Category Archives: Jordan

Mesin Bingung

Soal bingung, mungkin Ardi’s Family termasuk yang paling komplit pengalamannya. Kadang kadang cukup menggelikan kadang kadang sangat menjengkelkan dan yang lebih sering adalah jadi bahan tertawaan sampai berhari hari seluruh keluarga. Tergantung siapa yang sedang mengalami musibah ‘bingung’ ini. Biasanya ketua rombongan, mas Ardi yang paling jahil mencoba berbagai macam ‘mesin bingung’ yang kita jumpai dimanapun saja kita menjumpai.

Namanya saja ‘wong ndeso’, jadi kalau ketemu ‘mesin bingung’ selalu saja ingin mencoba. Dibawah ini adalah ringkasan pengalaman bingung international atau bolej juga disebut bingung global yang kadang terasa aneh, menggelikan dan sekaligus menjengkelkan :

  • Ataturk Airport – Turkey    Pertama kali masuk ke airport international ini, saya sempat terbingung bingung mencari petunjuk pintu keberangkatan. Di airport manapun petunjuk selalu digantung diatas tetapi di airport ini petunjuk pintu keberangkatan dilantai. Karena ada yang tulisannya terlalu kecil, beberapa calon penumpang termasuk mas Ardi membaca sambil duduk klesetan dilantai.
  • Pulkovo Airport (St Petersburg) – Russia    Pengamatan saya, orang Russia gemar sekali membersihkan sepatu. Hanya untuk membersihkan sepatu saja mereka mau ngantri dank arena ingin tahu saya sempatkan mencoba. Karena tombolnya banyak dan petunjuk bahasa Russia, maka semua tombol saya coba satu persatu, akibatnya antrian dibelakang pada nggrundel dan pindah ke mesin yang lain.
  • Bruckparck – Belgia    Entah ini salah tempat atau kebiasaan orang Belgia kalau buang hajat sambil makan cemilan kacang saya kurang tahu. Saya sempat heran, kenapa di toilet umum di Bruckparck terdapat mesin jualan makanan kecil seperti kacang dan minuman hangat. Enak sekali, sambil ngeden mulut makan kacang. Untung pintu nggak digedor gedor orang.
  • Frankfurt Airport – Germany    Check in pesawat harus dilakukan dengan mesin dan petugas cuma nunjuk ke mesin saja tidak membantu sama sekali. Mesinnya bahasa Jerman, pilihan bahasa Inggris tidak berfungsi sama sekali, mungkin rusak. Clingak clinguk kiri dan kanan, mau minta tolong penumpang lain jelas tidak mau. ‘Jaim’ atau Jaga Image sangat perlu sekali kalau berada diluar negeri. Akhirnya bisa juga meskipun setelah itu harus lari lari karena gate hampir ditutup karena pesawat segera akan berangkat.
  • Louvre Musseum – Perancis    Putar puter berkali kali tidak tahu juga dimana harus beli tiket. Saya perhatikan pengunjung sudah bawa tiket masing masing dan untuk masuk ke gedung cukup menggesek tiketnya, tetapi dimana beli tiketnya. Akhirnya tahu juga ternyata penjualnya sebuah mesin yang agak ngumpet letaknya. Sok ngerti, semua tombol dipencet setelah duit dimasukkan, ternyata mesinnya bisa berbunyi keras sekali ‘Tambahkan EURO 20 untuk tiket 4 orang atau tekan cancel !!!!!’. Wah, mana ya tombol cancel, nggak punya EURO 20 nih, harus tukar dulu…..
  • Moscow Subway – Russia    Baca Koran Russia jelas tidak bisa, tetapi mesin Koran distasiun bawah tanah Russia sangat menarik untuk dicoba. Paling tidak untuk kipas kipas atau untuk membungkus sepatu seandainya tiba tiba kelelahan dan ingin ganti sandal. Koin sudah dimasukkan, tetapi Koran yang kita pilih tidak mau keluar, coba lagi masukkan koin seperti harga yang tertulis juga tidak mau keluar. Akhirnya minta bantuan orang lewat dan cara mengeluarkannya ternyata mesin dipukul keras keras berkali kali, gedubrak…brak…brak… dan langsung keluar dua sekaligus.
  • Havaz Bus – Istanbul, Turki     Di Turki tidak ada kondektur, naik bus harus punya chip magnet, semacam kartu berlangganan. Chip magnet ini tinggal cucukkan saja ke mesin dibelakang sopir, maka pintu akan terbuka. Nah kita yang bukan penduduk Turki tentu bingung mencari chip magnet berlangganan ini kemana, ternyata cukup bayar ke sopir bus dan si sopir akan meminjamkan chip magnetnya. Untuk mengembalikan ke sopir kembali tinggal lemparkan saja. Pak Sopir, tangkap ya……
  • Pompa Bensin – Netherland, Belgia, Luxemburg, Perancis     Benar benar terasa nikmat tinggal di Indonesia dan Kuwait karena ngisi bensin saja ada yang melayani. Di Netherland, Belgia, Luxemburg dan Perancis tidak ada yang melayani, semua harus self service. Taktik ‘Jaim’ atau Jaga Image segera diterapkan, turun dari mobil pura pura stretching dulu, olah raga kecil kecilan ditempat tetapi sebenarnya mengamati bagaimana cara ngenolkan meteran dan bagaimana cara bayarnya. Masih kurang jelas, mendekat ke mobil lain dan pura pura tanya kamar kecil dimana. Sukses, bisa ngisi bensin sendiri dan tahu cara bayarnya.

Baca Juga Pengalaman Bingung yang lain :

Lanjutan Perjalanan ke Jordan (Hari ke 3)

Nah, saya akan melanjutkan  perjalanan  ke Jordan liburan yang lalu. Biarpun sudah terlewati beberapa tulisan. Hari ke 3 tujuan kita ke Al-Karak Castle dan Petra.  Cerita sekarang tentang Petra. Perjalanan dari Aman ke Petra cukup jauh sekitar 270 km, berangkat pagi jam 7 dari hotel di Amman dan pulang masuk hotel kembali juga jam 7. Tiket masuk ke Petra 21 JD. Dari gerbang utama menuju Bangunan tersebut jauhnya minta ampun. Sekitar 2 kilometer. Tapi kalau mau naik Kuda atau Delman juga ada. Tarif sewa Kuda sampai tujuan 7 JD. Kalau Delman berpenumpang 4 orang  20 JD. itupun satu kali jalan. Nah cerita sejarahnya daripada salah nulis, lebih bagus saya sadur saja dari http://id.wikipedia.org/wiki/Petra

Kota di Dinding Batu
Salah satu dari 7 keajaiban dunia yang baru adalah Petra. Penetapan tujuh keajaiban dunia itu merupakan pilihan dari 100 juta orang di seluruh dunia lewat situs internet dan pesan singkat (SMS) telepon seluler, yang diadakan oleh Swiss Foundation, serta diumumkan di Lisbon, Portugal, pada 07-07-07 alias 7 Juli 2007.

Petra adalah kota yang didirikan dengan memahat dinding-dinding batu di Yordania. Petra berasal dari bahasa Yunani yang berarti ‘batu’. Petra merupakan simbol teknik dan perlindungan. Kata ini merujuk pada bangunan kotanya yang terbuat dari batu-batu di Wadi Araba, sebuah lembah bercadas di Yordania. Kota ini didirikan dengan menggali dan mengukir cadas setinggi 40 meter.

Petra merupakan ibukota kerajaan Nabatean. Didirikan pada 9 SM-40 M oleh Raja Aretas IV sebagai kota yang sulit untuk ditembus musuh dan aman dari bencana alam seperti badai pasir. Suku Nabatean membangun Petra dengan sistem pengairan yang luar biasa rumit. Terdapat terowongan air dan bilik air yang menyalurkan air bersih ke kota, sehingga mencegah banjir mendadak. Mereka juga memiliki teknologi hidrolik untuk mengangkat air.

Terdapat juga sebuah teater yang mampu menampung 4.000 orang. Kini, Istana Makam Hellenistis yang memiliki tinggi 42 meter masih berdiri impresif di sana.

Kotanya Suku Nabatean
Petra yang bisa ditempuh sekitar 3-5 jam perjalanan darat dari kota Amman, Yordania, dulu adalah ibukota suku Nabatean, salah satu rumpun bangsa Arab yang hidup sebelum masuknya bangsa Romawi.
Sebenarnya, asal usul suku Nabatean tak diketahui pasti. Mereka dikenal sebagai suku pengembara yang berkelana ke berbagai penjuru dengan kawanan unta dan domba.

Warga Petra awal adalah penyembah berhala. Dewa utama mereka adalah Dushara, yang disembah dalam bentuk batu berwarna hitam dan berbentuk tak beraturan. Dushara disembah berdampingan dengan Allat, dewi Arab kuno.
Mereka sangat mahir dalam membuat tangki air bawah tanah untuk mengumpulkan air bersih yang bisa digunakan saat mereka bepergian jauh. Sehingga, di mana pun mereka berada, mereka bisa membuat galian untuk saluran air guna memenuhi kebutuhan mereka akan air bersih.

Di akhir abad ke-4 Sebelum Masehi, berkembangnya dunia perdagangan membuat suku Nabatean memberanikan diri mulai ikut dalam perdaganan dunia. Rute perdagangan dunia mulai tumbuh subur di bagian selatan Yordania dan selatan Laut Mati. Mereka lalu memanfaatkan posisi tempat tinggal mereka yang strategis itu sebagai salah satu rute perdagangan dunia.

Suku Nabatean akhirnya bisa menjadi para saudagar yang sukses, dengan berdagang dupa, rempah-rempah, dan gading yang antara lain berasal dari Arab bagian selatan dan India timur. Letak yang strategis untuk mengembangkan usaha dan hidup, serta aman untuk melindungi diri dari orang asing itulah alasan suku Nabatean memutuskan untuk menetap di wilayah batu karang Petra.
Untuk mempertahankan kemakmuran yang telah diraih, mereka memungut bea cukai dan pajak kepada para pedagang setempat atau dari luar yang masuk ke sana. Suku Nabatean akhirnya berhasil membuat kota internasional yang unik dan tak biasa.

Pada awalnya Petra dibangun untuk tujuan pertahanan. Namun belakangan, kota ini dipadati puluhan ribu warga sehingga berkembang menjadi kota perdagangan karena terletak di jalur distribusi barang antara Eropa dan Timur Tengah.
Pada tahun 106 M, Romawi mencaplok Petra, sehingga peran jalur perdagangannya melemah. Sekitar tahun 700 M, sistem hidrolik dan beberapa bangunan utamanya hancur menjadi puing. Petra pun perlahan menghilang dari peta bumi saat itu dan tinggal legenda.

Barulah pada tahun 1812, petualang Swiss, Johann Burckhardt memasuki kota itu dengan menyamar sebagai seorang muslim. Legenda Petra pun meruak kembali di zaman moderen, dikenang sebagai simbol teknik dan pertahanan.

Dikelilingi Gunung
Petra di Yordania, adalah situs purbakala. Petra dikelilingi gunung. Di sini ada gunung setinggi 1.350 meter dari permukaan laut. Inilah kawasan tertinggi di areal ini yang disebut Gunung Harun (Jabal Harun) atau Gunung Hor atau El-Barra.

Gunung Harun paling sering dikunjungi orang. Para pengunjung percaya, di puncak Jabal Harun inilah, Nabi Harun meninggal dan dimakamkan oleh Nabi Musa. Di abad ke-14 Masehi, sebuah masjid dibangun di sini dengan kubah berwarna putih yang terlihat dari berbagai area di sekitar Petra. Harun tiba di wilayah Yordania sekarang ketika mendampingi Nabi Musa membawa umatnya keluar dari Mesir dari kejaran Raja Firaun.

Di abad ke-1 Sebelum Masehi, Kerajaan Nabataea yang kaya dan kuat, menjangkau wilayah Damaskus di utara dan Laut Mati di selatan. Saat itu, Petra telah didiami sekitar 30 ribu penduduk. Di masa itulah dibangun kuil agung.

Tahun 100-an Masehi, Romawi pernah menguasai wilayah ini. Arsitektur di Petra pun terpengaruhi arsitektur Romawi. Pada 600 Masehi di Petra dibangun gereja. Abad ke-7 Masehi, Islam hadir, dan pada abad ke-14, makam Nabi Harun di Jabal Harun menjadi tempat keramat dari umat Islam, selain kaum Yahudi dan Kristiani.
Saat berusia 10 tahun, Nabi Muhammad pernah berkunjung ke gunung ini bersama pamannya. Setelah Perang Salib di abad ke-12, Petra sempat menjadi ‘kota yang hilang’ selama lebih dari 500 tahun (lost city). Hanya penduduk lokal (suku Badui) di wilayah Arab yang mengenalnya.

Perjalanan Hari Ke 3 (Jordan)

Al-Karak Castle dan Petra

Nah, perjalanan yang satu ini cukup melelahkan. Jarak tempuh kita untuk menuju Petra dari Amman kurang lebih 280 km. Desa desa yang kita lalui tidaklah ramai. Sepanjang jalan kanan kiri yang kita lihat hanya Ruko ruko, gurun, batu, bukit bukit kering dan beberapa pohon zaitun. Jalan cukup lancar. Hanya sering kita lihat polisi di pinggir jalan sedang menghentikan mobil mobil yang melebihi batas kecepatan.

Highway di Jordan menurut saya cukup aneh, kecepatan maksimum 120 Km per jam tetapi dengan tiba tiba saja berubah langsung ke 60 Km per jam menjelang masuk ke desa atau kota kecil. Dan polisi sudah siap menunggu dengan radar speed check dipinggir jalan dan tilang dilakukan di mobil polisi ditempat itu juga. Hampir setiap 2 atau 3 km ada mobil polisi dipinggir jalan dengan radar speed check, artinya kita harus siap ditangkap polisi beberapa kali kalau ketangkap radar speedchecknya. Sekali ketangkap kita harus bayar minimum JD 30 dan uang tersebut langsung masuk kantong polisi, pokoknya sama persis kelakuan polisi Jordan dan polisi Indonesia, bener atau salah harus mbayar ditempat sambil pura pura ‘jaim’.

Tips untuk yang mau nyetir sendiri di Jordan :
  1. Pandang jauh kedepan kalau sudah nampak rumah atau desa kecil atau perkampungan , segera kurangi kecepatan sampai dibawah 60 Km/jam meskipun desa tersbut tidak ada penghuninya, polisi biasanya ngumpet dengan radar speed check, hampir setiap 10 km ada polisi ngumpet.
  2. Highway di Jordan naik turun bukit dan kiri kanan tebing batu kering dan sangat menjemukan. Istirahat ditepi jalan kalau mengantuk, dan kalau sewa mobil pastikan mesin dan rem mobil dalam keadaan sehat.
Al-Karak
Kota Karak terletak sekitar 129 Km sebelah selatan Amman atau sekitar 88 Km sebelah selatan Madaba dengan ketinggian sekitar 1000 meter dari permukaan air dead sea. Ada hotel hotel kecil di kota ini dan untuk menuju kota ini bisa melalui Desert Highway lalu belok kanan di Qatrana. Tetapi saya anjurkan untuk melalui Kings Highway saja karena pemandangannya sangat menakjubkan, yaitu Wadi Mujib dengan kedalaman lembah sekitar 1000 meter.

Dikota ini ada bangunan batu tua peninggalan Sholahuddin Al Ayubi (beberapa literatur menyebut Salah Eddin atau Saladdin), orang pertama dari Dinasty Ayubi. (Bersambung)