Category Archives: Uni Arab Emirates

Indonesia Kecil Di Terminal 3 Dubai Airport

Setiap kali saya pulang ke Jakarta, setiap kali itu pula saya memilih penerbangan yang transit dulu ke Dubai. Pasalnya kalau langsung Kuwait-Jakarta tanpa transit aduh capeknya bukan main….10 Jam harus duduk di pesawat. Ada rasa bangga saat kita bisa bertemu dengan banyak sekali orang Indonesia di luar negeri, terutama dengan mbak mbak yang sukses mencari devisa buat Indonesia. Hampir seluruhnya wanita, jadi bisa ditebak betapa gaduhnya Gate Keberangkatan menuju Jakarta di Dubai Airport. Philipine juga banyak mengirim tenaga kerja ke Timur Tengah tetapi perbandingan antara wanita dan pria cukup seimbang. Sedangkan negeri kita Indonesia, tenaga kerja yang ngganteng ngganteng paling banter hanya yang terpampang diphoto photo dibawah/samping ini saja. Perhatikan ekspresinya, sumringah ditengah mbak Sri, mbak Ningsih dan mbak Nur  yang cantik jelita.
Di Terminal 3 Dubai Airport, terutama disekitar gate keberangkatan pesawat apapun dengan penerbangan ke Indonesia, kita bisa mendengarkan kisah kisah sukses mereka. Kadang kadang terdengar juga beberapa kisah kisah menyedihkan tetapi seringkali kalah meriah dengan keceriaan cerita sukses dinegeri orang. Terminal 3 Dubai Airport benar benar menjadi milik Indonesia, bagaikan Indonesia kecil tempat mereka bertemu kawan lama dan mencurahkan seluruh isi hati. Yang sukses, kalau bicara entah sengaja atau tidak sengaja dimirip miripkan dengan aktris sinetron Claudia Cynthia. Setiap mengucapkan satu kalimat selalu disisipkan satu atau dua kata bahasa Inggris dan lidahnya dibuat sedikit cedal. Kadang kadang lupa,  muncul logat Jawa,Sunda,Madura atau Batak yang sangat medok sekali.
Saya senang sekali melihat dan mendengar kisah sukses mereka,  wanita wanita perkasa dan sukses ini memang sangat energik dan gesit mondar mandir di Terminal 3 dan berbicara lebih keras dibanding penumpang pesawat dengan tujuan lain. Kalimat kalimat yang diucapkan cukup mengagumkan saya, ‘London’, ‘Heathrow’,'Lafayette’,'Frankfurt’ dan lain lain. Rupanya mereka pernah diajak keliling dunia oleh ‘majikan’nya.
Saya tidak tahu kenapa kata ‘Majikan’ begitu populer dan banyak dipakai di Gate Kebarangkatan Terminal 3 Bandara Dubai. Secara pribadi saya kurang senang mendengar istilah ‘Majikan’ dipakai untuk mengutarakan tuan rumah tempat mereka bekerja. Tetapi, yah seperti itulah mereka dibekali ‘kosakata’ dari Indonesia.
Kisah sukses atau belum berhasil memang dengan mudah bisa kita dengar dan saksikan di Terminal 3 Bandara Dubai. Mereka pulang ke Indonesia dengan membawa barang bawaan dan uang yang tidak sedikit. Bahkan, seringkali membawa barang atau uang titipan dari kawan kawannya yang tidak bisa pulang ke Indonesia saat itu. Satu orang bisa membawa tas kopor atau kardus dengan jumlah yang banyak sekali. Mereka bisa bayar biaya overweight yang mahal. Mereka berjuang di luar negeri untuk dirinya dan keluarganya di Indonesia, dan masih harus berjuang lagi begitu mendarat dan menjejakkan kaki di Bandara Soekarno Hatta – Cengkareng. Calo calo banyak sekali di Bandara International Soekarno Hatta Cengkareng dan tahu benar bahwa para pejuang devisa ini banyak membawa uang tunai ke Indonesia.
Keceriaan dan kesuksesan mbak Sri, mbak Ningsih, mbak Nur diatas belum tentu berlanjut dengan cerita menyenangkan begitu tiba di Indonesia. Calo calo dan ‘oknum’ bandara sudah siap menerkam kalau tampak lugu dan bingung di Cengkareng. Saya lebih senang mengatakan ‘Oknum’ karena orang orang ini bisa masuk masuk sampai kedalam bandara dan benar benar menunggu ditempat strategis didalam bandara sebelum counter imigrasi, terutama didepan escalator (tangga berjalan) menuju ke counter proses imigrasi. Mungkin juga ‘oknum’ bandara yang nyambi menguruskan proses stamp passport karena yang diteriakkan adalah ‘Passport …. Passport ….Antri-antri…..’. Yang lugu dan tidak tahu proses imigrasi menyerahkan passportnya ke calo atau ‘oknum’ ini. Beberapa kali saya pulang ke Indonesia, beberapa kali pula saya mengalami sendiri betapa tidak menyenangkannya ulah calo atau ‘oknum’ bandara Soekarno Hatta. Yang pernah saya lihat, ada puluhan orang yang dengan lugu menyerahkan passportnya dan menunjukkan selembar kertas. Ada yang ngeyel dan sempat saya tangkap pembicaraannya sepertinya mereka diminta surat ijin cuti dari ‘majikan’nya dan surat lapor diri. Apa pula ini ? Entah…enggak ngerti lah kita …… Pernah juga saya jalan sendiri tanpa anak-anak, eh..tiba-tiba ditanya …….entah ngomong apa dia, enggak saya perhatikan.
Tampaknya si calo atau oknum bandara tadi ngerti, ketika permintaan ditolak dengan cepat minta maaf dan mempersilahkan jalan terus. Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya ikut dihentikan pada saat menuju ke counter imigrasi. Dugaan saya, mungkin mas Ardi dikira Kuli Bangunan atau Sopir yang kerja di Dubai atau mungkin wajah saya yang syahdu dan melankolis ini dianggap salah satu mbak mbak yang kurang sukses di Timur Tengah. Siapa tahu kan …….ha…ha..

Dubai, Ambisi Menjadi Yang Ter……

Kalau lihat iklan dan promosi pariwisata Dubai, rasanya Dubai sangat bagus dan indah sekali. Tetapi kalau anda datang sendiri kemungkinan akan nyesel seumur hidup. Dubai bisa disetarakan dengan Singapore atau Hongkong, yang ada cuma tempat shopping saja. Bedanya Singapore dan Hongkong memiliki tempat tempat historis lebih banyak yang enak untuk dinikmati. Alamnyapun juga cukup hijau untuk dipandang sehingga duduk duduk memandang alampun sudah cukup menyenangkan. Shopping di Singapore dan Hongkong juga cukup menarik karena harga harga cukup variatif dan banyak promosi setiap saat.

Di Dubai, pembangunan gedung masih terus berlangsung sampai saat ini dan yang ada adalah gedung gedung baru saja. Alam yang kita nikmatipun cuma padang pasir dengan sedikit pepohonan hijau yang sengaja dibuat dengan biaya tinggi agar tampak indah. Budaya asli setempat yang seharusnya ditonjolkan untuk wisatawan boleh dikatakan tidak ada. Sebagai contoh, Tari Perut – jelas ini bukan budaya asli UAE. Makanan yang disajikan untuk turispun juga bukan makanan tradisional setempat, malah lebih banyak makanan dari negara tetangga seperti Iran, India, Lebanon dan lain sebagainya. Bahkan jelas jelas terpampang di setiap restoran tulisan American Food, Japanese Food, Lebanese Food, Iran Food dan lain sebagainya. Lalu yang asli UAE apa ?

Biaya hidup di Dubai sebelum terkena krisis global cukup mahal sekali. Lihat saja di TEFL . Sewa hotel dan apartment kenyataannya jauh lebih mahal dari yang tertulis dalam web tersebut. Sopir taxi, staff hotel saya wawancara khusus untuk living cost ini dan beberapa rekan Indonesia yang pernah tinggal lama di Dubai juga nggak ketinggalan, semuanya mengeluhkan mengenai biaya hidup di Dubai sebelum terkena krisis. Mending di Kuwait, biaya hidup lebih stabil dan tidak terpengaruh krisis global.

Karena kita sama sekali tidak terpesona dengan pembangunan gedung yang serba ‘Tertinggi’, ‘Terbesar’, ‘Terluas’ dan berbagai ‘Ter……’, maka selama kita di Dubai ya cuma melihat lihat tingkah laku turis saja. Nggak usah kagum dengan promosi ‘Aquarium terbesar di dunia’, ternyata yang dimaksud terbesar untuk kategori didalam Mall. Di Gelanggang Samudra Ancol jauh lebih besar cuma tidak didalam Mall. ‘Ski Es Terbesar Didunia’ juga untuk kategori didalam Mall, tetap saja lebih luas dan enak main ski di alam terbuka. Safari Desert Tour juga bukan hal yang aneh kalau kita tinggalnya di Kuwait. Tiap hari sudah lihat gurun.
Yang terasa aneh adalah suasana Mall. Bayangkan, Kok bisa Mall menyedot begitu banyak turis untuk datang padahal harga harganya jauh lebih mahal dari negara manapun di Dunia. Lebih mudah melihat turis India, Pakistan, Westerner dan Onta daripada melihat orang asli Dubai. Lihat saja gambar gambar diatas, turis dari mana mana dengan asyik photo photoan didalam Mall. Gantian photo photoan, gayanya macam macam dan kalau kita di Indonesia photo photoan didalam Mall seperti itu pasti akan ditangkap Satpam.

Baca Juga :

Dubai Selayang Pandang

Sering salah kaprah menganggap Dubai adalah sebuah kota. Salah besar, Dubai adalah salah satu dari 7 (tujuh) wilayah ke-emiran  Uni Emirates Arab (Abu Dhabi, Ajman, Fujairah, Sharjah, Dubai, Ras Al Khaimah dan Umm Al Quwain). Wilayah ini tumbuh dengan sangat cepat sekali dan dalam hitungan beberapa tahun saja sudah berubah dari gurun gersang menjadi kota megapolitan yang penuh dengan gedung tinggi perkantoran, mall, hotel dan apartment. Saking cepatnya pembangunan di kota ini maka Dubai adalah satu satunya pembangunan tercepat yang bisa mengalahkan pembangunan candi Prambanan (konon candi ini dibangun dalam semalam saja). Letak kota ini hanya 1 1/4 jam saja perjalanan dari Kuwait dengan pesawat terbang atau setara Jakarta – Yogyakarta. Sama dengan Kuwait, negara ini terletak di pinggiran teluk Arab (Arabian Gulf Sea).
Sebenarnya Dubai sudah dipimpin oleh Al Maktoum dynasty sejak 1833, tetapi benar benar tumbuh dari sebuah kota kecil perdagangan sejak ditemukan minyak bumi pada tahun 1960. Dan mulai tahun 1970 Sheikh Rashid bin Saeed Al-Maktoum  memimpin pembangunan Dubai menuju Modern Uni Arab Emirates (1958-1990). Setelah itu kepemimpinan dilanjutkan oleh Sheikh Maktoum III bin Rashid Al Maktoum (1990-2006) dan Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum (2006 – Sekarang). Dan Dubai benar benar dibuka selebar lebarnya untuk segalanya (Free Trade Zone). Hasilnya sungguh luar biasa, saat ini pendapatan dari minyak bumi hanya 6 % saja dari pendapatan negara, pendapatan yang lain didapat dari Tourism, Real Estate & Construction (22.6 %) dan Financial Services. Sampai saat inipun pembangunan kota masih berlangsung terus, dan yang saya sangat kagum adalah kebersihannya. Meskipun banyak pembangunan gedung dan pekerjaan konstruksi, kebersihan Dubai tetap apik dan resik.
Nginap Di Apartment Topaz Living Court
Karena tahun 2009 ini Dubai terkena imbas Resesi Global (Krisis Ekonomi) maka hampir semua hotel dan apartment dipangkas 50 % untuk tetap mempertahankan jumlah pengunjung ke Dubai. Tiga bulan lalu harga sewa hotel atau apartment per malam di Dubai sangat luar biasa mahal dan membuat kita tercengang kagum. Tapi saat ini sudah relatif sama dengan harga sewa di kota lain seperti di Jakarta, Kuwait atau negara lain. Kita melakukan booking hotel secara online melalui Booking.com. Sengaja kita pilih Topaz Living Court karena berdasarkan info dari surfing mbah google katanya hotel ini sangat strategis sekali dalam arti dekat dengan Emirates Mall, mall terbesar kedua di Dubai. Ternyata benar sekali, cukup nyeberang jalan saja sudah nyampai di pelataran parkir Emirates Mall.
Dibanding apartment lain disekitarnya seperti The Dunes, Grand Tulip, Rose Garden dan lain lain, Topaz Living Court adalah yang paling dekat dan mudah aksesnya ke pintu masuk Emirates Mall. Apartment yang lain dibatasi oleh jalan raya besar Sheikh Zayed Road atau cukup jauh muternya menuju gate masuk. Harga sewa Topaz Living Court 2 Bed Room per malam adalah AED 499. Sangat bagus mengingat bahwa apartment ini masih baru. Fasilitas dapur juga sangat lengkap, mulai dari pecah belah, mesin cuci, kompor listrik, microwave tersedia. Ruang keluarga juga cukup luas dan kamar mandi dengan bath tub ada dua buah masing masing didalam kamar plus satu kamar mandi kecil diluar kamar tidur.

The Big Bus Tour

Salah satu alasan lagi kenapa kita memilih apartment dekat dengan Emirates Mall adalah karena di Mall ini tedapat tempat penjualan tiket Dubai Big Bus. Dengan menggunakan Big Bus, paling tidak kita sudah bisa mengelilingi seluruh kota Dubai dan hapal tempat tempat bagus dimana kita harus berhenti dan turun keesokan harinya. Harga tiket Big Bus untuk Family (2 Dewasa dan 2 Anak) selama 2 hari adalah AED 700. Plus ada tambahan AED 200 kalau mau ikut Night Tour. Ticket 2 hari seharga AED 700 tersebut sudah lengkap untuk Red Route dan Blue Route dan gratis Dhow Tour (naik perahu tradisional Arab) dan voucher discount di beberapa toko dan restaurant di mall tertentu.
Selama perjalanan menggunakan Dubai Big Bus ini, kita bisa mendengarkan penjelasan mengenai tempat tempat menarik yang kita lewati melalui rekaman kaset yang bisa kita dengar menggunakan earphone yang disediakan gratis dalam bungkus plastik kecil. Air minum mineral disediakan gratis dan kita bisa mengambil setiap saat. Tempat pemberhentian kebanyakan di Mall Mall besar dan mahal seperti Emirates Mall, Dubai Mall, Festival City Mall, Deira City Center Mall, Wafi Mall, Mercato Mall dan lain lain.
Yang kita dengarkan melalui earphone bisa membuat kita tersenyum senyum. Bagaimana tidak tersenyum, di Dubai sangat miskin sekali tempat historic dan tidak ada sama sekali bangunan bersejarah, semuanya gedung baru dan modern dan nadanya sangat menonjolkan konsumerism (konsumtif). Misal : ‘Disebelah kiri kita adalah Planet Hollywood yang pertama dibuka di Dubai pada tahun …..’, ‘Tampak gedung besar didepan kita adalah Dubai Mall, tempat anda bisa belanja produk produk dengan brand internasional seperti Cartier, Louis Vuitton …..’, setelah itu ada pesan sponsor ‘Kalau anda menginginkan buka puasa lezat dengan cita rasa Arab yang khas, anda bisa mencoba Pars Iranian Restaurant di lantai 2 ….bla bla bla’.

Menyebalkan memang ikut tour konsumtif dari mall ke mall dan penuh iklan.

Baca Juga :