Category Archives: Belgia

Bruparck, Heysel Belgia

Mungkin pembaca blog ini banyak yang tidak tahu atau bahkan tidak pernah dengar sama sekali nama Bruparck. Ini adalah sebuah Theme Park yang terletak di sebelah utara kota Brussel, Belgia. Tetapi kalau saya menyebut Heysel, anda pasti mengetahui, paling tidak akan teringat Tragedi Heysel Stadium tahun 1985. Sebenarnya Bruparck ini adalah sebuah komplek tempat hiburan terletak disebelah kiri belakang Heysel Stadium yang terdiri dari Mini Europe, Oceade, Kinepolis, The Village dan Planetarium. Terletak di Heysel Area dengan Stadion Heysel sebagai pusat keramaian dan Atomium sebagai symbol kota yang terletak tidak jauh dari Bruparck dan Heysel Stadium (Sekarang namanya King Baudoin Stadium).

Heysel Stadium (King Baudoin Stadium)

Dibangun tahun 1930, tahun 1946 diberi nama Heysel Stadium, tahun 1985 terjadi tragedi Heysel dan direnovasi tahun 2006 dan sekarang bernama King Baudoin Stadium. Semua nama yang mengingatkan tragedi Heysel pelan pelan ditinggalkan dan ganti dengan nama baru untuk membuang sial. Tragedi Stadion Heysel terjadi pada saat Final European Cup tanggal 29 May 1985 antara Liverpool (Inggris) dan Juventus (Italy). 39 orang mati, 32 diantaranya suporter Juventus dan 600 orang luka berat dan ringan karena kerusuhan antar supporter yang menyebabkan tribun penonton runtuh. Sejak kejadian ini, stadion Heysel direnovasi dan namanya diubah menjadi King Baudouin Stadium. Hiii, katanya angker……

Atomium

Merupakan menara symbol kota Brusell peninggalan Expo 1958. Jauh lebih tua dari umur saya tetapi tampak kinclong karena telah direnovasi tahun 2004. Terdiri dari 9 bola atom yang saling terhubung dengan diameter bola sekitar 18 meter dan bola teratas dengan ketinggian 102 meter untuk melihat panorama sekitar. Escalato menuju bola atom teratas cukup bagus dan menarik untuk dicoba. Designernya Andre Waterkeys. Semula bangunan ini hanya mau dipasang selama 6 bulan saja untuk keperluan Expo 58 (Brussel World ‘s Fair), tetapi karena saat itu dianggap sebagai  symbol arsitektur modern, world fair dan kota Brussel sendiri maka dipermanentkan sampai sekarang.

Mini Europe

Taman mini berisi bangunan bangunan terkenal seluruh Eropa ini terletak hanya beberapa meter saja dibawah Atomium. Mulai dari simulasi gunung Vesuvius yang meletus lengkap dngan suara gemuruhnya, tembok Berlin, gondola Venesia, menara Pisa sampai menara Eiffel semua ada miniaturenya disini. Total ada 350 bangunan miniatur dari 80 kota di seluruh Eropa. Lumayan, nggak perlu buang waktu keliling seluruh kota di Eropa sudah bisa berphoto ria di gedung gedung terkenal. Tentu saja kalau photonya kurang ahli seperti saya akan terasa aneh, misalnya photo Acropolis Athena tetapi latar belakangnya Atomium Belgia. Atau photo gedung City Hall Stockholm di Swedia backgroundnya bendera Mini Europe dan gedung dari negara lain. Baca : Bul Kibal Kibul Belgia

Oceade

Pingin berenang dan main main air seperti di Gelanggng Samudra Ancol, masuk saja ke Oceade. Tidak ada yang aneh ditempat ini, meluncur di plorotan dari ketinggian juga ada, tetapi rasanya plorotan di Indonesia jauh lebih besar dan ramai dari Oceade. Memang sempat terpikir untuk mandi dulu ditempat ini karena saya berangkat dari Den Haag Belanda terlalu pagi dan belum sempat mandi. Satu jam perjalanan dengan mobil belum cukup membuat badan berkeringat apalagi udara cukup bersahabat, sekitar 17 Celcius. Jadi, buat apa buang waktu hanya untuk mandi ditempat hiburan yang tidak terlalu besar ini.

The Village

Namanya saja yang artinya ‘ndeso’ tetapi sebenarnya cuma restaurant, cafe dan tempat belanja doang. Tidak ada sedikitpun suasana ‘ndeso’, semuanya bangunan baru dan rumah maka modern seperti halnya di Food Court dimanapun juga. Rumah makan Fast Food, restaurant diudara terbuka, berbagai macam cafe atau toko souvenir ada ditempat ini. Cukup saya beli secangkir kopi Starbuck untuk penghangat badan saja ditempat ini. Anak anak tidak boleh minum kopi karena mengandung cafeine, bapaknya juga saya larang karena terlalu sering minum kopi, lagipula di mobil banyak air mineral yang saya siapkan untuk perjalanan dari Den Haag ke Belgia ini.

Kinepolis

Komplek Gedung bioskop yang terdiri dari 25 cinema dan tercatat sebagai Megaplex pertama di dunia. Saking banyaknya maka semua jenis film diputar setiap harinya. Film klasik jaman baheula, film anak anak sampai film yang lagi ngetop saat ini bisa disaksikan ditempat ini. Saya kurang jelas, film diputar atau tidak kalau penontonnya cuma satu orang saja karena saya mondar mandir berkali kali ditempat ini yang saya jumpai cuma petugas tiket yang sedang menunggu calon penonton saja. Orang yang terlihat disini semuanya sama seperti saya, mondar mandir nonton gambar tetapi tidak punya pikiran untuk nonton sama sekali. Ditanggung bangkrut deh semua pengusaha Belgia kalau semua orang seperti saya.

Mesin Bingung

Soal bingung, mungkin Ardi’s Family termasuk yang paling komplit pengalamannya. Kadang kadang cukup menggelikan kadang kadang sangat menjengkelkan dan yang lebih sering adalah jadi bahan tertawaan sampai berhari hari seluruh keluarga. Tergantung siapa yang sedang mengalami musibah ‘bingung’ ini. Biasanya ketua rombongan, mas Ardi yang paling jahil mencoba berbagai macam ‘mesin bingung’ yang kita jumpai dimanapun saja kita menjumpai.

Namanya saja ‘wong ndeso’, jadi kalau ketemu ‘mesin bingung’ selalu saja ingin mencoba. Dibawah ini adalah ringkasan pengalaman bingung international atau bolej juga disebut bingung global yang kadang terasa aneh, menggelikan dan sekaligus menjengkelkan :

  • Ataturk Airport – Turkey    Pertama kali masuk ke airport international ini, saya sempat terbingung bingung mencari petunjuk pintu keberangkatan. Di airport manapun petunjuk selalu digantung diatas tetapi di airport ini petunjuk pintu keberangkatan dilantai. Karena ada yang tulisannya terlalu kecil, beberapa calon penumpang termasuk mas Ardi membaca sambil duduk klesetan dilantai.
  • Pulkovo Airport (St Petersburg) – Russia    Pengamatan saya, orang Russia gemar sekali membersihkan sepatu. Hanya untuk membersihkan sepatu saja mereka mau ngantri dank arena ingin tahu saya sempatkan mencoba. Karena tombolnya banyak dan petunjuk bahasa Russia, maka semua tombol saya coba satu persatu, akibatnya antrian dibelakang pada nggrundel dan pindah ke mesin yang lain.
  • Bruckparck – Belgia    Entah ini salah tempat atau kebiasaan orang Belgia kalau buang hajat sambil makan cemilan kacang saya kurang tahu. Saya sempat heran, kenapa di toilet umum di Bruckparck terdapat mesin jualan makanan kecil seperti kacang dan minuman hangat. Enak sekali, sambil ngeden mulut makan kacang. Untung pintu nggak digedor gedor orang.
  • Frankfurt Airport – Germany    Check in pesawat harus dilakukan dengan mesin dan petugas cuma nunjuk ke mesin saja tidak membantu sama sekali. Mesinnya bahasa Jerman, pilihan bahasa Inggris tidak berfungsi sama sekali, mungkin rusak. Clingak clinguk kiri dan kanan, mau minta tolong penumpang lain jelas tidak mau. ‘Jaim’ atau Jaga Image sangat perlu sekali kalau berada diluar negeri. Akhirnya bisa juga meskipun setelah itu harus lari lari karena gate hampir ditutup karena pesawat segera akan berangkat.
  • Louvre Musseum – Perancis    Putar puter berkali kali tidak tahu juga dimana harus beli tiket. Saya perhatikan pengunjung sudah bawa tiket masing masing dan untuk masuk ke gedung cukup menggesek tiketnya, tetapi dimana beli tiketnya. Akhirnya tahu juga ternyata penjualnya sebuah mesin yang agak ngumpet letaknya. Sok ngerti, semua tombol dipencet setelah duit dimasukkan, ternyata mesinnya bisa berbunyi keras sekali ‘Tambahkan EURO 20 untuk tiket 4 orang atau tekan cancel !!!!!’. Wah, mana ya tombol cancel, nggak punya EURO 20 nih, harus tukar dulu…..
  • Moscow Subway – Russia    Baca Koran Russia jelas tidak bisa, tetapi mesin Koran distasiun bawah tanah Russia sangat menarik untuk dicoba. Paling tidak untuk kipas kipas atau untuk membungkus sepatu seandainya tiba tiba kelelahan dan ingin ganti sandal. Koin sudah dimasukkan, tetapi Koran yang kita pilih tidak mau keluar, coba lagi masukkan koin seperti harga yang tertulis juga tidak mau keluar. Akhirnya minta bantuan orang lewat dan cara mengeluarkannya ternyata mesin dipukul keras keras berkali kali, gedubrak…brak…brak… dan langsung keluar dua sekaligus.
  • Havaz Bus – Istanbul, Turki     Di Turki tidak ada kondektur, naik bus harus punya chip magnet, semacam kartu berlangganan. Chip magnet ini tinggal cucukkan saja ke mesin dibelakang sopir, maka pintu akan terbuka. Nah kita yang bukan penduduk Turki tentu bingung mencari chip magnet berlangganan ini kemana, ternyata cukup bayar ke sopir bus dan si sopir akan meminjamkan chip magnetnya. Untuk mengembalikan ke sopir kembali tinggal lemparkan saja. Pak Sopir, tangkap ya……
  • Pompa Bensin – Netherland, Belgia, Luxemburg, Perancis     Benar benar terasa nikmat tinggal di Indonesia dan Kuwait karena ngisi bensin saja ada yang melayani. Di Netherland, Belgia, Luxemburg dan Perancis tidak ada yang melayani, semua harus self service. Taktik ‘Jaim’ atau Jaga Image segera diterapkan, turun dari mobil pura pura stretching dulu, olah raga kecil kecilan ditempat tetapi sebenarnya mengamati bagaimana cara ngenolkan meteran dan bagaimana cara bayarnya. Masih kurang jelas, mendekat ke mobil lain dan pura pura tanya kamar kecil dimana. Sukses, bisa ngisi bensin sendiri dan tahu cara bayarnya.

Baca Juga Pengalaman Bingung yang lain :

Parkir Kuwait Vs Parkir Netherland, Belgia dan Perancis

Ke Eropa naik mobil sewaan benar benar menyadarkan saya. Ternyata saya baru ngerti kalau hidup dan tinggal di Kuwait lebih nikmat dibanding dengan di Eropa, khususnya Belanda, Belgia dan Perancis. Bagaimana tidak nikmat, di Kuwait parkir bisa bebas semaunya tanpa harus bayar. Ada tempat sedikit saja, tinggal surukkan bagian depan mobil nggak usah pikirkan bagian belakang yang masih ditengah jalan. Ilmu burung onta sudah biasa dan jadi pemandangan sehari hari dimana mana. Parkir ditengah jalan juga bisa, berhenti ditengah jalan dan ngobrol dengan mobil lain juga banyak yang melakukan.

Baca : Cara Cerdas Parkir Di Kuwait, Masalah Parkir Di Kuwait, Parkir Mobil Ala Kuwait. Photo photo disamping ini adalah suasana parkir di Belanda, Belgia dan Perancis agar anda bisa membayangkan dan membandingkan dengan di Indonesia, photo suasana parkir di Kuwait bisa anda lihat pada link diatas. Suasana jalan yang sempit di Belanda dan Perancis juga sebagai ilustrasi betapa berbedanya dengan jalan raya di Kuwait yang lebar sekali.

Dibandingkan dengan Indonesia, jelas Indonesia lebih tertib dan teraratur karena punya petugas parkir. Tetapi harus bayar tentunya. Disamping itu hampir semua gedung di Indonesia memiliki tempat parkir sendiri. Lha kalau Kuwait, semua gedung terutama apartment tidak memiliki tempat parkir. Kalaupun ada tempat parkir hanya cukup untuk beberapa mobil saja dan tidak sesuai dengan jumlah penghuni apartment yang memiliki mobil. Untungnya, banyak tanah yang masih kosong disekitar apartment sehingga bisa surukkan mobil dengan posisi malang melintang sesukanya di tanah kosong tersebut. Gratis….., hampir tidak ada pengeluaran untuk parkir di Kuwait, kecuali di Airport.

Di Belanda dan Perancis, boleh dikatakan penduduknya lebih tertib untuk memarkirkan mobilnya. Tetapi untuk parkir di dua negara ini kita harus merogoh kantong lebih dalam lagi. Saya harus bayar EUR 21 atau sekitar Rp 240.000 untuk menginap malam hari di basement sebuah gedung sekitar jam 21:00 PM – 08:00 AM. Parkir dipinggir jalan akan lebih mahal lagi, sekitar EUR 4 per jam dan kalau nasib lagi apes bisa didenda polisi lebih mahal lagi seandainya kita parkir lebih lama dari tiket parkir yang telah kita bayar.

Sebagai penduduk Kuwait yang diberi kenikmatan jalan besar dan bisa parkir bebas semaunya, terasa sekali begitu susah dan sengsaranya di Belanda dan Perancis. Sengsara yang pertama adalah mencari tempat parkir yang cukup untuk mobil sewaan dipinggir jalan. Mobil yang saya sewa berukuran besar segede Kijang, tetapi tempat parkir dipinggir jalan hanya untuk mobil seukuran Suzuki Karimun, Visto atau Mini Cooper. Kalaupun bisa parkir, biasanya nggak bisa keluar karena  jarak dengan mobil depannya sangat mepet sekali. Capek deh ndorong dulu paling sedikit 4 mobil baru bisa keluar.

Sengsara yang kedua adalah bingung luar biasa mengenai cara bayar parkir. Masalahnya, mesin untuk bayar parkir tidak semuanya bagus dan berfungsi. Banyak yang saya jumpai rusak dan bekas dicongkel maling. Dan yang lebih kacau lagi, di Belanda hanya tertulis bahasa Belanda dan di Perancis hanya bahasa Perancis, tampaknya bangga akan bahasa sendiri benar benar diterapkan dikedua negara ini.
Di Kuwait hampir semua jalan besar besar baik jalan utama maupun kampung. Tetapi di Belanda jalan jalan cuma satu jalur saja, mobil harus berbagi jalan dengan tram dan sepeda. Dan mobil adalah pihak yang kalah menempati hanya sekitar 20 % dari lebar jalan. Untuk hal ini jelas berlawanan dengan jalur Busway di Jakarta. Mobil 80 %, Bussway 20 %, Sepeda dan pejalan kaki 0 % di Jakarta, artinya Indonesia sangat tidak peduli dengan sepeda dan pejalan kaki.

Di Belgia dan Perancis juga sama saja, tidak saya jumpai jalan yang selebar Tol Jakarta – Cikampek apalagi Fahaheel Expressway di Kuwait. Semua jalan sempit, jalan utama yang menghubungkan Belanda, Belgia, Perancispun tidak ada apa apanya bila dibanding Fahaheel Expressway dan Expressway yang lainnya di Kuwait. Jadi kesimpulannya, nikmati saja hidup di Kuwait. Bukankah pepatah mengatakan “Dimana Bumi Diinjak, Disitu Langit Dijunjung” ?