Category Archives: Singapore

Belanja Ngirit Di Mustafa Center Singapore

Ke Singapore mau cari oleh oleh dengan harga miring ? Jangan lupa ke Mustafa Center di Syed Ali Road di kawasan Little India. Mustafa Center adalah satu satunya tempat belanja di Singapore yang buka 24 Jam. Jadi gunakan waktu anda yang pendek di Singapore untuk jalan jalan ditempat lain dulu dan baru tengah malam saat toko toko yang lain tutup kita pindah tempat belanja di Mustafa Center. Tempat belanja ini saya kenal sejak saya masih tinggal di perumahan Chevron di Duri Riau bertahun tahun yang lalu karena merupakan tempat tujuan utama ibu ibu istri pegawai Chevron yang suntuk di ‘center of nowhere’. Kebetulan, setiap bulan pesawat perusahaan melakukan service di Singapore dan ibu ibu rame rame ikut tumpangan gratis ini.

Sekarang saya tinggal di Kuwait, saya biasanya transit di Singapore paling banter sehari semalam saja sehingga waktu harus benar benar dimanfaatkan. Pagi hari jalan jalan ke pasar di China Town, People Park, atau keluar masuk mall di Suntec City, Peninsula atau tempat tempat lain yang nggak perlu bayar.  Sore hari jalan jalan di Orchard Road yang namanya sangat terkenal dimana mana padahal sebenarnya cuma jalan yang penuh dengan pertokoan dan mall saja. Begitu sudah mendekati jam 11 malam dimana semua toko di Orchard sudah pada tutup semua baru saya pindah ke Mustafa Center naik taxi, dan seperti biasa antrian taxi dari Orchard panjangnya bukan main dan semua tujuannya sama Mustafa Center.
Sudah bisa ditebak dari lokasinya di Little India, sudah tentu toko besar ini milik pengusaha India Singapore. Namanya Mustaq Ahmad dan mulai membuka toko ini tahun 1971. Semula cuma toko pakaian saja, tetapi menurut sejarahnya pernah juga menjual mobil import sebelum akhirnya ditutup. Karyawannya saat ini lebih dari 1200 orang dan saat saya datang malam hari, banyak yang tidur tiduran dan tidur tiduran dipojok pojok yang jarang dilalui pengunjung, misal dibagian tas dan kopor dilantai 3.  Photo pegawai Mustafa yang sedang tidur disamping diambil dengan tergesa gesa dan sembunyi sembunyi, jadi hasilnya kabur.  Di bagian Tas dan Koper ini cukup menarik karena tas mahal dengan merek terkenal seperti Elle, Samsonite, Delsey, Louis Vuitton dan lain lain harganya jauh lebih murah dibanding di toko resminya di Plaza Singapore Orchard dan semuanya self service karena petugasnya tidur pulas. Buka sendiri, llihat bagian dalamnya lalu lempar keras keras agar petugasnya terbangun.
Kenapa saya anjurkan anda untuk beli oleh oleh di Mustafa Center dan saya sarankan untuk ‘ngempet’ atau menahan diri untuk beli oleh oleh di Orchard Road atau Sentosa ? Jelas karena harganya jauh sangat murah dibandingkan dengan barang barang di Orchard. Contohnya saja souvenir gantungan kunci dengan logo Merlion lambang negara Singapore, kalau belinya di Orchard paling banter dapat satu biji dan dengan uang yang sama di Mustafa bisa dapat satu set lengkap berisi 5 buah dengan kualitas yang sama. Jadi kalau ke Orchard atau Sentosa cukup nikmati saja pemandangan sekitar, bahasa awak cukup ‘Makan Angin’ saja.
Mustafa Center ini menjual berbagai macam barang, dan seperti supermarket umumnya yang dijual mulai dari cendera mata Singapore, kebutuhan sehari hari, jam dan perhiasan, HP dan elektronik, pecah belah, parfum, obat obatan, tas dan koper, pakaian dan lain lain. Total lebih dari 150000 jenis barang. Semua barang yang dijual sama dengan yang dijual di mall mall besar di Orchard atau Suntec City. Parfum semua asli, relative tidak ada barang palsu di Singapore cuma di Mustafa Center ini cara meletakkan barang cukup amburadul. Saya paling suka mencoba tester parfum karena bisa semprot sendiri tanpa diawasi, jadi keluar dari Mustafa langsung harum dan bisa kembali ke Airport untuk langsung terbang ke Kuwait. Sudah tentu ngorok sepanjang penerbangan karena semalaman tidak tidur, yang penting wangi sepanjang penerbangan pulang ke Kuwait. Silahkan belanja online di Mustafa kalau mau, websitenya http://www.mustafa.com.sg/.

Obat Jreng Dari Haw Par Villa Singapore

Siapa saja kalau ke Singapore yang dikunjungi pasti obyek obyek yang sudah ngetop seperti Orchard Road, Sentosa Island, China Town atau Merlion Park. Nggak salah sih berkunjung ke tempat tempat itu karena memang promosi tempat tempat tersebut juga gencar dimana mana diseluruh dunia. Cuma harus mengerti juga karena semua turis dari segala penjuru dunia tujuannya ketempat tersebut akibatnya  mahal di ongkos. Taksi harus ngantri panjang sekali dan lama, kalau ada tiket masuk biasanya juga sangat mahal sekali, contohnya tiket tiket permainan di Sentosa Island dan kalau njajan atau cari makan ditempat ramai seperti ini  tentu cukup membuat kita berdiri tegak.  
Kalau mau hemat di Singapore, cobalah mengunjungi Haw Par Villa. Semacam ‘Gunung Kawi’nya Singapore. Tidak terkenal sama sekali tetapi menjadi salah satu tujuan Ardi’s Family karena ketidak terkenalannya itu. Semakin tidak terkenal semakin ingin tahu, semakin mblusuk semakin dicari. Yang kita kunjungi kali ini adalah tempat para paranormal sering berkunjung dan juga tempat orang orang yang keluar masuk bawa sesajen macem macem. Tujuannya mereka sudah bisa diduga, apalagi kalau bukan klenik atau minta rejeki sacara kilat tanpa bekerja. Beberapa patung konon katanya punya nilai mistis tinggi dan disakralkan dan mudah diketahui dari banyaknya sesajen dibawahnya.

Haw Par Villa adalah sebuah taman yang berisi beraneka macam patung patung mythology China. Jadi kalau mau belajar tentang mythology China silahkan datang ketempat ini. Letaknya di Pasir Panjang Road, dan bisa dicapai dengan bus kota atau taxi. Bus yang melewati Haw Par Villa ini cukup banyak, saya catat ada bus dengan nomor 10, Bus 30, Bus 51, Bus 143, Bus 200, Bus 175, Bus 188 dan Bus 176.  Hapal karena nunggu taxi kosong nggak lewat lewat. Kereta api (MRT) juga ada didekat tempat ini, nama stationnya Haw Par Villa MRT Station. Kalau anda masuk ketempat wisata ini, yang pertama kali anda rasakan adalah seperti pernah datang kesini, apalagi kalau anda pengguna balsem kerik dengan merk Tiger Balm. Tempat ini dulunya memang milik pengusaha balsem Tiger Balm bernama Aw Boon Haw dan Aw Boon Par dan baru tahun 1985 dijual ke Singapore Tourism Board dan dibuka kembali untuk umum tahun 1990 dengan nama baru dari Tiger Balm Garden menjadi Haw Par Villa.

Isinya berbagai macam patung mythology China, mulai patung seperti terpampang pada botol anggur cap jenggot sampai patung Dewi Kwan Im. Yang lain lain saya tidak tahu namanya tetapi sepertinya menggambarkan kehidupan manusia mulai dari dunia sampai akherat karena beberapa patung ada yang menggambarkan orang sedang disiksa di neraka. Photo neraka tidak ditampilkan diblog ini karena penyiksaan yang digambarkan terlalu sadis untuk ditunjukka. Silahkan mencari di google saja kalau ingin tahu. Jumlah patung katanya sampai 1000 dengan sekitar 150 diorama yang menggambarkan legenda China, mythology China atau ajaran Confusianism. Ada patung Budha tertawa, Naga China yang panjang sekali dan yang terpenting, ada toko souvenir China dan tempat makan yang sudah tentu jauh lebih murah daripada tempat makan di obyek wisata lain di Singapore.

Yang menarik, penjual obat dan souvenir di kios kios Haw Par Villa ini selalu berpromosi,  katanya actor Gerard Depardieu pernah datang ke tempat ini dengan actor Robert De Niro dan memborong balsem. Tujuannya untuk pembangkit ereksi hanya dengan dicampur sedikit air dari kolam ditempat ini.  Rupanya sedang asyik mendengar ceramah penjual obat tadi, mas Ardi suamiku tercinta sudah kabur menjauh, mungkin  takut saya ikutan memborong balsem Tiger Balm kayak Robert De Niro. Nggak kebayang deh seandainya nanti malam mas Ardi saya gosok dengan lima botol Tiger Balm sekaligus, apa jadinya ya ? 

 

Yang ‘Gratisan’ Di Changi Airport

Sudah tak terhitung lagi berapa jumlah Terminal yang pernah saya kunjungi selama ini. Mungkin ratusan atau mungkin juga sudah mencapai ribuan. Di Jakarta saja saya sudah ratusan kali ke Terminal Pulau Gadung, Terminal Kampung Rambutan, Terminal Lebak Bulus, belum lagi di kota kota lain di Indonesia. Begitu saya bertempat tinggal di Kuwait dan berstatus ‘Expatriate’, urusan keluar masuk Terminal ini masih tetap saja berlanjut sampai sekarang, bedanya kali ini yang sering kita kunjungi adalah Terminal 2D, 2E atau 2F Soekarno Hatta, Terminal 2 Dubai Airport, Terminal 1 atau 2 Changi Airport dan masih banyak lagi terminal terninal lain diseluruh penjuru Dunia yang pernah kita singgahi.

Dari ratusan terminal yang pernah kita singgahi, saya paling senang sekaligus jengkel adalah di Terminal 1 dan 2 Changi Singapore International Airport. Sangat senang karena Terminal ini begitu nyaman, aman, bersih dan banyak fasilitas umum yang Gratis. Yah benar, urusan gratis ini perlu digaris bawahi karena jumlahnya banyak sekali, mulai dari tilpun local gratis, air minum gratis, internet gratis, city tour gratis bagi yang transit lebih dari 5 jam dan Pijat Gratis. Tetapi juga sangat menjengkelkan karena suami tercinta selalu tertidur pulas diatas tempat pijat gratis yang juga banyak tersedia disepanjang koridor dan ruang tunggu disemua gate keberangkatan.

Benar sekali, urusan ‘Gratis’ ini tidak ada hubungan dengan strata ekonomi seseorang, maksudnya penumpang yang terbiasa duduk di business class juga ikutan memakai yang gratis gratis seperti ini, apalagi yang tiketnya selalu economy class. Hampir disetiap koridor menuju keberangkatan diberi sarana internet gratis dengan jumlah sekitar 12 sampai 20 unit computer. Pengunjung bisa memakai sesukanya, Cuma harus login kembali setiap 3 menit sekali. Koneksi ke Internet akan logout sendiri setiap 3 menit dengan alasan untuk keamanan karena banyak sekali pengguna internet di Terminal ini yang lupa logout dan langsung berangkat terbang.

City Tour Gratis juga ada. Tinggal tunjukkan boarding tiket terusan kita saja ke desk Free Singapore City Tour didekat escalator di Terminal 2 Changi maka semua pegel linu nunggu pesawat lanjutan langsung hilang. Lama City tour Singapore ini dua jam, jadi kalau transit anda kurang dari 5 jam maka akan ditolak, tetapi kalau lebih dari 24 jam juga ditolak. Route City Tour ini ke Little India, China Town dan sekitarnya. Lumayan daripada berjam jam nunggu keberangkatan di airport. Tidak ada biaya sama sekali karena bagi warga negara Indonesia bebas Visa untuk masuk ke Singapore, tinggal tunjukkan passport saja semua urusan selesai.

Mesin pijat dan Urut juga gratis dan tersedia disepanjang koridor. Mulai dari mesin pijat telapak kaki sampai yang full seluruh punggung ada di terminal ini. Tinggal lepas sepatu dan masukkan kaki ke mesin maka langsung hilang pegal pegal di kaki apalagi kalau alat dipunggung ikut berputar, wuah bisa merem melek. Mesin pijat kesehatan ini adalah biang keributan diantara kita karena umumnya hanya dua tempat duduk saja disetiap tempat dan jumlah kita 4 orang. Jadi biang ribut karena harus gentian meskipun sebenarnya kalau mau cukup jalan 10 – 15 meter saja untuk mencari tempat pijat yang kosong. Bapak, emak dan anak tidak ada satupun yang mau ngalah kalau sudah berebut kursi pijat kesehatan seperti ini. Celakanya lagi, si bapak sebagai komandan regu tidak mau meninggalkan kursi ini sebelum tertidur pulas. ‘Pindah sono saja kosong, ngganggu orang tidur saja… kan pesawat masih 2 jam lagi berangkat..!!!’.

Cerita Tentang Mbak Sri Dan Mbak Jum Di Transit Terminal Singapore

Setiap manusia diciptakan sama oleh yang maha besar Allah, tetapi dalam perjalanannya bisa saja berbeda dalam hal nasib, rejeki dan tingkah laku. Dihadapan Allah, semuanya sama tetapi manusia sendiri yang membeda bedakannya. Kalau kita melakukan perjalanan dari Kuwait ke Indonesia, kita akan dengan gamblang melihat pemandangan pemandangan yang tidak semestinya, dan kita tidak bisa berbuat apa apa. Siapa lagi kalau bukan saudari saudari kita mbak Sri, Mbak Jum dan teman temannya.
Lima hari sebelum memasuki bulan ramadhan 2010 atau sekitar sebulan sebelum hari raya idul fitri, saya melakukan perjalanan mudik ke Indonesia. Sengaja saya pilih Singapore Airlines karena pesawat ini transit dua kali di Abu Dhabi dan Singapore, lumayan bisa jalan jalan sebentar di terminal transit untuk meluruskan kaki dan menghilangkan pegel pegel karena kelamaan duduk didalam pesawat. Sejak berangkat dari Kuwait, sekitar 40 % seat ditempati oleh mbak Sri, mbak Jum dan kawan kawannya. Pada saat transit di Abu Dhabi boleh dikatakan belum ada masalah apapun karena penumpang transit tidak diperkenankan turun ke terminal bandara. Disini pesawat hanya ‘ngetem’ satu jam saja untuk menaikkan penumpang jurusan Singapore dan Indonesia. Begitu penumpang masuk kedalam pesawat, sempat saya kaget dan terkagum kagum, hampir seluruh penumpang yang naik adalah wanita wanita pemberani dari Indonesia kawan kawan mbak Sri dan mbak Jum  dari Kuwait. Suasana didalam pesawat begitu gegap gempita layaknya sebuah reuni akbar sebuah sekolah negeri. Peluk dan cium dalam reuni akbar ini begitu menyentuh dan menjadi perhatian penumpang lain.
Setelah melakukan perjalanan 8 jam yang melelahkan, tibalah saatnya seluruh penumpang harus turun di Changi Airport Singapore untuk oper pesawat ke Indonesia. Wanita wanita perkasa tersebut dengan gagah berani berombongan menuju gate 41, terminal keberangkatan Singapore Airlines menuju ke Jakarta. Saya perhatikan, mereka mengikuti mbak Sri dan mbak Jum yang dengan cepat mengambil inisiatif kepemimpinan rombongan. Sampai disini saya cukup bangga dengan wanita wanita sukses dan pemberani ini, tetapi hanya beberapa menit saja karena tanpa di komando dari sang pemimpin, semua wanita perkasa ini langsung duduk nglesot dilantai. Apa salahnya duduk di kursi empuk yang banyak tersedia dan kosong diterminal. 
Memang jaman feodal dulu waktu kakek nenek kita masih remaja, bangsa kita harus duduk bersimpuh didepan ‘londo’ dan para bangsawan. Tetapi saat ini, semua adat istiadat seperti itu sudah tidak berlaku lagi, semua manusia sama dan sederajat terutama dihadapan Allah. Masalah sopan santun tidak harus diartikan dengan duduk bersimpuh dilantai. Bukankah kita hidup dan tinggal diluar negeri membawa nama Negara kita tercinta Indonesia ?, lalu siapa yang mengajari mereka tata cara sopan santun gaya feodal semacam ini ? Apa kata dunia kalau bangsa kita tiarap didepan orang asing diterminal keberangkatan Changi Airport Singapore padahal kalau mau kita telusuri, orang asing yang duduk di kursi tadi sebenarnya tidak lebih dari pegawai rendahan juga yang mencari rejeki dinegeri orang. Lihatlah betapa gagahnya kuli bangunan dari India yang pernah saya tulis dalam blog ini juga dengan judul Madame Kesengsem Gaya Executive India.
Waktu berjalan dengan lambat dan gate 41 telah dibuka. Tibalah saat boarding masuk ke pesawat menuju Jakarta. Saya begitu tersentak kaget, ternyata sebagian dari mereka mendapat masalah besar yang mau tidak mau saya harus turun tangan untuk membantu, apalagi kalau bukan bantuan translate bahasa Inggris dan teriak agar ngechek tiketnya masing masing. Mereka ternyata hanya mengikuti rombongannya saja tanpa pernah ngechek tiketnya, mereka tidak tahu flight no dan mereka juga tidak tahu sebenarnya harus nunggu di gate no berapa. Dalam pikirannya cuma satu saja, ‘rombongan saya dari Abu Dhabi semua nunggu dan klesetan disini’. Sudah salah, ngeyel pula ke petugas katanya semua beli tiketnya bareng dari Abu Dhabi pada hari yang sama dan jam yang sama pula. Petugas dengan susah payah menjelaskan ‘Pesawat penuh dan penumpang dari Abu Dhabi di split jadi dua, sebagian berangkat dari gate 41 dan sebagian berangkat dari gate 56. BACA TIKETNYA !!!!!!’. Yang dibentak juga tidak mau kalah ‘INI ROMBONGAN, TIDAK BISA DIPISAH BEGITU SAJAAAA !!!!!’. Penumpang lain ikut nimpali pula ‘DI JAKARTA KALIAN AKAN KETEMU LAGI JUGA!!!!!!!!’. Karena kebanyakan ngeyel, akhirnya beberapa orang ketinggalan pesawat karena gate 56 ternyata sudah tutup dan pesawat sudah mau tinggal landas. Gantian saya yang teriak ‘KAMU NGGAK BISA MASUK PESAWAT!!!… SUDAH PENUH!!!, SAYA JUGA MAU BERANGKAT TERBANG!!!!!!!!’. Setelah pesawat tinggal landas saya baru terpikir, oh iya gimana ya cara mereka menukarkan tiketnya ?