Category Archives: Russia

Dari Eropa Ke Indonesia Dengan Gembel

Pengangguran Baru Di Paris
Nunggu Jaminan Sosial

Penulis cerita wisata umumnya hanya menceritakan yang bagus bagus saja dan jarang yang mau menceritakan keadaan yang sebenarnya. Hal ini sangat menyesatkan bagi pembacanya. Menurut saya, penulis cerita wisata itu seperti ‘wong ndeso’ yang terkagum kagum saat melihat Monas di Jakarta, padahal hanya beberapa langkah saja dari Monas yang berdiri megah akan terlihat gembel, gelandangan, banci atau WTS. Di Eropa juga sama saja, seluruh penjuru negara di Eropa pernah saya kunjungi dan selalu saja yang jadi perhatian utama turis adalah bangunan, gedung, monumen dan pemandangan alam saja. Gembel, Gelandangan, Orang Mabuk, Copet dan WTS seolah olah tidak terlihat meskipun hanya beberapa langkah dari tempat saya dan turis turis  berdiri.

Terlambat, Seandainya
Mau Ke Jakarta
Tentu Sudah Dapat
Artis Sinetron - Paris

Krisis ekonomi yang melanda Eropa saat ini lebih memperparah keadaan, jumlah pengangguran meningkat tajam dan banyak bule yang beralih profesi jadi pemabuk dan sempoyongan dijalan sambil minta duit ke orang lewat. Salah satu pengangguran ini satu pesawat dengan saya dari Dubai menuju ke Jakarta. Temannya telah terlebih dahulu hengkang ke Jakarta setahun lalu dan katanya telah sukses di Jakarta. Menurut dia sangat mudah cari kerja di Jakarta apalagi temannya tadi bisa membantu. Jabatan di Indonesia nanti katanya minimal ‘Native Speaker’ tanpa bisa menjelaskan maksudnya karena dinegaranya sana tidak ada jabatan semacam ini. Tampaknya, dia sangat optimis sekali dan saya tidak tahu bagaimana cara memulai kerja di Jakarta nanti. Sambil basa basi, saya doakan agar bisa kenal dengan artis di Jakarta dan secepatnya dapat jodoh. Siapapun tahu, wanita Indonesia banyak yang tergila gila pria berwajah Leonardo D’Caprio, apalagi artis film dan sinetron.

Ada Yang Mabuk Di Sini
Ismailovo Market – Moscow

Di Barcelona dan Madrid, Spanyol terkenal akan copetnya. Teman saya kehilangan tas berisi passport di kota ini. Di Perancis, terutama disekitar menara Eiffel banyak sekali pedagang asongan dan kelakuannya sama saja dengan pedagang asongan di tanah air yaitu memaksa pejalan kaki untuk membeli barangnya dengan harga tinggi meskipun tidak butuh. Ingin aman, beli saja satu souvenir yang ditawarkan daripada dipalak semua isi dompet. Di Moscow, setali tiga uang. Copet juga ada di metro subway, bus kota dan orang sempoyongan nenggak Vodka banyaknya bukan main dijalan jalan.

Kaki Lima Baru
Daripada Nganggur
Ngganteng Kan ? – Paris

Dengan adanya tulisan ini, semoga para artis Film, TV dan Sinetron di Indonesia bisa lebih hati hati dalam hal memilih bule. Ekonomi Indonesia yang tumbuh terus diatas 6 % menjadi tujuan utama para gembel Eropa. Apalagi, orang Indonesia paling demen membayar mahal bule daripada warga negara Indonesia sendiri seperti yang ditulis di berita Batasi Gaji Karyawan Asing.

Tidak hanya yang dari Eropa, dari penjuru dunia manapun saat ini sedang berlomba lomba untuk datang ke Indonesia dengan tujuan mencari kerja dengan gaji besar sekaligus dapat artis sinetron yang mau ngopeni beberapa tahun sampai ekonomi pulih kembali. Nggak percaya ?

Meskipun Gembel, Kalau Di Eropa Setiap
Bulan Masih Terima Jaminan Sosial.
Madrid – Spanyol
Calon Calon Selebritis Ngetop
Pujaan Artis – Kalau Mau Ke Jakarta
Istanbul Turki
Baru Saja Dimintai Duit Preman
Di Pulkovo Airport St Petersburg
Mau Photo Didatangi Pengemis
Red Square – Moscow
Bisa Tidak Bule Ini Dapat Artis Film Dan Snetron
Di Jakarta Yang Mau Ngopeni ?
Yang Ini Asli Miskin
Bukan Korban Krisis Ekonomi Eropa

Baca Juga :

Jenifer Lopez Guatemala

Kaki Melangkah Kedepan
Pinggul Digoyang, Tirukan
Madame

Wajah saya sangat ‘ndeso’ sekali dan kalau di Indonesia tidak ada bedanya sama sekali dengan yang lain. Jangan bandingkan dengan artis artis film dan sinetron yang berwajah cantik dan indo. Jauuuuh dan jauh sekali kalau pembandingnya artis blasteran yang cantik cantik seperti Tamara Bleszinski. Postur tubuh saya juga tidak mendukung sama sekali kalau saya harus bersaing dengan peragawati yang terkenal tinggi semampai. Tetapi saya bisa bangga sekali dengan wajah asli Indonesia saya ini kalau saya bepergian keluar negeri. Perawakan kecil, imut dengan kulit sawo matang dan rambut hitam ini mudah dikenali sebagai ‘makhluk asing’ di negara negara yang umumnya bertubuh tinggi, berkulit putih dan berambut pirang.  Saya bisa merasakan bagaimana bangganya Tamara Bleszinski  menjadi pusat perhatian di tanah air karena wajah asingnya. Wajah saya yang ‘ndeso’ alami ini juga selalu jadi perhatian kalau saya ’sengaja’ kesasar tak tentu arah di suatu negara. Wajah ‘ndeso’ saya tidak kalah dengan Tamara Bleszinski dan juga selalu mengundang tanda tanya, ‘Makhluk dari manakah orang ini ?’

Pokoknya Nurut Dan
Diam Saja Didandani
Memang, saya selalu berusaha sebisa mungkin berinteraksi dengan penduduk setempat dimanapun saya bepergian. Tidak perlu harus menguasai bahasa lokal, tapi cukup dengan bahasa Tarzan dan gerak anggota tubuh yang  mudah dipahami. Sering kalau saya bertanya ke satu orang maka yang berdatangan mengelilingi saya lebih dari 4 orang. Kadang kadang saya ditertawakan karena dianggap lucu ketika menirukan satu kata bahasa mereka. Kadang kadang kita tertawa terbahak bahak bersama karena kita berbicara dengan bahasa yang tidak saling dimengerti. Dan saya paling suka main tebak tebakan soal asal usul saya yang menurut mereka berwajah ‘lain daripada yang lain’. Ada yang mengatakan saya dari Guatemala, Nicaragua, Mozambique atau negara negara lain yang saya sendiri tidak tahu sama sekali. Ketika saya tanya, kenapa mengatakan saya dari Guatemala ? Jawabnya cukup unik, ‘wajahmu mirip Jenifer Lopez’. Kaget juga saya, Jenifer Lopez yang mana berasal dari Guatemala.
Komunikasi Nggak
Nyambung Tapi Bisa
Akrab
Saya tidak pernah memandang seseorang dari sisi agama, politik, ras atau latar belakang sosial ekonominya. Apapun agamanya, apapun aliran politiknya dan apapun rasnya semua bagi saya adalah sama. Semuanya baik baik dan kalau kita sapa, selalu berusaha menjawab sebaik mungkin meskipun seringkali harus memanggil teman teman disekitarnya. Siapapun pada dasarnya adalah baik dan selalu ingin membantu kalau kita minta. Saking baiknya ketemu ‘makhluk asing’ dengan wajah ndeso dan kesasar ini, saya diundang datang kerumahnya. Kesempatan emas yang saya tunggu tunggu. Ternyata dirumahnya saya dijamu dan diajari menari, memakai pakaian tradisional petani dan tentu saja mencicipi makanan bersama keluarga. Bangga rasanya diajari menari bersama dengan keluarga yang baru saya kenal beberapa jam sebelumnya saja. Saya tak akan pernah melupakannya.
Lokasi : Rumah Keluarga D Petrof – St Petersburg – Republik Federasi Russia

Mirip Ariel, Mirip Gayus Dan Kali Ini Mirip Koko

Di Indonesia beberapa waktu lalu heboh tentang photo dan Video Mirip Ariel, Mirip Gayus dan juga ada berita Ditemukan Sesuatu Mirip Bom Di …. dan lain lain berita dengan judul dengan kata ‘Mirip….’. Kali ini ada juga yang menarik untuk diceritakan yaitu Mirip Baju Koko. Kita di Indonesia sering kemana mana memakai baju Koko, terutama ke Masjid, sebenarnya dari mana asal muasal Baju Koko ini ? Ada yang mengatakan baju Koko yang sering kita pakai awal mulanya dari China., tetapi ada pula yang mengatakan asli Indonesia Nah, cerita tentang baju ‘Mirip’ Koko dibawah ini saya dapatkan dari Russia.  Secara tidak sengaja saya menemukan baju ‘Mirip Koko’ di sebuah salon sekaligus studio photo ketika sedang jalan jalan di St Petersburg. Lokasi tepatnya jelas tidak tahu lagi, lha wong namanya kebetulan nemu saat blusak blusuk kampung di St Petersburg.

Kosovorotka

Inilah baju ‘Mirip Koko’ yang saya maksud. Kosovorotka adalah baju tradisional Russia berlengan panjang yang biasa dipakai para petani laki laki. Tidak ada kancing baju dan kerah baju dan relatif sama dengan baju koko yang kita kenal di Indonesia. Bedanya belahan kerah untuk memudahkan kita memakai tidak terletak ditengah tetapi disamping kiri atau kanan. Warnanya juga tidak terlalu beraneka ragam dan sebagian besar berwarna dasar kalem, seperti putih, coklat muda, kuning muda atau yang lainnya. Renda ada di kerah baju dan ujung lengan panjang saja. Dipinggang selalu diikatkan tali, bukan untuk mencegah celana mlorot tetapi sebagai hiasan saja. Leo Tolstoy dulu paling senang memakai baju tradisional ini sehingga orang Russia sekarang juga menyebut baju ini dengan nama Toltovska.

Lepti

Pasangan baju Koko Russia diatas adalah Lepti. Lepti adalah Sepatu tradisional asli Rusia. Sepatu ini sangat unik dan menarik karena terbuat dari anyaman tanaman (Linden Tree atau Birch Tree, pohon apa pula ini, belum pernah saya jumpai di Indonesia), semacam bahan tikar kalau di Indonesia. Biar tidak lepas sepatu diikatkan di kaki dengan tali yang juga terbuat dari tanaman yang dipelintir pelintir. Ukuran sepatu sedikit lebih besar dari ukuran kaki agar tidak lecet.

Sarafan

Gaun wanita pendamping baju Mirip Koko Russia bernama Sarafan. Sarafan ini adalah gaun tradisional Russia yang sangat berwarna warni dan benar benar berwarna ngejreng. Melihat warnanya saja kita sudah terkagum kagum dan karena gaun tradisional ini pula maka saya berhenti ke salon dan studio photo yang kebetulan saya temui saat melintas didepannya. Meskipun pegawai salon dan photo semuanya hanya ngerti bahasa Russia saja, saya cukup mengerti apa yang dijelaskan saat saya tanya, memegang dan mengagumi pakaian tradisonalnya. Keramahan Russia yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya.

Ah masih banyak lagi nama nama asssories pendamping baju Koko Russia yang tidak saya pahami, seperti Ushanka (topi bulu beruang kutub), Valenki (Sepatu boot bulu beruang kutub) dan lain lain. Nggak kebayang deh, kalau baju Mirip Koko dari Russia dan pakaian pakaian ngejreng ini saya beli dan saya pakai sekeluarga di Indonesia, kira kira berapa ratus anak anak yang akan mengikuti saya. Dari atap Monaspun rasanya dengan mudah mengenali kita kalau kita memakai pakaian seperti ini.