk diantara korban penggusuran di Indonesia.

 

Ada Juga PKL Yang Jual Kacamata Murah Meriah
Dari nguping dan tanya jawab dengan pedagang saya jadi tahu juga ternyata para pedagang tersebut menyewa lapaknya bulanan ke landlord pemilik tanah. Sudah beberapa bulan ini si landlord tidak mau menerima uang sewa bulanan tanpa memberi alasan yang bisa diterima oleh pedagang. Tahu tahu muncul surat perintah pengosongan mulai January 2020 dari City Council.

 

Kalau Diphoto Kelihatan Bagus Ya
Sebenarnya Sama Saja Dengan Lapak PKL Di Indonesia
Sekarang sudah bulan February 2020. Saya tidak tahu lagi apakah sudah digusur atau belum para PKL Lindenhof tersebut. Saya coba mencari tahu melalui mbah Google, tampaknya semakin seru karena ada yang protes beberapa kios bertahan tidak mau digusur sama sekali. Alasannya sudah bayar kontrak sewa long term, bukan bayar sewa bulanan seperti PKL yang lain. Jadi minta pengembalian uang sewa yang telah dibayarkan plus uang tolak yang tidak kecil. Tambah runyam.

 

Nggowes Di Circuit Kuwait Motor Town

Main Circuit Dilihat Dari Parking Area
Besar Dan Luas Sekali
Awalnya banyak yang nggak tahu bahwa Kuwait punya Circuit Balap bernama Kuwait Motor Town.  Disamping circuit ini masih termasuk baru, lokasinya juga jauh dari Kuwait City. Kira kira 30 Km dari rumah saya di Egaila. Circuit ini dibuka pertama kali tanggal 28 Mar 2019, hampir setahun yang lalu. Panjangnya 5,608 Km dan punya lisensi FIA Grade One dan FIM Grade A License. Keren kan ?
Latihan Balap Mobil Siang Hari
Sepeda Pagi Hari

 

Designernya keren dan terkenal sebagai designer top circuit FORMULA 1 bernama Hermann Tilke Pekerjaan konstruksinya dibangun oleh KCC Engineering dengan total biaya USD 162 Juta. Kapasitas tribun tempat duduknya mencapai 8000 tempat duduk. Areanya luas sekali, disamping circuit utama, ada juga arena untuk Drag Race, Go Kart Race dan entah apa lagi yang semua masih terlihat baru dan seperti belum pernah dipakai.

 

Latihan Balap Mobil Bayar KD 75
Sepeda Gratis

Sebenarnya wajar kalau saya tidak tahu ada circuit baru karena saya bukan penggemar balapan mobil atau motor. Hobby saya sekeluarga cuman jogging dan sepedaan. Ada banyak club sepeda di Kuwait salah satunya Indonesian Nggowes. Beberapa waktu lalu club Indonesia ini diminta untuk mengisi petisi yang isinya menuntut ke pemerintah Kuwait agar diberi tempat yang aman untuk bersepeda. Sangat beralasan sekali karena seringkali terjadi ollahragawan sepeda ketabrak mobil saat berlatih di jalan raya. Setahu saya ada dua orang Kuwaitis yang ketabrak mobil tahun 2019 saja.

Semua Pesepeda Yang Masuk Circuit
Harus Registrasi Dulu
Civil ID Dan No Emergency Dicatat

 

Usulan para olahragawan sepeda Kuwait ini langsung disambut dengan baik oleh pemerintah Kuwait. Mulai tanggal 20 Dec 2019, pesepeda boleh menggunakan circuit setiap hari Sabtu antara jam 07:00 – 09:00 pagi gratis. Keputusan ini hanya uji coba sampai bulan April 2020 dan akan dievaluasi kembali tergantung seberapa banyak peminat dan antusiasme masyarakat.

 

Pesepeda Diberi Gelang Sebagai
Tanda Telah Terdaftar

 

Berita gembira ini langsung beredar dari mulut ke mulut, dari WA ke WA dan juga disebarkan melalui medsos. Hari pertama sepeda diijinkan masuk circuit belum terlihat banyak yang datang karena hujan rintik rintik. Disamping itu temperatur udara 11 Deg C, sangat dingin sekali. Sabtu minggu kedua lebih dingin lagi karena angin bertiup cukup kencang. Berat sekali nggenjot sepeda melawan angin ditempat terbuka circuit ini.

 

Petunjuk Arah Di Halaman Depan Circuit Utama
Luas Sekali Bro

 

Sukses dibuka untuk umum buat pesepeda, langsung dibuka juga untuk pelari. Acara lari bareng diadakan untuk menyambut pergantian tahun 2019/2020. Bukan pesta pora kembang api tapi jalan kaki dan lari bersama dengan nama keren ‘New Year Running‘. Acara menyambut tahun baru murah meriah tidak bikin macet jalan raya dan tanpa hiruk pikuk musik. Cukup mengumpulkan orang untuk jalan kaki atau lari keliling circuit saja daripada bikin macet jalanan di kota.

 

Rombongan Road Bike
Bisa Melaju Kencang Tanpa Harus Takut Ketabrak Mobil
Sebenarnya Jakarta bisa meniru Kuwait. Setiap tahun baru adakan saja acara lari atau jalan kaki bersama keliling circuit Sentul gratis, pasti kemacetan tahun baru di Jakarta  akan berkurang banyak. Nggak perlu hingar bingar panggung ndangdut, semua orang akan berbondong bondong dengan tujuan sama yaitu Sehat.

 

Dingin Sekali 11 Deg C

 

Aman Bisa Bersepeda Dengan Santai

 

Circuit Lebar Dan Relatif Datar
Cocok Buat Road Bike

 

Ada Banyak Restaurant Tapi Tutup Semua
Pagi Hari

 

Hanya Costa Cofee Yang Buka Sangat Pagi
Tapi Selalu Ngantri Panjang

 

New Year Running 2019/2020

 

New Year Running
Kegiatan Bagus Di Circuit Tanpa
Hingar Bingar Musik Dan Bikin Macet Jalanan
Anggota Indonesian Nggowes Club

Baca Juga :

 

Hotel Backpacker Di Nepal

Tamu Hotel Umumnya Bertujuan Untuk Mendaki Gunung
Jadi Check In/Out Hanya Bawa Ransel Doang
Di Nepal yang namanya Hotel itu beda dengan negara negara lain. Saya baru mengetahui setelah putar putar ke beberapa kota baik di ibukota Kathmandu, Pokhara, Nagarkot maupun Lukla, Ternyata yang namanya Hotel di Nepal itu kalau di Indonesia kira kira setara dengan Losmen. Jarang sekali Hotel sekelas Hotel Bintang 5 saya temukan diseluruh kota di Nepal.

 

Ada 3 Koper Yang Aneh Sendiri Diantara Ransel
Koper Itu Milik Saya
Jadi, saat saya booking online, semua photo tentang fasilitas hotel terlihat begitu bersih dan indah. Nama nama hotel juga banyak yang sangat terkenal bahkan sudah lama saya mengenal nama nama tersebut sebagai Hotel berbintang 5. Sebut saja salah satunya adalah Four Seasons Hotel, ternyata Four Seasons di kota Pokhara Nepal ini adalah Losmen backpacker yang letaknya mblusuk di kampung dan nggak ada hubungannya sama sekali dengan Four Seasons Hotel di negara lain.

 

Hotel Four Seasons Palsu
Di Pokhara
Masih banyak lagi nama nama hotel terkenal bintang 5 yang letaknya mblusuk dikampung, diatas ruko, di gang buntu dll. Kenapa bisa dengan mudahnya njiplak nama hotel terkenal untuk dipakai di losmen losmen butut di seluruh kota di Nepal ? Apa nggak takut dituntut oleh pemilik nama yang sebenarnya ?.

 

Hotel Jampa Ini Di Gang Buntu
Kawasan Thamel Kathmandu
Ternyata. hampir semua turis yang datang ke Nepal itu punya tujuan yang sama yaitu mendaki gunung. Mereka adalah turis yang sering kita sebut sebagai Backpacker. Mereka tidak memerlukan hotel mewah berbintang 5 dengan fasilitas hotel sempurna. Mereka hanya perlu akomodasi apa adanya untuk persiapan mendaki gunung dan bertemu dengan sesama pendaki gunung.

 

Ini Deretan Hotel Diatas Ruko Di Thamel
Hotel Backpacker Semua
Para pendaki dan turis turis backpacker inilah yang sesuka hatinya sendiri memberi nama tempat pondokannya. Mungkin biar bergengsi saat ditilpun istri, keluarga atau media televisi di negaranya saat wawancara live. Biar keren dan bergengsi kalau bisa menyebut nama hotel mewah bintang 5.
‘Ma, saya sudah tiba di kota Nagarkot, baru saja check in di Hotel Hyatt’
 
Rumah Disudut Ini Dijadikan Hotel Backpacker
Namanya Suka Suka Yang Nginap
Haloo Ma, Saya Nginap Di Mercure Hotel

‘Haloo halooo, maaf suara terputus putus. Ini SCTV bisa jelas didengar, Halooo Kathmandu ?’

‘Ya ya, Selamat malam pemirsa di tanah air,  perlu saya sampaikan bahwa Team Merah Putih baru saja selesai check in di Hotel Radisson. Malam ini rombongan pendaki akan istirahat dan baru akan mulai pendakian besok pagi kalau cuaca cerah’
Hotel Terbagus Di Kota Pokhara
Hotel Ini Yang Menginap Umumnya Pengusaha Lokal
Pendaki Gunung Jarang Yang Mau Menginap Di Hotel Ini
Jadi, kira kira seperti itulah berita berita di tanah air kalau sedang acara wawancara live dengan para pendaki gunung di Nepal. Kalau anda datang sendiri ke Nepal, baik di ibukota Kathmandu, atau kota kota lainmya, jangan terkejut kalau bertebaran nama nama hotel bintang 5 tapi lokasinya mblusuk di gang gang sempit diantara ruko di pasar, di kampung kampung atau di gang buntu. Ada yang nama hotel ditulis rapi dan ada juga yang ditulis tangan apa adanya diatas papan. Semua ulah para turis backpacker yang ingin terdengar keren dan bergengsi saat ditilpun dari tanah airnya.

 

Keramaian Kota Pokhara Malam Hari
Kebanyakan Rombongan Pendaki Dari Berbagai Negara

 

Sarapan Pagi Terasa Aneh Sekali
Yang Sarapan Kebanyakan Bajunya Dekil
Nggak Pernah Dicuci Berhari Hari

 

Hotel Di Gang Buntu
Yang Penting Murah Dan Bisa Istirahat

 

Hotel Vaishalli Mblusuk Di Kampung
Ada Tetangga Yang Nyapu Jalan, Jualan Gorengan Dll

 

Hotel Serenity Di Thamel Kathmandu
Lobbynya Jualan Pulsa Telpon Selular Juga

 

Hotel Four Seasons Palsu
Letaknya Mblusuk Di Kampung

 

Bentuknya Seperti Hotel Beneran
Tapi Sebenarnya Apartment Warga Yang Disewakan
Buat Back Packer

 

Banyak Juga Apartment  Penduduk Yang Dijadikan
Hotel Backpacker

 

Hotel Dan Rumah Penduduk
Di Kampung Sempit Dilihat Dari Atap
Hotel White Pearl Pokhara

 

Rumah Yang Disulap Jadi Hotel Di Kathmandu
Namanya Hotel Shimbala

 

Hotel White Pearl Pokhara
Letaknya Di Kampung Menyatu Dengan Warga
Baca Juga :

 

Helicopter Tour Himalaya Nepal

Perjalanan Kebawah Dari Annapurna Base Camp
Dimulai
Mas Ardi dan si kecil Dinda ikut paket tour Trekking 2 Hari 3 Malam ke gunung tertinggi nomor 10 dunia, yaitu Gunung Annapurna (+8091 meter), Himalaya Nepal. Artinya selama dua hari 3 malam tersebut jalan kaki menuju puncak tertinggi. Saya dan Ayu nggak ikut dan lebih baik nunggu di Hotel saja sambil jalan jalan di kota Pokhara.

 

Sherpa Yang Mengawal
Cerita Serem Saat Istirahat
Tapi, hari kedua sekitar jam 8:00 malam, Travel Agent menelpon saya dan memberitahu bahwa mas Ardi dan Dinda terkena Mountain Sick dan saat ini masih di ABC. Mendengar kata ‘Sick‘ tentu saya bingung dan panik. Mountaim dan Sick, bayangan saya artinya Sakit di Gunung. Langsung kacau pikiran saya membayangkan cerita kecelakaan saat pendakian yang sering saya baca dan lihat di koran koran, TV dan film.

 

Harus Mengikuti Aliran Air Untuk Menuju
Base Camp Ke 3 Dibawah
Lebih kacau lagi saya tidak tahu sama sekali dimana itu ABC, Langsung saya datangi Tour Travel yang memberangkatkan suami dan anak saya malam itu juga. Semua pegawai menyambut saya dengan ekspresi cemas dan prihatin. Sesekali menenangkan saya dengan memberi air mineral.
Diberitahu Cara Bertahan Hidup
Seandainya Kemalaman Dan Belum Bisa
Mencapai Base Camp Bawah
Manager Tour Travel dengan wajah serius menawarkan saya untuk menjemput dengan naik helicopter langsung ke ABC. Ternyata, ABC itu singkatan Annapurna Base Camp, sebuah camp terakhir pendakian ke puncak gunung Annapurna. Langsung saya setujui dan saya bayar tanpa harus berpikir panjang. 4 x USD 350 langsung digesek dari kartu kredit saya.
Diminta Selalu Bergerak Supaya Tidak
Kedinginan
Saya harus menunggu sampai pagi hari karena tidak ada penerbangan malam, Meskipun semalaman nggak bisa tidur, akhirnya jam 5 pagi saya dibawa ke Pokhara Airport untuk terbang langsung ke base camp tertinggi ABC. Sama sekali saya tidak bisa menikmati perjalanan, pikiran kacau balau pingin cepat sampai ke Annapurna Base Camp untuk segera bertemu dengan suami dan anak.

 

Saat Saat Paling Menyedihkan Saat
Mendengar Suara Helicopter Tapi Tidak Tampak
Ternyata, suami dan anak saya sehat sehat saja dan malah sedang asyik ngopi dan makan Indomie rebus saat saya datang. ‘Katanya Mountain Sick ?‘. ‘Ya hilang sendiri setelah istirahat dan beradaptasi, kata mas Ardi dengan kalem. Saya baru sadar dikerjain Tour Travel. Manager dan staff yang saya temui kemarin sore berarti sukses jualan Paket Tour Helicopternya hanya dengan sedikit bermain kata dan menunjukkan ekspresi cemas dan prihatin. Mungkin ini yang disebut cara marketing level Harvard.

 

Gila Bener Sherpa Yang Mendampingi
Disuruh Teriak Teriak Sekeras Kerasnya
Nggak Mungkin lah Pilot Helicopter Bisa Dengar
Tidak sampai satu jam di Annapurna Base Camp, gantian saya dan ayu merasa pusing pusing. Helicopter yang mengantar saya ternyata sudah tidak ada, entah terbang kemana lagi. Petugas radio ABC langsung menghubungi emergency dan minta agar diterbangkan helicopter ke ABC segera. ‘ABC may day, ABC.…. 3 Orang mengalami Mountain Sick‘, kata petugas radio. Ternyata yang dimaksud  saya, ayu dan seorang lagi emak emak dari Canada.

 

Paling Sedih Kalau Melihat Helicopter
Tapi Lewat Saja
Satu jam menunggu helicopter nggak datang datang alasannya kabut sudah terlalu tebal, helicopter tidak bisa mendarat lagi untuk menjemput. Satu satunya cara harus turun ke base camp dibawah dan jalan kaki sekitar 2 jam. Tentu saya jadi panik lagi apalagi Ayu sudah mulai muntah muntah.  Mas Ardi dan Dinda langsung saya semprot habis habisan, ngapain ikut Trekking mendaki gunung segala, bikin susah aja,

 

Nah Ini Baru Helicopter Saya Datang
Menjemput
Petugas ABC berusaha menenangkan suasana, katanya 3 orang sherpa akan mendampingi untuk turun ke base camp bawah. Tapi perlengkapan yang dibawa membuat saya semakin tidak tenang. Selain membawa PPPK. juga membawa lampu darurat, tenda, dan entah apa lagi. 2 orang yang membawa barang berat berangkat duluan dan satu orang mendampingi saya sepanjang perjalanan turun.

 

Ternyata Tempat Pendarata Helicopter
Banyak Sekali
Dalam perjalanan turun ini sesekali terdengan suara helicopter, lalu menghilang. Saat terdengar suara helicopter kita disuruh teriak teriak sekuatnya. ‘Pilot Helicopter sedang mencari kita‘ kata si sherpa dengan tenang.  Sedih, lunglai dan ingin menangis rasanya saat suara helicopter terdengar menjauh dan menghilang.

 

Helicopter banyak Yang Melintas Karena
Jumlah Peserta Helicopter Tour Cukup Banyak
Akhirnya terdengar lagi suara helicopter, tapi kali ini helicopternya terlihat. Langsung kita disuruh melambai lambaikan tangan setinggi tingginya agar pilot melihat. Tapi helicopter terlalu tinggi dan melintas begitu saja. Kali ini saya, Ayu, Dinda dan kawan Canada saya benar benar menangis sedih membayangkan bermalam diatas gunung tanpa persiapan apapun.

 

Pilotnya Ugal Ugalan
Meliuk Liuk Diantara Gunung, Menukik Tajam
Bahkan Demo seolah Olah Mau Menabrak Gunung
Doa apapun rasanya sudah saya ucapkan, tapi pertolongan helicopter tidak kunjung datang. Sebentar lagi akan gelap dan dua orang sherpa yang tadi membawa tenda dan perbekalan dan berangkat duluan tidak terlihat sama sekali, entah dimana mereka sekarang. Rasanya, besok pagi saya akan masuk koran dan menjadi berita utama ditanah air karena mati di gunung Annapurna.

 

Ceria Nggak Jadi Jalan Kaki Ke Base Camp 3
Baru saja saya selesai maaf maafan dengan suami dan anak anak, tiba tiba suara helicopter terdengar kembali. Si Pilot langsung tahu posisi kita dan tampak akan mendaratkan helicopternya. Agak curiga saya, kenapa bisa langsung tahu keberadaan kita, kenapa si sherpa langsung mengeluarkan handy talky radio dan memberi aba aba mendarat ?.

 

Rasanya  Mau Nnabrak Gunung
Pilotnya Sengaja Membuat Tegang Penumpang
Ternyata posisi saya berdiri tidak jauh dari landasan mendarat helicopter. Jadi, selama ini saya dikerjain petugas radio, sherpa yang mendampingi saya, sherpa yang bawa perbekalan berat dan tour travel di Pokhara, Jalan kaki turun dari ABC sebenarnya hanya perjalanan menuju ke landasan helicopter dibawah yang didramatisir sedemikian rupa.

 

Inilah Sungai Yang Akan Saya Lewati Menuju Camp
Dibawah Seandainya Helicopter Tidak Datang
Baru kali ini saya ikut tour helicopter yang cukup dramatis, mengaduk aduk perasaan dan emosi sekaligus mendekatkan saya dengan keluarga dan Allah sang pencipta alam dan segala isinya. Saat saya mampir kembali ke Tour Travel di Pokhara, semua staff bertepuk tangan menanyakan kesan kesan ikut Helicopter Tour. Dan saya dijelaskan bahwa semua kejadian yang saya alami memang telah discenariokan untuk membedakan Helicopter Tour dengan rutin penerbangan biasa. Helicopter Tour memang harus dramatis, mendebarkan, mencekam dan membuat peserta tour selalu deg degan dan was was. Semprul tenan, tapi tidak akan pernah saya lupakan.

 

Medan Seperti Ini Helicopternya
Meliuk Liuk Acrobatic Tapi Asyik Juga
Baca Juga :

 

Kuburan Bawah Tanah Perchersk Lavra Kiev

Perchersk Lavra Monastary
Kiev Ukraina

Di Kota Kiev Ukraina ada sebuah komplek bangunan berwarna hijau yang nampak begitu indah terlihat dari atas pesawat saat pesawat yang saya tumpangi mau mendarat. Warnanya begitu kontras perpaduan antara warna hijau, putih, warna emas dan lingkungan alam yang begitu hijau disekitarnya. Lebih indah lagi saat terlihat juga warna biru sungai yang mengalir didekatnya.

 

Indah Terlihat Dari Udara
Sungai Dniper Mengalir Didekatnya

 

Komplek bangunan tersebut ternyata sebuah Monastary (Biara) Kristen Orthodox bernama Perchersk Lavra Monastary dengan sungai Dnieper yang mengalir didekatnyya. Saya ikut ikutan ngantri beli tiket masuk bersama turis turis lain karena Perschersk Lavra ini termasuk 7 Keajaiban Ukraina versi Netizen saat dilakukan voting tanggal 21 Agustus 2007 dan wajib dikunjungi kata resepsionis di hotel tempat saya menginap.

 

Ngantri Beli Tiket
Saat saya tanyakan apa artinya Perchersk Lavra ternyata Perchersk artinya Gua dan Lavra artinya biarawan suci yang paling tinggi derajatnya dibanding yang lainnya. Kira kira kalau memakai istilahnya Pak Ndul semacam ‘Ahlinya Ahli‘, Intinya Inti dan Core Of The Core. Pokoknya tiada bandingnya gitu.

 

Gerbang Masuk Komplek
Monastary Dan Kuburan

 

Ternyata benar, dibawah tanah komplek bangunan ini ternyata banyak lorong lorong sempit dengan lebar hanya 1 meter dan ketinggian sekitar 2 meter.  Di beberapa tempat pengunjung harus berjalan miring kalau berpapasan dan menunduk kalau atap gua terlalu rendah. Lorong lorong gua bawah tanah ini ternyata sebuah pemakaman yang juga sering disebut dengan istilah Catacomb.

 

Gereja Dormition Di Latar Belakang
Museum Dibelakang Saya

 

Isi didalam gua ratusan jasad biarawan yang meninggal ratusan tahun lalu dan beberapa chapels untuk berdoa. Tercatat biarawan yang paling awal dimakamkan adalah Anthony pada tahun 1051.  Menurut keterangan dari para peziarah dan juru kunci makam, semua biarawan yang berada dalam gua tersebut tidak membusuk dan mengeluarkan bau karena kesuciannya.

 

Kalau Di Indonesia Namanya Pesantren
Banyak Anak Anak Dan Remaja Yang Belajar
Agama Dan Tinggal Disini

 

Saya yang ikut berdesak desakan dengan para peziarah memang tidak mencium bau apapun didalam gua. Dan saya lihat sendiri jasad biarawan tersebut masih utuh dalam peti jenasah kaca yang bisa dilihat oleh pengunjung. Cukup gelap tetapi banyak peziarah yang menyalakan lilin saat berdoa didepan jasad para biarawan.

 

Ada Museum Sejarah
Termasuk Reconstruksi Bangunan
Setelah Beberapa Kali Hancur

 

Pada jaman Soviet, jasad para biarawan didalam gua ini tidak ada yang berpakaian layak karena kurang perhatiannya pemerintah Komunis Soviet terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan agama. Tetapi setelah jatuhnya Soviet Union, semua jasad diberi pakaian dan jubah keagamaan yang anggun seperti layaknya pakaian biarawan seperti saat mereka hidup di jamannya.

 

Areanya Sangat Luas Dan
Naik Turun Berbukit Bukit
Sangat Melelahkan
Yang paling menarik berada di komplek Perchersk Lavra ini adalah semua pengunjung wanita harus mengenakan kerudung kepala ‘Hijab/Jilbab’ dan kaki harus tertutup terutama saat memasuki gereja dan ‘madrasah’ tempat anak anak dan remaja digembleng ilmu agama. Semua murid wanita terlihat ceria mengenakan hijab/jilbab berwarna hitam dan pakaian putih saat belajar ditempat ini. Sedangkan pengunjung dipinjami selembar kain ‘jarik’ berwarna hijau untuk menutup kaki agar terlihat sopan.

 

Dormition Church
Bagus Buat Ohoto Photoan

 

Bagian Dalam Dormition Church
Berlapis Emas

 

Banyak Remaja Yang Keluar Masuk Gedung Ini
Kayaknya Asrama Buat Para ‘Santri’
Pinjam Jilbab Dan Jarik Untuk Masuk Ke
‘Madrasah’ dan Gereja
Di Halaman Luar Tidak Wajib Memakai Jilbab

 

Berada Di Area Gereja Harus Menggunakan
Kerudung ‘Hijab’ Dan Pakaian Sopan

 

Hijab Wajib Untuk Masuk Gereja Dan ‘Madrasah’
Baca Juga :

 

Royal Mile Market Edinburgh

Royal Mile Market
Hanya Kumpulan Pedagang Yang Menempati Bangunan Gereja

 

Yang namanya Pasar, kalau di Indonesia itu ukurannya besar sekali dan sudah pasti ramai banyak penjual dan pembeli. Indonesia memang negara yang sangat besar dengan jumlah penduduk yang sangat besar pula. Itulah sebabnya pasar pasar di Indonesia selalu padat. Pedagang dan pembelinya sampai keluar dari area pasar saking ramainya dan sering bikin macet jalan raya pula.

 

Isinya Hanya Beberapa Lapak Pedagang
Kerajinan Tangan Dan Lukisan

 

Di Scotland, Inggris, tepatnya di kota Edinburgh ada sebuah pasar ditengah kota bernama Royal Mile Market. Jangan membayangkan pasarnya sebesar Pasar Tanah Abang atau Pasar Mangga Dua meskipun sama sama ditengah kota. Royal Mile Market ini lebih mirip Bazaar Kampung saat perayaan 17 Agustusan di tanah air. Jumlah pedagangnya bisa dihitung dengan jari dan pengunjungnya juga tidak terlalu banyak. Hampir semua pengunjung turis asing yang terpapar promosi pariwisata, brosur dan ulasan menarik di website.

 

Meskipun Kecil Pasar Ini Dipromosikan
Dengan Kalimat Kalimat Yang Bagus Di Website
Dan Brosur Pariwisata

 

Royal Mile Market ini menempati gedung bekas bangunan gereja. Dinamakan Royal Mile karena letaknya di jalan utama yang panjangnya 1 Mile (1.6 Km) antara Edinburgh Castle dan Holyrood Palace. Ulasan di brosur pariwisata maupun berbagai macam website memang sangat menarik karena lokasinya dikelilingi oleh berbagai macam bangunan tua bergaya Baroque disekitarnya. Tetapi sebenarnya Royal Mile Market ini terlalu kecil untuk disebut Pasar karena hanya kumpulan beberapa pedagang yang menempati bekas gedung gereja.

 

Kaca Kaca Fresco Masih Ada
Menunjukkan Bahwa Pasar Ini Menempati Bekas
Bangunan Gereja
Lapak lapak dagangan yang ada didalam gedung bekas gereja ini sama saja dengan lapak lapak di Pasar Tanah Abang. Dagangan tidak terlalu banyak, umumnya berupa Kerajinan tangan emak emak seperti yang sering kita lihat saat Bazaar 17 Agustusan dikampung. Lukisan dan kerajinan tangan menjahit, menyulam, bordir juga ada. Yang tidak ada hanya penjual kuliner, los daging dan los buah/sayur saja karena pasar ini memang bukan di Indonesia.
Yang Dijual Kebanyakan Lukisan
Kerajinan Tangan Emak Emak Berupa Kalung, Gelang,
Taplak Meja, Bordir Dll

 

Jadi, kalau anda ingin shopping di pasar yang besar, luas dan sangat komplit, saya sarankan untuk shopping di Indonesia saja. Nggak perlu anda jauh jauh shopping sampai ke Scotland. Di Scotland nggak akan bisa anda menemukan pasar yang sangat lengkap menjual kerajinan tangan, lukisan, daging, sayur, buah, kerupuk, beras dan gula yang campur aduk dalam satu pasar besar seperti pasar Tanah Abang di Jakarta.

 

Kalau Di Indonesia Kemungkinan Pasar Seperti Ini Akan
Gulung Tikar Karena Sewa Lapaknya Pasti Mahal

 

Pintu Keluar Masuknya Kecil
Karena Bekas Bangunan Gereja

 

Semua Pengunjung Kebanyakan Turis

 

Sebenarnya Yang Menarik Adalah
Menyaksikan Kaca Fresco Dan Arsitektur
Bangunan

 

Saya Paling Senang Melihat Kerajinan Tangan

Bisa Saya Tiru Dan Saya Buat Sendiri Nanti

Warna Warni Kain Bordir
Kerajinan Emak Emak Scotland

 

Bagus Bagus Semua Kan
Hasil Karya Emak Emak
Baca Juga :