Cari
-
Kisah Paling Ngetop
Kuwait - Queu And Wait
- Kuwait Selayang Pandang
- Bahasa Di Kuwait
- Iklim Dan Cuaca Kuwait
- Hari Libur Di Kuwait
- Kesehatan Di Kuwait
- Visa Kuwait
- Kedatangan Di Kuwait
- Hotel Di Kuwait
- Lapor Diri Kedutaan
- Tempat Bagus Di Kuwait
- Rumah Dan Apartment
- Keamanan Kuwait
- Pos Paket Dan Surat
- Telpon Dan Internet
- Listrik Air Dan Gas
- Sekolah Dan Kursus Di Kuwait
- Rekreasi Di Kuwait
- Perkumpulan WNI Di Kuwait
- Rumah Makan Dan Restaurant
- Pasar Dan Shopping Di Kuwait
- Fasilitas Kesehatan Di Kuwait
- Pulang Mudik Dan Piknik
- Salon Dan Mode Di Kuwait
- Prosedur Residency Permit
- Prosedur Civil ID
- Prosedur Driving Liscense
- Enak Nggak Kerja Di Kuwait
- Living Cost Kuwait
- Lalu Lintas Di Kuwait
- Perang Kuwait 1991
- Iklan Dan Promosi
- Kuwait Photo Gallery
Kategori
- 3 Bulan Pertama
- Cerita Unik
- Formalities Kuwait
- Iklim Dan Cuaca
- Indonesiaku
- Info Kerja Kuwait
- Keluarga
- Komunitas Indonesia
- Kuwait Sehari Hari
- Liburan
- Masalah Dan Tantangan
- Masih Di Jakarta
- Otomotif Dan Lalu Lintas
- Pasar Dan Shopping Di Kuwait
- Rumah Dan Apartment
- Salon Dan Mode
- Sekitar PMCM
- Sekolah Dan Kursus
- Tempat Bagus Kuwait
- Tempat Makan Dan Restaurant
- Tentang Kuwait
- Umroh Haji Ramadhan
- Visa Dan Passport
-
Kisah Terbaru
Arsip
- May 2012 (4)
- April 2012 (5)
- March 2012 (3)
- February 2012 (9)
- January 2012 (3)
- December 2011 (2)
- November 2011 (6)
- October 2011 (5)
- September 2011 (5)
- August 2011 (2)
- July 2011 (5)
- June 2011 (2)
- May 2011 (5)
- April 2011 (7)
- March 2011 (8)
- February 2011 (7)
- January 2011 (7)
- December 2010 (5)
- November 2010 (6)
- October 2010 (8)
- September 2010 (8)
- August 2010 (7)
- July 2010 (8)
- June 2010 (8)
- May 2010 (9)
- April 2010 (5)
- March 2010 (5)
- February 2010 (4)
- January 2010 (8)
- December 2009 (6)
- November 2009 (3)
- October 2009 (7)
- September 2009 (6)
- August 2009 (4)
- July 2009 (6)
- June 2009 (8)
- May 2009 (6)
- April 2009 (10)
- March 2009 (9)
- February 2009 (5)
- January 2009 (11)
- December 2008 (11)
- November 2008 (9)
- October 2008 (9)
- September 2008 (13)
- August 2008 (12)
- July 2008 (8)
- June 2008 (25)
- May 2008 (9)
- April 2008 (17)
- March 2008 (16)
- February 2008 (19)
- January 2008 (14)
Link Menarik
IndoKuwait
Link Cari Kerja
Admin
-
Blog Statistic
- 59,480 hits
Yang Kesasar Ke Blog Ini :
Suhu Kuwait
Category Archives: Netherland
Yuk..,Kenalan Dengan Crepes Dan Saudaranya
Jalan jalan ke negara lain rasanya hambar kalau tidak mencoba makanan tradisional setempat. Kali ini saya kenalkan makanan dari Brittany Perancis. Namnya Crepes, Kalau di Indonesia termasuk makanan Elite dan banyak dijual di mall mall besar atau rumah makan franchise. Bahannya terbuat dari tepung terigu, kalau tanpa isi sebenarnya rasanya sama saja dengan saudara saudaranya yang lebih dulu populer di Indonesia yaitu Kue Terang Bulan atau Martabak Kubang. Bedanya, Crepes dibuat lebih tipis dibanding Terang Bulan atau Martabak Kubang dan karena tipisnya maka cara menyajikannya cukup dilipat segitiga. Umumnya rasa Crepes manis dan dimakan sebagai makanan ringan sambil jalan jalan.
Sebenarnya Crepes adalah makanan asli Brittany, sebuah daerah disebelah utara Perancis. Isinya bermacam macam mulai dari olesan cokelat Nutella, Pineaple Jam, irisan buah strawberry, keju dan banyak lagi sampai yang paling sederhana cuma gula pasir. Karena makanan ini asalnya dari Perancis maka dinegara asalnya cukup didagangkan di kaki lima saja. Artinya, di Indonesia telah naik pangkat tinggi sekali sampai masuk ke Mall dan juga restaurant franchise. Harganya, jelas di Indonesia menjadi berlipat lipat ganda meskipun rasa relatif sama. Yang hebat, kalau di Indonesia makan Crepes di mall atau restaurant rasanya bergengsi sekali dan banyak orang yang bangga makan sambil jalan jalan, apalagi kalau dilihat orang yang nggak mampu beli atau kembang kempis hanya untuk membeli makanan rakyat Perancis ini.
Di Belanda, si Crepes ini juga punya saudara namanya Pannenkoekken (Pannekoek). Bentuknya lebih mirip Kue Terang Bulan atau Martabak Kubang. Bedanya kue si meneer Belanda ini tidak dilipat dua menjadi setengah lingkaran seperti Terang Bulan tetapi dibiarkan berbentuk bulat dan sering disajikan dengan loyangnya. Kue Meneer Belanda ini bukan lagi makanan ringan seperti Crepes, tetapi termasuk makanan utama (Main Course) untuk mengenyangkan perut dan isinya daging, tuna, keju atau bahan bahan kelas berat lain yang mengenyangkan.
Saudara si Crepes yang tinggal di America namanya Pancake, nggak ada isinya dan ukurannya paling kecil sendiri dibanding si Crepes, Terang Bulan atau Pannenkoeken. Si Pancake Amerika ini umumnya disantap pagi hari untuk breakfast dengan hanya disiram sedikit sirup madu saja. Masih banyak sebenarnya saudara si Crepes ini seperti Pannkaka (Swedia), Okonomiyaki (Jepang). Clafaoutis (daerah Limousine, Perancis), Flaugnarde (daerah Limousine, Perigord dan Auvergne, Perancis), Crespella (Italia), Krep (Albania & Turki) dll
Pizza Italia bukan keluarga Crepes meskipun bentuknya sama, karena Crepes dan keluarganya terkenal lembut dimulut dan tidak sekeras pizza Italia. Ingin coba Crepes yang asli, datang saja ke Perancis, hampir disemua tempat keramaian terdapat penjual Crepes kaki lima, contohnya disekitar menara Eiffel, didepan Museum Louvre atau disekitar Gereja Notre Dame. Saya cari cari di Lafayette Mall di Paris rasanya susah sekali dan sampai saya pulang ke Kuwait belum saya temukan counter Crepes mewah dan bergengsi seperti di Indonesia. Mungkin karena termasuk makanan rakyat jelata maka pengusaha perancis lebih senang menjual ‘Franchise’nya di Indonesia dangan harga yang berlipat ganda. Moga moga suatu saat nanti ada pengusaha Indonesia yang mem’franchise’kan tempe gembus, tahu bacem dan Terang Bulan ke Perancis. Siapa tahu kan ?
Baca Juga :
Mesin Bingung
Soal bingung, mungkin Ardi’s Family termasuk yang paling komplit pengalamannya. Kadang kadang cukup menggelikan kadang kadang sangat menjengkelkan dan yang lebih sering adalah jadi bahan tertawaan sampai berhari hari seluruh keluarga. Tergantung siapa yang sedang mengalami musibah ‘bingung’ ini. Biasanya ketua rombongan, mas Ardi yang paling jahil mencoba berbagai macam ‘mesin bingung’ yang kita jumpai dimanapun saja kita menjumpai.
Namanya saja ‘wong ndeso’, jadi kalau ketemu ‘mesin bingung’ selalu saja ingin mencoba. Dibawah ini adalah ringkasan pengalaman bingung international atau bolej juga disebut bingung global yang kadang terasa aneh, menggelikan dan sekaligus menjengkelkan :
- Ataturk Airport – Turkey Pertama kali masuk ke airport international ini, saya sempat terbingung bingung mencari petunjuk pintu keberangkatan. Di airport manapun petunjuk selalu digantung diatas tetapi di airport ini petunjuk pintu keberangkatan dilantai. Karena ada yang tulisannya terlalu kecil, beberapa calon penumpang termasuk mas Ardi membaca sambil duduk klesetan dilantai.
- Pulkovo Airport (St Petersburg) – Russia Pengamatan saya, orang Russia gemar sekali membersihkan sepatu. Hanya untuk membersihkan sepatu saja mereka mau ngantri dank arena ingin tahu saya sempatkan mencoba. Karena tombolnya banyak dan petunjuk bahasa Russia, maka semua tombol saya coba satu persatu, akibatnya antrian dibelakang pada nggrundel dan pindah ke mesin yang lain.
- Bruckparck – Belgia Entah ini salah tempat atau kebiasaan orang Belgia kalau buang hajat sambil makan cemilan kacang saya kurang tahu. Saya sempat heran, kenapa di toilet umum di Bruckparck terdapat mesin jualan makanan kecil seperti kacang dan minuman hangat. Enak sekali, sambil ngeden mulut makan kacang. Untung pintu nggak digedor gedor orang.
- Frankfurt Airport – Germany Check in pesawat harus dilakukan dengan mesin dan petugas cuma nunjuk ke mesin saja tidak membantu sama sekali. Mesinnya bahasa Jerman, pilihan bahasa Inggris tidak berfungsi sama sekali, mungkin rusak. Clingak clinguk kiri dan kanan, mau minta tolong penumpang lain jelas tidak mau. ‘Jaim’ atau Jaga Image sangat perlu sekali kalau berada diluar negeri. Akhirnya bisa juga meskipun setelah itu harus lari lari karena gate hampir ditutup karena pesawat segera akan berangkat.
- Louvre Musseum – Perancis Putar puter berkali kali tidak tahu juga dimana harus beli tiket. Saya perhatikan pengunjung sudah bawa tiket masing masing dan untuk masuk ke gedung cukup menggesek tiketnya, tetapi dimana beli tiketnya. Akhirnya tahu juga ternyata penjualnya sebuah mesin yang agak ngumpet letaknya. Sok ngerti, semua tombol dipencet setelah duit dimasukkan, ternyata mesinnya bisa berbunyi keras sekali ‘Tambahkan EURO 20 untuk tiket 4 orang atau tekan cancel !!!!!’. Wah, mana ya tombol cancel, nggak punya EURO 20 nih, harus tukar dulu…..
- Moscow Subway – Russia Baca Koran Russia jelas tidak bisa, tetapi mesin Koran distasiun bawah tanah Russia sangat menarik untuk dicoba. Paling tidak untuk kipas kipas atau untuk membungkus sepatu seandainya tiba tiba kelelahan dan ingin ganti sandal. Koin sudah dimasukkan, tetapi Koran yang kita pilih tidak mau keluar, coba lagi masukkan koin seperti harga yang tertulis juga tidak mau keluar. Akhirnya minta bantuan orang lewat dan cara mengeluarkannya ternyata mesin dipukul keras keras berkali kali, gedubrak…brak…brak… dan langsung keluar dua sekaligus.
- Havaz Bus – Istanbul, Turki Di Turki tidak ada kondektur, naik bus harus punya chip magnet, semacam kartu berlangganan. Chip magnet ini tinggal cucukkan saja ke mesin dibelakang sopir, maka pintu akan terbuka. Nah kita yang bukan penduduk Turki tentu bingung mencari chip magnet berlangganan ini kemana, ternyata cukup bayar ke sopir bus dan si sopir akan meminjamkan chip magnetnya. Untuk mengembalikan ke sopir kembali tinggal lemparkan saja. Pak Sopir, tangkap ya……
- Pompa Bensin – Netherland, Belgia, Luxemburg, Perancis Benar benar terasa nikmat tinggal di Indonesia dan Kuwait karena ngisi bensin saja ada yang melayani. Di Netherland, Belgia, Luxemburg dan Perancis tidak ada yang melayani, semua harus self service. Taktik ‘Jaim’ atau Jaga Image segera diterapkan, turun dari mobil pura pura stretching dulu, olah raga kecil kecilan ditempat tetapi sebenarnya mengamati bagaimana cara ngenolkan meteran dan bagaimana cara bayarnya. Masih kurang jelas, mendekat ke mobil lain dan pura pura tanya kamar kecil dimana. Sukses, bisa ngisi bensin sendiri dan tahu cara bayarnya.
Baca Juga Pengalaman Bingung yang lain :
Sepeda Sepeda ‘Londo’
Umumnya pembaca blog ini sudah ngerti semua bahwa Negara yang mayoritas penduduknya memiliki budaya bersepeda adalah Belanda dan China. Tetapi sebenarnya budaya bersepeda yang sampai saat ini tetap lestari adalah di Denmark, Belanda, Jerman, Bangladesh, China dan Jepang. Di Copenhagen dan Amsterdam tercatat 37 % sampai 40 % penduduknya menggunakan sepeda untuk aktifitas sehari harinya, baik ke kantor, sekolah, belanja atau sekedar bertandang ke rumah kawan.
Di Negara lain tentu juga banyak sepeda, tetapi cenderung pemakaiannya untuk tujuan ‘emosional’ sesaat saja, bukan dipakai sehari hari, misal ingin sehat secara nasional lalu diadakan acara bersepeda bersama setiap hari tertentu, bising dengan suara kendaraan bermotor dan terlalu banyak polusi maka jalan jalan utama tertentu ditutup dan hanya boleh digunakan untuk bersepeda saja, atau sekedar keliling kota bersepeda komunitas penggemar sepeda kuno. Sama sekali bukan dipakai sehari hari seperti halnya budaya bersepeda dinegara negara diatas.
Yang saya perhatikan dari beberapa ‘Negara Sepeda’ diatas, semuanya memiliki infrastruktur yang sangat bagus sekali untuk para pe’sepeda’. Jalan khusus untuk sepeda dibuat senyaman mungkin, kalau perlu jalan mobil dikurangi sampai benar benar nyaris habis. Paling tidak, pengguna mobil disiksa sedemikian rupa agar berputar jauh sekali dan diberi sangsi berat kalau seandainya memotong jalan sepeda. Hal ini sangat jauh sekali berbeda dengan di Indonesia dimana jalan mobil dilebarkan selebar lebarnya dan becak atau sepeda dilarang masuk kota. Selain itu yang saya perhatikan dinegara sepeda tadi, jalan jalan raya tidak dilebarkan selebar lebarnya seperti di Indonesia dengan alasan melindungi bangunan bangunan kuno yang antik dan artistik. Itulah sebabnya, bangunan kuno di negara negara sepeda diatas masih terjaga kelestariannya meskipun jalan didepannya terasa sempit sekali dan terlalu padat sepeda pada saat saat jam berangkat kantor atau sekolah dan juga jam pulang kantor dan sekolah. Tua muda semua bersepeda dan tampak sudah benar benar membudaya sekali.
Tetapi bagaimanapun juga, saya tetap tidak setuju kalau Jakarta dijadikan kota sepeda. Alasannya, bersepeda di Jakarta sudah pasti berkeringat. Iklim dan cuaca di Indonesia terutama humidity atau kelembaban udaranya tidak sama dengan Negara Negara sepeda diatas. Di Indonesia humidity udara sangat tinggi sekali yang menyebabkan makan nasi padang saja bisa berkeringat, apalagi naik sepeda. Jadi salah besar kalau anda bermimpi mengubah Indonesia menjadi Negeri Sepeda, pasti banyak yang tidak setuju. Tahu sendiri kan, bagaimana reaksi penduduk Jakarta ketika harus berbagi jalan dengan busway, di Belanda mobil harus berbagi jalan dengan sarana umum seperti trem atau kereta api, sepeda dan public transport yang diutamakan. Jadi berbahagialah pemilik mobil di Indonesia karena jalan untuk mobil pribadi di Indonesia lebih lebar dan panjang dibanding sarana umum seperti bussway.
Saking banyaknya sepeda, masalah tentu juga semakin rumit karena tidak mudah bagi pemilik sepeda untuk menandai atau mencari sepedanya di tempat parkir. Kalau kita naik sepeda motor atau mobil tidak mungkin parkirnya ditumpuk tumpuk sehingga mudah mencarinya kembali. Tetapi kalau sepeda jelas sangat susah sekali mencarinya kalau diparkir ditempat umum karena secara umum bentuk dan warna hampir sama semuanya dan cara parkirnya ditumpuk tumpuk atau disandarkan ke sepeda disebelahnya. Sehingga banyak sekali pemilik sepeda yang berdarah tinggi melemparkan sepeda sepeda yang menghalangi sepedanya kedalam sungai. Sangat bisa dimengerti kenapa banyak sekali pemilik sepeda di Belanda yang suka marah dan melemparkan sepeda sepeda lain kedalam sungai hanya untuk mengambil sepedanya yang kejepit.
Maling sepeda saya tidak pernah melihat di Belanda, tetapi sepeda sepeda semuanya dikunci dan bahkan ada yang pakai rantai kapal yang besar sekali. Sepeda sepeda ini dirantai ke tiang listrik atau pagar dengan rantai dan kunci gembok yang besar. Saya kira untuk mencegah dicuri maling, eh ternyata alasannya sepele saja, kalau tidak dikunci sepeda akan dilempar pemilik sepeda lain ke sungai atau ke jalan raya dan tempat parkir strategis yang ditempati sepeda tadi akan ditempati oleh pemilik sepeda lain yang berani melempar ke sungai/jalan raya tadi.
Hukum rimba memperebutkan tempat parkir atau lebih tepatnya memperebutkan tiang atau pagar untuk nggembok sepeda berlaku di semua negeri sepeda diatas, itulah sebabnya saya tidak setuju promosi promosi “B2W (Bike2Work)”, “Komunitas Sepeda Onthel” atau klub sepeda lain di Indonesia yang ingin menjadikan sepeda sebagai solusi kemacetan jalan di Jakarta. Kemringet…..karena beda iklim dengan negeri
sepeda diatas.
Posted in Netherland













































