WC Umum Nepal Dan Saudi Arabia

Rest Area Di Jalan Antara Kathmandu – Pokkara

Seandainya benar ‘Kebersihan Adalah Sebagian Dari Iman‘, mestinya Saudi Arabia jauh lebih bersih WC/Toilet Umumnya dibanding dengan negara negara lain. Tapi kenyataannya tidak demikian. WC Umum atau Toilet Umum di Saudi Arabia ternyata yang terjorok di dunia yang pernah saya temui. Berkali kali saya mampir ke WC/Toilet Umum disepanjang jalan Madinah – Mekkah – Jeddah , baik di Rest Area, Pompa Bensin, Restaurant atau Masjid. keadaannya masih sama saja joroknya dari tahun ke tahun sampai saat ini.  Baca link ini Cerita Jorok Dan Vulgar Dari Saudi Arabia.

Kotak Sumbangan Sukarela Dan Antrian
WC Umum Di Rest Area Kathmandu – Pokkara

 

Di Nepal, saya periksa sendiri puluhan WC Umum baik di kota Kathmandu, Pokhara maupun tempat tempat istirahat / Rest Area disepanjang jalan raya antara Kathmandu – Pokhara.  Memang tidak sebersih WC di Hotel atau di Mall tapi saya bisa mengatakan orang Nepal \Jauh Lebih Beriman’ dibanding orang orang yang berada di Saudi Arabia. Di Nepal, saya tidak pernah menemukan ‘Emas Batangan‘ seperti yang sering saya temukan di WC Umum Saudi Arabia.
Deretan WC Umum Yang Bersih
Jauh Lebih Bersih Dibanding Saudi Arabia
Kenapa WC/Toilet Umum di Nepal bisa terjaga kebersihannya dibanding di Saudi Arabia ?  Ternyata, di Nepal cara menjaga kebersihannya mirip sekali dengan di Indonesia. Untuk masuk ke WC Umum semua orang harus bayar Sumbangan Kebersihan. Tata caranya juga sama persis dengan di Indonesia. Setelah selesai buang hajat maka anda akan diminta untuk memasukkan sumbangan sukarela kebersihan. Semua WC Umum ada penjaga kotak sumbangan dan ada juga petugas kebersihan.
Sumbangan Sukarela Ditarik
Saat Akan Meninggalkan Area WC Umum
Sebagai orang Indonesia yang sedang berada di Nepal, rasanya seperti sedang berada di negara sendiri. Tata cara ke kamar kecil nggak ada bedanya sama sekali dengan di tanah air. Bedanya, di Nepal wastafel banyaknya bukan main dan ada dimana mana. Kayaknya, orang Nepal senang sekali mencuci tangan dan membasuh muka. Setiap saat ketemu wastafel langsung mencuci tangan dan membasuh muka, bukan cuma 5 kali sehari seperti kebiasaan orang Saudi Arabia.
Ini WC Umum Tang Lain Lagi
Bersih Dan Jauh Lebih Bersih Dibanding Saudi

Jadi, Kebersihan Adalah Sebagian Dari Iman bukan lagi sekedar slogan bagi orang Nepal tapi sudah menjadi kebiasaan sehari hari. Hal seperti ini tidak saya temukan di Saudi. Coba jawab sejujurnya, pernahkah anda menemukan WC Umum yang benar benar bersih bebas dari ‘emas batangan’  dan tanpa bau pesing di Saudi ???.

Wastafel Ada Dimana Mana
Orang Nepal Suka Cuci Tangan Dan Membasuh Muka

 

WC Umum Dan Wastafel Nepal

 

Wastafel Umum Di Salah Satu Warung Di Pokkara

 

Ngantri Wastafel Di Pokkara
Kebersihan Sebagian Dari Iman Orang Nepal

 

Wastafel Lagi
Lagi Lagi Wastafel
Kotak Sumbangan Sukarela
Diantara Wastafel Buat Pengguna Wastafel
Kotak Sampah, Wastafel Di Rest Area Pokkara
Orang Nepal Lebih Ngerti Kebersihan Dibanding Saudi

 

Advertisements

Bemo Kota Kathmandu

Jalan Protokol Kota Kathmandu Banyak Yang
Tidak Beraspal Dan Becek Kalau Hujan

 

Di Indonesia saat ini Bemo sudah bisa dikatakan punah. Terakhir saya menyaksikan bemo sekitar 7 tahun lalu didekat Hotel Le Meridien Jakarta, tapi sekarang sudah jarang dan mungkin tidak terlihat lagi. Di Surabaya, Bemo pernah menjadi raja jalanan dan merupakan angkutan umum yang saya pakai sehari hari untuk berangkat dan pulang sekolah. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi juga.
Bemo, Angkot Maupun Bus Kota Semuanya
Bebas Berhenti Menaikkan Penumpang Dimana Saja

Rasa rindu untuk menyaksikan Bemo dan mendengarkan suaranya yang berisik ini sedikit terobati ketika saya berkunjung ke Kathmandu, Nepal. Bentuk Bemo di Nepal memang sedikit berbeda dengan di Indonesia meskipun sama sama beroda 3. Secara umum Bemo di Indonesia lebih bagus buatannya dan juga mesinnya.

Hampir Semua Windshield Depan Bemo
Kacanya Lurus. Ini Kaca Mobil Atau Kaca Jendela Rumah

 

Kalau kita telusuri lebih dalam lagi, ternyata Bemo di Indonesia itu build up dan diimport langsung dari Jepang dan merknya Daihatsu Midget. Sedangkan Bemo di Kathmandu diimport dari India dengan merk Bajaj. Keduanya sama sama berisik karena mesinnya 2 Tak, ada oli samping untuk campuran bahan bakar dan sudah tentu knalpotnya selalu berasap.

 

Sudah Penuh Tetap Saja Menaikkan
Penumpang, Ya Jelas Harus Bergelantungan

 

Tapi, Bemo Daihatsu Midget yang beredar di Indonesia itu diproduksi antara tahun 1957-1972. Jadi sangat wajar kalau tehnologinya masih kuno. Sedangkan Bemo Bajaj di Kathmandu semuanya produksi ‘Jaman Now’ atau ‘Jaman Millenial’ seperti sekarang ini, tapi tehnologi karoserinya masih ndeso. Semua body Bemo Kathmandu masih dilas pakai las karbit, dikethok pakai tangan dan didempul sangat tebal sekali. Sepertinya belum ada tehnologi ‘Full Pressed Body‘ untuk Bemo di negara pembuatnya India dan juga di Nepal.

 

Terminal Bayangan
Bebas Ngetem Nunggu Penumpang Penuh Dimana Saja

 

Kebanyakan Bemo Bajaj yang lalu lalang didepan saya tehnologi pembuatan kacanya juga masih ‘Jadul’. Semua kaca jendela samping dan windshield depan jarang yang terlihat melengkung. Mungkin kacanya bukan jenis ‘Temperred Glass’ juga tapi kaca jendela rumah biasa. Kayaknya kaca lengkung masih termasuk barang langka dan mahal untuk Bemo Bajaj. Kalaupun ada yang windshield depannya melengkung, biasanya sudah di karoseri ulang atau tahun keluaran terbaru.
Tidak Ada Marka Jalan
Bemo, Angkot, Sepeda, Bus Kota Jadi Satu

 

Cara naik dan turunnya sama persis dengan di Indonesia. Cukup melambaikan tangan dimana saja. Bemo Kathmandu bebas berhenti dimana saja ada penumpang melambaikan tangan. Terminal khusus bemo atau angkutan umum tidak terlihat sama sekali tetapi Terminal Bayangan banyak sekali. Dimana mana banyak terlihat bemo yang ngetem berderet deret nunggu penumpang.

 

Jalan Banyak Yang Berlubang Dan Tergenang Air
Ini Ibukota Negara Nepal

 

Meskipun penumpang sudah penuh, sopir Bemo Kathmandu masih terus saja menaikkan penumpang ditengah jalan, Jadi penumpang bergelantungan juga banyak terlihat di kota Kathmandu. Baik penumpang Bemo, Angkot maupun Bus Kota semua ceria bergelantungan, yang penting bisa nyampai ke tujuan.
Gimana bro, enak di Jakarta kan bisa naik Bus Way, Trans Jakarta Feeder Bus, MRT ?. Baik di Nepal maupun India naik transportasi umum memang harus sengsara.

 

Jalan Di Kota Kathmandu Banyak Yang Becek
Karena Tidak Beraspal

 

Penumpang Bisa Turun Ditengah Jalan
Bikin Macet Cuek Aja

 

Semua Kendaraan Berjubel Di Pusat Kota Kathmandu

 

Ngetem Lagi, Capek Deh

Baca Juga :

 

Darius Dan Donna Agnesia Sepeda Motoran Di Himalaya

Bersepeda Motor Di Kathmandu
Pembonceng Bebas Tanpa Helm Dan Jalan Tidak Beraspal.

Saya sering pusing melihat cara berlalu lintas para pengendara sepeda motor di Jakarta. Tapi saya langsung bersyukur ketika saya membandingkan dengan cara bersepeda motor orang India di New Delhi dan kota lain sekitar Jaipur. Pengendara sepeda motor di Indonesia ternyata lebih baik, sopan dan beradab saat berlalu lintas di jalan raya dibanding pengendara sepeda motor di India.

Kira Kira Seperti Inilah Darius Sinathrya Kalau
Bersepeda Motor Di Himalaya

Lebih bersyukur lagi saat saya menyaksikan cara berlalu lintas pengendara sepeda motor di Kathmandu, Nepal dan kota kota lain disekitar Himalaya. Di Kota Kathmandu, cara orang Nepal bersepeda motor ternyata sangat amburadul, nyaris tanpa peraturan berlalu lintas sama sekali. Dari jalan jalan raya yang saya saksikan di Kathmandu dan sekitar Himalaya ini saya jadi terheran heran ketika mendengar berita ada orang Indonesia yang mau bersepeda motor ke  Himalaya.

Jarang Sekali Terlihat Tanda Larangan Berbelok,
Berhenti Atau Tanda Lalu Lintas Lain

Lampu pengatur lalu lintas nyaris tidak ada, hanya satu buah saja yang saya temukan diseluruh kota Kathmandu. Itupun rusak saat saya melintas di perempatan tersebut. Tetapi Polisi pengatur lalu lintas banyak saya temui berdiri di setiap perempatan jalan untuk mengatur lalu lintas dengan isyarat tangan seperti Jakarta jaman baheula sekitar tahun 1970an. Luar biasa kuno dan ndeso seperti kehidupan di jaman purbakala.

Berhenti Ditengah Jalan Ngobrol Dulu
Sambil Menunggu Teman Yang Ketinggalan Dibelakang.
Pengendara sepeda motor semuanya tidak ada yang tertib berlalu lintas. Banyak sekali yang terus melaju mengabaikan isyarat tangan tanda STOP dari polisi. Celakanya, hampir semua polisi tidak dilengkapi sepeda motor dinas untuk mengejar pelanggar lalu lintas. Jadi paling banter pak Polisi hanya bisa teriak teriak saja kalau ada pelanggaran. Kalau saya terjemahkan kedalam bahasa Indonesia, kemungkinan kosakata yang keluar dari mulut polisi adalah ‘Jancuk’, ‘Asu’, ‘Anjing Loe’, ‘Maling’, ‘Jambret; ‘Bajingan’, ‘PKI’  dsb. Coba tanyakan sendiri artinya ke orang Nepal.

 

Sepeda Motor Ini Berdesak Desakan Mau Belok
Kanan, Tidak Ada Rambu Lalu Lintas Sama Sekali

 

Marka jalan juga susah ditemukan di jalanan kota Kathmandu dan jalan jalan lain sekitar pegunungan Himalaya. Gimana bisa ngecat marka jalan kalau jalan rayanya saja tidak beraspal ?. Beda sekali dengan Jakarta, kota Kathmandu meskipun ibukota negara tapi masih banyak jalan yang tidak beraspal. Jadi sangat wajar kalau sepeda motor sangat semrawut di kota ini. Kota kota lain di Himalaya semuanya sama saja juga.

 

Sepeda Motor Di Nepal Semua Buatan India
Kalau Darius/Donna Agnesia Pakai Honda, Yamaha
Bisa Saya Pastikan Dishooting Di Studio Indonesia

 

Masih ingat kan, bulan mei lalu Liputan6, Otomotif dan TV ditanah air gaduhnya bukan main karena ada aktor/aktris Darius Sinathrya dan Donna Agnessia mau bersepeda motor ke Himalaya bulan July/Agustus tahun ini.  Katanya mau difilmkan juga dengan judul Himalayan Ridge ?.  Mulai persiapannya, sepeda motornya sampai hal hal sekecil apapun diulas tuntas oleh Media Infotainment apapun di tanah air. Ini contoh link beritanya : Darius Sinathrya dan Donna Agnessia Bersepeda Motor Di Himalaya.
Nggak Ada Motor Besar Di Himalaya
Kalau Darius/Donna Pakai Motor Besar
Saya Pastikan Shootingnya Di Indonesia

Jangan sekali kali terkagum kagum dengan omongan si Darius/Donna Agnessia dan ulasan media di Indonesia. Si Darius/Donna Agnessia nanti nggak akan bisa ngebut dengan sepeda motornya di Himalaya. Jalan raya di Indonesia jauh lebih baik, beraspal semua, ada marka jalan dan tanda lalu lintas yang jauh lebih lengkap. Nggak ada apa apanya jalan dan lalu lintas di Himalaya apabila dibandingkan dengan jalan kampung di Klaten atau Boyolali. Kalau di filmnya nanti terlihat jalanan bagus dan mulus, itu dibuat di studio atau di jalan raya yang kebetulan baru saja selesai diaspal.

 

Pemandangan Di Kota Kota Sekitar Himalaya
Kumuh Seandainya  Film Darius/Donna Agnesia
Terlihat Mewah Berarti Shooting Di Indonesia

Biarkan saja si Darius dan  Donna Agnessia ngoceh pengalamannya bersepeda motor disekitar Himalaya. Saya yakin sekali si aktor dan aktris ini akan ber’acting’  juga seperti layaknya saat dia bermain sinetron. Jalan raya bergelombang dan tidak beraspal akan dikatakan halus mulus. Perjalanan hanya kuat satu jam bersepeda motor akan dikatakan nonstop 8 jam tanpa istirahat di jalanan yang lebar dan mulus. Aktor memang perlu sensasi untuk tetap terkenal, tapi pemirsa jangan sampai tertipu dengan gombalan aktor dan aktris.

Ini Kota Kathmandu, Sama Saja Dengan Kota Lain Di Himalaya
Kalau Pemandangab Kota Di Sinetron Himalayan Ridge Beda
Berarti Shootingnya Bukan Di Himalaya

 

Jalanan Di Himalaya Macet Seperti Ini
Kalau Sinetron Darius/Donna Agnesia Jalanan Lancar
Berarti Shootingnya Bukan Di Himalaya

 

Perempatan Jalan Di Kathmandu Dan Kota Kota Sekitar Himalaya
Selalu Ruwet, Kalau Sinetron Darius/Donna Agnesia Ada Lampu Pengatur
Lalu Lintas Berarti Shootingnya Bukan Di Himalaya

 

Film Himalayan Ridge Dengan Bintang Utama
Darius dan Donna Agnessia Nanti Perkiraan Seperti Ini

 

Sinetron Himalayan Ridge Nanti Ada Darius Dan
Donna Agnessia Di Photo Diatas

 

Saya Heran Dengan Darius Dan Donna Agnesia
Negara Sendiri Lebih Bagus Kenapa Shooting Di Himalaya

 

Pemandangan Kayak Gini Kan Ada Juga Di Jakarta
Kenapa Susah Payah Bikin Film Di Himalaya

Baca Juga :

 

Bus Kota Kathmandu

Penumpang Bus Kota Di Kathmandu
Kaca Dibuka Karena Tanpa AC

Jakarta pernah punya bus butut tapi sangat legendaris PPD, Kopaja dan Metromini yang beroperasi sekitar tahun 1971 sampai 2015. Saking bututnya, kalau jalanpun seringkali mereng mereng karena penumpang bergelantungan dipintu. Tidak ada ACnya tapi sangat dibutuhkan oleh masyarakat Jakarta karena tidak ada pilihan lain yang lebih bagus. Beruntung saat ini sudah tidak terlihat lagi bus kota yang butut dan reot di Jakarta.

 

Lalu Lintas Kota Kathmandu Semrawut
Tidak Ada Pembatas Jalur Sepeda, Jalur Bus Dan Kendaraan Pribadi

 

Suasana seperti di Jakarta jaman bus PPD, Kopaja dan Metromini jadi raja jalanan ini bisa kita saksikan di Kathmandu, Nepal saat ini. Rasanya, pingin sekali saya sujud syukur sampai ndelosor ketanah kalau membayangkan kemajuan Jakarta dan kota kota lain di Indonesia saat ini. Pemandangan transportasi umum yang saya saksikan saat ini di Kathmandu tidak jauh berbeda dengan apa yang saya saksikan di New Delhi, Agra, Jaipur, Udaipur di India.

 

Tidak Ada Halte Resmi Buat Menaikkan/Menurunkan Penumpang
Semua Bus Bebas Berhenti Dan Ngetem Dimana Saja

 

Semua bus kota yang berkeliaran di Nepal memang buatan India. Merk busnya diantaranya Mahindra, Tata, Eicher, Ashok dan lain lain. Kalau di Indonesia barangkali merk bus produksi bengkel ‘Las Bubut Dan Kenteng‘ atau bengkel ‘Ahli Bikin Pagar Dan Teralis‘. Tidak bisa saya sejajarkan sama sekali dengan perusahaan Karoseri di Indonesia karena produk Karoseri Bus di Indonesia terlalu bagus apabila dibandingkan dengan bus buatan India.

 

Tidak Ada Seragam Warna Bus
Semua Pengusaha Bus Bebas Mewarnai Busnya

Mesin bus di Kathmandu Nepal sangat berisik dan berasap. Kira kira suaranya tidak jauh berbeda dengan suara Bajaj buatan India yang juga pernah berjaya di Jakarta. Sekali lagi pingin sekali saya ndelosor ndelosor ditanah untuk sujud syukur karena bus di Indonesia yang sering saya naiki mesinnya Mercedez Bens.

 

Kelakuan Sopir Bus Kathmandu Sama Persis
Dengan Sopir Metromini Jakarta
Kejar Kejaran Berebut Penumpang
Saya bisa rasakan, naik bus kota di Kathmandu hari ini jauh lebih sengsara dibanding dengan naik Metromini, Kopaja maupun PPD tahun 1980an. Kalau ngetem nunggu penumpang penuh lamanya bukan main dan berkeringat. Kalau kejar kejaran cari penumpang bisa tiba tiba ngerem mendadak menghindari tabrakan dengan sepeda motor yang tiba tiba nyelonong didepan bus.
Ngetem Didepan Pasar
Lamanya Bukan Main Untuk Jarak Beberapa Km Saja

 

Saya nggak tahu sama sekali bahasa setempat, tapi umpatan semacam Jancuk’, ‘Matamu Picek’, ‘Nggak Punya Otak’, ‘Pingin Mati Ya’ dll seringkali terdengar baik diucapkan oleh sopir bus, kenek, kondektur atau pengendara sepeda motor yang mau ketabrak bus.

 

Di Kathmandu Juga Ada Yang Jual Es Jeruk Dan
Es Teh Asongan Disodorkan Ke Penumpang Dari Jendela
Yang paling sial kalau kalau bus melakukan pelanggaran lalu lintas. Saya dengar sopir dan polisi debatnya lama sekali dan penumpang dibiarkan kepanasan diatas bus yang tanpa AC. Dari pembicaraan yang saya dengar, sepertinya si sopir tidak merasa melanggar lalu lintas dan si polisi ngotot terjadi pelanggaran lalu lintas. Saya yang nguping disebelahnya sebenarnya bingung juga, yang dilanggar sebenarnya apa.
Angkutan Kota Made In India
Bengkel Las Pagar Bikin Usaha Sambilan Membuat Bus
Merknya Macam Macam

Di Kathmandu secara umum bisa saya katakan tidak ada Traffic Light (hanya ada satu saja itupun mati).  Tidak ada juga marka jalan atau pembatas antara jalur sepeda motor, jalur pejalan kaki, jalur bus dan jalur kendaraan pribadi. Tanda ‘STOP’ dan larangan parkir juga tidak terlihat sama sekali.

Bus Merk Mahindra
Karoseri India Tehnologinya Sangat Kadaluarsa

Jadi, seandainya saya yang jadi sopirnya, sudah tentu saya akan bingung juga. Kalau tiba tiba dihentikan polisi dan harus bayar ‘cepek’ kan lama lama bisa bangkrut juga. Saya perhatikan banyak juga polisi yang terima ‘cepek’ saat mengatur angkot dan bus umum.

 

Bus India Merk Eicher
Sama Saja Dengan Karoseri Bengkel Las

 

Ruwet, Sepeda Motor Dan Bus Berjubel
Setiap Hari Di Jalanan Kathmandu

 

Bus Merk Tata Dari India
Jauh Bedanya Dengan Buatan Karoseri Di Indonesia

 

Tidak Ada Lampu Pengatur Lalu Lintas Di
Kota Kathmandu

 

Polisi Kathmandu Pening Mengatur Lalu Lintas
Karena Tidak Ada Traffic Light Dan Pembatas Jalan

 

Polisi Di Kathmandu Nunggu Kendaraan
Melakukan Pelanggaran

 

Berhenti, Artinya Harus Kasih Duit Ke Polisi

Baca Juga :

 

Keliling Kathmandu Naik Angkot

Angkot Kathmandu Warnanya Biru
Sama Persis Dengan Angkot Di Kampung Melayu Jakarta

 

Wajah orang Nepal itu nggak ada bedanya dengan orang Indonesia. Warna kulitnya sawo matang, raut wajahnya dan tinggi badannya sama persis dengan orang Indonesia. Konon katanya Orang Indonesia itu berasal dari ras yang sama dengan orang Nepal yaitu Mongoloid. Pasport orang Nepal juga sama dengan orang Indonesia yaitu berwarna Hijau. Lalu kelakuannya bagaimana ? Apakah sama juga dengan orang Indonesia ? Betul sekali, kelakuannya benar benar sama dengan orang Indonesia. Terlihat jelas saat di jalan raya.

 

Kelakuan Sopir Angkot Kathmandu Sama Saja
Putar Balik Sembarangan

 

Akan saya tuliskan secara berseri dalam blog ini semua kemiripannya dengan orang Indonesia. Kita mulai dengan kelakuan dan tingkah polah Sopir Angkot Kathmandu saja dulu. Angkutan Kota (Angkot) kota Kathmandu warnanya biru muda seperti yang sering kita jumpai mondar mandir di Jakarta. Kalau saya perhatikan, angkot Nepal kelakuannya amburadul juga. Suka seenaknya berhenti sembarangan untuk menaikkan atau menurunkan penumpang.
Polisi Sibuk Menertibkan Angkot Yang
Berhenti Sembarangan Dan Ngetem Cari Penumpang

 

Putar Balik sesukanya. Ngetem cari penumpang juga seenaknya dan tidak peduli angkotnya mengganggu pemakai jalan lain. Seringkali kejar kejaran berebut penumpang. Kalau penumpangnya terlalu sedikit dengan gampangnya dioper ke angkot lain. Untuk berhenti, caranya juga sama persis dengan di Jakarta yaitu cukup dengan cara mengetuk atap angkot tiga kali. Tok tok tok, angkot langsung menepi. Bayar ongkosnya sama persis dengan di Indonesia, cukup sodorkan uang ke pak sopir dari belakang saat kita mau turun.

 

Meskipun Jalan Padat Sepeda Motor
Angkot Berhenti Seenaknya Ditengah Jalan

 

Karena sopir dan penumpang angkot sama persis wajah dan postur tubuhnya dengan orang Indonesia, maka saya mencoba menghentikan angkot dengan cara berteriak ‘KIRI, KIRI…..KIRI!!!‘. Ternyata teriakan saya membuat semua penumpang terkejut dan melongo heran. Mereka sepertinya dari tadi tidak menyadari bahwa ada penumpang orang asing dari Indonesia di angkotnya.
Angkot Ini Bikin Macet Karena Berhenti Ditengah
Jalan Untuk Menaikkan Penumpang
Tapi mereka rupanya tahu maksud saya teriak ‘KIRI, KIRI…..KIRI‘. Langsung atap angkot diketok tiga kali, tok, tok…..tok dan angkot berhenti ditengah jalan.
Minggir sedikit kenapa sih pak sopir ?
Pak sopirnya diam saja, ternyata pak sopir nggak bisa Bahasa Indonesia sama sekali.
Kalau Bayar Cukup Disodorkan Ke
Pak Sopir Dari Belakang

 

Kiri, Kiri, Kiri
Pak Sopir Nggak Ngerti Artinya

 

Tok Tok Tok Atap Angkot Diketok
Ternyata Kodenya Sama Dengan Angkot Jakarta

Baca Juga :

 

Pengalaman Above The Summit Of Mt Everest

Ini Pemandangan Dari Atas Puncak Tertinggi
Dunia Di Himalaya

 

Saya sudah menceritakan pengalaman saya saat mendaki gunung Annapurna 1, tertinggi nomor 10 di dunia. Baca : Mendaki Gunung Jaman Now Di Everest Dan Himalaya. Kali ini saya ajak anda untuk mengikuti pengalaman saya yang lain saat melakukan ‘Hattrickdiatas‘ lebih dari 10 puncak gunung tertinggi dunia dalam waktu tidak lebih dari 1.5 jam. Semua bisa saya atasi dengan mudah dan cepat.
Ini Antrian Menuju Puncak Tertinggi Dunia
Saya Diatasnya Puncak Tertinggi Dunia

Sepi tanpa gembar gembor pemberitaan media. Emak emak dari Indonesia berhasil ‘diatas‘ Mt Everest (no 1: 8848 m),  Kangchenjunga (no 3: 8586 m), Lhotse (no 4: 8516 m), Makalu (no 5: 8485 m), Cho Oyu (no 6: 8188 m), Dhaulagiri 1 (no 7: 8167 m), Manaslu (no 8: 8163 m), Nanga Parbat (no 9: 8126 m), Annapurna 1 (no 10: 8091 m) dan masih banyak lagi hanya dalam waktu 1.5 jam.

 

Ini Juga Antrian Menuju Puncak Tertinggi Dunia Yang
Didramatisir Media Di Indonesia Kompas

 

Berawal saat saya jalan jalan sore, saya tertarik untuk mampir ke salah satu Tour And Travel Agent di Kathmandu dekat hotel tempat saya menginap. Banyak sekali brosur dan promosi pariwisata dengan slogan slogan yang menarik. Contohnya Experience Everest. Ada juga yang cukup menggelitik misalnya dengan embel embel Above The Peak, Above The Height dan Above The Summit yang artinya sama saja yaitu Diatas Puncak Tertinggi.
Nah Ini Turis Yang Berbondong Bondong Mendaki Naik
Keatas Gunung. Semua Gembira Ceria Bersama Pemandu

 

Ternyata slogan slogan iklan tersebut adalah promosi Mountain Flight, yaitu terbang ‘diatas‘ puncak tertinggi dunia. Banyak sekali pesawat domestic yang punya jadwal rutin setiap hari melayani turis pemalas tidak mau mendaki tapi pingin merasakan berada dipuncak tertinggi dunia. Sebut saja misalnya Boudha Airlines, Yeti Airlines, Shree Airlines dan lain lain.

 

Semua Pendaki Mountain Flight Diberi Kesempatan
Melihat Pemandangan Dari Cockpit

 

Saya pilih Shree Airlines karena harga tiketnya agak miring dibanding yang lain. Ternyata, semakin kecil pesawat harga tiket semakin mahal karena pesawat lebih lincah bisa meliuk liuk di lembah diantara gunung dan bisa terbang lebih rendah. Shree Airline yang saya pilih pesawatnya cukup besar dengan tempat duduk dua disebelah kiri dan dua disebelah kanan. Tetapi penumpangnya hanya separuh karena tempat duduk yang dijual hanya yang disebelah jendela (Window Seat) saja. Aisle Seat dibiarkan kosong karena nggak bisa melihat pemandangan diluar dari jendela.

 

Semua Penumpang Duduk Dekat Jendela
Aisle Seat Dibiarkan Kosong

 

Berbeda dengan naik pesawat pada umumnya, naik Mountain Flight ini aturannya tidak begitu ketat. Selain bisa menikmati pemandangan diatas gunung dari jendela, ‘pendaki‘ yang menggunakan Mountain Flight ini juga diberi kesempatan untuk melihat pemandangan dari cockpit pesawat. Cuma waktunya diatur dan dibatasi supaya semua penumpang punya kesempatan yang sama bisa masuk ke cockpit satu persatu untuk melihat pemandangan atau sekedar bertanya dan photo photoan dengan pilot/co pilot.

 

Penumpang Bebas Mondar Mandir Sesukanya

 

Sebagai bukti bahwa kita sudah berhasil berada ‘diatas‘ puncak tertinggi dunia maka masing masing penumpang mendapat Certificate Of Completion dengan tanda tangan Pilot dan Co Pilot. Tulisan dalam sertifikat bisa milih ‘Above The Summit Of Everest‘, ‘Above The Height Of 10 Highest Mountain In The Earth‘, ‘Above The Peak Of The Deadly Mountain‘, ‘Experience Everest‘ dan lain lain. Rasanya puas sekali kita dapat pengakuan berupa sertifikat pernah berada 1000 meter diatas puncaknya Everest dan puluhan gunung tertinggi lainnya dalam waktu 1.5 Jam saja.

 

Suasana ‘Pendaki’ Pemalas Tidak Mau Susah
Tapi Pingin Melihat Puncak Gunung Tertinggi Dunia

 

Sertifikat Bukti Authentic Pernah
1000 Meter Diatas Puncak Everest

 

Emak Emak Indonesia Pernah ‘Diatas’ Puncak Everest
Tanpa Gembar Gembor Pemberitaan Di Tanah Air

 

Sertifikat ‘Above The Height’, ‘Above The Peak’ Dan
‘Above The Summit’. Memang Kita Berhasil Berada
Jauh Tinggi Diatas Puncak Tertinggi Dunia Everest

 

Ini Contoh Sertifikat Yang Ditanda Tangani Pilot
Namanya Kosong Silahkan Isi Sendiri

Baca Juga :

 

Nonton Bakar Jenasah Di Kathmandu

Jenasah Ditandu Setelah Disholatkan
Didalam Temple

 

Saya diajak melayat orang meninggal, tetangga didekat hotel tempat saya menginap di Kathmandu yang sebenarnya tidak saya kenal sama sekali. Sebenarnya iseng saja meng’iya’kan karena pingin tahu seperti apa prosesi/upacara di rumah duka. Tapi, berada diantara keluarga dan pelayat yang sedang berduka membuat saya terus mengikuti rombongan sampai seluruh prosesi pemakaman selesai. Saya terjebak oleh ulah sendiri, tidak bisa pamit untuk meninggalkan prosesi pemakaman begitu saja.

 

Pasuphatinath Temple Sangat Besar Dan Luas
Untuk Ibadah Dan Untuk Kremasi Jenasah

 

Langkah saya terhenti ketika jenasah mulai diturunkan disebuah bangunan tempat ibadah, lokasinya tidak begitu jauh dari hotel tempat saya menginap. Nama tempat ini baru saya ketahui belakangan setelah saya kembali ke hotel, yaitu Pasuphatinath Temple dan sungai yang mengalir dibelakangnya adalah sungai suci umat Hindu di Nepal namanya Bagmati River.

 

Hanya Keluarga Yang Memandikan Jenasah

 

Rasanya Plong ditempat ini, saya bisa mengeluarkan camera dan mulai jeprat jepret dari seberang sungai Bagmati. Sepertinya hanya keluarga dan saudara dekat saja yang boleh mengikuti prosesi didalam temple, memandikan jenasah dan mulai prosesi kremasi. Jenasah nampak ditandu oleh beberapa orang dan diletakkan dipapan dengan posisi kaki hampir menyentuh permukaan air sungai. Mungkin sebelumnya disholatkan terlebih dahulu didalam temple.

 

Jenasah akan Diletakkan Di Papan Untuk
Dimandikan

 

Setelah itu jenasah nampak mulai disucikan / dimandikan dengan air sungai yang menurut saya airnya terlihat dekil, coklat dan banyak sampah disepanjang sungai. Acara memandikan selesai selanjutnya jenasah ditandu kembali untuk dibawa ke tempat pembakaran jenasah. Ada sekitar 10 tempat pembakaran jenasah terbuka berupa bangunan beton berukuran sekitar 3 x 4 meter yang berdiri ditepi sungai.

 

Jenasah Siap Dimandikan

 

Jenasah diletakkan diatas tumpukan kayu yang dihiasi oleh bunga bunga berwarna orange. Entah berapa jam jenasah bisa terbakar seluruhnya dan berubah menjadi abu. Yang jelas saat pembakaran jenasah seluruh keluarga menyaksikan dari jarak sekitar 10 meter dan disediakan tempat duduk khusus untuk keluarga yang sedang berduka,

 

Sungai Suci Tetapi Sampah Sampai Abu Jenasah
Semua Dibuang Di Sungai

 

Selesai prosesi pembakaran jenasah, terlihat abu jenasah ditaburkan ke sungai oleh seluruh keluarga yang ditinggalkan. Setelah itu terlihat masing masing anggota keluarga membasuh tangannya dengan air suci sungai Bagmati dan mencuci muka. Saya tidak tahu sama sekali maksud dari ritual ini. Yang jelas baru pertama kali ini saya menyaksikan upacara pembakaran jenasah secara terbuka dan terlihat jelas jenasah yang sedang terbakar. Jangan tanya aromanya, sampai hari inipun saya masih kesulitan untuk melupakan.

 

Ada 10 Atau Lebih Tempat Pembakaran Jenasah
Tempat Pembakaran Jenasah Berupa
Beton Dipinggir Sungai

 

Keluarga Duduk Dibelakang Saat Pembakaran Jenasah

 

 

Air Sungai Bagmati Berwarna Coklat
Tidak Mengalir Dan Kotor

 

Tempat Jenasah Diletakkan Saat Pembakaran
Kayunya Tidak Banyak

 

Jenasah Datang Dan Siap
Diletakkan Diatas Kayu Pembakaran

 

Mobil Jenasah

 

Pedagang Jual Bunga

 

Seluruh Area Pasupatinath Temple Masuk
UNESCO World Heritage

Baca Juga :